haloooo...
berjumpa lagi dalam chapter kali ini.
sebelumnya mohon maaf kalau ceritanya garing kaya rengginang yang gak diangkat 3 hari 3 malam :(
tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin.
oh ya, saya akan sangat menghargai setiap review. karena itu adalah penyemangatku. tolong kasih masukan juga yaa :)
yosh, tanpa banyak omong lagi, silakan dinikmati chapter 6 ini ...
8 jam telah berlalu sejak kepulangan empat shinobi yang gagal dalam misi mereka ke Konoha…
Sinar matahari pagi membelai kulit mulus Hinata. Pagi yang indah dan sangat cerah untuk memulai hari. Namun, apa daya, kegagalan dalam misi kali ini sangat berdampak buruk bagi keempat shinobi Konoha yang sekarang sudah berkumpul di persimpangan jalan. Mereka secara tak sengaja bertemu dan berjalan bersama dalam atmosfer yang canggung menuju kantor Hokage untuk melaporkan misi mereka. Hinata memperhatikan ketiga temannya dengan seksama, wajah ketiganya sangat tak bersemangat. Ada lingkaran hitam di bawah mata mereka. Sama persis seperti yang Hinata miliki saat itu. Mana mungkin mereka bisa tertidur dengan nyenyak setelah semua yang mereka lewati beberapa hari yang lalu, membayangkan tubuh gosong yang dibakar hidup-hidup oleh Sasuke saja cukup membuat perutmu bergejolak. Selain itu, mereka juga tak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Rokudaime Hokage. Misi yang gagal kali ini benar-benar suatu aib bagi Shikamaru, sang kapten team. Masalahnya, ini menyangkut dua Negara besar, Konoha dan Suna.
Mereka berempat menyeret kakinya dengan sangat pelan. Semuanya bungkam, larut dalam pikiran masing-masing. Hinata menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan. Shikamaru menenggelamkan kedua tangannya di dalam kantung celananya sambil mengamati awan di atas kepalanya, sesekali dia menarik nafas dan menghembuskannya dengan suara yang cukup menyebalkan, terasa menambah beban bagi orang yang mendengarnya. Sai mulai iritasi mendengar hembusan nafas Shikamaru entah sudah yang keberapa ratus kali.
"hentikan itu, bodoh. Kau membuatku muak." Sai mendengus dengan wajah datarnya. Shikamaru pura-pura tak mendengar dan tetap memperhatikan awan di atas kepalanya.
Sasuke, seperti biasa hanya diam. Dia berjalan tepat disebelah Hinata. Sesekali dia mencuri pandang pada Hairees Hyuuga itu. Tubuhnya sangat mungil jika dibandingkan dengan tubuhnya sendiri. Dia bisa melihat bahwa tinggi kunoichi itu hanya sebatas pundaknya. Tidak, lebih tinggi sedikit, mungkin sekitar perpotongan lehernya. Gadis itu terlihat semakin kecil karena dia selalu menundukkan kepalanya. Padahal, jika dia memiliki sedikit rasa percaya diri, Hinata benar-benar akan menjadi gadis yang sangat menarik dan popular di kalangan pria.
Dari kejauhan sasuke melihat dua orang bodoh sedang berargumen. Sepertinya mereka sedang melakukan suit 'batu gunting kertas'. Rombongan Shikamaru pun semakin mendekati keduanya.
"bajingan kau Kiba! Kau curang! Tadi tanganmu membentuk batu, kenapa mendadak berubah jadi kertas ?!" si pirang blonde itu berteriak sambil memegang kerah baju si gigi taring, Kiba.
"kau saja yang buta! Jelas jelas daritadi tanganku membentuk kertas!"
"tidak, tidak! Aku ingin ulang lagi!"
"kau benar-benar cari mati ya! Akamaru, gigit bokongnya!"
"HUWAAAAAA!" si blonde bermata biru itu sudah berlarian mengelilingi alun-alun desa dengan ketakutan, Akamaru mengunci target pada bokongnya dan siap menggigitnya kapan saja.
Akamaru malah menubruk Shikamaru yang tak siap menghindar, dia terlalu focus melihat awan dan melamun sampai tak menyadari suara berisik dari dua teman bodohnya itu.
"itu sakk-kit…" shikamaru meringis memegangi kepalanya yang terbentur jalanan. Posisinya tiduran, tapi dia malah menjadi semakin malas mengangkat tubuhnya, karena dalam posisi itu dia lebih leluasa melihat awan.
Hinata membantu Shikamaru berdiri dan sekarang giliran dia yang menjadi sasaran empuk Akamaru. Anjing besar itu menubruk tubuhnya dan menjilati pipinya. Akamaru memang sangat dekat dengan Hinata. Dia merasa senang bertemu dengan seorang dewi setelah selama ini hanya berurusan dengan pria pria bodoh yang payah.
"hihihi itu geli akamaru." Hinata cekikikan.
"hey! Apa yang kalian lakukan disini ? misi kalian sudah selesai yaa ?" kiba menghampiri mereka.
"begitulah." Hinata menunduk lemas, kembali teringat dengan misinya.
"ano sa ano sa, kudengar misi kalian gagal ya ?" entah kapan mendekati mereka , Naruto sekarang sudah ada disamping Kiba dan bicara di lehernya. Hal itu memebuat Kiba terperanjat dan menonjoknya. Si gigi taring itu begidik geli.
"rupanya kabar itu sudah tersebar yaa" Sai tak peduli.
"hahhh! Jelas saja misi kalian akan gagal, karena ada si Sasuke bodoh ini dalam tim kalian. Kepalanya yang keras bagai batu ini, pasti akan menyusahkan. Karena dia hanya berbuat semaunya sendiri. HAHAHA" Naruto mengetuk-ngetuk kepala sasuke dengan jari telunjuknya. Sasuke tak terima dan menarik kerah baju Naruto "diam kau dobe" dan melemparkan death glare andalannya.
Entah kenapa Shikamaru dan Sai menjadi tertawa lepas mendengar ucapan Naruto. Selama ini tak ada yang berani berkata seperti itu kepada Sasuke. Namun dalam lubuk hati Shikamaru, Sai dan Hinata, kalimat itu adalah seratus persen tepat mengenai sasaran. Dan itu membuat mereka senang karena ada yang menyuarakkan isi hati mereka. Hinata pun dibuat cekikikan menahan tawa.
Cih. Sadar telah diintimidasi teman-temannya, dia melenggang pergi seorang diri.
"nah, Hinata, apa kau baik-baik saja ?" Naruto mengalihkan perhatiannya pada Hinata.
"ha-haii, Naruto-kun, aku baik-baik saja." Seketika itu juga pipi Hinata terasa panas. Perasaan ini masih setia menghampirinya setiap kali Naruto mengajaknya bicara.
Sasuke reflex menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang.
Kurang ajar.
Gadis itu masih saja merona saat Naruto menyapanya.
Tiba-tiba hatinya menjadi kesal sendiri.
"yokatta… kudengar misimu kali ini cukup berat yaa… baguslah kalau kau baik-baik saja. Baiklah Hinata, aku harus pergi, sakura menungguku untuk ini, jaa nee!" Naruto menunjuk kantong plastic di tangannya, ada buah-buahan segar disana. Dan dia sudah pergi meninggalkan rombongan itu. Kiba dan Akamaru juga berpamitan. Shikamaru dan sai melangkah maju menghampiri Sasuke di depan. Hinata masih diam mematung ditempatnya dan memandangi punggung Naruto yang semakin lama semakin menjauh. Dadanya terasa dihimpit oleh dua buah tembok raksasa tak kasat mata. Irisnya mulai berkaca-kaca. Buru-buru dia mengelap matanya dengan punggung tangannya secara kasar, dia tak ingin siapapun melihatnya menangisi suami orang.
Akhirnya, mereka tiba di depan pintu Hokage, Shikamaru masuk duluan diikuti oleh Sai, Hinata dan Sasuke. Dan disinilah mereka, berdiri dihadapan Kakashi Hatake, sang Hokage keenam. Iris mereka berempat tertuju pada satu titik, titik itu adalah sepasang mata obsidian milik Kakashi yang terlihat lelah dengan tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya. Matanya menyipit pertanda dia sedang tersenyum dibalik maskernya menyambut kedatangan empat sehinobi dihadapannya.
Hinata menunduk. Tak sanggup melihat wajah Hokage yang super baik itu. Dia merasa sebagai penyebab kegagalan misi kali ini.
"selamat datang, kalian berempat. Nah, jadi, bagaimana ?" kakashi bingung harus memulai dari mana, dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"lapor, Hokage-Sama" kakashi menarik nafas pertanda protes dengan embel embel 'sama' dibelakang kata Hokage. Dia-tak-pernah-menyukai-hal-itu. "saya Shikamaru Nara, sebagai kapten team, bertanggung jawab penuh atas kegagalan misi ini. Saya akan menanggung hukuman untuk anggota team ini." Shikamaru membungkukkan tubuhnya.
Sasuke, Sai dan Hinata menatap Shikamaru kompak. Tak ada pembicaraan mengenai 'hukuman' atas kegagalan misi ini sebelumnya ?
Kakashi menarik nafas. "whoaaa tenangkan dirimu pria sejati…" terdengar Kakashi menahan tawa dalam kalimatnya. "tidak ada yang akan mendapatkan hukuman disini. Aku sudah membaca hasil laporan atas misimu semalam, Shikamaru. Yah, mau bagaimana lagi sih kalau kejadiannya seperti itu…" ada jeda. Dia berdeham dan melanjutkan kalimatnya. "shinobi yang melanggar peraturan adalah sampah, namun, shinobi yang meninggalkan temannya, lebih buruk dari sampah."
Sasuke tersenyum tipis, dia mengingat kalimat gurunya itu saat ujian Gennin dulu bersama Naruto dan Sakura. Sebenarnya, dia sudah tahu bahwa mantan gurunya itu pasti akan mengatakan hal itu.
Sai melongo.
Shikamaru cengengesan dan menggaruk kepalanya.
Hinata terpana melihat sosok pria dewasa dihadapannya itu. Dia sangatlah … keren …
Pria berambut perak itu sangat pantas duduk di kursi Hokage.
"jadi, tak ada hukuman ?" sai mengulang perkataan Kakashi
"tidak ada." Kakashi tersenyum.
"ano... kakashi sensei, apa aku boleh bertanya sesuatu ?" hinata membuka mulutnya sejak daritadi hanya terpana dengan pernyataan Kakashi.
"silakan Hinata.."
"apakah dengan kegagalan misi kali ini mempengaruhi hubungan konoha dan suna ?" shikamaru, Sai dan Sasuke kembali menatap Kakashi. Secara tak langung mereka setuju dengan pertanyaan Hinata, dan mereka menuntut jawaban dari pria itu.
"aahh… aku sudah bicara dengan Kazekage dan menjelaskan situasinya, dengan sangat rendah hati, Gaara-sama menerima semua kerugian akibat kegagalan misi ini, dia juga bilang akan memberi pengertian kepada para tetua disana perihal gulungan jutsu yang ikut terbakar tanpa sisa."
"apa isi dari gulungan itu ?" Sasuke mulai pegal setelah daritadi hanya diam mendengarkan.
"itu adalah jutsu terlarang milik desa Suna. Jutsu itu adalah jutsu yang dapat membuat penggunanya menguasai tekhnik telekinesis seperti yang dimiliki oleh Pain…"
"sepertinya orang itu sudah memiliki jutsu itu…" Sai memotong ucapan Kakashi.
"itu benar Sensei, saat kami bertarung dengannya, dia melempari kami dengan semua bebetuan dan batang pohon hanya dengan menggerakkan tangannya kepada benda yang ingin dia lemparkan" Shikamaru mengamini ucapan Sai.
"hmmm… dari informasi yang aku terima, pria itu memiliki seorang anak yang masih berumur 11 bulan." Kakashi menunjukkan sebuah foto. Di foto berukuran 5x5 cm itu terdapat potret seorang pria yang wajahnya cukup tampan berambut raven seperti milik Sasuke dan disebelahnya berdiri seorang gadis berambut panjang persis seperti rambut milik Hinata. Wanita itu sedang menggendong seorang bayi yang sangat manis dan menggemaskan.
Mereka berempat bergantian melihat foto itu. Hinata membekap mulutnya dengan tangannya. "anak itu membutuhkan pertolongan…" kakashi belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Hinata dengan suara bergetar memotongnya.
"a-apakah… pria ini adalah missing-nin Sunagakure itu sensei ?" hinata sekarang menatap Kakashi dengan pandangan horror yang mencekam.
Kakashi menarik nafas dalam sebelum berkata "iya, dia adalah orang itu."
Hinata kehilangan keseimbangan dan hampir menjatuhkan dirinya ke lantai. Kedua kakinya seakan dipukuli oleh beribu kayu tak kasat mata. Dengan sigap Sasuke yang berdiri tepat disebelahnya memegangi pundaknya. Dia menahan gadis itu agar tak jatuh pingsan.
"lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku, sialan." Ruangan itu dipenuhi udara mencekam saat itu juga. Kakashi membelalakkan matanya tak percaya mendengar Hinata berkata kotor seperti itu., dia berdiri dari duduknya secara reflex. Shikamaru dan Sai tak kalah shock mendengarnya. Hinata menundukkan kepalanya lemas, dan sudah menyingkirkan tangan Sasuke dengan kasar dari pundaknya. Sasuke diam mematung, dia mulai paham situasinya. Wajah stoicnya tak bergeming.
"Hinata…" Sai memanggilnya pelan, berusaha menyadarkan gadis itu.
"kedua tanganmu itu yang telah membunuh orang itu. Dan sekarang, kau lihat, dia memiliki seorang anak kecil yang tak akan pernah mengenali siapa ayahnya!" hinata mulai lepas kendali, dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan balonnya. Shikamaru dan Sai menunduk.
"Hinata, sasuke tak bermaksud seperti itu, dia hanya ingin melindungimu." Shikamaru berusaha menenangkan Hinata.
"aku tak pernah minta untuk ikut dalam misi ini, tapi tiba-tiba kau memintaku untuk ikut bersama kalian. Sejak awal aku tahu bahwa aku hanya akan menjadi beban untuk kalian. Dan sekarang, semuanya bertambah parah dengan kejadian ini. Seandainya aku tak pernah terlibat dalam misi ini…" Air mata gadis itu meleleh dihadapan keempat pria yang menatapnya dengan sedih.
"ya, itu memang salahku." Sasuke berkata lirih.
"oh, sekarang kau mengakuinya ?" Hinata bertanya ketus.
"kalau saat itu, kau langsung menghentikan amaterasu milikmu itu, kau tak akan membunuhnya! Kau hanya akan melukainya. Kenapa kau begitu keras kepala Sasuke-kun ?" gadis salju itu mulai berteriak.
"dan membiarkanmu mati konyol di tangan bajingan sepertinya ?"
PLAK!
Tangan Hinata mendarat di pipi Sasuke. Pipinya yang putih berubah merah dengan cap tangan milik Hinata.
Semua yang ada di ruangan itu melongo. Kakashi berjalan menghampiri Hinata untuk meredam emosinya.
"kau benar-benar iblis yang menjelma menjadi manusia sasuke –kun! Tidakkah kau lihat wajah anak dalam foto ini sangat tak berdosa ? dia mengharapkan kepulangan ayahnya yang sekarang tak akan pernah dia temui lagi." Hinata berhenti sejenak untuk menarik nafas. "aku pikir kau lah yang paling mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kau sayangi, sasuke-kun." Hinata memajukkan sedikit badannya ke arah Sasuke. Dia ingin memastikan bahwa sasuke mendengarkan setiap kata-katanya barusan.
Sasuke diam mematung. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Dia sampai lupa bernafas karena kata-kata Hinata barusan. Rasanya sangat sesak.
Hinata berlari menghambur keluar ruangan dengan mata yang masih menangis, Kakashi dan Sai mengejarnya. Shikamaru masih berdiri disamping Sasuke yang sekarang tampak seperti kehilangan kesadarannya. Pria berambut nanas itu memungut foto yang tadi dilemparkan Hinata ke tubuh Sasuke. Irisnya meneliti foto itu. Setelah dilihat lebih lama, pria dalam foto itu –pria yang dibunuh Sasuke- memiliki wajah yang mirip dengan Sasuke, rambut ravennya pun sama persis seperti milik bontot Uchiha disebelahnya.
"pasti ada penjelasan untuk semua ini." Shikamaru bicara pada dirinya sendiri , lalu dia keluar dari ruangan Hokage itu. Sampai di ambang pintu, dia menengok ke bebelakang dan melihat Sasuke masih berdiri mematung.
"hey, sampai kapan kau ingin berdiri disana ? ayo, kita harus menyusul mereka dan meminta penjelasan dari Kakashi." Suara Shikamaru menyeret alam sadar Sasuke kembali. Tanpa berkata apa-apa Sasuke mengikuti Shikamaru dan keluar dari ruangan Hokage.
~0o0~
Shikamaru dan Sasuke sampai di alun alun lagi. Hinata berlari sampai kesana. Kakinya sudah tak kuat berlari lagi dan nafasnya sudah tersengal. Dia duduk di sebuah bangku ditemani oleh Sai yang memberinya minum. Guru Kakashi berdiri di depan mereka sambil mencoba mengelus pundak Hinata untuk meredakan sesunggukan karena menangis terlalu lama.
Kedua pria berambut hitam itu semakin mendekati ketiganya. Sekarang Sasuke berada tepat disebelah Kakashi, dia dapat melihat jelas wajah Hinata basah kuyup terkena air matanya sendiri, sesekali terdengar suara seperti orang cegukan dari gadis itu. Hinata berusaha menghindari kontak mata dengan pria berambut raven itu.
"Kakashi sensei, pasti ada penjelasan dibalik semua ini kan ?" Shikamaru to the point.
"ya, kau benar Shikamaru." Kakashi mulai melipat tangannya di dada.
"pria itu – missing nin itu memiliki seorang anak bayi yang harus ditolong…" sekarang wajah keempat shinobi itu serius menatap Kakashi, tak ingin ketinggalan satu kata pun.
"entah kenapa, saat pria itu memiliki anak bersama istrinya, anak itu terlahir sebagai 'monster'. Ah, maksudku bukan jinchuurikii seperti Naruto, tapi anak itu sudah memiliki kekuatan telekinesis seperti yang dimiliki oleh ayahnya." Kakashi terdiam, berusaha mencari kalimat yang pas. "namun, pria itu mendapatkan kekuatannya dengan berlatih, dulu dia diajari tekhnik itu oleh gurunya. Dengan memfokuskan chakra kepada otak dan kedua tanganmu –dan tentu saja dengan segel tangan tertentu- maka kau akan mampu menerbangkan benda-benda disekitarmu dengan mudah sebagai senjata."
"lama kelamaan jutsu itu banyak disalahgunakan oleh beberapa orang. Sebagai alat untuk memeras seseorang, balas dendam dan hal negative lainnya. Akhirnya, kazekage terdahulu menjadikannya sebagai jutsu terlarang. Orang-orang yang menguasai jutsu itu dibantai habis oleh ANBU desa Suna, tentu saja atas kesepakatan para tetua disana…"
Guru Kakashi terdiam sejenak. Pikirannya langsung mengembara ke masa lalu, masa dimana Konoha juga pernah melakukan hal yang sama. Pembantaian besar-besaran pada klan Uchiha. Detik berikutnya dia melirik ke arah Sasuke. Kakashi bisa melihat air muka pria stoic itu berubah. dia pasti memikirkan hal yang sama dengan mantan gurunya itu.
"tapi, masih tersisa satu orang. Dan orang itu adalah nuke-nin yang kalian bunuh. Dia berhasil kabur dari pembantaian itu. Hidup terasing bersama istrinya. Sampai suatu ketika istrinya melahirkan seorang anak. Anak itu sudah dapat melakukan telekinesis tepat setelah dia membuka matanya. Anak itu meledakkan lampu di atas atap langit rumahnya hanya dengan tangisannya."
Hinata menahan nafasnya. Dia membayangkan bagaimana seorang bayi baru lahir memiliki kekuatan sebesar itu.
"jadi, inti dari ceritamu adalah…" shikamaru berusaha menebaknya.
"kau benar Shikamaru, anak itu menjadi semakin tak terkendali dengan kekuatannya. Orangtuanya mulai kewalahan menghadapinya. Karena, dia tak dapat dibiarkan menangis terlalu lama. Saat tangisannya terlalu lama, dia bisa menghancurkan sesisi rumah."
"sampai akhirnya, sang ayah mengetahui bahwa di dalam gulungan rahasia itu ada beberapa tekhnik untuk menyegel kekuatan itu, -seperti yang dulu kulakukan pada Sasuke saat dia dibawah pengaruh Orochimaru-" kakashi membuka botol minum yang dari tadi dia pegang. Dia menjadi sangat haus karena banyak bicara.
Keempat shinobi itu menunggunya minum. Tatapan mata mereka masih dipenuhi beribu tanda Tanya. Mereka menuntun lebih dari Hokage di hadapan mereka.
"pria itu hanya ingin menyelamatkan anaknya yang telah membunuh istrinya." Kalimat Kakashi berhasil membuat Shikamaru, Sai, Sasuke dan Hinata melotot horror.
"a-apa m-maksudmu sensei ?" Sai ketakutan.
"anak itu, ah bukan. Kekuatan anak itu telah membunuh ibunya sendiri. Pada suatu malam, anak itu demam tinggi, ibunya sudah berusaha menenangkannya namun gagal. Anak itu terus menangis dan merintih. Sampai pada akhirnya, anak itu tak dapat mengendalikan tubuhnya dan mengangkat semua benda di rumahnya. –termasuk benda-benda tajam- saat pria itu pulang, dia mendapati tubuh istrinya sudah dipenuhi oleh puluhan kunai yang menghujam dengan sangat dalam."
Hinata menutup mulutnya tak percaya.
"yare yare… anak yang sangat merepotkan…" shikamaru membuka mulutnya asal.
"sensei, dimana anak itu sekarang ?" hinata berdiri dari duduknya.
"mengenai itu, aku mendapat informasi bahwa dia diasuh oleh pengasuh bayi yang disewa oleh pemerintah Suna. Dan dia sudah diberi segel. Jika dia mengamuk, maka pengasuh itu akan membuat segel sederhana dengan tangannya dan dapat membuatnya pingsan."
"aku ingin menemui anak itu…" Hinata menggigit bibir bawahnya.
"apa kau sudah gila Hinata ? kau tahu anak itu berbahaya." Sai menarik lengan Hinata.
Kakashi tau semuanya akan berakhir sesuai dengan prediksinya jika Hinata mendengar cerita ini. Kakashi menarik nafas dalam dalam.
"aku harus menolong anak itu, apapun caranya, aku harus menolongnya." Air matanya mulai meleleh lagi. Sai melepaskan tangannya dari lengan Hinata.
"baiklah, aku akan membantumu." Sai membuat keputusan sendiri. Sasuke melempar death glare miliknya kepada pria pucat itu.
"tidak Sai, aku harus menugaskan Sasuke dan Hinata dalam misi lanjutan ini." Kakashi terlihat serius lagi.
"kenapa sensei ? bukankah dia malah akan memperburuk keadaan, karena hal buruk ini terjadi juga karena kepalanya yang keras bagai batu itu, yang tak mau mendengar kata-kata teman satu teamnya." Sai sepertinya sengaja membangunkan macan tidur.
"jaga mulut sampah-mu itu anak baru brengsek!" sasuke sudah mencengkram kerah baju Sai. Sharingan aktif dengan sendirinya.
"HENTIKAN KALIAN BERDUA!" hinata berteriak. "aku sudah muak dengan segala perkelahian kalian sejak kemarin. Aku akan pergi tanpa bantuan dari kalian atau siapapun !" hinata berlari meninggalkan para lelaki itu. Entah kenapa dia hanya ingin sendirian sekarang. Pikirannya tak menentu, membayangkan tubuh hangus pria itu, lalu melihat senyumnya yang mengembang di dalam foto yang ditunjukkan oleh Kakashi, hal itu menyiksanya. Dia melihat sendiri bagaimana pria itu menggelepar kepanasan dalam ajalnya. Dan ternyata, di suatu tempat ada seorang anak tak berdosa yang menunggunya pulang. Apa yang akan dilakukan oleh anak itu saat mengetahui bahwa ayahnya tak akan pernah menemuinya lagi ?
Hinata hanya terus berlari dan berlari sampai airmatanya pun ikut terbang tersapu angin. Entah sudah berapa lama dia berlari, dadanya terasa sesak, nafasnya tersengal. Dan saat otaknya sadar, di sudah berada di depan pintu gerbang mansion Hyuuga. Tanpa berpikir lagi, gadis itu menghambur masuk ke dalam rumahnya, berlari di koridor, membiarkan para pelayannya mematung dan menatapnya penuh tanda Tanya. Gadis itu membuka pintu kamarnya dengan kasar, menutup dengan membantingnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berwarna ungu. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sejadinya, menangis memikirkan dosa yang telah dia perbuat sangatlah besar dan tak pantas diampuni.
"maafkan aku… maafkan aku…"
~0o0~
