Chapter 5: Wonderful

Story by: Bar_Ohki / Translated by: timamiYIPPIE

A/N: neither me or Bar_ohki own Eyeshield 21. if i own it i'll make mamori and hiru as a couple. promise.


"Bukankah ini hebat?" Saburo bertanya pada Emiko sambil mengantarnya masuk ke dalam rumah. "Kamu bisa menghabiskan setiap hari bersama Kakek dan Nenek!"

"Papa gimana?" tanya Emiko, matanya yang besar dipenuhi kekhawatiran. "Aku bisa bertemu Papa lagi, 'kan?"

"Anak setan itu?" Saburo bertanya dengan wajah berkerut. "Tentu saja tidak! Dia pengaruh buruk bagimu! Kami menyelamatkanmu darinya!"

"Tapi aku sayang Papa!" Emiko protes.

"Tidak masuk akal!" Saburo menggenggam pergelangan tangan Emiko dan menariknya masuk ke dalam rumah. "Kamu pasti lebih bahagia di sini. Ayo! Nenek sudah membelikanmu beberapa pakaian bagus."

Pakaian yang Saburo belikan memang terlihat bagus. Tapi tidak nyaman dan menghambat gerakan Emiko. Ia tidak suka pakaian itu. Tapi ia tahu, lebih baik tidak mengatakan apa yang ia pikirkan pada Saburo. Nenek akan memarahinya karena bersikap 'tidak tahu terima kasih' saat ia melakukannya. Saburo sudah menunjukkan kamar baru Emiko, mainan barunya, dan hidup barunya. Mainan itu bagus, tapi itu bukan mainan yang Emiko inginkan. Ia tidak tertarik untuk mendandani boneka. Ia lebih menginginkan boneka binatang atau bola football.

Ada beberapa buku bergambar di kamar Emiko. Ia langsung melihat-lihat buku-buku tersebut, berharap akan menemukan sesuatu dari 'Dr. Seuss' atau buku sejenis 'The Day I Swapped My Dad For Two Goldfish' ataupun 'Goodnight Moon'. Namun Saburo memenuhi rak buku itu dengan judul-judul seperti 'Barbie's First Job' dan judul-judul simpel yang bodoh lainnya. Gambarnya sederhana dan warnanya membosankan. Emiko melempar buku-buku itu, kecewa.

"Buku mana yang ingin kau baca?" Saburo bertanya pada cucunya setelah Emiko selesai menelusuri semua buku di rak.

"…Aku tidak mau membaca sekarang," ucap Emiko. "…Aku mau main ke taman."

"Kamu menelusuri semua buku dan tak ingin membaca?" Saburo kebingungan.

"Aku cuma mau melihat apa yang ada di situ," Emiko menjawab dengan jujur.

"Dan tidak ada satupun yang menarik untukmu?" Saburo bertanya, tidak menyukai perkembangan situasinya.

"Nggak ada!" Emiko menangis, merasa takut jika Saburo akan memukulnya. "Aku cuma melihat-lihat gambarnya. Aku tak mau melihatnya lagi sekarang."

"…Baiklah." Saburo memberi pandangan tidak suka pada Emiko, tapi tidak melakukan satu gerakanpun untuk memberi pelajaran pada anak itu lewat kekerasan.

"A-aku mau main sama boneka saja," ujar Emiko sambil berjalan menjauh dari neneknya dan mengambil boneka terdekat. Ia memegang boneka itu di tangannya, memutar-mutar boneka itu, mengingat semua hal yang bisa ia tangkap dari boneka itu. Boneka itu terbuat dari plastik, berbentuk bayi, dan saat itu didandani dengan sehelai gaun pink. Boneka itu bukan jenis boneka dengan mata biru yang bisa berkedip. Matanya dicat dan terbuka secara permanen. Boneka itu berambut pirang dan berpenampilan a la barat.

Emiko bisa merasakan pandangan tajam Saburo di belakangnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat boneka itu dan memperhatikan ekspresi natural yang membeku di wajahnya.

"Kamu butuh nama," Emiko berkata pada boneka itu. Ia merasa seperti orang bodoh.

"…Kamu suka 'Ting'?" Emiko bertanya pada boneka itu sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. "Soalnya aku suka 'Ting'."

"Namanya Candy." Saburo memberitahu cucunya, menggunakan nama barat yang sepertinya nama produk barat pula.

"Candy kalau begitu." Emiko mengangguk. "Apakah semua boneka ini sudah punya nama?"

"Tentu!" Saburo duduk dan memberitahu Emiko semua nama boneka yang ada di situ.

Sekarang Emiko benar-benar tidak ingin bermain dengan boneka-boneka itu. Bukan hanya boneka-boneka itu yang dibuat terlalu realistik, mereka tidak punya apapun yang menarik untuk Emiko. Semakin Saburo menunjukkan boneka-boneka itu padanya, semakin Emiko merasa bahwa hidupnya berada di bawah kendali orang lain.

"Sekarang aku akan membuat makan malam, bagaimana kalau kamu mandi saja?" Itu bukanlah pertanyaan, walau Saburo membuatnya terdengar seperti sebuah pertanyaan. Dengan patuh Emiko berjalan ke kamar mandi dan mencuci tangannya dengan sabun Hello Kitty yang membuat keduanya terasa kering. Emiko menggunakan handuk pink dengan namanya tersulam di sana, berharap neneknya tidak akan marah karena hal itu. Terakhir kali neneknya menangkap Emiko menggunakan handuk yang salah, ia menghukumnya.

Hampir semua hal di rumah Nenek berakhir dengan hukuman, cepat ataupun lambat.

Emiko menghela napas dan mempersiapkan diri untuk makan malam.

"Aku mau Papa…" Emiko bergumam sedih, kesal karena ia tidak bisa melihat ayahnya lagi.

-Dengan Hiruma, di apartemennya-

Semasa SMA dan kuliah ia memanggilnya 'Buku panduan Iblis'. Chizue memanggilnya 'Pembunuhan Masal', 'Tidak Adil', atau 'Tidak Berguna' tergantung situasi pemakaiannya. Yang lain memanggilnya 'Buku Hiruma' atau 'Buku Ancaman' tergantung hubungan mereka dengan penggunaan buku itu. Beberapa sangat takut terhadap buku itu. Mereka akan berteriak ketakutan bahkan buang air kecil di celana, walaupun hanya melihatnya.

Isi buku tersebut cukup sederhana. Rahasia pribadi orang-orang dan sering disertai bukti foto. Lebih dari sekali Hiruma harus bersembunyi dengan bukunya demi menghindari massa. Memiliki buku itu biasanya memberinya kekuasaan atas orang lain, membuatnya bisa memanipulasi mereka dengan mudah. Pada dasarnya, Hiruma memang mendapatkan banyak uang karena buku tersebut.

Tentu saja saat terakhir ia menggunakan buku itu, membuatnya jatuh dalam masalah besar. Ternyata mengancam polisi adalah pilihan yang buruk, karena polisi itu memilih untuk melawan Hiruma habis-habisan, menghajarnya dengan tongkat baseball dan berdalih kalau pelakunya adalah orang mabuk yang ditangkapnya sore itu.

Karena Hiruma perlu dua hari untuk bangun dari koma, tidak ada seorang pun maju untuk melawan polisi itu. Entah bagaimana buku itu tidak jatuh ke tangan si polisi. Tapi Hiruma yakin polisi itu sudah melihat isinya selama dua hari itu, saat ia tidak sadar. Chizue ada di sana ketika ia bangun, hamil 6 bulan dan marah-marah.

"Kau betul-betul idiot!" desis Chizue, marah.

"Ungh?" Tubuh Hiruma dipenuhi oleh satu memar besar, bicara bukanlah hal yang mudah dalam situasi seperti ini.

"Kau akan menjadi seorang ayah, Youichi!" Chizue hampir menangis, menunjuk ke perutnya yang membesar. "Kau harus memikirkan bayi ini!"

"Bayi?" Hiruma mengerjap dengan lelah. "Bukankah kita akan memberikannya untuk diadopsi?"

"Itu bukan berarti anak kita harus hidup dengan musuhmu!" bentak Chizue. "Bayi ini tidak seharusnya hidup dalam hal-hal jelek yang sudah kau masuki, Youichi!"

Saat itu Hiruma tidak bisa berkata apa-apa, namun ia merespon dengan tindakan. Chizue adalah satu-satunya saksi atas ditutupnya Buku Panduan Iblis untuk yang terakhir. Hiruma berhenti menghubungi budak-budaknya dan berhenti membawa buku tersebut. Chizue menerimanya dan sering mengingatkan Hiruma betapa bahagia dirinya akan hal itu.

'Dia tahu dia akan mati,' Hiruma berkata pada dirinya sendiri sambil meraba buku itu, 'dan dia tahu aku akan merawat Emiko setelah dia lahir. Ibu selalu tahu.'

Hiruma telah memutuskan bahwa ia akan menggunakan buku itu jika itu adalah hal terakhir yang ia bisa gunakan untuk membawa putrinya kembali. Tapi janjinya pada Chizue membuatnya ragu. Keraguan hanya membawa masalah dalam pertandingan. Hiruma seharusnya sudah membuka buku itu dua menit yang lalu.

Rengekan kecil membuat pria itu berdiri dari kursinya, penuh adrenalin. Dengan hati-hati ia melihat sekelilingnya untuk mencari sumber suara itu. Hiruma menemukan anak anjing yang ia beli beberapa hari yang lalu. Anjing itu berwarna coklat dan bermata coklat besar. Mengikuti kata hatinya saat ia masuk ke dalam toko hewan, Hiruma sudah merasakan tatapan mengerti dari anjing itu di belakangnya. Tatapan penuh pengertian yang sama dengan milik Chizue, yang setelahnya ia akan menanyakan apakah Hiruma mencoba menyembunyikan sesuatu atau tidak.

Hiruma berjalan ke arah anjing itu agar ia bisa melihatnya lebih baik. Mata anjing itu mengingatkannya pada Chizue. Saat Hiruma membiarkan anjing itu mencium tangannya, anjing itu berjalan ke arah Hiruma dan menjilat tangannya sekali, sama seperti rasa nyaman yang akan diberikan Chizue padanya tanpa bertanya.

Hiruma menjadikan dirinya pemilik anak anjing itu dan menamakannya dengan nama almarhum istrinya.

Hiruma berencana memberikan anjing itu pada Emiko setelah pengadilan selesai dengan alasan mengapa ia membeli anjing itu, adalah karena putrinya sudah berulang kali mengatakan bahwa ia kesepian saat Hiruma tidak di rumah. Memiliki hewan peliharaan sebagai teman tentu akan membantu. Lagipula Hiruma pernah membesarkan seekor anjing, jadi tidak ada alasan bagi Emiko untuk tidak melakukannya juga. Agar bisa membuat anjing itu sebuah kejutan bagi putrinya, Hiruma meminta pemilik toko hewan peliharaan itu untuk menyimpannya selama beberapa hari, sehingga Hiruma bisa mengambilnya seusai pengadilan dan memberikan anjing itu sebagai hadiah kejutan sesampainya Emiko dari sekolah.

Tapi dengan berjalannya pengadilan itu, Emiko tidak akan pernah pulang ke rumah lagi.

"Kau lapar," Hiruma berkata dengan datar, memberi anjing itu tatapan terganggu. "Paling tidak kau tidak buang air di lantai."

Sambil menghembuskan napas, Hiruma bangun dari kursi dan menuangkan makanan anjing ke piring untuk anak anjing itu. Chizue adalah anjing yang baik, meskipun ia dibeli di toko hewan peliharaan. Hiruma berlutut di samping anjing itu saat ia makan dan mengelus punggungnya pelan.

"Kalau kau benar-benar Chizue, aku berani bertaruh kau akan memberiku ide yang lebih kreatif tentang ini." Hiruma menghela napas, mengingat-ingat kerutan dahi Chizue. Kedua orang itu mengerti satu sama lain dan jujur menginginkan yang terbaik untuk putri mereka.

Hiruma berdiri dan mulai mencuci piring-piring kotor yang terabaikan dari tadi. Ia tidak bersenandung ataupun tersenyum. Saat ini piring-piring itu hanyalah sebuah pekerjaan dan tidak lebih. Emiko sudah tidak ada lagi di sisinya untuk bermain busa dari cucian. Tidak ada lagi derapan kecil Emiko saat ia menyibukkan dirinya di sekeliling dapur, membereskan meja makan atau bercerita tentang harinya di sekolah.

Apartemen itu sekarang sunyi dan sepi, semua kebahagiaan di dalamnya telah pergi bersama Emiko.

"Dasar nenek sihir!" desis Hiruma, menatap marah ke bayangan Saburo. Ia mengendurkan pandangannya dan menatap ke arah kertas kado yang ia beli tahun lalu. Hiruma sudah mengeluarkannya sejak dua minggu yang lalu untuk mengingatkan dirinya sendiri agar membungkus kado ulang tahun untuk Emiko.

"…Kado ulang tahun?" Hiruma bergumam, otaknya memikirkan ide-ide baru.

"Peraturan itu tidak mengatakan apapun tentang seorang ayah mengunjungi putrinya di sekolah untuk memberinya kado ulang tahun, bukan?" Hiruma menyeringai, otaknya sudah memikirkan lebih banyak lagi ide baru.


hiruma belom buka bukunya loh XD

and thanks for Gekkou Kitsu (or Kit-chan) for the BETA since chapter 4! you help me a lot!