Naruto belong to Masashi Kisimoto

Story by Dark Bloosom

.

.

.

Cahaya. Cahaya

Kanan. Kiri.

Berkali-kali Sakura mengubah posisi tidurnya. Miring kanan. Miring kiri.

Buka. Tutup. Kelopak emerald itu membuka kemudian tertutup selama beberapa menit kemudian membuka lagi.

Menyerah. Pemuda itu kemudian mendudukan diri dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Terhitung sudah 2 hari semenjak keluarnya dia dari rumah sakit dan 3 hari sejak kejadian itu. Awalnya dia mencoba untuk tak mempedulikannya dan menganggap tak pernah terjadi sesuatu. Namun entah mengapa saat tengah malam ini dimana dia seharusnya sudah bercumbu mesra dengan sang bunga tidur , tiba-tiba potongan kejadian itu menyeruak masuk tanpa permisi di sela-sela tidur malamnya. Anehnya dia hanya bisa mengingat tentang seberkas cahaya yang saat itu datang kearahnya, selebihnya tak ada yang dia ingat lagi.

Mengacak frustasi helaian merah mudanya yang kini menjadi berantakan dan malah membuatnya terlihat semakin keren.

Sebuah deringan music memecah konsentrasinya. Dipungutnya benda mungil berbentuk persegi panjang tersebut. Sebuah kotak surat dalam keadaan tertutup muncul di layar.

'siapa sih malam-malam begini mengirim sms. Menggangu orang saja' gerutunya dalam hati.

'jangan mempersulit misi dengan kau yang mendadak bersin-bersin dan ingus yang keluar dari hidungmu itu, baka!'

TWING

Guratan kesal muncul di kening lebarnya. Menatap geram pada sederetan kata tersebut. Tangannya mencengkeram kuat benda tak berdosa itu.

''Panda sialan itu benar-benar ingin kuputuskan urat nadinya! apa maksudnya mengataiku seperti ini!'' seru Sakura sambil menunjuk-nunjuk ponsel dalam genggamannya. Melempar sumpah serapah pada orang di seberang yang mungkin tengah menyeringai senang karena berhasil membuat emosinya meledak-ledak di tengah malam ini.

Dengan gerakan beringas dan tanpa memperdulikan keypad malangnya itu diketikannya kata-kata pamungkas yang mungkin bisa membuat pemuda di seberang sana bungkam dan menahan emosi.

'Berhenti mengataiku bodoh, Panda merah! Urusi dulu kantong matamu yang semakin menebal itu. Oh ya..jangan lupa membeli obat penumbuh alis untuk keningmu itu. Tidak lucu kan kalau incaran kita besok akan menertawai hunter yang tak mempunyai alis sehelai pun'

MESSAGE SENT

Sakura tersenyum puas melihat tulisan dalam layar ponselnya itu. Dapat dia pastikan bahwa pasti kini wajah Gaara sudah semerah kepiting rebus setelah membaca pesan darinya. Sekali-kali pemuda itu memang perlu diberi pelajaran agar dia tak bertindak seenaknya. Yah walaupun pada akhirnya Gaara akan membalasnya.

Merasa tak dari balasan dari orang di seberang sana, Sakura kembali membaringkan tubuhnya setelah menguap lebar. Gerakan menarik selimutnya terhenti saat tak sengaja sepasang telinganya mendengar suara dari luar kamarnya. Tepatnya di balkon.

Didorong rasa penasaran akhirnya Sakura memutuskan turun dari ranjangnya dan berjalan mengendap kearah pintu yang menghubungkan dengan balkon. Jantungnya berdegup kencang, seberapapun pemberaninya dia tetap saja dia hanya manusia biasa yang kadang merasa takut akan segala sesuatu yang tak terduga dan tak diinginkan.

SREK

Dijelajahinya tempat itu dengan sepasang emerald miliknya, mencoba mencari sumber suara 'gedebug' tadi. Tak ada satu pun yang terlihat mencurigakan disana. Mengedikan bahu akhirnya dilangkahkan kakinya menjauh i tempat itu dan menganggap tak mendengar sesuatupun.

.

.

Shikamaru. Si pemuda jenius dari klan Nara. Rambut hitam yang dikuncir tinggi ke belakang sehingga menyerupai nanas, sebuah tindik di salah satu telinganya. Sepasang matanya yang selalu terlihat mengantuk. Suka sekali menguap dan menggumamkan trendmark yang menjadi andalannya, 'mendokusai'.

Tak ada seorang siswa pun yang mampu menandingi hobi tidur dan sifat pemalas yang dimilikinya. Pemuda itu selalu saja bisa tertidur dimana saja di tempat yang menurutnya nyaman dan terhindar dari hal-hal yang menurutnya merepotkan. Saat jam pelajaran pun dia masih sempat menutup mata barang berapa belas menit. Namun tidak di semua mata pelajaran. Ada saat dia harus memilih dan memilah kapan kira-kira waktu yang tepat untuk sekedar meletakkan kepalanya diatas meja pada saat jam pelajaran berlangsung.

Untuk siswa lain, tak pernah terlintas di pikiran mereka untuk 'istirahat' di jam pelajaran. Sekalipun mata pelajaran dan guru yang mengampunya itu 'sepele' tetap mereka tak pernah satu pemikiran dengan Shikamaru. Mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tetap terlihat terjaga. Bukannya apa, KHS adalah sekolah yang mayoritas penghuninya adalah orang-orang dengan kemampuan otak yang bisa dibilang 'mampu'. Mata pelajaran yang diajarkan pun tak bisa dianggap remeh . Memperhatikan guru adalah hal yang wajib dilakukan jika tak ingin mendapati nilai C terpampang manis di buku hasil ujian. Belum termasuk guru yang juga mayoritas terkenal 'sangar'. Tak bisa mengabaikan mereka barang sejenak, atau sebuah penghapus akan berakhir di jidat indah sang murid. Atau jika sedang apes, maka mungkin akan mendapat siksaan fisik atau mental yang lebih pedih.

Kembal i pada Shikamaru yang melihat seorang pemuda yang duduk di samping kirinya. Tatapannya seolah mengatakan kau-cari-mati. Lalu tatapannya beralih pada seorang wanita yang berdiri di depan beberapa meter darinya. Wanita itu menatap tajam pada sang pemuda. Shikamaru meneguk susah payah ludah yang seakan mengganjal di tenggorokannya.

''Sabaku Gaara''

SIINGGG

Mendadak aura semakin mencekam, apalagi yang dipanggil tak merespon. Mata wanita itu tetap tertumbuk pada sebuah kepala berhias rambut merah yang terletak diatas meja tanpa dosa. Tak ada suara sama sekali semenjak suara menggelegar yang beberapa menit lalu terdengar dari wanita garang itu.

Secara perlahan kepala merah itu bergerak dan kemudian terangkat. Jade miliknya bertatapan dengan sepasang mata tajam.

''Grr..Sa-ba-ku!''

BLAM

Gurat kantuk sudah tak Nampak dar i wajah datar itu. Berjalan santai tanpa tujuan . Tak mengambil pusing perlakuan Anko yang mendepaknya dari kelas dua menit yang lalu.

Bingung. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk berjalan menuju lapangan basket ketika telinganya tak sengaja mendengar bunyi gedebug bola dan sorakan histeris yang didominasi oleh para kaum perempuan . Mendudukan dir i di sebuah kursi penonton yang terletak paling belakang. Mengamati seorang pemuda berambut kuning jabrik yang kini tengah memegang bola, kemudian melemparkannya pada seorang pemuda berambut pink jabrik. Pemuda itu bergerak lincah melewati beberapa orang lainnya yang mencoba menghentikannya sambil mendrible bola . Berdiri beberapa meter di depan ring, pemuda itu kemudian mengangkat tinggi tangannya yang memegang bola lalu melemparkan ke udara dan..

PRIITTT

Lengkingan sebuah peluit berbunyi bersamaan dengan bola yang berhasil masuk dengan sempurna kedalam ring tanpa menyentuh bagian tepinya.

Mengulas senyum tipis menyaksikannya. Sepasang matanya mengamati pemuda tadi yang kini membaur bersama temannya yang lain dan mendapat beberapa tepukan yang mendarat di tubuhnya.

Menggeram mendadak saat seorang gadis berambut coklat bergelayut manja di lengan kiri pemuda itu. Tangan mungilnya yang tengah menggenggam handuk dia sapukan ke dahi lebar yang bercucuran keringat itu. Yang semakin membuat muak adalah seringai tipis yang terpampang di wajah rupawan itu. Tanpa berniat menunggu hal-hal memuakkan yang lain yang akan semakin membuatnya mengeryit jijik dilangkahkan kakinya menjauhi tempat itu.

.

"Lemparan yang sempurna, Sakura!" seru Naruto sambil menepuk bahu kiri Sakura membuat sang empu meringis karena tepukannya yang terlalu keras. Namun sepertinya Naruto tak menyadarinya.

"Aw.. sakit, bodoh!"

"Sial..kau menang.." seorang pemuda berambut coklat mengahmpiri Sakura dengan mengucapkan kalimat yang terdengar lesu.

"Itu artinya.."

"Sakura-kun~" seorang gadis berambut coklat pendek menggelayut manja di salah satu lengan Sakura.

Sakura menyeringai tipis, apalagi saat gadis itu kini mengelap peluh yang menghiasi dahi lebarnya. Sesekali diliriknya Kiba yang berdiri di sampingnya mengejek. Merangkul pundak yang lebih kecil darinya dan meninggalkan teman-temannya yang sedang cengo. Mengabaikan sang gadis yang merona hebat dan Kiba yang semakin ingin meninju wajah menyebalkan itu

"Berkencan dengan Matsuri?" tanya Naruto seolah meneruskan kalimat Sakura yang terpotong tadi.

Seorang pria berdiri di sudut lapangan yang sama sekali tak disadari kehadirannya oleh seluruh manusia yang bergerombol jauh di depannya. Tak berapa lama seringai licik menghiasi wajah yang semula nampak ramah itu.

.

"Kau yakin akan pulang sendiri?" tanya Sakura ragu sambil menatap intens gadis yang berdiri di depannya. Kepala itu menunduk, menyebabkan beberapa helaian coklat itu jatuh dan menutupi sebagian wajahnya. Sakura tak bisa melihat raut seperti apa yang sekarang gadis itu tunjukan.

"Hu'um tak perlu khawatir Sakura-kun" ucap Matsuri pelan. Setelah melalui perdebatan a lot akhirnya Sakura mengalah. Sempat ragu meninggalkan gadis itu sendirian di tempat sepi seperti itu. Tidak sepi-sepi amat sih tapi tetap saja malam sudah hampir datang dan ingat Matsuri hanya seorang gadis manis yang tidak menguasai ilmu bela diri seperti teman-temannya dari klub karate. Ragu, Sakura mendkat dan mencium pipi gadis itu sebelum beranjak.

"Hn hati-hati. Jangan ragu untuk menghubungiku jika ada sesuatu" ucap Sakura datar lalu undur diri.

Matsuri hanya mampu berdiri mematung sambil mengelus pipinya yang baru saja pemuda itu kecup. Kini wajahnya sudah semerah tomat. Panas, dingin, dag dig dug.

Tak ingin terlalu larut dalam rasa senangnya gadis itu memutuskan untuk berjalan menuju tempat yang sekiranya lebih aman. Sendirian membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi kini hanya dia seorang yang berada disana. Berkali-kali mendecak sebal saat mobil jemputannya belum datang. Dirapatkannya jaket yang membalut tubuh mungilnya saat angin kencang berhembus. Takut dan dingin. Itulah dua hal yang tengah dialaminya.

SREK SREKK

"Siapa disana?" Matsuri menoleh kearah kanannya.

TAP TAP TAP

Suara langkah kaki pelan yang sepertinya menuju kearahnya. Namun ada yang aneh. Tak ada siapapun yang terlihat di kedua irisnya.

TAP TAP

Gadis itu menciut ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar. Keringat dingin mulai menetes satu satu membasuh wajah dengan makeup tips itu, membuat bedaknya luntur dan menimbulkan warna yang berbeda dari lain sisi wajahnya yang masih dalam keadaan kering tak tersentuh keringat.

"Boo!" Matsuri terlonjak kaget saat secara tiba-tiba seseorang sudah muncul di depan matanya dengan seringai yang menurutnya sangat mengerikan. Jantungnya sudah hampir melompat keluar. Tapi rasa sekelumit rasa heran muncul di kepalanya melihat wajah yang menurutnya familiar itu.

"A..ka..Sen-" pria itu semakin melebarkan seringainya melihat wajah ketakutan mangsanya. Tanpa menunggu lama dia pukul tengkuk gadis itu dan membuatnya langsung tak sadarkan diri.

.

Gelap. Hanya itu yang tertangkap matanya saat mulai membuka mata. Gadis itu mengeluh sakit saat merasakan sakit di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Sepertinya tangan dan kakinya diikat saat dia tak bisa menggerakan keduanya. Belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya tiba-tiba ruangan menjadi terang dan memunculkan seorang bertudung di depannya. Sosok itu mendekati Matsuri, hidungnya mengendus tiap inchi tubuh gadis itu membuatnya risih dan geli. Gerakan mengendusnya berhenti di pipi sebelah kirinya yang beberapa saat yang lalu dikecup oleh Sakura. Mungkin dia akan merona jika mengingat itu tapi tidak untuk kali ini. Rasa ketakutan mengalahkan segalanya. Bahkan sekedar untuk merona akan hal itu.

"Kyaa ap-apa yang kau lakukan. Me-menjauh dariku dan lepaskan aku!"

Orang itu membuka tudungnya dan menatap lapar Matsuri.

"Aku dapat merasakannya disini" lidah pria itu terjulur menjilati pipi Matsuri. Membuat sang gadis bergidik ngeri sekaligus jijik dalam waktu bersamaan.

"Me-"

"Katakan padaku semua hal tentangnya" desis pria itu. Matsuri hanya bertanya-tanya tidak memahami maksud ucapannya.

"…"

"Haruno Sakura" ucap sang pria seraya menjilat bibirnya dengan lapar, "Aku menginginkannya"

Matsuri langsung membelalakkan mata mendengar nama pemuda yang diam-diam disukainya disebut oleh pria itu.

.

DEG

Sakura menghentikan satu langkahnya. Menoleh ke belakang. Tak ada siapapun di dalam mansionnya. Selain beberapa maid yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing di ruangan lain. Entah mengapa tiba-tiba pemuda itu merasa ada sekelumit rasa khawatir menghantuinya. Mengingat ada seorang gadis yang beberapa saat yang lalu ditinggalkannya seorang diri di tempat yang tak bias dikatakan ramai.

"Matsuri.."

.

.

TBC

Review?