TOO FAR SERIES

(FALLEN TOO FAR)

by RyeoTa Hasu

(Original Story by Abbi Glines)

Cast :

Lee Sung Min

Cho Kyu Hyun

Shim Chang Min as Kyuhyun's step brother

Lee Tae Min as Kyuhyun's youngest step brother

Choi Si Won

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk

Lee Dong Hae

Kim Hee Chul

Park Jung Soo aka Leeteuk

Kim Ryeo Wook

Kim Ki Bum

Kim Jung Mo

Cho Ji No

Lee Sung Jin as Sungmin's twins brother (already passed away)

Bae Soo Ji aka Suzy

Lee Min Ho

Cast lain menyusul

Disclaimer :

This original story is from Too Far Series Novel by Abbi Glines

I just remake it with my own idea and with Kyumin as main Cast

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

Rate :

M (Mature)

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, hurt/comfort, Mature Contain, some explisit sexual activity, uncensored

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 6

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Sungmin POV)

Kini aku tak memerlukan Jam alarm lagi.

Sinar matahari yang masuk melalui sela tirai jendela besar itu membangunkanku satu jam sebelum jam alarmku berbunyi.

Aku bergegas mandi dan mengenakan pakaian kerjaku. Dan karena aku memiliki kamar mandi pribadi di kamar ini, aku tak perlu lagi mengendap hanya untuk mandi.

Mungkin aku akan berhenti di minimarket untuk membeli kopi dan beberapa kimbab segitiga favoritku karena aku sedang tidak mood untuk sarapan dengan Kyuhyun pagi ini. Sejujurnya aku sedang tidak mood ingin makan, tapi hari ini aku harus bekerja dua shift jadi aku memerlukan makanan.

Celana panjang linen hitam dan atasan hem berkancing dengan warna putih yang ku kenakan adalah seragam sebagai penyaji makanan di restoran di Country Golf Club. Aku menghabiskan waktu beberapa jam kemarin sebelum pergi ke night club untuk menyeterika beberapa stel seragam ini dan memastikannya benar-benar rapi. Setelah mengenakan sepatu pantofel yang satu paket dengan seragam ini, aku pun turun ke bawah.

Aku tidak mendengar adanya aktifitas lain jadi aku tahu Kyuhyun belum bangun. Aku cukup senang mengetahuinya. Sekarang aku memiliki waktu untuk menghapus ingatan akan kejadian semalam yang jujur saja membuatku malu. Bukan saja karena aku telah membiarkan Kyuhyun menyentuhku tapi juga karena aku menjadi terangsang seperti remaja nakal yang mesum.

Ku rasa aku harus meminta maaf pada Kyuhyun tapi aku masih belum siap untuk melakukannya.

Dengan perlahan aku menutup pintu depan rumah dan menuju ke arah truk.

Paling tidak aku tidak akan kembali ke rumah hingga malam nanti. Jadi aku tidak perlu berhadapan dengan Kyuhyun setidaknya selama dua belas jam.

.

(Sungmin POV end)

.

.

Senyum angelic ala Leeteuk menyambut Sungmin saat dia tiba di ruangan ganti staff. Senyum dari pria bernama lengkap Park Jung Soo itu berhasil memperbaiki mood Sungmin pagi ini.

Di samping Leeteuk rekan Sungmin sesama waiter, Kim Ki Bum memberikan senyum tipisnya pada Sungmin sambil memakai celemek dipinggangnya.

Namun tak lama Leeteuk membuat wajah cemberut dengan menggunakan bibirnya.

"Uh, oh, kelihatannya seseorang mendapatkan pagi yang buruk." Ledek Leeteuk.

Sungmin tahu bahwa Leeteuk memiliki perasaan yang peka dan cenderung sensitif, jadi pria ini pasti menyadari mood Sungmin yang sedikit buruk. "Aku tidak bisa tidur nyenyak," sahut Sungmin sambil melangkah ke lokernya untuk menaruh tasnya dan mengambil celemeknya.

Leeteuk membuat suara mendesis. "Sayang sekali. Tidur adalah hal yang indah."

Sungmin mengangguk tanda setuju sambil memerhatikan penampilannya lewat cermin di pintu lokernya dan sesekali merapikan bagian-bagian yang kurang rapi. "Apa kita bertiga yang akan bertugas hari ini?"

"Tentu saja! Kau baru menyadari ini setelah kita mengobrol sedari tadi?! Kau benar-benar harus menenangkan diri hari ini, sweety. Benar kan Bummie?" ujar Leeteuk sambil menoleh pada Kibum.

Kibum mengangguk menyetujui Leeteuk.

"Aku akan mendampingimu pumkin." Ujar Kibum sambil mendekati Sungmin dan mengelus rambut Sungmin, yang berbuah pelototan dari sang empunya rambut.

Kibum hanya nyengir.

Namun dalam hati Sungmin merasa lega karena memiliki rekan-rekan seperti Leeteuk dan Kibum yang peduli padanya.

Sungmin mengambil tablet daftar pesanan dan meletakkannya di saku celemeknya.

Kemudian Sungmin pun mengikuti Leeteuk dan Kibum keluar dari ruang ganti dan menuju ke dalam restoran melalui pintu belakang yang menembus ke dapur restoran. Di perjalanan mereka bertemu dengan Heechul yang mengatakan jika dia tidak senang Sungmin pindah ke restoran. Dia ingin Sungmin tetap di lapangan untuk mengawasi Eunhyuk.

Sungmin pun berusaha menenangkan Heechul dengan menjelaskan bahwa Eunhyuk sudah tidak bersama Donghae lagi. Terakhir kali Eunhyuk bertemu dengan Donghae hanyalah untuk minum kopi, itu pun karena Donghae menelponnya dua puluh kali sore itu sebelum mereka pergi ke night club.

Saat itu Eunhyuk memberikan ultimatum pada Donghae jika Donghae menolak untuk mengakui Eunhyuk sebagai kekasihnya pada teman-teman Donghae maka Eunhyuk akan mencampakkannya. Dan karena Donghae keberatan, maka mereka telah resmi berakhir.

Jadi Heechul bisa merasa aman dan tak perlu lagi khawatir dengan Eunhyuk.

Heechul tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Sungmin karena telah menyadarkan Eunhyuk.

Sungmin hanya membalasnya dengan senyuman manis. Meskipun dalam hati dia merasa bangga karena bisa membantu Heechul dan Eunhyuk.

"Oke sweety. Bukannya ingin mengganggu, tapi kini waktunya sarapan, cacing-cacing mereka pasti sudah meronta. Kita harus cepat!" Leeteuk mengatakan itu dengan sebuah kedipan dan membuat yang lainnya tertawa. Rombongan Sungmin pun meninggalkan Heechul dan meneruskan tujuan mereka.

Di dapur mereka mendapatkan sambutan dari sang koki restoran, Kim Ryeowook, yang senang dengan bergabungnya Sungmin di restoran.

Ryeowook pun memberikan semangat pada Sungmin sambil menjanjikan Sungmin sebuah paket makan siang yang lezat buatannya.

Sungmin menyahut akan menantikan janji Ryeowook itu.

.

.

Sungmin mengikuti Kibum dan Leeteuk bergantian sepanjang hari. Mereka berdua dengan sabar melatihnya.

Dalam pandangan Sungmin, Leeteuk adalah pria yang menarik dan sabar, sedikit cenderung keibuan, mengingatkannya pada Heechul. Yang membedakannya dengan Heechul, Leeteuk senang mengumbar senyum angelicnya gratis. Membuat Sungmin percaya Leeteuk menjadi idola para pelanggan restoran.

Sedangkan Kibum memiliki daya tarik yang berbeda. Bertubuh tinggi, karismatik dan sedikit dingin. Namun jika tersenyum, para pelanggan pria dan wanita rela berjam-jam di restoran demi mendapatkan senyumnya. Killer smile, itulah julukan Kibum.

Tapi sayangnya, atau untungnya, mereka berdua itu gay.

Para member klub golf tidak ada yang tahu ini sama sekali. Itu karena mereka berdua pintar bermain mata dengan wanita tanpa malu-malu. Dan mereka benar-benar menikmatinya.

Sesekali mereka akan membuat kontak mata dengan Sungmin dan mengedipkan mata ketika ada pelanggan wanita yang berbisik hal-hal nakal di telinga mereka. Dan Sungmin hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Dia menganggap itu sebagai kiat mereka dalam merahasiakan orientasi seksual mereka yang sebenarnya.

Mereka bersikap layaknya playboy dan sangat ahli dalam hal itu.

Sepertinya Sungmin akan menikmati posisi barunya ini dan belajar banyak dari mereka berdua.

.

.

Setelah shift mereka selesai mereka bertiga kembali ke ruang istirahat staf.

Kibum merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata. Sungmin ikut merebahkan diri disampingnya. Celemek mereka terhampar dilantai.

Hari yang melelahkan bagi mereka dengan banyaknya pelanggan wanita, yang membuat mereka bekerja ekstra memberikan pelayanan plus berupa rayuan. Wajah mereka terasa pegal karena terlalu banyak tersenyum.

"Kau sangat hebat, Sungminnie! Para wanita menyukaimu dan para pria juga terkesan olehmu. Bukan bermaksud menyinggungmu manis, tapi seorang pria dengan rambut pirang platinum, bertubuh mungil dan berwajah manis seperti dirimu biasanya tidak bisa bekerja dengan serius tanpa membuat masalah. Oh, tapi kau membuktikan kualitasmu. Dan aku sangat terkesan!" puji Leeteuk sambil mengganti bajunya.

Disamping Sungmin Kibum mengacungkan dua ibu jarinya tanpa membuka matanya sambil berseru, "Aku setuju. Sungmin is the best!"

Sungmin tersenyum mendengarnya. "Begitukah? Tapi jujur saja aku tersinggung dengan komentar Leeteuk hyung."

Leeteuk memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepala Sungmin. "Tidak, kau tidak tersinggung. Kau tahu kau adalah pria manis yang nakal hei Pumpkin!"

Sungmin tetawa karena berhasil meledek Leeteuk. Kibum ikut tertawa.

"Mulai mendekati pelayan baru, Leetuk hyung?" Suara berat Siwon yang familiar terdengar dari pintu staf yang terbuka.

Leeteuk melihat ke arah Siwon dan memberinya senyum sombong. Sedangkan Kibum tetap cuek dengan posisinya dan seolah tak menganggap Siwon ada. Berbeda dengan Sungmin yang langsung menyunggingkan senyum manisnya pada Siwon.

"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku memiliki tipe-tipe tertentu." Leeteuk membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Siwon.

Sungmin melirik Siwon yang cemberut dengan tidak nyaman dan Sungmin tidak bisa menahan tawa. Leeteuk ikut tertawa bersamanya.

"Senang membuat pria normal menggeliat!" seru Leeteuk.

Sambil tertawa kecil Leeteuk melambaikan tangan dan berjalan keluar pintu.

Siwon memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Leeteuk pergi. Rupanya, Siwon juga tahu orientasi seksual Leeteuk.

Dalam hati Sungmin bertanya, apa Siwon sama dengan mereka, memiliki ketertarikan pada pria juga?

"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya sopan.

'Tentu saja aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para pria tua yang suka mengintai sepanjang hari.' Batin Sungmin menjawab.

Namun akhirnya Sungmin hanya menjawab, "Ya. Menyenangkan. Terima kasih untuk memungkinkanku bekerja di sini."

Siwon mengangguk. "Terima kasih kembali."

Pandangan Siwon melirik pada Kibum yang memejamkan mata di samping Sungmin.

Sungmin mengikuti arah pandang Siwon.

"Kibummie?" panggil Siwon memastikan apakah pria itu tidur atau tidak.

"Aku lelah. Silahkan berbicara dengan leluasa, anggap saja aku tak ada." Balas Kibum dengan mata tetap terpejam.

Siwon tersenyum tipis dengan respon dingin Kibum.

"Kami cukup kelelahan tadi. Pelanggan sangatlah banyak." Sungmin berusaha mengembalikan situasi yang sedikit berubah menjadi aneh.

"Ah, benarkah? Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan seafood terbaik di pantai?"

Siwon mengajaknya keluar lagi.

Jika mengikuti kata hati Sungmin harusnya pergi.

Siwon akan menjadi pengalih perhatian yang bagus untuk Sungmin agar dapat melupakan Kyuhyun.

Namun Sungmin tidak mungkin membiarkan dirinya berkencan dengan seseorang yang Kyuhyun kenal. Terlebih seorang Choi Siwon.

Mungkin akan menimbulkan masalah dikemudian hari.

"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah." Akhirnya Sungmin menolak dengan halus.

Wajah Siwon terlihat agak kecewa.

"Ada pesta malam ini di rumah Kyuhyun, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Siwon sambil memperhatikan reaksi Sungmin.

Sejujurnya Sungmin tidak tahu tentang pesta tapi kemudian dia ingat bahwa Kyuhyun tidak perlu memperingatkannya tentang itu. Itu rumah Kyuhyun dan Sungmin hanya menumpang.

"Aku bisa tidur melaluinya. Aku sudah terbiasa dengan itu." Kata Sungmin bohong. Nanti dia pasti tidak akan tidur sampai pesta berakhir. Apalagi kini kamarnya diatas.

"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur?" Siwon bersikeras.

Sungmin berfikir mungkin dia akan mengizinkannya. Sungmin sadar bahwa Kyuhyun mungkin akan meniduri beberapa gadis malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk Sungmin rasakan.

Dan Sungmin memang butuh pengalih perhatian agar tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.

"Kau dan Kyuhyun tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa melihatmu." ujar Sungmin mengusulkan.

Siwon mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Sungmin," katanya sambil mengamati Sungmin lekat-lekat.

Sungmin menatapnya penasaran.

"Aku tidak mengerti dengan sikapnya saat ulang tahun Taemin waktu itu. Kyuhyun dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Tapi malam itu tiba-tiba dia marah. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?"

Sungmin tertegun. Bagaimana dia harus menjawab itu? Sejujurnya Sungmin juga tidak mengerti dengan kemarahan Kyuhyun malam itu.

"Kami berteman. Dia protektif." Jawab Sungmin akhirnya.

Siwon mengangguk pelan tapi Sungmin tahu Siwon tidak percaya padanya. "Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."

"Kau tidak perlu melakukan itu. Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kalangan kelas atas seperti kalian Siwon-ssi. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."

"We'll see." Ujar Siwon santai.

Siwon tidak menunggunya untuk mendebat. Setelah mengatakan itu, Siwon berbalik dan keluar lalu menutup pintu.

Sungmin hanya menatap kesal pada pintu yang tertutup.

Tanpa Sungmin sadari, Kibum yang telah menyimak semua pembicaraan mereka, dan menunjukkan raut wajah yang berbeda.

Kesal? Atau cemburu?

.

.

Malamnya, kediaman Kyuhyun.

.

Sungmin melewati koridor yang ramai dengan cuek dan menuju ke pintu dapur.

Kyuhyun.

Dia tengah bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.

"Kyuhyun? Ada apa?" Sungmin bertanya ketika Kyuhyun tidak mengatakan apapun.

"Siwon di sini," jawabnya.

"Terakhir kali yang ku tahu dia adalah temanmu." Jawab Sungmin bingung.

Kyuhyun menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuh Sungmin dengan cepat.

"Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."

Sungmin menyilangkan tangan dada dan mengambil pose yang sama dengan Kyuhyun.

"Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?" tanya Sungmin berani.

"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Kyuhyun dengan nada marah yang keras.

Sungmin membenarkan dalam hati. Mungkin saja Siwon seperti itu. Meski Sungmin meragukannya tapi itu mungkin.

Tapi bagi Sungmin itu tidak penting. Karena Sungmin tidak akan membiarkan Siwon menyentuhnya. Dia bisa melidungi dirinya.

"Aku tidak tertarik pada Siwon seperti itu. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."

Kyuhyun melarikan tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di ibu jarinya berkilau tertimpa cahaya.

"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang akan berlalu lalang dirumah. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Siwon di pantai. Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."

Kyuhyun tersentak.

"Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Siwon."

Sungmin merasa ini konyol.

"Well, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang gadis tapi kau akan tetap melakukannya."

Kyuhyun menarik diri dari pintu dan menuju ke arah Sungmin lalu mendorongnya ke kamar kecil di bawah tangga, kamar Sungmin dulu, sampai mereka berdua di dalam.

Satu inci lagi dan Sungmin akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.

"Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam ini," Kyuhyun berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini. Tinggal lah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Bukankah kita sudah menjadi teman? Kau tidak perlu Siwon sebagai teman."

Sungmin meletakkan kedua tangannya di dadanya untuk mendorong Kyuhyun sedikit ke belakang tapi Kyuhyun tak bergeser sedikitpun. Tubuhnya kokoh bagai batu.

"Kau tidak pernah berbicara denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh." Elak Sungmin.

Kyuhyun menggeleng. "Tidak sekarang. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Hanya tolong, tinggal di sini bersamaku."

Sungmin melihat ke sekeliling persegi panjang mungil yang nyaris tidak punya ruang untuk tempat tidurnya.

"Tidak ada banyak ruang di sini," katanya sambil melirik Kyuhyun.

"Kita bisa duduk di tempat tidur. Kita tidak bersentuhan. Hanya bicara. Seperti teman," Kyuhyun berusaha meyakinkan Sungmin.

Sungmin menghela napas dan mengangguk. Dia tidak akan bisa menolaknya.

Selain itu, ada begitu banyak yang ingin Sungmin tahu tentang Kyuhyun.

Sungmin duduk di tempat tidur dan bersandar sambil menyilangkan kaki di bawah.

"Kalau begitu kita akan bicara." Katanya sambil tersenyum.

Kyuhyun duduk ke tempat tidur dan bersandar ke dinding.

Dia tertawa kecil, "Aku tidak percaya aku baru saja memohon pada seorang untuk duduk dan berbicara denganku."

Sungmin mengangguk. Sejujurnya Sungmin juga tidak percaya.

"Apa yang akan kita bicarakan?" Sungmin bertanya, ingin Kyuhyun yang memulainya.

Sungmin tidak ingin Kyuhyun merasa seolah-olah ini adalah interogasi. Sebenarnya Sungmin punya begitu banyak pertanyaan berputar di kepalanya yang akan segera diungkapkannya.

"Bagaimana kalau tentang bagaimana kau masih 'perjaka' pada usia sembilan belas?" tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin penasaran.

Sungmin tidak ingat pernah mengatakan kepada Kyuhyun bahwa dia masih perjaka. Sungmin hanya ingat Kyuhyun menyebutnya polos malam itu.

Apakah sejelas itu?

"Siapa bilang aku masih –ugh- perjaka?" Tanya Sungmin dengan nada yang kesal.

Kyuhyun menyeringai, "Aku tahu gadis perawan ketika aku menciumnya. Apalagi seorang pria. Meski jujur saja, kau pria pertama yang ku cium."

Sungmin tidak ingin berdebat tentang hal ini. Ini hanya akan membuat kenyataan bahwa dia memang masih perjaka. Meski dia sedikit bangga karena dia adalah pria pertama untuk Kyuhyun, meski Kyuhyun bukan yang pertama untuknya.

"Aku pernah jatuh cinta. Namanya Jungmo. Dia adalah pacar pertamaku, ciuman pertamaku, sesi bercumbu pertamaku, betapa lemahnya itu mungkin terjadi. Dia bilang dia mencintaiku dan mengklaim aku adalah satu-satunya untuk dia. Kemudian Eommaku jatuh sakit. Aku tidak lagi punya waktu untuk kencan dan menghabiskan waktu dengan Jungmo pada akhir pekan. Tapi dia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan semacam hubungan dari orang lain. Jadi, aku membiarkan dia pergi. Setelah Jungmo, aku tidak punya waktu untuk berkencan dengan orang lain." Aku Sungmin.

Kyuhyun mengerutkan kening. "Dia tidak menemanimu ketika Eommamu sakit?"

Sungguh Sungmin tidak suka pembicaraan ini.

Jika orang lain menunjukkan apa yang sudah diketahuinya itu akan sulit untuk tidak kembali memiliki perasaan marah pada Jungmo. Sungmin sudah lama memaafkannya dan menerimanya. Tidak ada untungnya mengingat itu semua. Apa gunanya?

"Kami masih muda dulu. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpikir dia mencintaiku. Sesederhana itu."

Kyuhyun mendesah, "Kau memang masih muda."

Sungmin tidak yakin dia menyukai nada dalam suara Kyuhyun ketika dia mengatakan itu.

"Aku sembilan belas, Cho Kyuhyun. Aku sudah mengurus Eommaku selama tiga tahun sejak usia 16 tahun dan menguburkannya tanpa bantuan dari Abeojiku. Percayalah, aku merasa berumur 40 tahun hampir setiap hari."

Kyuhyun mengulurkan tangannya di atas tempat tidur dan menutupi tangan Sungmin dengan tangannya. "Kau seharusnya tidak melakukan itu sendiri."

Ya, Kyuhyun benar, Sungmin seharusnya tidak melakukannya tapi dia tidak punya pilihan lain.

Sungmin sangat mencintai Eommanya. Eommanya layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang dia dapatkan.

Dan satu-satunya hal yang meringankan Sungmin akan rasa sakit itu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa Eommanya dan Sungjin telah bersama-sama sekarang di surga.

Mereka saling memiliki.

Sungmin tidak ingin berbicara tentang hidupnya lagi.

Dia ingin tahu sesuatu tentang Kyuhyun.

"Apa kau memiliki pekerjaan?" Tanya Sungmin.

Kyuhyun tertawa dan meremas tangan Sungmin tapi tidak membiarkannya lepas.

"Apa kau percaya setiap orang harus memiliki pekerjaan setelah lulus kuliah?"

Sungmin mengangkat bahu. Sungmin selalu berpikir orang pasti mempunyai pekerjaan atau sesuatu.

Dia harus memiliki beberapa tujuan. Bahkan jika dia tidak membutuhkan uang.

"Ketika aku lulus kuliah aku punya cukup uang di bank untuk menjalani sisa hidupku tanpa pekerjaan, berkat ayahku," Kyuhyun melihat ke arah Sungmin dengan mata sendu seksi berbulu mata hitamnya, "Setelah beberapa minggu tidak melakukan apa-apa kecuali berpesta aku sadar aku butuh kehidupan. Jadi aku mulai bermain-main dengan pasar saham. Sebagai pialang. Ternyata, aku cukup bagus dalam hal itu. Angka-angka selalu menjadi keahlianku. Aku juga menyumbangkan dukungan keuangan untuk organisasi kemanusiaan. Beberapa bulan ini aku jadi lebih ahli dan akhirnya bekerja di rumah. Pada musim panas aku libur dari segala sesuatu sebisaku, datang ke sini dan bersantai.

Jujur saja Sungmin sangat tidak menyangkanya. Kyuhyun sungguh hebat!

"Shock di wajahmu sedikit menghina," kata Kyuhyun dengan irama menggoda dalam suaranya.

"Aku hanya tidak menyangka dengan jawaban itu," jawab Sungmin jujur.

Kyuhyun mengangkat bahu dan memindahkan tangannya kembali ke sisi tempat tidurnya.

Berapa umurmu?" Tanya Sungmin ingin tahu.

Kyuhyun menyeringai, "Terlalu tua untuk berada di ruangan ini denganmu dan terlalu sangat tua untuk memiliki pikiran tentangmu."

'Dia berada di awal dua puluhan. Pasti. Dia tidak tampak lebih tua, meskipun wajahnya terlihat cukup dewasa.' Batin Sungmin mengira.

"Aku akan mengingatkanmu bahwa aku sembilan belas. Aku akan berusia dua puluh awal tahun nanti. Aku bukan bayi."

"Tidak Sungminnie manis, kau sudah pasti bukan bayi. Aku dua puluh empat dan terlihat lelah. Hidupku tidak normal dan karena itu aku memiliki beberapa kekacauan serius. Aku sudah bilang ada hal-hal yang kau tidak tahu. Membiarkan diri untuk menyentuhmu akan salah."

'Kyuhyun hanya lima tahun lebih tua dariku. Itu tidak terlalu buruk. Dia memberikan uang kepada organisasi kemanusiaan dan bahkan melakukan pekerjaan dirumah? Seburuk apa Kyuhyun nantinya jika lepas kendali? Dia memiliki hati. Dia membiarkanku tinggal di sini ketika bisa saja dia mengusirku." Batin Sungmin.

"Kupikir kau meremehkan dirimu sendiri. Apa yang kulihat di dalam dirimu adalah istimewa." Elak Sungmin.

Kyuhyun merapatkan bibirnya lalu menggeleng. "Kau tidak melihat diriku yang sebenarnya. Kau tidak tahu semua yang telah aku lakukan."

"Mungkin," jawab Sungmin sambil mencondongkan tubuh ke depan. "Tapi apa yang sudah kulihat sedikit adalah tidak semuanya buruk. Aku mulai berpikir mungkin saja ada lapisan lain bagimu."

Kyuhyun menatap Sungmin dalam.

"Aku ingin bertanya satu hal lagi," tanya Sungmin ragu.

"Tanyakanlah!" Kyuhyun mempersilahkan.

"Taemin," Sungmin jeda sejenak untuk melihat reaksi Kyuhyun, Kyuhyun hanya diam menatap Sungmin serius, ada sedikit raut terganggu namun dia tak menyela.

"Ya?"

Sungmin berdeham, ini dia, "Apa benar dia 'hanya' adik perempuanmu?" tanya Sungmin takut-takut sambil menunduk.

Kyuhyun diam sejenak, lalu kemudian terdengar tawa dari mulut Kyuhyun.

Sungmin mendongak menatap Kyuhyun bingung.

"Taemin itu laki-laki sama seperti kita Lee Sungmin! Dia bisa marah jika mendengar pertanyaanmu tadi."

Sungmin melotot kaget mendengar jawaban Kyuhyun.

'Taemin pria?! Tapi penampilannya waktu itu dan wajah cantiknya?' batin Sungmin bingung.

"Kau pasti terkecoh dengan penampilannya bukan? Begitu juga denganku saat pertama kali melihatmu dulu. Kalian sama-sama pria berwajah cantik dan berpenampilan begitu feminin membuat pria jadi meragukan kalian." Kyuhyun kembali tertawa.

Sungmin melotot tersinggung, "Ini asli dari lahir! Bukan mauku kok!" protesnya.

Kyuhyun berdeham meredakan tawanya, "Yah, tapi berbeda denganmu, Taemin menggemari cosplay. Dia suka menunjukkan sisi femininnya dan membuat orang-orang terkecoh. Namun akan sangat marah jika dipuji cantik," Kyuhyun terlihat merenung mengingat-ingat Taemin.

Entah mengapa Sungmin merasa sedikit kesal.

"Jadi dia adikmu laki-lakimu?" tanya Sungmin lagi.

Kyuhyun mengangguk singkat.

Oh, baiklah." Sungmin cukup tahu dengan reaksi Kyuhyun ini. Dia enggan membahas Taemin lebih jauh.

"Btw, tato apa yang di punggung?"

"Seekor elang di punggung bawah dengan sayapnya yang melebar dan tulisan TRAX. Ketika aku berumur tujuh belas tahun ayahku membawaku ke konser di Seoul dan setelah itu ia membawaku untuk mendapatkan tato pertamaku. Dia ingin band-nya dicap di tubuhku. Setiap anggota TRAX punya satu di tempat yang sama persis. Tepat di belakang bahu kiri mereka. Ayah sedang di bawah pengaruh obat-obatan malam itu tapi masih jadi memori yang benar-benar menyenangkan. Aku tidak mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu tumbuh dewasa dengannya. Tapi setiap kali aku bertemu dengannya, dia akan menambah tato atau tindikan lagi di tubuhku."

'Dia punya tindikan lain?' batin Sungmin sedikit ngeri.

Sungmin mengamati wajah Kyuhyun dan kemudian membiarkan matanya jatuh ke dada Kyuhyun.

Sebuah tawa rendah mengejutkan Sungmin dan dia sadar telah tertangkap basah mencari-cari.

"Tidak ada tindikan di sana, Sungmin manis. Yang lain ada di telingaku. Aku menahan laju tindikan dan tato ketika aku berumur sembilan belas."

Ayah Kyuhyun ditutupi tato dan tindikan seperti para personil TRAX yang lain.

'Apakah itu sesuatu yang Kyuhyun tidak ingin lakukan? Apa ayahnya memaksanya?' batin Sungmin bertanya.

"Apa yang aku katakan hingga membuatmu mengerutkan kening?"‖Tanya Kyuhyun, meluncurkan satu jarinya di bawah dagu Sungmin dan memiringkan kepalanya sehingga dia menatap Kyuhyun.

"Ketika kau menciumku malam itu, aku sangat merasakan barbel perak itu. Apa kau sering memakainya?"

Kelopak mata Kyuhyun diturunkan dan ia mencondongkan tubuh ke depan. "Aku jarang memakainya."

"Ketika kau, eh, mencium seseorang dengan itu apa kau merasakan sensasi lain yang berbeda dengan tidak memakainya?" tanya Sungmin tanpa sempat ditahannya.

Kyuhyun menarik napas tajam dan mulutnya bergerak lebih dekat dengan Sungmin. "Sungminnie, suruh aku pergi. Please!"

Tidak.

Jika Kyuhyun memang hendak menciumnya maka Sungmin ingin dia di sini. Sungmin juga ingin menciumnya dengan benda itu di mulutnya. Seperti malam itu.

"Kau akan merasakannya. Di manapun aku ingin menciummu, kau akan merasakannya. Dan kita akan menikmatinya," Kyuhyun berbisik di telinga Sungmin sebelum menekan ciuman ke bahunya dan mengambil napas dalam-dalam.

"Apakah kau...kau akan menciumku lagi?" Tanya Sungmin terengah-engah saat Kyuhyun menempelkan hidungnya ke leher Sungmin dan menghirupnya.

"Aku ingin. Aku ingin begitu sangat menginginkannya tapi aku mencoba untuk menjadi baik," gumamnya di leher Sungmin.

"Bisakah kau tidak baik hanya untuk satu ciuman? Please?" Tanya Sungmin, bergeser lebih dekat kepadanya.

"Sungmin yang manis, begitu sangat manis," katanya saat bibirnya menyentuh lekukan leher dan bahu Sungmin.

Jika Kyuhyun terus begini Sungmin akan mulai mengemis dan menjadi murahan.

Sungmin terpejam menikmati belaian bibir Kyuhyun.

Lidah Kyuhyun keluar dan membelai cepat pada kulit lembut di leher Sungmin dan menjejaki ciuman di sepanjang rahang Sungmin sampai mulutnya melayang di atas mulut Sungmin.

Hanya sesaat.

Lalu ia menariknya kembali tetapi hanya satu inci. Napasnya yang hangat masih terasa dibibir Sungmin.

"Sungmin, aku bukan pria romantis. Aku tidak mencium dan berpelukan. Ini semua tentang seks bagiku. Kau pantas mendapatkan seseorang yang mencium dan memeluk. Bukan aku. Aku hanya melakukan seks, baby. Kau tidak ditakdirkan untuk orang sepertiku. Aku tidak pernah menyangkal diriku untuk sesuatu yang kuinginkan. Tapi kau terlalu manis. Kali ini aku harus mengatakan tidak pada diri sendiri."

Saat Sungmin membuka matanya, Kyuhyun telah berdiri dan meraih gagang pintu dan Sungmin menyadari bahwa Kyuhyun akan pergi.

Lagi.

Meninggalkannya seperti ini.

"Aku tak bisa bicara lagi. Tidak malam ini. Tidak sendirian di sini bersamamu." Terdengar kesedihan dalam suara Kyuhyun yang membuat hati Sungmin sedikit terluka.

Lalu Kyuhyun pergi dan menutup pintu di belakangnya.

Sungmin bersandar di kepala ranjang dan mengerang frustrasi.

"Mengapa aku membiarkan dia di sini? Permainan konflik emosi yang ia mainkan ini bukan levelku!" rutuk Sungmin.

Dia bertanya-tanya ke mana Kyuhyun akan pergi sekarang.

Ada banyak wanita di luar sana yang akan dia cium. Satu gadis yang tidak masalah ia cium jika mereka memohon.

Kini Sungmin benar-benar tidak bisa tidur untuk sementara waktu. Dan dia tidak ingin tinggal di sini sementara Siwon mungkin masih menunggunya.

Tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan dengannya.

Meskipun sedang tidak mood untuk berbicara dengannya tapi setidaknya Sungmin bisa mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa mengobrol di pantai.

Sungmin pun keluar dan berjalan ke dapur.

Sungmin dapat melihat punggung Changmin dan dia tengah menekan seorang pria di meja dapur. Tangannya terbelit di rambut ikal liar coklat Changmin.

Mereka tampak sangat sibuk.

Dengan diam-diam Sungmin keluar lewat pintu belakang berharap dia tidak berjalan melewati setiap sesi bercumbu lainnya.

"Aku tidak berpikir kau akan muncul," suara Siwon muncul dari kegelapan.

Sungmin berbalik dan melihat Siwon bersandar di pagar mengawasinya.

Sungmin merasa bersalah karena tidak datang ke sini dulu dan membiarkan Siwon tahu jika dia tidak akan bisa bertemu dengannya.

"Maafkan aku. Aku teralihkan." Ucap Sungmin menyesal.

"Aku melihat Kyuhyun keluar dari pojokan kecil yang di belakang sana," jawabnya.

Sungmin menggigit bibir dan mengangguk. Dia ketahuan. Mungkin juga mengakui kesalahan.

"Dia tidak tinggal lama. Apakah itu kunjungan ramah tamah atau dia mengusirmu?"

"Itu..."

Itu adalah kunjungan yang menyenangkan. Mereka melakukan pembicaraan. Sampai Sungmin memintanya untuk menciumnya itu sudah menyenangkan. Sungmin cukup menikmati saat bersamanya. "Hanya mengobrol," Sungmin berusaha menjelaskan.

Siwon tertawa keras dan menggeleng. "Mengapa aku tidak percaya itu?"

Karena Siwon pintar.

Sungmin hanya mengangkat bahu.

"Kita masih jadi jalan-jalan ke pantai?"

Sungmin menggeleng. "Tidak. Aku lelah. Aku datang ke sini untuk menghirup udara segar dan berharap menemukanmu untuk menjelaskan."

Siwon memberinya senyum kecewa dan menjauh dari pagar. "Well, baiklah. Aku tidak akan mengemis."

"Aku tidak akan mengharapkanmu begitu," jawab Sungmin lega.

Siwon berjalan kembali menuju pintu dan Sungmin menunggu sampai dia kembali ke dalam sebelum bernapas lega.

Itu tidak begitu buruk.

Mungkin sekarang Siwon akan agak mundur.

Sampai Sungmin tahu apa yang harus dilakukan dengan ketertarikan yang dia miliki ini untuk Kyuhyun, dia tidak butuh orang lain yang membuatnya lebih bingung.

Sungmin menunggu selama beberapa menit lalu berbalik dan masuk ke dalam.

Changmin tidak lagi di bar dengan pria itu. Mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil rupanya.

Sungmin mulai menyusuri lorong yang menuju ke arah tangga untuk naik ke kamarnya ketika Kyuhyun tengah berada di ujung tangga dan diikuti oleh gadis berambut coklat yang cekikikan. Dia menggantung di lengan Kyuhyun dan bertindak seperti dia tidak bisa berjalan sendiri.

Entah itu dari alkohol atau hak sepatu enam inci yang gadis itu pakai.

"Tapi kau bilang," gadis itu meracau dan mencium lengan dimana ia menempel.

Yep ia mabuk.

Mata mereka bertemu.

'Dia akan menciumnya malam ini. Dia bahkan tidak harus mengemis. Dia juga akan terasa seperti bir. Apakah itu sebuah rangsangan untuknya?' batin Sungmin miris.

"Aku akan melepas celanaku di sini jika kau mau," kata gadis itu lagi, bahkan tidak memperhatikan bahwa mereka tidak sendirian.

"Tiff, aku sudah bilang tidak. Aku tidak tertarik," jawab Kyuhyun tanpa berpaling dari Sungmin.

Kyuhyun menolaknya.

Dan dia ingin Sungmin tahu.

"Itu akan nakal," kata gadis itu berseru keras kemudian tiba-tiba Kyuhyun tertawa.

"Tidak, itu menyebalkan. Kau mabuk dan cekikikanmu membuatku sakit kepala," jawabnya. Matanya masih menatap Sungmin.

Sungmin mengalihkan pandangannya dan mulai naik tangga lewat sisi yang lain ketika gadis itu akhirnya melihatnya. "Hei, gadis itu akan mencuri!" serunya keras.

Wajah Sungmin memerah.

Sial.

Gadis ini benar-benar mabuk hingga mengiranya sebagai wanita. Menyebalkan!

"Dia tinggal di sini, dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Kyuhyun santai.

Kepala Sungmin tersentak dan matanya menatap Kyuhyun dalam.

"Dia tinggal di sini?" Tanya gadis itu.

Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Jangan biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan yang tinggal di rumahnya. Aku menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku." Ujar Sungmin blak-blakan.

Toh gadis itu mabuk dan tak akan mengingat apapun esok harinya.

Tapi Kyuhyun tidak.

Sungmin tidak menunggu jawabannya. Dia melanjutkan langkahnya lalu sesampainya didepan kamarnya dia membuka pintu dan melangkah masuk.

1-0 untuk Sungmin.

.

.

Hari ini Sungmin kembali bertugas di restoran.

Dan dia cukup menikmatinya.

"Oooh kelihatannya bos dan temannya ada di meja nomor delapan. Meski aku sangat ingin pergi bermain mata dengan mereka, mereka mungkin lebih memilihmu. Aku akan menghampiri Eommonim dengan pakaian tenis paginya di meja nomor sepuluh. Mereka memberi tip yang bagus." Seru Leeteuk sambil menepuk bahu Sungmin dan meninggalkan Sungmin.

Menemui Siwon dan temannya bukanlah sesuatu yang Sungmin ingin lakukan pagi ini.

Tapi dia tidak bisa berdebat dengan Leeteuk.

Dia benar.

Leeteuk akan mendapat tip lebih banyak dari wanita. Para wanita mencintainya.

Dan para pria-pria itu adalah bagian Sungmin.

Sungmin pun menuju ke meja mereka.

Wajah Siwon terangkat saat dia melihat Sungmin lalu senyum menghiasi bibir jokernya.

"Kau kelihatan lebih baik disini." Ujar Siwon saat Sungmin sudah berhenti di depan mereka.

"Terima kasih. Disini lebih sejuk," Sungmin membalasnya.

" Sungminnie sudah pindah kesini. Aku mungkin akan makan lebih banyak disini." Pria dengan rambut pirang keriting mengatakan itu, kalau Sungmin tidak salah ingat, namanya adalah Park Chanyeol.

"Ini akan sangat baik untuk bisnisku." Siwon menyetujuinya.

"Bagaimana malammu dengan Eunhyuk?" Donghae bertanya dengan sedikit nada menyinggung.

Dia sedang menggunakan Eunhyuk untuk melawan Sungmin rupanya.

Tapi Sungmin tidak peduli. Donghae memang seorang bajingan dan Sungmin akan sangat senang untuk menjauhkannya dari Eunhyuk.

"Kita melewati waktu yang menyenangkan. Apa yang bisa aku berikan untuk minuman kalian?" Sungmin bertanya, merubah subyek pembicaraan.

"Kopi, please," pinta Chanyeol sambil tersenyum manis.

"Ok, aku mengerti. Tidak dilanjutkan lagi. Ini kode dari para pria manis dan wanita terhadap sesuatu tentang itu. Aku mau jus jeruk," ujar Donghae menyerah.

"Aku juga minta kopinya," pinta Siwon.

"Aku akan segera kembali dengan minuman kalian," ujar Sungmin dan berputar untuk mendatangi dua meja lainnya yang terisi dengan tamu.

Dilihatnya Leeteuk tengah berada di salah satu meja jadi Sungmin bergerak ke meja yang lain.

Butuh sedikit waktu baginya sebelum menyadari siapa yang ada di meja itu.

Kaki Sungmin refleks berhenti bergerak saat dia melihat Taemin menggerakkan rambut pirangnya ke belakang telinganya kemudian memberikan pandangan marahnya pada Sungmin.

Sungmin melihat ke arah Leeteuk yang sudah menyelesaikan pesanan di mejanya yang kedua.

'Aku harus melakukan ini. Ini menggelikan. Dia adalah adiknya Kyuhyun.' Batin Sungmin.

Dia memaksa kakinya untuk bergerak dan berjalan menuju ke mejanya.

Taemin tengah duduk dengan seorang gadis. Sungmin pernah melihat gadis itu sebelumnya dalam pelukan Kyuhyun.

"Tuan Choi pasti sekarang membiarkan semua orang bekerja disini. Aku perlu mengatakan pada Siwon hyung untuk bicara pada ayahnya agar lebih selektif memilih pekerjanya." Taemin mengatakan itu perlahan namun dengan suara yang cukup keras.

Wajah Sungmin terasa hangat dan dia tahu kalau itu berubah merah.

Sekarang Sungmin hanya perlu membuktikan jika dia bisa melewati ini.

Taemin membencinya karena alasan yang tidak Sungmin ketahui.

Kecuali tentu saja, Kyuhyun memberitahukannya jika Sungmin memiliki rasa ingin tahu dalam urusan keluarga Kyuhyun, dimana Taemin termasuk di dalamnya.

Tapi, rasanya Kyuhyun tidak akan melakukan hal semacam itu.

"Selamat pagi, apa yang bisa kubantu untuk minuman kalian?" Sungmin bertanya dengan nada sesopan mungkin.

Gadis yang duduk di depan Taemin mencibir dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Taemin memandang Sungmin seakan Sungmin telah melakukan sesuatu yang menjijikkan.

"Kau tidak bisa membantu kami apapun. Aku berharap pelayan yang lebih berkelas saat aku makan disini. Kalian tidak bisa melakukan itu." Ucapnya pedas.

Sungmin melihat sekali lagi ke arah Leeteuk tapi dia sudah pergi.

Taemin mungkin memang adiknya Kyuhyun, dan mungkin juga menjadi saudara tirinya, tapi dia adalah seseorang yang sangat menyebalkan dan tidak sopan.

Jika saja Sungmin tidak membutuhkan pekerjaan ini, Sungmin akan katakan padanya "Kiss My Ass" lalu meninggalkannya.

"Apakah ada masalah disini?" Suara Siwon muncul dari belakang Sungmin.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sungmin merasa lega atas kehadirannya.

"Ya, ada. Kau memperkerjakan seseorang tak berkelas. Singkirkan dia. Aku membayar begitu banyak untuk menjadi anggota disini dan tidak bisa bertoleransi dengan pelayanan seperti ini." Ujar Taemin kasar.

'Apa itu karena aku tinggal di rumah hyungnya? Apa dia juga membenci Abeojiku?' batin Sungmin bertanya.

"Lee Taemin, kau tidak pernah membayar apapun untuk menjadi anggota disini. Kau disini karena Kyuhyun, hyungmu memperbolehkannya. Sungmin adalah salah satu pegawai terbaik yang pernah kami miliki dan tidak ada member lainnya yang pernah komplain. Tidak juga hyungmu. Jadi, simpan keluhanmu sayang, dan tenanglah." Siwon menjentikkan jarinya dan Kibum datang dengan cepat ke arah mereka.

Kibum pasti akan datang pada saat drama ini terjadi dan jujur saja Sungmin membutuhkannya.

"Kibum, apa kau bisa melayani Taemin dan Tiffany? Taemin kelihatannya ada masalah dengan Sungmin dan aku tidak ingin Sungmin terpaksa harus menunggui dia."

Kibum hanya mengangguk.

Siwon menggandeng lengan Sungmin dan mengantarnya kembali ke dapur.

Sungmin tahu jika mereka tadi menjadi pusat perhatian tapi dia tidak peduli pada saat itu. Dia benar-benar bersyukur karena bisa pergi dari pandangan orang-orang yang ingin tahu dan bisa bernafas lega.

Saat pintu dapur menutup di belakangnya Sungmin mengeluarkan nafas yang sudah ditahannya sedari tadi.

"Aku cuma ingin mengatakan ini sekali saja Sungmin. Kau membuatku menginginkanmu pada malam itu di tempat Kyuhyun. Aku tidak perlu bertanya padamu kenapa. Aku tahu kenapa saat itu Kyuhyun tidak bisa ditemukan dimanapun. Kau sudah membuat pilihan dan aku mundur. Tapi apa yang terjadi disini tadi hanyalah sedikit dari apa yang bisa terjadi. Ular cantik penggerutu itu benar-benar punya racun mematikan di jantungnya. Dia bisa lebih menyakitkan dan marah dan saat waktunya tiba untuk memilih, Leeteuk akan memilih dia."

Sungmin berbalik dan memandang Siwon dengan tidak yakin akan apa maksud dari perkataannya tadi. Siwon hanya memberinya senyuman sedih kemudian dia melepaskan lengan Sungmin dan berjalan kembali ke arah ruang makan.

Siwon juga mengetahui rahasia itu.

Dia tahu.

Ini semua membuat Sungmin menjadi gila.

Ada masalah apa sebenarnya?

.

.

Dengan keras Sungmin membuka pintu truk, lega karena menyelesaikan hari ini.

Matanya langsung menuju ke arah sebuah kotak hitam dengan sebuah catatan di atasnya yang ada di atas kursi truknya.

Sungmin meraihnya dan membuka kotak itu.

Sungminnie,

Itu adalah sebuah handphone. Kau memerlukannya. Aku sudah bicara dengan Abeojimu dan dia bilang akan memberikannya untukmu. Itu dari dia. Waktu bicara dan jumlah pesan yang bisa dilakukan tidak tebatas jadi gunakan itu semaumu.

Kyuhyun

Abeojinya meminta pada Kyuhyun untuk memberikannya handphone?

Benarkah?

Sungmin membuka kotak itu dan sebuah iPhone 6 berwana silver lengkap dengan pelindungnya ada di dalam.

Sungmin menariknya keluar dan mempelajari sebentar.

Dia lalu menekan tombol lingkaran di bagian bawah layar dan kemudian layar menyala.

Abeojinya tidak pernah memberinya hadiah sejak ulang tahun terakhirnya sebelum Abeojinya pergi. Sebelum Sungjin meninggal, dia memberi Sungmin dan Sungjin skuter elektrik yang sama dan helmnya.

Sungmin naik ke atas truk dan menggenggam handphone di tangannya.

"Apa sebaiknya aku menelpon Abeoji mengenai hal ini? Akan bagus kalau dia menjelaskan padaku kenapa dia tidak ada disini. Kenapa dia mengirimku ke tempat dimana aku tidak diinginkan? Apa dia sudah pernah bertemu Taemin? Tentu saja, dia bahkan memberikan nama belakangnya untuk Taemin. Dan dia pasti sudah tahu kalau Taemin tidak akan menerimaku. Selain itu, kalau dia adalah saudaranya Kyuhyun berarti dia juga adalah saudara tiriku. Apa yang membuat dia begitu marah? Aku tumbuh dengan uang yang lebih sedikit darinya? Ya Tuhan, dia benar-benar jahat!" Gumam Sungmin bingung dan tak percaya.

Sungmin memeriksa kontak dan melihat kalau dia hanya memiliki tiga nomor yang tersimpan di dalam handphonenya.

Yang pertama adalah Eunhyuk, lalu Heechul, dan kemudian Kyuhyun.

Kyuhyun memasukkan nomornya disini. Itu membuat Sungmin terkejut.

Handphone itu berbunyi dan nama Kyuhyun berkedip-kedip di layar.

Dia menelpon Sungmin!

"Halo,"‖ jawab Sungmin ragu, masih tidak yakin apa yang harus dia pikirkan mengenai ini.

"Kurasa kau sudah mendapatkannya. Apa kau menyukainya?" Tanya Kyuhyun.

"Ya, ini bagus sekali. Tapi kenapa Abeoji ingin kau memberikan ini?"

Abeojinya tidak begitu peduli mengenai hal apapun yang terjadi pada Sungmin selama bertahun-tahun.

Ini sungguh benar-benar mengejutkan.

"Demi keamanan. Semua membutuhkan telepon. Terutama jika mereka mengemudi kendaraan yang lebih tua dari umur mereka. Kau bisa saja mogok setiap saat."

"Aku memiliki pistol," Sungmin mengingatkan Kyuhyun.

Kyuhyun terkekeh. "Ya, kau memilikinya, dasar keras kepala. Tapi sebuah pistol tidak bisa menarik trukmu."

Poin yang benar.

"Apa kau akan pulang kerumah?" Kyuhyun bertanya.

Kata-kata Kyuhyun yang menyebutkan "rumah" seakan-akan seperti rumahnya adalah rumah Sungmin juga dan itu membuat Sungmin merasa hangat di dalam hatinya.

Bahkan meskipun dia sebenarnya tidak berniat seperti itu.

"Ya, jika kau keberatan. Aku bisa pergi melakukan sesuatu kalau kau ingin aku berada di luar rumah sementara waktu."

"Tidak aku ingin kau disini. Aku memasak."

Kyuhyun memasak? Untuknya?

"Oh, ok. Well, aku akan berada disana dalam beberapa menit."

"Sampai jumpa," setelah mengatakan itu sambungan diputuskan.

Kyuhyun bertingkah sangat aneh sekali lagi.

.

.

Saat Sungmin berjalan ke arah rumah, dia bisa mencium aroma bumbu taco di hidungnya.

Sungmin menutup pintu depan dan segera menuju ke arah dapur.

Jika memang ini adalah masakan Meksiko buatan Kyuhyun sendiri, maka Sungmin akan benar-benar terkesan.

Kyuhyun tengah berdiri memunggunginya saat Sungmin masuk ke dapur. Dia sedang menggumam mengikuti lagu yang tidak Sungmin ketahui yang terdengar melalui Ipod yang digeletakkan di meja makan. Sebuah botol Corona terbuka terletak di bar dengan seiris lemon disampingnya.

"Baunya enak," kata Sungmin.

Kyuhyun menoleh ke belakang dan perlahan senyuman merekah di wajahnya.

"Iya," Kyuhyun menjawab, membersihkan tangannya dengan handuk tangan di sebelahnya. Dia mengambil corona dan memberikannya kepada Sungmin. "Ini, minumlah. Enchiladas nya sudah hampir selesai. Aku perlu membalik quesadillas dan mereka akan siap dalam beberapa menit. Kita bisa segera makan."

Sungmin meraihnya dan menyesapnya.

Keramahan Kyuhyun sedikit mencurigakan.

"Aku berharap kau suka makanan meksiko," ujar Kyuhyun sambil menarik enchiladas keluar dari oven.

Pria berpenampilan seperti Cho kyuhyun bukan tipe pria yang terlihat terbiasa berada di dapur untuk memasak.

Tapi sayangnya, Kyuhyun begitu seksi saat melakukannya.

"Aku suka makanan meksiko, Sungmin meyakinkannya. "Aku akui, aku akan sangat terkesan kalau kau bisa memasaknya."

Kyuhyun mengedipkan mata. "Aku memiliki banyak talenta yang bisa membuat otakmu meledak."

Sungmin yakin itu. Sungmin menenggak lebih banyak lagi corona.

"Tenanglah. Kau juga harus makan sesuatu. Saat aku bilang minumlah, bukan berarti kau harus menghabiskan itu."

Sungmin mengangguk dan menyeka sedikit tetesan yang tersisa di bawah bibirnya.

Kyuhyun menatap Sungmin dengan begitu intens.

Itu membuat tangan Sungmin sedikit gemetar.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan mulai mengangkat quesadillas dari atas wajan. Dia kemudian meletakkannya di piring besar yang penuh dengan taco keras dan halus. Ada burrito juga disana.

Kyuhyun yang membuat semuanya.

"Semua yang lain sudah siap di atas meja. Ambilkan aku corona dari lemari es dan ikuti aku."

Sungmin melakukan apa yang Kyuhyun katakan dengan cepat dan kemudian mengejar Kyuhyun.

Dia tidak berhenti di ruang makan.

Tapi dia berjalan keluar ke arah beranda yang luas di belakang yang menghadap ke laut. Dua lampu yang terang ada di tengah meja sehingga mereka bisa mendapatkan cahaya seperti cahaya lilin tanpa takut untuk mati karena angin.

"Duduklah, aku akan menyiapkan piring untukmu," ujar Kyuhyun menunjuk tempat duduk pertama yang ada di depannya agar Sungmin duduk disana. Hanya ada dua tempat duduk disini.

Sungmin duduk.

Kyuhyun mulai menyiapkan semuanya di piring kemudian meletakkannya di hadapan Sungmin. Setelah itu Kyuhyun meletakkan serbet ke pangkuan Sungmin.

Mulutnya begitu dekat dengan telinga Sungmin sehingga nafasnya yang hangat membuat Sungmin gemetar.

"Bisa ku ambilkan minuman yang lain?" Kyuhyun berbisik di telinga Sungmin sebelum berdiri untuk mundur.

Sungmin menggelengkan kepala. Dia tidak akan bisa minum di hadapan Kyuhyun yang bersikap seperti itu. Jantungnya berdegup cepat seakan sudah gila.

Kyuhyun mengambil minumannya sendiri dan duduk di seberang Sungmin.

"Kalau kau tidak menyukai ini, jangan katakan padaku. Egoku tidak bisa mengatasinya." Kyuhyun memberikan peringatan padanya.

Sungmin menyeringai dan mengambil garpu dan pisau untuk mulai memotong enchilada menjadi potongan-potongan kecil. Tidak mungkin dia bisa menghabiskan semua ini tapi Sungmin bisa merasakan setiap masakan yang ada.

Pada saat makanan itu menyentuh lidahnya, itu mengejutkan Sungmin.

Ini sama lezatnya dengan apa yang pernah dicobanya di restoran Meksiko.

Sambil tersenyum, Sungmin memandang Kyuhyun. "Ini lezat dan aku beritahukan aku sangat terkejut."

Kyuhyun memasukkan segarpu penuh ke dalam mulutnya dan menyeringai.

Egonya tidak akan pernah hancur.

Sungmin mulai merasakan masakan yang lain dan merasa bahwa dirinya tenyata lebih lapar daripada yang dipikirkannya tadi. Semuanya begitu lezat sehingga dia tidak ingin membuang apapun.

Setelah Sungmin merasakan masakan ke empat di piringnya, Sungmin tahu bahwa dia harus berhenti.

Sungmin menyesap corona dan menyandarkan dirinya ke kursi.

Kyuhyun juga sedang menghabiskan makanannya juga.

Saat selesai, dia meletakkan botolnya dan matanya berubah serius.

Uh-oh.

Mereka pasti akan membicarakan tentang semalam.

Sungguh Sungmin ingin melupakan kemarin malam.

Terutama karena malam ini begitu indah.

"Maafkan aku mengenai apa yang dilakukan Taemin hari ini," Kyuhyun mengatakannya dengan rasa sedih dalam suaranya.

"Bagaimana kau bisa tahu mengenai hal itu?" Sungmin bertanya dan tiba-tiba merasa tidak nyaman.

"Siwon menelponku. Dia memberiku peringatan bahwa Taemin akan diusir jika lain kali dia melakukan hal yang kasar pada pegawainya. Siwon adalah orang yang baik. Dia kadang bisa keterlaluan juga tapi dia adalah atasan yang baik."

Sungmin mengangguk.

"Dia seharusnya tidak bicara seperti itu padamu. Aku sudah bicara padanya. Dia berjanji padaku tidak akan melakukannya lagi. Tapi kalau dia melakukannya, di tempat lain, tolong katakanlah padaku."

Sungmin tersenyum miris.

Ini adalah makan malam untuk permintaan maaf atas kelakuan adiknya yang jahat, bukan untuk memperbaiki hubungan diantara mereka.

Sungmin tidak berada dalam kencan romantis seperti yang di imajinasikan di kepalanya.

Ini cuma Kyuhyun yang meminta maaf atas kelakuan Taemin.

Sungmin mendorong kursinya ke belakang dan mengangkat piringnya.

"Terima kasih. Aku menghargainya. Kau baik sekali. Aku pastikan kalau aku tidak akan mengadukannya pada Siwon kalau Taemin besikap kasar lagi padaku di masa mendatang. Dia tadi cuma melihatku secara langsung saja hari ini."

Sungmin mengambil minumannya. "Makan malamnya menyenangkan. Senang karena bisa menikmatinya setelah bekerja seharian. Terima kasih banyak."

Sungmin tidak membuat kontak mata dengan Kyuhyun.

Sungmin hanya ingin menjauh darinya.

Dengan cepat Sungmin masuk ke dalam.

Dia membersihkan piringnya dan meletakkannya di mesin cuci piring sebelum mencuci botol bekas Coronanya dan meletakkan ke dalam tempat sampah khusus pecah belah.

"Sungmin," Kyuhyun memanggilnya dari belakang dan dengan tiba-tiba tubuhnya mengurung Sungmin.

Tangannya berada di kedua sisi meja dapur dan yang bisa Sungmin lakukan hanyalah berdiri disana dan melihat ke tempat cuci yang ada di depannya. Tubuh Kyuhyun yang keras dan hangat menggosok punggungnya dan Sungmin menggigit lidahnya untuk menjaga agar tidak mendesah. Sungmin tidak akan membiarkan Kyuhyun melihat seberapa terpengaruhnya diri Sungmin padanya.

"Ini bukanlah usaha minta maaf untuk Taemin. Ini adalah usaha minta maaf untukku. Aku minta maaf untuk kemarin malam. Aku terbaring di ranjangku semalaman berharap kau ada disana bersamaku. Berharap aku tidak mendorongmu pergi menjauh. Aku mendorong orang untuk pergi Sungmin. Itu adalah mekanisme pertahanan diri bagiku. Tapi aku tidak mau mendorongmu menjauh."

Berjalan menjauh dari dia dan menjaga jarak dengannya adalah hal yang tepat untuk Sungmin dilakukan.

Kyuhyun tidak akan dan tidak pernah menjadi pangeran yang mempesona untuk siapapun juga.

Sungmin tidak akan pernah membiarkan dirinya berpikir Kyuhyun adalah orang yang akan mencintai dan menghiburnya.

Dia tidak akan pernah menjadi orang yang tepat bagi Sungmin.

Tapi hati Sungmin mulai merasakan sedikit ketertarikan padanya.

Tidak untuk selamanya, tapi sekarang Sungmin ingin menjadikan Kyuhyun yang pertama. Dia tidak akan menjadi yang terakhir bagi Sungmin.

Sungmin bisa berhenti kapanpun dalam perjalanan hidupnya. Perhentian yang mungkin akan di ingat seumur hidupnya.

Itu adalah yang paling Sungmin takutkan.

Karena dia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya setelah itu.

Kyuhyun meraih dan menyisir rambut Sungmin dari sisi lehernya dan kemudian mencium leher Sungmin.

"Tolong. Maafkan aku. Satu kesempatan lagi, Sungmin. Aku menginginkan ini. Aku menginginkanmu."

Kyuhyun akan menjadi yang pertama.

Itu perasaan yang benar.

Di dalam dirinya Sungmin tahu Kyuhyun adalah pria yang akan mengajarinya mengenai kehidupan. Meski jika nantinya Kyuhyun akan menyakiti dirinya.

Sungmin membalikkan badannya dan meletakkan kedua tangannya melingkar di leher Kyuhyun.

"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat," ujar Sungmin, memandang mata Kyuhyun yang penuh dengan emosinya yang membuat Sungmin mengharapkan lebih banyak lagi.

"Ok," Kyuhyun menjawab dengan hati-hati.

"Aku ingin bersamamu malam ini. Tidak ada lagi rayuan. Tidak ada lagi menunggu."

Ekspresi kekhawatiran di wajah Kyuhyun tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan rasa lapar.

"Tentu saja. Iya,"

Kyuhyun menggeram dan menarik Sungmin ke arah dirinya.

.

.

TBC

.

.

Hehehe... gregetan? Sengaja! :P #ditimpukJoyers

Full NC nya ditahan di chapter depan ya.

Sengaja bikin baper dulu hehe...

Tapi tenang, ga lama kok. ^.^

Thank you very much untuk reviewers dari chap 1 sampai chap kemaren,

Chocoyaa, danactebh, megakyu, Lee Minry, Kezypark, Joyers, tha, WineKyumin137, Orange girls (yg review selalu panjang, ditunggu lg evaluasinya chingu), Sweet gelato, abilhikmah, Prisna, Kyubo, Cho Kyuna, PumpkinEvil137, Lee mingma, Za KyuMin, Taniea458, Zagiya Joy, Karen Kouzuki, ShinYangChoi

Buat yang belum disebut, mianhae... mungkin reviewnya belum masuk.

Kritik saran dan evaluasi selalu ditampung Hasu,

Dan Hasu sudah mengikrarkan diri untuk membuat ff Kyumin yang Yaoi,

Jadi mian Hasu ga bisa bikin gs (ga bisa bayangin juga )

Mari menyambung pertemanan dan dukung terus ff Kyumin ^.^

Ah, jangan lupa baca ff Hasu yang lain, ada 3 official pairing Suju disitu.

Kyumin of course ada... ^.^

Hampir lupa, jujur Hasu sedikit ga nyaman kalo di panggil Author atau Author-nim gitu, Hasu belum selevel dengan Author2 senior yang lain, masih anak bawang #BOW

Panggil aja Hasu, yang lebih muda, yang lebih tua, silahkan ^.^

The last, Keep Reading and Support Hasu ne...

Gomawo

.

.

.

RyeoTa Hasu