© crownacre, 2016

HE CHANGED MY WORLD

Park Jimin dan Min Yoongi fanfiction

WARING! Chapter ini full M Rated dengan bahasa sedikit implisit.

everything in the story is mine except the cast
don't like one or all of the story? don't read.

Satu bulan hubungan Yoongi dan Jimin berjalan, melewati masa-masa bertengkar kecil karena rasa cemburu juga beberapa hal karena kesibukkan. Yoongi yang berperan paling banyak dalam mengalah, mengingat umut Jimin yang jelas masih lebih muda dua tahun dengan sifat anak itu yang memang kekanakan. Jimin sendiri sebagai laki-laki yang baik akan selalu menghampiri Yoongi dan meminta maaf setelah menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Semua baik-baik saja karena pertengkaran bukan sesuatu yang tidak benar dalam sebuah hubungan.

Hingga suatu hari seseorang menanyakan sesuatu, meminta pendapat Yoongi tentang top dan bottom yang membuatnya pusing setengah mati. Meski memiliki peranan bottom, ia sungguhan tidak mengerti apa yang orang itu tanyakan. Ia bercerita pada Jimin dan setelahnya otak Jimin yang dangkal tentang hal itu menanggapinya asal, mengatakan hal konyol dan membuat Yoongi kesal sekaligus tertawa geli. Tapi lalu iseng Yoongi bertanya, juga mengatakan betapa penasarannya dirinya tentang Jimin yang apa ia memang top atau bottom dengan kedok manly yang ternyata bohongan. Jimin tentu saja menolak mentah-mentah dianggap bottom, membela seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah ditambah harga diri yang ia miliki untuk disebut sabagai top ditambah dominan sejati.

"Dari mana aku harus percaya kau adalah top kalau kau tidak pernah punya mengalaman tentang itu?" Yoongi terkekeh, menatap Jimin dengan mata disipitkan; mengejek sekaligus menilai.

Jimin mendengus, ia menatap balik dengan kilatan menantang pada cara Yoongi melihatnya. "Tentu saja karena aku terlihat begitu dominan, tidak sepertimu. Lihat saja dirimu yang terlihat begitu mudah diserang."

"Aku ragu kau bisa menyerang, Jimin-ah."

"Oh, apa aku baru saja mendapat ajakan?"

Yoongi tertawa, nyaring namun begitu indah seperti air dari mata air yang begitu jernih. Jimin sampai terkesima untuk beberapa saat melihat hal itu. "Dengar, Park Jimin, aku tidak mungkin mengajakmu—a–akh!" Ia memekik, terkejut dengan gerakan tiba-tiba kekasihnya yang menariknya ke dalam pelukan lalu membuat diri mereka berdua jatuh berguling di kasur dan berakhir dengan posisi dirinya yang dikunci pergerakannya oleh tubuh kekar Jimin. Yoongi mendesis lirih mengagumi bagaimana tangan kekar kekasihnya dengan mata berkilat penuh emosi berbahaya kini mengunci seluruh pergerakan, membuatnya diam tak mampu bergerak bahkan berpikir untuk mengatakan sesuatu.

Jimin menyeringai, bibirnya ia dekatkan pada telinga Yoongi lalu menjilat cupingnya lembut dan memberi gigitan ringan di sana. "Kau ragu aku adalah dominan sejati?" Suaranya yang biasanya cukup tinggi kini terdengar rendah, dalam dan mengerikan hingga yang di bawahnya mengigil. Hembusan napasnya bermain nakal di sela rambut Yoongi dan juga di atas kulit putih itu, menimbulkan satu desahan lolos tanpa permisi dari bibir yang di bawah.

"H–hentikan itu brengsek," desisan tidak tahan dari Yoongi dengan dorongan lemah tak terlihat seperti dorongan dikerahkannya. Ia melakukan beberapa gerakan kecil mencoba meminta kebebasan namun justru membuat tubuh itu makin rendah dan jatuh menimpanya seperti menakan seluruh beban pada dirinya. Mau mencoba menyerah begitu saja, ia tahu harga dirinya tetap harus nomor satu di atas apapun; meski nyatanya ia tidak keberatan langsung ditelanjangi begitu saja.

"Ucapanmu kasar," Jimin tertawa kecil, lalu satu tangannya ia angkat untuk mengelus wajah putih Yoongi. Bibir yang awalnya memberi jilatan ringan pada daun telinga Yoongi kini berpindah ke wajah itu dengan hembusan napas yang makin panas menyapu kulit. Yoongi mendesah lirih sekali lagi karena panas yang membuat ubun-ubunnya serasa akan meledak. "Apa itu berarti kau suka melakukan rough sex?" Kali ini suaranya sungguhan menggoda dan mematikan hingga Yoongi hanya mampu mendesis kesakitan dengan godaan berbahaya yang membuat seluruh sistim syarafnya berhenti bekerja.

Yoongi tidak menjawab; tentu saja. Ia sibuk meremas tanpa usaha baju Jimin dan memberi beberapa desahan tipis karena perlakuan luar biasa lembut dan memabukkan menyiram tubuhnya hingga ke tulang. Bahkan saat bajunya di lepas dan digunakan untuk mengikat tangannya di atas kepala, ia hanya mampu mendesis. Cara Jimin mengencangkan ikatannya benar-benar sesuatu mengerikan yang bahkan tidak meningglakan sedikitpun rasa sakit; membangkitkan seluruh nafsu hingga ubun-ubunnya kini mendidih.

"Aku akan membuat sesuatu berkesan untuk seks pertamaku," senyuman lembut dengan mata melengkung manis membuat Yoongi makin tersihir, otaknya mendadak seperti kembali pada setting pabrik yang membuatnya tidak bisa bergerak banyak karena semuanya hilang begitu saja.

Dari senyuman itu Yoongi tahu, Jimin akan melakukan hal luar biasa kasar dan lembut dalam waktu bersamaan. Melakukan hal yang selalu hanya menjadi angannya setelah melihat film kotor atau mendengarkan lagu dengan lirik menjerumus. Ia percaya pernyataan bahwa sekarang akan menjadi seks pertama yang berkesan bukan hanya untuk Jimin, tapi juga untuk dirinya.

Jimin melakukannya, menggerakkan jarinya yang hangat untuk meulusuri kulit putih Yoongi dari dada hingga perut. Wajahnya menelusup pada leher Yoongi yang dijenjangkan memamerkan keindahan, juga membuat warna merah dari sesuatu menyenangkan di sisi lain tertutup bayangan leher yang dimiringkan. Tidak ada yang bisa Yoongi lakukan selain memekik dan mendesah seperti seseorang kehausan mencari kenikmatan lebih banyak lewat yang di atasnya; lewat gerakan mendominasi yang kuat hingga sisi submisifnya bangkit begitu saja.

Saat bibir Jimin makin turun ke dada dan tangannya tergelincir masuk tersesat ke dalam celana Yoongi, napas yang di bawah tercekat. Tertahan hingga ludahnya sulit sekali di telan. Tangan itu bergerak cerdas, melakukan gerakan seolah mencari titik terang—atau mungkin bukit tinggi untuk mengamankan diri—dengan banyak godaan; hanya saja Yoongi tahu, tidak ada yang butuh titik aman kecuali dirinya yang butuh selamat dari godaan mematikan Jimin.

"Leh–lepas—uhh," Yoongi mengerang tidak tahan, merasa celananya begitu sesak dengan tangan nakal Jimin di dalamnya juga miliknya yang berontak minta kebebasan. Hanya saja permintaannya seolah bukan apa-apa, tidak ada yang mengindahkan permintaannya bahkan tangan Jimin yang sialan.

Tawa kecil lolos dari Jimin, ia mengagumi bagaimana dirinya menghasilkan banyak noda merah di kulit putih itu. Noda dari mulut di atas kulit leher dan dada ataupun dari sentuhan yang menghasilkan rona manis di wajah Yoongi yang merah menyala penuh gairah. Indah, sangat indah hingga bagian bawah Jimin bergetar berteriak minta dibebaskan. Tapi ia menahan diri, ia ingin bermain dengan foreplay panjang hingga mereka berdua berkabut dan haus sampai tenggorokan sakit dan batuk darah karena terlalu mendamba tubuh masing-masing.

"Kau bedebah sialan—ugh," tidak ada yang bisa Yoongi lakukan selain memaki, tangannya diikat dan tubuhnya ditindih. Tubuh bagian bawahnya pun mendapat gelenyar berbahaya hingga semutan dan tak dapat bergerak karena tangan Jimin yang luar biasa cerdas di atas kulitnya. Bermain pintar dengan menyingkap turun celana dalam tanpa menurunkan celana bahan jins yang ia kenakan. Yoongi terkagum hingga suara desahannya bergetar penuh kenikmatan menyesakkan.

Jimin menggumam di atas kulit perut putih Yoongi, meracau tentang betapa indahnya Yoongi dan mendaratkan lidahnya tiap memberi satu pujian yang terus berputar antara cantik, manis, indah, dan memesona. Yoongi mati-matian menahan gejolak ingin meremas rambut itu; mencoba sesedikit mungkin membuang tenaga untuk hal sia-sia karena tangannya yang diikat kuat membuat sedikit perasaan sakit tiap bergerak terlalu ekstrim.

Saat jari Jimin akhirnya bergerak menarik lepas celana Yoongi, ia pun mendesah lega. Merasa terbebas dari ruangan sempit yang membuat miliknya terhimpit. Jimin bersiul lirih melihat bagaimana kaki putih mulus itu terlihat mengagumkan, menggoda bibirnya untuk bergerilya dan meninggalkan beberapa bekas seperti sebelumnya di atas kulit putih itu. Tanpa menunda, ia melakukannya, membuka lebar paha putih itu lalu menjilati bagian dalamnya dengan cara sensual. Tangannya bermain pada sisi yang tidak ia jamah dengan beberapa elusan hingga gelitikan pelan.

Yoongi mendesah; keras dan penuh gairah kasar yang mengerikan. Suaranya frustasi dan haus akan sentuhan, meminta lebih dan lagi semua yang mampu membuat napasnya putus-putus. Matanya yang sayu makin terlihat keruh karena kilatan nafsu yang begitu jelas di sana. Kotor namun menggairahkan, membahayakan seluruh sistem syarafnya yang makin lama makin lamban bekerja. Yoongi lemah karena hisapan tidak sopan dari Jimin di pahanya, juga beberapa jilatan tidak beradat di selangkangan hingga membuat miliknya terkena sengatan kuat dan mengeras lebih lagi.

Jimin menghentikan mulutnya, duduk dengan mata tajam menilai tubuh telanjang Yoongi dengan posisi seksi —tangan yang terangkat dan terikat di atas kepala dan kaki terbuka lebar menantang seluruh hormon dalam diri Jimin— saat badannya masih terbalut pakaian yang sama sejak melakukan gulingan di kasur meski beberapa garis kusut membuatnya terlihat berantakan. Dari situ Yoongi tahu seberapa besar Jimin mampu mendominasi, menyadari kekuatan penuh yang mutlak dari yang di atasnya.

"Kau seksi," Jimin berkomentar dengan tangan yang mendarat pada pinggul yang di bawah; jarinya dengan nakal mengelus sisi pantat yang bulat menggoda meski belum bisa dilihat dengan jelas sekarang—ya, sekarang, karena sebentar lagi Jimin akan membuat pantat itu menghadapnya dengan garis merah karena tamparan ringan dari tangannya.

Yoongi memberi tatapan berani, menantang sosok Jimin bahkan melakukan hal mengejutkan dengan gerakan kaki yang membuat pantatnya lebih terlihat. Jimin mendesis dan terkagum sekaligus karena kekasihnya ternyata sangat pintar melakukan hal nakal yang menggairahkan. "Aku tahu," ia menjawabnya lantang, seolah menjawab pujian sederhana tentang dirinya yang pintar.

"Jawab aku," suara Jimin serak dan berat, memberi tahu pada Yoongi betapa kering tenggorokannya dan sangat haus dirinya. "Kau akan menungging sendiri atau aku membalikkan tubuhmu dengan paksaan?"

"Itu bukan pertanyaan," suara rendah Yoongi yang ternyata jauh lebih serak ditambah getaran di sana. Ia terkekeh seperti suara batuk yang berbahaya. "Itu perintah dengan ancaman," ujarnya yang kemudian membawa tawa datar meremehkan sosok Jimin. Ia membawa tubuhnya duduk, menghadap tepat di wajah Jimin dan mendaratkan satu kecupan ringan di atas bibir itu. Setelahnya ia membanting tubuhnya sendiri, membuat dirinya seperti tersungkur dan kemudian bergerak menggoda untuk membuat dirinya menungging.

Jimin tersenyum riang, ia tahu Yoongi memang sangat pintar dalam membuat puas. Tangannya sekarang bermain di bongkahan menggemaskan yang sangat ingin ia gigit, mengelusnya dan memainkan belahannya yang menggoda iman. Satu tangannya yang lain bermain di bawah, meremas dan memompa untuk memberikan rangsangan.

Yoongi sudah sepenuhnya terangsang dan Jimin tahu itu. Tapi ia belum puas, sesuatu yang panjang dan melelahkan dalam satu kali permainan adalah yang ia cari sekarang. Jadi ia berhenti bermain pada kenjatan Yoongi yang mulai berkedut siap menembakkan benihnya, mengecup pantat yang menggodanya habis-habisan dan lalu membiarkan jarinya yang bermain di belahan sesekali tergelincir tanpa benar-benar terperosok masuk ke sana.

Satu pekikan marah lolos dari Yoongi, memaki dan mengomentari berapa brengseknya sosok Jimin yang sibuk menggodanya tanpa melakukan hal menyenangkan sebaik dan sesegera mungkin.

Tapi bukan Jimin jika langsung mengalah begitu saja, ia justru terkekeh lirih dan kemudian melakukan hal lebih tidak beradat di atas kulit Yoongi. Meninggalkan beberapa bercak kemerahan di punggung yang lebih tua dan membuat desahan nyaring lolos tanpa sopan santun. Jimin tersenyum senang, tubuh putih Yoongi kini penuh dengan tanda kepemilikiannya dan rasanya begitu mengagumkan.

Perlahan ia membalik tubuh Yoongi, membuat sosok itu kembali berbaring dan menatapnya sepenuhnya. Senyuman meneduhkan kini terpasang apik di wajah Jimin, memberi kekuatan sederhana yang entah kenapa jadi begitu magis karena Yoongi jadi amat sangat berharap dapat membawa sosok itu masuk ke dalam dirinya cepat dan tepat. Ia pikir otak kotornya kali ini tidak melakukan hal salah karena bayangan Jimin di atas dan menekannya dalam adalah sesuatu yang sangat benar.

Jimin melepas pelan ikatan di tangan Yoongi, membisikkan bahwa meski foreplay-nya sekasar daun arbei, ia akan melakukan seks dengan cara selembut beludu. Ia membawa tangan Yoongi yang sudah terbebas untuk memegang pundaknya, mengatakan untuk meremasnya jika saat mereka melakukannya ia merasa sakit atau apapun yang membuatnya tidak nyaman. Setelah itu Jimin melepas kancing dan resleting celananya, membuat suara turunnya zipper itu jadi begitu menggairahkan karena ia melakukannya perlahan-lahan. Ia tidak menurunkan celananya bersama dalaman, membuat miliknya yang sudah keras menubruk pelan kenjatan Yoongi dan menghasilkan lenguhan dari mereka berdua. Lalu Jimin mengocok miliknya, membuatnya lebih tegak lagi agar bisa memasuki yang di bawah dengan mudah.

"Ini akan menyakitkan," Jimin berbisik lirih saat miliknya sudah menggesek pelan di depan Yoongi, seolah mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

Yoongi mendesis tipis, tangannya meremas bahu tegap Jimin dan setelah itu memberi tatapan memerintah minta segera dimasuki. Persetan dengan murah, Yoongi sungguhan berharap untuk mendapat Jimin di dalamnya dengan gerakan stabil ataupun berantakan dengan menekannya kuat-kuat seperti memberi gelenyar menyenangkan di seluruh tubuhnya.

Saat Jimin menekannya dalam, mendobrak paksa pintunya, juga menabrak keras titik dalamnya dalam sekali hentak, Yoongi berteriak nyaring karena kenikmatan berpadu dengan kesakitan. Tangannya mencakar bahu Jimin dan meninggalkan guratan cukup dalam di sana hingga yang dicakar meringis tipis menahan sakit.

"B–bergeraklah," suara lirih dan bergerat keluar dari bibir Yoongi, memerintah tubuh di atasnya bergerak, berpikir bahwa rasa sakit akan hilang tanpa perlu ia tunggu terlalu lama.

Jimin menurut, mulai menarik dirinya keluar lalu sekali lagi menekan dalam diri Yoongi hingga mereka mendesah bersamaan. Rasanya penuh dan sesak saat dimasuki; pun rasanya sempit dan terjepit saat memasuki.

Suara Yoongi makin lemah, tapi kenikmatan yang menyelimutinya membuatnya tidak bisa berhenti untuk memekik dan berteriak nikmat. Remasan tangannya yang awalnya bisa melukai bahu Jimin kini melemah, bahkan untuk meremas lengan itu pun tidak menghasilkan apapun berarti. Gerakan Jimin yang tidak beraturan menambah rasa lelah Yoongi yang berlari mengejar orgasmenya, tangan Jimin bermain nakal di miliknya juga menghentak titik manisnya sengaja tidak berturut-turut. Menyebalkan namun justru membuat nafsunya makin terpancing tak terkendali.

"A–aku hampir—aaakh," belum sempat selesai dengan kalimatnya, satu tumbukan keras di titik manisnya hingga rasanya bagian bawahnya terbelah menjadi dua membuat semua kenikmatan putih yang ia kejar kini sampai, tubuhnya melengkung indah seperti busur mahal yang ditarik kuat untuk menembak anak panah.

Jimin mendesis kagum pada sesuatu sebersinar Yoongi ada di hadapannya, mengagumi bagaimana pemandangan yang ia lihat nampak menyilaukan. Ia lalu bergerak beberapa kali, kembali mengejar apa yang ia cari sejak tadi dan kemudian mendesah lirih sambil menekan miliknya makin dalam hingga cairannya memenuhi yang menyelimutinya, bahkan membuat beberapa menetes ke luar dari dalam. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Yoongi tanpa mengeluarkan miliknya, memeluk tubuh kurus yang sudah lemas bermandikan peluh kenikmatan.

"Lelah?" Jimin bertanya lembut, mengelus keringat yang membasahi dahi Yoongi untuk membersihkannya lalu mendaratkan satu kecupan panjang di sana. "Kau bisa istirahat, tubuhmu mungkin bisa pegal-pegal setelah ini."

Yoongi menjawab dengan anggukan dan gumaman, suaranya habis setelah berteriak memberi tahu kenikmatan yang diberikan Jimin beberapa menit lalu hingga sampai pada titik kenikmatan setelah orgasme. Matanya terpejam setelah itu dengan tubuh memeluk erat badan Jimin, membuat badannya seperti terselimuti dan tenggelam dalam badan kekar Jimin.

Fin.

Karena dorongan sana sini, akhirnya aku memutuskan buat bikin sequel dengan full NC karena, yeah, aku engga ada ide lain selain NC ini. Ini plot yang aku sebut salah satu plot ending, aku ubah sedikit dan buat semacam ini karena mereka bilang "kak, itu M rated masa ga ada this and thatnya" jadi lahirlah ini. Terima kasih atas dorongan kuat yang bikin aku menyerah dan bikin ini dalam semalem. Megap megap sendiri macam orang bodoh di kamar kost lol.

Jadi karena aku udah buat sequel, tolong jangan lupa reviewnya ya :3