AFFAIR
MASASHI KISHIMOTO
Pair : NaruHina
Genre : Romantic/Drama
Rated : T
SELAMAT MEMBACA
Chapter 6
"Aku masih belum tahu dimana dia berada, tapi aku sudah bertemu anak mu. Dan hari ini aku akan mencari suami mu, Hiashi."
Untuk yang kesekian kalinya Kushina mengunjungi makam ibunya Hinata, dia akan mencari tahu dimana Hiashi tinggal, selama bersama Hinata dia tidak pernah bertanya dimana Hinata tinggal, semua itu ia lakukan agar Hinata tidak curiga karena tidak mungkin mereka baru saja bertemu sudah saling ingin mengenal ayahnya Hinata.
Tapi mengapa Kushina sudah lebih dulu menawarkan pejodohan pada Hinata, itu dikarena kan Kushina takut kalau Hinata direbut atau dimiliki orang lain terlebih dahulu, maka dari itu dia melakukannya. "ini bunga Primorse kesukaan mu, entah mengapa Hinata berbeda dengan mu, dia tidak suka bunga ini, dia lebih menyukai Anggrek dan bunga berwarna ungu lainnya, kalian agak berbeda dalam hal kesukaan, mungkinkah dengan Hiashi, orang itu membawa dampak, selalu saja begitu. Bagaimana nanti kalau aku bertemu dengannya, apa aku akan bertengkar lagi yah?"
"Tapi itu tidak akan terjadi, baiklah, aku harus pulang. Sampai jumpa lagi."
Pagi itu tersa sepi sekali, bahkan kedamaian pun terasa melekat dalam ingatan di pagi hari bagi sebagian orang yang telah menghabiskan waktu semalaman, layaknya seperti pasangan suami dan istri. Waktu menunjukan pukul 00:08 pagi, dan terlihat di sebuah apartement yang sangat berantakan, pakaian yang bertaburan ke lantai dan aroma gairah tadi malam masih begitu terasa di ruangan itu.
Salah satu dari mereka kini membuka mata, dia melihat disekeliling, ada sebuah tangan yang melingkari tubuhnya dan menempel erat dibelakang punggungnya, rasanya nyaman, dalam benaknya. Dia melihat tangan itu terluka, luka karena pukulan di dinding, itu membuat Hinata ingat akan sikap Naruto yang begitu tiba-tiba. Dan sekarang, dia sangat sadar, bahwa yang telah ia lakukan malam tadi adalah sebuah kesalahan fatal. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hinata menyentuh tangan Naruto dan membelainya dengan lembut, seharusnya luka ini ia obati, tapi Naruto tetap membiarkannya, apakah sebagai tanda bahwa luka ini adalah rasa kekesalan Naruto, ataukah tanda bahwa Hinata akan terus mengingatnya jika ia melihat luka ini. Naruto membuka matanya, dan merasakan belaian tangan Hinata di tangannya yang terluka. Tentu dia ingat apa yang terjadi semalam, dan itu adalah malam terindah yang pernah Naruto rasakan.
Tapi tiba-tiba Naruto mengingat Hinata, apakah dia marah, bahagia, sedih ataukah terluka. Apa yang Hinata rasakan, dia ingin tahu. Naruto terbangun dan merangsek untuk mencium bahu Hinata yang terbuka lebar, Hinata tersenyum kecil, dia sangat senang dengan hal kecil seperti itu, tapi kemudian suasana hatinya berubah ketika Naruto berkata, "Hinata, aku minta maaf, aku sangat menyesalinya." Kata Naruto.
Kini wajah Hinata berubah drastis, dari tersenyum hingga sedih, marah dan kesal. Hinata benar-benar marah, sangat. Dia menyingkirkan lengan Naruto dan merangkak keluar dari tempat tidur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, "Hinata!" panggilan itu membuat Hinata semakin terluka. Dan kini Hinata memasuki kamar mandi, Naruto menunggu Hinata keluar hingga beberapa menit kemudian Hinata pun keluar dari kamar mandi.
Hinata tidak menghiraukan Naruto sama sekali, dia mencoba menjauh, saat Naruto mendekat, "jangan menyentuhku. Pergi!"
"Hinata aku mohon, maafkan aku!"
Permintaan maaf itulah yang membuat Hinata semakin terluka. Hinata menuju lift, dan Naruto hendak mendekat, namun kata-kata menjauhlah yang terlontar dari mulut Hinata, "jangan mendekat, dan jangan pernah menyentuhku lagi!" kata Hinata.
"Hinata!"
"Pergilah ke neraka!" itu adalah kata-kata terakhir yang Hinata ucapkan.
Dua hati yang bertolak belakang ini kini menjadi terluka, dua-duanya sama-sama terluka. Tapi yang lebih terluka adalah Hinata, apakah dia akan kuat menghadapi semua ini, setelah apa yang telah ia dan Naruto lakukan. Satu minggu setelah kejadian itu dan setelah menghadapi ujian kelulusan, kini Naruto tidak lagi tahan dengan semua ini, dia harus mencari tahu apa yang Hinata rasakan saat itu dan saat ini, dia harus bicara dengan Hinata.
Naruto mencari-cari Hinata ditengah-tengah kerumunan papan informasi kelulusan, tapi dia tidak ada disana, lalu dia mencari Hinata di kelas, dia tidak ada juga, lalu kemudian dia mencarinya ke rooftop, disanalah Hinata berada. Hinata tengah memandang langit, dia merasakan kehadiran seseorang, dia langsung tahu kalau orang itu adalah Naruto. Hinata hendak pergi tapi Naruto mencegahnya dengan menarik tangannya, "jangan menghindar lagi, aku mohon. Aku harus tahu apa penyebab dirimu menjauh dan menghindar dariku, katakan padaku!"
"Seharusnya kau paham, seharusnya kau mengerti isi hatiku, bagaimana perasaan ku saat kau mengatakan, maafkan aku."
Naruto tersentak kecil, dan sekarang dia paham, Hinata menyukainya, okeh baiklah. Ambil saja kesimpulan seperti itu. Dia tidak marah karena mereka melakukan hal itu, marah dan kesalnya yaitu karena Naruto meminta maaf dan mengatakan dirinya menyesal, dia sangat paham sekarang, "kau kira aku tidak suka, kau kira aku benar-benar mengatakan aku menyesalinya, apa kau tahu malam itu, malam itu malam yang terindah bagiku, aku tidak akan pernah melupakannya, aku menikmatinya." Kata Naruto.
Wajah Hinata melunak, dia sedikit santai sekarang. Penjelasan Naruto tadi membuat Hinata tenang, "jangan marah lagi, aku mohon!"
Hinata menyingkirkan tangan Naruto dengan lembut dan berbalik menjauhi Naruto, dia tersenyum, dan Naruto tahu akan hal itu, dia juga tersenyum dan menghembuskan napas lega. Senyum Naruto itu akan luntur dalam beberapa minggu kedepan, pasalnya Hinata akan menjauh darinya, selama mungkin, sampai hatinya tenang. Sebelum pergi Hinata mendatangi rumah Kushina dan dia ingin menyampaikan maksudnya.
"Bibi senang mendengar kau mendapat nilai tertinggi di sekolah, rasanya bibi sangat bangga meskipun kau bukan anak kandung bibi, bibi sangat senang."
"Bibi Kushina, aku minta maaf!"
"Minta maaf, untuk apa, apa kau berbuat salah?"
"Aku tidak menepati janjiku bibi, aku tidak akan menikah dengan anak bibi, aku membatalkan perjodohan ini. Bibi tenang saja, aku belum memberitahu ayahku mengenai hal ini."
"A-apa? Membatalkannya kau bilang? Tapi kenapa Hinata, kenapa?"
"Karena aku akan pergi bibi, aku tengah menghadapi masa sulit sekarang. Dan aku butuh ketenangan agar hatiku kembali lagi seperti sedia kala."
"Apa yang membuat mu seperti ini, katakan pada bibi?"
"Tidak ada yang bisa aku katakan lagi bibi. Aku juga harus melanjutkan studiku, semoga dengan banyaknya aktivitas nanti, masa sulit ini akan terhenti. Bibi, sekali laigi, maafkan aku. Ini bukan perpisahan bibi, aku akan selalu menghubungi mu, kau bagaikan ibuku selama ini, terima kasih dan maaf!" kata-kata Hinata yang terakhir itu membuat Kushina mengeluarkan air mata, begitu deras dan kecewa pada Hinata. Apa sebenarnya yang membuat dirinya memiliki masa sulit itu, apa yang terjadi padanya, Kushina ingin tahu.
Berat bagi Hinata mengatakan hal itu, tapi dia juga harus melakukannya karena terpaksa. Jika dia tidak mengatakannya, maka bebannya akan semakin bertambah. Bagikan kertas putih yang suci, kini telah ternoda tinta yang hitam dan akan selalu berbekas, tak akan pernah hilang. Mungkin itu pepatah yang cocok untuk Hinata saat ini, tapi kenapa dia pergi dan menjauh, dari siapa, apa dari Naruto. sekarang dia teringat lagi dengan orang yang satu ini, orang yang mengubah hidupnya, semuanya.
Hinata kini telah bersiap menunggu keberangkatannya ke Eropa untuk melanjutkan studinya dan juga melupakan semua yang telah terjadi. Seseorang berlari kencang, mencari-cari seseorang, dia tergesa-gesa hingga menabrak beberapa orang. Semoga orang yang ia cari belum berangkat, itulah doa nya dalam setiap perjalanan. Dia menemukan orang itu, tengah duduk dan menunggu. Orang yang sedang menggu pesawat itu menatap lurus ke depan dan melihat objek yang sangat ia kenal, dia berdiri terpaku.
"Naruto?" kata Hinata dengan nada tidak percaya, mengapa Naruto ada disini, batin Hinata.
Naruto mendekat, berdiri tepat dihadapannya, "kau mau pergi, tapi kau tidak memberitahuku?"
"Haruskah aku memberitahu mu, kukira itu tidak perlu."
"Kapan kau akan kembali?" kata Naruto
"Setelah hatiku tenang." Jawab Hinata lembut
"Dan kapan saat itu terjadi?"
"Entahlah, kita lihat saja nanti." Kata Hinata dengan nada pelan dan tenang. Dalam hatinya berkata, apakah jika aku kembali kau masih sendiri? Tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
"Semoga perjalanan mu menyenangkan." Kata Naruto dengan nada datar dan sedikit berat untuk dia katakan.
"Itu pasti." Kata Hinata.
Kini tidak akan lagi kata-kata benci, yang ada sekarang ini adalah suasana sepi, mungkin itu yang akan Naruto rasakan, "semoga kau tenang, kembali kesini, dan aku akan menunggu mu." Batin Naruto. Hinata menoleh ke belakang, dan Naruto masih menatapnya, "saat aku kembali nanti, apa yang akan terjadi, Naruto?" Hinata kini tak terlihat lagi, dan itu adalah hari terakhir dia melihatnya. Hari-hari yang akan datangnya, mungkin terasa sepi, mungkin ada pepatah yang tepat untuk Naruto, "bagai punduk merindukan bulan"
Mungkin akan terasa lebih cepat jika kita memberikan waktu dekat untuk kisah ini. Tapi jika kisahnya terlalu panjang, maka orang yang membacanya pun akan terlihat bosan. Maka yang lebih tepat adalah, meberikan sedikit waktu untuk Kushina, Hiashi agar mereka bisa bertemu dan mengetahui kisah Naruto dan Hinata yang sesungguhnya.
Satu tahun kemudian. . .
"Ibu, aku akan pergi ke kampus hari ini, apa tidak apa-apa aku tinggalkan?"
"Tunggu dulu!"
Kushina merasa jengkel dengan Naruto yang selalu beralasan tidak ingin mengantarnya ke acara arisan tiap bulan yang diadakan Kushina dan teman-temannya yang lain. Bahkan jika ia mengantarkan Kushina hanya sampai depan pintu saja, tapi kali ini dia akan mengenalkan Naruto pada teman-temannya, "anak jaman sekarang memang seperti dia, kau, kenalkan dirimu atau kau ingin aku saja yang mengenalkan mu?"
"Tidak ibu, aku saja. Nyonya-nyonya yang cantik, alangkah baiknya jika kita saling mengenal. Perkenalkan, nama saya Uzumaki Naruto, saya anak pertama dan terakhir dari Uzumaki Kushina."
Ibu-ibu di hadapan Naruto itu tertawa kecil dan menganggap Naruto melucu, "anak mu ini pandai bercanda Kushina, dia sepertinya masih sendiri. Bagaimana jika aku kenalkan kau dengan putriku. Dia cantik dan belum tersentuh, kalian berdua pasti cocok!" ujar salah satu dari sekian ibu-ibu arisan.
"Aaahh tidak, tidak, aku yang akan memilihkan sendiri gadis seperti apa yang akan dinikahi putera ku, dia harus cantik, pandai memasak dan juga tidak pernah sedikit pun tersentuh, itu adalah hal yang paling utama. Dan kurasa anak mu belum pandai memasak."
"Ibu!" Naruto mengingatkan.
Kushina tidak mau mendengar, "dengarkan teman-teman, anakku akan aku nikahkan dengan puteri dari teman ku, dia adalah gadis yang cantik, pandai memasak dan tentunya masih suci."
"Waaah, kau beruntung Kushina, jika menemukan gadis yang seperti itu, kebanyakan gadis jaman sekarang sudah tidak bisa dipercaya lagi keperawanannya."
Omongan itu membuat Naruto semakin geram dan kesal, dia tidak tahan lagi, "ibu, sebaiknya aku pergi!"
"Ya sudah, kau pergi saja dan belajar yang rajin, sudah sana!"
Naruto mengingat kembali saat dirinya mengendarai mobil. Ingatan itu menuntunya pada moment yang indah itu, sepertinya baru kemarin dia merasakannya, tapi itu sudah sangat lama, dan memang kejadian itu tak akan pernah bisa ia lupakan begitu saja, baik dirinya maupun Hinata. Sekarang, dia mengingat Hinata, bagaimana mungkin, memang setiap harinya dia selalu mengingat wajah itu, mengingat nama itu, dan setiap moment yang ia habiskan bersamanya, "Hinata." Hembusan napas itu mengeluarkan kata-kata terindahnya, nama itu selalu ada dalam hatinya, selalu.
^^Bersambung. . .^^
