The Lost Twin

Summary : Menma adalah seorang anak lelaki biasa pada umumnya, namun kehidupannya berubah ketika kecelakaan mobil yang merenggut kedua orang tua dan adiknya. Setelah kedua orang tuanya meninggal ia kini tinggal bersama saudaranya yang sama-sama berada di Konoha, sejak saat itulah Menma menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Tragedi, Family & Romance

Rated : T

Pair : MenmaFemSasu & NaruFemSasu

Balasan Review:

Pertama-tama saya ucapkan terimakasih banyak atas review, favs dan follows kalian ^^

fatayahn : Tebakan fatayahn-san tepat sekali :D Terimakasih sudah menunggu lanjutannya ^^

Redcas : Oke, ini sudah lanjut ^^

Aicinta : Yang terjadi dengan menmanaru ya hmmm di chapter berikutnya akan kelihatan :D ya, yang kencan sama sasu itu naru karenanya chapter ini full narusasu hehehe.. Terimakasih atas semangatnya ^^

Yuichi : Sip, terikamasih sudah menunggu ^^

Uchiha enji : hehe nnga apa-apa … pairnya narusasu dan menmasasu, agak bingung juga hehe.. buat cerita penyakit sasu ada di chapter kedepan, soalnya di chapter ini full narusasu. Terimakasih sudah menunggu ^^

Chapter 6 : Kehidupan yang Normal

.

.

.

Ketika seseorang terluka, ia akan menangis dan ketika seseorang bahagia, ia akan kembali tersenyum. Terkadang kita tak menyadari dan menjadi egois menginginkan kebahagiaan selamanya, tapi tanpa adanya luka kita belum bisa dikatakan hidup secara normal.

(Uzumaki Naruto)

.

.

.

Boku wa kuma kuma kuma

Kuruma ja nai yo kuma kuma kuma

"Engh.." Lenguhan samar keluar dari celah bibir Naruto, matanya terbuka perlahan. Dering dari alarm di ponselnya masih bersenandung ria,ia pandangi dinding kamarnya dengan datar. Entah sudah berapa lama ia melupakan sensasi ini.

Aru kenai odoeru yo

Naruto mengembangkan senyumannya, kemudian ia kembali menutup kedua matanya berusaha menyelami nada alarm yang masih berbunyi.

"Shaberenai kedo utaeru yo, boku wa kuma kuma kuma…" Naruto pun terhanyut dan mulai bernyanyi mengikuti lagu itu.

'Pukul lima tiga puluh pagi, aku terbangun dan ikut menyanyikan lagu yang ku atur sebagai nada dering alarm di ponselku. Aku terdiam sejenak, lagu itu perlahan memudar. Satu hal yang langsung ku sadari setelahnya, hawa keberadaan Menma yang menipis. Dia mengabulkan permohonanku.'

.

.

.

Setelah selesai berpakaian dengan rapi Naruto menatap pantulan dirinya di cermin, ia menghela nafas berat. Ini bukan dirinya. Naruto pun menutup matanya dengan tangan kanannya, dengan cepat ia berbalik membelakangi cermin itu. Aroma pengap dari dalam kamarnya kini menyergapnya, pandangannya beralih pada jendela yang tertutupi hordeng. Ia tak ingat lagi kapan terakhir kalinya Menma mebuka jendela itu, hordeng usang yang menutupinya nampak berdebu melihat hal itu membuatnya lelah. Menma, semenjak kejadian itu terjadi ia selalu menutup dirinya pada dunia luar. Tak ingin merusak kehidupan normalnya selama sehari ini Naruto pun melupakan masalah itu sejenak. Untuk sehari ini ia ingin sedikit bersikap egois, bahagia tanpa adanya kehadiran Menma. Naruto menggelengkan kepalanya cepat-cepat, sekarang ia nampak seperti orang jahat. Tapi, untuk sehari ini mungkin tak apa, ya tak apa.

"Pagi bibi, Karin-nee…" Sapa Naruto yang sudah ada di meja makan.

Tsunade mendongakkan kepalanya, ia melihat Menma sudah rapi dengan seragam yang melekat pada tubuhnya.

"Hik…" Cegukan kecil kemudian keluar dari bibir Tsunade.

"Tumben, hik.. bocah.. kau bangun pagi hik.. pagi sekali.." Komentar Tsunade dengan cegukan yang tak berhenti keluar dari mulutnya.

Karin yang mendengar ocehan ibunya hanya tersenyum memaklumi dan menatap Naruto dengan pandangan tak enak.

"Maafkan ibu Naruto-kun, sepertinya ia minum-minum semalam.." Jelas Karin, membuat Naruto tertegun sejenak.

"Ba.. bagaimana kau tahu aku Naruto?" Mendengar pertanyaan Naruto, Karin pun menyeringai sembari membenarkan letak kaca matanya.

"Jelas saja, karena Menma itu tak sopan. Bagaimana pun juga aku lebih tua darinya, tapi ia selalu memanggilku Karin. Itu benar-bernar keterlaluan bukan." Omel Karin, membuat Naruto tertawa puas yang secara tidak langsung membenarkan perkataan gadis itu. Percakapan singkat pagi ini benar-benar terasa hangat untuk Naruto, seperti kehidupan normal yang selalu ingin ia rasakan.

.

.

.

Naruto menarik napasnya dalam-dalam, aroma pagi hari benar-benar menyegarkan. Sementara Karin yang berada di sampingnya memandang tingkah Naruto dengan jengah, pasalnya semenjak mereka keluar dari rumah lelaki itu tak pernah berhenti menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

"Sudah berapa kali kau menarik napasmu dalam-dalam?!" Omel Karin, Naruto pun terkekeh pelan.

"Maaf, maaf.. aku sedang gugup ku kira dengan menarik napas dalam-dalam aku tak akan gugup." Karin pun menatap Naruto curiga, ada yang aneh darinya hari ini.

"Jelaskan." Perintah Karin setelahnya.

Naruto menggaruk pipinya, ragu untuk mengatakannya pada Karin.

"Hahhh.. ini.." Ucap Naruto, memperlihatkan sebuah jepit rambut mungil dengan motif bunga berwarna merah muda pada Karin. Gurat merah tipis nampak tercetak di pipinya, ia benar-benar malu.

"Apakah ini terlihat bagus?" Tanya Naruto kemudian, Karin terdiam sejenak melihat perubahan ekspresi Naruto.

"Ya, lumayan.. Kapan kau membeli itu?" Tanya Karin sembari melihat jepit rambut itu dengan teliti.

"Empat tahun lalu…"

"Eeeh? Selama itu?" Naruto terkekeh pelan mendapati nada tak percaya dari Karin, ia pun kembali memasukkan jepit rambut itu ke dalam saku celananya.

"Waktu aku berjalan-jalan dengan temanku, tak sengaja aku melihatnya lalu ku beli deh.. Ku pikir saat aku punya pacar nanti aku akan memberikannya." Karin tersenyum lembut lalu mengacak rambut Naruto.

"Siapa gadis beruntung itu, beritahu aku…" Naruto terdiam sejenak, satu nama nampak menghiasi kepalanya.

"Sasuke…Walau pun sebenarnya ia belum menjadi pacarku." Ucap Naruto dengan senyuman lembutnya, entah mengapa saat menyebut nama gadis itu selalu membuat ia selalu ingin mengembangkan senyumannya.

.

.

.

Naruto menatap takjub pada gambar yang tertempel di mading sekolahnya. Seorang gadis nampak memangku seorang lelaki yang nampak tertidur di pangkuannya, daun-daun dari pohon yang menjadi tempat berteduh keduanya nampak berjatuhan. Matanya melirik sudut gambar itu, disana terdapat sebuah nama dari penggambarnya. Uchiha Sasuke, ia tak menyangka jika gadis itu selalu menyumbangkan gambar buatannya. Ia pun teringat kembali pada percakapannya dengan Karin pagi ini.

Flashback

"Sasuke.. Aah! Apa maksudmu Sasuke Uchiha?" Tanya Karin antusias.

"Ya.. Dari mana kau mengenalnya?" Tanya Naruto heran, pasalnya ia tak pernah mengenalkan atau bahkan menyebut nama Sasuke pada Karin.

"Tentu saja aku kenal, siapa yang tidak kenal gadis manis itu. Teman-teman di kelas ku pun mengenalnya." Jawab Karin sembari menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.

"Jangan bercanda.." Dengus Naruto lalu meninggalkan Karin yang masih mengoceh.

"Jangan cemberut begitu dong, sebenarnya dia itu penyumbang setia di mading.." Naruto menghentikan langkahnya dan memandang Karin dengan alis yang terangkat ke atas. Karin yang melihat ekspresi Naruto pun mendengus, kesal.

"Bukankah kamu menyukainya, seharusnya kamu tahu gambar yang sering di tempel di mading itu buatannya. Bagaimana sih!" Naruto mematung sejenak, ia sebenarnya bahkan tak pernah menengok majalah dinding sekolahnya sekali pun. Sekarang ia jadi menyesal tak pernah melihatnya.

'Gambar Sasuke-chan ya….' Batinnya miris.

End of Flashback

.

.

.

Demi Neji yang bahkan tidak mengeluarkan kata satu pun padanya hari ini, ia benar-benar gugup sekarang. Sasuke, gadis itu nampak berjalan di sampingnya. Naruto merutuki dirinya sendiri, mengapa lidahnya terasa sangat kelu. Bagaimana pun juga ia harus bisa membuka percakapan dengan Sasuke pertama kali, ya harus.

"Ga.. gambarmu hari ini bagus.." Ucap Naruto pada akhirnya.

Sasuke yang mendengar pujian Naruto pun menghentikan langkahnya, membuat jarak keduanya semakin jauh. Merasa janggal karena Sasuke yang tak membalas percakapannya, Naruto menolehkan kepalanya ke samping tapi gadis itu kini tak ada di sampingnya. Naruto pun membalikkan tubuhnya, Sasuke nampak melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Naruto bertanya-tanya apakah ucapannya tadi salah, tak lama kemudian Sasuke berjalan ke arahnya.

"Aaa, maaf berhenti tiba-tiba.. aku teringat sesuatu." Naruto mengangguk menerima alasan Sasuke. Mereka pun kembali berjalan dalam keheningan.

Bunyi langkah keduanya seakan terdengar sangat jelas, dalam keheningan yang mereka ciptakan sebuah benang tipis menarik lengkungan ke bawah di atas bibir keduanya, mereka tersenyum dalam diam. Sasuke menatap Menma sejenak, garis kaku di wajah lelaki itu tiba-tiba menghilang. Ia tak tahu mengapa, tapi jujur ia menyukainya.

"Sasuke…" Panggil Naruto tiba-tiba sembari menghentikan langkahnya dan memandang gadis itu lembut, Sasuke pun terpaksa ikut menghentikan langkahnya.

"Bisakah kamu memanggilku Naruto, untuk hari ini saja.." Sasuke menaikkan alisnya, sekarang ia yakin bahwa Menma memang sedang tidak sehat.

"Apa kau sedang bercanda?" Naruto menggeleng lalu menatap gadis itu serius.

"Hahhh.. baiklah, Naruto…." Ucap Sasuke, senyuman pun mengembang di bibir Naruto.

"Apa kau suka ramen?"

.

.

.

Kuah ramen nampak mengepul dan menyapu indra penciuman Sasuke. Ya, sekarang mereka sedang makan siang bersama di tempat yang Naruto tentukan. Naruto, dia memakan ramen dihadapannya dengan lahap membuat Sasuke tersenyum kecil dibuatnya.

"Kau harus memakannya selagi panas, jika sudah dingin tak akan enak.." Tegur Naruto, Sasuke pun mengangguk dan memakan ramennya perlahan.

Naruto menatap Sasuke yang sedang menikmati ramen di hadapannya, perasaannya kembali menghangat. Dari keheningan ini, kuah ramen yang panas menutupi kecanggungan diantara keduanya. Tak ada yang memulai percakapan, keduanya nampak menikmati kebersamaannya dalam diam.

Gurat kemerahan membukam langit petang, angin menari dengan gemulai menggerakkan air di permukaan danau. Suara jangkrik yang memamerkan kemampuannya, ikut mencoba meramaikan suasana di sore hari.

"Naruto, terimakasih untuk hari ini…" Ucap Sasuke, memecah keheningan diantara keduanya.

"Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih padamu hari ini.." Ucap Naruto kemudian sembari menatap langit yang ada di atasnya.

"Langit itu, terlihat menyedihkan ya.." Ucap Naruto kembali, membuat Sasuke ikut menatap langit yang ada di atasnya.

"Naruto…"

"Hn…"

"Langit itu terlihat indah…"

Naruto pun menatap Sasuke, di hadapannya gadis itu nampak mengembangkan senyumannya padanya. Sesaat ia pun teringat, sebelumnya hal seperti ini pernah terjadi pada dirinya. Ketika di ruang kelas, saat pertama kali mereka berbicara dengan menatap satu sama lain. Sasuke, gadis itu selalu tersenyum dibalik gurat kemerahan yang ada di atas kepala keduanya. Rasa hangat mulai menjalar ke dalam hati terdalamnya, jantungnya pun ikut berdetak tak menentu.

Waktu seakan berhenti untuk Naruto sesaat, ketika ia mulai membawa Sasuke tiba-tiba ke dalam pelukannya. Kedua mata Naruto terpejam sementara kedua mata Sasuke membulat, ia terlalu terkejut mendapati perlakuan Naruto. Deru napas keduanya nampak tak beriringan, Naruto masih tak membuka suaranya.

"Sa.. sasuke, bisakah tutup matamu sebentar.." Ucap Naruto tiba-tiba, jantung Sasuke kini berdetak sangat kencang. Rona merah nampak mewarnai pipinya, ia pun menutup kedua matanya dan menjatuhkan kepalanya pada bahu Naruto yang ada tepat dihadapannya.

Naruto tersenyum kecil mendapati tingkah malu-malu Sasuke, ia pun mengambil jepit rambut yang ada di saku celananya. Jemarinya menyingkap rambut Sasuke sampai ketelinga gadis itu, ia tertegun ternyata rambut Sasuke yang bergesekan dengan kulit tangannya terasa begitu halus. Tak butuh waktu yang lama, jepit rambut itu sudah terpatri manis di rambut gadis itu. Naruto mengembangkan senyumannya, sementara Sasuke masih menenggelamkan kepalanya di bahu Naruto.

"Sasuke, aku menyukaimu…" Ucap Naruto tepat di telinga gadis itu. Suara paraunya mengakhiri kebahagiaannya di hari ini.

Mendengar ungkapan Naruto membuat Sasuke mengangkat kepalanya, jarak keduanya sangat dekat. Ia tak pernah berfikir akan sedekat ini bersama lelaki itu, Sasuke mengepalkan tangannya erat. Ia ingin menjerit, kenapa ia tak merasa bahagia seperti yang seharusnya. Ia merasa dinding tak kasat mata tengah menjadi pembatas diantara keduanya, tanpa sadar air mata keluar dari matanya.

"Sasuke…" Ucap Naruto lirih, ia tak tahu mengapa Sasuke menangis tiba-tiba. Apa pernyataannya ini benar-benar menyakitkan untuk di dengar gadis itu. Perlahan Naruto melepas pelukannya, ia tak sanggup melihat bulir air mata terus keluar dari mata Sasuke.

"A.. aku.. " Naruto menatap Sasuke yang ada di hadapannya, gadis itu nampak berusaha mengatakan sesuatu. Naruto memejamkan matanya, ini menyakitkan.

"Aku juga menyukaimu, Naruto.." Kedua mata Naruto terbuka seketika, air mata masih nampak keluar dari mata gadis itu tapi kali ini gadis itu mengembangkan senyumannya.

"Terimakasih untuk segalanya Sasuke-chan…" Ucap Naruto.

Sasuke menggenggam kedua tangannya, entah mengapa perasaannya menjadi tak enak.

.

.

.

"Apa kau mau mampir terlebih dahulu?" Naruto menatap Sasuke sebentar lalu menggeleng pelan dengan cengiran di wajahnya.

"Tidak, terimakasih.. maaf ya.." Sasuke mengganggukkan kepalanya, mengerti.

"Baiklah, ku rasa aku harus segera pulang. Jaga kesehatanmu ya dan… sampai jumpa.." Ucap Naruto setelah mengelus kepala Sasuke.

Sasuke menatap punggung Naruto yang semakin menjauh, perasaannya semakin tak enak.

"Naruto!" Ia mencoba memanggil Naruto yang masih terjangkau pandangannya, tapi lelaki itu tak menghentikan langkahnya meskipun Sasuke yakin Naruto dapat mendengarnya.

"Naruto!" Sekali lagi ia memanggil nama lelaki itu, dia semakin jauh dari pandangannya. Sasuke mengepalkan kedua tangannya, mengapa dadanya terasa begitu sesak. Tak tahan dengan perasaan yang mengganjalnya, Sasuke pun berlari menyusul langkah Naruto.

Greb

Naruto mematung, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuatnya terkejut.

"Bodoh.. " Sasuke bersisik pelan.

"Mengapa kau tak membalikkan badanmu, membuatku khawatir.." Naruto tersenyum mendengar penuturan Sasuke, perlahan ia melepaskan pelukan gadis itu dan membalikan tubuhnya.

"Maaf…" Ucap Naruto lirih.

"Udara di luar sangat dingin cepatlah masuk ke rumah, dan sepertinya aku harus segera pulang.. sampai jumpa.." Ucap Naruto kembali dan meninggalkan Sasuke yang masih menatap punggunya.

"Naruto!" Sasuke memanggil namanya kembali, seperti yang ia duga lelaki itu tak membalikkan kembali tubuhnya.

"Menma!" Naruto mematung mendengar panggilan Sasuke, kedua tangannya mengapal erat. Mengapa, bukankah Sasuke sudah berjanji hari ini memanggilnya dengan nama Naruto bukan Menma.

Naruto pun membalikkan tubuhnya, gadis itu masih mematung di tempatnya. Perlahan ia melampaikan tangannya dengan senyuman yang terlihat di paksakan, tak ingin berlama-lama Naruto pun berbalik dan berlari menjauhi gadis itu. Angin malam nampak terasa menusuk permukaan kulitnya, di bawah sinar redup lampu jalanan ia menyembunyikan air mata yang menetes dari kedua matanya.

'Pukul enam lima belas malam, kehidupan normalku berakhir.'

.

.

.

Naruto menundukan dirinya di pinggir ranjangya, kepalanya menunduk dalam-dalam berusaha meyakinkan apa yang ia lakukan. Naruto menghela nafas sesaat, ia sudah yakin dengan keputusan yang ia buat. Perlahan Naruto menutup kedua matanya, ruang hampa kini menyambutnya bersamaan dengan sepasang mata yang menatapnya datar. Naruto menatap Menma yang ada di hadapannya, lelaki itu masih diam tak mengucapkan satu patah kata pun.

"Jika kau ingin bertanya, tanyakan saja. Jangan menahan dirimu…" Ujar Naruto.

Menma menganggukkan kepalanya, entah mengapa suasana diantara keduanya menjadi canggung. Walau hampir seharian ini keberadaan Menma sangat tipis, tapi bukan berarti ia menghilang dan tak melihat apa yang dilakukan Naruto. Ia melihat semuanya, ketika sang adik mengutarakan isi hatinya dan ketika sang adik berlari pergi. Ia tak tahu alasannya, tapi firasatnya mengatakan itu adalah sesuatu yang akan berakhir buruk pada akhirnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya. Memintaku mengambil alih tumbuh ini selama seharian penuh dan… kenapa kau meninggalkan sasuke?" Entah mengapa Menma menanyakan perihal Naruto yang meninggalkan Sasuke tanpa alasan. Tapi, mengingat kembali raut wajah gadis itu saat Naruto pergi meninggalkannya, ia tak terima. Amarahnya semakin memuncak.

Naruto mengalihkan pandangannya dari Menma, kedua tangannya mengepal erat.

"Untuk pertama kalinya aku menyukai seorang gadis, tapi… seberapa banyak aku menghabiskan waktu seharian ini dengannya itu tak berarti..kau tahu kenapa?" Naruto kini menatap Menma dengan tajam.

"Itu karena dirimu…" Lanjut Naruto dengan suara rendah.

Naruto tersenyum pahit mendapati reaksi Menma, tubuh lelaki itu nampak tersentak mendengar perkataannya.

"Kau tahu, saat aku meminta Sasuke untuk memanggil namaku aku sangat bahagia, dia benar-benar memanggil namaku .. tapi, gadis itu pada akhirnya tetap memanggil namamu. Dia benar-benar menyukaimu.."

"Tidak, dia menyukaimu.. yang ada dalam tubuhku…" Gurat tegas di wajah Menma kini menghilang seketika.

"Menma…." Panggil Naruto dengan lembut, senyuman kini nampak mengembang di wajahnya.

Menma tertegun sejenak, jantungnya kini berdetak sangat kencang. Ia tak ingin mendengar satu kata pun keluar dari bibir Naruto sekarang ini. Menma pun menutup kedua telinganya dengan tangan kananya, kepalanya menggeleng lemah.

"Terimakasih untuk segalanya, tapi.. aku sadar tubuh ini, walau aku menggunakannya tetap saja tak akan berubah menjadi diriku sendi.."

"Tidak, jangan katakan apapun lagi." Pinta Menma, tubuhnya nampak bergetar.

"Maaf, Menma…" Ucap Naruto, sebuah pisau nampak berada di tangan kanannya. Pisau yang terbentuk dari pemikirannya sendiri. Bola mata Menma membulat sempurna, tubuhnya semakin bergetar hebat.

"Men…"

"Kubilang jangan katakan apapun lagi!" Teriak Menma memotong apa yang ingin Naruto katakan.

Kedua tangan Menma terjatuh lemas. Ia pandangi Naruto sekali lagi, pandangannya terjatuh pada pisau yang ada di genggaman tangan Naruto. Menma mengepalkan tangannya, tubuhnya sudah tak bergetar lagi ia sudah dapat mengendalikan sedikit emosinya. Menghela nafas sejenak, Menma kembali menatap Naruto dengan datar tapi berbeda dengan Naruto yang kini menatapnya dengan mata yang membulat sempurna, terkejut. Sebuah pisau yang sama dengannya kini nampak berada di tangan Menma.

Boku wa kuma kuma kuma kuma

Fuyu wa nemui yo kuma kuma kuma

Yoru wa "Oyasumi,makura-san"

Asa wa "Ohayou, makura-san"

Boku wa kuma kuma kuma kuma

Lagu itu kembali berputar, menandakan bahwa chapter ini sudah selesai.

TBC

Hmmm.. sebenarnya saya senang jika seseorang membaca fanfic ini, tapi jujur saya lebih senang jika seseorang memberikan reviewnya. Dari sana saya tahu apakah kalian menyukainya atau tidak. Jadi, intinya selama ini saya menulis fanfic ini berdasarkan dari review kalian semua.. jujur sangat menyenangkan ketika membaca review kalian satu persatu, walau pendek atau pun panjang. Tapi, review disini begitu sepi.. jadi maaf mungkin saya tak akan melanjutkannya untuk beberapa waktu ke depan. Saya benar-benar berterimakasih pada kalian yang sudah membaca dan mereview fanfic ini. Maaf, saya jadinya curhat hehe

Chapter enam selesai, Terimakasih banyak sudah membacanya ^^