Anyonghaseyo

Chapter 6 udate, mian jika chapter kali ini update-nya lama banget. setelah author bergulat dengan tugas dan penelitian, akhirnya author berhasil mencuri waktu untuk menulis fic ini. Dan sekali lagi author minta maaf jika tulisan yang author hasilkan sama sekali jauh dari apa yang diharapkan, ooc bahkan gaje.

Gomawo yang sudah mau review chapter sebelumya.

Langsung saja, Harakiri production mempersembahkan.

FnC Academy

Chapter 6

Sehelai benang kasat mata, seperti lilitan dan helaian hifa yang mengikat dua anak manusia tidak akan pernah bisa lepas. Benang ini bukanlah benang yang sanggup dilepas dengan panasnya sang surya, tidak akan pernah hanyut dengan derasnya gelombang, tidak akan terkoyak dengan terpaan sang bayu dan tidak akan terputus karena sayatan tombak.

Pernah, seketika seseorang mencoba melepasnya, benang akan semakin erat mengikat. Tidak peduli jika dia menolaknya bahkan mencoba menghancurkannya. Benang itu akan semakin melekat, menembus urat nadi dan meracuni pikiran sang manusia. Lelah, hanya pasrah dan tunduk kepada sang takdir. Mengikuti suratan yang telah tertulis, dan menenggelamkan dirinya pada sebuah takdir yang telah terikat.

Itulah benang merah, Tapi apakah akan sama jika benang yang mengikat kedua anak manusia tidak berwarna merah melainkan merah muda?

Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang pantas untuk dijawab, hanya sebuah pernyataan yang membutuhkan bukti yang hampir bisa terjawab.

Pemuda itu berkali-kali mengerjabkan matanya, dia sama sekali tidak bisa tenggelam menikmati indahnya sang malam. Tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan. Bukan karena sakit atau sekarat, hanya saja tangan pemuda itu terikat dengan tangan pemuda di sampingnya. Dia sama sekali tidak mampu memejamkan matanya barang sedetikpun, padahal dia sudah mengalihkan wajahnya dari pemuda itu. Merasa lelah, akhirnya pemuda itu duduk bangkit dari tidurnya, mengucek-ngucek matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Gelap tanpa adanya cahaya yang menerangi, namun cahaya dari sang rembulan cukup untuk membuat hawa di ruangan menjadi lebih terkesan romantis, oh tidak, Wonbin tidak mungkin berfikiran seperti itu. Dia bahkan sudah mendoktrin dirinya untuk tidak merasakan hal-hal yang di luar kendalinya bersama setan kecil itu.

Dia menghirup oksigen dalam-dalam merasakan hawa dingin yang mulai menyerang. Dia eratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Sepele, namun memberi efek yang yang sangat besar.

Merasa frustasi, Wonbin kembali merebahkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Pemuda berkekuatan kilat itu berkali-kali membolak-balikan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Dia sangat sadar jika dia terus membelakangi Jaejin tangannya akan kaku terkilir karena posisinya. Hal itulah yang membuatnya tidak mampu memejamkan matanya untuk beberapa jam ini.

Semuanya berjalan sangat lambat, hanya dentuman jam yang menemaninya kali ini. Wonbin merasa lelah dengan posisinya, tangannya merasa gemetar seakan-akan darahnya berkumpul tepat di area tangannya.

Menyerah, dia membalikkan badannya menghadap Jaejin. Memejamkan mata tidak ingin menyaksikan wajah yang membuat urat-uratnya berkedut. Dia tidak ingin melihat wajahnya, bahkan merasakan aroma yang terkuar dari pemuda itu.

"Ehhh…."

Suara erangan Jaejin membuat Wonbin membuka matanya. Merasa khawatir dia menatap wajah yang tersaji di depannya. Wonbin mendekat memastikan jika pemuda di depannya tidak terbangun.

Hening, hanya desiran angin yang dapat ditangkap oleh indera. Wonbin terpaku, dia meneguk ludah ketika tanpa sengaja matanya menangkap wajah pemuda itu. Entah apa yang terjadi…., dia seperti tertarik begitu saja, tenggelam pada wajah manis yang disajikan. Pemuda itu terkesan sangat polos ketika menutup matanya. Ia masih terbuay tanpa sedetikpun melepaskan pandangannya dari wajah imut itu. dan sampai akhirnya pemuda itu menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak perasaan yang tiba-tiba menyelusup di hatinya.

Tapi ketika dia kembali memfokuskan pandangannya pada pemuda itu, sesuatu yang ditakutkan terjadi kini benar-benar terjadi. nafasnya harus tertahan dan detak jantungnya harus terhenti untuk sementara waktu, dia benar-benar tidak tahu menenai perasaan yang menyerangnya kali ini. Dia sungguh takut dengan perasaan yang melanda kali ini, takut jika dia akan semakin jauh terperangkap pada pesona sang pemuda.

Pemuda itu sangat cantik, seperti malaikat yang tertidur di tumpukan salju putih, tampak polos. Bibirnya merekah di antara warna putih yang menyelimutinya, rambutnya panjang tergerai seperti helain benang sutera, lembut sekali. Wajahnya putih bersih, nampak merona di daerah pipinya, diam tanpa memancarkan emosi, hanya keindahan yang menggambarkan setiap lekuk wajah yang lebih indah dibandingkan lukisan sekaliber Monallisa. Matanya tertutup rapat, siap menunggu kecupan sang pangeran untuk membuat matanya terbuka.

"Sialan, dia sangat manis." Wonbin memukul jidatnya berkali-kali.

Wonbin mendesah, dia semakin frustasi ketika terus-terusan menatap wajah di depannya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia sudah tidak mampu lagi mengalihkan matanya dengan sesuatu yang lain. Sedetikpun, dia tidak mau melewatkan karya Tuhan yang indah itu. Dia sudah tidak mampu lagi melakukannya. Meski hati menolak, meski raga mencoba untuk menahannya, tetapi pancaran mata sudah cukup menggambarkan semuanya.

Wonbin mengulurkan tangannya pelan. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dia ketahui, bukan sesuatu yang normal dan Wonbin mungkin akan memaki dirinya ketika tangannya mulai menyentuh wajah pemuda di depannya. Wajah yang indah tanpa emosi, rambut yang lembut untuk dihirup sekaligus digenggam serta bibir yang-err lupakan.

Oh Wonbin merasakan sesak yang luar biasa di hatinya, dia membiarkan tangannya bergerilya pada wajah pemuda yang terlelap itu. Giginya bergemelatuk menahan rasa ingin memeluk dan memiliki. Sudah gila memang, tetapi Wonbin benar-benar merasakannya, ketika tangannya menyentuh kulit sang pemuda, ada sedikit getaran yang muncul, darahnya berkumpul seakan-akan bekerjasama mematikan syaraf-syaraf yang membuatnya tidak bisa berfikir lebih jauh.

"Api…..,"

Suara gumaman Jaejin menjadi tamparan yang telak bagi pemuda bernama Oh Wonbin itu, tamparan yang menyadarkannya bahwa pemuda itu merupakan saingan utama-nya. Pemuda itu refleks menyingkirkan tangannya dari wajah Jaejin, bertingkah tidak terjadi apapun.

Wonbin menatap kembali wajah Jaejin, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dari wajah pemuda itu kali ini, bahkan Wonbin melihat dengan jelas keringat yang mengucur deras dari pelipisnya, merasa khawatir Wonbin menyeka keringat yang membasahi wajah Jaejin. Dia pandangi wajah mungil yang sempat membuat otaknya tidak mampu berfikir lagi, nampak ketakutan dan penuh dengan emosi.

Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti ini?

Ada perasaan sangat khawatir yang tiba-tiba saja muncul di benaknya, belum pernah dia merasakan perasaan khawatir seperti ini.

"Jonghun-hyung, api!" Suara Jaejin kembali mengusik indera pendengaran Wonbin, pemuda itu seperti terperangkap pada alam bawah sadarnya.

Tidak bisa menunggu lama, Wonbin mengguncang badan Jaejin.

"Jaejin-ahhh, kau baik-baik saja?"

Tidak ada respon dari pemuda itu, Wonbin duduk meraih kedua bahu Jaejin dan kembali mengguncang-guncangkan tubuhnya.

"Lee Jaejin, bangunlah!"

"Jonghun-hyung, api!"

Lagi-lagi pemuda itu mengigau, peluh membanjiri pelipisnya, nafanya tercekat seakan-akan lehernaya tercekik.

"Tidak ada cara lain," Wonbin menepuk-nepuk pipi Jaejin agak keras.

Beberapa menit Wonbin masih menepuk-nepuk pipinya, bukannya sadar tetapi pemuda itu semakin menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, api dan nama Jonghun yang terus dia sebut. Wonbin gusar, dia menatap nanar ke arah saingannya itu.

Pelan, dia menarik lembut tangan Jaejin. Menyandarkan tubuh yang tidak sadarkan diri itu di pelukannya. Dia membelai punggung pemuda itu, menenangkan serta memberi kenyamanan. Entah apa yang terjadi, kebencian seorang Wonbin seolah-olah lenyap begitu saja, terbang bersama dinginnya sang malam.

"Jaejin bangunlah, aku mohon."Wonbin berbisik di telinga pemuda itu.

Dan suara seorang Wonbin bagaikan alunan harpha yang langsung mempengaruhi indera kesadaran Jaejin, pelan kelopak mata itu mulai terbuka menampakkan mata hitam yang memancarkan cahaya. Mereka terdiam, Hanya suara desahan nafas yang menandakan kalau mereka berada di tempat yang sama bahkan dalam keadaan yangs sangat intens.

Jaejin, pemuda itu belum sepenuhnya mendapatkan kesadarannya, dia masih mengatur nafasnya yang tidak teratur. Dia tidak menyadari bahwa apa yang telah terjadi membuat dirinya berada di posisi yang sangat riskan. Dekat bahkan membuat dirinya tidak sanggup lagi bernafas. Merasa ada yang aneh, Jaejin mengerutkan dahinya. Tubuhnya terasa bersandar pada seseorang, bahkan tangan seseorang menyangga berat tubuhnya. . Ekor mata Jaejin bergerak mengamati sekitar, dan pandangannya jatuh pada tangan kekar yang mengelus-ngelus punggungnya.

Apa yang terjadi? Butuh beberapa menit bagi orang cerdas seperti Jaejin untuk mengetahui apa yang terjadi

"Apa yang kau lakukan padaku?" refleks, Jaejin mendorong Wonbin hingga pemuda itu mundur beberapa langkah. Tangan mereka merah akibat tarikan paksa.

"Yah, aku tidak melakukan apapun padamu." Wonbin mengusap tangannya yang merah, dia menatap Jaejin .

"Beraninya kau menyentuhku." Jaejin meneliti dirinya sendiri, tidak ada yang hilang maupun terkoyak. Syukurlah!

Wonbin mendesah, dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesal yang telah memenuhi hatinya. Dia sangat menyesal telah menyebutnya manis, dan soal kejadian tadi-, hanya ketidaknormalan Wonbin hingga dia melakukannya.

"Yah…, aku tidak mungkin menyentuhmu. Bahkan aku tidak berminat untuk menyentuhmu, kau sama sekali tidak ada manis-manisnya." Cercanya.

"Lalu kenapa saat aku bangun aku berada di pelu-err lupakan!" Jaejin tidak bisa meneruskan ucapannya, terlalu rancu dan tidak bisa ditangkap oleh nalar.

"Kau malah seperti orang yang berharap disentuh olehku." Wonbin menyeringai.

Jaejin diam tak bergeming ketika ucapan itu meluncur dari mulut Wonbin. Dia tidak bisa meluapkan emosi begitu saja, hanya ukiran seringai yang nampak di mulut Jaejin, seringai menakutkan membuat Wonbin merinding tiba-tiba.

"Oh Wonbin, kau ingin mati." Suara Jaejin ibarat malaikat kematian yang siap untuk menarik paksa roh Wonbin keluar dari tubuhnya.

Hening, kemudian Wonbin terkekeh geli melihat ekspresi unik seorang Jaejin. Mungkin, orang akan menganggapnya gila, tetapi bukankah Wonbin memang sudah gila!

"Apa yang kau tertawakan?"

"Tidak ada, aku hanya heran dengan sikapmu. Aku mencoba membangunkanmu dari mimpi burukmu, tetapi kau malah marah-marah padaku bahkan menuduhku melakukan hal-hal yang tidak-tidak padamu." Wonbin duduk bersandar pada dinding kamar, Jaejin dengan tubuh kecilnya ikut bersandar mengikuti apa yang di lakukan Wonbin, tidak mungkin Jaejin tidak ikut, karena tangan mereka yang terikat menjadi satu membuat mereka tidak akan berpisah.

"Itu karena posisi kita yang, yang ..."

"Yang apa?" Wonbin tersenyum.

"Pokoknya seperti itu, dan kenapa kau membangunkanku dengan cara seperti itu." tanya-nya.

"Aku bahkan sudah menampar dan memukulmu, tapi sepertinya itu semua tidak bisa membangunkanmu. Kau mimpi buruk!"

"Sudah jelaskan aku mimpi buruk dan lupakan kejadian ini, jangan pernah dibahas lagi." Jaejin menyeka sisa-sisa keringat yang membasahi pelipisnya.

"Baiklah, sekarang tidurlah."

"Aku tidak mau, kau saja yang tidur."

"Anak yang masih dalam proses pertumbuhan sebaiknya cepat tidur." Cercanya.

"Siapa kau menyuruhku untuk tidur, aku tidak mau tidur, aku tidak mau bermimpi buruk lagi. Kau saja yang tidur." Jaejin menyingkirkan selimut yang membungkus kakinya.

"Bagaimana aku bisa membiarkan seseorang tidak tidur sementara aku terlelap begitu saja. Sebenarnya kau bermimpi apa sampai kau tidak mau tidur?"Wonbin mendesah, menyandarkan kepalanya pada dinding, diam-diam matanya melirik ke arah pemuda di sampingnya. Sangat jelas gurat ketakutan dan kekhawatiran yang terekam di wajahnya yang imut.

"Hanya mimpi buruk, jangan dibahas lagi."

"Baiklah, apa yang akan kau lakukan jika tidak tidur?" Tanya Wonbin.

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu."

"Dasar aneh, aku akan menemanimu sampai kau benar-benar terlelap."

"Coba saja, aku tidak percaya kau mampu tidak memejamkan matamu sampai pagi."Ejeknya.

"Justru mungkin sebentar lagi kau yang akan tertidur."

Dan setelah itu mereka terlibat obrolan-obrolan ringan yang membuat sang dewi malam bersorak bahagia, dentuman jam semakin lincah berputar dengan poros yang tetap berada di sentral. Satu jam kemudian, hanya terdengar dengkuran halus dari kedua pemuda itu, saling bersandar dan terlelap.

Bukankah itu sangat manis!

00000000)(0000000000

Langit mulai berganti layar, kepekatan malam digantikan goresan abstrak warna jingga. Sang surya dengan sombong dan penuh keangkuhan melengserkan tahta sang bulan, semilir bayu membuka mata cahaya untuk merengkuh dan mengepakkan sinarnya. Tiada yang memungkiri keindahan seni lukisan Sang Maha Kuasa, dengan kuas kehidupan dan kertas bentangan alam.

Layar memang berganti, kepekatan termakan cahaya, hawa dingin hilang terserap panas kekuasaan Sang Surya dan keangkuhan Sang dewi malam harus tunduk dengan karisma penguasa siang.

Semuanya berganti, namun ada satu hal yang tidak berganti. Perasaan seseorang yang kini telah terikat dan terjerembab jatuh ke lubang berwarna merah jambu. Hanya satu malam memang, namun malam itu bukanlah fatamorgana yang menipu, malam itu nyata penuh dengan estetika seni dan penuh dengan rajutan benang cinta. Malam itu, dikala hujan menetes meleburkan suasana yang tidak lagi abstrak. Menuntun setiap hati yang tidak lagi terkungkung dalam terali ketakutan, lepas membiarkan dirinya terbuai dengan cumbuan dan sentuhan.

Semuanya nyata, dan seorang Lee Hongki benar-benar dalam ketakutan kedua sekarang.

Ketakutan pertama yang sudah tegores hingga menembus hatinya benar-benar telah terjadi, ketakutan yang melibatkan hati, nalar tanpa logika. Semuanya berbaur membentuk untaian kata yang membuat darah seorang Lee Hongki tersendat, tidak mampu lagi mengedarkan ion-ion dan oksigen ke otaknya. Perasaan yang sudah di tekannya, kini meraung-raung meminta kebebasan untuk mengeksploitasi apa yang disebut cinta. Ya…dia memang sudah merasakannya, merasakan ketakutan pertama "Seorang Lee Hongki benar-benar jatuh cinta dengan seorang Choi Jonghun"

Lantas apa yang menjadi ketakutan keduanya? Bukankah mereka sama-sama membawa hati masing-masing?

Tidak semudah itu, karena kenyataan yang sebenarnya akan menampar telak sang master Pheromone. Pedih atau harus membohongi dirinya sendiri, jika ketakutan yang dia rasakan berasal dari kekuatannya sendiri, pheromone. Hongki sadar, setiap detik yang dilalui seorang Choi Jonghun akan membuat pheromone-nya semakin melemah, terkikis oleh waktu yang memang sudah di atur untuk mengontaminasi Sang master api hanya 2 minggu.

Beberapa hari lagi, ketika semuanya telah hilang, apakah pemuda itu masih melihatnya, masih mengejar dan tersenyum untuknya?

Dia tidak bisa jika itu tidak terjadi, dia sudah terperangkap dan terjatuh begitu dalam. Tidak ada lagi tali yang sanggup menariknya dan mengangkatnya dari lubang ini. Dia telah basah, semuanya telah terkena efek radiasi cinta seorang Choi Jonghun

Hongki menghela nafasnya berkali-kali, dia pejamkan matanya membiarkan dirinya benar-benar tenggelam dalam imajinasi-nya. Aroma rumput yang menjadi sandarannya tercium hingga meresap bersama udara yang dia hirup.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Apa yang kau bingungkan Lee Hongki?"

Deg…suara itu, bukankah suara itu pernah singgah di hatinya. Perlahan kelopak mata Hongki membuka dan detik itu pula dia mendapati seorang Jong Yonghwa duduk di sebelahnya.

"Hyung…, sedang apa kau ada di sini?" Hongki bangkit dari tidurannya, dia duduk bersimpuh menghadap seorang Jong Yonghwa.

Tersenyum, Yonghwa mengacak-ngacak lembut rambut Hongki, "Bukankah kau ada masalah, seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau ada di sini Lee Hongki?"

Hongki tersenyum, memandang lurus ke arah hyung-nya. Ya, dia adalah hyung-nya, tidak lebih dan tatapan Hongki benar-benar berbeda dari pertama kali menatap Yonghwa. Tatapan seorang dongsaeng yang menatap hyung-nya.

"Tidak ada apa-apa, hanya merasa tidak enak hati. Ada sedikit masalah di otakku, hati dan kenyataan tidak sejalan." Hongki tersenyum, dia mencoba menghapus bayangan seorang Choi Jonghun yang menari-nari di otaknya.

"Kau bisa membagi cerita denganku, bukankah dulu kita sering bercerita."

"Hanya masalah kecil yang tidak penting hyung?" elaknya.

"Tidak penting hingga membuat seorang Lee Hongki nampak begitu frustasi, tidak mungkin!"

"Apa sangat kelihatan hyung, sebegitu parahkah pengaruh dia di otakku." Hongki memukul kepalanya pelan, Yonghwa terkekeh melihat pemuda yang sudah dianggap adiknya itu.

"Dia, dia siapa?" Mata pemuda yang sempat mengisi hati seorang Hongki memicingkan mata curiga, "Sudah ada yang menggantikan posisiku di hatimu Hongki, ternyata cepat sekali kau melupakanku ya, kau sudah menemukan seorang yang sanggup membuatmu berantakan seperti ini, aku tidak suka!"

"Hyung, apa maksudmu?" Hongki mengerjabkan matanya tidak percaya.

"Aku hanya bercanda Hongki, kau sangat polos." Yonghwa tertawa, menggoda adik kecilnya merupakan suatu keasikan sendiri bagi pemuda itu,"Siapa dia yang kau maksud?"

Hongki menerawang, membiarkan matanya bergerilya menyaksikan hamparan langit yang berwarna biru terang, lidahnya begitu kelu ketika harus membicarakan pemuda yang sejak tadi malam merusak kesadarannya secara total, "Entahlah hyung, ketika semuanya sudah terjadi aku tidak sanggup lagi menolaknya, bagaimanapun aku menahannya aku tidak akan pernah bisa,"

"Kau benar-benar menyukainya ya, aku pikir tidak ada yang sanggup menggantikanku di hatimu. Syukurlah!"

"Hyung tau kalau aku pernah menyukaimu?" mata Hongki melebar tidak percaya.

"Aku tidak bodoh Hongki, tatapanmu dulu dan sikapmu ketika bertemu denganku sudah menggambarkan semua. Aku takut jika kau terluka karenaku dan aku senang jika kau menemukan orang lain, semoga kau tidak terluka dengan siapapun itu?" Yonghwa merebahkan tubuhnya di hamparan rumput yang berwarna hijau.

"Justru itu yang aku khawatirkan."pelan, suara hongki hampir tidak keluar. Tangannya mencengkeram rerumputan yang ada di depannya hingga terlepas dari akarnya.

"Kenapa?"

"Aku pasti terluka, tidak mungkin tidak. Karena ini semua adalah hubungan palsu yang tidak nyata."suara Hongki tertahan, ada penekanan di setiap ucapannya, dia seperti sangat yakin jika dia akan terluka.

Dia sangat takut, jika pemuda itu akan pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah nya, meninggalkan dirinya dengan kesendirian yang nyata, meninggalkan dirinya dengan luka yang menganga. Ketakutan itu benar-benar menghantuinya sejak malam, tak sedikitpun pemuda itu terlelap hingga tercetak kantung mata yang sangat tebal.

"Jangan menyerah seperti itu, jika kau belum mencoba kau tidak akan tahu."suara hyung-nya menyadarkan Hongki dari banyangan jauh yang mungkin saja akan terjadi, ketakutan.

"Ini tidak seperti yang kau bayangkan hyung, semuanya tidak pernah terjadi. Inilah sesuatu yang pantas untukku, karma untukku dan semuanya adalah hukuman untukku."

"Lantas apa yang akan kau lakukan?"

"Entahlah, Aku sendiri tidak tahu. Yang jelas aku harus mengambil keputusan meski keputusan yang aku ambil akan membuat-ku terluka."

Hongki menunduk, dia letakkan tangannya di dadanya. Perasaan takut ini semakin besar, menyelimuti kesadaran dan mengoyak harmonisasi ketenangan. Pedih, tidak mampu berfikir jernih, karena semua adalah kesalahan yang mendominasi hubungan tidak jelas ini. Bukan sebuah kebahagiaan yang dia janjikan, hanya harapan kosong yang membutakan panca indera pemuda itu.

Lantas apa yang engkau lakukan Lee Hongki?

00000)(00000

Sangat keras dan memekkan telinga, suara Guntur itu seperti nyanyian iblis yang meneror dunia. Tidak ada yang sanggup berdiri angkuh menantang sang kilat yang mengeluarkan cahaya bercabang yang siap meluluh lantahkan. gelap, cahaya yang tadi pagi berhasil menggulingkan kekuasaan raja kegelapan kembali menelan pil pahit ketika sang bulan kembali mengukuhkan dominasi-nya pada malam hari.

Malam itu, gelap dan hanya suara petir yang menyambar. Ruang rapat FnC, agak terang karena cahaya yang berasal dari obor yang menyala di pojokan. Ruang rahasia FnC, hanya beberapa yang tahu mengenai tempat ini, mereka berkumpul membentuk lingkaran dengan lilin-lilin kecil yang menambah sedikit penerangan.

Tuan Choi membua-buka dokumen yang ada di hadapannya sementara Tuan Jong menulis beberapa arsip rahasia. Kini semuanya terfokus pada pemuda yang dari tadi pagi mengumpulkan para petinggi FnC untuk mengadakan rapat, Choi Jonghun.

"Laporkanlah apa yang telah terjadi Jonghun!" Tuan Choi menatap Jonghun.

"Lihatlah apa yang aku dapatkan." Pemuda itu mengeluarkan kertas ancaman yang dia dapat, Tuan Choi, Tuan Jong dan beberapa dewan direksi mengambil kertas itu, membacanya dengan teliti hingga dahi mereka berkedut menahan kekhawatiran yang sangat, Yonghwa menyenggol lengan pemuda itu meminta penjelasan,"Tadi malam, seseorang menyerangku dan meninggalkan surat ini, aku mengira bahwa di dalam academy ini terdapat penyusup atau malah penghianat. Mana mungkin seseorang mampu menerobos masuk FnC Academy yang jelas-jelas dilindungi kekai yang sangat kuat. Atau mungkin saja, seseorang yang menyelusup masuk benar-benar mempunyai kekuatan yang sangat besar."

"Penyusup dan penghianat."Tuan Lee menyeringai.

"Tunggu, kertas ini berasal dari daerah utara. Kayu yang dipakai untuk membuat kertas ini hanya ada di pegunungan daerah utara. Dan satu-satunya academy yang ada di sana adalah Iimuse Academy."Yonghwa angkat bicara.

"Belum tentu, mungkin ini hanya jebakan untuk mengadu domba FnC dan Iimuse,"sergah Jonghun.

"Benar juga, kita tidak tahu siapa musuh FnC sebenarnya, aku sempat berfikir jika yang akan menyerang FnC adalah Dornes Academy atau SSC Academy, tetapi semua kemungkinan ada."Tuan Jong angkat bicara.

"Baiklah, salah satu untuk mengetahui ini semua adalah dengan mengundang mereka ke FnC." Tuan Choi berbicara.

"Mengundang mereka, apakah tidak terlalu beresiko. Itu sama saja memasukan musuh ke dalam rumah?" tanya Jonghun.

"Kita juga membutuhkan kolegasi dengan mereka, kita bisa mengetahui gerak-gerik mereka jika mereka berada di sini." Tuan Choi menjawab.

"Apa semuanya tidak bisa diatasi dengan perdamaian?" pertanyaan retoris muncul dari mulut Jonghun, tidak perlu dicawab karena mata petinggi FnC langsung menatapnya tajam ketika dia mengutarakan pendapatnya.

"Perdamaian, tidak segampang itu Choi Jonghun?" Tuan Lee bersuara.

"Ada sesuatu yang terkadang tidak bisa segampang itu dilakukan." Tuan Jong tersenyum ke arah Jonghun.

Pemuda itu hanya terdiam menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa dominasi dan arogansi sangat berpengaruh di atas hamparan kenyataan.

"Baiklah, bersiaplah untuk penyambutan Dornes Academy, SSC Academy dan Iimuse Academy. Pesta dan peperangan akan dimulai dan kita sebarkan mata-mata ke masing-masing Academy." Dan suara itu seakan menjadi mimpi buruk bagi seorang Choi Jonghun.

000)(000

"Tenangkan dirimu, sekarang kau harus berani mendekati Jonghun-hyung. Bukankah kau sekamar dengannya? Tidak usah ragu, kau harus berani Minan." Seunghyun menempelkan kedua tangannya pada pundak Minan, dia sama sekali tidak tahu jika pemuda di depannya sudah panas dingin akibat kelakuannya,"Dan ingat ucapanku, kau adalah adik seorang Choi Jonghun jadi bersikaplah layaknya seorang adik bagi Jonghun."

"Aku harus bagaimana, kami memang biasa mengobrol tapi hanya obrolan biasa." Minan menatap pemuda di depannya, ada sedikit raut kebingungan yang muncul di wajahnya.

"Kau harus memulai obrolan dengan sesuatu yang disukai Jonghun-hyung." saran Seunghyun.

"Seperti apa, bahkan hobi kami saja berbeda. Mana mungkin aku memulai obrolan mengenai ayam goreng."

Seunghyun menghembuskan nafas, lelah. Belum pernah dia menghadapi makhluk polos macam Choi Minhwan. Dan yang Seunghyun herankan apakah volume otak seorang manusia seperti Minan tidak ada kata lain selain ayam goreng.

"Itu sangat tidak mungkin Minan, pikirkan hal apa yang disukai Jonghun-hyung?"

"Aku tidak tahu apa yang disukainya."Minan menggeleng pelan kepalanya.

Mereka mendesah mengedarkan pandangan ke ruangan cukup besar tempat sementara Minan tinggal. Ruangan itu rapi, ruangan bernuansa merah dengan gaya klasik memberi kesan romantis bagi penggunanya, berbagai lukisan alat musik menggantung bebas sebagai cermin pribadi seorang Choi Jonghun. Klasik dan romantis.

"Bagaiman kalau musik,"

"….."

"Dan Hongki-hyung."

Ucapan Seunghyun sukses membuat bibir Minan tertarik, dia menutup mulutnya tersenyum atau lebih tepatnya terkikik.

"Kau benar-benar hebat Song Seunghyun?" Minan menatap Seunghyun lembut.

"Song Seunghyun memang selalu bisa diandalkan." Seunghyun menepuk bahu Minan. Ada sedikit perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hati Seunghyun, rangsangan berupa sentuhan kulit Minan memberikan Stimulus yang diterima reseptor. kemudian secara cepat, tidak bisa dihitung dengan detikan waktu reseptor menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskan oleh saraf eferen ke pusat pengintegrasi refleks dasar,sedangkan otak lebih tinggi memproses semua informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor yang melaksanakan respon yang diinginkan. Respon yang diinginkan Seunghyun berupa menarik tubuh Minan ke pelukannya, lama dan hanya keinginan yang tidak dia fikirkan sebelumnya. Sementara Minan hanya mematung, kaku terhadap apa yang dialaminya. Mungkin jika bukan Seunghyun yang melakukannya, refleks Minan akan menolaknya dengan mendorong bahkan memukul pemuda kurang ajar itu.

"Minan, bukankah semua yang ada di dunia ini tidak geratis. Aku juga membutuhkan sedikit bayaran atas jerih pikiranku. Jadi diamlah, pelukanmu adalah bayaran yang pantas untukku." otak yadong Seunghyun mulai jalan, Minan hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya.

"Sudah ya, aku sesak!" Minan mulai merasa panas.

"Sebentar lagi Minan."

Dan beberapa menit kemudian wajah Minan sudah merah padam akibat kelakuan Seunghyun. Dan Jika saja suara decitan pintu terbuka pelan, Mungkin seorang Choi Minhwan akan benar-benar tidak sadarkan diri.

"Apa yang kalian lakukan?"

Mematung…., dan hanya kerutan di dahi pemuda bermarga Choi itu. Menyaksikan dengan kepala matanya sendiri dua orang pemuda yang melakukan hal-hal aneh di kamarnya.

Refleks pemuda bernama Choi Minhwan mendorong tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Mereka bertiga hanya saling pandang, ada sedikit kecanggungan yang menyelimuti ruangan.

"Jonghun-hyung, kau sudah kembali." Minhwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku permisi dulu ya!"Seunghyun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar, ekor mata Jonghun tidak pernah lepas dari seorang Song Seunghyun meski pemuda itu telah menghilang dari kamarnya. Pemuda itu seperti memergoki anak perempuannya bersama seorang lelaki.

Jonghun menyeka keringat yang meleleh dari pelipisnya, dia cukup lelah mengitari seisi FnC mencari sosok pemuda berpheromone itu. namun nihil, dia tidak bisa menemukan pemuda yang telah berhasil merenggut setengah dari hatinya itu. Dia menghempaskan tubuhnya pelan ke sofa merah yang terletak di pojok ruangan, sejenak dia menatap Minan yang nampak tidak nyaman dengan keadaan tadi.

"Minan, kau bersama pemuda itu?"Jonghun mencoba memecah keheningan di antara mereka.

"Tidak hyung, kami hanya berteman."Jawabnya.

"Jika memang iya tidak apa-apa, kau tidak usah sungkan seperti itu. Dan jika Seunghyun membuatmu menangis bilang saja padaku." Jonghun bersuara.

"Terimakasih hyung."

Minan melangkah duduk di samping hyung-nya itu, dia tatap pemuda yang lebih tua darinya itu.

"Bagaiman hubunganmu dengan Hongki-hyung, apakah hubungan kalian sudah ada kemajuan?" Pertanyaan itu membuat goresan senyuman terukir di wajah Jonghun, samar namun dapat di tangkap oleh mata. Tidak tahukah engkau Minan, bahwa pemuda itu telah melewatkan hal yang sangat tabu untuk dikatakan, dalam dentuman musik yang menjadi pengiringnya dan dalam sebuah catatan gerimis yang menenggelamkan kesadaran mereka.

Jonghun menggeser posisi tubuhnya lebih dekat dengan Minan, "Hubungan kami lumayan, bahkan berjalan lebih dari yang aku harapkan. Bukankah kau dekat dengan Hongki, apa yang dia sukai dan apa yang dia benci?"

"Dia suka buah pisang, menyukai hal-hal yang berhubungan dengan tengkorak dan dia suka menyanyi."

"Pisang, kenapa dia seperti monyet."Jonghun terkikik geli, membicarakan seseorang yang disukai merupakan hal yang paling menyenangkan bagi seorang yang sedang jatuh cinta, "Bunga apa yang dia sukai?"

"Dia menyukai sesuatu yang cerah, namun dia juga tidak suka sesuatu yang terlalu berlebihan. Mungkin mawar putih saja hyung."

"Baiklah, jika aku bertemu dengannya aku akan memberikan bunga itu untuknya, gomawo Minan." Jonghun mengacak-ngacak rambut Minan.

"Serahkan semua pada Minhwan,"

Candaan dan senyuman kemudian menghiasi percakapan kedua pemuda itu, tidak ada lagi kecanggungan dan rasa tidak nyaman. Berbicara tidak lepas tanpa memikirkan diksi yang tidak tepat, struktur tanpa aturan dan interaksi yang kelewat batas. Hanya ada rasa yang terikat erat karena darah, gen bahkan beberapa sifat resesif dari satu pariental yang sama.

000)(000

Kisah ini bermula karena sebuah takdir yang mengikat mereka, meski karena sebuah kesalahan yang telah menarik ujung simpul tali untuk dirajut. Kisah ini dimulai kembali ketika kedua pemuda itu terjatuh hanya karena mata mereka, mata hitam dengan binaran yang mengalahkan kesempurnaan batu sapphire.

Ketika sorot mata bertemu, tidak ada hiperpolarisasi yang membuat mereka tidak mampu bergerak, diteruskan dengan tatapan tajam sang pemuda yang membuat kekuatan mata indah itu terpaku, tidak bisa lepas dari jerat tatapannya.

Kisah ini kembali dibuka dengan sesuatu yang lebih indah dibandingkan pancaran cahaya keemasan dari Sang surya, meski dengan nyanyian hujan, meski dengan kepekatan sang malam dan meski dengan buaian angin malam yang menari menusuk tulang belulang. Semuanya terjadi, tanpa ada batas nyata dari keduanya, mereka berbagi dan melepaskan diri mereka dari ragu yang membelenggu jiwa-jiwa mereka.

Dan saat semuanya terjadi, tersusun dengan susunan sistematis. Kesalahan yang telah menarik ujung simpul rajutan harus goyah akibat hati nurani sang perajut. Kesalahan itu bagaikan tamparan telak yang menyuruhnya untuk bangun dari mimpi-nya, mimpi yang sama sekali tidak dia inginkan namun berubah menjadi sesuatu yang ingin dia dapatkan.

Kesalahan itu telah mengalirkan bulir-bulir air mata sang perajut, tidak peduli jarum akan semakin membuatnya terluka, membuatnya harus menahan kesakitan yang nyata dan harus merasakan kekecewaan yang besar. Dia harus meluruskan kembali rajutan yang salah meski rajutan itu telah terbentuk sesuatu yang indah.

Itulah yang dirasakan Lee Hongki, sang perajut cinta.

Meski kaki tak sanggup lagi untuk melangkah, meski suara tidak mampu lagi dia keluarkan, meski butiran air mata sudah tidak mampu lagi untuk dibendung, seorang Lee Hongki harus melakukan itu semua.

Dia langkahkan kakinya menuju taman belakang FnC, taman dimana tempat pemuda itu meminta bertemu. Dan ketika itu pula Lee Hongki berdiri mematung ketika melihat pemuda berpakaian putih tersenyum ke arahnya, pemuda yang muncul diiringi Sinar matahari yang melukiskan gradasi warna yang terpantul memberi efek pada sosok rupawan yang membawa satu tangkai bunga mawar putih itu.

"Lee Hongki, aku sudah menunggumu."

Suara itu membuatnya tidak mampu lagi untuk sekedar bernafas.

"Choi Jonghun, aku ingin bicara."

Nafas pemuda itu tercekat tidak mampu lagi meneruskan sesuatu yang memang sudah ia pikirkan.

Apakah pemuda itu sanggup untuk mengatakannya? Dan apakah keputusan Lee Hongki itu?

***tbc***

Akhirnya dapat menyelesaikan chapter gaje dan abal ini

Otak author masih dipenuhi dengan materi-materi jadilah fic ini makin gaje

jika para reader merasa chapter kali ini aneh, bilang terus terang pada author.

Tinggalkan jejak anda dengan review, review pembaca sangat berarti bagi author untuk meneruskan fic ini.

gomawo