Main Cast : Jeon Wonwoo
Genre : Romance and Friendship
Length : Multichapter Story
Warning : Boys Love and Typo
Disclaimer : Mine
Rating : PG-15
By : Yara
.
.
.
Chan duduk di depan kamar Wonwoo dan Mingyu. Ia begitu ingin memainkan robot berwarna biru itu. Tapi pesan Wonwoo menari-nari di kepalanya. Bocah mungil itu duduk bersila. Menopang dagunya dengan mata terus memandang robotan itu penuh minat.
"Kalau Chan memainkannya, nanti Wonwoo hyung bica malah. Kata Wonwoo hyung, Chan-ie tidak boleh memainkan balang-balang di lumah ini."
Chan masuk ke kamar saat mendengar suara dari arah luar. Ia langsung naik ke ranjang dan memainkan gadget milik Wonwoo.
"Seungkwan-ah, jangan beri tahu hal ini pada Seungcheol hyung! cukup kita bertiga saja yang tahu!"
Seungkwan hanya mengangguk saja. Tubuhnya masih lemas karena kejadian beberapa menit yang lalu. Ia hanya menurut saat Soonyoung mengantarnya ke kamar. Kamar kecil yang ia bagi dengan Minghao.
Di ruang tengah, Soonyoung mendekati Seokmin yang terpekur menatap lantai. Pemuda yang lebih tinggi itu tampak memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Soonyoung. Ia mengambil tempat di sebelah kanan Seokmin.
"Untuk pertama kalinya aku memukul orang dengan tangan ini Hyung!" Seokmin menunjukkan kepalan tangannya. Kejadian saat ia memukul Wonwoo terus terbayang. Wajahnya tampak muram mengingat kejadian itu.
"Kau menyesal?" tanya Soonyoung sambil menepuk pundak Seokmin.
"Aku tidak pernah ingin melukai orang! Tapi aku terpaksa melakukannya. Dia benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin dia hanya diam saja seperti itu. Dia pantas mendapat pukulan itu." Meski rasa menyesal ada di hatinya, namun emosinya terus meluap. Ia tidak mudah memaafkan Wonwoo begitu saja. Bahkan ia ingin memberikan pukulan ke duanya. Agar Wonwoo bisa merubah sikapnya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Mungkin aku juga bisa melakukan seperti yang kau lakukan Seokmin-ah. Pemuda itu memang benar-benar keterlaluan. Ia seperti tidak memiliki hati lagi. Aku tidak tahu kebiasaan orang kaya seperti apa saat melihat orang lain dalam bahaya. Tapi setidaknya dia harus menggunakan rasa kemanusiaannya."
Di dalam kamar, Seungkwan hanya mendengarkan percakapan itu dalam diam. Masih terlalu shock dengan yang baru saja menimpanya. Ia tidak menyalahkan siapapun. Karena pada dasarnya ia sadar, semua karena kesalahannya yang berlari terpisah.
"Tapi satu yang perlu kau ingat Seokmin-ah! jangan pernah lakukan ini lagi! Aku tidak tahu bagaimana kalau sampai Seungcheol hyung tahu. Seperti yang kita lihat, anak itu terluka di bagian bibirnya. Walau bagaimanapun Seungcheol hyung tidak pernah menginginkan di antara kita saling melukai." Seokmin mengangguk. Perkataan Soonyoung benar adanya. Mereka begitu menghormati hyung tertua mereka itu.
Di kamar yang berbeda, Chan berulang kali menoleh ke pintu. Berharap hyung kesayangannya pulang. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu sudah cukup lama meninggalkannya. Biasanya Wonwoo pulang saat siang hari. Dan saat ini hari sudah mulai gelap.
"Kenapa Wonwoo hyung lama cekali?"
Anak laki-laki bermata sipit itu berjalan ke kamar mandi. Terbiasa melakukan semuanya sendiri, membuatnya mandi tanpa meminta bantuan. Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Chan kembali duduk di tepian ranjang. Masih menunggu kepulangan Wonwoo.
Langit di luar sana benar-benar berubah gelap. Tapi Wonwoo sama sekali belum menampakkan dirinya. Bahkan Chan sampai ketiduran menunggu Wonwoo. Penghuni SVT house sudah pulang dari kerjanya. Suara ribut dari arah luar tidak membuat Chan tertarik untuk keluar. Karena ia yakin tidak ada Wonwoo di luar sana.
Beberapa saat kemudian, Wonwoo pulang. Senyum lebar langsung Chan tampilkan. Ia begitu senang melihat pemuda bermata tajam itu. Orang yang selalu menyayanginya dan membuatnya nyaman.
"Hyung kenapa lama cekali pulangnya?" tanya Chan langsung.
"Maaf Chan. Tadi Hyung harus melakukan sesuatu di luar sana."
Mata Chan menatap intens pergelangan tangan Wonwoo. "Hyung kenapa ada—"
Ucapan Chan terputus saat Wonwoo membekap mulutnya. Perintah untuk tetap diam langsung Chan angguki. Meski ia ingin bertanya, tapi Wonwoo melarangnya untuk berbicara. Bocah mungil itu hanya menurut. Dan tersenyum lebar saat Wonwoo meletakkan seporsi jjajjangmyeon ke pangkuannya.
Saat Wonwoo membersihkan tubuhnya, Chan memakan makanannya dengan lahap. Ia duduk di lantai dengan bersandar pada ranjang. Dan berlari keluar saat makanannya sudah habis. Membuang sampah di luar seperti yang diajarkan Wonwoo.
Chan naik ke ranjang karena mendapati Wonwoo di kamar. Pemuda manis itu sudah membersihkan tubuhnya. "Hyung sudah ngantuk berat Chan. Ayo kita tidur!"
Tanpa membutuhkan waktu lama, ke duanya sudah memejamkan mata. Chan yang dalam dekapan Wonwoo juga langsung terlelap.
Mingyu masuk ke kamar kecil mereka. Langkahnya terhenti di depan pintu. Memandangi ke duanya yang tengah terlelap. Entah apa yang pemuda tampan itu pikirkan. Ia terus memandanginya dengan intens.
Mingyu terkejut saat tibat-tiba Chan membuka matanya. Sontak ia langsung berbalik dan melangkah ke luar.
Dugh…
"Aw!"
Mingyu meringis sambil memegangi dahinya. Karena tidak hati-hati membuatnya menabrak pintu. Ia lupa sudah menutup pintu ketika masuk. Sambil memegangi dahinya yang berdenyut, Mingyu beranjak keluar.
Chan tertawa melihatnya. Bocah mungil itu merasa geli dengan tingkah Mingyu. Mendengar tawa Chan, Wonwoo terbangun. Ia membuka matanya dan menatap Chan bingung.
"Ada apa Chan-ie? Apa yang lucu?"
"Hyung tampan yang cepelti dlakula menamblak pintu Hyung," jawab Chan sambil terkekeh geli. Wonwoo tidak bertanya lanjut siapa yang Chan maksudkan. Cukup tahu dengan pemuda tampan yang seperti drakula. Ia hanya ikut tersenyum.
.
.
.
Pagi hari yang cerah itu, Wonwoo membawa Chan ke sungai kecil. Tempat yang sering ia jadikan untuk menyendiri. Mereka berdua berjalan beriringan. Chan yang berulang kali berlari dan melompat, membuat Wonwoo harus menahannya supaya tidak jatuh.
"Waaah cungai," ucap Chan dengan mata berbinar. Tanpa bertanya, Wonwoo tahu kenapa Chan begitu girang. Anak kecil sangat suka bermain air.
"Kita ke sini bukan untuk bermain Chan-ie. Chani-ie harus belajar!" Mendengar kalimat yang tegas itu, Chan memanyunkan bibirnya. Dengan kepala menunduk, Chan berjalan tidak semangat mendekati Wonwoo. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu menahan senyumnya. Walau bagaimana pun ia ingin Chan belajar seperti anak-anak lainnya.
"Karena Hyung belum bisa menyekolahkan Chan-ie, jadi Hyung akan mengajari Chan-ie." Di atas bebatuan kecil itu, mereka duduk berdampingan. Sandal yang di pakai, mereka gunakan sebagai alas untuk duduk.
"Chan-ie bisa membaca?"
"Cedikit."
"Kalau berhitung?"
"Cedikit."
"Kalau begitu Chan harus bisa banyak mulai hari ini."
Bocah yang belum genap berusia lima tahun itu memperhatikan dengan serius. Ia selalu mengikuti apa yang Wonwoo ajarkan. Bertanya saat tidak tahu. Dan menjawab saat Wonwoo memberi pertanyaan.
Kegiatan mereka berlangsung sekitar satu jam. Sesuai dugaan Wonwoo, Chan akan cepat paham. Bocah cerdas itu tampak begitu serius. Namun keseriusan itu tidak bertahan lama. Jiwa anak-anaknya lebih mendominasi saat ini.
"Hyung Chan-ie cudah lelah! Chan-ie boleh belmain ail cebental?" pinta Chan dengan memberi tatapan polosnya. Wonwoo mendesah. Lagi-lagi ia kalah dengan wajah polos itu. Anggukan Wonwoo disambut tepukan girang bocah mungil itu.
"Hati-hati Chan-ie! Jangan sampai ja—"
Belum sempat Wonwoo menyelesaikan kalimatnya, Chan sudah jatuh duduk di air. Celana pendeknya tampak basah. Ia menoleh ke arah Wonwoo. Memberikan cengirannya karena takut Wonwoo marah. Mau tidak mau Wonwoo tertawa. Tingkah Chan membuatnya terhibur. Kenakalan yang masih dalam tahap wajar membuatnya gemas.
"Wonwoo-ya."
Mendengar namanya dipanggil, Wonwoo memutar kepalanya. Sedikit terkejut melihat pemuda tampan yang berdiri di belakangnya.
"Wonwoo-ya, pulanglah dulu! Ajak Chan makan bersamamu! Hyung sudah membelikan kalian sarapan." Seungcheol langsung beranjak setelah menyelesaikan kalimatnya. Wonwoo buru-buru bangkit dan mencekal tangan pemuda tampan itu.
"Tunggu Hyung!" pinta Wonwoo.
Seungcheol menghentikan langkahnya. Mengalihkan pandangannya pada tanganya yang digenggam Wonwoo. Untuk pertama kalinya Wonwoo menggenggam tangannya. Dan untuk pertama kalinya Wonwoo mau memanggilnya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Seungcheol dengan senyum lembutnya.
"Hyung, aku minta jangan membelikan makanan untukku atau Chan! Hyung tidak perlu melakukannya lagi mulai hari ini." Alis Seungcheol berkerut. Ia memandang Wonwoo dengan bingung.
"Tapi kenapa? Kau tidak suka? Kau bisa katakan makanan apa yang kau suka!"
Wonwoo melepas genggaman tangannya. Memutar tubuhnya dan kembali duduk di tempat semula. Ia tidak langsung menjawab. Justru diam dengan mata memandang Chan yang masih betah bermain air. Seungcheol mengikuti pergerakan Wonwoo. Mendudukkan dirinya di sisi pemuda yang lebih muda.
"Boleh hyung tahu kenapa Wonwoo-ya? kenapa kau tidak pernah menyentuh makanan yang sudah hyung beli selama ini?" Setelah sekian lama memendam, akhirnya Seungcheol bisa mengutarakan kebingungannya. Namun Wonwoo tidak kunjung menjawab.
"Aku…aku tidak bisa memakannya Hyung," jawab Wonwoo pada akhirnya.
"Pasti ada alasannya kan?" desak Seungcheol. Ia yakin Wonwoo tidak akan menolak begitu saja.
"Aku tidak bisa memakan makanan yang Hyung belikan. Aku bisa membelinya sendiri." Ada nada bersalah dari kalimat Wonwoo. Seungcheol bisa mendengarnya dengan jelas. Meski Wonwoo tetap menampilkan wajah dingin seperti biasanya, Seungcheol tahu Wonwoo tidak bermaksud mengabaikan pemberiannya.
"Tapi kenapa? Hyung dengan senang hati membelikannya."
"Aku tahu Hyung! Tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Aku tahu bagaimana kerasnya kehidupan kalian. Aku tahu kalian harus bekerja untuk melanjutkan hidup. Jadi aku mana mungkin bisa menerimanya begitu saja. Aku tidak bisa Hyung."
Seungcheol mendesah. Ia tahu Wonwoo memiliki alasan lain. Tidak seperti yang anak-anak lain tuduhkan. Namun ia tidak menyangka alasannya karena memikirkan mereka.
"Jadi karena itu kau tidak memakannya? Kau merasa berat untuk memakan makanan dari hasil kerja keras kami? Kau merasa tidak pantas menerimanya?" tanya Seungcheol bertubi-tubi. Wonwoo mengangguk untuk mengiyakan.
"Biarkan aku mencarinya sendiri Hyung! Biarkan aku berusaha sendiri. Aku sangat berterima kasih untuk niat baikmu. Tapi aku mohon Hyung, jangan lakukan itu lagi!" Kali ini Wonwoo menatap Seugcheol. Menunjukkan permohonan dan kesungguhannya.
"Baiklah kalau itu maumu," ucap Seungcheol sambil tersenyum.
Selanjutnya hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hanya kecipak air hasil tangan Chan yang terdengar. Bocah mungil itu begitu asyik dengan dunianya sendiri.
"Aku tahu kau tidak seperti yang mereka tuduhkan. Aku tahu kau orang baik Wonwoo-ya. Tapi kenapa kau tidak membela dirimu? Kenapa kau tidak menjelaskannya pada mereka?" Mendengar pertanyaan itu, Wonwoo justru tersenyum tipis. Sangat tipis hampir tidak terlihat. Seungcheol dengan sabar menunggu Wonwoo untuk menjawab.
Selama ini Seungcheol hanya bisa bertanya dalam hati. Setiap Wonwoo pulang disambut dengan kalimat pedas, Seungcheol hanya bisa bergelut dengan pemikirannya sendiri. Pemuda yang lebih muda itu sama sekali tidak merespon. Bahkan saat kalimat itu begitu pedas dan menusuk, Wonwoo memilih dalam diamnya.
"Ada dua alasan kenapa aku melakukan itu," jawab Wonwoo lirih.
"Dua alasan? Boleh Hyung tahu Wonwoo-ya?" tanya Seungcheol hati-hati. Ia tidak ingin terkesan memaksa. Ia tidak ingin memaksa masuk dalam kehidupan Wonwoo yang begitu tertutup.
"Alasan pertama karena diriku sendiri. Dan alasan kedua karena mereka."
"Maksudnya?"
"Aku tidak bisa memberi tahunya Hyung! Yang pasti, tidak mengapa mereka menganggapku buruk. Asal aku tidak melukai mereka. Aku sudah tidak peduli tanggapan orang tentangku. Yang terpenting aku tidak melakukannya pada orang lain." Wonwoo mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada raut kesedihan meski kalimat itu terdengar menyakitkan di telinga Seungcheol.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Wonwoo-ya," batin Seungcheol. Tidak ingin Wonwoo tidak nyaman, Seungcheol tidak melanjutkan pertanyaannya. Dari penjelasan Wonwoo, pemuda bermarga Choi itu tahu Wonwoo pemuda yang baik. Membiarkan dirinya terluka asal tidak melukai orang lain.
Namun ada makna lain yang Seungcheol tangkap dari kalimat itu. Wonwoo seolah terbiasa dengan luka hati itu. Wonwoo seperti terbiasa dengan hidup yang tidak menyenangkan. Membuatnya mengabaikan tentang dirinya sendiri.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Mungkin lain waktu," batin Seungcheol lagi.
"Hyung kenapa pagi-pagi di sini? Hyung tidak kuliah?" tanya Wonwoo setelah mengingat jam. Biasanya penghuni SVT house sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Hari ini Hyung sedang tidak ada jadwal. Mungkin beberapa jam lagi Hyung langsung bekerja." Seungcheol terdiam saat melihat Wonwoo tertawa. Pemuda bermata tajam itu tertawa karena tingkah Chan. Mau tidak mau ia ikut tersenyum. Sangat tampak kalau keduanya begitu dekat. Bahkan penghuni SVT house tidak pernah membuatnya tertawa seperti ini. Yang ada hanya memberikan kalimat pedas dan menusuk.
"Wonwoo-ya, kenapa kau tidak sekolah?" tawa Wonwoo digantikan dengan senyuman kecil. Kepalanya menggeleng tanpa melihat Seungcheol.
"Aku sudah selesai Hyung!" mata bulat Seungcheol semakin membulat. Mulutnya sedikit terbuka mendengar kalimat Wonwoo.
"Sudah selesai? Bagaimana bisa? Setahu Hyung kau seumuran dengan Mingyu, Seokmin, Soonyoung, Jihoon dan Minghao." Seungcheol mencoba memutar ulang pertemuannya dengan orang suruhan keluarga Wonwoo. Ia bisa mengingat dengan jelas tanggal lahir yang mereka sebutkan. Menurut perkiraanya, Wonwoo masih duduk di kelas dua. Sama seperti lima adiknya yang lain.
"Aku mengikuti percepatan Hyung," jawab Wonwoo semakin membuat Seungcheol terkejut.
"Eh… benarkah?"
"Em… hari di mana aku dibuang ke tempat ini tepat di hari kelulusanku. Meski aku tidak datang ke acara itu."
"Mungkin kalau Jun tahu, ia akan kesal." Seungcheol mencoba membahas yang lainnya. Ia tidak ingin membuat Wonwoo sedih. Kalimat dibuang itu terlalu kasar di telinganya. Untuk saat ini belum waktunya untuk bertanya lebih tentang kehidupan Wonwoo. Meski ia sangat ingin tahu apa yang membuatnya sampai bisa berada di kota kecil ini.
"Memangnya kenapa, Hyung?"
"Tentu saja dia kesal kalau seharusnya yang menjadi juniornya justru menyainginya. Dia selalu mengeluh ingin menyelesaikan sekolahnya. Di antara yang lain, cuma dia yang duduk di kelas tiga."
"Berarti Hyung harus merahasiakan ini," ucap Wonwoo yang disambut tawa Seungcheol.
"Kalau kau mengikuti percepatan, berarti kau siswa yang genius."
"Tidak! Aku tidak segenius yang Hyung pikirkan. Waktu itu aku mengikuti percepatan karena alasan yang sebenarnya membuatku dibuang di tempat ini."
Seungcheol mendesah. Begitu banyak rahasia dalam hidup Wonwoo. Namun ia tidak dapat menanyakannya. Ia yakin Wonwoo tidak akan menjawabnya. "Aku harus menahannya sampai beberapa waktu lagi. Semoga lain waktu Wonwoo mau bercerita padaku," ucap Seungcheol dalam hati.
"Kenapa sudut bibirmu terluka?" tanya Seungcheol saat memperhatikan wajah Wonwoo. Ia baru sadar ada luka di bibir pemuda yang lebih muda.
"Selain memiliki sifat menyebalkan, aku juga ceroboh Hyung!"
Seungcheol tahu Wonwoo menyembunyikan sesuatu darinya. Ia tahu pemuda di sampingnya sedang tidak jujur. Tapi lagi-lagi Seungcheol hanya bisa diam. Ia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mendesak Wonwoo. Untuk saat ini, sudah sangat cukup baginya bisa berinteraksi dengan pemuda manis itu.
"Wonwoo-ya, Hyung harus segera kembali. Kau ajak Chan pulang. Nanti anak itu bisa sakit kalau terlalu lama bermain air." Seungcheol berdiri. Menepuk celana bagian belakangnya sebelum beranjak.
"Hyung tunggu!" untuk kedua kalinya, Wonwoo mencekal pergelangan tangan Seungcheol. Sontak Seungcheol langsung menghentikan langkahnya.
"Hyung izinkan aku menumpang di rumah itu sampai beberapa waktu lagi." Seungcheol tersenyum. Tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu. Tangannya terangkat menepuk pelan kepala Wonwoo.
"Itu rumah kita. Kau tidak perlu minta izin. Kita akan melalui semuanya bersama-sama." Seungcheol memberikan senyuman untuk meyakinkan Wonwoo. Siapapun yang berada di sana, ia sudah menganggapnya seperti keluarga. Termasuk Wonwoo yang jarang berinteraksi dengan mereka. Setelahnya Seungcheol langsung melangkahkan kakinya. Meninggalkan Wonwoo yang terus memandangi kepergiannya.
"Hanya beberapa waktu saja Hyung. Sampai waktu itu tiba."
.
.
.
"Kenapa dengan wajahmu Soonyoung-ah?" tanya Jihoon yang berjalan di sampingnya. Ia memperhatikan wajah pemuda itu yang tampak kusut.
"Masih memikirkan yang tadi?" tanya Jihoon ulang saat Soonyoung tidak langsung menjawab.
"Bagaimana aku tidak kesal Jihoon-ie. Dia benar-benar menyebalkan. Aku ingat dengan jelas kalau pelanggan tadi tidak menyebut untuk mengurangi gula dalam jusnya. Tapi kau lihat tadi kan? dia marah besar dan menyalahkanku." Soonyoung mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya yang lelah semakin lelah menghadapi pelanggan. Dia yang hanya seorang pelayan, hanya bisa menunduk dan meminta maaf.
"Aku tidak lihat! Aku kan sedang bermain piano," jawab Jihoon yang membuat wajah Soonyoung semakin ditekuk.
"Karena dia kaya, dia bisa semen-mena saja berbuat. Bahkan dia tidak mau mengaku kalau dia salah. Tetap kukuh menyalahkanku. Karena dia, aku jadi kena omelan di dapur. Ya Tuhan! Aku semakin benci dengan orang-orang kaya," keluh Soonyoung lagi. Ia berulang kali menghela nafas. Meski ingin melupakannya, tapi tetap saja kejadian itu terbayang di benaknya. Apalagi yang melakukannya adalah pelanggan kaya. Membuat kadar kebenciannya semakin bertambah.
"Tapi aku pernah bertemu dengan orang kaya yang tidak seperti itu Soonyoung-ah!"
Mendengar nada yang terdengar penuh kesedihan itu, sontak Soonyoung langsung menolehkan kepalanya. Langkahnya terhenti saat Jihoon berhenti. Ia terus memperhatikan pemuda mungil itu yang tampak melamun.
"Kau pernah menemukannya? Kapan?" tanya Soonyoung penasaran. Seingatnya, mereka selalu bersama selama ini. Sekolah dan bekerja mereka selalu pergi dan pulang bersama. Walau anak-anak yang lainnya masih di belakang seperti saat ini, tapi Soonyoung selalu menemani Jihoon.
"Dia orang terbaik yang pernah ku kenal. Lebih tepatnya sahabat terbaik yang pernah ku miliki saat aku masih kecil." Soonyoung tertegun melihat wajah Jihoon. Pemuda manis itu terlihat begitu sedih. Matanya tampak memerah. Tidak pernah Soonyoung melihat wajah Jihoon sesedih ini.
"Dulu aku begitu lemah dan cengeng. Seperti yang kalian tahu, aku mudah sakit. Dia yang selalu menghiburku, membantuku bahkan sering melindungiku. Dia juga sering membawakanku makanan. Dan wajahnya akan tertekuk lucu kalau makanan yang ia bawa sudah tidak hangat lagi." Jihoon tersenyum mengingat masa-masa itu. Namun Soonyoung tahu ada luka mandalam yang tersimpan.
"Padahal aku sudah senang dengan kehadirannya. Dia selalu memberikan apapun yang ia miliki. Aku tahu bukan karena dia anak orang kaya. Tapi karena ia memang ingin berbagi denganku. Dia bilang karena ada aku dia tidak kesepian. Dia ingin aku tersenyum dan tertawa supaya dia tidak sedih lagi. Dari situ aku sadar, dia juga kesepian sepertiku."
Soonyoung tidak bersuara. Ia ingin mendengarkan lanjutan cerita Jihoon. Cerita yang baru kali ini ia tahu. Selama hidup bersama-sama, Jihoon cukup tertutup. Bahkan dengan dirinya yang paling dekat.
"Robot itu, dia yang memberinya," ucap Jihoon yang membuat Soonyoung semakin terkejut. Yang ia tahu, robot itu begitu berharga untuk Jihoon. Sampai membuatnya tidak memperbolehkan siapapun untuk menyentuhnya.
"Jadi robot itu dari sahabat masa kecilmu?" tanya Soonyoung. Jihoon mengangguk masih dengan wajah sedihnya.
"Robot itu robot kesayangannya dan diberikan untukku. Karena itu aku tidak ingin siapapun menyentuhnya. Aku tidak ingin robot itu rusak. Seperti pesannya, aku harus menjaganya baik-baik. Itu juga yang menjadi alasanku kenapa aku selalu menolak saat kau ingin membelikan yang baru." Soonyoung mengangguk paham. Ia tidak tahu kalau robot itu menyimpan cerita. Kalau ia tahu, mungkin ia tidak akan meminta Jihoon untuk menggantinya.
"Sebagus dan semahal apapun robot yang lain, tidak akan pernah bisa menggantikannya. Robot usang itu terlalu berharga. Ia seperti hidupku sendiri. Bahkan aku ingin menjaganya dengan nyawaku."
"Lalu di mana dia? Apa kalian tidak pernah bertemu lagi?" tanya Soonyoung hati-hati. Sebisa mungkin tidak membuat Jihoon sedih.
Di atas jembatan kecil itu, Jihoon mendongakkan kepalanya. Menatap langit tanpa bintang. Soonyoung mengikuti arah pandang Jihoon. Tetap diam menunggu jawaban pemuda mungil itu.
"Dia sudah berada di sana. Dia sudah berada di tempat yang tidak bisa ku jangkau." Lagi-lagi Soonyoung tertegun mendengarnya. Apalagi dengan setetes air mata yang mengalir dari mata sipit Jihoon.
"Jadi dia—"
"Dia sudah tenang di sisi Tuhan." Jihoon memotong ucapan Soonyoung. Kali ini kepalanya menunduk. Memandang air yang mengalir di bawah jembatan.
"Dia menyelamatkanku dengan mengorbankan nyawanya sendiri." Jihoon menghentikan kalimatnya sejenak. Dadanya terasa bergemuruh. Tenggorokannya terasa tercekat untuk melanjutkan ceritanya. Air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.
"Robot itu dia berikan padaku sehari sebelum pergi meninggalkanku. Kau tahu Soonyoung-ah? Ingin rasanya aku menyusulnya. Aku ingin bertemu dengannya. Tapi aku selalu ingat pesannya untuk melanjutkan hidup dengan baik. Lagi pula aku tidak ingin pengorbanannya sia-sia." Air mata yang sedari tadi Jihoon tahan, akhirnya tumpah dengan derasnya. Selama ini, ia hanya menyimpannya seorang diri.
Nafas Soonyoung terasa berat. Ia sama sekali tidak tahu ada kisah begitu menyedihkan yang Jihoon alami. Yang ia tahu, nasib mereka sama karena tidak memiliki orang tua. Dan Soonyoung tahu, begitu berat Jihoon menanggungnya selama ini seorang diri. Penghuni SVT house sama sekali tidak ada yang tahu. Karena Jihoon memang paling tertutup.
"Saat terakhir aku melihatnya bersimbah darah, dia masih bisa tersenyum. Dia justru minta maaf karena tidak bisa menemaniku lagi. Dan sebelum orang-orang berpakaian serba hitam membawanya pergi, dia menyebut namaku." Jihoon menghapus air mata di wajahnya. Namun air mata itu tetap mengalir dengan derasnya. Tidak mau berhenti seiring dengan luka hatinya yang kembali terbuka. Kesedihannya selalu tidak tertahan saat mengingat sahabatnya.
"Aku rindu mendengar dia menyebut namaku lagi. Sudah sepuluh tahun aku tidak pernah mendengarnya. Panggilan yang ia buat untukku. Hanya dia yang memanggilku berbeda. Aku benar-benar merindukan panggilan itu." Jihoon terisak sambil menutup wajahnya. Kenangan saat mereka masih kecil kembali berputar di ingatannya.
Hati Soonyoung ikut berdenyut melihat tangisan Jihoon. Ia menarik pemuda yang lebih pendek itu ke dalam pelukannya. Memeluknya dan mengelus punggungnya. Mencoba menenangkan Jihoon yang tengah terisak. Hanya mendengarnya saja, Soonyoung tahu Jihoon begitu berat kehilangan sahabatnya.
"Aku iri dengannya Jihoon-ah. Dia memiliki tempat yang spesial di hatimu. Meski saat ini dia sudah tidak ada lagi, namun kenangannya tetap abadi di hatimu," batin Sonyoung.
.
.
.
"Chan-ie di rumah saja ya? Hyung mau mencari makan malam untuk kita berdua."
Titah Wonwoo langsung dibalas dengan anggukan. Bocah yang duduk di tepian ranjang itu tidak merengek minta ikut. Langsung mengangguk begitu saja.
"Hyung tidak lama kan?" tanya Chan. Sedikit mendongak, memperhatikan Wonwoo yang sibuk dengan ranselnya.
"Tidak jauh dari sini ada kedai siap saji. Jadi Hyung tidak akan lama."
Sepeninggal Wonwoo, Chan turun dari ranjangnya. Rumah itu tampak sepi. Penghuni lainnya belum kembali dari kegiatan sehari-harinya. Bahkan dua orang yang biasanya di rumah juga tidak tampak.
Chan keluar dari kamar. Kaki mungilnya melangkah ke ruang tamu saat melihat benda berwarna biru. Benda yang beberapa hari lalu menarik perhatiannya. Chan berjongkok di depan robot yang tingginya sekitar dua puluh centi meter.
Bocah yang mengenakan kaos berwarna kuning itu memandang dengan intens. Tangannya sama sekali tidak terulur untuk menyentuhnya. Hanya melihatnya penuh minat. Ia ingin menyentuh dan memainkannya. Namun sesuai janjinya, ia tidak akan nakal dan menyentuh barang-barang di rumah ini. Kecuali barang itu milik Wonwoo.
"Yak, apa yang kau lakukan?"
Chan berjengit saat tiba-tiba ada yang berteriak kencang. Ia yang masih berjongkok langsung mundur beberapa langkah. Orang yang mendekatinya membuatnya takut.
"Apa yang baru saja kau lakukan? Bagaimana kalau kau merusaknya? Kenapa kau nakal sekali hah?" mata Chan langsung memerah. Ia menggeleng takut ke arah orang yang berdiri di hadapannya.
Jihoon mengambil robotan miliknya yang tergeletak di lantai. Ia memeriksanya dengan teliti. Takut robot berwarna biru itu rusak. Robot yang sudah usang itu sangat mudah rusak.
"Jihoon-ie, ada apa?" tanya Jeonghan yang baru saja muncul. Menyusul anak-anak lainnya. Mereka langsung berebut masuk mendengar teriakan Jihoon. Sedangkan Soonyoung yang masuk awal bersama Jihoon hanya berdiam diri. Tidak tahu harus apa dan bersikap bagaimana.
"Jangan pernah sentuh benda ini lagi. Aku tidak mengizinkannya. Dan lagi, kenapa kau nakal sekali?"
Lagi-lagi bocah mungil itu menggeleng takut. Matanya bukan hanya memerah. Air mata sudah berlinang dari ke dua matanya. Meski Chan tidak menangis kencang, tapi dalam diamnya, air matanya mengalir deras.
"Sudahlah Jihoon-ie. Robot ini tidak apa-apa kan? mungkin Chan hanya ingin memainkannya sebentar." Jeonghan mencoba membujuk. Di saat seperti ini, tidak ada yang berani berbicara dengan Jihoon. Mereka hanya diam di tempat masing-masing.
"Bagaimana kalau dia merusaknya Hyung? aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh barang ini," ucap Jihoon tajam dan penuh penekanan. Membuat Chan semakin menangis ketakutan. Selama bersama Wonwoo, pemuda itu tidak pernah memarahinya. Apalagi sampai membentaknya seperti ini.
"Aku peringatkan kau untuk tidak menyentuh ini lagi. Dan juga aku tidak suka anak yang nakal!" Chan menggelengkan kepalanya. Ia tidak nakal seperti yang dituduhkan. Ia sudah berjanji pada Wonwoo untuk tidak nakal. Apalagi sampai merusak robotan itu.
"Chan-ie!"
Wonwoo muncul dengan wajah terkejutnya. Melihat Chan meringkuk sambil menangis membuat matanya membola. Makanan yang baru saja ia beli langsung diletakkan begitu saja. Dengan tergesa, ia menghampiri Chan yang tengah menangis. Berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Sedangkan di ruangan itu, anak-anak yang lainnya masih berdiri.
"Chan-ie kenapa?" tanya Wonwoo khawatir. Tangannya langsung terangkat untuk menghapus air mata di wajah Chan. Hatinya langsung sedih melihat wajah polos itu dibanjiri air mata.
"Hyung-ie… hiks… Chan tidak nakal hiks… Chan tidak jahat," ucap Chan sambil menangis. Ia takut Wonwoo juga menilainya nakal seperti lainnya. Ia tidak ingin Wonwoo ikut marah padanya. Mendengar jawaban Chan, alis Wonwoo berkerut. Tidak mengerti maksud Chan.
"Memangnya ada apa, Chan-ie?" tanya Wonwoo hati-hati. Tidak ingin membuat Chan semakin ketakutan.
"Chan-ie hiks… tidak memainkan lobot itu Hyung… hiks. Chan-ie cuma me-melihat caja. Chan-ie juga hiks… tidak melucaknya. Hyung jangan malah cama Chan-ie. Kalena Chan-ie cudah janji tidak nakal. Chan-ie tidak memainkannya Hyung. Cungguh!"
Hati Wonwoo semakin sakit mendengar celotehan Chan. Meski tidak menyaksikannya langsung, Wonwoo percaya Chan berkata jujur. Wonwoo tahu bocah cadel itu tidak nakal. Tangannya yang dikatupkan di depan dada, membuat dadaWonwoo bergemuruh. Bocah mungil itu seolah minta maaf padanya.
Wonwoo langsung berdiri menghadap Jihoon. Matanya menatap tajam robotan di tangan Jihoon. Sampai beberapa detik, matanya tidak dialihkan dari benda berwarna biru tua itu. Matanya begitu intens menatap robot usang di tangan Jihoon.
"Kau!" Wonwoo mendorong Jihoon. Membuat pemuda mungil itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Hey, apa yang kau lakukan?" bukan Jihoon yang berteriak marah. Tapi Soonyoung yang berdiri di sebelahnya. Namun tangan Jihoon mencekal pergerakan Soonyoung. Membuat pemuda bemarga Kwon itu kembali lagi ke tampatnya.
"Kau, membuat anak kecil menangis karena benda tidak berguna ini?" desis Wonwoo tajam. Tangannya menunjuk robot yang Jihoon peluk.
"Apa katamu? Tidak berguna? Jangan sembarangan berbicara." Rahang Jihoon mengeras. Matanya tampak memerah. Memandang marah ke arah Wonwoo. Anak-anak yang lainnya memandang dengan was-was. Selama ini tidak ada yang berani mengomentari benda kesayangan Jihoon itu.
Mereka diam di tempat. Benar-benar bingung harus bagaimana. Di saat seperti ini tidak ada yang bisa mereka salahkan. Apalagi Chan hanya seorang anak kecil. Namun mereka tahu bagaimana pentingnya robot itu untuk Jihoon. Mereka tahu robot itu begitu berharga.
"Kau sudah sangat keterlaluan! Membuat anak kecil menangis dengan tingkah kekanakanmu. Hanya karena robot murahan itu? Sulit dipercaya!" Wonwoo tersenyum meremehkan yang membuat emosi Jihoon memuncak.
"Tutup mulutmu!" teriak Jihoon marah. Tangannya hampir meraih kerah baju Wonwoo, namun dengan sigap, Seungcheol langsung mencekalnya. Ia memang membiarkan Wonwoo dan Jihoon meluapkan amarahnya. Namun tidak dengan melukai satu sama lain.
"Kau tidak berhak menilai robot milikku. Aku tidak mengizinkan kau menghinanya. Semurah apapun ini, kau tidak berhak menghinanya. Orang kaya sepertimu hanya menilai semua dari harga. Justru tingkahmu yang memalukan." Suara Jihoon tampak bergetar. Semua yang mendengarnya tahu Jihoon tengah menahan tangisnya. Meski benda itu hanya benda mati, namun hati Jihoon begitu terluka mendengarnya.
"Setidaknya aku masih punya malu untuk tidak membuat anak kecil menangis." Lagi-lagi Wonwoo mengucapkannya dengan begitu santai. Membuat tangan Jihoon semakin terkepal erat. Mata tajam Wonwoo masih memandang intens robot biru itu.
"Kau—"
"Tahanlah Jihoon-ah. Jangan sampai emosi mengusai dirimu." Seungcheol mencoba menenangkan Jihoon. Sebagai hyung tertua, ia merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat banyak.
Wonwoo langsung menggendong Chan. Membawa bocah mungil yang masih menangis itu pergi. Tangannya mengusap punggung Chan. Mencoba menenangkan bocah cadel dalam gendongannya.
"Woojihoon," gumam Wonwoo pelan. Sangat pelan hingga tidak ada yang mendengar. Hanya Chan yang berada di gendongannya. Namun bocah mungil itu tidak mengerti maksud ucapan Wonwoo.
Saat Chan dan Wonwoo sudah menghilang dari pandangan, Mingyu tetap memandanginya dalam diam. Tatapannya tampak berbeda. Namun tidak ada yang menyadarinya. Mereka terlarut dengan pikiran masing-masing. Dan beberapa anak lainnya mencoba menenangkan Jihoon.
.
.
.
Wonwoo duduk di ayunan dengan Chan di pangkuannya. Ayunan yang berada di sekolah taman kanak-kanak itu tampak sepi. Malam yang sudah mulai larut, membuat warga memilih menjemput mimpi indahnya.
Pemuda berambut hitam kelam itu menunduk. Memperhatikan wajah Chan yang tengah terlelap. Pipi yang sedikit chubby itu masih tampak jejak air mata. Membuat hati Wonwoo semakin sakit saat mengingatnya.
Melihat Chan menangis saja sudah membuatnya terluka. Apalagi dengan kesalahan yang sama sekali tidak Chan lakukan. Hidup memang keras. Wonwoo sangat tahu itu. Tapi bisakah ia meminta Chan tidak mengalaminya?
Wonwoo menolehkan kepalanya saat ada yang mendekat. Seorang pemuda berwajah tampan duduk di ayunan lainnya. Karena ada orang lain selain mereka, Wonwoo berniat meninggalkan tempat itu.
"Bisa tetap di sini saja Wonwoo-ya?" tanyanya lembut. Mendengar permintaan itu, Wonwoo kembali mendudukkan dirinya di ayunan.
"Jisoo-sshi, kenapa malam-malam seperti ini datang ke tempat ini?" tanya Wonwoo langsung. Jisoo langsung menoleh dan tersenyum.
"Jadi kau tahu namaku?" Jisoo kembali bertanya.
"Emm aku tahu. Karena pernah Seungcheol hyung menyebut nama Jisoo-sshi saat aku keluar dari kamar mandi."
"Kau menyebut Seungcheol dengan panggilan seakrab itu. Sedangkan denganku kau begitu formal. Ini terasa tidak adil. Bisa panggil aku dengan hyung saja?" pertanyaan yang diucapkan dengan begitu lembut, tidak membuat Wonwoo langsung menjawab. Pemuda bermata tajam itu hanya diam. Namun Jisoo tahu Wonwoo menyetujui permintaannya.
"Wonwoo-ya, maafkan perlakuan mereka semua padamu. Anggap ini permintaan maaf dari seorang hyung mewakili dongsaengdeul-nya," ucap Jisoo setelah mereka hening beberapa saat. Jisoo menoleh ke arah Wonwoo karena tidak kunjung mendapat jawaban. Pemuda yang lebih muda itu tampak termenung.
"Kau pasti tahu bagaimana kerasnya kehidupan kami. Untuk makan, kami harus kerja mati-matian. Tidak perduli selelah apa, kami harus tetap bekerja." Jisoo berhenti sejenak. Ke dua bola matanya mengamati langit malam yang tampak begitu kelam.
"Kehidupan kami yang tidak mudah itu semakin terasa sulit karena beberapa orang yang selalu seenaknya. Karena harta berlimpah, mereka memperlakukan kami begitu buruk. Dari itu mereka begitu membenci orang kaya. Pemikiran mereka tentang orang kaya sudah terlanjur buruk. Dan tidak menampik, kalau Hyung juga pernah terpikir hal seperti itu."
Mendengar pernyataan Jisoo, Wonwoo terdiam beberapa saat. Wajah dinginnya menampilkan sebuah senyuman. Senyuman getir yang bisa Jisoo lihat dengan jelas.
"Jadi kalian menyamakan aku dengan mereka? Karena itu kalian membenciku?" tanya Wonwoo tanpa menatap Jisoo. Pandangannya hanya tertuju pada tanah yang ia pijak.
"Sekali lagi maafkan untuk semua itu," jawab Jisoo.
"Aku memang bukan orang baik. Tapi kalian tidak seharusnya berpikiran seperti itu karena statusku. Lagi pula aku bukan siapa-siapa. Seperti yang Hyung lihat, aku hanya seorang anak laki-laki yang menumpang di rumah kalian. Aku bukan orang kaya. Orang tuaku yang memiliki kekayaan itu. Tapi itu dulu, sebelum mereka membuangku. Dan saat ini aku tidak memiliki siapa-siapa." Wonwoo menjeda sejenak kalimatnya. Tidak ada raut kesedihan di wajah Wonwoo. Meski kalimat itu mampu menohok hati Jisoo. Kepala Wonwoo menunduk memperhatikan Chan yang lelap di pangkuannya.
"Kecuali dia. Hanya dia yang aku miliki saat ini," lanjut Wonwoo sambil merapikan poni yang menutup dahi Chan. Jisoo memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Tampak jelas kalau Wonwoo begitu menyayangi Chan.
"Sudah ku duga, kau tidak seperti yang mereka pikirkan," ucap Jisoo dengan senyuman lembutnya. Namun Wonwoo hanya diam saja. Ia lebih memilih bungkam.
"Wonwoo-ya, kenapa kau sama sekali tidak pernah mencoba menjelaskan pada mereka? Kenapa kau selama ini lebih banyak diam? Kau bisa membenarkan penilaian mereka tentangmu." Wonwoo menghembuskan nafasnya. Pertanyaan yang hampir sama seperti Seungcheol lontarkan.
"Hyung berharap mereka percaya begitu saja? Setelah apa yang mereka katakan tentangku? Setelah semua penilaian buruk yang mereka tujukan untukku? Hyung kira mereka akan percaya?" tanya Wonwoo dengan menatap ke dua mata Jisoo.
Jisoo terdiam. Perkataan Wonwoo memang benar adanya. Pemikiran mereka tidak akan mudah untuk diubah. Semua yang Wonwoo lakukan salah di mata mereka. Dan mereka tidak akan percaya penjelasan apapun. Tidak mudah tapi Jisoo yakin bisa. Karena Jisoo tahu adik-adiknya adalah orang yang baik.
"Memang tidak mudah. Tapi sekeras apapun mereka, Hyung yakin mereka akan berubah suatu saat nanti. Mereka hanyalah anak-anak polos yang memperjuangkan hidup. Mereka hanya terlalu menyayangi satu sama lain. Satu yang tersakiti, mereka semua akan merasakannya."
"Aku tidak peduli apapun yang mereka katakan tentangku. Aku tidak peduli seburuk apa mereka menilaiku selagi aku tidak menyakiti mereka. Aku lebih suka mereka menilai diriku seperti yang mereka pikirkan saat ini. Biarlah mereka tetap berpikiran seperti itu dan menjauhiku. Karena—"
"Karena?" Jisoo menuntut lanjutan dari kalimat Wonwoo. Karena ia yakin ada yang ingin Wonwoo katakan.
"Tidak! Lupakan saja Hyung!" Jisoo ingin melanjutkan pertanyaannya. Namun ia berpikir ulang. Tidak ingin Wonwoo kembali menarik diri. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pertanyaanya lain waktu. Biarlah saat ini ia menuruti kemauan Wonwoo.
"Hyung, tahu tentang SVT house?" tanya Wonwoo saat Jisoo termenung.
"Maksudmu?" tanya Jisoo bingung.
"Siapa pemilik rumah itu dan bagaimana kalian bisa berkumpul di sana dengan nasib yang tidak jauh berbeda." Wonwoo memperjelas pertanyaannya. Selama ini ia selalu bertanya-tanya tentang seluk beluk rumah yang ia tinggali. Meski rumah itu bukan panti asuhan, namun penghuninya bernasib sama.
Setiap mengingat nasib mereka, Wonwoo selalu mengubur tentang kesedihannya. Wonwoo selalu meyakinkan pada dirinya, kalau anak-anak yang lain justru lebih menyedihkan dibandingkan dengan dirinya. Ia tidak boleh mengeluh karena kesedihannya. Meski sampai saat ini ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan di buang orang tua sendiri dan dilupakan. Tapi Wonwoo hanya ingin mengibur dirinya sendiri.
"Itu berawal dari Hyung, Jeonghan, Seungcheol dan juga Seungkwan. Ini sudah terlalu larut. Kasihan Chan tidur di pangkuanmu seperti itu. Lain waktu Hyung akan menceritakannya."
"Hyung benar! Dia bisa sakit kalau terus di luar seperti ini." Wonwoo mengangguk menyetujui. Selain sudah sangat larut, udara malam juga tidak bagus untuk Chan.
"Wonwoo-ya, biar Hyung saja yang menggendong Chan. Hyung tahu kau sudah lelah." Jisoo berniat menggendong Chan. Mengambil alih tubuh mungil itu dari pangkuan Wonwoo. Namun baru beberapa detik tubuh Chan berpindah padanya, bocah mungil itu langsung menggeliat tidak nyaman. Tangan mungilnya mengucek mata sipitnya.
Mata sipitnya langsung terbuka saat orang yang menggendongnya terasa berbeda. Ia langsung merentangkan tangannya ke arah Wonwoo.
"Hyung!"
Wonwoo tersenyum dan berdiri. Mengambil kembali tubuh Chan dan memangkunya di ayunan. Tangannya menepuk punggung Chan lembut. Tanpa membutuhkan waktu lama, Chan kembali terlelap.
"Sepertinya Hyung baru saja ditolak," ucap Jisoo yang membuat Wonwoo tersenyum lebar.
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini," gumam Wonwoo yang masih bisa didengar Jisoo. Ia ikut memperhatikan wajah Chan yang sudah kembali pulas. Padahal tadi Chan benar-benar terlelap. Namun saat ia yang menggendongnya, mata sipit itu langsung terbuka. Bahkan langsung meminta kembali ke pangkuan Wonwoo.
"Chan, bagaimana bisa bersamamu?" tanya Jisoo penasaran. Ia ingat bagaimana Wonwoo membawa anak mungil itu ke rumah mereka. Menghasilkan tanggapan buruk dari anak-anak lainnya.
"Orang tuanya tidak menginginkannya. Yang pasti tidak seperti yang kalian tuduhkan. Apalagi kalau sampai Chan anakku. Aku masih berusia tujuh belas tahun. Bagaimana mungkin aku memiliki anak sebesar ini? Lagi pula aku bukan wanita yang bisa melahirkan." Wonwoo tersenyum tipis mengingat semua tuduhan konyol itu. Selama hidupnya ia tidak pernah melihat laki-laki melahirkan.
"Sepertinya kau sangat menyayanginya."
"Dia tidak jauh berbeda denganku. Hanya aku yang dia punya di dunia ini."
Wonwoo berdiri dari duduknya. Malam yang semakin larut mengharuskannya segera pulang. Lagi pula ia yakin anak-anak lainnya sudah terlelap. Jadi tidak ada yang membuat Chan menangis lagi.
"Hyung bolehkan aku minta satu hal?" tanya Wonwoo tanpa menoleh ke arah Jisoo yang masih duduk di ayunan.
"Bisakah Hyung anggap dia ada?" Wonwoo menunduk pada Chan yang berada dalam gendonganya. Membuat Jisoo paham kalau yang Wonwoo maksudkan adalah bocah mungil itu.
"Hyung tidak perlu menyayanginya seperti Hyung menyayangi yang lainnya. Tapi setidaknya anggap dia ada. Anggap dia saat berada di tengah-tengah kalian. Perlakukan dia seperti manusia Hyung!"
Jisoo tertegun mendengar kalimat Wonwoo. Pemuda itu mengucapkannya dengan suara yang begetar. Jisoo tahu Wonwoo tengah menahan tangisnya. Dan kalimat Wonwoo membuat hatinya mencelos.
"Sebenarnya apa yang kau rahasiakan Wonwoo-ya? kenapa sepertinya begitu banyak rahasia dalam hidupmu? Dan kenapa permintaanmu seolah-olah kau—"
.
.
.
.
TBC
