Chapter 6
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam?" tanya Nami kepada Hikari memulai pembicaraan.
Hikari kebingungan mendengar pertanyaan Nami. "Apa maksudmu,Nami senpai?"
"Jangan main-main. Kau lupa dengan apa yang kau lakukan semalam?" teriak Reiji sambil menarik kerah baju Hikari.
"Tenang Reiji." Kata Kai. Dia mengangkat tangannya dan melepaskan tangan Reiji dari kerah baju Hikari.
Hikari teringat dengan apa yang dilihatnya semalam. Langit malam berwarna kehijauan, bulan purnama berwarna kuning, darah di jalan dan peti mati.
"Semalam kau pulang terlambat jadi aku menunggumu untuk menperingatkanmu kalau ada jam malam di asrama ini. Tapi, aku tidak menduga akan mengalami fenomena aneh tersebut." kata Kai.
" Saat aku dan Nami senpai dibangunkan oleh Kai senpai kami melihat langit malam berubah warna jadi kehijauan dengan bulan berwarna kekuningan. Dan lantai maupun dinding mengalir darah yang tidak diketahui dari mana datangnya." jelas Ayumi.
"Fenomena itu terjadi tepat pada tengah malam dan berlangsung sekitar 1 jam. Aku telah menanyai teman-temanku disekolah dan sepertinya sama sekali tidak ada seorangpun yang mengalami fenomena itu seperti kita semua yang ada di sini." tambah Nami.
" Apa makhluk yang menyerang kita semalam? Dan apa makhluk bernama Orpheus yang kau panggil dengan menembak kepalamu sendiri dengan pistol? Aku harus mengendongmu pulang ke asrama karena kau tidak sadarkan diri setelah itu. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Reiji sambil berteriak.
"Reiji telah menceritakan apa yang telah dilihatnya pada kami. Kami semua percaya dengan apa yang di ceritakan Reiji meski tidak melihat dengan kepala mata sendiri. Sebab Reiji tidak mungkin berbohong. Karena itu tolong kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." ucap Kai sambil menenangkan Reiji.
Mendengar kata pistol. Hikari bertanya "Di mana pistol itu?"
Kai mengeluarkan sepucuk pistol dari balik seragamnya. Hikari menghela napas lega saat melihat pistol itu sebab dia berpikir dia kehilangan evoker tersebut . " Jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?" kata nya tegas.
"Aku benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Semalam, saat aku dan Reiji senpai berhadapan dengan makhluk itu aku mendapatkan gambaran seseorang cowok yang menyuruhku menembak kepala ku dengan evoker itu. Dan setelah aku menembak kepala ku Orpheus muncul." Kata Hikari . Dia sendiri juga pusing dengan apa yang terjadi.
"Evoker?" tanya Kai dan Reiji bersamaan.
"Pistol itu." ujar Hikari " Aku mendapatkannya dari ibuku semalam sebelum fenomena aneh itu terjadi. Katanya itu adalah jimat pelindungnya."
"Ibu mu?" tanya semuanya.
'' Ya. Aku sama sekali tidak tau apa yang terjadi. Tapi, mungkin ibuku tau apa yang terjadi. Lebih baik kita bertanya saja padanya." Jawab Hikari.
….
Hikari,Kai,Nami,Reiji dan Ayumi berjalan memasuki Tatsumi memorial hospital.
"Rumah sakit?" pikir Kai, Nami, Reiji dan Ayumi dalam hati
Begitu masuk ke dalam rumah sakit seorang suster berlari mendekati Hikari "Hikari-kun dari man saja sudah menhubungi ponsel mu tapi sama sekali tidak aktif." ujarnya panik.
Hikari teringat akan ponselnya yang rusak gara-gara kejadian semalam. "Maaf… hpku rusak karena.."
"Ceritanya nanti saja. Cepat ke ruangan ibumu. Ibumu tiba-tiba koma sejak semalam."
Mendengar perkataan suster itu. Mata Hikari terbelak dan tanpa berkata apa-apa lagi dia berlari secepat yang dia bisa menuju kamar ibunya.
"Hei! Tunggu.." kata Reiji berlari mengejar Hikari di ikuti yang lainnya
…..
Hikari menbuka pintu kamar ibunya. Dan menemukan ibunya terbaring di atas tempat tidur seperti biasanya. Bedanya adalah terpasang selang oksigen di mulut serta hidungnya dan sebatang jarum infus yang menusuk tangannya.
" Ibu…" ucapnya lirih.
Kai, Nami, Reiji dan Ayumi tiba di kamar ibu Hikari.
" Hei! Kau.." kata Reiji namun katanya terhenti saat di melihat wajah hikari.
"Sebaiknya kita keluar saja dulu." Kata Ayumi pelan.
"Benar.." balas Nami.
Mereka semuapun berjalan keluar keluar dari kamar itu meninggalkan Hikari dengan ibunya.
Hikari berjalan mendekati ibunya. Hikari mengengam tangan ibunya dengan kedua tanganya dan berlutut di depan ibunya. "Ibu apa yang sebenarnya terjadi?"
Hikari menempelkan tangan ibunya ke dahinya. " Sadarlah ibu. Jalaskan padaku apa yang terjadi? Dan Jangan tinggalkan aku sendiri…."
…..
Waktu telah menunjukkan pukul 08.45 am.
Kai dan Reiji menbuka pintu kamar 206 di Tatsumi memorial hospital. Mereka menemukan Hikari yang sedang duduk tanpa ekpresis sambil melihat ibunya. Sepertinya dia sama sekali tidak sadar akan kehadiran Kai dan Reiji.
Kai meletakan tangannya di pundak Hikari. Hikari terkejut dan melihat ke belakang. Kai tersenyum " m1aaf kalu mengangetkan mu."
Hikari tersenyum lemah " tidak apa-apa..."
"ibumu pasti akan segera sadar."ujar Reiji berusaha menhibur Hikari.
"Kau benar ,ibuku bisa menbesarkanku sendiri. Dia bukan orang yang lemah. Dia tidak akan kalah menghadapi penyakit ini." ujar Hikari sambil melihat ibunya.
Kai dan Reiji terdiam mendengar ucapan Hikari.
"Sebaiknya kau pulang dulu ke asrama untuk telah menghadapi bergitu banyak kejadian hari ini." ujar Kai. " Aku akan meminta tolong suster untk menhubungi kamu jika ibumu sudah sadar."
"Terima kasih. Tapi kurasa itu tidak perlu." kata Hikari tersenyum.
"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat dulu. Wajahmu kelihatan pucat. Ibumu juga tidak akan senang kalau melihatmu seperti ini saat dia sadar" kata Reiji.
Mendengar perkataan Reiji, Hikari menghela napas "Mungkin kau benar,Reiji senpai. Ibuku pasti tidak akan senang melihatku dalam kondisi seperti ini."
Kai tersenyum mendengar ucapan Hikari.
Kai mengeluarkan evoker dari balik jaketnya. " Ini ku kembalikan"
Hikari terkejut melihat Kai mengembalikan evoker tersebut.
" ini adalah pemberian ibumu. Kata ibumu ini adalah jimat pelindung kan? Kurasa dia menberikannya padamu karena ingin benda ini aku tidak tau apa yang terjadi, aku percaya padamu." Kata Kai
Hikari mengambil evoker itu dari tangan Reiji.
"satu lagi… Terima kasih" tambah Reiji dengan wajah agak malu-malu " Terima kasih karena telah menyelamatkan ku dari makhluk itu dan maafkan kelakuan ku tadi siang"
….
Jam menunjuk pukul 00.00.00
Lampu di seluruh kota padam langit berubah warna menjadi kehijauan dengan bulan berwarna kuning. Darah mengalir dimana-mana. Sekelompok orang berdiri di depan gerbang Gekkokan school menyaksikan gedung sekolah itu berubah menjadi sebuah bangunan dengan setruktur yang aneh dan menjuang tinggi seakan-akan ingin menyentuh langit.
" Sialan! Ini tidak mungkin… tartarurus telah kembali lagi…" kata Junpei tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak mungkin…."kata Fuka pelan.
"Tartaurus dan dark hour telah kembali. Ini adalah kenyataan." ujar Mitsuru tenang namun matanya menghiaknati sikapnya itu.
"Apa yang terjadi? Kupikir kita telah berhasil melenyapkan Tartaurus dan Dark hour untuk selamanya. Kalau seperti ini apa arti pengorbanan dia?" teriak Junpei.
Semuanya terdiam.
" Tenang junpei." ujar Akihiko .
"Bagai mana aku bisa tenang Akihiko senpai!'' balas Junpei.
" tenanglah junpei senpai. Tidak ada gunanya kau seperti ini." kata Ken.
" Tartaurus pada 17 tahun yang lalu ada untuk menyambut kedatangan Nyx. Apakah munculnya Tartaurus sekarang juga demikian. Dia telah menjadi segel untuk menyegel kedatangan Nyx. Apakah segel tersebut telah rusak?" kata Aigis pelan tanpa ekpresis.
Mendengar kata aigis semuanya terdiam.
'Aku tidak tau Aigis sepertinya untuk mengetahui jawabannya kita harus mencapai puncak dari Tartaurus seperti dulu lagi." ujar Junpei sambil melihat Tartaurus.
" Aku takut itu tidak mungkin kita lakukan lagi." kata Akihiko.
Semuanya terkejut kecuali Mitsuru begitu mendengar kata Akihiko.
"Apa maksudmu Akihiko senpai?" tanya Ken.
"Kalian lupa kita orang dewasa sama sekali tidak bisa memanggil saat dark hour aku mencoba memanggil ceaser. Dan aku gagal. Aku kehilangan kemanpuan memangil persona. Begitu juga dengan Mitsuru. Dan di dalam sana terdapat begitu banyak shadow." Kata akihiko wajah sedih " Satu-satunya cara untuk memanggil persona lagi adalah dengan mengunakan obat yang dulu digunakan anggota strega…"
"Aku menolak ide itu Akihiko senpai! Aku tidak ingin siapapun lagi menghadapi nasib seperti Chidori . Aku tidak percaya aku kehilangan kemampuan untuk memanggil pesona …" ujar Junpei penuh emosi dan mengeluarkan evoker yang di selipkan di pinggangnya dan menembak kepalanya. " Trismegisty…"
Namun tidak terjadi apa-apa.
"Aigis, cobalah kau memanggil personamu. Kau satu-satunya yang masih memiliki kemungkinan untuk memanggil persona." Ujar Mitsuru.
Aigis mengangguk dan mencoba memanggil personanya. Namun tidak terjadi apa-apa sama seperti Junpei. Dia gagal memanggil personanya.
"Tidak bisa. Aku kehilangan kemampuan untuk memanggil persona…"kata Aigis lirih.
Semua yang adapun mengunakan evokernya untuk memanggil persona mereka. Dan mereka semua gagal memanggil persona mereka.
"Mengapa? Apa yang terjadi? Trimegisty…" teriak junpei.
"Sepertinya kita semua kehilangan kemampuan kita untuk memanggil persona." kata fuka sedih.
"Benar.." ucap Fuka sambil melihat evoker yang dipegangnya.
"Kita harus memikirkan langkah kita selanjutnya. Kita tidak boleh bertindak gegabah. Shadow sekarang lebih kuat dan liar. Kalian melihat beritakan tentang pembunuhan di dekat paulownia mall kan? Aku telah melihat mayat korban dan aku tau itu bukan perbuatan manusia itu adalah perbuatan shadow. Aku takut jika diserang oleh shadow sekarang yang akan terjadi bukanlah menjadi The lost. Tapi kematian." Jelas Akihiko
Semua yang mendengar penjelasan Akihiko terkejut kecuali Mitsuru.
"Sistuasi sekarang berbeda dengan sistuasi 17 tahun yang lalu. Namun kami tidak akan mundur dari masalah ini. Kami akan menghadapinya." Tambah akihiko sambil melihat Mitsuru.
Mendengar perkataan Akihiko semuanya menbuat keputusan.
"Aku ikut!" ujar Junpei dan Ken bersamaan.
"Aku juga." Ujar Aigis.
Fuka tersenyum "Aku juga!"
Akihiko dan Mitsuru tersenyum mendengar keputusan mereka semua.
" Aku dan Akihiko akan pindah ke kota ini lagi. Bagai mana dengan kalian" Kata Mitsuru.
"Aku akan pindah pindah ke kota ini lagi" kata Ken
"Aku juga!" kata Aigis
" Begitu juga dengan aku." Kata Junpei.
" Aku juga…" kata Fuka.
"Hah? Bagai mana dengan perkejaanmu , Fuka? Bukannya kamu berkerja di rumah sakit di Tokyo?" tanya Junpei.
"Mulai besok aku akan berkerja di Tatsumi memorial hospital. Bagai mana dengan kalian?"senyum Fuka sambil melihat yang lainnya
" Tenang saja aku adalah seorang pemain baseball professional yang sedang istirahat jadi aku tidak terikat di manapun." Jelas junpei .
"Aku sudah meminta atasanku untuk memindahkan ku ke Port island. Perkerjaan sebagai detektif itu bisa menpermudahku pindah kemana-mana saja. Lagian, atasanku sendiri juga akan pindah kekota ini." Senyum Ken sambil melihat Akihiko.
"Mengenai aku, aku akan pindah ke sini karena sudah tidak ada lagi yang perlu kulakukan di tempat penelitian Yakushima sana. " jawab Aigis.
" Bagus kalau begitu, SEES akan di bentuk lagi! " kata Junpei tersenyum sambil menengadah melihat puncak tartaurus." Apapun yang terjadi kita pasti akan bisa menemukan jawabannya."
Semuanya menengandah kepala mereka melihat puncak tartaurus.
" Benar….." ucap Akihiko.
…..
