Previous Chap :

"Cepet jawab, sialan!"

Sasuke yang semakin malas meladeni Sakura sedikit berdecak, dan menjawabnya dengan jujur. "Aku ada kelompok belajar dadakan."

Mendengarnya, Sakura mendengus, dan melepaskan kedua kerah Sasuke dengan sekali sentakan.

"APA NGGA SALAH!?" Intonasi suaranya meninggi. "KAMU PUNYA OTAK, KAN!?" Telunjuknya yang bebas dengan berani menunjuk tepat di depan wajah Sasuke. "KEMAREN TUH KAMU LAGI ADA JANJI DENGANKU!"

Mengingat bahwa dirinya lah yang salah, Sasuke putuskan untuk tidak memberikan alasan lagi. "Sampai jam berapa kau menunggu?"

"Hah? Nungguin kamu?" Sakura mengulang kalimat tadi dengan gaya mengejek. "Ngerasa dirimu penting, ya?" Gadis itu berdesis mengerikan.

Ya, tidak ada yang tau bahwa Sakura menunggu Sasuke sampai berjam-jam di dalam mobil—selain Ino, tentunya.

"Baiklah, hari ini aku akan menemanimu belanja."

Tenten yang sedikit tidak mengerti keadaan di depannya hanya meringis, masalahnya ini juga sudah mau bel masuk. Bisa gawat kalau Sakura terus mengamuk sampai jam pelajaran dimulai.

"Wah, bagus deh Sakura, Sasuke udah berjanji lagi tuh—!"

"NGGA PERLU!" Sakura langsung membagi wajah seramnya ke Tenten yang ada di belakangnya, dan sedetik kemudian langsung melihat lagi ke arah Sasuke. "KAMU! LIHAT AJA NANTI!" Bentaknya penuh dendam, lalu berjalan keluar ruangan kelas.

.

.

"Sakura!"

Pagi harinya, Naruto yang sedang bahagia langsung melambaikan tangannya dan berlari ke arah Sakura—yang barusan dilihatnya di pagi ini. Tapi, berhubung aura yang lagi dipancarkan Sakura sedang tidak seperti biasanya, Naruto pun memperpelan langkah dan memasang wajah bingung di depan sahabatnya yang itu.

Tanpa ada jawaban, bahkan sebuah tatapan mata untuk membalas sapaannya, Sakura sudah terlebih dulu melewatinya. Tentu saja Naruto mengernyit heran. Masalahnya... apa yang membuat Sakura terlihat lesu—sampai-sampai wanita yang biasanya jalan dengan begitu angkuh tersebut malah menyeret sepatunya untuk berjalan menuju kelas? Itu sesuatu yang tampaknya bukan Sakura banget.

Naruto segera mengikutinya dari belakang. "Kau ini kenapa sih? Kurang makan, ya?"

"..."

"Ah, apa jangan-jangan kau masih memikirkan masalahmu dengan Sasuke yang kemaren?"

"..."

"Hoi, Sakura..."

Karena Sakura tak lagi menjawab, Naruto menyentuh bahu Sakura, tapi langsung ditepisnya.

Saking tidak mengerti dengan keadaan orang itu, akhirnya Naruto menghela nafas. Mungkin Sakura sedang butuh istirahat dan tidak mau diganggu. Namun, sebelum ia berbalik untuk ke kelasnya, Sakura sudah keburu menahan kerah belakang seragam Naruto sampai dia tersentak sendiri.

"Naruto." Panggilnya dengan nada suara dingin.

"Eh? Apa?"

"Gimana hubunganmu dengan Hinata?"

Di detik itu Naruto kembali menatap emerald Sakura dengan senyum berseri-seri. Waktu yang tepat! Soalnya Naruto baru aja ingin pamer cerita kepadanya. "Aku dan Hinata? Bagus-bagus aja tuh, malahan dia semakin mendekatiku! Aku memang tampan sih, jadi jangan kaget kalau aku bisa ngedapetin dia dengan mudah!"

Tawa Naruto yang keras mulai menyertai kenarsisannya. Namun, saat Naruto memandang Sakura lagi, wanita itu tampak tidak suka mendengarnya.

"Kenapa? Kok mukamu gitu?"

Sakura menghela nafas dan melipat kedua tangannya di dada. "Bukan apa-apa."

"Oh, ya. Sasuke juga bagaimana? Kudengar-dengar hubungan kalian agak-agak berantakan, ya?"

"Udahlah, jangan bahas dia dulu!" Sakura segera menggeram dan melemparkan tatapan tajamnya ke Naruto. Naruto membeku di tempat.

Kayaknya hubungan Sasuke dan Sakura memang agak rumit deh.

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

SIXTH. Penolong?

.

.

Ketika Sasuke dan Hinata sedang berjalan menaiki anak tangga sekolah yang akan mengantarkannya ke lantai tiga, tidak sengaja mata onyx Sasuke melirik ke arah kotak bekal yang saat ini ditenteng oleh Hinata. Adiknya itu terlihat bahagia sekali saat membawanya. Bento tersebut dipeluknya erat, tak lupa dengan senyuman kecil yang menghiasi wajah putih mulusnya.

Sebenarnya, tidak ada masalah dengan Hinata yang sedang membawa bekal. Tapi, di sini kan ada kantin. Lagipula... tidak mungkin rasanya seorang Hinata akan memakan habis sendirian bento berukuran besar itu.

"Untuk apa kau membawa bekal?" Sasuke bertanya. Walaupun kakaknya menggunakan nada datar, Hinata tau kalau ada rasa ketidaksukaannya di dalam kalimat tadi. Karena itu Hinata sedikit menimbang-nimbang untuk menjawabnya.

Hinata sedikit menunduk karena malu, sehingga membuat poni tebalnya menutupi sebagian kacamatanya. "I-Ini untuk... untuk N-Na-Naruto-kun..."

"Dia yang terlibat kasus denganmu?" Sasuke mendengus kesal. Heran juga kenapa adiknya masih mau mendekat dengan pria tidak jelas seperti si Uzumaki itu.

"Um... i-iya." Angguknya perlahan. Ia beranikan diri untuk menatap mata onyx Sasuke dengan pandangan memelasnya. "Tapi kan Sasuke-kun sudah tau kalau masalah kami hanya salah paham..."

"Ya, aku mengerti..." Jawabnya sembari menghela nafas.

Brukh!

Saat merasa ada orang yang menabraknya—entah sengaja ataupun tidak—Sasuke berbalik. Dipandanginya Sakura dan Ino yang saat ini sudah ada di belakangnya. Sakura menatapnya sembari berkacak pinggang, dan Ino hanya memasang cengiran tak berdosa.

Tentu saja Sakura-lah yang pastinya sengaja menabraknya.

"Ohh... maaf, tadi aku ngga ngeliat ada orang di depan." Sambil tersenyum lebar Sakura menepuk-nepuk pundak Sasuke selayaknya orang yang sedang bercanda. Lalu Sakura melanjutkan kalimatnya. "Sedang mengobrol ya, kembaran angkatan kami yang tercinta? Ikutan dong~"

Sasuke berdecak malas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia kembali berjalan untuk menghindari mereka berdua—terutama Sakura. Tapi, langkahnya lagi-lagi harus tertunda akibat Sakura yang menggenggam erat pergelangan tangan kanannya.

"Kamu-ngga-boleh-pergi." Ujar Sakura dengan senyuman muka dua—baik di tampang, jahat di hati. "Mengerti?"

"Ngga." Ia lepas tangan Sakura dengan gerakan kasar, lalu ia raih tangan Hinata untuk menariknya agar dapat melangkah cepat. "Hinata, ayo pergi."

Tidak mau kalah, Sakura pun segera memeluk Hinata dan menariknya. Dia membiarkan kedua sisi Hinata ditarik secara berlawanan. Tangan kiri Hinata ditarik Sasuke, sedangkan Sakura menarik tubuh bagian kanan Hinata.

"Lepasin dia." Sasuke menatap sinis ke arah Sakura.

"Ngga mau, kamu yang harus lepasin dia!"

Di saat Sasuke dan Sakura rebutan Hinata, Ino yang melihat mereka hanya sweatdrop di tempat.

"A-Ano..." Merasa kedua sisi tangannya mulai sakit, Hinata sendirilah yang mulai angkat bicara.

Sasuke yang tidak tega melihat adiknya langsung segera melepaskan Hinata. Setelah bebas, Hinata ditarik Sakura agar menjauh beberapa meter dari Sasuke.

"Hinata-chan ke kelas duluan aja..." Sakura memberikan senyuman manisnya ke Hinata. "Jadi boleh kan aku pinjem kakakmu sebentar?"

Hinata menatap dulu ke Sasuke, lalu mengembalikan pandangannya ke Sakura. "Um... asal Sasuke-nii ngga keberatan, menurutku ngga apa-apa..."

"Oke, Sasuke. Kamu denger sendiri kalimat adik tersayangmu ini." Alis Sakura naik meremehkan.

Sedangkan Sasuke menghela nafas. "Hn, terserah. Hinata, sana duluan ke kelas."

"Ba-Baik. Sampai jumpa."

Sesudah Hinata tak ada di depan mereka, Sasuke melepaskan jeratan tangan Sakura dengan sentakan kasar.

Pria itu tampak tidak suka, dan Sakura malah senang saat melihat raut wajah kesal dari Sasuke. Masalahnya, ia juga lagi dendam sama Uchiha yang satu ini.

"Kamu masih ingat janji kita?" Tanyanya pelan sambil tersenyum.

"Hn."

"Bawa uang atau kartu, kan?"

"Hn."

"Sale dan discount kemarin udah ngga berlaku lagi, dan itu semua karenamu." Jelasnya. "Jadi, aku maunya kamu yang membayarkan SEMUA belajaanku nanti."

"Hah, semua? Kamu gila, Sakura!" Ino yang ada di sebelah membulatkan matanya.

"Biarin!" Sakura tersenyum sinis. "Lagian, kudengar-dengar dia cukup kaya. Iya kan, pembantuku sayang?"

Sasuke tidak menjawab.

"Oke..." Sakura melangkah mundur, lalu sedikit mengadah untuk menampilkan tampang seriusnya. "Pokoknya pulang sekolah kamu harus ngebayarin SEMUA barang yang aku beli! AKU NGGA MAU TAU!"

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di hall, sebuah ruangan multiguna yang berada di lantai teratas, di sanalah Naruto berada. Pria jabrik itu sedang menghabiskan waktu 30 menitnya untuk beristirahat dari kegiatan skorsing sekolah—yang adalah mengepel. Karena kasihan, Kiba pun datang dengan membawakannya sebuah ramen instan, susu dan dua buah batang rokok.

Melihat Kiba yang memberikannya semua itu, Naruto yang baru saja meletakkan peralatan bersih-bersihnya menghela nafas pasrah.

"Kenapa kau membawakanku sesuatu yang ngga serasi gitu, sih?"

Alis Kiba mengernyit, tidak mengerti. "Maksudmu?"

"Seenggaknya semua orang pasti tau kalau ramen sama sekali ngga cocok kalau minumannya susu."

"Kalo kau ngga mau, ya buatku saja. Apa susahnya?"

"Hahh, payah."

"Udahlah, aku bukan Hinata yang membawakanmu bekal enak, ya..."

Kali ini Naruto yang baru saja menyelipkan rokoknya di bibir itu mendelik kepadanya. "Gimana kau bisa tau kalau Hinata pernah membawakanku bekal, hah!?"

"Jelas-jelas kau sendiri yang mendadak menelfon dan menceritakanku semuanya." Kiba tertawa sampai kedua matanya menyipit. "Pada saat itu seluruh kalimat girangmu kayak cewek, bodoh..."

"Sialan." Naruto memutar bola matanya. "Oh, ya. mana pemantik? Ramen-nya nanti aja, aku mau merokok. Udah lama aku ngga menghirup nikotin."

Kiba melemparkan sebuah pemantik gratisan ke tangan sahabatnya itu. Tapi, sebelum Naruto menyalakan api, Kiba sudah terlebih dulu menariknya agar menuju ke atap sekolah. "Merokok jangan di hall. Bau asapnya awet, nanti kalo ketauan bisa gawat."

"Iya, iyaa..."

Tapi, sesaat mereka akan menaiki tangga di belakang ruangan hall—di hall ada dua pintu; salah satu untuk pintu masuk, dan satunya lagi yang akan menghubungkan lantai empat ini dengan atap sekolah—mendadak terdengar suara pintu dari depan sana yang terbuka lebar.

"Permisi..."

"—!"

Di detik itu pula Naruto membeku di tempatnya.

"Eh, tumbenan ada orang yang ke sini?" Kiba pun berniat balik ke hall untuk mengecek siapa yang datang, tapi Naruto sudah terlebih dulu menghentikannya.

"ITU! ITU SUARA HINATA!"

Kiba mengernyit melihat Naruto yang gelalapan sendiri di tempatnya.

"Terus kenapa mukamu se-excited itu?"

"Ah! Nanti kujawab pertanyaanmu! Tapi, mendingan sekarang kau temuin Hinata dan bilang aku ada di belakang hall! Cepat sana!"

Kiba yang masih tidak mengerti keadaan ini pun hanya menggeleng singkat dan balik ke hall dengan memasuki pintu tempat mereka keluar. Berhubung Naruto jangan memperlihatkan hal senorak itu karena seorang perempuan, akhirnya Kiba mau nurut mengikuti perintah Naruto.

. . .

Di sisi Hinata, sebelum ke hall, ia telah menghabiskan waktu selama 15 menit untuk mencari Naruto ke seisi sekolah. Seperti biasa, ia hanya ingin bertemu dengannya sebentar agar dapat memberikan pria itu sebuah bekal, tidak perlu lebih.

Dan karena ia mendengar kabar kalau Naruto lagi beres-beres di lantai empat, kini... di sinilah Hinata berada. Ia baru saja berjalan menelusuri koridor yang akan membawanya ke hall.

Sesudah sampai, pertamanya gadis itu diam-diam membuka pintu ruangan luas tersebut.

"Permisi..."

Dia pandangi semua hal yang ada di dalamnya. Tapi, berhubung ruangan tersebut terlalu sepi, Hinata sempat berpikir bahwa di sana tidak ada orang. Dan, sewaktu ia akan menutup pintu, tiba-tiba saja seseorang berambut coklat keluar dari sebuah pintu yang terletak di ujung pandangannya.

"Oi... kau Hinata, kan?" Pria itu bertanya sembari berjalan mendekat ke arahnya.

Hinata yang masih belum kenal dengannya pun segera menunduk dan memeluk erat kotak bekal buatannya.

"Hei, jangan takut begitu. Aku teman Naruto, namaku Kiba. Salam kenal."

Perlahan Hinata mencoba menatap mata Kiba lewat kacamata besarnya. "Aku... Hinata Uchiha. Salam kenal juga."

"Iya, aku tau. Naruto sering cerita tentangmu." Ia tertawa kecil, membuat atmosfer tegang di antara mereka sedikit mengendur. "Oke, aku tau kau ingin bertemu Naruto. Dia ada di belakang hall. Lewat pintu sana aja, pasti nanti langsung ketemu dia."

Ditepuknya pelan pundak Hinata dan Kiba berjalan keluar hall. "Kalo di sana dia lagi sok keren... tendang aja, ya?"

Setelah itu, barulah Hinata ditinggalkannya sendirian.

Hinata menghela nafasnya terlebih dulu dan barulah ia melangkah maju. Sesudah membuka pintu yang tadi dimaksud oleh Kiba, dilihatnya sesosok pria pirang yang sedang tertidur di salah satu anak tangga menuju lantai atas—atap.

Hinata terdiam. Kadang matanya mengerjap pelan mengagumi sosok tampan di depannya yang terlihat manis saat tertidur. Dugaan Hinata, Naruto pasti begini karena kecapekan bersih-bersih.

Tapi, jika di sana Hinata datang bersama Kiba, pasti Kiba akan menertawakan Naruto karena telah berani-beraninya akting tertidur di depan Hinata—tentu saja karena di saat ini Naruto sedang pura-pura tertidur.

Hinata berjalan mendekat secara hati-hati. Ia tidak ingin membangunkan Naruto.

Lalu ia letakan kotak bekal di salah satu anak tangga, dan duduk di sebelah pria itu.

Sebenarnya Hinata ingin membangunkan Naruto dan mengatakan bahwa ia membawakannya bekal lagi. Tapi sayangnya tidak bisa, ia tidak berani.

Dan mendadak sebuah ide terlintas di benaknya. Ia ambil sepotong kertas yang beruntungnya ada di sakunya. Menggunakan sebuah pena, ia menulis sesuatu di sana. Setelah selesai, ia letakan kertas tersebut ke atas bento yang sudah ditaruhnya di sebelah Naruto yang—terlihat—tertidur pulas.

Sekarang Hinata terdiam, tak lupa dengan senyuman kecil yang sungging di bibir tipisnya. Dia tidak akan membangunkan Naruto, tapi mungkin ia akan berada di sini selama beberapa waktu. Dan tampaknya Naruto tidak terganggu.

Diamatinya paras tampan Naruto yang terlihat dari balik kacamata tebal yang ia kenakan. Dimulai dari rambut acak-acakannya yang tidak bisa rapi, kaus seragam yang berantakan, dan juga wajah Naruto begitu tenang dengan mata terpejam.

Seperti kucing.

Benar, Naruto sangat imut...

Di sela lamunannya, perlahan Hinata mendekatkan dirinya ke wajah Naruto. Bibir Hinata yang sudah dibuat mengerucut itu terarah ke cuping telinganya. Lalu sesaat kemudian, Hinata meniupkan udara sejuk ke sana.

"Fuuuu..."

"Ngh!"

Erangan dadakan Naruto membuat Hinata tersentak sendiri. Dengan panik gadis berkepang dua itu segera mundur beberapa senti darinya. Masalahnya, ia takut kalau Naruto sadar dan akan marah-marah jika menemukan dirinya diisengi seperti ini.

Tapi, untungnya Naruto hanya bergerak sedikit dan dia telihat masih pulas seperti sebelumnya. Sembari bersyukur di dalam hati, Hinata menghela nafas. Ditatapinya lagi wajah Naruto, kali ini ketiga garis halus yang ada di masing-masing pipinya. Dengan menggunakan jari telunjuk, Hinata menyentuh pipi Naruto, menelusuri kulit tan itu sesuai garisnya.

"Hahaha..."

Pria tersebut tertawa. Namun bukannya kaget seperti reaksi yang pertama, Hinata malah ikut tertawa kecil. Tawa manis yang jarang ia perlihatkan ke orang-orang.

Sebenarnya Hinata tidak sedang iseng. Ia hanya ingin terus di samping pria ini.

Lalu akhirnya Hinata mendengar suara bel tanda istirahat telah selesai. Ia pun berdiri dan turun dari tangga.

Dan sebelum ia benar-benar keluar, Hinata menoleh kepadanya sekilas. "Sampai jumpa, Naruto-kun..."

. . .

Setelah Hinata sudah menghilang selama lima menitan, kedua mata Naruto terbuka tanpa ekspresi apa-apa. Dia tidak langsung bangun ataupun bergerak merengangkan badan, ia hanya terdiam seperti merenung. Lalu akhirnya ia bergerak untuk terduduk dan segera menghela nafas panjang.

Saat ia menoleh, diliriknya bento yang sempat ditaruh Hinata di sampingnya. Dia ambil kotak tersebut dan ia letakan ke pangkuannya. Ada sebuah kertas.

'Terima kasih sudah mau menerima bekal buatanku :)'

Tanpa perlu berpikir lagi, ia sudah tau kalau tulisan tadi adalah buatan Hinata—karena memang sejak Hinata datang, ia sama sekali tidak tidur; atau lebih tepatnya... pura-pura tertidur.

Naruto yang membaca tulisan tersebut hanya bisa menahan senyumnya.

"Makasih juga..."

Lama-lama sebuah cengiran lebar terpampang jelas di wajahnya. Ia taruh bekal itu di sebelahnya dan segera berdiri. Sekarang ia sangat siap untuk kembali menjalani hukuman yang tinggal beberapa hari ini. Sontak saja dia berdiri, lalu mengangkat tongkat pelnya selayaknya Tarzan yang baru saja selesai membunuh sang macan tutul.

"OWKE! AYO SEMANGAT, NARUTO! SETELAH SELESEIN KERJAAN SIAL INI, KAU BISA MAKAN MASAKAN BUATAN HINATA—UWAA!"

GUBRAK!

Oke, suasana kini kembali suram.

Baru saja Naruto jatuh dari tangga. Ia memang cuma terguling sebanyak empat anak tangga, tapi tetap saja sakit. Sambil meringis, Naruto berusaha agar dapat bangkit dari posisi terjatuhnya. Tapi, tidak disangka mendadak ia mendengar suara tawa dari arah depannya. Dan saat ia mendongak untuk melihat, ternyata di sana sudah ada Kiba.

"Hahah! Dasar bodoh!" Kiba yang baru saja datang sudah tertawa sembari memegangi perutnya yang geli. "Apalagi pas ada Hinata—pfft! Hahahah! Kau terlihat menjijikkan saat sok-sok tidur seperti tadi!"

"Ah, berisik." Dengan berdecak Naruto berdiri dan melirik sinis ke arah Kiba. "Kau ngapain lagi ke sini? Sana ke kelas!"

Masih dengan tawanya Kiba menggeleng. "Ngga, ah."

"Sana pergi, atau kau yang kupaksa keluar."

"Hei, jangan galak seperti itu... kita kan teman." Kali ini Kiba sok baik. Naruto memutar bola matanya.

Kiba tersenyum kecil saat melihat temannya yang saat ini sedang mengangkut pelnya kembali ke hall. "Hei, ngga jadi ngerokok ke atap? Kok balik lagi ke hall?"

"Aku mau bersih-bersih dulu, ngerokok bisa nanti."

Kiba sedikit terkejut mendengarnya. "Wah, jangan-jangan kau jadi semangat gara-gara tadi didatengin istrimu, ya?"

"Diamlah... udah bagus aku lagi rajin."

Kiba mendengus geli dan mengiyakan. Dia ikuti langkah Naruto. Tapi, saat Naruto sedang menyelsaikan tugasnya lagi, Kiba mendadak bertanya. "Naruto..."

"Hm?"

"Kau serius dengan Hinata, eh? Kukira kau cuma main-main dengannya."

Di detik itu Naruto menghentikan gerak mengepelnya. Ia terlihat seperti berpikir. Bersama gumaman, ia pun akhirnya menjawab pertanyaan Kiba. "Tentu saja aku main-main... ini kan hanya permainanku dengan Sakura tentang lomba-lombaan deketin mereka—Hinata untukku, dan Sasuke untuk Sakura..."

Tapi entah disadari oleh Naruto, raut wajahnya berubah saat mengingat perjanjian dulu.

Dalam hati Naruto merutuk. Tugasnya adalah membuat Hinata jatuh cinta padanya, tapi kenapa dia yang malah... seperti jatuh cinta?

Sepertinya ada yang salah pada dirinya.

Cepat-cepat Naruto menggeleng untuk membuyarkan lamunannya. Sambil menegakkan badannya yang sedikit pegal, Naruto melihat ke arah luar hall—karena pintunya terbuka. Dan kemudian ada dua orang yang mengalihkan perhatiannya.

Dia mengernyitkan matanya sebentar untuk melihat sosok-sosok yang ada di kejauhan sana. Setelah tau barulah ia terheran sendiri.

"Eh, itu kan... Sasuke dengan Shion? Kok mereka bisa jalan barengan gitu?"

Jadi, apakah berita tadi akan cepat tersebar luas ke Sakura?

.

.

~zo : twins alert~

.

.

"APA!?"

Oke, kini Sakura marah. Dan nyatanya berita tentang Sasuke dan Shion itu benar-benar tersalur dengan cepat kepadanya. Tentu saja karena sang narasumbernya—yang memberitahu—adalah sahabatnya sendiri, Naruto.

Tanpa berterimakasih atau apa, Sakura langsung berlari ke arah lantai dua, sedangkan Naruto yang kini berubah panik langsung mengikutinya dari belakang. Dalam hati Naruto sedikit menyesal telah membeberkan tentang masalah itu, soalnya ia takut jika dijadikan pelampiasan emosi Sakura yang sedang labil.

"Oi, Sakura, kau tenang dulu... kan bisa aja aku salah liat." Dengan tertawa kecil Naruto mencoba mendinginkan Sakura.

"Bisa-bisanya kau menyuruhku tenang di saat seperti ini!?" Elaknya menggunakan suara kencang. Langkahan kakinya bahkan semakin cepat. "Dia udah berjanji denganku! Dan kalo saat ini dia lagi sama si gadis cupu itu lagi, dia memang cari mati denganku!"

Naruto meringis. "Kenapa cara marahmu mirip sama cewek yang barusan tau pacarnya selingkuh sih! Kau suka Sasuke, hah?"

Kini Sakura berhenti berlari, Naruto pun—yang tidak sempat berhenti—sedikit menabraknya. Ia tatap Naruto dengan tatapan horornya.

"DIAM, BAKA!"

"Eh?" Seketika muka Naruto berubah kecut. Naruto sempat mengira Sakura akan memukulnya seperti biasa, namun nyatanya salah ketika ia hanya melihat sebuah semburat kemerahan yang menghiasi wajah putih Sakura.

"Jangan ikutin aku!" Cepat-cepat si gadis merah muda itu membuang muka dan kembali berlari, sedangkan Naruto cuma bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sekarang Sakura sudah berjalan sendirian di koridor. Sadar akan kekuasaannya yang begitu besar di sini, ia tabraki satu-satu siswa-siswi yang menutupi jalannya tanpa ampun. Tidak peduli ada yang kesal, nyaris jatuh karena ditabraknya, terdorong atau apapun.

Satu-satunya target yang ia tuju adalah kelas XI-B, tempat di mana Sasuke dan Shion sedang berada—menurut informasi yang diberikan Naruto.

Setelah pintu geser di kelas dia buka dengan cara membantingnya ke samping, semua mata dari dalam langsung terarah kepadanya.

Bukannya malu, Sakura malah mengernyit sinis kepada belasan pasang mata yang sempat memandangnya, membuat mereka segera memalingkan wajah. Lalu, barulah ia melempar tatapannya ke arah meja belakang.

Dan nyatanya di sana sudah ada Sasuke dan... SHION!

"WOI, KALIAN!"

Tanpa izin ataupun aba-aba, ia berteriak, membuat Shion yang sibuk berbicara sendiri tentang klubnya menoleh. Sasuke yang juga melihat Sakura langsung menghela nafas.

Sakura menyamperi meja terbelakang itu dengan terburu-buru. Setelah sampai, ia berikan pandangan sinis ke Sasuke, terutama gadis berambut pirang pucat yang telah menatapnya.

Iris mata emerald Sakura menatantang kedua manik mata Shion. Tatapannya tajam dan sinis, seakan-akan menuntutnya untuk menjauh dari Sasuke. Tapi, berhubung ia tidak mengerti dengan hubungan Sasuke dan Sakura, Shion pun hanya mencoba tersenyum pada Sakura.

Sakura berdecak, lalu ia mengembalikan pandangannya ke Sasuke. "Lagi ada apa nih di sini?" Tanyanya, masih sok ramah.

"Ini kelasku, dan dia datang untuk belajar."

Shion terdiam dan membiarkan Sasuke menjelaskan.

"Jadi... belajar, ya?" Sakura memiringkan wajah cantiknya.

"Hn."

"Sama dia lagi?"

"Hn."

"Setauku Shion Miiko itu anak kelas 12. Ngga mungkin ada seorang senpai yang minta diajarin kohai-nya, kan?" Perlahan-lahan Sakura melirikan matanya ke Shion, berniat menyudutkannya.

Sasuke yang menyadari sindiran Sakura langsung menengahi. "Aku yang sedang bertanya."

"Kan bisa di waktu luang." Sakura berdesis tidak mau kalah.

"Ini waktu istirahat—waktu luang yang kau maksud—karena itu aku bertanya padanya sekarang."

Merasa jawaban Sasuke selalu terdengar membela Shion seorang, Sakura mengepalkan kedua tangannya.

"Oh... aku mengerti." Sakura tersenyum. "Kok kalian ROMANTIS banget, sih!?"

Mendapatkan kalimat yang sebenarnya bentakan Sakura—karena didengar dari nadanya yang kasar—Shion menunduk.

"Uchiha-san... aku takut." Mendadak wajahnya berubah pucat. Dipeluknya tangan Sasuke untuk berlindung.

Sakura mendelik.

Tapi tidak disadari oleh kedua pihak yang ada di sana—Sasuke dan Shion—ternyata Sakura malah menjadi semakin panas.

"AKU NGGA NANYA KE KAMU!" Tanpa sungkan ia tatap mata milik Shion lalu mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajahnya.

"Udahlah..."

Sasuke menghela nafas pasrah. Kenapa kedua orang ini begitu merepotkannya?

"Kau sendiri kenapa marah-marah?"

Sebuah kalimat bernadakan datar tersebut kembali membuat pandangan Sakura terlempar ke si pemakai kacamata bulat itu. Tatapannya sinis, seakan ia bisa membunuh Sasuke kalau ia berani berkata-kata lagi.

Sebelum Sasuke beralih ke Shion untuk menenangkannya, Sakura terlebih dulu menarik seragam bagian lengan atas milik Sasuke agar wajah pria itu terarah kembali padanya.

"INGAT PERJANJIAN KITA!?" Mendadak Sakura berteriak. Cengkraman tangannya menguat.

"KAMU LUPA, HAH!? PADAHAL KAMU UDAH SETUJU, KAN!?"

"Aku ingat."

Sakura mendengus kesal. "Lalu kenapa kamu malah bersamanya!?"

"Kita janjian jam 4 sore, dan ini masih jam 12."

"Kamu akan lupa kalau aku ngga mengingatkanmu tentang ini!"

"Nanti—"

Sasuke berniat membalas, namun Sakura kembali mendahuluinya. Kali ini emerald yang ia tatap sudah tergenang oleh air mata. "Kamu pasti ngga akan datang lagi—bakalan sama kayak kemarin!"

Ia telan ludahnya terlebih dulu, lalu berusaha menjelaskan walau yang keluar adalah suara parau. "Pa-Padahal aku menunggumu, tau!"

Sasuke terdiam.

Sesudah ada sebuah tetesan air mata menyentuh lantai, Sakura mendorong Sasuke sampai kerah yang dipegangnya terlepas. "Terserah padamu mau hari ini atau ngga! Aku udah ngga peduli!"

Yang ditinggalkan sama sekali tidak berkutik. Ia hanya bisa melihat punggung Sakura yang bahunya kadang berguncang pelan akibat tangisan. Bahkan salah satu tangannya itu mulai sering menghapus air mata yang terus mengalir ke pipinya.

Setelah Sakura pergi, Sasuke menghela nafas.

"Sasuke-kun."

Sasuke menoleh ke asal suara. Shion.

"Maaf... karena aku, kamu sampai dimarahi."

"Ngga apa."

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Sakura adalah orang yang frontal. Tidak jarang ia menghina seseorang secara terang-terangan di depan orang itu. Mau kakak kelas, adik kelas, seangkatan, semuanya takut kalau dia sudah lawan adu bacot kepadanya.

Tapi nyatanya dia tetaplah seorang gadis SMA biasa yang memiliki sifat gengsi.

Dia tidak bisa frontal pada Sasuke kalau ia marah karena... kesal melihatnya berduaan dengan Shion.

Iya, kan?

Jam yang kini Sakura berada di depan mall tempat ia janjian dengan Sasuke. Tertera di bagian dasbor mobilnya bahwa saat ini sudah jam 16.30.

Sakura melihat pemandangan di depannya yang mulai menggelap, tanda matahari akan terbenam, dan ia pun menggerutu. Diambilnya sebuah ponsel, lalu ia tekan sederet angka untuk langsung menelfon Ino.

Karena Ino masih belum mengangkat, Sakura putuskan untuk mematikan AC mobil dan membuka jendela. Kan tidak baik juga membiarkan angin dari AC mobil secara terus-terusan menerpa kulit mulusnya secara langsung.

Klik.

'Halo?'

Setelah sambungannya terangkat, Sakura langsung bicara.

"Tuh! Dia ngga dateng lagi, Inoo!" Gumamnya dengan nada yang malah terkesan merengek.

'Hah? Kamu lagi nunggu siapa?'

"Sasuke lah!"

'Hee? Kudengar dari Naruto, katanya janjian kalian ngga jadi?'

Sakura cemberut. "Iya, sih..."

Sambil tertawa, Ino berkata. 'Yah, mau bagaimana lagi? Jelas-jelas kamu sendiri yang bilang perjanjiannya batal, lalu kenapa kamu masih menunggunya?'

"Tapi kan kalau dia punya rasa salah, paling ngga ya datengin tempat ini dong!"

'Cowok itu makhluk yang ngga peka, Sakura...'

"Emang!" Sakura mengerang kesal.

'Yaudah... sana, mendingan kamu belanja aja. Ngapain nungguin dia datang lagi? Dasar donkey, jangan biarin dirimu dijatuhkan dua kali olehnya dong.'

"Iya, aku tau!" Katanya. Lalu matanya melihat ke samping, tepat di luar sana—beberapa meter dari mobilnya terparkir—ada sekumpulan orang yang berkumpul ramai-ramai di ujung jalan. Merasa ada beberapa orang yang sempat memperhatikannya, Sakura mencoba mengecilkan suaranya—walaupun amsih mengandung nada kekesalan. "Tapi, aku ngga kebiasa belanja sendiri, dan aku tetap marah besar ke Sasuke!"

"Suit~ suit~"

Siulan itu mendadak membuatnya merinding.

Sakura menoleh, menatap sekumpulan orang tadi sudah ada salah satunya yang melambaikan tangan kepadanya.

"Jangan marah-marah dong! Lebih baik main bareng kami~!" Godanya.

Sakura mengernyit kesal.

Bersama tampang meremehkan, Sakura membuang muka dan kemudian menaikan jendela mobilnya.

'Hei, Sakura... kamu lagi sama siapa?'

Sambil menyalakan mesin, Sakura menjawab. "Aku sendirian. Yang tadi itu hanya orang-orang menjijikkan yang ngga laku di mana-mana."

Mobil merahnya pun menyala, dan dengan biasa mobil itu mulai berjalan untuk keluar dari mall.

Tampaknya ia akan pulang sekarang.

Mood-nya benar-benar buruk, tapi harus ia tahan untuk besok—karena nantinya ia pastikan akan menjambak rambut Sasuke sampai botak.

Bersama ponsel yang masih di telinga kirinya, ia menjelaskan semua kekesalannya pada Sasuke sekarang juga. Biasanya saat mendengarkan Sakura, Ino terdiam. Ia tidak berani berkomentar, tapi kadang juga Ino bisa tertawa terbahak-bahak saat mendengar rencana pembalasan Sakura ke Sasuke yang asal-asalan.

Namun pembicaraan itu tidak bertahan lama, karena ada sesuatu yang menyita perhatian Sakura. Mendadak di tengah jalan sepi ini, ada mobil seseorang yang membalapnya. Sebenarnya hal itu normal-normal saja, namun mobil itu mendadak lelet sesaat berada di depannya. Tak lupa sudah ada mobil yang nyaris serupa tengah mengintilnya dari belakang.

Sakura tidak yakin kedua mobil itu berniat menyudutkannya, tapi... hal seperti itu bisa saja terjadi.

"I-Ino..." Gumamnya, sedangkan tatapan mata paniknya kini mulai menjelajah ke bagian depan, di mana ada mobil keluaran lama yang berjalan sangat pelan di depannya.

'Iya, ada apa?'

Ketika ia akan mendahuluinya, mobil tersebut malah menutup jalannya. Sakura pun memutar stir, ia akan melewati mobil di depan dengan lewat arah kiri. Namun, lagi-lagi jalannya ditutupi oleh tubuh mobil itu yang seakan-akan tidak memperbolehkan dia lewat.

Sambil menelan ludah, Sakura kembali menatap kaca spion. Dilihatnya ada sinar jingga dari sebuah mobil yang mungkin ada di belakangnya terus dari beberapa menit yang lalu.

Apa mobil itu mengikutinya?

"Eng... kok rasanya ada yang ngikutin mobilku, ya?"

'Eh? Y-Yang benar? Kamu yakin?'

"AKU YAKIN!" Nafasnya mulai tidak teratur. Dia panik. "Dan aku ketakutan!"

'Jangan berhenti! Ngebut aja! Cepet pergi!'

"Ta-Tapi aku ngga bisa, Ino!" Sakura melirik spion mobilnya. Dia terpaksa harus meringis saat menyadari mobil tersebut mulai semakin mendekat. "M-Me-Mereka terlalu—!"

DUAKH!

"KYAAAA!"

Ia tidak tau bagian depan mobilnya barusan menabrak apa, tapi yang penting guncangan hebat tersebut nyaris membuat kepalanya membentur stir. Dan begitu Sakura mengadahkan wajahnya, ia baru sadar kalau ponsel yang tadi dipegangnya sudah tidak ada. Mungkin terjatuh ke daerah kakinya.

Masih dengan mata yang terbuka lebar, ia letakan tangannya yang sempat di jok menjadi ke stir. Lalu ia tatap kedua tangannya yang kini bergetar ketakutan.

Mobilnya berhenti. Walaupun dia belum memastikan dengan pasti, ia yakin—bahkan sangat yakin—bahwa ada dua mobil yang mendempetnya dari depan dan belakang.

'Saku...?'

Suara buram dari ponsel membuatnya menoleh ke asal suara.

'Sakura!'

Susah payah ia meraih benda tersebut, dan berniat untuk menjawab panggilan sambungannya ke Ino yang masih menyala, namun...

"Cantik, turunin jendela dong~"

Gerakan Sakura terhenti.

Detak jantungnya semakin menggila.

Tok tok tok.

Sakura jadi lupa dengan apa yang akan ia lakukan dengan ponselnya sendiri. Gadis berusia 17 tahun itu gemetaran. Dia tidak menoleh, tapi dari ekor matanya pun ia sudah dapat melihat ada lima orang—yang semuanya adalah pria—sedang mengitari mobilnya yang tersudut di tepi jalan.

Tok tok tok.

Yang memakai topi merah kembali mengetuk jendela mobil yang masih tertutup rapat. Sesekali ia tertawa, menampakan senyumnya yang mengerikan.

"Kita kan cuma mau ngajak kenalan~"

"Ah, tolong..." Bisiknya, semakin menundukkan kepala. Kedua tangannya kini berganti ke rambut pink-nya, meremasnya kencang, sekaligus mengeluarkan air mata. "Siapa pun tolong aku!"

Bermenit-menit Sakura menghabiskan waktunya untuk menunduk. Ditutupnya kedua telinga serta matanya rapat-rapat.

Awalnya, hanya terdengar suara samar pria-pria asing yang tengah mengganggunya. Namun, setelah sekian lama, tanpa disadarinya mendadak suara tersebut semakin mengecil dan menghilang.

Lama.

Setelah yakin dirinya tak lagi mendengarkan suara, Sakura membuka matanya, membiarkan beberapa tetesan bening menjatuhi pahanya sendiri. Dan walaupun begitu, ia masih tetap tidak berani untuk mengangkat wajah.

Lagi-lagi ia mencoba menyesapi apa yang tengah terjadi di sekitar lewat pendengarannya.

Sepi.

Perlahan cengkraman di rambut halusnya terlepas, lalu saat ia sudah menegakan kembali posisi duduknya... ia terbingung di tempatnya.

"Ah..."

Sakura tidak bisa berkata-kata.

Orang jahat, maupun mobil buluk—yang sempat membuat bumper mobilnya lecet—sudah raib. Entah menghilang karena apa. Akhirnya Sakura dapat merilekskan kedua bahunya yang menegang itu dengan cara menyenderkannya ke senderan kursi. Ia pun terdiam di tempatnya dan mencoba menghela nafas.

Berhubung suasana di sekitarnya teramat sangat sepi, ia mengira bahwa semua hal yang terjadi padanya tadi hanyalah khayalannya semata.

Tapi, saat ia mencoba untuk melihat ke jendela, Sakura menelan ludahnya sendiri. Lima meter dari mobilnya berada, di sana ada sebuah topi merah yang sempat dipakai oleh salah satu preman mall yang menganggunya.

Berarti... semuanya bukan ilusi. Tapi, rasanya aneh. Kenapa mendadak orang-orang tersebut menghilang?

Tok tok tok.

"KYAAAAA!" Karena adanya ketukan tadi, sontak saja Sakura kembali berteriak

"Sakura, ini aku."

Dengan nafas tersenggal, buru-buru Sakura membuka mata. Sebenarnya ia masih takut untuk melihat keadaan, namun karena ia kenal si pemilik suara tadi, ia paksa matanya untuk terbuka.

Saat ia melihat siapa satu-satunya orang yang ada di luar mobilnya, ia terperangah.

"Sa-Sasuke?"

. . .

Di dalam mobil, hanya ada suara deru angin malam yang terdengar di saat mobilnya berjalan.

Sasuke tidak berbicara, bahkan ia tidak menanyakan keadaan Sakura atau hal-hal baik lainnya. Sakura menyadari kesunyian ini, tapi ia sendiri juga tidak mau memulai pembicaraan.

"Setelah belokan, ke mana arah ke rumahmu?"

"Belok kanan lalu lurus. Pas jalan buntu, itu udah di depan rumahku."

Setelah Sasuke mengangguk singkat, suasana hening mulai terasa lagi. Tidak ada obrolan maupun putaran lagu dari koleksi music player di mobil. Gadis pink itu lama-lama menghela nafas panjang, lalu memberanikan diri untuk melirik ke arah Sasuke yang masih fokus menyetir.

"Kamu..." Sakura memberi jeda sebentar. "Kenapa bisa ada di sini?"

Sasuke tidak menjawab.

Sakura menunduk, mencoba mencari cara untuk menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran tentang kehadiran Sasuke yang begitu tiba-tiba ini. Ditelannya segala ketakutan yang sebelumnya ia rasakan, lalu ia akan kembali bertanya. Namun belum sampai kalimatnya keluar, Sasuke sudah memotong.

"Aku cuma lagi jalan-jalan dan ngga sengaja bertemu dengan mobilmu."

Sakura berpikir. Alasan itu memang sedikit masuk akal, sih—ya, tapi hanya sedikit. "Lalu... apa kamu melihat orang-orang menyeramkan yang sempat menggangguku itu?" Tanyanya buru-buru menggunakan nada menuding.

"Ngga."

"Ah, jangan-jangan kamu yang mengusir mereka!?"

"Bukan aku."

"Eh?"

"Lagian aku ngga ngeliat apa-apa."

Sakura terdiam sebentar. "Bohong! Aku ngga percaya!"

Helaan nafas Sasuke terdengar berat. Namun, tanpa disadari sudut bibir Sasuke naik satu mili. "Orang sepertiku ngga akan bisa berkelahi."

Sakura mengerjap pelan. "Benar juga, kamu adalah orang cupu yang ngga bisa apa-apa..." Intonasi Sakura semakin merendah.

Ia hela perlahan nafasnnya lagi dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya tentang Sasuke yang ada di penglihatannya. Menurutnya, orang itu tidak akan bisa berkelahi. Kalau bisa, kenapa Sasuke tidak menghajarnya dari dulu? Bukannya Sasuke terus saja dia tindas tanpa perlawanan? Jadi... benar, kan? Mana mungkin Sasuke bisa berkelahi.

Tapi, mendadak mata Sakura terbelalak saat ia melihat segaris darah di antara bibir Sasuke yang sedikit... sobek?

Luka baru.

Sontak saja Sakura mencengkram seragam Sasuke. Tatapan gadis itu lurus menghadap wajahnya. "Bibirmu itu bekas apa?"

Tanpa sadar Sakura mencondongkan tubuhnya ke Sasuke yang berada di kursi kemudi. Tangan kanannya memegang erat lengan atas Sasuke, sedangkan tangannya yang satu lagi berusaha membuat Sasuke menghadap ke arahnya.

"Bisa ngga diam dikit? Aku lagi nyetir."

Sasuke pun menepis tangan Sakura dari pipinya, dan menatapnya dengan pandangan sinis. Tapi, Sakura belum mau menyerah. Dipandanginya sekitar wajah Sasuke dengan tatapan jeli. Tidak ada luka lain.

Di detik itulah Sakura melemas di tempat duduknya lagi.

Ia bingung kenapa bisa-bisanya menyangka Sasuke—yang di matanya terlihat sangat lemah itu—menyelamatkannya. Sekilas Sakura menoleh ke Sasuke.

"Kalo memang kamu yang beneran menolongku, kenapa ngga mau ngaku?"

Sasuke memilih untuk diam.

"Sasuke..." panggilnya.

"..."

"Sasuke!" diguncangkannya tangan Sasuke sampai pria itu menatapnya

"Apa?"

"Jawab aku, kamu yang menolongku... atau bukan?" Desaknya.

Kemudian Sasuke berdecak malas dan mengabaikan Sakura lagi. Dia kembalikan tatapannya lurus ke depan.

"Denger, ya! Kalo benar ternyata kamu yang menolongku, aku bukannya mau mengucapkan terima kasih untukmu!" Karena kesal, Sakura pun berteriak. "Aku cuma mau bilang ngga perlu sok pahlawan di depanku! Ingat itu!"

Ckiiiit!

Suara rem yang mendadak diinjak itu sedikit membuat tubuh keduanya maju sedikit dan kembali terlempar ke senderan jok.

"Ini rumahmu." Ujarnya sambil melepas seat belt. Tampaknya ia sama sekali tidak ada niat untuk menjawab pernyataan terakhir Sakura. "Sampai jumpa."

Sepeninggal Sasuke, Sakura tidak langsung turun dari mobil. Gadis itu merenung dulu dan barulah menghembuskan nafas beratnya.

"..."

Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Entah kenapa ada rasa sesak di hatinya.

"Dasar Sakura bodoh..."

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di perjalanan pulang, bersama motor besarnya, Naruto menelusuri jalan raya. Tatapan si pemilik iris sapphire itu terpaku lurus ke depan, konsen dengan beberapa mobil yang sempat menghalangi dirinya untuk ngebut. Sampai akhirnya di sebuah perempatan jalan, sebuah lampu lalu lintas sudah menunjukan tanda kuning—yang berarti harus berhati-hati karena sedikit lagi lampu merah akan menyala.

Naruto memang sempat mengencangkan gasnya. Namun sesaat ia melintas, lampu yang terpajang di sana berubah menjadi merah—tanda tidak ada yang boleh lewat lagi. Sambil berdecak kesal ia menekan kendali untuk berhenti.

Diliriknya angka berwarna merah yang menunjukan berapa lama lagi ia harus menunggu untuk diperbolehkan melaju. "Haaaah? Harus nunggu 100 detik lagi? Tsch, lama gilaa!"

Pria itu berteriak, tidak peduli dengan orang-orang dari jejeran belakang yang mendengarnya. Tapi berkat hal itu juga, seorang pria yang sedang menaiki mobil hitam yang berada di sebelahnya menoleh kepadanya. Orang yang ada di sana terdiam sebentar dan barulah ia membuka jendela, sehingga memperlihatkan seseorang yang berambut senada dengan warna mobilnya, hitam.

"Lama tak jumpa, baka-san."

Naruto menatapnya menggunakan tampang kesal. Baru saja ia ingin menghajar orang yang dengan seenaknya mengatakan hal itu kepadanya. Namun saat melihat pria yang cukup familiar di matanya, ia hanya bisa mendengus. "Kau masih orang yang menyebalkan, Sai."

"Terima kasih." Jawabnya santai. "Bagaimana kabarmu?"

Naruto mengerucutkan bibirnya lalu menaruh persilangan tangannya ke belakang kepala. "Yah, lagi ngga terlalu baik sih. Ngga tau kenapa akhir-akhir ini semuanya jadi melelahkan."

Sai sedikit tertawa. "Kau kena skorsing lagi, eh?"

"Cih, kau tau aja."

"Di SMP aku udah terlalu sering melihatmu berulah." Berhubung mereka memang saling mengenal satu sama lain sejak sekolah tingkat menengah, Sai kembali mengenang masa-masa tersebut sambil tersenyum tipis. "Memangnya kau berulah apa lagi?"

Naruto mendesah pasrah. "Aku lagi ngga ngapa-ngapain. Cuma ada kesalahpahaman yang membuatku di-skorsing sampai dua minggu. Dan kau harus tau, itu melelahkan, apa lagi minggu depan udah ada acara outing seangkatan."

"Sebenarnya outing itu menyenangkan, cuma kaunya saja yang terlalu malas. Di buku panduannya saja tertulis masing-masing angkatan akan saling bertambah rasa solidaritasnya karena kegiatan tersebut—"

"Ya, ya, ya... terserah apa katamu." Naruto menghela nafasnya. Ia terlalu bosan untuk mendengar sipnosis dari segala bacaan yang sempat dihafal oleh Sai.

Tanpa merasa kesindir—karena sudah biasa—Sai tersenyum, lalu ia kembali membuka topik dengan sesuatu yang baru. "Ah, apa kau tau ada dua sepupuku yang jadi anak baru di sekolahmu?"

Naruto menoleh kepadanya dengan alis yang sudah naik sebelah. "Siapa?"

"Mereka kembar dan kupikir cukup mencolok untuk diingat."

"Eh, kembar?" Terlintaslah kedua wajah Sasuke dan Hinata. Bisa saja mereka berdua adalah sepupu Sai, kan? Karena lumayan ragu Naruto bertanya. "Emangnya nama mereka siapa?"

"Sasuke Uchiha dan Hinata Uchiha."

Kedua alis Naruto sontak saja bertautan. Ternyata benar. Inginnya sih senang karena ia baru tau kalau Hinata juga merupakan sepupu dari Sai, tapi ada sebuah perasaan dari dalam diri yang memaksanya untuk bereaksi datar. "Mereka ngga semenarik itu..."

Namun ia kembali mengingat-ingat beberapa perilaku menyebalkan yang kadang ditunjukkan oleh si kembar tersebut. Terutama Hinata yang diawalnya selalu memunculkan kejadian-kejadian menyebalkan semenjak ia bertemu dengannya.

"Apa? Kau ngga tau, eh?"

"Tau apa?"

"Mereka kan punya eksistensi yang tinggi di sekolah sebelumnya. Mereka hanya berpura-pura baik di sekolahmu, terlebihnya... Sasuke."

Kali ini Naruto mengernyit. Tatapannya berubah menjadi serius. "Apa? Pura-pura baik?"

DIN DIIN!

Suara klaksonan mobil yang terdengar dari belakang mengagetkan mereka berdua. Setelah Naruto mengumpat ke orang yang berani-beraninya seperti itu padanya, ia kembali memandang Sai yang juga belum maju.

"Ayo ke cafe yang itu dulu. Kau harus bercerita banyak tentang si Uchiha itu." Pintanya sambil meminggirkan motor besarnya.

Sai tersenyum kecil. "Seperti biasa, kau memang selalu membuatku susah, Naruto..."

"Ck, kau akan kutraktir rokok sama kopi di sana. Kurang baik apa lagi aku padamu, hah?"

Sai sedikit mengangguk, dan barulah ia mengikuti Naruto. "Tapi sayangnya aku mau yang lebih mahal dibandingkan rokok dan kopi."

Naruto sweatdrop. "Iya, Iya..."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Ada yang masih ingat Sai? Sai itu sepupu SasuHina (pernah muncul di chap 1). Dan kalian bisa nebak sendiri kalo ada tanda-tandanya identitas SasuHina bakalan ketauan sama Naruto XD

Ohya, untuk yang kepengen NaruHina jadi banyak. Aku minta maaf karena lagi-lagi ini SasuSaku-nya kebanyakan. Tapi tenang aja... tuh, Naruto udah tau rahasia Hinata. Dan scene besar untuk besok adalah~ Naruto marah :D

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

SR-chan, KarinHyuuga, Aam Tempe, suzu aizawa, Na Fourthok'og, suka snsd, LudiaCruel, Syarah, hinatalovers, Hanazawa Rui, Neerval-Li, Nara Kazuki, AlrenaRoushe, Chappy Siegrain Fernandes 09, Classico Blu, UQ, Indi S-chan, Hoshi Yamashita, Ice Cream Blueberry, Andromeda no Rei, love sasuhina, Hyuna toki, Nina, Onyx Sharingan, Guest, Nattually males login, Billist, Meihan, Yamanaka Emo, Easy Breezy Rega Lee, senayuki-chan, Hina chan, uchiha-kun, dflamer.

.

.

Pojok Bales Review :

Aku suka banget sama fict ini. Terima kasihh. Rasanya SasuSaku yang dominan. Iya, ya? Entar NaruHina bakalan ada porsi besarnya kok. Perbaiki typos-nya, ya? Oke. Penasaran sama nasib Hinata selanjutnya. He'eh. Sakura kayaknya bener-bener ngamuk ya sama Sasuke? Di chap ini kemarahannya udah lumayan reda. Apa Sasuke ngga tau insiden kesalahpahaman NaruHina? Tau. Pengennya Sasuke ngamuk ke Naruto gegara ngedeketin Hinata—biar Naruto makin berjuang dapetinnya. Hmm... ada scene itu ngga, yaa? ;) Deskripsi tentang Sakura dasyat gila. Dasyat di mananya? Wkwk. Kenapa harus SS? Sakura itu -piip- Don't like don't read :) Untuk zo, aku tau kamu suka SH, tapi jangan bersikap childish seperti flamer itu, ya? Ngga kok. Aku suka SH bukan berarti aku benci SS, kan? Lagian aku netral kok. SasuSaku diperbanyak, ya? Doain aja... Terlalu banyak SasuSaku, makanya ku-skip. Gpp, itu hak kalian sebagai pembaca. Anggapanku untuk Sakura, dia itu beban. Anggapanku untuk Sakura, dia kunoichi yang hebat :) Di perjanjian NaruSaku, aku dukung Naruto menang. Iyaa, amin. Aku suka sama NaruSaku yang ada di sini. Terimakasih. Sakura-nya IC. Iya, ya? Kurasa masih OOC, loh. Tapi tetap terimakasih... Siapa di antara Sasuke dan Hinata yang kedoknya pertama kali ketauan? Hm... Menurutku kedok pertama yang ketauan tuh Sasuke. Iya, ngga ya? Kok chap 5 pendek sih? Chap ini 6k+ words loh, semoga puas. Udah buat sebelas chap, tapi kok ngga cepet update? Soalnya aku hobi ngaret (tanpa disengaja). Buat adegan SasuSaku di salon, dong. Salon? Dipikir-pikir dulu, ya? Kalimat baku dan ngga bakunya nyampur, ya? Iya. Ngga baku di dialog, dan baku di sisanya. Tapi sekarang udah sedikit kuedit kok. Moga SasuSaku ada perkembangannya juga kayak NaruHina. Amin. Shion jadi OOC. Iya, abisnya aku bingung siapa pihak ketiga di SasuSaku :\ Jadi kalau ada readers yang minta fict ini jadi yaoi, kamu akan ngeubah plot yang kamu rencanain? Nggalah. Itu melenceng banget namanya. Katanya perhatian sama reviewers, tapi kok kamu malah nyuruh readers yang kecewa sama fict ini untuk nge-unfave? Jadi aku harus bilang apa? Dia kan udah kecewa—dan belum tentu juga dia mau baca fict ini lagi—masa aku harus bilang 'KAMU WAJIB BACA FICT AKU SAMPAI HABIS'? Ngga, kan? Maaf sebelumnya, tapi saya bukan Anda yang tau harus berbuat apa :) Bisa nanya kenapa SasuHina kurang deket, ya? Kalo misalnya Sasuke keliatan banget rasa sayangnya sama Hinata, Sasuke bakalan OOC. Dan aku kurang suka kalo Sasuke OOC. Buat Sasuke jadi cemburu dong. Masalahnya Sasuke cemburunya pas liat Sakura sama siapa nih? :\ Ini tokoh utamanya SasuHina, kan? Kok rasanya jauh lebih banyakan NaruSaku? Itu dia masalahnya. Tapi ngga mungkin banget deh kalo aku pindahin ini ke archive NS :| Kenapa Sasuke mau jadi pembantunya Sakura? Karena apa, ya? -_- Author sok netral sepertimulah yang biasanya memancing pair war dari belakang. Aku ngga ngerasa kayak gitu karena aku memang menghargai semua pairing yang ada di FNI :)

.

.

Next Chap :

"Apa Sasuke-nii sakit?"

"Bolos, yuk?"

"Na-Naruto-kun... ke-kenapa kita berhenti di sini?"

"Aku muak sama orang bermuka dua sepertimu."

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU