Langit biru begitu indah
Tapi membutakan mataku karena keindahannya
Langit gelap adalah hidupku
Karena hanya dalam kegelapan aku bisa bernapas
Ditengah gelapnya hatiku kau muncul bagai secercah cahaya
Cahaya indah yang menghangatkan hatiku
Ditengah dinginnya kegelapan hatiku kau berbisik
Bisikan indah yang menyentuh dengan suara lembutmu
Suara angin mengacaukan pikiranku
Tapi suaramu mengacaukan hatiku
Aku hanya bisa melihatmu
Aku hanya bisa memandangmu
Aku hanya bisa diam-diam mendengar suaramu
Dan aku hanya bisa diam-diam jatuh cinta padamu
Tapi kenapa kau tak bisa melihat itu semua?
Evil Baby Snow Company Featuring SM entertainment
Present
.
.
4 Tahun sebelumnya
######
"Ukh" gerutuku sambil meniup-niup luka-luka disekujur lenganku, menciprati sedikit dengan ludah dan menepuk-nepuk pelan. Berharap rasa sakit karena luka goresan, memar dan sabetan cepat menghilang. Aku Berusaha menahan air mata dari rasa sakit ini dengan mendongakkan kepalaku keatas, berharap air mata takkan jatuh.
Melihat langit berubah mendung, dengan awan-awan hitam bergerak cepat. Aku menatap langit dalam diam, tanpa berpikir apapun, tanpa merasa apapun.
Aku memejamkan mataku dan merebahkan tubuhku di atas rumput di halaman belakang gedung pelatihan 'penjaga' dengan nyaman. Mengangkat tanganku ke atas. Seakan-akan berusaha mengangkap awan-awan di langit dengan tangan kecilku.
Hari ini tepat 1 tahun masa pelatihanku. Berarti sekarang usiaku sudah 14 tahun. Usia anak-anak belia yang mulai mengenal tentang arti persahabatan, kasih sayang, dan cinta. Ya, Cinta. Kata-kata bodoh yang tak ada artinya. Kata-kata kiasan tanpa ujung. Kata-kata yang diucapkan hanya bermodal nafsu. Itulah cinta untukku. Menurut pengalaman yang kulihat selama ini.
Aku menghela napas panjang. Menjatuhkan kedua tanganku di samping. Menutup mataku, mencoba menenangkan diri. Dan akhirnya jatuh tertidur.
######
"Ehm..." gumamku saat merasa jari-jari lembut bermain-main di wajahku. Kubuka mataku pelan. Dan dengan reaksi yang sangat cepat aku langsung beranjak dari tidurku yang tenang. Melompat mundur beberapa langkah. Dan memasang kuda-kuda dengan posisi setengah berdiri.
Anak itu tertawa geli melihat reaksiku. "Hahahahahaaaaa... kau lucu... sangat lucu..." tawanya membuatku tak mengerti. Kuperhatikan baik-baik wajahnya. Ah, aku tahu dia, bukankah dia... 'Donghae?'
"Sepertinya kau sudah mulai ingat ya" ucapnya sambil tersenyum. Tapi yang membuatku heran. Kapan dia tepat ada di depanku? Aku tak menyadari gerakannya!. "Hei sudah kubilangkan. Gini-gini aku salah satu yang terbaik. Kalau ga. Mana mungkin aku jadi penjaga" lanjutnya sambil menyentil dahiku dengan jarinya. Membuatku meringis sakit.
Kini dia duduk santai di tanah rerumputan. Mencari posisi yang nyaman dan tidur.
Aku hanya diam melihatnya, sambil mengelus dahiku yang masih nyeri. Dia membuka sebelah matanya malas. Tersenyum padaku. Huh. Lagi-lagi senyum kekanak-kanakan itu.
"Sini. Bukannya tadi kau juga lagi tidur tadi" dengan satu gerakan cepat, di tariknya tanganku hingga jatuh terjerebab di sampingnya. Ehm, bukan disampingnya. Tapi lebih tepatnya. Di atas tubuhnya.
Merasa kontak fisik yang tiba-tiba untukku dan ini terlalu berlebihan bisa dibilang. Aku langsung menghempaskan tubuhnya menjauh. Tubuhku bergetar. Aku takut. Aku tahu dia tak mungkin seperti 'mereka'. Aku tahu dia tak ada maksud apapun. Tapi... tubuhku bereaksi sendiri. Seluruh kenangan tak mengenakan itu entah mengapa datang lagi saat tubuhku melalukan kontak fisik yang 'agak' sedikit berlebihan untukku.
Donghae menyengitkan dahinya, bingung dengan sikapku. Dengan perlahan dia mendekat ke arahku, perlahan dan hati-hati. Mungkin dia tak ingin menyakitiku? Mungkin. Tapi yang pasti kuperhatikan wajahnya cemas.
Diulurkan tangan kanannya ke arahku. Mencoba menyentuh pipiku. "Kau kenapa?" tanyanya dengan suara pelan, tersirat kekhawatiran dan kecemasan disana. aku mendongak melihat wajahnya yang dekat denganku. Kueratkan genggaman tanganku yang memeluk tubuhku yang bergetar. "Kau baik-baik aja?". saat aku akan membuka mulutku yang bergetar untuk berbicara, tiba-tiba...
BRAK
Tubuhku terhempas kedepan, kepelukan anak itu. Kurasakan belakang kepalaku sakit. Dan tak beberapa lama kemudian, kurasakan aliran darah mengalir dari tengkorak belakangku.
"YAH! KYUHYUN-AH! APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Donghae membuatku kembali ke alam nyata. Kubalikkan badanku dengan tangan memegang belakang kepala, berusaha menghentikan aliran darah yang terus mengalir.
DEG
Kulihat wajah Tuan Muda Cho begitu suram, gelap, dan memancarkan aura membunuh. 'kenapa dia?' pikirku.
Aku memang tahu sikap dia selalu seperti ini, terutama berhadapan denganku. Bahkan selama setahun ini. Saat pelatihanku, terkadang dia datang hanya untuk memaki, menghina bahkan melecehkanku. Tapi aku tetap diam. Berusaha berpikir yang terbaik. Karena bagaimanapun juga, suatu saat nanti aku harus menjaganya.
Ehm? Ah tidak. Sepertinya aku melupakan sesuatu.
Dia tak hanya datang saat pelatihanku. Tapi juga kadang-kadang datang ke kamar ku saat malam. Alasannya?. Tentu tak jauh beda seperti yang kukatakan sebelumnya. Dia datang hanya untuk mengejekku. Sampai aku sering berpikir. Sepertinya dia termasuk Tuan Muda yang kesepian, makanya dia berbuat begitu. Tapi... kupikir aku harus menarik lagi ucapanku suatu hari nanti.
"Donghae. Aku tak tahu apa alasan kau berani berteriak seperti itu didepanku. Tapi seharusnya kau tahu. Siapa aku inikan" ancam Kyuhyun dengan tenang. Sangat tenang. Bahkan terlalu tenang. Beda dengan pancaran matanya yang bagai berkilat api di dalamnya. "Lagipula untuk apa kau bela anak seperti dia. Ah, jangan-jangan kau tak tahu? Kalau anak ini dulunya pelacur", lanjut Kyuhyun.
Dia menatapku. Tatapan sinis yang menusuk. Tapi dari pada pandangan matanya itu. Setiap kata-katanya yang dikeluarkannya lebih menusuk sampai hatiku. Aku tahu aku dulunya seorang pelacur. Tapi baru kali ini dia berkata seperti ini.
Dadaku sakit. Hatiku perih. Aku berusaha menarik napas sekuat mungkin. Tapi sepertinya kondisiku tak memungkinkan. Kucengkram erat dadaku. Tapi tetap aku kesusahan bernapas.
Melihat kondisiku begini. Donghae langsung mendekap tubuhku. "Untuk apa kau peluk anak seperti dia" gumam Kyuhyun dan menarik paksa tanganku menjauh dari Donghae. Tapi sesaat dia langsung menghempaskan tubuhku yang tak berdaya ke tanah. Memandangku dengan tatapan marah dan kesal, seakan-akan siap memangsaku kapanpun.
Aku hanya bisa diam memandangnya. Keringat dingin mengalir deras dari dahiku yang bercampur dengan darah. Aku merasa pusing. Mungkin karena luka ini pandanganku mulai kabur.
######
Kulihat Donghae dan Kyuhyun sekarang bertengkar. Berdebat tentang sesuatu yang aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya mereka debatkan. Ini mungkin karena aku merasa pusing dan pandanganku mulai tak fokus.
"Huaaaaaa...aaaaaaa..."
Tiba-tiba terdengar teriakan. Ah lebih tepatnya suara tangisan seseorang. Dengan pandangan samar-samar kulihat anak yang menangis itu. Ehm? Sepertinya aku kenal anak itu. Mungkin bisa dibilang antara kenal dan tidak. Tapi wajahnya itu. Wajah yang begitu manis.
Dan.
Seperti malaikat. Ya. Dia terlihat seperti malaikat. Malaikat mungil yang polos. Malaikat dengan mata yang bulat besar.
Dia menangis tersedu-sedu di belakang sesosok remaja yang tidak telalu tinggi. Berambut hitam acak-acakan, berpakaian kasual berwarna hitam dengan lengan panjang yang menutupi hampir setengah jari-jarinya.
Ehm? Entah ini hanya perasaanku atau bukan. Apa karena lengan bajunya itu memang kepanjangan atau jarinya yang pendek? Atau dia memang sengaja memakai pakaian yang seperti itu? Menutupi sesuatu mungkin?. Entahlah. Tapi dari pada itu. Ada sesuatu dari dia yang terlihat... dingin?... bukan... aneh?... ah itu juga bukan... tapi ada sesuatu yang mengganjal tentang dia... auranya... aku kurang suka auranya. Ada sesuatu yang menakutkan yang terpancar darinya. Berbeda dengan aura Kyuhyun, Mister Soo Man, Para Senior ataupun Tuan Besar Cho.
"Kumohon kalian berhenti... hiks... jangan bertengkar lagi... hiks... Donghae-hyung... Tuan Muda Cho... hiks hiks hiks" isak anak itu sambil mendekatkan tubuhnya ke remaja di depannya. Mendekap baju remaja itu dan menangis lagi.
Kyuhyun dan Donghae tiba-tiba berhenti bertengkar. Mereka saling bertukar pandang. Dan mendesah pelan. "Sebaiknya kau berhenti menangis. Ryeowook" ucap Kyuhyun tegas. Anak yang dipanggil Kyuhyun dengan nama Ryeowook hanya diam sesegukkan mendengar kata-kata Kyuhyun yang menurutku lebih terdengar seperti sebuah 'perintah'. Dihapusnya dengan kasar air matanya. Dan berusaha mengatur kembali napasnya seperti sedia kala.
Aku bingung. Kenapa ada orang yang begitu kejamnya memperlakukan anak yang seperti malaikat itu dengan dingin ya?. Yah, mungkin karena itu Kyuhyun makanya dia bisa melakukannya.
Melihat Ryeowook yang sudah bisa mengendalikan tangisnya. Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke Donghae. Namun walau hanya sekilas. Bisa kurasakan mata Kyuhyun sekilas menatapku dari sudut matanya sebelum menatap Donghae. Tapi apa ini hanya perasaanku?. Tatapan matanya tadi terlihat sedih?. Ehm, Aneh, tak mungkin dia sedih. Untuk apa?.
Sekarang Kyuhyun menatap Donghae lekat-lekat, dan... "kau Donghae, karena kau sudah bersikap tak hormat. Aku beri kau hukuman. Mulai besok selama seminggu kau akan kutempatkan di ruang penyiksaan"
Donghae hanya bisa diam mendengar kata-kata Kyuhyun. Dia menunduk dan mengangguk pelan, "Aku mengerti. Toh bagaimanapun aku adalah bonekamu". Ucap Donghae santai. Mengangkat bahunya ke atas.
"Tidak... Tidak... Tidak"
Ryeowook langsung berlari ke arah Donghae dan Kyuhyun. Berdiri tegap diantara keduanya. Direntangkannya tangannya kesamping selebar mungkin. Bermaksud melindungi Donghae dari tuan mudanya. "Kumohon Tuan Muda Cho. Aku tahu Donghae-hyung tak bermaksud berbuat begitu ke anda. Jadi... jadi kumohon... cabut hukuman anda... jangan bawa dia keruang penyiksaan... kumohon" ucapnya memelas. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.
"apa maksudmu menghalangiku Ryeowook?. Kau ingin kuhukum juga?" ucap Kyuhyun dingin.
Mendengar kata-kata Kyuhyun yang terdengar seperti nada yang mengancam. Remaja yang datang bersama dengan Ryeowook, Yang sedari tadi hanya diam menonton semua ini akhirnya bergerak.
Dengan tenang dia berjalan mendekat ke arah Kyuhyun, Ryeowook dan Donghae. Dan berdiri tepat disebelah Kyuhyun. Mengangguk pelan sebagai tanda hormat dan menatap Kyuhyun langsung ke matanya.
Kyuhyun yang melihatnya hanya diam dengan perilaku orang itu. "Apa maumu Yesung?".
"Aku tak ingin apa-apa Tuan Muda... hanya saja aku harap anda bisa memikirkan kembali hukuman yang anda berikan" ucap orang yang bernama Yesung itu sambil menundukkan kepalanya. Kyuhyun mendelik melihatnya. Di naikkannya sebelah alisnya. Dan kemudian dikerutkan dahinya.
"Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Maksudmu, kau ingin menolong Ryeowook atau...?"
"Aku harap anda memikirkan kembali hukuman untuk Ryeowook"
Kyuhyun mendesah. Dia tahu. Yesung adalah sosok yang dingin, tak suka bergaul dengan orang lain dan tak bisa di tebak apa yang ada dipikirannya. Tapi. Kyuhyun juga tahu. Yesung adalah orang yang setia. Sebagai salah satu penjaga Kyuhyun sejak dulu. Yesung selalu melakukan tugasnya sebaik mungkin. Dan Kyuhyun tahu, ini adalah permintaan pertama Yesung, permintaan pertamanya sejak dia berkerja menjadi penjaga Kyuhyun.
Kyuhyun diam berpikir. Ditatapnya Yesung kemudian Ryeowook, 'Aku tak mengerti kenapa Yesung begitu melindungi Ryeowook? Apa ada sesuatu diantara mereka?' gumam Kyuhyun dalam hati.
"Aku mengerti. Kucabut hukuman untuk Ryeowook. Tapi tidak dengan Donghae."
"Tidak... tidak..." teriak Ryeowook membuat Kyuhyun dan Yesung berpaling padanya. "Lebih baik aku di tempatkan di ruang penyiksaan juga dari pada Donghae-hyung harus disiksa sendiri" ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju.
"Ryeowook..." kata Donghae pelan. Donghae hanya diam melihat Ryeowook yang begitu membelanya mati-matian. Dia mendengus pelan. "Ryeowook, sudahlah, aku ga apa-apa kok. Lagian cuma seminggu. Aku takkan mati semudah itu tahu" gurau Donghae sambil memeluk leher kecil Ryeowook dari belakang dengan sebelah tangannya.
"Tapi Donghae-hyung..."
"Sudah kubilang... aku ga apa-apa" lanjut Donghae berusaha menyakinkan Ryeowook dengan senyuman khasnya yang kekanak-kanakan. Tapi. Sepertinya kali ini senyumnya gagal. Ryeowook menggelengkan kepalanya tak terima. "Pokoknya tidak hyung..."
Ryeowook menatap Kyuhyun lurus di matanya, wajahnya kini tak seperti tadi, lebih tegar dan tegas, "Tuan Muda. Aku harap anda membatalkan hukuman itu" katanya tegas.
Ryeowook dan Kyuhyun saling bertatapan dalam diam, membuat Donghae mulai merasa khawatir dengan sikap Ryeowook yang begitu membangkang kali ini. Sedangkan Yesung? Entahlah. Aku tak mengerti. Wajahnya seperti poker face. Tak bisa kutebak pikirannya. Lalu aku sendiri? Aku hanya bisa diam terduduk di tanah sambil memegangi luka di kepalaku yang masih mengeluarkan darah.
Hening dan sepi.
Hanya dua kata itu yang bisa kugambarkan mengenai suasana saat ini. Tak ada seorang pun yang berbicara. Atau mungkin sebenarnya tak ada yang ingin berbicara saat ini.
Kyuhyun menatap Ryeowook tajam. Kemarahan terpancar dari matanya. "Kau..." geram Kyuhyun. Di kepalkan genggamannya erat berusaha menahan amarah.
Ryeowook yang sedari tadi menatap Kyuhyun. Kini menundukkan kepalanya menatap kebawah. Aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi. Ada satu hal yang bisa kukatakan. Tak selang berapa saat setelah Ryeowook menunduk, perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya lagi.
Tapi kali ini aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan anak yang bernama Ryeowook ini. Aku tak tahu ini hanya perasaanku atau apa. Tapi. Aku merasa suasana di sekitar tempat ini mulai berubah. Sedikit demi sedikit aku merasa suhu udara mulai menurun. Mulai terasa dingin. Begitu sangat dingin. Sangat kontras dengan cuaca yang sekarang menjadi cerah dan terik.
Dan.
Apa hal ini bisa dikatakan normal?.
Mata anak itu.
Mata Ryeowook mulai berubah.
Walau jarakku dan Ryeowook bisa di bilang tak terpaut terlalu jauh, tapi juga bisa di katakan tak begitu dekat. Namun, bisa kulihat dengan jelas. Pupil mata kirinya mulai berubah menjadi lebih mengecil dan mencekung di bagian tengahnya, bagai terlihat seperti pupil mata kucing saat siang hari. Namun. Perubahan ini terjadi hanya di bagian mata kirinya saja. Apa ini hal yang wajar?.
Selain itu. Auranya juga berubah. Untukku. Anak yang bernama Ryeowook ini memiliki aura ceria dan nyaman.
Bisa dikatakan. Seluruh tubuhnya bagai memancarkan aura positive. Tapi sekarang tidak. Aku merasa aura positive itu berubah seiringnya dengan perubahan mata kirinya. Dan suhu udara disekitar sini.
Aura ceria dan positive itu bagai berubah negative dan begitu menekan. Ekspresinya yang terlihat begitu polos dan manis hilang dalam sekejap. Berubah menjadi ekspresi dingin yang mencekam. Tak banyak ekspresi yang terpancar dari wajah itu. Yang ada hanya kegelapan yang dingin menyelimuti.
Ini aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ryeowook bisa berubah begitu drastis? Bahkan auranya yang begitu negative dan menekan, seakan-akan bisa membunuh siapapun yang berani mendekatinya.
Aku mendekap tubuhku yang sekarang bergetar hebat dengan sebelah tanganku. Rasa takut akan terseret lebih dalam ke kegelapan yang terpancar dari Ryeowook membuatku seakan-akan melupakan sesaat rasa sakit di kepalaku.
Kupandang Kyuhyun dan Donghae yang sudah berdiri gelisah karena perubahan Ryeowook. Sedangkan Yesung, dia tetap memilih berdiri diam tanpa reaksi dan ekspresi, menatap Kyuhyun dan Ryeowook bergantian.
Dengan susah payah kutelan ludahku. Kuberanikan diri menatap mata kiri Ryeowook, dimana pupil mata kiri itu berubah sempurna menjadi seperti mata kucing.
Aku bingung. Kepalaku pusing sesaat. Sebenarnya ada apa ini?. Siapa itu Ryeowook sebenarnya?. Siapa sebenarnya anak ini?.
