Unexpected Life

Author:

CLA

Rated:

T

Genre:

Romance, Fantasy, Hurt/ Comfort, Angst, Friendship, etc

Disclaimer:

seluruh cast disini milik Tuhan dan mereka sendiri

cerita ini murni imajinasi CLA

Warning:

AU, OOC, BL, Death Chara, EYD, Lautan Typo, No Edit!, Impossible things, Alur dipercepat, etc

.

.

Cerita ini murni imajinasi CLA. Maaf kalau sangat membosankan

.

.

"Donghae past. Told by Choi Seunghyun a.k.a TOP for you."

.

.

.

"Donghae-ah!"

Kulambaikan tanganku pada namja itu. Ia tersenyum lebar membalas lambaian-ku. Aku melemparnya sebuah apel yang dengan suksesnya ia tangkap. Ia menggigitnya, lalu melemparku dengan sebungkus roti.

"Nice catch."

"Kau juga."

Kami tertawa bersama dan menghabiskan makanan kami dalam perjalanan menuju kelas. Kulirik jam tangan, menyikut Donghae. Seakan mengerti Donghae mengangguk lalu dalam hitungan ketiga kami lari marathon menuju kelas. Langkah kami pun semakin cepat kala Jang songsaengnim selaku seksi kedisiplinan mengoceh dan nyaris melempari kami dengan sekotak kapur papan tulis.

Donghae dan aku merupakan sahabat yang tiada tandingnya di universitas favorit ini. Sedikit narsis tak apa kan?

Kami bersahabat sejak berumur 8 tahun. Sedikit lupa sih apa yang membuat kami bersahabat dekat seperti ini, tapi seingatku ini semua gara-gara insiden kue terbang waktu itu.

Ya, seperti yang kalian pikirkan.

Donghae sebenarnya anak nakal.

Hiburan yang sangat menarik bagiku saat melihat Donghae melempar kue tart gosong karya-nya dan hampir mengenaiku. Beruntung sekali yang kena adalah guru moral-nya yang sedang berjalan di belakangku.

Beruntung. Memang. Karena sebelum guru itu melihat wajah Donghae, Donghae melarikan diri sambil menyeretku. Reflex.

Saat itu jugalah kami berteman dan naik pangkat menjadi sahabat. Aku pun berganti status dari manusia biasa menjadi pawang Donghae.

Sekarang, Donghae dan aku tinggal di sebuah rumah hadiah persahabatan sekaligus ulang tahunku. Rumah itu dibeli dengan uang patungan orangtua kami, dan katanya digunakan sebagai tempat tinggal kami jika kuliah nanti. That's why we're here now.

"Hah... untung si Jang nggak ngelempar kita pake behel-nya!"

Aku menyikut Donghae, bermaksud menegur bahasanya yang sedikit tidak enak di dengar.

"Hei! Sopan! Dia lebih tua darimu! Bukannya kau sudah tobat setahun lalu?"

Donghae memposisikan dirinya di dekat jendela, memangku tasnya, tak lupa menatapku dengan pandangan aneh.

"Aku memang sudah tobat kok. Itu sudah kuperhalus. Seharusnya aku mengatakan: 'Untung si Jang nggak ngelempar kita pake tompel gedenya. Takutnya entar ga bisa lepas dari muka kita.'"

Aku tertawa kecil dan memukul kepalanya dengan buku catatan. Ia juga balas tertawa.

"Hah, dasar! Terserah apa katamu deh!"

Dan kami pun saling bungkam saat si fanatik cokelat, Baek songsaengnim menduduki kursi yang tak sebesar tubuh bulatnya. Tunggu. Mengapa aku tertular Donghae?

"YA! Siapa yang berani mengolesi lem di kursi ini? Urgh... sulit di lepasss!"

Tak ada yang menjawab. Semuanya hening, dengan wajah pura-pura takut. Hanya aku yang benar-benar takut. Oh, ternyata ada 2 murid yang tersenyum lebar dan menahan tawa-nya.

Aku melirik Donghae dengan tatapan ragu. Dia yang menyadainya, menoleh dan tersenyum tertahan, membalas tatapanku. Dia lalu menunjuk mahasiswa di depannya yang juga sedang menahan tawa, Kim Heechul.

Heechul menoleh padaku sambil mengangkat 2 lembar kertas dengan tulisan besar-besar.

'Aku yang melakukannya.'

Aku baru saja ingin bertanya namun ia mengganti lembar kertas itu terlebih dahulu.

'Donghae otaknya ^^v'

Aku menatap Donghae tak percaya. Donghae tersenyum lebar yang untung saja tidak dilihat Baek songsaengnim.

"Khusus hari ini saja aku iseng oke? Kan sedang April Mop!" bisik Donghae. Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah isengnya.

"Dan akan ada yang seru setelah ini." lanjutnya, membuatku mengernyitkan alis, sampai akhirnya pekikan lebay Baek songsaengnim menggema dalam ruangan kelas.

"OH NOOOOO! MY CELANA ROBEKKKK!"

~Unexpected Life~

"Hei! Setelah membaca buku tadi aku jadi tertarik."

Aku menoleh dan menatap Donghae yang terlihat seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri menatap lampu. Aku terheran. Apa matanya tidak silau?

"Memang apa yang kau baca?"

"Vampir! Keren!" ucapnya girang, "Sepertinya mereka benar-benar ada!" lanjutnya. Aku tertawa meremehkan. Sepertinya otak Donghae masih polos. Masa hal seperti itu dipercaya? Aneh-aneh saja.

"Hahaha. Mimpi saja kau!" ledekku, menempeleng kepala Donghae seenaknya. Donghae menggembungkan pipi tak terima.

"Jangan begitu! Kau terlihat semakin jelek hahaha!"

Aku menolehkan kepalaku kebelakang dan semakin tertawa. Heechul, si pelaku peledekan, tersenyum lebar, membuat Donghae semakin cemberut.

"Halo gendut Choi! Jelek Hae!"

"Dasar setan! Aku sudah berubah tau! panggil aku si tampan Choi!" ucapku narsis.

"Dan si tampan Hae!" Donghae menambahkan. Heechul memutar bola matanya malas.

"Well, terserah apa kata kalian." ucapnya, duduk di sebelah Donghae. "Kalian sedang apa?"

"Si bodoh Hae sedang bermimpi. Masa dia ingin bertemu vampir? Bodoh." ucapku diselingi tawa kecil. Donghae melihatku tak terima, sementara Heechul menatap Donghae terkejut. Entah perasaanku saja, atau memang Heechul sedang menatapnya khawatir? Sepertinya hanya perasaanku saja.

"YA! Kenapa kalian menatapku seperti itu?!" oceh Donghae. Ekspresi serius Heechul berubah seakan tak terjadi apa-apa. Aku sih tak terlalu peduli. Aku pun memilih memukul pelan kepala Donghae dengan buku.

"Hahaha. Kau aneh Hae!" ledek Heechul. Donghae semakin tidak terima.

"YA! Buku itu bilang vampir ada kok!"

"Terserah apa katamu. Ngomong-ngomong, dimana kau menemukan buku itu?" tanyaku penasaran. Heechul mengangguk mengiyakan.

"Hm? Di rak buku perpustakaan kampus paling belakang ada kok! Bukunya gede begitu masa nggak ada yang keliatan sih?"

"Oh ya? Bahkan badanmu hampir tak terlihat olehku!" ledek Heechul. Aku hanya ikut-ikutan tertawa saja karena merasa ada yang ganjil. Tapi biarlah. Mungkin Donghae berniat menjadi novelis setelah lulus nanti.

"Hae! Temani aku ambil koran edisi minggu ini!"

Haduh, lagi-lagi. Si pengacau muncul deh.

"Kenapa kau tak mengambil sendiri saja Hankyung-ah?"

"Haish. Seperti aku tau cara memintanya saja." gerutu Hankyung. Mahasiswa pindahan dari negeri tirai bambu itu menarik-narik lengan kemeja Donghae. Aku geleng-geleng kepala melihatnya.

"Kalau kau mau bertemu vampir, di depanmu ada vampir China satu." candaku. Donghae menautkan alisnya, kemudian tak lama menjitak kepalaku.

"Jangan meledekku Seunghyun-ah. Mana ada vampir sesabar Hankyung?"

"Kalian membicarakanku? Tentang apa?" tanya Hankyung penasaran. Aku menyengir lebar.

"Tidak ada. Cepat seret Donghae! Bel sekolah tinggal 10 menit lagi!" tegurku. Donghae beranjak agak malas-malasan, Hankyung geleng-geleng kepala melihatnya.

"Ayo kita berangkat~!" ucap Hankyung girang.

Sesaat aku dan Heechul terdiam. Aku dengan Heechul tak sedekat Donghae dengannya memang, jadi tak heran kalau aku sering kehabisan bahan pembicaraan. Lagipula aku mengenal Heechul karena tingkat keisengannya hampir menyamai Donghae.

"Eum... bukannya di perpustakaan kita tak ada buku vampir?" bisikku pada Heechul. Kelihatannya ia sedikit terkejut.

"Kau sadar juga?!" pekik Heechul. Aku mengangguk. Tentu saja! Aku kan yang paling rajin ke perpustakaan diantara mereka semua.

"Dan setahuku yang disebutkan Donghae tadi rak kumpulan buku ekonomi." lanjutku.

"Wow. Kau hafal isi perpustakaan?" decak Heechul kagum. Aku mengacungkan jempolku di hadapannya.

"Tentu saja! Aku kan keren!" candaku narsis. "Oke, kembali ke topik. Apa Donghae berhalusinasi?"

Heechul mengendikkan bahunya tak tau. "Entah. Anak itu penuh kejutan. Ah, lebih baik aku kembali ke kelas. Oh ya, mau dengar kabar baik?" tanyanya sebelum beranjak dari kursi yang di dudukinya.

"Apa?"

"Aku akan segera mempunyai anak."

Kalau saja aku sedang makan atau minum sesuatu, aku pasti sudah tersedak atau menyemburkannya.

"Kau bercanda Kim Heechul."

"Serius. Kita kan sudah umur 22. Sebentar lagi juga lulus. Dan setauku tidak ada larangan untuk kawin muda. Tenang saja, hanya kau yang tau tentang ini Choi. Jadi pastikan mulutmu terkunci rapat." jelasnya. Yah... kurasa apa yang ia ucapkan memang ada benarnya. Apalagi 3 bulan lagi Heechul berumur 23.

"Siapa namanya?" tanyaku penasaran. Iseng saja sih.

"Kim Hyuna dan Kim Sangbum."

"Kembar?" tanyaku memastikan.

"Ya. Satu yeoja dan satu namja. Manis kan?"

"Semoga saja tidak terjadi kasus twincest ya." candaku. Heechul menggeplak kepalaku.

"Sembarangan. Aku balik ya." lanjut Heechul, kali ini berdiri dengan benar menandakan ia memang berniat pergi. Tak seperti tadi, dengan gayanya berkacak pinggang.

"Ah ya. Setelah lulus aku mungkin akan pindah ke tempat yang jauh. Dan... tolong awasi Donghae. Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang berbahaya." pesannya. Heran, apakah ia berniat kembali ke kelas?

"Tenang saja. Aku selalu mengawasinya sejak dulu. Hebat kan?" sahutku pede. Padahal aku lebih terdengar seperti pembantu atau bodyguardnya kalau begitu.

"Oke, aku percaya padamu. Berhati-hatilah." katanya sambil menepuk pundakku selayaknya teman. Aku mengangkat jempolku dan kembali terbengong di kursi ini. Kalau aku pergi, Donghae pasti akan terlihat seperti orang hilang nantinya.

Ah, aku jadi kepikiran sama ucapan si Kim lidah tajam itu.

~Unexpected Life~

"Seunghyun-ah!"

Belum sempat aku menoleh, orang yang memanggilku sudah menubrukku, membuat kami jadi tontonan mahasiswa sekitar. Maksud sebenarnya sih dia berniat melompat agar aku menggendongnya, tapi yang ada aku malah terjatuh. Hanya tebakan saja sih.

"Ish! Harusnya kau menggendongku!" gerutunya. Benarkan apa yang kutebak?

"Gila kau. Aku belum sempat menoleh!" protesku sambil mendorongnya agar beranjak dari tubuhku. Berat tau!

"Huh! Ya sudahlah. Eh katanya Chullie mau pindah ke luar kota?" tanya Donghae. Aku menganggukkan kepalaku. Bisa kulihat raut wajah Donghae yang berubah kecewa.

"Dia-"

"Dia sudah merayakan kelulusannya dulu Hae. Sudah pindah tepat hari ini." sela-ku, padahal aku tidak tau apa yang ingin dia bicarakan.

"YA! Aku belum selesai bicara! Aku sudah tau tentang itu, makanya kemarin aku pulang malam. Eh si Han itu juga balik kan?"

Aku mengendikkan bahuku.

"Entah. Kau tau darimana? Ah iya. Jaringanmu kan luas." Aku bermonolog. Donghae menatapku sebal.

"Hei! Temanku temanmu juga! Han juga! Sudahlah. Yang penting dia bisa kembali sama keluarganya di China." ucap Donghae sok bijak. Entah mengapa aku menjadi geli sendiri mendengarnya.

"Padahal aku berniat mengajak Chullie awalnya, tapi dia pindah. Tidak seru." gerutu Donghae. Karena kasihan tidak ada yang menyahut, kusahuti saja.

"Memangnya kau mau apa?"

Mungkin ada kalanya orang-orang tidak perlu bertanya sebelum menyesal dengan hasil yang didapatkan. Hal itu berlaku juga untukku. Aku benar-benar sangat menyesal dengan pernyataan yang baru saja terlontar dari mulutku itu, karena...

"Kita mencari vampir!"

Tuh kan! Aneh-aneh! Malah dia memekik dengan semangatnya lagi! Apa aku harus membuatnya amnesia ya?

"Mana ada Hae." tanggapku penuh kesabaran. Kalau saja aku bukan tipikal penyabar, sudah habis dia.

"Ada! Pasti ada! Kita berangkat minggu depan!" ucapnya mutlak. Aku menghela nafas. Padahal aku tidak bilang terima ajakannya.

"Terserah."

~Unexpected Life~

"Hae! Aku lelah!"

"Sabar, sebentar lagi kita sampai!"

"Kau sudah mengatakannya lebih dari 10 kali!"

Donghae menghiraukan ocehanku. Dengan semangatnya ia tetap menerjang gunung tanpa mengenal lelah. Aku heran, apa yang ia lakukan sampai staminanya seperti itu sih? Aku saja capek.

Oke, mungkin aku yang bodoh. Kenapa aku mau saja disuruh Donghae menemaninya? Apalagi tempat yang dituju Donghae tidak terdapat apa-apa. Menurut berita, di tempat itu hanya terdapat tumbuhan unik. Mana ada-

"Seunghyun lihat!"

-kastil. Gila! Bagaimana mungkin bisa ada kastil disini? Aku curiga, antara aku dan Donghae yang gila atau si pembawa informasi yang tidak bisa melihat?

"H-Hae itu..."

Aku tercengang. Kastil itu terlihat sangat nyata. Dengan luas hampir mencakupi seluruh wilayah teratas gunung ini, dapat dipastikan kalau yang tinggal bukanlah hanya seratus dua ratus orang. Tunggu. Biar kugambarkan dengan logika. Tidak mungkin kastilnya memang seluas puncak gunung.

Ah, ternyata benar. Dari jarak yang lumayan ini, terlihat jikalau di sekitar kastil itu masih terdapat kota, dan diluarnya terdapat hutan yang begitu... mengerikan. Aku dapat mendengar auman entah binatang apa itu, yang jelas membuatku merinding seketika.

"Ayo ma-"

"Aku tidak mau masuk!" tegasku, memotong ucapan Donghae. Aku dapat melihat raut Donghae yang berubah heran dan kecewa.

"Wae?" tanyanya tak terima padaku. Aku menggeleng.

"Ini mengerikan Hae. Lagipula jika apa yang kau katakan benar, berarti kita dilarang masuk ke kekuasaannya sembarangan!" jelasku.

"Ayolah! Hanya orang tertentu saja loh yang bisa melihat tempat ini!"

"Aniya! Sampai kapanpun aku tetap tidak akan mau! Aku tunggu disini saja!" ucapku tegas. Donghae menghela nafas.

"Ya sudahlah. Biar aku yang masuk saja." putus Donghae dan tanpa konfirmasi ia memasuki gerbang kast- dunia itu. Masa dia tidak merasakan aura mencekamnya sih?

Aku mondar-mandir di depan gerbang itu menunggu Donghae. Meskipun tak masuk ke dalamnya, aku tetap waspada. Jangan-jangan vampir yang katanya tinggal satu di dunia itu malah muncul di belakangku. Kan seram.

Waktu sudah berlalu lebih dari 2 jam. Langit pun sudah kejinggaan. Kenapa Donghae tak kunjung balik? Jangan-jangan dia lupa diri? Atau dikasih jamuan makan sama si vampir? Atau mati?! Andwaeeeee aku tidak mau balik sendiri!

Apa lebih baik aku menyusul dan mengecek ke dalam ya? Tapi jangan-jangan Donghae malah sudah keluar. Ah belum dicoba mana tau!

Aku melangkah ragu mendekati wilayah... eum... perbatasan? Entahlah anggap saja seperti itu.

BRUK

Sial! Siapa sih yang menerjangku tiba-tiba? Sakit tau

"Hae?"

Aku terheran sekaligus lega. Manusia ini akhirnya keluar juga. Tapi mengapa nafasnya terengah-engah? Seperti ada yang mengejarnya saja.

"Hae? Gwaechanayo? Hae? Hei! Jawab!" kataku panik. Tentu saja panik! Donghae sedari tadi masih menstabilkan nafasnya dengan raut wajah menyiksa dan peluh bercucuran tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Siapa yang tidak akan panik kalau sudah begini eoh?

"Ha-"

"Pu... lang... cepat..." racaunya. Aku menatapnya heran.

"Bukankah kau mau kesini?"

"Pu... lang... cepat..."

"Jelaskan alasannya!"

"K-kubilang cepat pulang ya cepat pulang bodoh! K-kita... bahaya..."

Ucapannya terputus begitu saja kala ia memejamkan matanya dengan sempurna. Cih. Pingsan. Merepotkan saja.

Aku pun menggendong Donghae menuruni gunung. Seram dan butuh perjuangan juga nyali yang kuat dalam melakukan perjalanan ini memang. Tapi apa mau dikata. Aku tak tau apa yang terjadi di dalam sana sampai membuat Donghae seperti ini.

Bahkan seorang Donghae yang usil dan ceria hancur saat masuk ke dalamnya.

~Unexpected Life~

Sudah 2 bulan ini hari-hari kulewatkan bersama Donghae, semenjak kejadian itu. Aku tak pernah tau apa yang terjadi. Apa yang Donghae ceritakan hanyalah 'Aku melihat si vampir, dia keren.' lalu dia mengalihkan pembicaraan setelahnya. Kalau boleh jujur, aku kesal.

Selama ini Donghae bersikap seperti biasanya, seakan tak terjadi apa-apa. Namun ia suka mengeluh merasakan sakit di lehernya, dan ketika aku ingin mengeceknya, ia langsung mengatakan kalau itu hanya pegal biasa. Kadang kala ia tak tahan terlalu lama terpanggang dibawah sinar matahari. Oke, sejak awal ia memang tidak suka, tapi semakin lama ia semakin menghindari matahari. Panas katanya. Dan memang benar adanya.

Aku baru saja pulang kerja sekarang. Aku menebak-nebak, Donghae juga sudah pulang dari kantornya. Terlihat dari sepasang sepatu yang diletakkan sembarangan di depan pintu rumah. Huh! Padahal hari ini tugasnya mengurusi pekerjaan rumah, kenapa malah aku yang memperhatikan dan mengurusi sepatunya?

"Ah! Sshhh..."

Aku menyimpan sepatu di rak secepatnya begitu mendengar ringisan seseorang –yang kuyakini Donghae-. Aku mencarinya di kamar. Eh tunggu. Hari ini kan dia yang membereskan rumah, tidak mungkin malah bersantai di kamar!

Aku melangkah kembali ke lantai bawah. Walau rumah ini tak terbilang besar, tapi ukuran rumah ini membuatku cukup malas melangkah cepat.

Pada akhirnya aku sampai di tempat terujung rumah ini. dapur. Aroma daun bawang itu mengundangku beserta dengan bau kuah sup yang masih tercium samar.

Aku hendak menghampiri Donghae, namun sepertinya apa yang dilakukan Donghae mengubah pemikiranku. Aku lebih memilih untuk mengamatinya sementara. Mungkin sekitar 5 menit? Entahlah, tapi kurasa Donghae aneh. Dan ini bukan yang kali pertamanya.

"Hae, apa yang kau lakukan?"

Donghae agak tersentak. Ia yang sedari tadi menjilati jarinya langusng menurunkan tangannya dan menutupi bekas jilatannya. Aku memandangnya penuh tanya.

"A-aku sedang memotong daun bawang ini kok!" tunjuk Donghae pada sebagian daun bawang yang masih utuh.

"Lalu kenapa menghisap jarimu?"

"O-oh ini..." Donghae menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak gatal sambil memperlihatkan jarinya yang terluka. "Aku teriris."

"Lalu?"

"Kujilati biar darahnya berhenti mengalir."

Aku bersandar di tembok, menyilangkan kedua lengan di dada. Ini bukan kali pertamanya aku melihat Donghae yang mulai terobsesi darah. Ah sepertinya penggambaran 'terobsesi' terlalu mengerikan.

"Yang kutanyakan tadi, kenapa MENGHISAP-nya? Bukankah itu memperparah lukamu?"

Donghae terdiam sementara. Manik matanya melirik samping bawah, seakan mengingat sesuatu.

"Ah, mungkin kau salah lihat."

Aku mengangguk. Aku menunggunya di meja makan. Sampai kami selesai makan, kami masih diliputi keheningan. Aku berkali-kali melirik Donghae dalam diam. Biasanya namja itu akan selalu berceloteh tidak jelas, membuatku dapat bahan untuk ditanggapi. Sekarang, ia masih terlihat berpikir seakan mengingat apa yang ia lakukan tadi.

Oww... yeah... something happened.

"Hae."

"Hm?"

"Apa yang kau lakukan hari itu selain memukulnya dan bertingkah seperti pahlawan?"

See, apa yang kucurigai selama ini memang ada. Terlihat jelas tubuh Donghae yang menegang setelah mendengar pertanyaan tadi. Pasti memang ada yang salah.

"A-aniya! Beneran, tidak ada apa-apa!" elaknya gugup. Aku menarik kerah kemejanya –yang belum diganti dari kantor-, menekan sesuatu yang selalu membuatku penasaran disana, membuatnya meringis.

"Oh, jadi 2 luka ini yang membuatmu selalu menolakku setiap ingin memeriksa keadaanmu?" ucapku kecewa. "Aku tidak bodoh Hae, aku tau bekas luka ini bekas apa."

Donghae terdiam sementara, sedikit menahan ringisan. Ia menghempaskan tanganku, menolak keberadaan tanganku yang menyentuh lukanya. Ia menatapku penuh sesal juga sendu. Aku hanya dapat menatapnya menuntut penjelasan.

"Memang benar, dia sempat menggigitku. Tapi ketahuilah. Aku adalah orang yang beruntung karena tidak dibunuhnya. Aku sudah kabur terlebih dahulu."

"Kau gila! Bukankah kau sendiri yang bilang jika dihisap vampir-"

"Berhenti mengoceh Choi Seunghyun! Meskipun aku melapor juga tidak ada gunanya! Lalu kau mau apa jika sudah mengetahuinya? Membunuhku? Mengasingkanku?" selanya tak kalah emosi. Aku menghela nafas. Memang jika ia katakan segalanya tak akan mengubah situasi.

"Biarkan-"

"Bunuh aku jika aku sudah keterlaluan. Mudah kan?" lagi-lagi Donghae menyela. Ia membongkar tumpukan kain di lemari dapur. "Ini. Pegang saja." Donghae menyerahkanku sebuah pistol yang baru saja ia masukkan peluru. Aku menatapnya antara ragu, heran, kagum, dan tidak percaya. Mengapa aku tidak sempat mendeteksi benda ini di lemari?

"Dari mana kau mendapatkan ini?"

"Tidak penting."

"Hae serius!"

"Aku serius! Untuk apa aku memberitahumu? Aku yang menyiapkan semuanya! Aku yang memikirkan cara untuk mati!"

Donghae membawa tanganku yang sedang menggenggam pistol, menaruhnya tepat di daerah jantung.

"Apa sulitnya sih membunuhku? Tinggal mengarahkannya kesini, tarik pelatuh, dan bang! Good bye. Mudahkan?" ucapnya dengan mudah seakan bercanda. Ia meninggalkanku terdiam di dapur bersama piring kotor dan langsung menuju kamarnya.

"Hah... dia gila!"

~Unexpected Life~

"Hm?"

Aku menautkan alis mataku, melihat seekor ikan yang tergeletak di lantai menyambut hidungku dengan bau amisnya setelah pulang kerja. Masa iya, ikan punya kaki sendiri, terus bisa melompat kemari?

Ah, Donghae sialan. Mentang-mentang hari ini aku yang beres-beres rumah, dia bisa membuang barang seenaknya.

Eh tunggu.

Barang? Itu ikan!

Aku mengangkat ikan yang tergeletak itu tinggi-tinggi. Jijik memang melihat kondisi ikan mentah yang sudah terkoyak dan kehilangan darah itu dari dekat.

"Apa Donghae memelihara kucing?" gumamku. Belakangan ini ia memang semakin mencintai kucing.

Aku mengendikkan bahuku tak peduli, membuang ikan itu di tong sampah depan rumah, lalu melepas sepatu dan kaus kaki-ku.

"Urgh... seharusnya kalau memelihara binatang dijaga! Jorok sekali, lantai berceceran darah. Bau."

Aku mengikuti jejak darah ikan itu, berharap menemukan Donghae dengan peliharaan barunya, lalu menyeramahinya gara-gara memelihara binatang sembarangan. Jejak itu putus dan sampailah diriku di depan kamar Donghae.

"Hae! Kalau punya peliharaan itu dija-"

Aku terdiam mematung di tempat. Dari depan pintu kamar ini, aku dapat melihatnya yang sedang berdiri dan mengambil ikannya dari aquarium. Jendela dengan latar langit malam beserta dengan pepohonan di belakangnya menyempurnakan pemandangan yang tengah kulihat sekarang. Kalau saja sekarang ada kontes foto, pasti pemandangan unik dengan Donghae sebagai objeknya ini sudah kuambil. Ah tidak jadi. Pemandangan ikan yang berceceran di sekitarnya memberikan kesan yang mengerikan.

Ah...

Haruskah aku menghajar diriku sendiri ataukah menghajarnya? Kumohon, siapapun sadarkan aku dari mimpi ini.

"Hae!"

Donghae menusuk perut ikan yang tengah memberontak itu hingga tak bernyawa.

"Donghae!"

Donghae melebarkan luka di tubuh ikan kecil itu dan menjilati jarinya.

"Lee Donghae!"

Sekali lagi teriakanku tak mempan. Donghae menjilati darah ikan itu dan meminumnya. Pemandangan biasa yang mengerikan.

"Hae! Lee Donghae, sadar!"

Donghae membuang ikan itu dan kembali mengobok isi akuarium. Ikan terakhir. Seharusnya ia sadar apa yang ia lakukan! Ikan itu binatang kesayangannya!

BRUGH

Hufft. Beruntung sekali. Ikan itu kembali melompat ke dalam akuarium dengan selamat. Kucengkram kerah baju Donghae sementara ia sendiri hanya diam tanpa perlawanan. Manik matanya yang kemerahan menatapku hampa.

"YA! Apa kau sadar apa yang kau lakukan?!" bentakku. Donghae masih terdiam dan menatap hampa. Perlahan seringai kecil tersungging di bibirnya.

"Lalu?"

Emosiku hampir-hampir memuncak. Kemana Lee Donghae si penyayang binatang?

"Lalu, lalu, apa maksudmu lalu?! Bukannya mereka peliharaan kesayanganmu? Kau bosan? Bukan begitu caranya menyingkirkan mereka bodoh!"

"Tak ada yang berguna dari mereka. Lebih baik mati daripada hidup sia-sia."

BUAGH

"Kau gila! Apa yang kau pikirkan bodoh?!"

Aku menstabilkan nafasku yang memburu, masih terduduk diatas perut Donghae. Aku kecewa. Benar-benar kecewa. Mengapa Lee Donghae berubah? Apa dia sudah mencapai batasnya? Mengingat hal itu membuatku merasa gusar.

"S-Seung... Hyun...? Ukh.."

Kulihat raut dingin Donghae perlahan berubah seperti sedang menderita. Ringisannya cukup membuatku melangkah mundur waspada.

"Ukh... pipiku sakit. Apa yang terjadi?"

Aku masih menatapnya was-was. Ia beranjak duduk, memegangi pipi berhiaskan memar hasil karyaku. Ia meringis perih.

"YA! Apa yang terjadi?" tanyanya lagi. Pertanyaan bodoh meluncur dari bibirku.

"K-kau Donghae?"

Donghae memutar bola matanya, menatapku jengah.

"Yah... apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku Donghae! Kau mabuk ya? Kau kira aku siapa? Sshhh.."

"Jangan di tekan bodoh! Itu membuatmu makin sakit!"

Donghae mengerutkan keningnya memandangku seakan aku seorang tersangka.

"Kau yang menonjok wajahku ya?" ia menuduh. "Huh. Lagipula bau apa ini? Amis sekali seperti darah. Kau habis memotong daging ya?"

Aku menengokkan kepalaku ke belakang, memandang beberapa ikan yang tercecer di lantai lalu menatap akuarium. Donghae sepertinya mengikuti arah pandanganku, karena ia tiba-tiba membatu begitu saja.

"Kau... kau apakan ikan-ikanku?"

Aku menghela nafas depresi. Beranjak berdiri, aku sedikit membungkuk dan menyentil keningnya.

"Apa sekarang sudah mencapai batasnya?"

Dia menatapku heran. Kutunjuk bercak darah yang menempel di sela kuku-nya, juga yang masih terlihat basah di bawah dagu-nya. Masih terheran, dia menyeka apa yang kutunjuk. Aku menahan nafas, membayangkan reaksi seperti apa yang akan ia berikan kalau tau dia sudah kumat.

"A... aku..."

Ia berucap terbata, menatap tangannya ngeri. Matanya berkaca-kaca hendak menangis.

Ia berdiri sebelum aku hendak membuka mulut. Menarik tanganku menemaninya berdiri. Mengangkat akuarium kecil yang mampu menampung 5 ikan kecil dan menyodorkannya kepadaku. Memaksaku menemani satu-satunya ikan yang masih sanggup bertahan hidup.

"Jaga dia untukku." katanya. "Aku butuh menenangkan diri." lanjutnya, menampung ikan-ikan kecil tak bernyawa itu ke dalam sapu tangannya, kembali menyodorkannya kepadaku.

"Sekalian kuburkan." perintahnya secara tak langsung mengusirku secara halus. Sebelum aku benar-benar meninggalkannya, ia membersihkan bercak-bercak darah di lantai dan terduduk frustasi, membuatku semakin khawatir.

~Unexpected Life~

Sesuai yang Donghae duga. Hari itu datang. Benar-benar mengejutkan karena hari itu bertepatan seminggu dengan berita kematian Heechul minggu lalu. Semua rahasia Heechul pun terkuak oleh kami berdua. Dimana Heechul yang sebenarnya memiliki tugas untuk membasmi vampir, drakula, atau apapun itu dan kalah perang dengan mereka yang sulit terjangkau oleh mata manusia tak bersangkutan. Pantas saja dia seakan tau tentang immortal dulu.

Donghae pun semakin terpuruk. Tak menyangka ia dan Heechul yang kini hidup bertentangan. Hal serupa juga kualami. Aku yang merasakan sesuatu menyesakkan. Disini. Jauh di dalam dadaku.

BRAK

Aku berhenti memandang sang purnama. Kutatap pintu kamarku, memperkirakan apa yang sedang terjadi di luar sana. Tanpa pikir panjang aku berbegas keluar.

Kamar Donghae.

Ruangan itulah satu-satunya yang kuyakini membuat keributan. Kamar yang hanya berhadapan dengan kamarku itu tertutup seperti biasanya. Kuharap pintu itu tak terkunci. Biarpun tak terjadi sesuatu, setidaknya aku bisa memantau namja yang mengkhawatirkan itu.

Cukup bersyukur Donghae mau makan setelah seminggu ini mogok makan, antara terpukul atas kematian Heechul yang katanya dibunuh vampir atau karena dia memiliki darah vampir. Dan sekarang aku menemukan kondisi kamarnya yang hancur berantakan dengan pecahan gelas sedikit tersebar di samping tempat tidurnya. Posisi yang membelakangiku membuatku tak yakin apakah ia sedang menikmati benda langit atau melamun di depan jendela.

Namun sepertinya cara Donghae berdiri di depan jendela tidak menunjukkan jika ia sedang mengamati langit malam. Belum sempat aku melewati perbatasan lampu mejanya, dia terlebih dahulu menoleh kepadaku.

Hening.

Satu kata yang mampu menggambarkan suasana yang tengah kuhadapi sekarang ini.

Mulutku sedikit terbuka, mataku sedikit membulat. Mungkin bila aku mengamati diriku sendiri dengan perantara cermin, akan terlihat kalau aku sedikit terkejut. Tapi sebenarnya hatiku mengatakan lebih.

Ia menatapku begitu dingin. Aura yang terpancarkan oleh matanya seperti biasanya berubah menjadi hampa. Sementara aku memanggil dirinya, ia menyeringai, menampilkan kedua taringnya yang begitu tajam.

"Aku bukan Donghae. Donghae sudah mati."

Begitu ucapnya. Tak bisa dipungkiri hatiku mencelos. Seakan ada yang dengan sengaja melubangi hatiku jauh di dalam sana. Aku berharap ia sedang bercanda dan Donghae sedang berakting, namun tak sedikit pun kebohongan terpancar di manik mata kemerahannya itu.

"Aiden. Selamat tinggal."

Ia membalikkan tubuh, melompati jendela. Ia menghilang begitu saja sebelum aku sempat menanyakan kemana ia ingin pergi. Kehilangannya merupakan tamparan keras bagiku. Bagiku yang telah hidup bersamanya layaknya saudara kandung. Aku sangat membutuhkan siapapun yang rela menghajarku bahkan sampai mati demi terbangun dari mimpi buruk ini.

Kemudian aku tersadar.

Aku adalah sahabat yang bodoh.

Tidak. Tidak mungkin ini semua terjadi begitu saja. Mungkin akulah yang tidak peka sebelumnya.

Donghae sudah mencapai batasnya sejak lama. Ia hanya berusaha menahannya. Sekarang tak ada lagi yang dapat mengontrolnya.

Kepribadian baru huh?

Namanya bukan Donghae melainkan Aiden. Sementara Donghae adalah manusia, maka Aiden-lah vampir. Begitulah analisis kecil di tengah emosiku yang bercampur aduk. Bisa kubayangkan berapa ribu kali ia merutuk dan berusaha untuk melepas sisi vampirnya hingga kepribadiannya bisa terpecah begini.

Aku terjatuh dan menangis. Untuk menghentikannya pun sudah sulit. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya membunuhnya perlahan. Selama ini aku tak tau betapa tersiksanya dia. Aku benar-benar tak berguna. Aku benar-benar bodoh. Dan lagi...

Tepat dibawah sang purnama ketiga, seorang vampir baru terlahir.

.

.

.

.

.

TES

TES

Beberapa bulir air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata satu-satunya cucu dari Choi Seunghyun. Ia mengusap tetes air mata yang tak terasa mengalir, menutup buku dan menatap langit.

"Purnama..."

.

"Aku benci darah apalagi malam dan bunga purnama."

.

"Ah. Kita tidur siang bertiga yuk!"

Hyukjae maupun Kangin menatap Donghae dengan tatapan bingung.

"Wae? Memang salah tidur bertiga? Kan lumayan untuk kenangan."

.

Melalui memori kecil itu pikiran Kangin terhubung.

Saat-saat pengakuan apa yang dibenci Donghae...

Ketakutan Hyukjae saat pertama bertemu Donghae...

Mengapa Donghae dan Hyukjae begitu cepat bersatu.

Mengapa Donghae dan Hyukjae terlihat mengerikan beberapa minggu terakhir...

Ya. Semua ini pasti ada hubungannya.

"Terima kasih, Shin ahjussi!"

Kangin berlarian dan mengejar taksi kemana saja. Ia tau kearah mana tujuannya namun ia tidak yakin ia hanya dapat mengandalkan perasaannya saja. ke tempat manapun asal semuanya tidak terlambat.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's Territory:

Mereka dimatiin gak ya? xD

Feelnya dapet gak sih? Kok CLA ragu ya? Mana CLA bacanya ngantuk banget lagi.

Eh, kalo dipikir-pikir Hae kasian ya. Haus minumnya darah ikan hias xD /slap

Dan sori banget chap ini panjang. Jangan sampai ketiduran sih ya :p

myfishychovy: iya nih, tapi mungkin mreka lagi UN :D pasti nanti balik lagi kok xD Gomawo reviewnya^^

Arum Junnie: *hening* Kalau CLA kasih tau sekarang ga seru dong ya ._.a Gomawo reviewnya^^

Arit291: nekat apanya? Ngejar hae gitu?^^ Gomawo reviewnya~ :D

haehyuklee: makin angst kah? Kok CLA gak berasa ya? Hmm... oke deh. udah lanjut nih. Gomawo reviewnya xD

J. Clou: iya tuh. Imut-imut gitu hunter haha. Kitsune itu rubah ekor 9. Di Jepang sih ada mitosnya, makanya Naruto juga ambil konsep(?) yg sama. Gomawo reviewnya~ :D

Yui the devil: tuh udah kejawab :D Gomawo reviewnya^^

LonelyKim: kira-kira siapa yang mati hayo? Changmin kan mati juga haha. Gomawo reviewnya~^^

Jiahaehyuk: oke, review diterima dengan tangan terbuka. Gapapa sih, kadang juga CLA suka mood-moodan kalo review haha. Gomawo reviewnya^^

lyndaariezz: Kangin sih Cuma bisa main tebak-tebakan doang ._. Udah lanjut, Gomawo udah review^^

Thanks bagi yang ngereview, favorite, follow, sama readers ya :D mian kalau mengecewakan. CLA usahain chap berikut-berikutnya lebih bagus^^

See u~