Prompt: Zona Waktu
Warning: ooc, maybe au
Nada sambung tak putus-putus terdengar. Begitu terus ... sambung-menyambung meraih kehampaan. Operator nampaknya masih tertidur. Satsuki kesepian. Ia tak perlu repot-repot menekan tombol re-dialling.
"Calling Dai-chan" sepertinya bisa menghiasi layar Satsuki selamanya. Ia bosan, jadinya ia putuskan saja. Lalu Satsuki mengintip detak bisu jam digital di sana. Sudah siang. Matahari terang-benderang. Tapi, Satsuki ingat sesuatu. Ia sedang di Amerika. Terbang di langit benua, air asin melatari di bawahnya.
Lima hari, hanya lima hari Satsuki ikut Papa. Aomine sama sekali tidak menghubunginya. Mungkin ia sedang sibuk latihan lalu kepalanya yang penuh bola basket itu terpaku ke bumi begitu memeluk kasur.
Tapi Aomine juga tidak mengangkat panggilannya. Satsuki berpikir ia mungkin mendahului matahari Jepang, sedang Aomine masih bercumbu dengan malam.
Kemudian Satsuki mengubah strategi, tidak menunggu laut menjadi beku. Papa pun bilang ia boleh pulang dulu. Mobil berlari menjemputnya dari bandara ke lapangan tempat nadinya berada. Satsuki bernostalgia tidak menyadari ponsel di sebelahnya menyala-nyala.
"Dai-chan is calling."
"Satsuki."
Suara seseorang yang familiar memanggil namanya. Lembut, tapi anehnya Satsuki mendengarnya jelas. Ia hendak melihat pemandangan di balik kaca, saat serpihan-serpihannya berwujud di genggaman tangannya.
Aomine sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan seseorang. Sorot matanya sendu dengan rindu yang menggebu. Satsuki mengulurkan tangan, untuk menatap jemarinya sendiri tak kasat mata menembus entitas Aomine di depannya.
Zona waktu Satsuki di mata Aomine menipis, berkedip-kedip samar di layar kardiograf yang semakin habis.[]
A/N- yeay, bonus chapter! udah lama sih ditulisnya. cross-post di infantrum juga.
terima kasih atas reviewnya Kak Hidya dan Kak Rana~
serta yg telah menambah ke dalam fav/ alert, terima kasih banyak. *terharu*
ceritanya pingin nulis lagi, tapi kok hiatus membuat wb, ya? huhu. see ya
