"Jisoo-ya," Seokmin mencoba menahan airmatanya yang nyaris turun dengan cara tertawa yang dibuat-buat, "Haha, kau kira ini april mop? Jangan bercanda!"

Jisoo menatap Seokmin kesal, "Aku serius, Lee Seokmin. Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menganggu hubunganku dengan Hannah?"

Yang ditanya hanya tersenyum miring, "Oh, rencana jahatku sudah ketahuan ya?" Seokmin berjalan perlahan mendekati Jisoo.

"M-Maksudmu?" Jisoo mencoba untuk tidak ikut berjalan mundur. Walaupun ia berikir bahwa kejadian itu akan terulang lagi, ia berusaha untuk tidak terlihat lengah di hadapan adik kelasnya.

"Kau tahu," jarak Seokmin dan Jisoo hanya tinggal lima senti, maju sedikit saja bibir mereka sudah saling bertemu, "Aku bukan berniat menjalani hubungan sialan ini denganmu. Aku hanya memintamu untuk jadian denganku. Dan putuslah dengan Hannah, dia tidak cocok denganmu."

"Kau kira aku apa?!" Jisoo meninggikan nada bicaranya, ini sudah melewati batas menurutnya, "Dengar, aku sudah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun dan dengan seenaknya kau mengatakan untuk mengakhirinya dan berakhr denganmu? Aku sangat mencintainya, dia juga sangat mencintaiku. Dan, aku masih normal. Tidak sepertimu, bocah kurang ajar!"

Jisoo merasa bahwa berbicaranya ini sudah keterlaluan. Tapi ia merasa tidak menyesal. Seseorang seperti Seokmin harus dijelaskan dengan cara yang keras. Persoalannya, umur Seokmin tergolong umur yang sedang labil, sedang menginginkan segala hal apa yang ia mau. Termasuk menginginkan Jisoo menjadi miliknya? Ayolah, bahkan ini lebih horror dari film yang ditontonnya setiap malam jumat.

Suara desas desus siswa-siswi yang kebetulan sedang berada disana melihat kejadian secara langsung membuat mereka kaget dan kebingungan. Mereka yang tidak pernah melihat seorang Hong Jisoo marah membuat berbagai macam reaksi seperti,

"Ah, beraninya dia membentak adik kelasnya."

"Apakah dia tidak diajarkan tata krama? Aku merasa kasihan melihat Seokmin seperti ini."

"Jadi selama ini sifat ramahnya pada semua orang hanya topeng semata?"

Jisoo mencoba untuk tidak mempedulikan mereka, biarkanlah orang berkata apa. Ini hanya masalah mereka. Tidak ada hak bagi orang lain untuk ikut campur.

"Bagaimana kalau aku bisa membuatmu belok, hm?" Belum Jisoo menjawab, bibir kucingnya sudah diraup secara rakus oleh adik kelasnya. Seakan-akan bibir itu merupakan ganja yang bisa membuatnya kecanduan untuk terus mencicipinya. Seokmin merasa sudah puas dengan bibir itu dan mengakiri ciuman mereka dengan mengigit bibir bagian bawahnya.

PLAK!

Dan pria bermarga Hong itu respon menampar pipi yang lebih muda darinya.

Seokmin kaget dengan aksi Jisoo tadi, bekas luka dari bibir yang lebih tua ia menjilatnya tanpa rasa jijik. Ia tidak mempedulikan rasa panas di pipinya, hanya ada rasa cemburu disana.

"A-apa yang kau lakukan?!" Jisoo merasa airmatanya perlahan menuruni pipi tirusnya, rasa marah, benci, kecewa bercampur jadi satu. Mengira bahwa Seokmin bisa menghargai dirinya, menghargai hubungan yang sedang dijalankannya bersama seseorang yang sangat ia cintai.

"Aku? Mencoba membuatmu cinta kepadaku. Salah?" tanya Seokmin sambil berani mendekati Jisoo dan membersihkan darah yang masih mengalir dari bibir yang paling tua dengan tangannya.

Jisoo langung menghempaskan tangan yang lebih muda begitu saja, "Kau salah langkah sejak awal."

"Dan kenapa kau menerima tawaranku dari awal?"

"Karena-" Ah, benar juga. Kenapa ia menerima Seokmin begitu saja? Apa karena dengan kemurahan hatinya-

ia merasa dimanfaatkan?

"Kau kalah, Jisoo. Kau sudah masuk ke perangkapku. Lihatlah, bahwa aku bisa menjadi pemutus hubungan kalian."

"Kau berani mendekati Hannah? Aku tidak segan untuk memotong jarimu, keparat!"

Jisoo benar-benar lelah akan semua ini. Ia memilih untuk mencoba berdiri, membuang makanannya (ia sudah tidak bernafsu lagi, sungguh) dan berlari meninggalkan kantin yang semakin riuh.

"Seokmin. Lihatlah apa yang kau perbuat sekarang," kata Soonyoung dengan nada kecewa.

Wajahnya tidak menyiratkan tanda penyesalan sama sekali. Rasa cemburu dan egois sudah bercampur menjadi satu dan memupuk di hati anak kelas 10 itu. Soonyoung dan Chan tidak mengerti terhadap sahabat mereka. Sebegitukah terobsesinya seorang Lee Seokmin untuk mendapatkan Hong Jisoo?

"Kalian diam saja, tidak tahu 'kan seberapa besar cintaku in terhadapnya?"

"TETAP SAJA BODOH KAU MELUKAINYA!" Soonyoung nyaris saja ingin memukul wajah si bejat Lee tapi Chan mencoba untuk menahan yang lebih tua.

"Soonyoung hyung," Chan menepuk pelan punggungnya, "Biarkan dia selesaikan masalahnya sendiri. Seokmin hyung, jangan berani menyakiti Jisoo lagi atau kau yang akan kupukul setelah ini."

"Oh lihatlah betapa beraninya kalian sekarang kepadaku? Ternyata lebih membela si jalang- Ups, aku lupa memberi tahu kalian."

Chan langsung mencengkram kerah seragam Seokmin dengan kesal sebelum pukulan menghampirinya.

"Tahu Seungcheol hyung dari 12-4? Dia pernah mencium Jisoo di toilet pria dan mereka hampir saja bercinta! Itu karena Jeonghan hyung yang menyelamatkannya. Ck, dia itu lemah sekali ternyata."

"Berhenti mengatakan dia lemah atau-"

TING TONG TING TONG!

Soonyoung merasa bersyukur kepada bel yang berbunyi menunjukan waktu istirahat sudah berakhir. Kalau tidak, kantin ini sudah menjadi area tinju sekarang. "Chan, kembali ke sekolah. Dan kau, jangan berani mendekati Jisoo hyung atau nanti kau yang akan mendekati ajalmu."

Mereka berdua meninggalkan pria berhidung mancung itu yang ternyata diam-diam tertawa licik, 'Haha, aku jamin bahwa Hong Jisoo bisa jatuh dalam perangkapku. Karena aku, Lee Seokmin, harus mendapatkan apa yang ia mau.'


Pria dengan bibir berbentuk kucing itu sedang menahan sakitnya dengan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru dengan corak awan. Dari bel pulang sekolah, ia langsung mengambil tasnya meninggalkan kelas yang membuat Jeonghan bingung. Pasalnya, Jisoo mencoba untuk tidak menangis lagi setelah kejadian di kantin tadi. Dia merasa lemah sebagai seorang pria. Merasa tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Merasa lemah dihadapan orang-orang itu. Sekarang, Jisoo bisa menumpahkan perasaannya dengan menangis sepuasnya sampai ia tertidur. Tapi, suara ponsel menganggunya. Ia melihat nama kontak di layarnya.

Hannah meneleponnya.

Lupa bahwa ia berjanji akan menelpon Hannah lagi seusai pulang sekolah, ia memutuskan untuk mengangkatnya.

"Hi?"

"I'm sorry. I forget to call you."

"No problem. Wait, I feel something's wrong. Are you okay, there?"

Jisoo merasa jantungnya brdetak dua kali lebih cepat dibanding sebelumnya. Apa Hannah tahu dia sedang dalam masalah?

"I-I'm Okay. Hahah, how about you?"

"Don't lying, Mr. Joshua Hong. I know you have problems with- wait who his name? Suckmin? Shockmin?"

Jisoo tertawa, Hannah merupakan obat kebahagiaan untuknya, "You're wrong, Ms. Middleton. He's Seokmin, my junior-"

"Okay, just to the point. What happened between you two?"

Pria itu menghela nafas dan menceritaka semua dari setelah Jisoo memutuskan kontaknya dengan Hannah sampai ia meninggalkan kantin. Tanpa sadar, airmatanya mengalir membasahi pipi tirusnya. 'Hah, kenapa aku lemah sekali?' batinnya.

"He likes you?! Like- The fuck?! How dare he was kissed your lips? And he said he want us to break up? Damn, I'm gonna break his fucking neck than after his words! He doesn't know that I take karate at school?"

"Hannah. Stop cursing. I'm trying to solve it by myself-"

"It seems impossible! Look at what have he done! Now people dubbed you human with two faces because of that accident! Shit, they didn't know how kind and generous he is. That's why I thought he's an angel from heaven when I first saw him!"

Jisoo memang sengaja tidak menceritakan tentag bagaimana bibirnya dicium oleh adik kelasnya sampai berdarah. Ia hanya takut Hannah khawatir padanya. Ia

"Josh?"

"Hm?"

"Do you mind for wait a minute? I have to do something right now. Don't turn it off."

Ia mendengar suara ketikan computer Hannah. Dia jadi penasaran, apa yang sedang dilakukannya. Beberapa menit kemudia ia mendengar Hannah berteriak ke Ibu dan kakaknya untuk menitip sesuatu. Sayangnya Jisoo tidak mendengarnya terlalu jelas. Lalu bunyi mobil? Memangnya dia mau kemana?

"Hey, guess what? I'm going to the airport!"

"Where do you go?"

"South Korea to remove his mark from your lips!"

"What? W-wait you mustn't-"

"I must meet you, Josh. Make sure you feel safe in my arms. Oh what a gentleman I am. Don't worry I have told my mom for make school licence. And my sister to tell my friends I'm not go to school for few days."

"You are so obstinate, dear."

"Same with you. Oh shit, my battery is going to dead! I remember I shouldn't have to cursing. Excuse me Sir, do you have powerbank? No? But I need to stay contact with him! Joshua, I'm so sorry, I don't call you until I arrive in the airport."

"Huh, you are so noisy. Make sure everything's okay there and- hey, do you know my address?"

"Do I look care? Hahah, I know it, dear. I saved it clearly on my genius brain. Can't wait to see you in next 6 hours! Bye, I love you!"

"Love you too! Remember don't-"

Saat Jisoo mau berbicara lagi, sambungan terputus. Betapa teledor kekasihnya itu. Baterai lemah, lupa membawa powerbank dimana ia sangat bersemangat untuk datang kesini. Tapi ia juga khawatir dengan daftar absen anak itu di sekolahya (Hannah bukan tipikal yang hobi membolos, ia sangat rajin sehingga tidak ada absennya yang bolong). Dia hanya bisa berdoa agar Hannah baik-baik saja dan bisa sampai disini dengan selamat.

Dengan tidak sadar, Jisoo memejamkan matanya dan tertidur.


"Joshua, bangun."

Suara lembut sang Ibu membangunkannya. Jisoo langsung bangun sambil mengusap matanya, "Ada apa, Bu?"

"Kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Ibunya sambil mengelus surai hitam anaknya.

Jisoo mengerjapkan matanya bingung, "Tidak kok."

"Aih, yasudah," pandangan Ibunya beralih ke seorang perempuan yang berada di bilik pintu kamar Jisoo, "Hannah, I think Joshua forgets that you are come today."

Mata Jisoo langsunng membalak kaget, ia melihat Hannah di depan pintu kamarnya dengan bomber jacketnya (ia ingat karena itu pemberiannya saat Hannah ulangtahun) dan celana jeans, jangan lupa tas travelling hitam di bahunya. Astaga, kenapa ia bisa lupa bahwa pacarnya datang ke sini?

"Aku kecewa, aku dilupakan," kata Hannah dengan bahasa Korea yang masih kental degan aksen Amerikanya sambil pura-pura bersedih.

Pria bermarga Hong itu langsung memeluk wanita itu, "Iya, iya. Maaf ya sayang, hehe." dan disambut dengan pukulan di bahunya membuat Jisoo mengaduh kesakitan.

Ibu Jisoo hanya bisa menghela nafas, "Dasar anak muda, kalian berbicara saja dulu sebelum aku panggil kalian buat makan malam. And Hannah, you will sleep next to Joshua's room. Okay?"

"Okay Mom!"

Tidak beberapa lama, Ibu Jisoo langsung meninggalkan kamar. Ibunya percaya bahwa mereka menjalani pacaran yang sehat, makanya beliau santai saja membiarkan mereka berdua saja.

"So, let's talk about," Hannah menjeda pembicaraannya dan beralih ke bekas luka di bibir pacarnya, "WHAT THE FUCK IS HAPPENING WITH YOUR LIPS?!"

Jisoo dengan wajah santainya berkata, "Oh, it's because of that boy."

"I was forgot, I come hear to remove his mark and about your lips. Ugh, nevermind. Did he kissed your cheeks, too?" tanya Hannah sambil mengelus pipi Jisoo.

Jisoo pun merona dibuatnya, "N-no! How can you think about th-" Jisoo pun berhenti berbicara karea Hannah tiba-tiba saja mencium pipinya berkali-kali, "You better stop, Middleton!"

"No way! I'm sure he makes a lot of mark here or maybe in your neck?"

Jisoo pun langsung beraksi dengan mencium bibir Hannah, "Ck, biar kamunya diam. Tidak baik ribut di rumah orang, apalagi rumah pacarnya."

Hannah hanya melihat Jisoo kebingungan, tidak mengerti apa yang dibicarakannya tadi, "Hahaha, nevermind. So, how long will you stay?"

"1 week. I also want to sign up to be a student in your school."

"What?"

"To give him some punches that he has hurt my boyfriend."

Jisoo yang langsung tidak setuju, mulutnya sudah dikunci dengan telujuk Hannah menandakan untuk diam.

"Joshua, listen," kata Hannah sambil menangkup kedua pipi Jisoo, "I want to protect you. I don't want him to hurt you a lot. Don't feel guilty. We should care someone that we love, right? I remember when I was bullied by my classmates, you came to fighted them. And I think this is the time to repay your kindness."

Jisoo benar-benar tersentuh saat mendengar kata-kata dari Hannah. Mereka mencoba untuk saling melindungi satu sama lain. Mencoba untuk saling mempertahankan sehingga tidak ada satupun yang pamit untuk pergi.

"Now," Hannah menautkan jari kelingkingnya dengan jari Jisoo sambil tersenyum. "I won't let somebody hurt you. So do you. There is no 'over' in us. I want we can be together until we get married, until we have child of our own, until we are grandparents. Promise?"

Malam ini, bersama Hannah, Jisoo merasakan hatinya meletup-letup, merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Ia tidak menjawab tapi langsung memeluk perempuan yang ia cintai. Tanda bahwa ia berjanji. Berjanji bahwa mereka akan tetap bersama, walaupun ada yang mencoba memisahkan mereka.

'Terimakasih Tuhan, Kau memberikanku seorang malaikat tanpa sayap yang setia bersamaku.'


!TBC!

Akhirnya aku apdet hehe:))
Aku berniat untuk double update hari ini, tapi masih pada mau menunggu sampai ff ini end kan?:"
Pricelist konser SVT keluar kemarin:" Uangnya sih ada, restunya yang ngga ada:"
Ada yang nonton tidak? Aku cuma mau nitip streaming aja ehe:"

Bales review dulu ah:"

7D: Aku sedang berusaha kaka, untuk memisahkan mereka:" -lsm.
CaratARMYmonbebe: Semangatin aku ching:" -lsm

Aku butuh review kalian gengz, bilang aja kalo kata2nya kebanyakan gpp ntar aku pendekin lagi:"

Yang masih galau konser,

username-ssi