"Kau berutang satu cerita padaku tadi."
"Oh iya, baiklah. Aku terdampar disini dan bertemu Twilight. Kasus kita sama hingga dia menjelaskan tentang apa yang dari tadi kukatakan padamu mengenai dua dunia dan dunia yang sekarang ini. Aku harus mengganti pakaianku dengan pakaian model ini agar tidak dicurigai oleh orang sekitar."
Shinichi menghela napas, "Bagaimanapun juga, aku harus tahu mengapa aku dibawa kesini."
"Sepertinya disini beda jaman dan waktu deh. Ketika aku ada dirumah, ini tengah malam dan ketika aku disini, ini tengah hari. Sepertinya disini dengan dunia kita berselisih sepuluh jam." Ujar Heiji. Shinichi mengangguk.
Mungkin mereka akan lama di dunia magis ini...
...
...
...
...
...
Disclaimer:
Detective Conan © Aoyama Gosho
Snow Queen © Hans Christian Andersen
...
...
Warning:
Dark Shiho, OC, OOC, Typo(s),EyD, alur kecepetan, aneh, gaje, and many..
...
...
"An Old Legend"
Sang Ratu telah murka dan dalam sekali tiupan, kota tersebut membeku selama seratus tahun hingga akhirnya Shiho yang merupakan reinkarnasi sang ratu bisa meneruskan atau malah mematahkan kutukan terhadap kota tersebut.
...
...
Paragraf yang di italic itu potongan kisah masa lalu.
...
...
CHAPTER 6
...
...
...
...
...
Sudah satu bulan semenjak kedatangan Shinichi dan Heiji ke dunia magis. Mereka menetap di rumah Twilight dan menemukan bakat supranatural di dalam diri mereka. Shinichi bisa mengendalikan api sementara Heiji mengendalikan tanah. Semuanya punya bakat masing-masing dan mereka berdua mengerti bahwa mereka ada kaitannya dengan masa lalu dunia magis selama ratusan tahun yang lalu. Sekarang itu mereka sedang berada di hutan untuk berburu rusa.
"Mengapa dia menyuruh kita untuk memburu rusa biasa ketimbang rusa hitam?" keluh Heiji karena disuruh berburu oleh Twiight, "dia kan punya ayam dan sapi di perternakan."
"Twilight pasti mempunyai alasan menyuruh kita berburu rusa biasa. Kau tahu 'kan rusa hitam itu hanya digunakan untuk keperluan tertentu. Mungkin kita disuruhnya mencari daging untuk makan malam." timpal Shinichi sambil menatap senapannya. Heiji berhenti dan membidik targetnya lalu akhirnya menembak rusa tersebut.
"Ayo bawa rusa itu cepat!" Ujar Heiji lalu dilanjut dengan anggukan Shinichi. Mereka akhirnya membawa rusa tersebut tapi sebelum berjalan menuju rumah, Shinichi merasa diawasi.
Pria itu melihat dengan teliti apa yang ada di balik pepohonan dan sosok bergaun putih itu muncul lagi lalu tiba-tiba menghilang.
'Apakah itu...'
Shinichi segera berlari meninggalkan Heiji dan rusa yang baru saja ingin dibawanya. Pria itu terus berlari dan berlari hingga akhirnya dia melihat sosok itu. Sosok bergaun putih itu lagi. Heiji menyusulnya tapi dia sudah tertinggal jauh.
'Semoga kau baik-baik saja, Shinichi' Heiji mulai pasrah dan terus mencari Shinichi. Sementara di bagian lain hutan, Shinichi sedang berhadapan dengan wanita bergaun putih tersebut. Wajahnya tertutup tudung dan membuat Shinichi susah mengenali wajahnya.
"Kau yang muncul di hari kecelakaanku itu 'kan?" tanya Shinichi. Seringaian muncul di wajah sosok itu. "Kalau itu benar, memangnya kenapa?"
"Kau! Kau yang telah membuatku celaka 'kan?" emosi pria itu naik. Sosok itu mundur satu langkah, "Kalau itu benar, memangnya kenapa? Ada masalah, detektif?"
"De-detektif? Bagaimana kau bisa tahu pekerjaanku?" wanita itu menyerigai lebar dibalik tudungnya, "Ternyata benar yang diketahui wanita pirangmu itu,"
Mata Shinichi membulat, "Wanita pirang?" hingga Shinichi sadar siapa yang dimaksud wanita pirangnya tapi suara dari sosok bertudung di depannya membuatnya mengenali suara itu. Suara itu...
"Kau apakan Shiho? Kau yang membuatnya jatuh dari gunung itu?"
"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya jatuh dari puncak tertinggi gunung itu ketika dia berhasil menangkap rusa biru itu. Kau tidak akan tahu bagaimana reaksinya ketika melihat rusa biru bersama orang biru itu. Sekali lagi mereka menampakkan wujudnya selama seribu tahu lamanya. Pertanda kematian akan datang jika seseorang melihat salah satu dari mereka,"
"Dan kau pasti tidak pernah melihat tatapan sedih dan air matanya yang turun karena kau terlalu sibuk mengurusi kekasih jalangmu itu. Kau tidak akan pernah tahu bahwa dia menggumamkan namamu sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya. Sungguh bodohnya dirimu."
"Shiho..." tanpa sadar dia menggumamkan nama itu. Nama dari wanita yang bersedia mati untuknya sekalipun.
"Wanita pirangmu telah berubah. Pikirkan matang-matang jika kau ingin bertemu dengannya lagi dan aku pasti selalu bersedia untuk membuatmu bertemu dengannya...lagi." ada nada melankolis campur benci dalam setiap kalimat yang dia ucapkan.
Sosok itu membuka tudungnya dan wajahnya menjadi lebih jelas. Matanya benar-benar membulat sempurna. Dia...dia!
"Karya mencerminkan hati pembuatnya. Setiap coklatnya sedang tersenyum, tetapi wajahnya sedang bersedih."
"Mungkin jika aku telah terbunuh oleh organisasi, tidak akan ada lagi orang yang terbunuh."
"Aku berusia delapan belas tahun, satu tahun lebih tua dari usiamu. Mungkin suatu saat nanti..."
"Oh begitu. Jadi kau sedang membayangkan gadis yang sedang kau sukai mempunyai tubuh seperti wanita itu, 'kan?"
"Aku tidak sedang melarikan diri dari hiu, melainkan dari lumba-lumba. Aku tidak bisa bersaing dengan lumba-lumba, bahkan hiu jahat yang keluar dari dasar laut yang dingin dan gelap saja tidak berdaya."
"Kau hanya akan terus khawatir...ini tentang pacarmu, 'kan?"
"Aku akan lari bersamamu."
"Mengapa kau tidak menyelamatkan kakakku?"
"Aku ingin pergi berburu rusa. Kalian semua tunggulah disini. Aku akan kembali secepatnya."
"Aku menyukaimu."
"Senang bertemu denganmu."
"Nama sandiku Sherry."
"Halo, Kudo-kun." Sapanya dingin dengan suara yang kelewat merdu.
"Shiho..." Tanpa sadar dia berbalik dan berjalan menuju pinggiran jurang dan menjatuhkan dirinya.
Pengaruh sihir.
Dia terpengaruh oleh sihir dan dia jatuh kebawah.
.
.
.
"Kau sudah bangun, dik." Ujar Twilight sambil meminumkan ramuan racikannya untuk obat pria itu. Heiji menghampirinya bersama seorang gadis berambut pirang bermata sewarna batu ungu cerah dan bertubuh tinggi langsing.
"Aku Amethys. Teman sekaligus murid Miss Twilight. Akulah yang mengganti pakaianmu tempo hari." Ujarnya datar.
'Cantik-cantik tapi orangnya datar. Seperti...Shiho' batinnya lalu menatap Amethys. Shinichi menoleh ke arah Twilight, "Apa dia diperlukan disini?"
"Tentu saja aku diperlukan disini. Memangnya siapa yang membantu Miss Twilight meracik ramuan dan membersihkan darahmu yang berceceran di sekujur tubuhmu?" jawab Amethys ketika Twilight baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Shinichi.
"Kau tidak sadar selama lima jam." Twilight berucap pelan.
"Apa hubunganmu dengan Seth baik-baik saja?" Amethys langsung tersenyum lebar, "Kami berencana menikah tahun depan. Pastinya aku akan mengundangmu ke pesta pernikahanku nanti, Miss Twilight."
Heiji hanya menatap Shinichi seolah tidak memperdulikan percakapan Amethys yang jelas-jelas terdengar di telinganya yang tajam.
"Mengapa kau meninggalkanku di hutan lalu bisa jatuh dari puncak gunung, sobat?" tanya Heiji. Shinichi menunduk, "Aku bertemu Shiho di hutan. Itulah mengapa aku berlari."
"Hidup memang penuh kejutan." Timpal Twilight yang belum sadar akan kata-kata pria yang kalimatnya dia timpali. Mata Twilight membulat setelah mencerna kalimat tersebut, "Apa?! Kau bertemu temanmu yang kau bilang sudah mati itu?"
Shinichi mengangguk sementara Heiji yang sedang membersihkan pakaian abad pertengahannya yang diciprati darah rusa tadi menatapnya dengan aneh, "Kau jangan bercanda, Shinichi. Shiho sudah meninggal. Dia tidak mungkin hidup lagi!"
"Aku tahu tapi aku bersumpah aku melihat dirinya memakai gaun putih panjang ketat dengan jubah bulu yang besar. Tapi sorot matanya menampakkan kebencian. Aku bersumpah dia memperlihatkan dirinya." Balas Shinichi. Amethys terlihat mengerti.
"Biar aku jelask––" belum sempat Amethys melanjutkan, Heiji memotongnya. "Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, Amethys! Kita harus mencari cara untuk kembali ke dunia kita! Ke Jepang!"
"Kalian dari dunia seberang, ya? Pantas nama kalian aneh." Amethys menanggapi. Twilight menggelengkan kepalanya frustasi, "Berhentilah dulu! Kita akan pikirkan caranya!"
Kedua pria itu langsung diam ketika Twilight membentak mereka. Mereka menatap Twilight takut-takut sementara wanita itu mengambil sebuah buku dari rak tersembunyi yang Shinichi ataupun Heiji tidak pernah ketahui.
"Kita akan melihatnya di buku peninggalkan leluhurku." Ujar Twilight sambil membuka bukunya. Setelah beberapa menit berkutat dengan buku yang tebal tersebut, Twilight menampilkan wajah pasrah lalu menggeleng.
"Tidak ada hasil di Immortalista* milikku."
"Sebenarnya aku bisa membuka portal untuk pergi ke dunia seberang, hanya saja ritualnya agak rumit. Harus pada bulan purnama dan pengorbanan yang harus kalian lakukan juga untuk pergi kesana." Ujar Amethys yang membuat semuanya menoleh ke arahnya dengan tatapan ingin tahu.
"Apapun asal kami bisa kembali."
"Kalian harus mengorbankan tiga tetes darah kalian. Apa itu tidak apa-apa?" kedua pria itu menggeleng dan akhirnya kesepakatan dilaksanakan.
Ritual dilaksanakan dan saat itu kebetulan bulan purnama sudah muncul. Semua pergi ke halaman belakang rumah dan menyiapkan cermin ukuran besar, jantung hewan yang masih segar, bunga mawar, larutan air suci/air jernih, dan satu buah kunci. Cermin di dirikan dibawah sinar bulan secara langsung dan masing-masing mengorbankan tiga tetes darah masing-masing lalu dicampurkan di larutan air suci. Keempat orang itu berkumpul di depan cermin yang agak besar itu dan Amethys yang berada paling depan karena dia yang bertanggung jawab untuk membuka portal tersebut.
Amethys segera mencabuti kelopak bunga mawar hingga kelopak itu berkumpul dalam genggamannya.
"Portal, kupanggil kau kembali bersamamu." Ujarnya yang sepertinya itu mantra. Gadis itu menghamburkan kelopak mawar itu dan dengan ajaibnya kelopak-kelopak yang berjatuhan itu langsung membentuk sebuah rune yang tidak pernah mereka lihat.
Amethys mengambil jantung kelinci yang masih segar dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga sejajar dengan sinar bulan.
"Aku korbankan jantung hewan suci ini agar dunia seberang bisa terhubung."
Dan dengan cepat, tangan Amethys yang dipenuhi darah kelinci yang lengket segera menggali tanah gembur depan cermin dan menguburnya di dekat rune sihir tadi. Darah yang melengket di tangan gadis itu berangsur-angsur menghilang.
Gadis itu megambil air suci yang berwarna kemerahan karena bercampur dengan darah dan memercikkannya ke tubuh masing-masing.
"Aku korbankan darah ini agar dunia ini bisa terhubung."
Gadis itu akhirnya mengambil kunci yang telah dipersiapkan lalu mengangkat benda tinggi-tinggi hingga sejajar dengan sinar bulan yang terpantul di cermin.
"Dengan kunci ini, kuperintahkan dua dunia untuk bersatu dan membentuk penghubung."
Ada jeda setelah Amethys mengatakan keempat mantra dalam ritual. Wajahnya nampak ragu hingga akhirnya dia mengucapkan mantra terakhir.
"Gerbang dua dunia, terbukalah untukku!"
Setelah Amethys mengucapkan mantra itu, cahaya yang dipantulkan langsung menjadi sangat terang hingga cermin itu menyedotnya masuk dan membawa mereka ke dunia tempat Shinichi dan Heiji tinggal.
"Aww! Kau menindih kakiku!" erang Shinichi yang kakinya ditindih oleh Heiji. Keempat orang itu sudah tiba di suatu tempat.
"Ini...rumahku." ujar Shinichi ketika menyadari bahwa dia terdampar di kamarnya sendiri.
"Ketika kita pergi dari dunia magis ke dunia nyata, pakaian kita akan menyesuaikan tren, zaman dan dunianya." Ujar Amethys sambil memandangi tubuhnya yang dibalut dress bunga sakura ¾ senti dibawah lutut.
"Kamarku ini kelihatannya terurus padahal sudah satu bulan lamanya kita tinggal di Redstone."
"Jangan-jangan mereka mengira kita sudah mati. Kita harus segera muncul di hadapan mereka!"
"Amethys, Twilight. Kalian tunggulah disini." ujar Shinichi dan dibalas dengan anggukan keduanya. Kedua pria itu turun ke lantai bawah dan menemukan Hakase, orang tua Shinichi, orang tua ran, dan orang tua Heiji duduk diam di ruang tamu.
"Otou-san? Oka-san?" Shinichi menatap kaget semua orang yang ada disitu. Heiji juga begitu, "Mengapa kalian ada disini?"
Yukiko dan Yusaku langsung menghampiri Shinichi lalu memeluk anak semata wayang mereka. Yukiko menangis entah karena sedih atau bahagia.
"Kau darimana saja, Shin-chan! Kau menghilang selama satu bulan tanpa mengabari kami apapun." Ujar Yukiko sambil terisak. Shinichi hanya menoleh ke arah Heiji yang juga dipeluk oleh orang tuanya.
Wajah Hakase sudah agak baikan walau dia masih murung. Dia masih belum bisa menerima kematian Shiho. Twilight dan Amethys tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Halo, namaku Amethys dan ini guruku, Twilight. Senang bertemu kalian semua, teman-teman!" sapa Amethys lalu meniupkan sebuah bubuk berwarna perak ke semua orang kecuali Twilight, Shinichi, dan Heiji. Semuanya langsung jatuh tertidur.
"Kupastikan bahwa mereka tidak akan mengingat kejadian malam ini."
"Kau hebat!" puji Heiji. Amethys tersenyum tipis.
"Ayo pergi ke makam Shiho!" ujar Shinichi lalu menyambar kunci mobilnya lalu pergi ke taman pemakaman tempat Shiho dimakamkan. Tak lupa juga mereka membawa sekop. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka berempat bisa sampai ke tempat tujuan.
"Aku..masih..hueeek...mual." ujar Amethys lalu muntah lagi. Twilight juga begitu. Efek tidak pernah naik mobil pikir Heiji. Segera dia gali kuburan Shiho dan akan membuka peti mati tersebut.
"Shiho tidak mungkin hidup kembali. Tubuhnya pasti sudah menjadi tulang." Ujar Heiji sembari berhenti menggali. Saat itu sudah senja dan taman pemakaman menjadi sangat sepi.
"Biar aku jelas––" ucapan Amethys dipotong lagi tapi dengan orang yang berbeda, "Mau bertaruh? Gali makam ini jika kita ingin mendapatkan hasilnya."
Amethys memutar matanya kesal karena dia diabaikan. Shinichi segera merebut sekop dari tangan Heiji dan menyekop tanah makam Shiho. Petinya telah dikeluarkan dengan bantuan sihir Amethys. Sebelum membuka peti itu, ada rasa ragu menjalari hati Shinichi.
'Bagaimana jika selama ini aku salah? Bagaimana jika yang kulihat di hutan benar-benar bukan Shiho?' batinnya. "Cepatlah Shinichi! Aku tidak mau menunggu!" Shinichi akhirnya membuka peti itu dan isi peti itu adalah...
Gelongongan kayu.
Semuanya kaget ketika melihat isi peti itu.
"Gelondongan kayu? Kau pasti bercanda!?" seru Heiji yang tidak percaya. Dari keempat orang tersebut, hanya Amethys yang tidak terkejut.
"Biar aku jelaskan. Sebenarnya kau bisa membangkitkan orang yang sudah mati tapi yang kau bangkitkan bukanlah jiwanya yang dulu lagi. Dalam kata lain, iblis yang telah memasuki tubuhnya. Mereka memang orang yang sama tapi hanya secara fisik," Amethys menjelaskan hal yang sebelumnya ia ingin jelaskan.
"Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" Heiji berdiri dan membentak Amethys tepat di depan wajah gadis itu. amethys yang kelewat emosi put berdiri dan maju selangkah menuju Heiji. Dalam sekali pukulan Amethys menonjok wajah Heiji.
"Aku ingin menjelaskannya tetapi kau memotong ucapanku dua kali ketika aku ingin menjelaskannya! Yang pertama ketika di rumah Twilight dan kedua ketika kalian ingin menggali makam wanita ini." Amethys balas membentak Heiji yang mematung di tempat.
"Kubur peti itu kembali. Biar aku jelaskan tentang membangkitkan orang yang telah mati itu ketika kita kembali ke Redstone." Tambahnya setelah dirinya bisa mengontrol amarahnya.
Shinichi dan Heiji akhirnya mengubur kembali peti kayu jati yang berwarna kecoklatan itu lalu pulang. Dia ingin kembali ke dunia magis agar bisa menguak ketidak beresan dari semua ini. Mereka akhirnya kembali ke dunia magis dan menutup portal yang sebelumya telah Amethys buka. Sekarang mereka berada di ruang tamu rumah Twilight sembari memakan kuki yang dibuat wanita berambut hitam lebat tersebut.
"Dalam ilmu sihir hitam––sebelumnya dengarkan aku dulu dan jangan menganggapku penyihir hitam hanya karena aku mengetahui ilmu sihir hitam––ada tiga cara membangkitkan orang mati. Pertama, dengan cara memakai salah satu bagian tubuhnya untuk membangkitkannya,"
Amethys menghela napas sebelum melanjutkan.
"Ritualnya hanya mengucap mantra dan membakar bagian tubuh itu lalu bingo! Mereka yang telah tiada bangkit kembali tapi...yang menghuni jiwanya bukanlah jiwanya, melainkan iblis dan akan mati jika jantungnya dipasak,"
"Yang kedua adalah dengan cara membangkitkan sleeper dari orang itu. Itu sedikit rumit dari cara pertama. Caranya adalah mengucapkan mantra, mengorbankan jantung hewan yang masih hangat dan segar, dan mengubur benda milik orang itu. Maka orang itu akan bangkit tapi wajahnya sedikit mengerikan. Penampilannya tidak seperti zombie tapi tetap mengerikan. Dia utuh hanya saja...dia memakan darah agar perutnya kenyang. Jiwanya tetap sama. Sleeper hanya hidup selama tujuh hari penuh lalu kembali menuju alam baka,"
"Tapi jika dia sekali telah menumpahkan darah selama masa hidupnya sebagai sleeper, dia akan hidup kekal dan tidak bisa dibunuh dengan cara apapun. Dia akan diketahui kedatangannya dengan mendengar suara garukan atau goresan di lantai tempat dia datang atau bersembunyi,"
"Yang ketiga adalah dengan memakai mayat yang utuh. Jika mayatnya dalam kondisi utuh, dijamin dia akan bangkit dan jiwanya tetap sama. Dia seperti terlahir kembali hanya saja ritualnya sangat rumit. Tidak banyak yang kutahu selain ini."
"Sebagai penyihir dan muridku...kau sangat pintar, Methy. Aku sangat bangga memiliki murid sepertimu." Puji Twilight sambil membawakan Amethys susu murni. Amethys hanya tersenyum lebar.
"Miss Twilight, aku sudah menguasai ilmu sihir dan ilmu meracik obat-obatanmu. Seperti yang kau janjikan tempo hari, kapan kita akan belajar ilmu pengobatan milikmu?" iris amethys milik gadis yang bernama sama dengan matanya sendiri menatap Twilight dengan berbinar seolah telah mendapatkan hadiah.
Twilight terkekeh, "Secepatnya."
"Aku ingin ke Maggieshier." Ujar Shinichi yang membuat semuanya diam. Amethys menatapnya datar, "Apa kau gila?! Tidak ada Maggieshier di Magixian. Kau pasti meracau."
"Tidak. Maggieshier memang ada." Timpal Twilight. "Aku kira..."
"Kau benar, dik. Maggieshier memang ada tapi telah tertimbun salju dari awal masa kematian King Leor." Tambah Twilight lalu mengambil *Immortallista-nya.
"Kau ingat ketika kau belajar sejarah, Mr. Millowry pernah menceritakan tentang King Leor yang hidup dua belas abad yang lalu, Methy?" Amethys mengangguk, "Tapi itu pelajaran tahun kelima dan aku sudah tidak mengingat semuanya lagi."
"Coba ingat-ingat lagi! Pasti ada sedikit yang kau ingat." Ujar Shinichi. Amethys berpikir keras dan sepertinya dia mengingat sesuatu, "King Leor, bisa mengendalikan api, hidup di Redstone dan bertunangan dengan Queen Harmony dari Maggieshier. Mati dibunuh oleh Queen Harmony ketika usia 25 dengan kondisi dimutilasi dan dibuang ke Devil's hill. Itu dia!"
"Sekarang yang perlu kita cari tahu adalah letaknya. Immortallista pasti mengetahuinya." Twilight membuka lembaran-lembaran Immortalista nya. Senyum merekah di bibir wanita itu ketika mengetahui ada jalan menuju Maggieshier.
"Kita lewat sini karena ini jalan pintas." Ujar Twilight, "kau bisa menyalin peta ini, Methy?" Amethys mengangguk lalu menyalin peta yang ditunjukkan Immortalista.
"Sepertinya halaman buku ini bertambah. Tunggu sebentar, ya." ujar Twilight setelah tugas penyalinan peta selesai. Halaman baru telah tertulis dan mata Twilight membulat ketika membacanya.
"Dik, k-kau adalah reinkarnasi King Leor," Twilight terkejut, "dan kau adalah reinkarnasi Prince Jasper."
Amethys dan Twilight memberi hormat dengan takut-takut.
"Aku bukanlah reinkarnasinya." Ujar Shinichi. Amethys segera meniupkan bubuk berwarna emas yang-entah-dari-mana ke arah wajah kedua pria itu lalu keduanya seperti teringat sesuatu.
"Aku sudah mengingatnya." Ujar Shinichi yang sekarang mengingat siapa dirinya dua belas abad yang lalu dan ingatan itu berlanjut sampai masa kini dimana dia hidup sebagai Shinichi Kudo. Heiji juga sepertinya begitu.
"Sungguh aneh sepertinya kita bisa berteman lagi, Cousin." Ujar Heiji datar mengingat hubungan dirinya dan Shinichi dua belas abad yang lalu tidak berjalan baik. Shinichi terkekeh, "Sebaiknya lupakan saja permusuhan kita, Cousin. Aku membutuhkanmu."
"Terserah." Heiji mulai tersenyum tipis dan memeluk Shinichi, "tapi bukan berarti di masa kini, Harmony tetap menjadi milikmu."
Shinichi melepaskan pelukannya dengan kasar, "Hey!? Dia itu tunanganku, tahu. kau masih ingat apa itu S.H.D.K.M, bukan?"
"Tentu saja, Cousin. Tapi...bukankah kau berselingkuh dengan Belazenne menyedihkanmu itu? Kau tidak tahu bagaimana jahatnya dia setelah mengetahui perselingkuhanmu itu dengan wanita menyedihkan itu." jawab Heiji.
"Jadi apa masalahnya untukmu, Cosper!" timpal Shinichi.
"It's Jasper!" Heiji menjadi kesal, "kau membela wanita licik itu, jadi...itu artinya kau tidak berpihak di Harmony, Leona."
"It's Leor, Cousin!"
"KALIAN SUDAHLAH!" bentak Amethys lalu berlutut, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya kelepasan."
"Tidak apa-apa, Amethys. Jangan anggap aku King Leor, anggap saja aku Shinichi. Kita berteman bukan?" ujar Shinichi dan senyum merekah di bibir gadis berusia lima belas tahun itu.
"Kita harus ke Maggieshier. Aku ingin meminta maaf kepada Harmony. Karena diriku, dia bukanlah Harmony yang kukenal lagi. Kak, bisa pinjam dua kudamu?"
"Tentu saja, dik. Walaupun kau adalah reinkarnasi raja, kau akan selalu menjadi adikku. Kuda ada di kandang. Kau bisa memilihnya sendiri."
Setelah itu, mereka berdua pergi ke Maggieshier meninggalkan Twilight dan Amethys yang tengah tersenyum sumringah menatap kepergian mereka berdua. Setelah memakai waktu dua jam menuju Maggieshier, akhirnya mereka sampai. Malam itu sangat dingin ditambah kotanya yang telah membeku selama ratusan tahun. Maggieshier benar-benar berubah jika tertimbun salju. Hanya istana Harmony yang tidak membeku.
"Silahkan masuk. Yang Mulia telah menunggu kalian." Ujar salah satu pelayan yang membukakan pintu. Shinichi dan Heiji memasuki istana hingga mereka berdua memasuki ruang singgasana. Shiho sudah duduk dengan anggun di singgasaanya.
"Shiho..."
TBC
*Immortalista: buku milik leluhur Twilight yang ada sejak sebelum Magixian ditemukan. Buku itu dibuat untuk mencatat sejarah masa lalu secara detil dan jelas.
.
.
Shiho nggak mati!
Ini pair ShinShi, maka Shiho nggak akan mati! Maaf lama updatenya. Sepertinya ShinShi nya cuma sekilas deh (duh!).
Saya tunggu reviewnya.
