…
Dangerous Chanyeol
By Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to me, but the character not be mine
Main Cast: Baekhyun; Chanyeol
Other: Chanyeol; Kyungsoo; Sehun; Luhan; Kyuhyun
Pairing: Chanbaek / Baekyeol, Hunhan, Kaisoo
Setting: AU
Genre: Crime—Romance
Rated: M.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publish, no plagiat, yes to like and comment
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
...
Note: Paragraf bergaris miring menandakan flashback (kejadian masa lalu) dan POV dari seseorang.
...
.
.
.
.
.
...
Years: 2005
Sebuah kamera berlensa teropong di atas salah satu rak belajar Chanyeol itu, selalu menarik perhatianku. Aku tak pernah melihat ia menggunakan kamera tersebut. Apa itu sengaja dipasang untuk sekedar pajangan saja? Sangat disayangkan kalau kamera teropong yang terlihat mahal dan terlihat sama dengan yang biasa dipakai fotografer itu, hanya digunakan sebagai perias lemari saja.
"Apa kau tertarik dengan itu?"
Aku tersentak dari pengamatanku di depan rak belajar, menerima sepasang lengan yang tiba-tiba melingkari bahuku dari belakang, suara berat Chanyeol yang seharusnya terdengar biasa itu malah membuat tengkuk-ku menjadi geli.
"Kalau kau mau, aku bisa memberikan kamera itu padamu."
Aku menggeleng. "Aku tak tertarik dengan fotografi." Tanganku bergerak meraba punggung tangan Chanyeol di depan dadaku. Penyakit jantung yang selalu kualami saat melakukan kontak fisik dengan Chanyeol bukan lagi jadi masalah bagiku, aku malah sangat menikmati debaran jantung ini.
"Apa tak ada hal lain yang membuatmu tertarik selain berkelahi?" tanyanya sambil menyandarkan dagunya di atas kepalaku.
Dia jelas sedang menyindirku. Aku mempoutkan bibirku kesal sebagai jawabannya. "Apa itu pandanganmu tentangku? Anak yang suka berkelahi?" Aku mendesah. "Asal kau tahu saja. Bukan aku yang memulainya, mereka saja yang sok dan sering menantangku."
"Mereka tidak mungkin menantangmu kalau bukan kau duluan yang menyombongkan diri."
Dia benar mengenai itu, jadi aku tak bisa membalasnya dan hanya bisa mengerecutkan bibirku makin kesal sambil bergumam menyebalkan.
"Jangan terlibat dalam perkelahian lagi."
Aku berhenti bergumam sendiri, menoleh ke samping sambil mendongak. Melihat Chanyeol yang masih memelukku dari belakang.
"Apa?"
"Aku serius dengan ucapanku Baekhyunie, jangan terlibat dalam perkelahian lagi. Aku tak mau melihat kau terluka lagi."
"Memangnya kapan aku terluka?"
"Ujung bibirmu yang berdarah waktu itu."
"Itu bukan luka parah."
"Tetap saja kau terluka."
"Jangan terlalu berlebihan Yeolie."
"Jangan keras kepala. Aku tak akan segan memberimu hukuman lagi kalau kau terlibat dalam perkelahian yang sama."
Aku mendengus. "Apa kau akan menyuruhku membersihkan toilet sekolah lagi?"
"Ani," ia menggeleng singkat. "Aku akan menyuruhmu untuk membersihkan tubuhku saja."
"A-apa?! YACH!"
Aku merona. Dia malah tertawa. Membuatku dengan kesal melepaskan rangkulannya —ngambek. Tapi Chanyeol menarik lenganku, memutar tubuhku dan kembali memeluk pinggangku dari depan. Ia menurunkan wajahnya, aku dengan gugup memundurkan kepalaku. Mataku sedikit mengerjap sambil memandang wajahnya yang sangat dekat. Bibirnya berkedut, lalu melengkung membentuk sebuah senyuman manis sambil memandangku lekat —tampak bahagia.
Wajahnya benar-benar tampak sangat bahagia. Bahkan aku seolah bisa melihat matanya yang lebih berbinar menatapku. Aku ikut tersenyum, menunduk sekaligus balas merangkul lehernya dan membenamkan wajahku di dadanya. Jujur, ditatap seperti itu oleh Chanyeol membuatku malu.
Tangannya menahan punggungku dalam pelukannya. Kami berpelukan dalam diam, dan saling tersenyum. Benar-benar menikmati kebersamaan kami yang tampak damai seperti ini.
"Sepertinya kau memang harus bermalam di sini, Baekhyunie."
"Hm?"
"Di luar masih hujan deras."
"Oh," tanpa melepas pelukan kami, aku melirik jendela kamar Chanyeol. Langit di luar sudah gelap, dan hujan yang sempat berhenti saat matahari terbenam, kembali menyiram bumi dengan derasnya. "Aku tidur di mana?" pertanyaan bodoh karena sebenarnya aku cukup tahu di mana aku akan tidur, tapi sedikit memastikannya tak apa kan?
Chanyeol tak menjawab. Kepalanya yang berada di atas bahuku bergerak, menempelkan hidungnya di sisi tengkukku, menggosok kulitku di sana sambil menghirup sesuatu. Aku merinding sekaligus merasa geli diwaktu yang sama. Tanganku bergerak meremas kaos di punggungnya sambil ikut membenamkan wajahku yang memanas di pertengahan lehernya. "Yeol..." bisikku pelan ditelinganya. Bisa kurasakan suhu tubuhku mulai memanas sendiri dalam pelukan erat dan cumbuan bibirnya yang mulai menjalar di sisi leherku.
"Hm..." ia balas bergumam, tangannya yang sejak tadi mengelus punggungku mulai merambat turun, meraba bokongku. Aku mengemut bibirku sendiri, sebisa mungkin mencegah suara aneh yang keluar dari bibirku. Mataku yang terpejam erat malah membuatku bisa melihat gambaran tangan Chanyeol yang meremas bokongku dengan gerakan seduktif.
"Ngghh..." pada akhirnya aku malah mengeram tertahan di atas pertengahan leher Chanyeol.
Gerakan tangan dan cumbuan Chanyeol seketika terhenti. Saat aku mencoba untuk memusatkan perhatianku, aku baru sadar nafas Chanyeol di atas leherku juga sama memburunya denganku.
"Baekhyunie..." bisikannya yang pelan malah membuatku jadi bergairah. Entah libido macam apa yang berada dalam diri remaja ini membuatku tak ingin ia berhenti sampai di sini. "Kau sudah jadi milikku sekarang, kan?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu?" balasku kesal. Serius, dia benar-benar berhenti hanya karena ingin menanyakan ini. Aku baru saja ingin balas mencumbu lehernya ketika ia kembali berkata.
"Aku tak ingin kau menyesalinya," pelukannya kini berubah menjadi lebih posesif. "Mengetahui sekarang kau sudah menjadi milikku, aku tak tahu apa aku bisa menahan diriku lagi seperti waktu itu."
Aku tersenyum di balik bahunya. Mengetahui ia masih lebih mementingkan aku dari dirinya sendiri, itu jadi terdengar begitu manis.
"Kau tahu Chanyeol," dengan sengaja aku mulai mencumbu telinganya yang berwarna merah. "Aku juga seorang namja," bisikku, menyeringai mendengar ia menggeram pelan. "Aku juga tak tahu apa aku bisa menahan diriku untuk tidak menerjangmu kalau kau kembali meninggalkanku di tengah kegiatan kita dan lebih memilih menuju ke kamar mandi sialan seperti waktu itu." Aku tidak main-main dengan ucapanku, kuharap ia masih ingat saat aku nekat berlari ke arahnya dan menciumnya karena ia tak menciumku seharian waktu itu. Sekali lagi ku ingatkan, aku juga seorang namja yang bisa menyerang.
Chanyeol terkekeh pelan di atas bahuku, tangannya kembali bergerak meraba bokong dan pahaku. "Apa kau mencoba ingin menjadi Top dalam hubungan ini?"
Sebisa mungkin aku kembali menahan desahanku, tanganku yang agak bergetar meremas kaos punggungnya dan kembali mengemut daun telinganya, membuat telinga besar Chanyeol makin memerah menggemaskan. "Bukan kah memang aku yang top di sini?" balasku tak mau kalah, meski ku sadari suaraku sedikit bergetar di akhir kalimat karena tindakan Chanyeol yang kembali meremas belahan pantatku.
"Aku lebih tinggi darimu, Baekkie..."
"Tinggi badan tak bisa jadi patokan—Ahhh!" Aku tersentak, Chanyeol baru saja menekan bokongku, membuat sesuatu yang mengeras di bawah sana saling bertabrakan, mengirim getaran menggairahkan dalam diriku. Aku mengeras, dia juga. "Y-yeolie..." bahkan tanpa kuperintah, tau-tau sebelah kakiku sudah terangkat untuk melingkari paha Chanyeol.
"Lihat, kau tak bisa kalah dariku Baekkie..." Chanyeol menyeringai diantara cumbuan leherku.
Aku mengangkat kepalaku dari atas bahunya, memundurkan sedikit kepalaku untuk bertatapan dengannya. Kening kami bertemu, nafas kami bersatu di antara sela bibir kami. "Kita tak akan tahu kalau belum mencoba."
"Dasar tak mau kalah..."
Sekitar sepuluh menit kemudian, kami sudah saling menindih di atas ranjang Chanyeol. Beberapa kali tubuh kami yang menempel saling berguling, bergilir mengganti posisi sebagai di'atas'. Masing-masing pakaian sudah terlepas satu-satu, kecuali celana panjang Chanyeol yang benar-benar membuatku kesal dibuatnya. Ia sudah berhasil membuatku telanjang bulat, sementara beberapa kali aku mencoba memelorotkan celananya, selalu saja Chanyeol berhasil menggagalkannya. Entah itu dengan ia tiba-tiba menggulingkan badan kami, atau mendadak mencubit nipple-ku, atau dengan sengaja menggenggam bird-ku di bawah sana.
"Y-yeolie..." aku merengek ketika usahaku kembali gagal. Tanganku sudah mencapai pinggir celana Chanyeol yang sedang menindihku ketika ia —lagi-lagi— mendadak mengemut nipple-ku. "Hnggkh! Yeol, jebal..."
"Hm?" beserta dengan gumaman seksinya, tanggannya kembali membelai milikku dengan gerakan menggoda. Damn, andai bisa, aku ingin sekali memutar lagi badan kami, agar aku bisa menindihnya dan mengikat kedua tangannya dengan sesuatu. Tapi sayangnya, energiku benar-benar tak bisa fokus kali ini. Pikiran dan segala gerakanku sekarang sudah diluar kontrol, yang bisa ku lakukan hanya menerima, dan sesekali merespon dengan balas membelai apa saja yang bisa kucapai.
"Menyerah?"
Aku menggeleng lemah atas pertanyaan yang dibisikkan di telingaku. "A-aku—Hnggkh! Unmmm... Yeol!" punggungku melengkung ke atas. Tangannya tiba-tiba mengocok milikku dengan gerakan cepat. "S-stop—!" dia bahkan tidak memberikan aku waktu untuk bernapas. Kocokannya makin cepat. Nafasku memburu, bergerak gelisah di bawahnya. Matanya yang memandang lekat pada reaksiku sama sekali tak bisa membantuku mengotrol diriku sendiri. "Ahhhh! Chanyeoool..." aku mendongak, menggenggam erat lengannya sambil bergetar. Lagi-lagi aku yang jadi pihak 'datang' duluan karena permainan tangannya pada milikku di bawah sana.
"So sexy..."
Wajahku merona makin pekat mendengar gumamannya. Aku memalingkan wajahku, dengan nafasku yang terengah. Rasanya seperti dejavu ketika tiba-tiba terdengar bunyi derit ranjang, dan bayangan Chanyeol yang sedang menindihku perlahan menghilang. Seketika aku mulai panik saat peganganku pada lengan Chanyeol terlepas dengan gerakan tubuh Chanyeol yang menjauh dari atasku.
Tidak! Jangan pergi meninggalkan aku lagi ke kamar mandi!
Buru-buru aku ingin bangkit, baru setengah duduk ketika tiba-tiba titik sensitifku di bawahku tersentuh dengan manja. "Ahh!" badanku kembali terhempas dengan sendirinya di atas ranjang. Tanganku langsung meraih helaian rambut Chanyeol yang mencuat di antara selangkangku. Aku mengintip ke bawah, melihat bagaimana Chanyeol balas menatapku intens sambil mengngulum milikku. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa berhenti merona malam ini.
Kakiku bergerak gelisah di antara kepala Chanyeol yang memanjaku di bawah sana. Tangannya merambat menahan pahaku sambil merabanya, bergerak perlahan, menyelusup masuk di bawah pantatku. "Akh!" mataku berarir, merasakan jari Chanyeol memaksa masuk dalam lubangku di bawah sana. "Ahhh!" aku mendesah sambil memegang pucuk rambut Chanyeol ketika kepalanya tiba-tiba bergerak naik turun sambil mengkulum milikku. Rasa perih dari jari Chanyeol yang bergerak di dalam lubangku dan rasa nikmat dari gerakan lidahnya di antara kulit tegang penisku, menjadi satu, membuatku tak bisa berkosentrasi untuk merasakan salah satunya.
"Akh! J-jangan!" Aku menggeleng kuat sambil menjambak kepala Chanyeol. Astaga, dia menambahkan satu jari lagi di dalam lubangku! Jinjja! Ini tidak bisa— "Aahh! Ommona Umma!" Mataku melebar, badanku bergetar nikmat saat jari Chanyeol menekan sesuatu di bawah sana.
Samar-samar kudengar suara Chanyeol yang tertawa pelan. "Haruskah kau memanggil umma-mu saat aku berhasil menemukan prostat-mu?"
"Diam! Aku hanya—Ahh!" dia menekan jarinya lagi di dalam sana, dengan sengaja. Aku tak bisa menampik bahwa rasanya begitu nikmat, membuatku gila dan menginginkannya untuk ditekan lebih kuat lagi. Tanganku yang bergetar kembali meraih bahu Chanyeol yang kini sudah berada di atas tubuhku lagi. Mataku yang berarir menatapnya penuh harap.
"Wae?" ia bertanya innocent, dengan jari-jari yang masih berada di dalam lubangku, tapi tak lagi bergerak atau menyentuh sesuatu di sana. Aku tahu ia melakukannya dengan sengaja.
Sialan.
"Apa?" Ia balas menatapku dengan raut wajah —sok—penasaran. "Apa yang kau inginkan?"
Aku tak akan mau mengatakannya! Tidak akan! Tapi, rasanya begitu menjanggal karena jarinya tak bergerak di dalam sana. Pada akhirnya aku berinisiatif menggerakkan pinggulku sendiri, sambil mengedutkan lubangku. Mata Chanyeol melebar, bahunya terlihat tegang.
"Damn, Baekhyunie, hentikan!"
"Akh! Wae~" aku mengerang protes saat ia mengeluarkan jarinya tiba-tiba. Aku belum selesai! Seharusnya ia menyentuh titik itu lagi!
Chanyeol menindih badanku, menjatuhkan kepalanya di sisi telingaku. "Bantu aku membuka celanaku, Baekkie..."
Huh? Tadi dia berusaha menggagalkan aku untuk membuka celananya, dan sekarang dia menyuruhku untuk melepaskannya? "Kenapa tidak kau buka saja sendiri?" kesalku.
"Oh ayolah Baekkie, lakukan saja atau ini akan menjadi lebih lama."
"Cih, tidak hanya di sekolah, di rumah, di ranjang pun kau menyebalkan!"
Chanyeol terkekeh pelan di telingaku. "Kau juga. Tidak hanya di sekolah, di rumah, di ranjang pun kau begitu menggemaskan..." Satu kissmark lagi yang diciptakan Chanyeol di titik sensitif pertengahan leherku membuatku mengerang dan menggeliat. "Come on Baekkie, bukakan celanaku..."
Aku tak punya pilihan di saat seperti ini, lagipula aku sendiri sudah tidak tahan dengan semua godaan ini. Tanganku bergerak meraih karet pinggiran celana panjang di pinggul Chanyeol, menariknya turun, lalu menggunakan jempol kaki untuk mendorong celana panjang itu keluar dari mata kakinya.
"Bagian celana dalamnya juga."
Aku melototi Chanyeol yang sedang menyeringai di atasku. "Apa kau memang berencana mau menggodaku?"
"Tidak sayang, sejak awal aku memang SUDAH menggodamu." Chanyeol menuntun tanganku untuk meraih pinggiran celana dalamnya, sementara bibirnya mencumbu leherku lagi. "Jangan gigit bibirmu, Baekkie,"
"Mmhnn." Kami berciuman lagi. Tanganku bergerak gelisah untuk segera menarik celana dalamnya keluar. Chanyeol membantu dengan menaikkan sedikit pinggulnya. Begitu berhasil terlepas, Chanyeol kembali menghimpitku tanpa melepaskan ciuman kami. Menggosokkan dua benda panjang keras yang saling bertubrukan di bawah sana, membuat kami mendesah tertahan diantara ciuman kami.
"Oh, shit. Tunggu sebentar," Chanyeol beranjak dari atas tubuhku. Aku tak sempat mencegahnya pergi karena aku masih berusaha mengambil banyak udara setelah sesi ciuman dan sentuhan di bawah tadi. Aku hanya bisa memandang sendu pada Chanyeol yang berjalan dengan langkah lebar menuju lemarinya. Melihat punggung polos dan belahan pantatnya yang bergerak membuatku menjilat bibirku sendiri.
"Chanyeol~"
"Tunggu sebentar..." Chanyeol membuka lemarinya. Dari arah pandangku, aku bisa melihat ia mengambil botol lontion, menumpahkannya di telapak tangannya, lalu mengolesinya di kejantanannya yang menegang bergantung di bawahnya. Ia mengerang sambil mengurut miliknya sendiri dengan telinga yang berubah menjadi sangat merah.
Aku memalingkan wajahku yang memanas dari pandangan bergairah itu. Jantungku berdebar kencang. Tanganku merambat ingin meraih milikku sendiri, ketika sebuah tangan lain mencegahnya. Saat aku menoleh, aku melihat Chanyeol kembali menaiki ranjang dan menindihku.
"Tahan sebentar, ne?" Ia berbisik di telingaku, mengangkat sedikit kedua pahaku, melebarkannya dan memposisikan diri diantara pahaku. "Anggap saja kau tidak sengaja terkena pukulan saat kau berkelahi."
Aku memandang tak mengerti pada Chanyeol di atasku. Ia tersenyum, menunduk dan menciumku. Aku memejamkan mataku, menikmati sesi ciuman kami lagi sambil menekan tengkuk dan meremas pelan rambutnya.
Sebuah dorongan tiba-tiba yang terjadi di lubang bawahku menyentakku. Mataku terbuka lebar dengan linangan air mata yang langsung mengenang di bawah kelopak mataku. Rasanya sangat sakit, membuatku tanpa sadar menjambak rambut Chanyeol dan melepaskan tautan bibir kami. Aku menjerit sambil menangis.
"Keluarkan! Ahhkk! Chanyeol!"
"Mianhe..." ia mencium pipiku, menahan gerakan kakiku dengan menekan pahaku. "Aku janji ini tak akan lama."
"Apanya—akh!"
Ia mengemut nipple-ku. Badanku gemetar, air mataku mengalir dengan sendirinya. "C-cepat," aku meremas rambutnya di atas dadaku. "B-bergerak, itu sakit kalau diam saja bodoh!" aku mengumpat dengan suara parau.
Chanyeol mengangkat kepalanya, memandangku sendu. "Mian... Eunghh..." ia mengerang di atas bahuku, memulai bergerak sambil memejamkan matanya. "Astaga Baek, kau... eughh! Good!"
"Akhhh!"
Sentuhan tangannya terasa hangat, membelai lembut pipi tembenku, menghapus air mata yang sempat keluar dari ujung mataku.
"Ahh! Eum! Ahhh..." aku mengerang dan mendesah, merasakan perih sekaligus nikmat yang mulai meningkat di setiap dorongannya.
Chanyeol bergerak di atas tubuhku, makin cepat, sengaja mendesah seksi penuh nikmat di telingaku, membuatku semakin meleleh dalam eksistansi kegiatan kami malam ini. Bibirnya berjalan dari sisi telingaku, mencium sisi pipiku, hidungku, daguku, lalu meraup bibirku, menyumbat suara eranganku.
Badanku gemetar, tapi dalam arti yang begitu nikmat. Tanganku memegang bahu telanjangnya, meremas bahunya erat, yang sejak tadi terus bergerak maju mundur, seiring pergerakannya di bawah sana. Aku mendesah keras begitu ia melepas tautan bibir kami. Kutolehkan kepalaku ke samping, mulutku terbuka, mencoba meraup oksigen sebanyak yang kubisa di antara pergerakan badanku yang ikut bergoyang di atas ranjang, karena dorongan yang dibuat pria yang sedang menindihku semakin keras dan cepat, mengejar puncak bersama-sama.
Penglihatanku mengabur, dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Kejantananku terhimpit dan bergesekan nikmat dibawah tekanan abs-nya, membuatku semakin ingin melihat bintang di atas sana. Kenikmatan yang ia berikan ini terasa luar biasa, sangat memanjakan tubuhku, membuatku menangis bahagia tanpa kusadari.
"Baekhyunie..." ia mendesah di telingaku, mendorong pinggulnya dengan hentakan keras yang membuatku mengerang dalam kenikmatan, mencapai puncak bintang dengan mengeluarkan cairan hasratku di antara perut kami.
Chanyeol sendiri mendesah nikmat, ikut bergetar sambil menyemburkan cairannya di dalamku. "...aku mencintaimu..." bisiknya pelan kemudian.
Jantungku berdetak begitu cepat, mataku yang sayu hanya bisa menangkap bias wajah tampan Chanyeol yang tersenyum di atasku, membelai pipiku dengan sayang. "Gomawo..."gumamnya.
...
.
.
.
.
Date: 4 September 2015. 05.07.
Seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya, membangunkan Baekhyun dari tidurnya. Ia mengerjap sebentar, mengucek matanya, melihat stir kemudi berada di hadapannya, menyadarkan Baekhyun bahwa ia masih duduk di jok kemudi mobilnya. Bunyi tiga ketukan lagi, membuat Baekhyun menoleh dan melihat Cho Kyuhyun melambai di depan jendela kaca mobilnya. Baekhyun segera menurunkan kaca jendelanya.
"Semalaman kau tidur di mobil?" suara Kyuhyun terdengar khawatir. "Aku memang melarangmu keseringan tidur di kantor, tapi bukan berarti kau harus tidur di mobil. Badanmu hanya akan semakin pegal dengan posisi tidur duduk seperti itu."
Baekhyun menyandarkan kepalanya ke belakang. Menghela nafas sebentar, lalu mempoutkan bibirnya. "Semalam Luhan hyung mengusirku dari rumahnya. Aku terlalu malas untuk menyetir ke apartementku, jadi aku kembali lagi ke sini, lalu—Hah...aku lelah hyung~" Baekhyun memejamkan matanya.
Kyuhyun membuka pintu mobil, meraih lengan Baekhyun ke dalam rangkulan. "Ayo, lanjutkan tidurmu dalam ruanganku saja."
Baekhyun menurut dengan malas, melingkari lengan kanannya di bahu Kyuhyun, membiarkan dirinya dipapah oleh seniornya. "Memangnya ini sudah jam berapa, hyung?" tanyanya malas dengan kaki yang terseret menuju kantor.
"Masih jam lima dini hari," Kyuhyun mengeratkan pegangannya pada pinggang Baekhyun saat Baekhyun —yang masih setengah ngantuk— nyaris terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. "Kau mau kupesaankan kopi hangat."
"Hm,"
"Kau yakin tak membutuhkan bantuan lain dalam kasus investigasimu?" tak ada jawaban dari Baekhyun membuat Kyuhyun menghela nafas. "Kau terlihat sangat lelah, Baekhyunie..."
Langkah Baekhyun terhenti. Kyuhyun ikut berhenti memapah Baekhyun.
"Gwencana?" tanya pria tampan itu khawatir.
Baekhyun menunduk, tak mengangguk maupun menggeleng. Bahunya bergetar kecil. Tangan kirinya yang bebas dari rangkulan di pundak Kyuhyun, bergerak ke arah wajahnya yang tertunduk, mengusap kecil matanya yang berair. Dia menangis tanpa isak, dan Kyuhyun yang berdiri di sampingnya menyadari hal itu.
Kyuhyun bergerak selangkah untuk berhadapan dengan Baekhyun, menekan lembut kepala honbaenya ke dadanya, lalu mengusap punggung Baekhyun dengan gestur menenangkan. "Tak apa, keluarkan saja," meski Kyuhyun sendiri tak tahu apa penyebab Baekhyun yang mendadak ingin menangis.
"Aku memang sangat lelah dengan semua ini," gumam Baekhyun pelan dengan nada bergetar. "Bahkan setelah apa yang terjadi..." bisikan Baekhyun terdengar parau. "Meski waktu sudah berlalu sangat lama..." sebelah tangan Baekhyun meremas puncak kepalanya yang bersandar di dada Kyuhyun. "A-aku..." bibirnya gemetar. "A-aku..." matanya semakin berarir. "Aku tak bisa melupakannya, hyung..." ia mulai terisak. "Aku masih tak bisa melupakan kenangan bersamanya..."
Baekhyun mengusap wajahnya yang semakin basah di atas dada Kyuhyun. Isakannya makin menjadi. "Aku masih menyukainya, hyung..." dia merengek di sela tangisnya seperti anak kecil. "Aku masih sangat mencintainya..."
.
.
.
.
...
Years: 2005
Kedua jari Chanyeol berjalan layaknya sepasang kaki yang melangkah di atas kulit putih punggung Baekhyun yang sedang berbaring tengkurap di atas ranjang —dengan keadaan sama telanjang dan hanya selimut yang menutupi kedua pinggang mereka.
"Mnggh..." Baekhyun mengerang pelan, kepalanya yang berbaring menyamping itu membuka matanya, melihat Chanyeol yang berbaring menyamping di sisinya dengan menumpu kepalanya di atas sudut lancip yang dibentuk tanggannya. Chanyeol balas menatap Baekhyun dengan tersenyum.
Baekhyun mempoutkan bibirnya. "Aku lelah, Yeol... aku mau tidur..."
Chanyeol tetap tersenyum. "Aku tahu," tangannya yang tadi bergerak meraba punggung Baekhyun, beralih mengacak rambut Baekhyun dengan gerakan sayang. "Tidurlah."
"Hm," Baekhyun kembali memejamkan mata. Tapi tak lama kemudian ia merasakan benda empuk menekan lembut bibirnya. Chanyeol baru saja mencium bibirnya. "Ah, Chanyeol~" Baekhyun merengek sambil membuka matanya. "Bagaimana bisa aku tidur kalau kau terus menyentuhku?"
Chanyeol terkekeh pelan. "Mian, aku hanya ingin mengucapkan selamat malam." Chanyeol beralih mencium kening Baekhyun dengan lama. "Malam baby, aku sangat mencintaimu."
"Aissh... dasar chessy," gerutu Baekhyun, menggeram pelan tapi wajahnya tampak begitu merah. Ia memalingkan wajahnya, mengganti posisi berbaring kepalanya membelakangi wajah Chanyeol.
"Ouhh, uri Baekhyunie sangat pemalu..."
"Diam! Aku mau tidur."
"Tak ingin membalas ucapan malamku dulu?"
"..." Baekhyun tak bersuara.
"Arrasho," Chanyeol melingkarkan lengannya di atas pinggang Baekhyun. "Mimpi indah Baekkie," bisiknya pelan di telinga Baekhyun, sebelum akhirnya ia memposisikan diri untuk tidur dengan nyaman di samping Baekhyun.
Menit berlalu, Baekhyun kembali membuka matanya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya, masih dengan posisi tengkurap dan bertumpu pada kedua sikunya, Baekhyun menoleh, beralih memandang wajah lelap Chanyeol yang berbaring menyamping menghadapnya. Tangan Baekhyun bergerak pelan, menyisir helaain puncak rambut Chanyeol, lalu membelai pipinya. Baekhyun tersenyum.
Ia memajukan wajahnya, mendekat pada wajah Chanyeol yang tampak lelap. Perlahan, dengan hati berdebar Baekhyun mendaratkan kecupan lembut di pertengahan hidung Chanyeol. "M-malam Chanyelie, aku juga sangat mencintaimu." Baekhyun merona dengan ucapannya sendiri. Buru-buru ia kembali memalingkan wajahnya yang memerah, kembali berbaring tengkurap ke posisi awal. Sama sekali tak menyadari...
Sebuah senyuman bahagia terbentuk di wajah Chanyeol, beserta kedua telinganya yang berubah warna menjadi merah pekat...
...
.
.
.
.
.
Date: 4 September 2015. 06.05.
"Pagi ketua,"
"Pagi," Kyuhyun balas menyapa sambil mengangguk pada salah satu bawahannya yang baru saja tiba di kantor. Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya sembari membawa segelas mug berisi kopi susu hangat menuju ruangannya. Setelah ia membuka pintu ruangannya, Kyuhyun melihat Baekhyun yang sudah berdiri di samping salah satu sofa di ruangan itu. "Oh, kau sudah bangun."
"Lebih tepatnya aku tak bisa tidur lagi," Baekhyun mendesah, matanya langsung melirik mug yang dibawa Kyuhyun. "Oh, hyung, terimakasih."
"Eits, apa yang kau lakukan? Siapa bilang ini untukmu?"
"T-tapi—" wajah Baekhyun berubah memelas. "Hyung~"
Kyuhyun tersenyum geli. "Aku hanya bercanda. Ini."
Baekhyun tersenyum lebar menerimanya. "Gomawoyo hyung..." ia menyesap kopi itu pelan. "Tapi ngomong-ngomong hyung,"
"Hm?"
"Mengapa gadis itu ada di sini?" tunjuk Baekhyun pada seorang gadis berseragam sekolah yang berbaring di salah satu sofa panjang dalam ruangan itu. "Kau mengenalnya hyung?"
Kyuhyun menggeleng. "Jongin yang menitipkannya untuk tertidur di sini."
"Mwo? Aissh. Anak itu, padahal semalam aku sudah menyuruhnya untuk memulangkan gadis ini, tapi mengapa ia malah membiarkannya menginap di sini?"
"Memangnya gadis ini siapa? Kupikir dia kenalannya Jongin."
"Namanya Do Minyoung, hyung. Dia kerabat salah satu saksi yang kami tahan. Aku sudah menyuruhnya pulang sejak semalam, tapi dia sangat keras kepala dan tak mau pulang jika kami tak membebaskan kakaknya."
"Oh... Apa kau sudah mengintrogasinya?"
"Apa?"
"Bocah ini, diintrogasi."
"Untuk apa? Dia sama sekali tak ada dalam tkp saat kejadian berlangsung."
"Tapi dia kerabat dekat dari saksi yang kau curigai sebagai tersangka,kan? Apa salahnya kalau kau mencoba untuk bertanya beberapa hal padanya. Siapa tahu dia mau menceritakan sesuatu yang tidak diceritakan oleh saksi itu sendiri?"
Baekhyun terdiam, memikirkan perkataan seniornya lebih dalam. "Menceritakan sesuatu yang tidak diceritakan olehnya?"
"Kalau kasus yang sudah buntu seperti ini. Kita harus bisa mencari cela lain, walaupun sedikit dan kelihatannya tak ada hubungannya, tapi bisa saja ada kemungkinan kecil kalau itu semua bisa terkait satu sama—"
"Astaga!" Baekhyun menepuk keningnya. "Mengapa aku tidak kepikiran sampai ke situ? Hyung! Terimakasih banyak. Aku harus pergi dulu." Buru-buru Baekhyun meletakkan mug ke atas meja, menyambar jaketnya dengan cepat.
"Yach! Kau mau kemana?"
"Aku pergi sebentar. Nanti aku akan menanyai gadis itu setelah aku kembali." Baekhyun berlari keluar, tapi sedetik kemudian ia berbalik, memeluk Kyuhyun erat sambil menepuk punggungnya. "Terima kasih untuk kopi dan sarannya, hyung. Kau selalu yang terbaik!" setelah itu ia baru benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
"Dasar..." Kyuhyun tersenyum geli dengan tingkah honbaenya. Ia hendak berbalik ke kursinya ketika tiba-tiba ada sesuatu kecil yang menjanggal langkahnya. Kyuhyun melirik ke bawah, melihat sebuah amplop coklat yang tadi sempat ia injak. "Amplop apa ini?"
.
.
.
.
...
Years: 2005
Begitu bel istirahat berbunyi, aku segera keluar kelas. Tak ingin menghabiskan waktu, aku berlari kecil naik ke lantai dua di gedung sekolah kami. Saat ruangan yang ingin kutuju berada di arah pandangku, aku menghentikan lari kecilku, menggantikannya dengan langkah yang lebih santai. Hatiku terasa berdebar sendiri. Bahkan tanpa sadar aku tersenyum kecil dengan sendirinya di setiap langkahku.
Di depan pintu ruangan anggota dewan siswa, aku berhenti, menjulurkan kepala masuk di pinggir ambang pintu, mencari seseorang.
"Baekhyun?"
Aku tersentak, berbalik dan melihat Luhan hyung menatapku heran.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pergi ke kantin untuk makan siang?"
"Ah, itu, aku sudah janjian dengan—," aku menghentikan ucapanku, berbalik sebentar melihat ke dalam ruangan lalu berhadapan dengan Luhan hyung lagi. "Hyung, kau lihat Yeolie, em, maksudku Chanyeol?"
Luhan hyung menatapku dengan pandangan janggal dan kening berkerut.
"Hyung, kau melihat dia atau tidak sih?" tanyaku mulai tak sabar.
"Kau tidak tahu?" dia malah balik bertanya dengan raut wajah heran. "Chanyeol sudah pindah sekolah, baru tadi pagi kepala sekolah mengatakannya pada kami, anggota dewan siswa. Katanya sih karena keluarganya pindah rumah ke luar negeri. Ini memang sangat mengejutkan, dia bahkan tidak datang untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan pada kami."
Aku tertawa kecil. "Kau bercanda? Ini bukan april mop atau acara hidden camera, hyung."
"Yach! Untuk apa aku bercanda? Aku malah mengira kau sudah tahu duluan mengenai kepindahannya, kalian 'kan akhir-akhir ini sangat dekat. Yach! Kau dengar aku atau tidak sih? Mengapa kau terus menoleh ke arah lain? Apa yang sedang kau cari?"
"Tentu saja Chanyeol. Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat dan sengaja ingin mengejutkan aku." Baru saja aku ingin berbalik pergi mencarinya, tangan Luhan sudah meraih lenganku.
"Apa kau sudah gila? Sudah kubilang Chanyeol sudah pindah sekolah, ke luar negeri. Mungkin sekarang dia bahkan sudah tidak ada lagi di Seoul. Kau bisa langsung bertanya pada kepala sekolah kalau kau tak percaya. Chanyeol benar-benar sudah pindah!"
"BOHONG!" Aku bahkan tak sadar sudah menggunakan suara kerasku pada kakakku sendiri. "Omong kosong! Dia tak mungkin pergi. Tidak setelah apa yang dia lakukan padaku. Kami bahkan—"
—baru saja bercinta kemarin malam. Kami baru saja jadian kemarin lusa. Dia yang baru saja mengatakan sangat mencintaiku. Dia tak mungkin...
"Baekhyun-ah,..." Luhan hyung memandangku simpati. "Kau menangis..."
"Tidak. Aku tidak—" tapi aku bisa merasakan sesuatu yang basah mengalir pada pipi kiriku. Dengan gerakan cepat aku menghapusnya.
"Baek—"
"Aku akan mencarinya." bersamaan dengan ucapan itu aku berbalik pergi. Meninggalkan Luhan hyung yang meneriaki namaku dengan khawatir.
Tak peduli dengan pelajaran sekolah yang belum selesai, atau pun satpam gerbang sekolah yang meneriaku saat aku menerobos keluar sekolah. Aku akan terus berlari menuju rumah Chanyeol. Dia mungkin hari ini sedang tidak masuk sekolah karena sakit, dan dengan sengaja membuat sebuah lelucon tentang kepindahannya.
Kalau pun lelucon itu benar, itu—tidak masuk akal! Aku bahkan masih bisa mengingat dan merasakannya dengan jelas seluruh sentuhan yang ia lakukan padaku kemarin malam. Dia sudah berhasil membuatku benar-benar gila karenanya, jatuh cinta sangat dalam padanya. Itu tidak mungkin jika dia tiba-tiba pergi meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini. Aku akan membencinya seumur hidup jika memang dia sengaja ingin mempermainkan aku.
"Apa yang kau lakukan?" seorang ahjumma —tetangga Chanyeol— menghampiri aku yang sedang memencet bel rumah Chanyeol berapa kali namun sejak tadi tak ada tanda-tanda orang rumah yang akan membukakan pintu untukku. "Sampai malam pun kau memencet bel itu, tak akan ada yang akan keluar dari rumah itu."
"A-apa maksudmu?"
"Pagi-pagi sekali keluarga Park sudah meninggalkan rumah ini. Mereka bilang akan pindah ke luar negeri. Rumah ini bahkan sudah dijual ke makelar."
Park-Chan-Yeol. Aku benar-benar membencimu.
...
.
.
.
.
Date: 4 September 2015. 06.45.
Baekhyun memencet bel rumah, menunggu dengan sabar sampai ada yang membukakan pintu untuknya.
"Baekhyun-oppa?" Hyeri cukup terkejut melihat kedatangan Baekhyun pagi-pagi sekali.
"Syukurlah kau belum berangkat."
"Pesawatku baru akan terbang nanti malam."
"Ah, ya. Aku baru mengingat hal itu."
"Memangnya ada apa?"
"Em, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Tidak. Ini bukan mengenai kasus itu."
"Lalu... kau ingin menanyakan apa, oppa?"
"Chanyeol..." Baekhyun memandang Hyeri dengan penuh harap. "Ini sudah sangat lama, tapi bisakah kau menceritakan saja padaku apa yang belum ku ketahui mengenai dia?"
Hyeri memandang Baekhyun ragu.
"Kumohon..."
...
Jongin mengetuk pintu itu tiga kali. Lalu melangkah masuk ke dalam ruangan setelah mendengar suara Kyuhyun yang mempersilahkannya dari dalam.
"Kau memanggilku, hyung?" Jongin melirik sekilas pada Minyoung yang masih tertidur di sofa, lalu kembali menghadap pada Kyuhyun yang duduk di balik meja kantornya.
"Hm, bisa kau berikan aku data lengkap dari kasus yang sedang kalian tangani itu? Yang kumaksud dengan data lengkap itu semuanya, termaksud dengan semua hipotesismu sampai sejauh ini."
"Mengapa tiba-tiba?"
Kyuhyun meletakkan sebuah foto yang sejak tadi ia pegang ke atas meja, menumpuk diantara beberapa foto lain yang sudah terjabar di atas mejanya. Pria tampan ini menumpu dagunya di atas tautan punggung tangannya, tatapannya berubah tajam dan lebih serius dari biasanya. "Aku berpikir untuk ikut turun tangan langsung dalam investigasi kalian ini. Tapi jangan memberitahu Baekhyun mengenai hal ini."
Jongin terdiam, matanya juga ikut menatap beberapa foto yang berada di atas meja Kyuhyun, di samping sebuah amplop coklat yang tampak kosong. "Itu..." Jongin tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya melirik Kyuhyun, yang balas menatapnya.
Mengerti arti pandangan Jongin, Kyuhyun mengangguk. "Dan satu lagi Jongin. Bisa kau berikan aku juga data lengkap mengenai Park Chanyeol?"
"Park Chanyeol?"
"Hm," sudut bibir Kyuhyun berkedut. Jongin yang sedang memperhatikan foto-foto di atas meja atasannya, sama sekali tidak menyadari seringai tipis Kyuhyun yang jarang ditampilkan itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung~
.
.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mereview~ #kasi-kolor-Kyuhyun-satu-satu #smirk
NC di flashbacknya sudah, tinggal nunggu NC di masa kini(?), beda lho, nc-nya anak sekolah ma pria berumur 27 tahun~ kkkk~ #wink
Btw, aku mulai suka couple KyuhyunxBaekhyun gara-gara denger curhatan teman dan foto Kyuhyun yang meluk Baek dari belakang. Hahahaha... tidak senior tidak honbae (Taehyung BTS) semua mau 'dekat' dengan Baekkie... ci ciut (cium foto HeechulxBaekhyun)
.
.
.
_o0o_
Review?
~Sayaka Dini~
[02 Febuari 2015]
