True Love? I Don't Believe in That Kind of Stuff
Disclaimer : vocaloid itu punya saya! Hanya dalam mimpi :3... Intinya vocaloid bukan punya saya...
Teng Tong Teng~!
Terdengar irama yang dicintai semua murid di dunia ini berkumandang, segera para murid berlari keluar kelas mereka. Sementara Rin sedang duduk di tempatnya sembari membereskan barang-barangnya.
"Rin-chaaan!" Seru seorang gadis yang berumuran 15 tahun dan berambut golden yang ia ikat side ponytail.
"Apa?" Tanya gadis yang berambut honey blonde pendek sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tasnya.
"Ih! Malah tanya! Jadikan beli hadiah buat Kaito?" Marah gadis yang diikat side ponytail itu sambil mengeluarkan handphone-nya dan memainkan benda tersebut.
"Tentu saja, ayo.." Jawab Rin sambil melangkah pergi.
"Dasar.. Anak ini.." Gumam Neru sambil mengikuti Rin.
XOXOXOX XOXOXOX XOXOXOXO
"Jadi apa yang mau kau beli untuk Kaito?" Tanya Neru.
"Syal.." Jawab Rin singkat.
"Hoo, pilihan yang bagus~ kebetulan masih musim dinginkan? Kenapa ga sekalian memberinya coklat valentine?" Tanya Neru bertubi-tubi dan mencolek-colek lengan Rin.
"Ya, memang. Dan.. Buat apa aku memberinya coklat?! Lagiankan Valentine udah lewat!" Jawab Rin dengan wajah yang memerah dibagian memberi coklat untuk Kaito.
"Hanya coklat formalitas kok! Jangan menganggapku serius dong." Jawab Neru sambil tertawa garing.
"Huhhh.." Gerutu Rin.
"Rin? Ohh! Rin!" Panggil seorang pemuda yang berambut teal dari kejauhan.
"Eh?.." Gumam Rin sambil mencari-cari asal suara itu.
"M-mikuo..?" Gumam Rin pada dirinya lagi dengan wajah yang ketakutan.
"Kenapa Rin?" Tanya Neru sambil menarik bahu Rin supaya Rin menghadap dirinya.
"Ah.. Tidak apa-apa, ayo jalan.." Jawab Rin dengan muka yang datar.
"Eh? Baiklah.." Ujar Neru.
:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3:3
"Nee~ Rin, bagaimana dengan syal yang ini?" Tanya Neru sambil menunjukan syal yang berpola polkadot berwarna merah dan biru.
"Ahh, tidak cocok dengan Kaito." Jawab Rin sambil terus mengobrak-abrik syal-syal yang terdapat toko tersebut.
"Aha!" Seru Rin dengan nada yang penuh kepuasan.
"Kau sudah menemukannya?" Tanya Neru dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya!" Jawab Rin dengan semangat sambil menunjukan syal yang dipilihnya.
"Ano.. Rin? Bukankah itu terlalu biasa?.." Tanya Neru dengan tatapan aku-tak-percaya-kau-mempunyai-selera-yang-buruk.
"Menurutku ini cocok dengan image-nya!" Jawab Rin mengebu-ngebu.
"T-terserah kamu saja deh.." Jawab Neru dengan wajah yang tidak bisa dideskripsikan.
"Baiklah, aku akan membayar syal ini." Ujar Rin.
Beberapa menit kemudian Rin dan Neru telah selesai membayar syal yang akan diberikannya ke Kaito, saat ini mereka berdua tengah duduk-duduk di sebuah café yang cukup terkenal.
"Ini pesanan ka- Rin?! Neru?!" Seru seorang pemuda yang berambut honey blonde seraya menaruh pesanan mereka berdua.
"Len?!" Seru mereka berdua dengan kagetnya.
"H-hai.." Sapa Len dengan gugupnya.
"Kamu kerja sambilan disini?!" Tanya Neru dengan suara yang bisa terbilang kencang.
"Shhh... Jangan keras-keras, Neru." Jawab Len sambil menenangkan Neru.
"Menurutmu Neru? Dia memakai seragam pelayan dan membawakan pesanan kita.. Apa dia pelanggan?" Tanya Rin dengan wajah datarnya dan mulai menyantap makanannya.
"Ehehe, iya juga sih.." Ringis Neru sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh, Rin ada krim yang menempel di mukamu." Ujar Len.
"Hah? Dimana?" Tanya Rin sambil mencoba menghapus krim itu.
"Disini~" Jawab Len sambil menghapus krim itu dengan jari telunjuknya dan menjilat krim itu.
Jepret! Jepret!
"Ahahaha, aku mendapat foto yang bagus lagi~" Gumam gadis yang berambut merah muda sambil tersenyum senang.
"Lumayanlah~ bisa jadi berita utama untuk klub koran~" Lanjut gadis itu sambil menulis beberapa note di buku catatan kecilnya.
Keesokan harinya..
"Rin!" Panggil seorang gadis yang berambut golden berlari ke arah Rin yang baru saja memasuki gerbang sekolahnya.
"Apa Neru?" Tanya Rin dengan tatapan apa-yang-dilakukannya-pagi-pagi-begini.
"Hosh.. Hosh.. R-rin.. Kau tahu tidak.." Ujar Neru sambil ngos-ngosan.
"Apa?" Tanya Rin lagi dengan nada yang malas.
"M-majalah d-dinding sekolah kita.." Jawab Neru sambil ngos-ngosan.
"Hah?" Tanya Rin dengan bingung.
"Lihat saja sendiri.." Jawab Neru kecapean.
"Hah? Baiklah.." Ujar Rin sambil berjalan masuk.
"Rin! Tunggu!" Seru Neru sambil berlari kearah Rin.
'De ja vú..' Batin Rin sambil sweatdrop.
"Apa-apaan ini?!" Seru Rin dengan marahnya.
"Huwaa! Rin! Sabar!" Seru Neru sambil berusaha untuk menahan Rin.
Kini mereka berdua tengah berdiri di depan majalah dinding sekolah yang beberapa waktu lalu menjadi berita besar dan kini menjadi berita besar.. Yang masih mengenai Rin dan Len. Menyusahkan? Sangat!
"Cih... Neru, biarkan aku ke ruangan klub koran itu!" Ujar Rin sambil mencoba untuk pergi ke ruangan klub koran itu.
"Baiklah, baiklah, jangan berbuat kerusuhan ya." Ucap Neru sambil berjalan pergi.
"Kau tidak perlu mengingatkanku." Jawab Rin sambil berjalan ke arah ruangan klub koran.
"Good luck, aku akan menunggumu di kelas." Ujar Neru sambil berjalan ke kelas mereka.
"Hnn.." Gumam Rin.
Brakkk!
"Dimana ketua klub koran ini?" Tanya Rin dengan wajah datarnya.
"Ada apa?" Ujar seorang gadis yang berambut merah muda yang tampak cukup dewasa.
"Kau ketua klub ini?" Tanya Rin lagi.
"Ya, aku sendiri adalah ketua klub itu, ada apa ya?" Tanya gadis itu sambil berwajah datar juga.
"Tolong cabut berita itu." Jawab Rin dengan datarnya.
"Tidak bisa." Ujar gadis itu dengan dinginnya.
"Kenapa?" Tanya Rin lagi.
"Karena berita itu telah dipajang dan mana mungkin aku melepaskan berita yang susah payah aku dapatkan itu." Jawab gadis itu sambil tersenyum dingin.
"Jadi kau yang memfoto itu?" Tanya Rin lagi.
"Ya, dan juga berita yang waktu lalu itu." Jawab gadis itu lagi sambil memainkan rambutnya.
"Apakah kau tahu?! Aku dibully karena berita itu!" Seru Rin dengan suara yang meninggi.
"Ah, benarkah? Kalau begitu aku minta maaf. Oh, ya, aku belum mengenalkan diri, namaku Luka Megurine." Ujar gadis yang bernama Luka itu sambil sedikit membungkukan badannya.
"Aku tak perlu permintaan maafmu, yang aku mau hanya kau mencopot berita itu." Jawab Rin sambil berlalu pergi.
"Anak yang menarik.. Tapi aku tidak akan mengganti berita hit itu begitu saja, maaf ya.." Gumam Luka sambil tersenyum.
.
.
.
.
"Hei! Kagamine Rin! Kau ini tidak pernah kapok-kapok ya?! Hah?! Sudah berani-beraninya berciuman sama Len-sama! Memang kau ini siapa?!" Seru seorang gadis yang berambut silver dan memakai bando sambil menggebrak meja Rin.
"Kami tidak berciuman kok." Jawab Rin singkat sambil terus membaca buku yang dipegangnya.
"Dasar perempuan murahan!" Seru gadis yang berambut silver itu sambil menarik rambut Rin.
Plak!
"A-apa?.. K-kau! E-eh? K-kazene-san?" Tanya gadis yang berambut silver itu dengan takut-takut.
"Kau.. Pergi.. Sekarang juga!" Ujar siswa yang berambut honey blonde pendek dan memakai jepit di kedua sisi poninya.
"H-ha'i!" Seru siswi itu sambil berlari pergi dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.
"Makasih, Rinto." Ujar Rin sambil terus membaca bukunya.
"Hnn.. Sama-sama, lain kali lebih hati-hati ya." Ujar siswa itu sambil berjalan pergi.
"Oi! Rinto!" Panggil Rin tiba-tiba.
"Apa?" Tanya Rinto.
"Ini, tangkap." Jawab Rin sambil melempar bento yang sudah dibungkusnya dengan rapi kearah Rinto.
"Makasih!" Jawab Rinto sambil tersenyum.
"Mereka itu pacaran?" Bisik seorang siswi.
"Mungkin, tadi aku juga mendengar Kagamine-san memanggil Kazene-san dengan nama kecilnya." Jawab seorang siswa.
"Jangan-jangan mereka memang berpacaran!" Seru siswi yang tadi.
"Ssstt.. Jangan teriak-teriak dong!" Ucap siswa yang tadi sambil berusaha menutup mulut siswi yang tadi.
"Apa?! Mereka berdua pacaran?! Beneran?!" Koor siswa-siswi bersamaan.
Seketika satu kelas menjadi ribut akan hal itu..
Dan dimulailah rumor tentang hubungan Kagamine Rin dan Kazene Rinto...
'Mereka ini umur berapa sih? Percaya saja dengan gosip' Batin Rin sambil berjalan di koridor sekolah yang penuh dengan siswa dan siswi yang sedang membicarakan Rin.
"Rinn!" Panggil pemuda yang berambut honey blonde dan dikuncir pony tail.
"Apa?" Tanya Rin.
"Kau beneran pacaran dengan Kazene-san?!" Tanya Len sambil memasang wajah tak percaya.
"Kau juga percaya dengan gosip itu?" Tanya Rin lagi.
"Jangan menanyakan pertanyaan kepadaku! Jawab dulu pertanyaanku!" Ujar Len sambil menunjukan muka kesalnya.
"Terserah kau saja." Ucap Rin sambil berjalan pergi.
"Riin!" Panggil Len.
'Sampai Len juga percaya..' Batin Rin dengan kesal.
.
.
"Haah, apa aku harus memberikan ini ya?" Tanya Rin sambil memakan bentonya.
"Jelas lah Rin! Kau kan sudah membelinya!" Jawab Neru sambil memakan bentonya juga.
Kini Rin dan Neru tengah makan di atap sekolah yang sudah diberi kanopi agar murid-muridnya bisa makan di sana dengan nyamannya dan terlindung dari panas terik matahari maupun salju.
"Tapikan.. Aku malu.." Ujar Rin sambil memakan bentonya seraya menunduk.
"T-ternyata.." Ucap Neru sambil menjatuhkan telur dadarnya yang telah diambilnya.
"Tidaaakk! Ini bukan yang kamu pikirkan! Aku belum pernah memberikan hadiah apapun pada seorang laki-laki!" Seru Rin sambil gelagapan.
"Apanya?.." Tanya sebuah suara yang nge-bass sambil berdiri di dekat pintu menuju atap.
Serentak Rin dan Neru melihat ke arah sumber suara itu.
"K-kaitooo?!" Seru Rin sambil menjatuhkan sosisnya ke tempat bekalnya.
"Halo." Sapa Kaito sambil tersenyum hangat dan berjalan ke arah Rin.
"Kenapa kau disini?" Tanya Rin.
"Memangnya aku tidak boleh berada disini?" Tanya Kaito balik.
"B-boleh kok." Jawab Rin sambil memakan bentonya dan menundukan kepalanya lagi.
"Ini kesempatanmu Rin!" Ujar Neru sambil menyemangati Rin.
"Eh? Oh iya! K-kaito.. Happy birthday.." Ucap Rin sambil menyodorkan kadonya.
"Eh? Makasih.." Ujar Kaito dengan semburat merah di pipinya.
"Dibuka dong!" Seru Neru dengan senang.
"Hah? B-baiklah." Ucap Kaito smabil membuka bungkusan kado itu, sementara Rin hanya memakan bentonya dengan diam.
"Huwah! Syal! Biru lagi!" Seru Kaito dengan semangat.
"Makasih ya Rin." Ujar Kaito sambil mencium dahi Rin.
"A-apa-apaan itu?!" Seru Rin sambil menutupi mukanya yang mulai memerah.
"Tidak kenapa-kenapa~" Jawab Kaito sambil tersenyum manis dan langsung memakai syal itu.
"Aku akan menjaga hadiah darimu." Lanjut Kaito sambil memegang syal yang telah terlilit di lehernya itu.
"Baguslah kalau kau suka." Ujar Rin sambil tetap menjaga muka yang dinginnya itu.
"Ngomong-ngomong Kazene-san itu pacarmu?" Tanya Kaito tiba-tiba.
"Bukan kok. Dia itu sepupuku." Jawab Rin dengan tenangnya.
"Jadi dia itu hanya sepupumu?" Tanya sebuah suara dari arah pintu atap itu.
"Len?!" Seru Rin, Kaito dan Neru bersamaan.
"Halo~" Sapa Len sambil membentuk tangannya menjadi tanda peace.
'De ja vù.' Batin Rin dan Neru.
"Ahh~ aku senang, ternyata kau tidak berpacaran dengan Kazene-san!" Ujar Len sambil berjalan ke arah Rin dan memeluk Rin secara tiba-tiba dan mengakibatkan jatuhnya bentonya Rin.
"Len bakaa! Bekalku jatuhkan!" Seru Rin dengan nada tinggi.
"Maaf, maaf.." Ujar Len sambil merasa bersalah.
"Pokoknya nanti pulang sekolah traktir aku!" Seru Rin sambil menunjuk Len.
"Baiklah, baiklah." Ujar Len.
"Aku ikut ya!" Seru Kaito ikut-ikutan.
"... Ya sudah deh.." Ucap Len pasrah sambil berdoa agar dompetnya sehabis mentraktir mereka berdua tidak kosong.
"Aku tidak ikut kok." Ujar Neru sambil membereskan bentonya.
"Kenapa?" Tanya Rin.
"Mau kencan dengan pacarku." Jawab Neru dengan tersenyum.
"Ya sudah." Ujar Rin.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Len sambil berdoa agar Rin tidak memilih tempat yang mahal.
"Ke kedai ramen favoritku, tenang saja, harganya murah-murah kok." Jawab Rin dengan santai.
'D-dia bisa baca pikiran?' Batin Len dengan wajah tak percaya.
"Kalau begitu ayo pergi." Ujar Kaito santai.
"Hnn.." Gumam Rin sambil mulai berjalan.
"Selamat datang!" Seru penjaga kedai ramen tersebut sambil tersenyum.
"Halo." Sapa Rin.
"Oh, Rin-chan! Hari ini kau bawa teman ya? Atau pacarmu?" Tanya penjaga kedai itu sambil tersenyum mengejek.
"Bukan kok hanya teman biasa." Jawab Rin sambil duduk di salah satu bangku yang berada di dekat counter.
"Ya sudah, mau pesan apa?" Tanya penjaga kedai itu lagi.
"Yang biasa ya! Kalian mau pesan apa?" Jawab Rin sambil bertanya pada dua pemuda yang duduk di samping kiri dan kanannya.
"Miso ramen saja." Ujar Len.
"Aku, beef ramen." Ucap Kaito sambil menunjuk pesanannya.
"Baiklah, tunggu ya." Ujar penjaga kedai itu sambil membuat pesanan mereka bertiga.
"Hei, Rin, kau pelanggan tempat ini?" Tanya Len sambil menghitung-hitung uang di dompetnya.
"Begitulah, aku sudah sering makan disini sejak kelas 1 SMP." Jawab Rin jujur.
"Ouwhh.." Ucap Len.
"Ini pesanan kalian, selamat menikmati." Ujar penjaga kedai itu sambil menyajikan pesanan mereka bertiga.
"Selamat makan!" Seru mereka bertiga serempak.
Rin, Len dan Kaito makan dengan lahap, oh ayolah, siapa yang tidak akan melahap ramen yang masih panas di udara musim dingin yang dingin ini? Apalagi cita rasa ramen yang benar-benar memanjakan lidah mereka.
"Enak ya!" Ucap Len sambil membayar makanan mereka bertiga.
"Makannya ini salah satu kedai ramen favoritku." Ujar Rin sambil tersenyum puas.
"Ngomong-ngomong hari ini Kaito ulang tahun ya?" Tanya Len sambil melihat kearah Kaito dan tersenyum penuh arti.
"Iya, kenapa memangnya?" Jawab Kaito sambil bertanya kembali pada Len.
"Traktir dong~" Ujar Len sambil tersenyum senang.
"Ide bagus tuh." Sambut Rin sambil tersenyum penuh arti juga ke arah Kaito.
"... Y-ya sudah deh, aku traktir es krim ya." Ucap Kaito sambil mengeluarkan keringat dingin melihat kedua orang temannya yang menunjukan muka jika-tidak-mentraktir-kami-kau-akan-kami-bantai.
"Asikk!" Teriak Rin dan Len girang.
.
"Uangku..." Gumam Kaito meratapi nasib dompetnya yang telah dikuras habis oleh Rin dan Len.
"Hari ini menyenangkan ya." Ujar Rin sambil tersenyum manis.
Blushh!
Serentak muka Len dan Kaito memerah melihat senyum Rin yang manis itu.
"R-rin kau lebih cantik jika tersenyum ceria seperti itu." Ujar Len tiba-tiba.
"E-eh?" Tanya Rin dengan muka yang mulai memerah karena malu.
"Iya, kau lebih cantik jika ceria seperti ini." Imbuh Kaito sambil tersenyum.
"B-benarkah.. Tapi ya.. Aku takut jika hal seperti dulu terjadi lagi." Ujar Rin kembali murung.
"Tenang saja, kami akan melindungimu, Rin." Ucap Len dan Kaito bersamaan.
"Terimakasih, baiklah aku akan mencoba untuk menjadi ceria demi kalian berdua." Ujar Rin sambil tersenyum lagi.
Hidup ini bagaikan labirin yang terbuat dari semak-semak yang tinggi, jika kalian dihadapkan dengan jalan buntu, apa yang akan kalian lakukan? Hanya pasrah dan duduk disana sampai kalian mati kelaparan? Atau kalian berjalan dan mencari jalan yang lain? Atau mungkin kalian akan menembus semak-semak itu meskipun akan membuat tubuh kalian luka-luka?
To Be Continued
Me : Demi apapun, makin lama ffn saya makin gajee DX
Maaf ya, jika ga nyambung (emang), ada typo,OOC, dll (_ _)
Silahkan ya, yang mau review kotak di bawah sana telah disediakan untuk itu*winkwink*
