"Akhir – akhir ini kau terlalu sering menjarah tempat tidurku, Naruto,"

"Dan sejak kapan atap sekolah kau patenkan menjadi kasur pribadimu?"

"Hah, mendokusei," ujarnya menendang – nendang pelan kakiku. Kode agar aku sedikit bergeser dari posisi tidurku saat ini. Sedikit menggerutu aku menurutinya dan berbagi tempat berbaring nan teduh ini. Terik matahari di musim panas memang tidak main – main panasnya.

"..."

"..."

"Cepat katakan, Shika,"

"Apa maksudmu?" gumamnya dengan nada malas khasnya. Masih pura – pura tidak tahu rupanya.

"Aku tahu ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku. Cepat katakan,"

"Heh, percaya diri sekali kau. Apa kau membuat masalah lagi sehingga aku harus menceramahimu seperti biasa?"

"Tsk,"

"Aku tak akan berkomentar apa pun tentang keputusan yang kau buat. Ini hidupmu. Kau tahu siapa yang benar – benar kau inginkan berada di sisimu. Bukankah kau yakin selama ini kau mencintai Sakura? Tidak ada alasan untuk risau, kalau begitu."

"Aku tahu, Shika. Hanya saja—"

"—Kau merasa kasihan padanya? Jangan bodoh! Kau lebih tahu dariku bahwa dia itu kuat. Dan yang terpenting, walau aku pribadi merasa ini belum cukup tapi melihat kau lumayan babak belur dihajar Neji setelah kau mencampakannya, aku rasa ini cukup setimpal,"

"Sialan kau, Shikamaru!"

It's sad, so sad
It's a sad, sad situation.
And it's getting more and more absurd.
It's sad, so sad
Why can't we talk it over?
Oh it seems to me
That sorry seems to be the hardest word.

.

.

.

.

.

Your Eyes

.

.

Disclaimer :

Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei ever after

Sorry seems to be the Hardest Word song by Blue

And oh yeah, the nice cover picture this fic is not mine, gomen

.

Pairing : NaruHina

Warning : AU, OOC maybe, Typos

.

.

.

Chapter 6. Sorry seems to be the Hardest Word

.

Aku tak ingat kapan tepatnya kami pertama kali bertemu. Mungkin di salah satu acara yang diselenggarakan OSIS di sekolah. Atau mungkin saat Karin mengajaknya main ke rumah. Entahlah, aku memang buruk dalam hal mengingat.

Yang aku tahu, sadar – sadar aku telah mengagumi matanya. Saat itu bahkan kami belum resmi berkenalan. Aku tahu namanya tentu saja.

Hinata Hyuuga.

Karin sering kali menyebut namanya saat bercerita. Mengherankan, sepupu urakan macam Karin mampu berteman baik dengan Hyuuga kalem satu itu.

Dan jangan lupakan bahwa berkawan baik dengan seorang Neji Hyuuga—si Tsundere yang ternyata Siscon akut—membuatku mau tak mau mengetahui eksistensi seorang Hinata Hyuuga. Membuatku meragukan kebenaran teori genetika karena mengetahui manusia stoic macam Sadako-Neji ternyata satu gen dengan makhluk ehem-manis-ehem seperti Hinata.

Entah kenapa Hinata selalu mampu menggugah rasa heran dan penasaran di diriku.

Hinata, seorang yang penuh perhatian dan ceroboh disaat yang bersamaan.

Tak terhitung jumlahnya aku terkekeh geli mengamati dari jauh dia yang tersandung kakinya sendiri saat berjalan. Atau saat dia terantuk sesuatu di kepalanya. Bahkan dia pernah hampir jatuh di tangga rumahku. Kali ini aku tak hanya mengamatinya dari jauh. Aku bersyukur aku mempunyai refleks yang bagus sehingga dapat tepat waktu menolongnya. Karin dengan senang hati membunuhku jika dia sampai kenapa – napa. Meski itu bukan kesalahanku sekalipun. Percayalah.

Sepertinya itu adalah interaksi resmi pertama kami. Apakah kami sempat berkenalan secara resmi? Uhm, entahlah aku tak begitu ingat. Haha... Yang pasti kami semakin dekat sejak saat itu.

Hinata Hyuuga.

Pemberani dan penakut disaat yang sama. Selalu nampak tenang walau terkadang begitu impulsif. Selalu mengalah meski bukan berarti dia mudah menyerah. Seolah semua di dirinya adalah kumpulan paradoks. Menggelitik rasa penasaranku terhadapnya.

Namun kalian salah jika beranggapan itu adalah misteri terbesar yang ada di dirinya.

Manik Violet Amethyst miliknya adalah misteri utama yang selalu menggelitikku. Menggoda untuk dipecahkan. Tak pernah gagal aku tertegun hingga berjuta kali ketika memandang matanya. Hingga tanpa sadar aku selalu berusaha untuk dapat memandang netranya selama yang aku bisa. Yahh maksudku selama itu dapat dianggap waktu yang wajar untuk menatap mata seseorang. Kheh, semoga tidak ada yang menyadarinya.

Jangan sekalipun kalian bertanya apa arti Hinata untukku! Lidah dan otakku selalu tiba – tiba kehilangan chemistry-nya. Apakah wajar menganggap adik sahabat baikmu itu sebagai adik sendiri? Meski belum terlalu lama kenal?

Aku harap wajar. Karena aku tak tahu alasan apalagi yang mampu menjelaskan perasaan aneh ini. Perasaan hangat tak biasa tiap aku melihat senyumnya. Perasaan nyaman aneh tiap aku mendengar suara gugupnya.

Tidak, tidak. Aku tahu aku tidak menyukainya. Maksudku, aku menyukainya tentu saja. Namun bukan menyukai yang seperti itu— Arrgg! Kalian tahu maksudku kan?

Aku tahu aku menyukai Sakura-chan. Sangat. Sedari dulu. Tanpa syarat. Meski dia tak pernah membalas perasaanku. Meski aku tahu dia menyukai orang lain. Sahabatku sendiri lebih tepatnya. Namun aku tidak pernah menyerah mendapatkan Sakura-chan. Tidak, selama Sakura belum melontarkan penolakan dari mulutnya sendiri terhadap pernyataan cintaku. Ya, Sakura-chan tahu aku menyukainya. Aku telah menyatakan perasaanku dan memintanya hanya berpaling kepadaku. Namun saat itu dia hanya meneteskan air mata dan memelukku. Dia tak menerimaku. Namun itu tak bisa dianggap penolakan juga kan?

Apakah dia terlihat jahat? Tidak, aku tahu dia melakukannya lantaran tidak tega untuk menolak dan melihatku hancur. Dia sadar akan arti dirinya di hidupku. Dia adalah satu – satunya cahaya yang menuntunku disaat – saat tergelapku dulu. Aku tahu dia menyayangiku. Namun aku juga tahu rasa sayang miliknya tak seperti miliku untuknya. Dia mencintai Sasuke. Kheh, aku tahu aku ini bebal dan keras kepala. Jadi tak usah repot – repot menasehatiku. Namun selama Sasuke-teme juga tak memberikan jawaban atas pernyataan cinta Sakura-chan. Diriku yang bebal ini masih punya kesempatan kan?

Dan akhirnya kami bertiga pun berputar – putar dalam lingkaran cinta tak pasti yang menyakitkan.

.

.

.

"Aku menyukaimu, Sakura-chan. Tak bisakah kau berhenti menatap ke arah Sasuke dan berpaling hanya kepadaku. Hanya aku! Tak lelahkah kau menunggunya?"

Sakura hanya terdiam menatapku dengan mata berkaca – kaca. Perlahan dia mengikis jarak dan memelukku hangat. Aku membalas pelukannya. Dia hanya terisak dan berucap lirih.

"Kenapa Naruto? Kenapa? Kenapa kita bertiga berputar – putar pada cinta seperti ini?"

Aku terdiam membiarkannya menangis hingga puas baru mengantarnya pulang.

Dan disinilah aku. Termenung menatap jendela kamarnya. Perlahan tanganku merogoh saku untuk mengambil ponsel orange-ku. Nyaris tanpa berfikir aku memencet sebuah nomor.

"Mo-moshi- mo-moshi," Sebuah suara terbata mengalun merdu di telingaku. Err, apakah aku baru saja memencet nomor Hinata?

"Ah, moshi - moshi, Hinata-chan! Apakah aku mengganggumu jika aku menelpon sekarang?" ujarku ceria segera menguasai diri. Ah, mungkin menelpon Hinata bukan ide yang buruk. Setidaknya mendengar suaranya bisa memberikan perasaan nyaman yang menyenangkan.

"A-ano... Ada apa Sen- ma-maksudku Na-naruto-kun menelpon?"

Nah, aku harus menjawab apa?

"Apakah aku hanya boleh menelponmu jika itu terkait persiapan festival saja?"

"Eh? Te-tentu saja tidak. Ha-hanya saja ...a-aku..."

"Entahlah. Ada sesuatu yang terjadi. Dan aku ingin mendengar suaramu," Kurasakan belitan menyakitkan di dadaku mengendur perlahan. "Ah, bukan. Aku butuh mendengar suaramu," aku tersenyum menikmati perasaan nyaman yang aneh ini. Aneh. Tapi menyenangkan.

.

.

.

"Baiklah, aku kira cukup untuk rapat OSIS kita kali ini. Sebentar lagi masa jabatan kita memang akan berakhir tapi bukan berati kita tidak memberikan yang terbaik disaat – saat terakhir. Oh ya, Sasuke apakah MPK sudah memberitahu jadwal kampanye untuk kandidat Ketua OSIS yang baru?" ujarku menatap seseorang di sebelah kananku.

"Hn. Mereka bilang baru saja mengirimkannya ke email OSIS. Mereka bilang akan memulai mensosialisasikannya mulai minggu depan ke seluruh siswa Konoha Gakuen,"

"Bagus. Meski aku mencintai kalian semua dan kalian sangat mencintaiku tentu saja tapi aku sudah tak sabar untuk segera demisioner-ttebayo! Hahaha...." tawaku lebar, yang tentu saja langsung dihadiahi pandangan sweatdrop oleh para anak buahku. Hahaha...

Tok...Tok...Tok...

"Permisi,"

—dan tawa bahagiaku terhenti seketika mendengar alunan merdu yang sudah lama tak kudengar. Leherku tiba – tiba jadi kaku tak bisa menoleh. Sial! Kenapa pintunya harus berada di belakangku?!

"Hinata!"

"Hinata-chan?"

Dua suara dengan intonasi yang berbeda terdengar. Satu dengan intonasi datar tapi penuh tanya milik Neji. Dan satunya milik Karin yang kelewat riang.

"Eh, err.. A-apa aku me-menggangu?"

"Tidak, rapat kami sudah selesai kok. Tenang saja," ujarku menoleh kepadanya, setelah berhasil menguasai diri dan menggerakan leherku tentu saja. Aku berusaha menatap matanya—yang tak dibalas olehnya. Cahaya yang dulu selalu memancar dari manik Violet Amethys-nya tak ku lihat. Ah, aku ingat sudah beberapa hari sejak kejadian hari 'itu' maniknya memang tampak tak bercahaya. Hampa dan kosong.

Sejak kejadian itu dia—tak seperti dugaanku—bersikap biasa. Maksudku terlalu biasa. Dia tak menghindariku seperti dulu setelah dia menyatakan perasaannya. Yaah dia memang membatasi interaksinya denganku. Tapi tidak terang – terangan menghindariku seperti dulu. Dia masih menyapaku jika bertemu. Sedikit tersenyum hambar dan berlaku terlalu sopan saat berbicara—yang hanya sepatah dua patah kata— padaku.

Ini salah. Aku meraa ada yang hilang dari dirinya. Aku tak yakin apa itu. Namun kini aku tahu salah satu yang hilang. Cahaya di iris Violet Amethyst-nya yang indah sudah tak ada lagi.

"Syukurlah. Err, bo-bolehkah aku berbicara de-dengan Su-suigetsu-senpai sebentar? A-ada yang ingin a-aku serahkan," ujarnya, lagi – lagi dengan senyum hambar.

"Eh, aku? Ah, aku ingat. Kau orang yang— Aih, kenapa harus sebentar, selamanya pun aku rela bila bersamamu, Sweety dan kita bisa—AUWWW! APA MASALAHMU NEJI?!" ujar Suigetsu melotot kearah Neji yang melemparinya dengan penghapus papan tulis. Good Job Neji!

"Awas kau macam – macam dengannya, Hiu!"

"Cih,"

—Dan rasanya aku jadi ingin melemparinya dengan sesuatu juga saat dia malah sengaja merangkul pundak Hinata dan mengajaknya keluar. Melihat Hinata bersemu setelahnya membuatku—Arrghh! Ada apa denganku?

What I got to do to make you love me?
What I got to do to make you care?
What do I do when lightning strikes me?
And I wake to find that you're not there?

.

.

.

Aku tak akan berbohong bahwa pernyataan cinta Hinata beberapa waktu lalu tidak menggetarkan hatiku. Bahkan bunga plastik yang ia berikan untukku saat itu masih kujaga. Tersimpan rapi di laci meja samping tempat tidurku. Aku masih mengingat dinginnya air hujan yang mengguyurku saat itu.

"Aku menyukaimu, Senpai. Aku sudah menyukaimu sejak dulu..."

Aku tertegun mendengar tiap kata yang terucap di bibirnya. Apa katanya tadi? Menyukaiku? Apakah harus ada hati yang tersakiti lagi? Maaf Hinata tapi aku—

"Aku tahu Naruto-senpai menyukai Sakura-senpai. Aku tahu"

Dia menunduk dalam tak berani memandangku. Meski begitu aku tahu dia serius. Baru kali ini aku mendengar kalimatnya tanpa terbata.

"Tapi perasaanku padamu juga tulus, Senpai. Kau mungkin tak tahu, tapi matamu sudah menghipnotisku semenjak kita pertama kali sadar aku sudah tertarik jauh ke kedalaman matamu, Senpai,"

Tiba – tiba dia mendongak dan menatap langsung ke dalam mataku. Iris Violet-nya menatapku nyalang dan penuh tekad. Dalam hati aku merutuki kebodohanku yang masih belum mampu mengucap sepatah kata pun. Bahkan saat perlahan dia menyodorkan sebuah bunga plastik berwarna merah ke arahku, aku masih terdiam. Apakah dia bermaksud memberikan bunga ini untukku?

"Haha, ini hiasan bunga mawar dari botol plastik bekas yang di buat panitia untuk pembukaan festival besok. Cantik kan?" Dia tersenyum. Dan Entah kenapa senyumnya terasa membetot jantungku.

"Aku tak bermaksud memaksakan perasaanmu padaku, Senpai. Sungguh. Aku hanya—" Dia berhenti sejenak menghela nafas panjang dan mencengkeram dada kirinya. "Disini rasanya sesak, Senpai. Sesak menahannya begitu lama. Hanya dapat melihatmu dari jauh. Tapi aku sadar aku hanyalah invisible girl di matamu. Meskipun begitu, bolehkah aku sedikit berharap, Senpai ? Sudikah Senpai kenali aku dulu ? Kenali aku sebagai seorang wanita yang menyukai seorang laki - laki. Bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya. Tak bisakah, Senpai?"

Aku begitu terpana dengan tatapan matanya. Suaranya berputar berulang – ulang di dalam kepalaku seperti sebuah kaset rusak. Aku membeku di tempat. Bahkan tak menyadari saat dia meraih tanganku dan meletakkan mawar plastik itu di tanganku. Aku masih saja terdiam terpana.

Saat aku tersentak sadar, dia sudah tak ada lagi di depanku. Ku lihat punggungnya yang semakin menjauh tampak begitu rapuh. Ku rasakan dorongan absurd untuk berlari memeluknya. Namun bahkan lidahku terlalu kelu untuk sekedar memanggil namanya.

.

.

.

"Sampai kapan kau mau disana Karin? Ck, cepat katakan apa maumu! Kau mengganggu konsentrasi belajarku!" ujarku kesal kepada makhluk satu yang dengan PD-nya tidur di kasur orang dan bernyanyi – nyanyi cempreng. Padahal sang pemilik kamar sedang serius belajar demi masa depan. Tsah...

"Kau mengusir sepupu cantikmu ini, Naruto?"

"Aku tahu kau pasti ada maunya. Tidak mungkin kau mau berkunjung ke kamarku kalau—HEY! KAU MENYAKITI KEPALA TAMPANKU, BAKA!"

Sialan memang sepupuku satu itu! Berani – beraninya dia melemparkan sebuah buku ke kakak sepupunya.

"Arrgghhh!" Dia tiba – tiba berteriak frustasi sambil mengacak – acak surai merahnya. "Aku sudah tidak tahan untuk memukulmu! Kalau bukan karena Hinata yang melarangku, kau pasti sudah mati di tanganku, Naruto! Berani – beraninya kau membuat Hinata menangis! Aku kan sudah bilang berulang kali kepadamu, jangan pernah bermain – main dengan perasaannya! Kalau kau belum sanggup melepaskan Sakura, buat apa kau menerima perasaan Hinata, hah?!"

Aku terdiam tak mampu membalas ucapan marah Karin. Aku tak bermaksud memainkan perasaan Hinata. Sungguh. Hanya saja ...

"Me too, Senpai. I'd catch a grenade for you. So, why not you try me?Mari kita coba saja. Perasaan siapa yang menang dan bertahan dan siapa yang menyerah kalah. Why dont you try open your heart for me. Jadilah kekasihku, Naruto-senpai!"

Ucapannya yang penuh tekad dan sinar matanya yang bersinar mengebor ke dalam mataku mau tak mau membuatku tersenyum dan menyerah kalah padanya. Saat itu terpikir olehku bahwa mungkin dia bisa. Bisa memalingkan cintaku hanya untuknya.

"Berapa lama dia menangis? Apakah... apakah dia baik – baik saja?" tanyaku nyaris dengan suara tercekat.

"Menurutmu?!" balas Karin semakin melotot ke arahku. "Aku punya sesuatu yang menarik untukmu. Tuh, di dalam buku yang ku lempar tadi. Ini semua salahmu kalau dia sampai tak kembali!"

Aku mengambil buku yang tadi dilempar Karin ke arahku. Ada selembar kertas yang terselip di dalamnya. Kedua mataku membola seiring aku membaca rentetan kalimat yang tertera di kertas itu.

"Aku harap kau akan menyesal telah mencampakan gadis sebaik Hinata,"

Dan dengan suara bedebam keras Karin meninggalkanku sendiri.

.

.

.

"Ayolah, Neji-niisan rayulah Hinata-chan untukku. Ajak dia ke Festival nanti malam!"

"Ck, sudah ku bilang dia tidak mau, Naruto. Dia bilang sedang tidak enak badan. Dan apa –apaan panggilan 'Neji-niisan' itu?! Kau membuatku geli!"

Aku hanya nyengir lebar menanggapi raut kesalnya.

"Hehe, siapa tahu di masa depan kau akan menjadi niisan-ku, Neji. Jadi apa salahnya latihan dari sekarang? Hahha..."

"Cih, aku tak akan membiarkannya! Kenapa tak kau sendiri yang mengajaknya pergi ke festival? Aku punya janji dengan Tenten, tahu!"

"Sepertinya dia sedang tidak dalam mood bertemu denganku. Dari tadi dia tidak menjawab panggilanku," ujarku sendu.

Aku tahu mengapa dia tidak menjawab panggilan dariku. Dan semua ini salahku. Aku lagi – lagi menyakiti hatinya. Aku sudah berjanji kepadanya untuk belajar menyukainya dan melupakan Sakura-chan. Namun aku masih belum sanggup. Bahkan saat Sakura-chan datang ke hadapanku dengan berderai air mata, tanpa ragu aku memeluknya hangat dan menghapus air matanya. Mengucapkan kata – kata penghibur bahwa semua akan baik – baik saja. Bahwa akan selalu ada aku disisinya. Ya tanpa ragu. Meski saat itu dari sudut mataku aku melihat seorang gadis berhelain indigo tengah menatap ke arahku dengan pandangan terluka dan berderai air mata. Hatiku mencelos. Namun aku tetap bergeming.

Neji sepertinya mengerti kegundahan hatiku karena detik selanjutnya dia menghela nafas kalah berucap setuju meski dengan nada tak rela.

"Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengajaknya ke Festival Tanabata. Pastikan kau bertemu dengannya secara 'kebetulan' dan ajak dia bersenang – senang sebagai permintaan maafmu. Jangan lupa untuk memulangkannya dengan selamat tanpa kurang atau lebih apapun!"

"Sip! Tenang saja! Kau hanya perlu mengajaknya kesana. Selebihnya serahkan kepadaku!"

.

.

.

Daftar Siswa Pertukaran Pelajar Konoha Gakuen :

1. ...

...

2.Hinata Hyuuga

Tujuan : Suna Kokou, Sunagakure

3. ...

Jadi, ini alasan tadi siang Hinata menemui Suigetsu. Harusnya aku bisa menduganya. Buat apalagi dia menemui Ketua bidang Eksternal-ku di OSIS kalau bukan untuk mengajukan diri sebagai siswa Siswa Pertukaran Pelajar? Suigetsu memang dimintai tolong oleh guru untuk mendata murid – murid yang mengajukan diri untuk Pertukaran Pelajar. Sebegitu tak inginnya kau bertemu denganku, Hinata? Apakah luka yang ku berikan kepadamu terlalu dalam?

What do I do to make you want me?
What I got to do to be heard?
What do I say when it's all over?
Sorry seems to be the hardest word.

.

.

.

"Selanjutnya!" suara petugas memanggil kami untuk maju menaiki bianglala. Senyum tak pernah lepas dari bibirku. Menghabiskan waktu seharian dengan Hinata ternyata benar – benar menyenangkan. Walau terbesit rasa cemas di hatiku. Aku meningalkan Sakura-chan sendirian dirumah tadi pagi dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Semoga tidak terjadi apa – apa dengannya.

"Aah.. Ba-baik," ucap gadis disebelahku gugup. Aku terkekeh dan melirik ke arah Hinata. Benar dugaanku, rona merah tipis yang manis merambat di pipinya. Tanpa sadar aku menghentikan langkahku untuk mengamatinya lebih intens sambil tersenyum. Ah, dia memang man—

Drrt...Drrrt...Drrrrrrrrt...

Ada SMS masuk. Aku membukanya dan terpaku seketika. Berulang kali aku membaca kalimat yang tertera di dalamnya tak percaya.

"Senpai? Kau tak masuk?"

"Hey, anak muda! Jangan menghalangi antrian! Kau mau naik tidak?!" seru petugas Bianglala tak sabar.

Aku tak menggubris mereka. Aku terlalu shock dengan apa yang ku baca.

.

From: Cherry-chan

"Maaf, Naruto. Aku tak sanggup lagi. Ayahku pulang dengan wanita jalang itu. Mereka meneriaki ibu dan memukulinya. Aku tak bisa melindungi Ibu, Naruto. Aku tak berguna. Maaf. Sampaikan salamku untuk Sasuke. Katakan aku akan tetap mencintainya meski dia telah menolakku.

Aku menyayangimu, Naruto. Bye."

.

Sa-sakura? A-apa maksudnya ini? Apakah dia bermkasud untuk—

"Sakura-chan, Hinata!" Aku mendongak menatap Hinata dan berjalan mundur menjauhinya, "Maaf, Hinata! Aku harus pergi! Sakura-chan dalam keadaan yang tak baik! Dia membutuhkanku. Aku... Aku harus kesana!"

Aku segera berlari sekuat yang aku bisa. Tak mempedulikan umpatan orang – orang yang ku tabrak tak sengaja. Aku tak peduli. Pikiranku kini hanya tertuju pada Sakura-chan. Semoga dia tidak berpikir untuk malakukan hal bodoh.

Aku menengok sebentar ke arah Hinata. Ku lihat dia seperti berkata sesuatu yang tentu tak dapat ku dengar. Dia terus menatap kepergianku dengan pandangan sedih.

Ah, lagi – lagi aku membuat hatinya terluka.

.

.

.

"Akhir – akhir ini kau aneh, Naruto. Kau jadi lebih pendiam,"

"Benarkah? Aku merasa biasa saja," Aku tersenyum lebar ke arah Sakura-chan sebelum kembali mengarahkan pandangaku ke depan. Kami sedang mengamati Kampanye Dialogis para kandidat ketua OSIS yang baru. "Mungkin karena sebentar lagi kita akan demisioner. Setelah itu kita akan sibuk dengan persiapan ujian dan akhirnya meninggalkan sekolah ini. Ahhhh, aku akan sangat merindukan kalian!"

"Kita kan masih bisa bertemu saat akhir pekan. Lagi pula jaman sekarang interaksi dunia maya bukan hal yang susah. Kau sudah menetapkan pilihanmu akan melanjutkan kemana Naruto?"

"Ya, aku rasa begitu. Kau Sakura-chan? Apakah kau jadi mengikuti universitas yang Sasuke pilih?"

Sakura tak menjawab pertanyaanku. Dia malah memilih tersenyum lembut ke arahku. Senyum yang dulu selalu mampu membuatku berdebar. Aku jadi tersadar. Kemana debaran itu sekarang?

"Oh ya, bagaimana kalau kita belajar bareng sambil barbeque nanti malam? Sudah lama kita tidak kumpul -kumpul" ujar Sakura antusias," Kita ajak teman – teman yang lain. Aku akan mengajak Ino dan Tenten!"

"Ide bagus! Kita ajak juga si Teme, Sadako, Neji dan lainnya. Hahaha,"

"Err, tapi kalau bayak – banyak kita tidak akan jadi belajar. Apalagi kalau tempatnya di rumahmu. Sudah pasti akan ada perang SuiKarin,"

"Haha, sudahlah. Mumpung weekend. Kita perlu hiburan juga kadang – kadang sebelum sibuk dengan ujian,"

"Hehe, benar juga,"

Aku tersenyum menatap Sakura yang tertawa bahagia. Sudah lama dia tidak tertawa selepas ini semenjak permasalahan di keluarganya. Aku menatap iris Green Emerald-nya yang menawan. Ya menawan. Namun tak cukup violet hingga mampu membuatku tertegun. Tak cukup bersinar untuk mengisi kekosongan aneh di hatiku yang akhir - akhir ini terus menggelayut. Rasa kosong aneh karena tak menemukan sosok tertentu berkeliaran di sekolahku ini.

Ngomong – ngomong sudah dua minggu aku tak bertemu dengannya! Dia sudah berangkat ke Sunagakure untuk pertukaran pelajar tentu saja. Aaah, aku jadi ingin bertemu dengan—

Nyaris tertegun akhirnya aku menyadari perasaan kosong aneh yang tak asing ini.

Rasa kosong karena merindukan seseorang.

Akhirnya aku sadar.

Aku merindukan Hinata Hyuuga.

What I got to do to make you love me?
What I got to do to be heard?
What do I do when lightning strikes me?
What have I got to do?
What have I got to do?
When sorry seems to be the hardest word.

.

.

.


Chapter 6 End.


.

A/N:

Wahh, akhirnya done juga chapter 6 :D

maaf untuk keterlambatan update, cukup sulit membuat chap ini karena di ambil dr sudut pandang Naruto. Susah meringkas 5 chap kemarin dr sudut pandang Naruto sambil tetap memberikan progress cerita dan nggak flaash back terus. Jadi maafkan daku kalu chap ini sedikit membosankan karena kebanyakn deskripsi dan flash back lebih panjang dari biasanya lg. Jadi maaf kalo bosan. Tapi ku harap tidak. Bingung kah yang mana yg flash back? Hahaha.. sengaja :p #PLAK hehe,

Pinginnya chap dgn Pov Naruto itu 1 chap doank. tapi kayaknya kagak bisa. Hehehe, jadi chap depan sepertinya masih menggunakan sudut pandang Naruto. hahaha... dan chap depan adalah ...

jeng jeng jeng jeng...

Chap terakhir!

Hore! #KeprokKeprok

Doakan nggak terkena WB dan ngaret. hehe..

Hope you enjoy it! :D

.

.

.

yudi: iyes ajalah yudi-san :p

Megu-chan: Naruto nya udah nyesel tuh, dikit tapi hahaha...

aisyahputri : udah up nih :D

ripta: makasih, jgn nangis dulu, hehhe.. udah lanjut nih...

.

.

Thenx for all yor fave, follow, and review :D

Mind to review again? :D

.

.

.

24.10.2015

hikarishe