あなただけ - Only You
Author: Namikaze Miku-chan
Rate: T
Genre: Friendship, hurt/comfort, romance
(?)
Warning: main chara OC, typo dimana-
mana, abal, OOC.
Summary: Aku menangis lagi saat menatap langit. Hanya dengan melihat, kenangan bermunculan. Hari ini pun aku hidup dalam kesedihan seperti itu.
CHAPTER 6: The Last Time
Sinar mentari pagi telah menampakan cahayanya. Semua makhluk hidup kembali beraktifitas setelah beristirahat semalam penuh. Begitu juga dengan Naruto yang harus berangkat sekolah hari ini. Kayako masuk ke kamar Naruto dan menyibak tirai yang menghalangi cahaya matahari masuk.
"Ohayou, Naru-chan~"
"Nggh~~ Kaa-chan, Naru masih ngantuk~~" Seperti anak kecil lainnya Naruto enggan membuka matanya. Ia menarik selimut untuk menutupi matanya. Kayako menghampiri Naruto.
"Ayo bangun Naru-chan, kau bisa kesiangan nanti." Kayako menurunkan selimut Naruto.
"Kaa-chan~~ Naru masih ngantuk~~"
"Kaa-chan ingin tahu seperti apa Hinata-chan yang sering Naru ceritakan," ujar Kayako. Seketika itu juga Naruto bangun.
"Kaa-chan, ayo! Nanti Naru tunjukan yang mana Hinata-chan!" Sikap Naruto benar-benar berbeda. Ia menjadi sangat bersemangat ketika Kayako menyebut nama Hinata. Kayako tertawa dan bergegas memandikan Naruto.
Keduanya sudah tiba di sekolah Naruto. Kayako menggandeng tangan mungil Naruto. Keduanya berjalan mendekati kerumunan teman-teman Naruto yang sudah berkumpul untuk berbaris masuk. Ada Umino Iruka, guru mereka yang tengah merapikan barisan.
"Oh, Honjo-san." sapa Iruka.
Kayako tersenyum dan sedikit menganggukan kepala, "Ohayou Umino-san."
"Kaa-chan, itu yang namanya Hinata-chan!" Naruto menunjuk seorang gadis cantik berambut indigo pendek kepada Kayako.
"Gadis yang cantik," ucap Kayako.
"Cantik kan kaa-chan. Naru sangat menyukainya."
"Nah, sekarang Naru harus berbaris ya," ujar Kayako.
"Ah iya!" Naruto melihat teman-temannya sudah berbaris rapi. "Dah kaa-chan!" Seperti biasa Naruto mencium pipi Kayako. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Naruto.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
"Direktur, ada yang ingin bertemu dengan anda." Kakashi, yang sekarang memegang posisi sekretaris Kayako menghadap Kayako di ruang kerjanya.
"Siapa?" tanya Kayako yang tengah sibuk dengan laptopnya. Matanya lurus menatap layar laptop miliknya.
"Ia mengatakan bahwa ia kakak anda," jawab Kakashi.
Kayako mendongakkan kepalanya menatap Kakashi, "Kakak?"
"Ya direktur," jawab Kakashi.
"Persilahkan dia masuk," ujar Kayako menutup laptopnya.
"Baik direktur." Kakashi keluar dan tidak lama masuklah seorang pria berambut putih. Meski rambutnya memutih pria tersebut masih berusia sekitar 33 tahun. Rambut putihnya adalah gen bawaan dari lahir.
"Sudah lama tak jumpa ya, direktur? Atau lebih baik kupanggil imouto-chan?" ujarnya.
"Nii-chan!" seru Kayako yang terkejut dengan kedatangan kakaknya, "Ah silahkan
duduk."
"Baik baik," ujar Hagoromo duduk di sofa yang berada di ruangan Kayako.
"Ada keperluan apa kemari?"
"Hahaha...! Kau formal sekali. Apa karena posisi direktur utama yang membuat mu begitu formal?"
"Bu-bukan seperti itu!" Kayako salah tingkah. "Mau minum apa?"
"Tidak perlu. Aku hanya sebentar disini."
"Souka."
"Oh mengenai keperluan ku kemari ada suatu hal yang perlu kuberitahukan kepadamu," ucap Hagoromo.
"Kedengarannya suatu hal penting," ujar Kayako.
"Ya, ini mengenai Uchiha Industries."
"Uchiha Industries? Rekan kerja Namikaze's music?" tanya Kayako.
"Iya," jawab Hagoromo, "Mereka berbahaya."
"Barbahaya? Apa maksud nii-chan? Kami sudah cukup lama bekerja sama dengan mereka. Kenapa bilang berbahaya?"
"Kau tahu kan Namikaze's music ini dan Uchiha Industries adalah saingan? Maka itu aku terkejut saat mengetahui bahwa 2 perusahaan musik terbesar bekerja sama. Kerena saingan itulah mereka ingin menyingkirkan Namikaze's music. Jelas tidak mungkin jika langsung menghancurkan Namikaze's music, maka itu mereka menjalin kerjasama adalah untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengahancurkan Namikaze's music."
"Tidak, tidak mungkin mereka seperti itu," elak Kayako.
"Jangan naif Kayako-chan. Mereka berbeda dengan apa yang kau pikirkan. Yang perlu kau waspadai adalah direktur utama mereka. Kalian belum saling bertemu kan?"
"Iya, aku memang belum saling bertemu dan mengetahui namanya saja aku tidak tahu. Aku hanya tahu nama marganya adalah Uchiha. Tapi mengapa aku harus waspada?" tanya Kayako.
"Karena ia sangat berbahaya. Apapun akan dilakukannya untuk mencapai ambisinya. Menguasai semua industri musik."
"Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?"
"Karena sudah banyak korban. Dan, kau lupa jika nii-chan mu ini anggota CIA?" Hagoromo beranjak dari posisinya. Ia membuka knop pintu dan akan melangkah keluar. "Kayako-chan..."
"Apa?"
"Kuharap kau berhati-hati Kayako-chan," ujar Hagoromo yang keluar ruangan. Kayako hanya diam menatap punggung kakaknya yang menghilang dari balik pintu.
.
.
.
~Only You~
.
.
.
Kayako terus saja memikirkan perkataan kakaknya. Kayako duduk termenung melihat langit malam yang bersih tanpa ada satupun awan. Hanya bintang-bintang yang bertebaran di langit dan bulan yang menghiasi langit. Sebuah kenangan berkelebat di benaknya.
*FLASHBACK ON*
"Imouto-chan!"
Sebuah suara hinggap di telinga Kayako. Suara yang sangat familiar. Kayako membalikan badannya melihat sosok yang memanggilnya 'imouto-chan'. Sosok pria berambut putih dengan wajah cukup tampan berjalan mendekati Kayako. Senyum tersungging di wajah keduanya.
"Nii-chan~" Kayako berlari mendekati sosok yang dipanggilnya 'nii-chan'. Ia peluk sosok itu dengan manja, "Kapan nii-chan datang? Kok nggak kasih kabar sih?" Sosok itu tersenyum menerima pelukan manja dan erat imouto-chan nya.
"Lepas dulu dong pelukannya. Nii-chan nggak bisa bernafas nih."
"Eh? Terlalu erat ya pelukannya? Gomen." Kayako melepaskan pelukannya.
"Hahaha... Kau belum juga berubah ya," ucap Hagoromo seraya mengusap rambut Kayako.
"Tunggu, apa Hamura nii-chan tidak pulang juga?" tanya Kayako.
"Sepertinya tidak. Ia punya banyak tugas yang harus diselesaikan."
"Souka"
.
.
.
Mereka kini tengah duduk disebuah cafe favorit Kayako di dekat sekolahnya.
"Kayako-chan..." panggil Hagoromo.
"Hm?" jawab Kayako seraya memasukan sendok berisi es krim ke mulutnya.
"Ceritakan saja pada nii-chan."
"Hah? Cerita apa?" tanya Kayako bingung.
"Masalahmu," jawab Hagoromo singkat.
"Masalahku? Aku tidak punya masalah." elak Kayako.
"Bohong."
"Aku tidak bohong!" seru Kayako.
"Kau pikir nii-chan tidak tahu? Kelihatan jelas di wajahmu saat ini. Nii-chan sudah liat sejak datang tadi. Kau sedang ada masalah kan?"
"Hm, iya.." Kayako menundukan kepalanya. Ia memang bodoh telah berbohong pada nii-chan nya. Nii-chan nya ini memang tidak bisa dibohongi.
"Cerita saja, nii-chan akan mendengarnya," ucap Hagoromo.
-SKIP TIME-
"... Jadi, bagaimana jika nii-chan ada di posisi ku?" ujar Kayako mengakhiri ceritanya.
"Aduh bagaimana ya?" Hagoromo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Nii-chan pasti akan sangat sedih dan sakit seperti mu. Namun karena nii-chan seorang laki-laki jadi nii-chan tidak akan menunjukkan kesedihan dan rasa sakit yang nii-chan rasakan..."
"Hm..."
"Tapi nii-chan akan berusaha melupakannya dan mencoba mencari yang lebih baik. Mungkin akan sulit melupakannya karena ia adalah orang yang sangat kita cintai. Namun hidup ini tidak boleh hanya diisi kesedihan. Pria yang kau sebut itu memang tidak mencintaimu dan meskipun kau tidak bisa mendapatkan cintanya tapi kau masih jadi sahabatnya kan? Kalau kau benar-benar mencintainya meskipun ia tidak mencintaimu dan kau sudah mencoba untuk melupakannya namun tidak berhasil, pertahankan perasaan itu. Simpan rasa cintamu baik-baik agar menjadi kenangan yang indah seumur hidup mu," ucap Hagoromo panjang lebar.
*END FLASHBACK*
Kayako masih tetap menatap bulan seraya mengingat perkataan nii-channya. Nii-chan nya benar. Ia harus tetap menyimpan rasa cintanya pada Minato. Ia memang sangat mencintai Minato dan menyimpan cinta itu didalam hatinya yang terdalam. Bahkan setelah 4 tahun perasaan itu tidak berubah. Ia masih tetap mencintai Minato meskipun kini sosok itu telah pergi. Kayako kembali teringat dengan Minato. Terutama pertemuan terakhirnya dengan pria yang ia
cintai.
*FLASHBACK ON*
BRAAAK..! Pintu bertuliskan 'Direktur utama' itu terbuka lebar dan menimbulkan suara yang sangat keras. Saking kerasnya suara yang ditimbulkan membuat pigura foto yang ada di meja Minato bergetar. Dua sosok yang berada di ruangan sendiri sangat terkejut.
"Minato! Apa-apaan kau hah?!" seru Kayako dengan nada tinggi.
"Ada apa Kayako? Kenapa kau harus membanting pintu?" tanya Minato bingung.
"Ada apa katamu? Hah! Lihat ini!" seru Kayako seraya membanting selembar kertas ke meja Minato. Minato melihat tulisan yang tertera di kertas itu. Pessenger name: Honjo Kayako. Flight: JAL 413-251. Date: 16th October xxxx. Departure: Narita airport, Japan. Arrival: Charles de Gaulle Airport, France.
"Kakashi, kau bisa keluar," pinta Minato.
"Baik direktur." Kakashi bernajak pergi dari ruangan.
"Apa ada yang salah dengan tiket ini?" tanya Minato.
BRAAAK...! Kayako memukul meja Minato dengan keras. "Apa ada yang salah katamu? Ya! Ada yang salah!" seru Kayako, "Kau lihat tanggal keberangkatannya! 16 Oktober itu besok! Kenapa kau tidak membicarakan
dulu mengenai hal ini padaku? Ini mendadak!"
"Gomen ne Kayako..." Minato tidak berani menatap mata Kayako yang penuh amarah "Jika aku membicarakan hal ini dahulu padamu kau pasti akan menolak saranku."
"Memang mengenai hal apa sampai kau berpikir aku akan menolak saranmu?" tanya
Kayako yang sudah lebih tenang.
"Karena keberangkatanmu ke Perancis adalah untuk melindungimu."
"Melindungiku? Melindungi dari apa?" tanya Kayako tidak mengerti dengan jawaban Minato.
"Melindungi dari... Dari kematian," jawab Minato.
Kayako tersentak dengan jawaban Minato,
"Kematian?"
"Ya, kau mungkin akan dibunuh."
...
"Bukan hanya kau. Kemungkinan besar aku, Kushina beserta Naruto juga akan dibunuh."
Nafas Kayako terengah-engah. "Membunuh mu? Untuk apa dan siapa?"
"Aku tidak tahu siapa yang akan membunuhku nanti, namun aku menduga dari Uchiha industries. Mereka ingin merebut Namikaze's music dengan membunuhku."
"Kau..."
"Kau harus pergi besok Kayako..."
"Tidak! Aku tidak akan pergi!" seru Kayako dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Harus! Kau harus pergi! Ini untuk kebaikanmu!"
"Kebaikanku katamu? Kalau begitu Kau, Kushina Naruto juga harus pergi."
"Tidak bisa..." jawab Minato lirih, "Aku tidak bisa pergi."
"Kenapa?" tanya Kayako.
"Jika aku pergi tidak ada yang menjaga Namikaze's music. Akan lebih mudah lagi bagi
mereka jika aku pergi meninggalkan tempat ini."
"Lalu mengapa Kushina tidak mau pergi?"
"Karena aku. Ia bersikeras untuk tidak meninggalkanku sendiri. Ia lebih baik baik memilih mati untuk melindungi Naruto. Ia tidak akan membiarkan Naruto mati. Ia akan berusaha menjaga Naruto agar tetap hidup," jawab Minato, "Jadi kumohon Kayako, kau harus pergi. Onegai..."
Kayako membalikan badan. Memberikan punggungnya pada Minato. Berjalan pergi meninggalkan Minato. Tidak lama Kayako menghentikan langkah kakinya. "Kalian harus tetap hidup. Jangan biarkan mereka membunuh kalian," ucap Kayako. Minato tahu suara Kayako bergetar menahan tangisnya, "Harus!" Tanpa melihat wajah Minato ia kembali melangkah meninggalkan ruangan hingga Minato memanggilnya dan Kayako berhenti.
"Arigatou," ucap Minato yang tanpa diketahuinya senyum terlukis di wajah tampan Minato. Senyum terakhirnya. Dan Kayako pun menghilang di balik pintu.
Air mata itu pun keluar dengan deras. Air mata kepedihan, kepiluan dan perpisahan akan fakta bahwa orang yang sangat dicintainya akan pergi selamanya. Kayako menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak membiarkan suara isak tangis itu terdengar.
Entah mengapa hatiku 'trus gelisah.
Apa yang akan terjadi?
Airmata pun jatuh tak tertahan melihatmu terdiam.
Ternyata kau pergi 'tuk selamanya.
Tinggalkan diriku dan cintaku.
Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dariku?
Baru saja kuingin kau tahu perasaanku padamu.
Ternyata kau pergi 'tuk selamanya.
Tinggalkan diriku dan cintaku.
*END FLASHBACK*
Kayako kembali menangis mengingat pertemuan terakhirnya dengan Minato. Ia menyesal tidak mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya padanya waktu itu. Kini penyesalan itu sia-sia. Hanya penyesalan
yang ada.
Aku menangis lagi saat menatap langit.
Hanya dengan melihat, kenangan bermunculan.
Hari ini pun aku hidup dalam kesedihan seperti itu.
"kaa-chan..."
Sebuah suara mengagetkan Kayako. Ia melihat Naruto berjalan mendekatinya seraya mengusap-usap matanya dan menangis.
"Ada apa Naru-chan? Ini masih jam 2 malam," tanya Kayako berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Naruto.
"Naru mimpi buruk kaa-chan... Hiks hiks"
"Mimpi buruk apa Naru-chan?"
"Hiks.. Hiks.. Naru, hiks.. Mimpi kaa-chan pergi meninggalkan Naru sendiri.. Hiks..." jawab Naruto yang terus terisak.
"Itu hanya mimpi buruk sayang. Ya sudah sini." Kayako mengangkat Naruto dan menggendongnya. Memeluknya dalam dekapan hangat Kayako dan Naruto kembali tertidur dalam pelukan hangat kaa-channya. Sesekali Kayako masih mendengar isak tangis Naruto. Kayako membawa Naruto ke kamarnya dan membaringkan Naruto di tempat tidurnya. Ciuman penuh kasih sayang mendarat di dahi Naruto.
"Sayonara, Naru-chan..."
.
.
.
~Only You~
.
.
.
Esoknya...
"Gomen ne Mikoto-chan aku merepotkanmu. Aku harus lembur hari ini dan tidak bisa menjemput Naruto," ujar Kayako yang menghubungi Mikoto lewat handphone miliknya.
"Tidak apa. Lagi pula Sasuke pasti akan senang ada Naruto."
"Terima kasih banyak Mikoto-chan..."
"Sama-sama.."
tut.. Tut.. Tut..
Kayako kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 20.00. Pekerjaan Kayako telah selesai.
Ia segera meraih tasnya dan menuju mobil porche miliknya yang terparkir dengan aman. Kayako tiba di tempat tujuannya. Tempat itu tidaklah terlalu ramai. Botol-botol anggur, whisky, vodca berjejer rapi di rak. Kayako duduk di dekat rak. Seorang bartender datang menghampiri Kayako.
"Mau minum apa?" tanyanya ramah.
"Ah, kenapa kau begitu formal, Yahiko-kun~" ujar Kayako pada bartender.
"Hahaha, seperti biasa berarti."
"Yup. Beri aku satu botol," ucap Kayako.
"Tidak seperti biasanya. Kau tidak apa kan?"
"Aku tidak apa! Tenang saja! Aku hanya ingin menenangkan pikiran ku yang tegang."
"Baiklah, tunggu sebentar." Bartender itu pergi ke rak dan mengambil botol whisky serta sebuah gelas kecil. Tidak butuh waktu lama, pesanan Kayako sudah ada di hadapannya. "Ini pesananmu..."
"Arigatou Yahiko-kun~" Kayako menuang isi botol whisky tersebut ke gelas dan meneguknya. Itu terus ia lakukan sampai isi dalam botol habis. Kayako sudah mabuk. Wajahnya memerah, "Yahiko-kun~~" panggil Kayako.
"Ya?"
"Satu lagi. Bawa kemari," pinta Kayako dalam keadaan mabuk.
"Satu lagi? Kau sudah mabuk Kayako-nee," ujar Yahiko.
"Sudah serahkan saja!" Dengan berat hati Yahiko mengambilakn lagi satu botol whisky untuk Kayako. "Nah gitu dong" Kayako kembali meneguk whiskynya. Kini bukan
memakai gelas tapi langsung dari botol. Hingga...
"Sudah cukup. Jangan lagi.." sebuah tangan menahan tangan Kayako yang akan meneguk whiskynya.
"Hah? Kau... Kakashi-san?"
"Sudah Honjo-san. Anda sudah mabuk."
"Apa urusanmu hah?!" seru Kayako, "Apa hak mu melarangku? Kau siapa ku?!"
"Saya memang hanya sekretaris anda, tapi minum sebanyak ini tidak akan baik untuk kesehatan anda."
"Hei! Dengar ya, ini bukan urusanmu! Mau aku minum sampai mati juga bukan urusanmu!" Kayako meneguk whisky nya.
"Hentikan Kayako-san!" seru Kakashi.
"Oh siapa ini yang memanggilku dengan nama panggilan ku. Kau sangat tidak sopan!" ujar Kayako. "Beraninya kau memanggilku dengan nama itu! Kau seharusnya memanggilku dengan Honjo-sama! Bukan Kayako-san!" seru Kayako.
"..." Kakashi hanya diam menatap Kayako dengan sedih.
"Hah hidup ini membuatku muak! Apalagi orang disebelahku ini! Ia membuatku tidak mood lagi menikmati whisky ku!" seru Kayako meninggalkan tempat duduknya. Jalannya sempoyongan. Kakashi mendekati Kayako, menuntun jalannya. "Jangan sentuh aku pegawai tidak sopan!" Kayako menepis tangan Kakashi. Kakashi pun hanya bisa memandangi Kayako yang menjauh.
Kayako membawa mobilnya menuju pinggir tebing. Ia berjalan keluar dari mobilnya ke tepi tebing.
"Minato! Hey! Kau mendengar ku kan?!" seru Kayako pada hamparan laut luas. "Aku
mencintaimu! Sangat! Tapi kenapa kau tidak mencintaiku dan memilih Kushina?! Apa kurangnya diriku?! Aku lebih cantik dari Kushina! Lebih cerdas darinya! Kenapa kau pergi meninggalkan aku selamanya hah?! Hey! Anakmu, Naruto begitu mirip denganmu! Melihatnya tiap hari membuat diriku sakit! Sakit sekali karena harus ia mengingatkan ku pada dirimu!" Kayako terus saja berteriak seraya menangis. Tangis yang sangat deras.
Kayako kembali berjalan ke mobilnya, namun karena ia berdiri terlalu pinggir ke tepi pijakan itu retak. Belum lagi Kayako berdiri tidak imbang karena mabuk. Ia limbung. Ia pun jatuh ke laut. Namun ia sempat meraih pinggir tebing. "Tolong!" seru Kayako seraya berpegangan dengan satu tangan. Percuma tidak akan ada yang menolongnya.
Pegangan itu semakin mengendur. Tangan Kayako sakit berpegangan pada permukaan tebing yang tajam. Makin lama pegangan Kayako mengendur, dan... BYUUR..!
Seandainya aku tidak akan pernah boleh melihat mu.
Bila aku akan hidup di kehidupan lain.
Bila aku menjalani kehidupan sebagai orang lain.
Segala kesedihan yang begini aku tidak akan mengetahuinya.
Aku hanya mencintaimu, bila aku mencintaimu hatiku sangat nyeri.
Hidup ini hanya ada air mata yang membuat luka.
Kini semua percuma.
Tak akan mungkin terjadi.
Kisah cinta yang selalu aku banggakan.
Aku dihantui dirimu lagi dan lagi.
Aku hanya tak bisa pergi.
Harapan cinta ini begitu menyakitkan bagiku.
Hari ketika sakitku hilang.
Akankah hari itu datang?
Jika aku tidak bisa melihatmu lagi, aku benar-benar ingin melupakannya.
Semua tentang mu yang menggenggamku.
Setiap kali aku merindukanmu, aku terjatuh seperti ini.
Meskipun aku mencoba untuk melupakan, aku tidak bisa melakukannya.
::TBC::
#Moku-chan: hmmm liat aja deh kelanjutannya ya. Makasiiih sudah review.
