O5. Kencan?
Sudah berapa kali kalian berkencan selama berhubungan?
...Belum pernah sama sekali, ya?
.
.
.
"Apa-apaan kau, Daniel?!"
"Apa karena fisik dan kemampuan bela dirimu lebih superior kau berhak melayangkan tinjumu?"
"Kau bahkan tidak mendengarkan penjelasan Jaehwan terlebih dahulu!"
"M-maafkan aku, Jisung hyung, Seongwoo hyung!"
"Yah! Mengapa kau minta maaf pada kami? Minta maaf pada Jaehwan!"
"A-aaah...Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku, Jaehwan-ssi!"
Daniel membungkukkan tubuh jangkungnya berkali-kali.
Seongwoo menghela nafas dalam.
Jisung beberapa kali melempar pandangan tak setuju ke arah Daniel sembari mengompres kepala Jaehwan.
Jaehwan meringis nyeri saat kepala bagian belakang tengah dikompres dengan balutan handuk basah akan air sedingin es.
Taewoong memutar bola matanya.
"Jisung hyung. Apa lagi yang sudah dilakukan anak ini?" Tanya Taewoong langsung ke intinya dengan kedua lengan menyilang di depan dada. Lawan bicaranya mendengus.
"Daniel salah paham saat Jaehwan-ssi mengajak Seongwoo kencan. Terbakar api cemburu sendiri, dia langsung menyerang Jaehwan-ssi tanpa pikir panjang. Padahal, Jaehwan-ssi mengajak Seongwoo untuk menemaninya kencan dengan Sungwoon-ssi," jawab Jisung terus terang tanpa membuang tenaga untuk memberikan sedikit keringanan akan perbuatan Daniel dalam penjelasan verbal tersebut. Yang dibicarakan tak dapat manahan diri untuk bergidik dan kembali melakukan aksi mohon ampun-nya.
"...yang jadinya bukan 'kencan' namanya kalau aku ikut diajak," lanjut Seongwoo kemudian. Helaan nafas berat kembali terdengar,"Kim Jaehwan, apa kau bodoh? Seharusnya 'kencan' itu dilakukan oleh kau dan Sungwoon hyung saja!"
Jaehwan menggeleng cepat dan tidak sengaja menyulitkan Jisung untuk merawat memarnya. Akhirnya pegawai administrasi merangkap pengasuh anak-anak bodoh itu menahan kepala lelaki yang tengah terluka tersebut dengan kedua tangannya,"jangan banyak bergerak!"
Saat Jisung memastikan bahwa Jaehwan tidak akan bergerak lagi, dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Jaehwan sendiri tengah menatap Seongwoo dengan begitu putus asanya. Jujur saja, Seongwoo tidak pernah melihat juniornya seperti itu. Biasanya, Jaehwan justru terlihat acuh tak acuh dalam menghadapi apapun. Dalam perjuangannya untuk menggapai mimpi dan segala ambisi, pemuda yang berusia satu tahun di bawahnya tersebut selalu tegar menentang segala tantangan.
Tak disangka, jatuh cinta dapat membuat seorang Kim Jaehwan kehabisan akal seperti ini.
"Aku...aku gugup, hyung," jawab Jaehwan kemudian. Bibir bagian bawah tergigit dalam tekanan. Tremor jelas terlihat dari tubuh sang rekan seperjuangan,"Sungwoon hyung...dia menerima pernyataan cintaku! Kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya itu seperti memenangkan piala Grammy Award setelah debut perdana yang sukses! Aku benar-benar berada di atas awan..."
Mencuri dengar percakapan tersebut, Taewoong lantas tak dapat menahan tawa saat cuplikan curahan hati Jaehwan ikut mengetuk gendang telinganya. Tawanya segera terhenti saat Jisung mendelik ke arahnya dengan sepasang manik coklat yang dapat melempar pisau tak kasat mata.
Untung saja, Jaehwan tidak menyadarinya dan lebih memilih untuk menuangkan konsentrasinya pada curahan hati yang dengan antusiasnya ia bagikan kepada semua telinga yang mendengar di dalam ruangan.
"Lalu setelah beberapa hari berhubungan akhirnya aku memberanikan diri untuk membawanya kencan tapi apa yang kukatakan? Tapi, apalah aku yang idiot ini. Aku malah berkata 'hyung, temanku mengajak kita untuk mengikuti double date bersama pasangannya! Apakah kau mau ikut?' Apa kau percaya itu? Astaga, aku bodoh sekali!"
Kali ini, Taewoong tidak membuang tenaganya untuk menahan tawa.
Jisung sendiri yang sebenarnya tengah melakukan perannya sebagai orang dewasa yang baik akhirnya tergoda juga untuk bertingkah di luar peran dan membiarkan kekehan kecil luput dari bibirnya.
Seongwoo? Dia tengah meratapi nasibnya sebagai seorang teman dari kaum bodoh seperti Kim Jaehwan dengan memijat batang hidungnya dan berucap kata doa demi meredakan hasratnya untuk menambah satu memar lagi di atas kepala Jaehwan. Biasanya dia akan menertawakan kebodohan anak itu, tapi kali ini dia sudah begitu kelelahan dengan konflik batinnya sendiri sehingga tidak ada tempat tersisa bagi humornya untuk mengisi.
Daniel sudah berhenti memohon ampun dan betapa ajaibnya pemandangan akan sosok pemuda bongsor yang telah dikenal sebagai mesin tawa kali ini. Dia sama sekali tidak tertawa. Bahkan, dia terlihat mengernyitkan dahinya sembari menatap Jaehwan dalam. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ya! Mengapa kalian tertawa? Aku gugup! Memangnya aku tidak boleh gugup?" Jaehwan tampak tidak terima dengan reaksi yang ia dapat dari dua orang dewasa di ruangan tersebut. Taewoong menutup mulutnya dan mencoba untuk menghentikan gelaknya. Jisung sudah berhenti dengan kekehannya dan menggelengkan kepala. Senyuman tak kandas dari paras ramahnya,"tidak. Hanya saja tidak kusangka kebodohanmu separah itu, Jaehwan-ssi."
Sahabat dari Seongwoo itu akhirnya menghela nafas berat dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kebiasaan yang ia lakukan saat menyadari kesalahan yang sudah kepalang terjadi. Melihat kawannya seperti itu, Seongwoo tak dapat menahan rasa ibanya dan mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Jaehwan dengan niatan menguatkan.
"Hei, tidak ada salahnya merasa gugup. Itu artinya kau begitu mencintainya hingga tak bisa berperilaku seperti biasa karena takut salah satu kata saja kau akan mengecewakannya, bukan?" Seongwoo lekas melingkarkan lengannya di atas pundak juniornya itu. Sebagai rekan seperjuangannya dari SMA, yang lebih tua tentu ingin mendukung Jaehwan semampu dirinya. Dan yang lebih penting, hal ini berkaitan dengan percintaannya. Tentu saja topik ini menyimpan nilai sensitif yang dapat mengusik benak layaknya rebana yang tak berhenti berdentang.
Seongwoo sangatlah mengerti akan hal itu.
"Jaehwan, kau sudah cukup berani mengajaknya kencan walau kata-kata yang terlontar tidak sesuai ekspektasi. Bukankah masih ada kesempatan bagimu untuk membuat klarifikasi?" Memang, saran itu bukanlah saran yang terbaik tapi di saat seperti ini apalagi yang dapat Jaehwan perbuat?
Yang lebih muda menghela nafas berat, redup iris kecoklatan menandakan bahwa saran tersebut tidak akan mendapatkan validasi yang diinginkan,"tapi Sungwoon hyung sudah mengiyakan dan dia terlihat sangat bersemangat untuk bertemu rekan double date-nya. Aneh memang, tapi aku tidak bisa mematahkan semangatnya begitu saja..."
Seongwoo mengernyitkan keningnya. Apa yang ada di dalam pikiran Sungwoon? Mengapa dia lebih bersemangat dengan melakukan double date daripada meluangkan waktu dengan Jaehwan dalam privasi yang seharusnya dimiliki oleh semua pasangan saat kencan pertama?
Jisung yang sedari tadi terlihat menyimak juga menyadari kejanggalan dari kalimat Jaehwan. Dia melirik Taewoong. Mata mereka bertemu dan detik juga kedua pemuda paruh baya itu seakan tengah melakukan telepati dalam tanya yang akhirnya diakhiri dengan endikkan bahu Taewoong.
"Tapiㅡ"
"Seongwoo hyung, ayo kita kencan!"
Ajakan polos yang benar-benar 'tidak sadar situasi' keluar dari sepasang bibir ranum tak berdosa milik Kang Daniel.
Seongwoo tak pernah menoleh dengan kecepatan di atas rata-rata selama 20 tahun hidupnya bahkan bila perlu ditambahkan pernyataan hiperbolis, dia bersumpah dirinya dapat mendengar bunyi 'krek' menggema di dalam ruangan. Bola mata miliknya melotot hingga terlihat nyaris lepas dari soketnya.
"Benarkah? Kalian mau ikut?" Tanya Jaehwan cepat, memotong cikal-bakal penolakan dari seniornya. Seongwoo ingin sekali menyergah tapi entah mengapa Jisung juga ikut menambahkan,"wah, benar juga. Kalau Sungwoon-ssi menginginkan double date, Daniel dan Seongwoo bisa ikut!"
"Ah, ya...Apalagi sepertinya mereka berdua belum pernah kencan. Bila kondisi memaksa, kalian sebaiknya membantu temanmu yang malang ini," Taewoong juga ikut angkat bicara dan pernyataannya sama sekali tidak berpihak pada Seongwoo.
"Benar, bukan? Ini kesempatan yang bagus, hyung! Kita juga bisa membantu Jaehwan-ssi kalau melakukannya! Jadi bagaimana? Kau mau-ADUDUDUDUH!"
Ucapan Daniel terhenti saat daun telinganya ditarik tanpa ampun oleh kedua jari lentik milik kekasihnya yang sudah beranjak berdiri dan membawa mereka keluar dari UKS.
Sepeninggal dua sejoli bodoh itu, Taewoong sama sekali tidak terganggu akan bagaimana Daniel ditarik dengan begitu kasarnya oleh kekasihnya sendiri. Dia malah melirik Jisung yang baru saja selesai merawat Jaehwan, pemuda itu sekarang tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menggumamkan lagu 'Perfect' yang dipopulerkan oleh Ed Sheeran.
Sepertinya tidak ada yang peduli dengan kepergian pasangan NielOng.
"Jisung hyung, kau sendiri bagaimana? Apakah kau sudah melamar Chorong noona?"
Jisung tersedak oleh udara.
Mari kita kembali lagi pada dua karakter utama kisah cinta ini...
Seongwoo memanfaatkan tungkai jenjangnya untuk mengambil langkah lebar dan menjauh agar percakapannya bersama Daniel tidak akan dicuri dengar oleh ketiga orang itu. Begitu fokus dan paniknya dia melangkah, dia tidak mengindahkan rintihan pemuda malang yang ditarik paksa olehnya.
"Aduh-H-hyung! Seongwoo hyung! Lepaskan a-aaah! Hyuuungㅡ"
"Kang Daniel! Apa-apaan maksudmu tadi?!"
Akhirnya setelah berjalan cukup jauh, Daniel mendapatkan telinganya kembali yang sudah memerah panas akibat tarikan ganas seorang Ong Seongwoo. Daniel mengusap telinganya yang perih luar biasa sembari melirik yang lebih tua takut-takut. Seongwoo sendiri sudah bersedekap tangan dan menatapnya tajam seakan penjelasan tak logis macam apapun tidak akan membuatnya goyah untuk memaksakan jawaban yang benar keluar dari mulutnya.
"Aku tadi...mengajakmu kencan? AHㅡ" jawab Daniel polos yang segera berhadiah satu cubitan gratis di pinggang.
"Apa kau gila? Mengapa kau malah mengiyakan ide Jaehwan? Seharusnya di kencan pertama mereka, waktunya digunakan untuk berdua! Bukannya berbagi dengan dua orang yang tak punya urusan seperti kita!" Seongwoo menggebu-gebu mencoba menjelaskan, berharap bahwa argumennya dapat memberikan satu saja sugesti logis pada kepala Daniel yang isinya selalu penuh kejutan. Dia bahkan tidak akan terkejut kalau dia menemukan bongkahan permen dan jellies bila dia perlu membedah kepala pemuda berpundak 60 senti itu.
"Itu karena..." Daniel mulai angkat bicara walau di pertengahan kata sepertinya dia kesulitan untuk merangkai kalimat yang diinginkan. Jari-jarinya terangkat, kuku-kuku tergigit. Lagi-lagi kebiasaan itu keluar di saat dia berpikir keras. Seongwoo menggeleng kepala lalu menarik jari-jari itu dari mulut Daniel, menahan yang lebih muda untuk melukai kukunya dalam diam sembari menunggu penjelasan sang adam dengan marga Kang tersebut.
"...hyung, jujur saja, kita belum pernah kencan, bukan? Ini adalah kesempatan kita dan lagi, apakah kau tidak mau membantu Jaehwan?" Daniel melingkarkan telunjuknya pada milik yang lebih tua sebelum memberikannya remasan ringan. Seongwoo menatap kedua jari yang bertautan itu dengan dahi yang mengerut walaupun dia tidak tampak ingin melepaskan tautan tersebut.
"Daniel, aku benar-benar ingin membantunya tapi bukan begini caranya-" pemuda itu mengerutkan keningnya. Dipijatnya batang hidung miliknya, berharap dirinya diberi kesabaran ekstra untuk melanjutkan pembicaraan tersebut.
Entah mengapa Seongwoo begitu sensitif akan topik 'kencan' pada hari ini. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipersulit dengan berbagai spekulasi hasil dari otak yang hiperaktif malah membuatnya 'sedikit' keki. Rasanya ia ingin kembali ke UKS dan menambahkan satu memar lagi di atas kepala temannya yang dimabuk cinta hanya agar dia dapat menarik kata-katanya kembali dan tidak menanamkan ide-ide aneh di kepala satu orang lagi yang merupakan fokus dari kelinglungannya dalam beberapa bulan terakhir ini.
"Hyung, pikirkanlah ini dari sudut pandang lain. Double date ini akan menjadi kencan pertama kita dan juga Jaehwan dengan kekasihnya. Anggap saja ini pemanasan sebelum kencan yang sebenarnya! Bagaimana?" Dengan nada bicara yang begitu sabar dan persuasif, Daniel mencoba meluluhkan hati yang lebih tua. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, kali ini Seongwoo tidak segera memberikan respon.
Mengapa sulit sekali bagi Seongwoo untuk mengiyakan tawaran kencan yang sebenernya SANGAT sederhana itu?
Jawabannya juga sama sederhananya.
Ong Seongwoo belum pernah melakukan kencan sebelumnya.
Ultimatum yang sudah ia putuskan secara non-verbal dan sepihak-yang berarti hanya dia (dan sialnya, Jisung) yang tahu-akan keyakinannya untuk mencoba membuka hatinya yang tak kenal dunia percintaan tentu mengubah pandangannya akan kedekatannya dengan Daniel. Sebelumnya, dia akan merasa linglung akan perasaannya yang tidak jelas terhadap pemuda itu dan kembali terjebak dalam pikiran yang berkecamuk. Kali ini, debaran itu kian lama kian jelas memastikan bahwa dia tidak akan bisa memandang sosok Kang Daniel sama seperti saat dia tidak mengetahui apa-apa tentang perasaannya. Keyakinan itu membawa dirinya dalam satu titik dimana dia juga menginginkan kebahagiaan.
Kebahagiaan yang terbagi bersama dengan Daniel seorang.
Artinya, dia benar-benar gugup akan bayangan keduanya melakukan aktivitas para pasangan pada umumnya untuk pertama kalinya, kencan. Mengapa demikian?
Bisa saja dia malah bertingkah laku bodoh dan menghancurkan semuanya dalam satu kesempatan. Meniadakan kebahagiaan dari atas kertas riwayat hubungan mereka.
"...Hmm, tapi bukankah kencan pertama lebih romantis dan berharga kalau dilakukan berdua saja?" Lagi-lagi pemuda Ong berusaha mengelak dengan justifikasi yang sedari tadi sama. Tentu saja pembelaan ini lemah bobotnya karena Daniel dapat membalas elakannya dengan cepat.
"Hyung, tidak ada aturan absolut yang mengatur kencan pertama sedemikian rupa. Aku kira kau lebih tahu soal ini."
Seongwoo menghela nafasnya dalam.
Sepertinya, dia memang sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Astaga, kalaupun aku menolak, kau pasti tetap akan bersikeras dengan pendirianmu, ya?" Si surai hitam memijat batang hidungnya. Tawa pasrah lirih terdengar. Daniel menyeringai penuh kemenangan.
"Tidak juga. Kalau kau benar-benar tidak menyukai ide ini, aku juga akan berhenti membujukmu. Tapi, pikirkanlah perasaan Jaehwan, hyung."
"...Baiklah."
.
.
.
"Semuanya! Aku berhasil mengajak Seongwoo hyung kencan!"
"Benarkah?! Aaaah- Seongwoo hyung, kau memang seniorku yang tersayangㅡAAAAAH!"
"Daniel! Jangan menarik telinga Jaehwan seperti itu!"
.
.
.
Seongwoo tidak habis pikir mengapa dia masih saja mengalah dengan keinginan Daniel dan membiarkan dirinya ditarik kesana kemari dalam petualangan yang selalu membuatnya berpikir melawan logika.
Tidak disangka Jaehwan dapat dengan bodohnya mencetuskan ide yang tidak masuk akal untuk kencan pertama. Sebenarnya, Seongwoo tetap bersiteguh dengan pendiriannya bahwa kencan pertama seharusnya dilakukan berdua saja. Dengan menghabiskan waktu berdua di tempat hiburan, tentu kenangan-kenangan manis akan tercipta seiring menit berganti jam.
Kencan ganda merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Apa bedanya dengan bergaul bersama mereka yang memiliki status sebagai teman biasa? Toh, dalam suatu kencan ganda, mereka yang terlibat juga akan ikut bergumul. Menghilangkan privasi yang seharusnya menjadi milik berdua di malam kencan yang seharusnya berharga.
Lagi-lagi Seongwoo mencari-cari alasan untuk mengelak dari konflik batin yang sebenarnya.
"Kata Jaehwan, Sabtu nanti kita akan ke Lotte World."
Seongwoo tengah berbicara melalui telepon bersama Daniel, membicarakan rencana kencan ganda mereka dengan si duo vokalisㅡmengetahui bahwa Jaehwan dan Sungwoon berasal dari satu klub yang samaㅡyang disetujui olehnya dengan tidak sepenuhnya ikhlas. Satu tangannya yang bebas ia gunakan untuk menyalin catatan Natural Language Processing yang sudah ia pinjam paksa dari Jonghyun.
"Lotte World? Benarkah? Asyik!" Daniel berseru nyaring di seberang sana, membuat Seongwoo refleks menjauhkan ponselnya. Telinganya berdengung ngilu. Seongwoo tidak terkejut mendapatkan reaksi Daniel yang penuh semangat tapi tetap saja telinganya tidak siap menerima pencemaran suara.
"Jangan berteriak lewat speaker! Kau hampir membuatku tuli!" Tegurnya walau tidak dengan nada tegas. Lawan bicaranya tertawa-tawa seperti biasa.
"Maaf, hyung. Aku belum pernah ke Lotte World sebelumnya, kau tahu? Sabtu nanti akan menjadi pengalaman pertamaku kencan di tempat itu dan aku benar-benar bersyukur kau adalah pasanganku!"Jelas Daniel panjang lebar, tak sadar bahwa dia sudah menciptakan semburat merah muda pada pipi pemuda yang lebih tua. Seongwoo selalu tidak siap mendengar segala kejujuran polos dari kekasihnya itu.
Hal itu benar-benar menyesakkan dadanya.
"Hmph, berarti kau harus banyak belajar dari veteran Lotte World. Aku sudah menjelajahi tempat itu semenjak aku baru belajar merangkak, Kang Daniel!" Seongwoo menjawab dengan candaan. Dalam hati, dia masih kebingungan dengan bagaimana cara menjawab pernyataan perasaan tulus dari Daniel. Urgh.
"Pft. Baiklah kalau begitu. Mohon bimbingannya, sunbae!" Daniel kembali tertawa. Terdengar jelas bahwa mood-nya benar-benar sangat baik di seberang sana. Mengetahui hal ini, Seongwoo tidak bisa menahan senyumnya.
"Kalau begitu bagaimana kita bertemu nanti? Apakah kita berkumpul saja di depan kampus lalu berangkat ke stasiunㅡ"
"Ah, soal itu tidak perlu dikhawatirkan, hyung! Aku akan menjemputmu dengan kendaraanku!"
Seongwoo mengangkat satu alisnya. Wah, menarik. Dia baru tahu bahwa yang lebih muda memiliki kendaraan pribadi. Selama beberapa bulan ini dia berkunjung ke apartemen Daniel, tentu saja sulit baginya untuk mengetahui apakah kekasihnya itu memiliki kendaraan pribadi atau tidak karena lahan parkir yang terpisah dengan gedung apartemen dan kebiasaan mereka berdua untuk berpergian menggunakan transportasi umum.
"Kau punya kendaraan? Keren juga kau, Tuan Kang," Seongwoo terkekeh ringan,"aku saja belum punya satupun."
"Eehㅡsebenarnya kendaraan itu adalah hadiah dari ayahku dan dia menyuruhku untuk membawanya kemari tapi aku malah jarang menggunakannya. Berhubung hari Sabtu adalah hari yang istimewa aku pikir mengapa tidak kugunakan saja?" Di seberang sana, terdengar suara kendaraan yang tengah dinyalakan. Ketika deru suara mesin yang baru menyala mengetuk gendang telinga, Seongwoo membulatkan netranya.
Seketika dia menghentikan kegiatannya. Tangannya yang memegang pena refleks terayun cepat menghantam paha, membuat pena yang tadi berada di dalam genggaman segera terjun bebas menuju lantai. Seongwoo tidak mungkin tidak mengenal suara itu. Suara deru mesin yang begitu familiar menumbuhkan antusiasme yang sedari tadi melempem. Tidak bisa menahan rasa penasarannya, akhirnya Seongwoo kembali membuka mulut,"astaga, Kang Daniel! Kendaraan pribadimu itu...Subaru Impreza WRX STI Hyper Blue keluaran tahun 2016?"
Daniel malah memberikan balasan yang terdengar sangat bodoh di telinga Seongwoo yang merupakan penggemar berat otomotif roda empat dan bermimpi memiliki mobil pribadi bermerk di masa depan,"iya...? Sepertinya? Sejujurnya aku tidak tahu ini mobil jenis apaㅡaku kira ini sedan biasa..."
"Kau ini sedang merendah atau bagaimana? Hadiah ulang tahunmu itu mobil mewah, sayang!" Tepat setelah kata-kata itu terlontar, Seongwoo refleks menutup mulutnya.
Apa tadi...dia baru saja memanggil Daniel...dengan sebutan 'sayang'?
Rupanya lawan bicaranya juga ikut merasakan syok yang sama.
Seongwoo sama sekali tidak berani membuka mulut bodohnya yang telah lancang melontarkan panggilan sakral. Kali ini, hanya terdengar hembusan nafas dari keduanya melalui speaker.
Hening ini berbeda dengan sesi hening yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Hening ini lebih menyesakkan dan membuat jantung Seongwoo kembali melakukan debaran cepat.
Apakah Daniel akan memutuskan telepon?
Apakah Daniel tidak suka dengan panggilan itu?
Apakah Danielㅡ
"Hyung, katakan itu sekali lagi."
Seongwoo melongo.
"Hah?"
Daniel menghela nafas yang terdengar bergetar.
"Itu. Yang tadi itu. Katakan itu sekali lagi, hyung."
Seongwoo berpura-pura tidak tahu.
"...Subaru Impreza WRX STI Hyper Blue keluaran tahun 2016?"
Daniel mulai tidak sabar.
"Bukan, hyuuungㅡYang tadi itu! Yang tadiiiㅡ! Yang berawalan huruf 'S'!"
"Subaru bukannya berawalan huruf 'S' ?"
"Eh, benar juga, yaㅡHYUNG! Jangan mencoba mengalihkan topik!"
"Apa sih?! Aku cuma menyebutkan fakta!"
"..."
Bukan lagi argumen yang terlontar. Kali ini, Seongwoo mendapat diam sebagai balasan. Keningnya mengernyit. Tanda tanya kembali memenuhi benak. Mengapa tiba-tiba Daniel bungkam? Atau memang telepon terputus?
Tapi, si surai hitam masih dapat mendengar hembusan nafas di seberang sana, menandakan bahwa Daniel belum memutuskan sambungan. Akhirnya, Seongwoo mencoba untuk menunggu pemuda itu untuk kembali membuka mulut.
Tapi, kalimat balasan tak kunjung datang.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Seongwoo pun mulai angkat bicara.
"Daniel...?"
"..." Masih hening.
"Hei, apakah kau masih ada disana?"
"..." Terdengar kembali hembusan nafas lirih namun tidak ada kata-kata mengetuk gendang telinga.
"...Daniel?"
"..."
"...Ayolah, Daniel. Apa kau marah?"
"..."
"Kang Daniel! Jawablah!"
"..." Sialan, pemuda Kang itu memang kalau sudah keras kepala batu saja kalah.
Tapi...Seongwoo tidak suka didiamkan.
Ada getaran sendiri di hatinya saat Daniel mendiamkan dirinya seperti kali ini. Getaran itu begitu menyesakkan dan membuatnya takut entah karena apa.
Seongwoo menghela nafas.
Semoga saja kartu yang ia pakai kali ini dapat membuka mulut bungkam milik Kang Daniel.
"...Sayang?"
"..."
"..."
"..."
"...hehe."
Eh? Apakah itu suara Daniel?
"...hehehehehe."
Kening Seongwoo mulai terlihat lebih berkerut. Daniel yang terkekeh aneh malah membuatnya semakin bingung.
"...S-s-sayang...?"
"...heheheheheheheheheheheheheheheheheheheehehehehehehehehehehehehehehㅡ"
Dengan ini Seongwoo mengambil kesimpulan bahwa Daniel sudah dirasuki hantu 'hehehehe' karena terlalu lama melamun dan mendiamkan dirinya. Takut, ah.
"...Daniel, teleponnya aku tutup, ya."
"...heheheㅡHEH! Jangan, hyung! Jangan ditutup dulu! Jangaan!"
Dasar bodoh.
Seongwoo memutar bola matanya. Dirinya sudah tidak tahan untuk berkata,"kau ini kalau tertawa jangan menyeramkan begitu! Aku kira kau sudah dirasuki hantu!"
Di seberang sana, Seongwoo dapat mendengar Daniel meringis. Bisa dibayangkan dengan jelas olehnya rupa Daniel yang salah tingkah dan jugaㅡ
"Daniel, jangan gigit-gigit jarimu."
Dan saat itu juga Seongwoo tahu bahwa Daniel menuruti perkataannya.
"Maaf, hyung. Hehehe...Aku...aku hanya...senang sekaliㅡ"
Nafas Seongwoo tertahan. Dia tahu benar dia lagi-lagi tidak akan siap mendengar terusan dari kata-kata Daniel. Tapi, mau tidak mau dia harus siap mental!
"Mendengar kau memanggilku 'sayang' untuk pertama kalinya...Bukankah itu artinya hatimu sudah tergerak walau hanya sedikit? Aku...benar-benar senang, hyung! Kalau aku ada di sebelahmu saat ini aku pasti sudah memelukmu!"
Seongwoo menahan jeritanㅡjeritan yang jantan, tentu sajaㅡdengan segera melempar tubuh kurusnya ke atas kasur dan membenamkan kepalanya dalam di atas bantal. Membayangkan dirinya sendiri di dalam rengkuhan hangat seorang Daniel, dengan kedua tangan melingkar di atas pundak lebar miliknya, telapak kaki yang menjinjit, dan suara bariton yang terdengar lirih berbisik...
...membuatnya ingin buang air besar.
"Daniel! Jemput aku di depan gerbang asrama jam 2 siang hari Sabtu nanti, ya! Sekarang aku mau ke kamar mandi dulu! Jaljayo!"
"Eh? EH, HYUNG TUNGㅡ"
Sesaat setelah sambungan telepon diputuskan tanpa persetujuan kekasihnya, Seongwoo segera berlari ke kamar mandi dan menjawab panggilan alam dengan antusias tinggi.
Apakah kencan ini benar-benar ide yang bagus?
Apakah Seongwoo dapat memastikan bahwa dirinya tidak akan kena diare akut saat kencan nanti?
Semua ini adalah salah Kim Jaehwan.
.
.
.
Dan tanpa sadar waktu bergulir cepat dan hari kencan sakral itu tiba tanpa memedulikan Seongwoo yang panik luar biasa.
.
.
.
"
Lebih baik aku pakai kemeja atau kaus?"
"Urgh, entahlah, Seongwoo. Kau yang memakai kau sendiri yang tahu."
"Tapi, bukan aku yang akan melihat penampilan ini nantinya tapi orang lain!"
"Astaga, percayalah padaku. Kau telanjang juga, Daniel tidak akan mengeluh! Justru dia pasti akan bersujud syuㅡ"
Minki kehilangan ciuman pertamanya kepada bantal berbungkus kain hijau muda.
"Seriuslah sedikit! Apa kau tidak lihat temanmu sedang mengalami krisis?" Tegur Seongwoo dengan nada risih. Dia mengusap kedua lengannya yang tiba-tiba bergetar tanpa sebabㅡatau memang ada sebabnya hanya saja dia tidak mau tahuㅡdalam keadaannya yang masih bertelanjang dada.
Si surai pirang di hadapannya memutar bola mata penuh ketidakpedulian.
"Sejak kapan kau begitu pusing memikirkan penampilanmu? Kau yang biasa juga sudah cukup baik dalam berpakaian, tidak usah ditambah linglung yang tidak perlu," ujar Minki menegaskan fakta. Mengapa itu fakta? Tentu saja karena seantero penghuni kampus dan orang yang mengenal siapa Ong Seongwoo mengaku bahwa pria itu selalu berpenampilan baik bahkan di saat dia berbusana kasual sekalipun. Tidak ada bantahan, tidak ada revisi, tidak ada klarifikasi ulang. Nyata dan absolut.
Ong Seongwoo yang akan melakukan kencan resmi pertamanyaㅡwalau terhitung sebagai kencan gandaㅡdengan lelaki yang memiliki status sebagai pasangannya merupakan Ong Seongwoo yang berbeda dari dirinya yang biasa menyimpan kepercayaan diri tinggi. Seakan kehilangan jati diri, dirinya panik tak terpatri. Pemuda yang berdiri di tengah kamar sekarang bertingkah seperti dia tidak pernah mengenal pakaian sebelumnya dan hal ini sukses membuat Minkiㅡyang diundang secara tidak serta-merta lewat telepon yang berdering hingga 27 kaliㅡkeki.
Seongwoo mengacak rambutnya frustasi dan mendudukkan diri di atas lantai yang sudah dihiasi oleh berbagai jenis pakaian yang berceceran,"entahlah! Tiba-tiba aku merasa gugup dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan! Aku tidak tahu apa selera Daniel dan bagaimana dia ingin aku berpenampilanㅡ"
Sebelum Seongwoo selesai dengan perkataannya, Minki dengan segera memotong melalui seruan yang terdengar terlalu bersemangat dan menuduh,"HA! Sudah kuduga! Itu akar permasalahannya!"
Rekan satu divisinya itu segera beranjak berdiri dan menunjuk figur Ong Seongwoo seakan menuduh bahwa dia adalah pelaku dari tindakan kriminal kelas kakap,"kau terlalu memikirkan 'apakah Daniel suka ini?' 'bagaimana kalau Daniel tidak suka ini?' padahal solusi untuk masalah tidak penting ini sangat sederhana!"
Seongwoo mengangkat satu alisnya dan menatap Minki dengan dagu terangkat seakan menantang temannya untuk memberikan jawaban yang memuaskan,"dan? Apa solusinya?"
Minki memutar bola matanya untuk kesekian kalinya pada hari itu. Berteman dengan Seongwoo memang dapat menyebabkan juling,"Daniel jatuh cinta padamu dari 6 tahun yang lalu, bukan? 6 tahun lalu kau masih berstatus anak SMA ingusan. Penampilanmu juga seadanya. Tampang oke tapi rambutmu waktu itu masih hasil cetakan mangkuk ramyeon. Dan siapa yang mau jatuh cinta padamu kala itu? Hanya Kang Daniel. "
Pemuda yang memang sudah mengenal Seongwoo sejak SMA itu kembali merebahkan punggungnnya di atas kasur kepunyaan sang rekan. Paras yang sempat terlihat kusut kembali sarat akan kepedulian,"bukankah itu sudah menjadi cukup bukti bahwa dia tidak begitu memerhatikan caramu berpenampilan? Kecuali kalau kau waktu itu hanya melebih-lebihkan cerita, maka lain lagi kasusnya."
Seongwoo bersedekap dan mengerucutkan bibirnya sebelum mendengus. Ya, dia telah menceritakan sedikit tentang kisahnya bersama dengan pemuda Kang itu kepada beberapa teman yang dapat ia percayai. Salah satu dari pendengar itu adalah Minki. Tapi, tidak dapat disangka bahwa Minki yang biasanya masa bodoh akan segala kekalutan Seongwoo justru memperhatikan ceritanya dengan baik. Buktinya, dia bisa mengingat bahwa Daniel sudah menaruh perasaan yang begitu dalam padanya selama 6 tahun.
Seongwoo menghela nafas dalam dan melempar kaos hitam yang sedari tadi menyelimuti kaki kanannya.
"Minki, kau tahu 'kan ini kencan pertamaku?" Tanyanya dengan intonasi datar, menunjukkan keseriusan yang amat sangat jarang terlihat di depan orang lain kecuali apabila Seongwoo sedang merasa benar-benar terpojok dan saat iniㅡdia sangatlah terpojok.
Mendengarkan nada yang berubah dari pelafalan kata pemuda bersurai hitam di bawah kasur, Minki menoleh dan mengarahkan fokusnya kepada Seongwoo tanpa memberikan jawaban karena ia tahu itu adalah pertanyaan retoris.
"Entah ini adalah keputusan yang benar atau bukan, aku tidak tahu," Seongwoo beranjak dari posisi terduduknya dan akhirnya mengambil kemeja abu yang tergantung di atas kursi sebelum mengenakannya,"aku memang ingin mencoba hal ini dengan Daniel. Membuka hatiku padanya. Tapiㅡ"
Diacaknya surai legam kebanggaan ibunya itu dengan frustasi. Seharusnya setelah dia meyakinkan diri, semuanya dapat berjalan dengan mudah. Namun, nyatanya apa yang mengusiknya kali ini beberapa kali lebih menekan batinnya.
Karena seperti yang pernah ia tegaskan sebelumnya, di dalam hati kecilnya, keinginan untuk membuat Daniel bahagia telah tumbuh dengan mudahnya.
Dan membahagiakan seseorang adalah suatu tanggung jawab yang besar.
"ㅡaku mulai memikirkan cara berpakaianku. Caraku bicara dan caraku bertindak. Apakah bila aku melakukan ini aku akan membuatnya tersenyum? Apakah bila aku melakukan itu aku akan membuatnya tertawa dengan polosnya memperlihatkan sepasang gigi kelinci yang membuatnya terlihat semakin bodoh? Sungguhㅡtiap hari, tidak ada hentinya."
"Mengapa untuk jatuh cinta saja semua harus serumit ini?"
Seongwoo mengangkat kepala dan menoleh ke arah lawan bicaranya, berniat untuk meminta pendapat. Namun, datarnya intensitas sorot mata hitam kecoklatan Minki adalah hal pertama yang ia lihat setelah asyik mencurahkan isi hatinya dengan kepala tertunduk.
Minki dengan santainya menjawab segala keluh kesah melalui satu kata,"bodoh."
Dan beberapa saat kemudian ranjang yang sudah berumur itu mulai digunakan sebagai arena kompetisi gulat dadakan antara Ong Seongwoo dan Choi Minki.
"Mati kau, Minki!"
"Kau saja yang mati! Aku tidak usah diajak!"
"Aku tidak akan mati! Aku punya 9 nyawa tersisa!"
"ApaㅡJANGAN SOK IMUT! Bisa-bisanya kau menyerupakan dirimu dengan kucing!"
"AKU MEMANG IMUT!"
"JANGAN NARSISㅡ"
"Astaga, kalian berdua berhenti!"
Seruan membahana menggema di dalam ruangan. Seongwoo yang sudah siap dengan posisi smackdown akhirnya menoleh ke arah sumber suara. Melihat sesosok figur yang familiar di depan pintu, senyum lebar seketika merekah menghiasi paras jejaka buta cinta itu.
"Yang Mulia Hwang Minhyun! Selamat datang di kuil suci pendeta OngㅡADUH!"
Lagi-lagi kepalanya jadi korban lemparan sendal lipat milik Minki.
"Berisik! Minhyun, akhirnya kau datang juga!"
Melihat tingkah laku kekanakkan kedua temannya, Minhyun hanya bisa menggelengkan kepala. Di tangannya sudah ada satu bungkus plastik berisi cemilan yang merupakan request pribadi dari Seongwoo saat dia mengajaknya untuk membantu dirinya mempersiapkan diri.
Tanpa basa-basi lagi, Seongwoo segera menerjang bungkus plastik itu dan mengeluarkan cemilan yang ada di dalam. Dia berseru girang saat melihat cemilan biskuit kesukaannya akhirnya sudah berada di dalam cengkeraman tangannya.
"Terima kasih, Minhyun! Kau memang teman terbaikku!"
Minki mendelik kesal,"siapa sebenarnya yang membangunkanku jam 6 pagi tadi dengan kata-kata 'Minki, kau teman terbaikku. Ayolah, bantu aku!' ? Hmm, Hong Seungwoo ya?"
Mendengar pelafalan namanya yang sangatlah jauh dari kebenaran membuat luka lama bersemi kembali,"namaku bukan Hong Seungwoo! Bukan juga Gong Seongwoo! Namaku Ong Seongwoo!"
"Kalau kalian mulai lagi, aku akan pergi dari sini," tegur Minhyun tenang. Saking tenangnya, bulu kuduk Seongwoo sukses bangkit dari tidur. Akhirnya, Seongwoo dan Minki mulai menenangkan diri.
Minhyun tersenyum puas.
"Jadi, kau sudah memilih pakaian untuk dipakai saat kencan nanti?" Pemuda berparas tampan itu bertanya sambil mengambil satu persatu pakaian Seongwoo yang berserakkan di atas lantai. Tidak tahu diri, Seongwoo lebih memilih untuk bercengkerama dengan cemilannya di atas kasur.
"Ya, sepertinya. Entahlah. Aku pakai saja pakaianku seperti biasa. Eh Jonghyun tidak datang?" Balasnya sebelum kembali mengambil suapan.
Minhyun menganggukkan kepalanya. Kali ini dia tengah melipat pakaian yang sudah terkumpul. Sebagai satu-satunya yang peka keadaanㅡkebetulan sekali, padahal biasanya orang ini juga 'masa bodoh' dengan lingkungan sekitarnyaㅡMinki ikut membantu temannya itu.
"Jonghyun tidak bisa datang pagi ini karena harus menemani Dongho membeli perlengkapan untuk acara besok. Kau tahu sekarang itu sebenarnya adalah giliranmu untuk membeli perlengkapan tapi karena mengetahui situasimu, dia rela menggantikanmu, 'kan?"
Seongwoo masih saja makan.
Minhyun menghela nafas.
"Lalu? Selain sebagai pengantar cemilan dan tukang lipat pakaian, untuk alasan apa kau memanggilku kemari?"
Yang ditanya hanya tersenyum kecil. Cemilan biskuitnya sudah habis tak bersisa. Setelah membuang bungkusan tak berisi itu di tempat sampah, Seongwoo berjalan ke arah Minhyun dan membiarkan keningnya bersandar di atas pundak sang adam.
"Bantu aku untuk mempersiapkan hatiku, Minhyun-ah."
Mengerti dengan pinta dari temannya, Minhyun menghentikan aktivitasnya dan merengkuh tubuh jangkung Seongwoo sembari menepuk pundaknya.
"Aku mengerti. Ceritakan apa yang kau rasakan sekarang, Seongwoo."
Seongwoo ingin membuka mulutnya, kembali mencurahkan isi hatinya. Tapi kata 'bodoh' yang tadi sempar terlontar dari mulut Minki menghentikan niatnya.
Mau sampai kapan dia berkeluh kesah?
Seongwoo mengingat-ingat kembali semua yang sudah dilakukannya semenjak Daniel dan dirinya. Dia ingat betapa dirinya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bergumul. Dengan bingung. Satu perbuatan kecil saja dari Daniel dapat membuat otaknya berpikir keras. Membuatnya kian hari kian frustasi dengan sesuatu yang seharusnya menjadi perkara sederhana.
Dari keingintahuannya yang mengusik rasa penasarannya terhadap sesosok Kang Daniel hingga saat ini.
Lalu setiap atensi yang tercuri dengan mudahnya.
Kemudian debaran-debaran pengisi hari-harinya dengan irama yang lambat laun menjadi semakin familiar di telinganya.
"Kau tidak akan menyesalinya, bukan?"
"Jangan terlalu lama membuatnya menunggu, Seongwoo."
Setiap tahap yang ia lalui, tidak ada saat dimana Seongwoo tidak diam terperangkap dalam pikiran dan segala keluhannya.
Mau sampai kapan dia membuat telinga teman-temannya pengang akan semua masalah cintanya?
Bukankah dia sudah meyakinkan dirinya waktu itu?
"...aku yakin aku akan membalas perasaannya. Suatu saat, tidak lama lagi."
Pernyataannya waktu itu kembali terngiang dalam benak. Memberikannya peringatan. Memberikannya akan suatu peluang.
Peluang bahwa dia bisa jatuh cinta.
Dan semua keanehan pada dirinya kali ini, bisa saja ini adalah awal dari segalanya.
Daniel sudah lebih awal memulai petualangan cintanya.
Sudah saatnya bagi Seongwoo untuk segera menyamai langkahnya, bukan?
Mungkin alasan mengapa kencan ganda ini begitu membebani adalah karena kencan ini adalah pintu pertama awal perubahan yang harus dilewati oleh seorang Ong Seongwoo.
"...tidak, Minhyun. Tidak ada yang perlu kuceritakan," Seongwoo mengangkat kepalanya. Senyuman penuh determinasi mulai terukir cerah. Mirip sekali dengan tampak rupa seseorang saat dia menyatakan perasaannya pada Seongwoo beberapa bulan lalu.
"Sekarang bantu aku untuk menentukan tata rambutku!"
.
.
.
"Jadi, sebenarnya siapa yang mencetuskan ide 'kencan ganda' ini? Dan ke Lotte World? Lumayan juga pilihannya."
"Biasa, si bodoh itu. Kim Jaehwan."
"...Kim Jaehwan?"
"Iya! Sekarang dia sudah punya kekasih, Minhyun! Dan seharusnya kencan pertama mereka dilewati berdua tapi aku malah ikut diajakㅡ"
"..."
"..."
"...Minhyun?"
"...A-Ah, maaf, tadi aku melamun. Jadi, jam berapa kau akan ke Lotte World nanti?"
"Jam 2!"
"...Baiklah."
.
.
.
Pukul 13.55. Lima menit sebelum jam 2 siang.
Seongwoo sudah berada di depan gerbang asrama. Rambutnya sudah tertata rapi, hasil mahakarya Yang Mulia Hwang Minhyun. Minki yang akhirnya menyerah saat Seongwoo ingin memulai sesi kedua 'pemilihan pakaian' membantunya untuk berpenampilan untuk kencan perdana ini.
Kepercayaan diri yang tadi sempat menguap sudah kembali memenuhi egonya. Bak model profesional, Seongwoo berdiri tampan sembari menyandarkan punggungnya pada tembok. Alhasil kaum hawa yang melewati jalanan di depan gerbang gedung asrama laki-laki tidak bisa menahan diri untuk melihat ke arahnya. Bahkan tidak jarang beberapa di antara mereka mengajaknya berfoto.
Bah, sudah berasa artis saja dia.
Setelah gadis kelima yang memintanya berfoto bersama pamit pergi, Seongwoo melirik jam tangannya. 1 menit lagi waktu yang dijanjikan akan tiba. Tapi, mengetahui tingkah laki-laki sebayanya yang selalu terlambat beberapa menit dari perjanjian, Seongwoo tidak memiliki ekspektasi bahwa Daniel akan datang tepat waktu.
Namun, lagi-lagi argumennya terpatahkan dengan mudahnya saat jarum jam pendek menunjuk ke arah angka 2, dan yang panjang menunjuk ke arah angka 12.
Terlihat mobil Subaru Impreza WTX Hyper Blue keluaran tahun 2016 berhenti dengan luwesnya tepat di hadapannya. Detik itu juga bila tidak ditahan mati-matian, pasti air liur Seongwoo sudah mengalir layaknya Air Terjun Niagara.
Sesaat kemudian, pintu mobil terbuka. Dari sana keluar seorang pemuda bertubuh jangkung besar dengan pundak yang begitu familiar. Penampilannya begitu kasual namun tetap saja siapapun yang melihat akan mendecak lidah dan berkata 'Lihat! Ada satu lagi model keren baru saja muncul membawa mobil mewah!'
Tapi, se-keren apapun figur itu, Seongwoo tahu bahwa ada sesuatu yang lebih menarik dari sang pemuda di balik fisik yang mendekati sempurna.
Yang lebih tua ingin memanggil nama kekasihnya itu. Tapi, niatnya kembali terurung saat dia menyadari sesuatu.
Daniel keluar dari mobil dengan senyuman lebar dan mata yang membentuk bulan sabit. Kedua gigi kelincinya mencuat menggemaskan. Sangatlah kontras dengan fisiknya yang sebenarnya bisa mengintimidasi lelaki sok jagoan. Di tangannya terdapat buket bunga yang sangat cantik, entah hadiah untuk siapa.
Heh, tunggu duluㅡ
Tanpa membiarkan Seongwoo mengambil nafas terlebih dahulu, Daniel melangkah mendekat dan menyodorkan buket itu kepadanya.
"Selamat siang, sayang. Kau pasti sudah menunggu lama, ya?"
Oh, Tuhan. Apakah Seongwoo benar-benar siap untuk hari ini?
...to be continued
