Title : I Did It For Love

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun slight Oh Sehun x Xi Luhan and others

Rating : M (Yaoi / Genderswitch)

Length : Chaptered

A/N : Kalian boleh anggep FF ini dari sisi Yaoi (Mpreg) atau Genderswitch ya :)

WARNING MATURE CONTENT !


Chapter 6

"Ya Tuhan, rasanya aku benar-benar jatuh cinta padanya."

"Apa yang kau bicarakan, sih ?" tanya Baekhyun sambil menatap Luhan heran, terutama karena Luhan terlihat begitu luar biasa hari ini.

Luhan biasanya termasuk orang yang paling malas berdandan semenjak ia hamil. Ia terbiasa menggunakan pelembab wajah dan lipbalm lalu menata asal rambutnya saat akan pergi keluar rumah.

Tapi berbeda dengan hari ini, Luhan terlihat memakai beberapa polesan makeup diwajahnya, kulitnya yang putih dihiasi rona manis dipipi, bibir tipisnya ia beri warna pink alami, mata kecilnya ia beri garis eyeliner sempurna, serta rambut coklat caramel-nya tertata rapi hingga dibagian ujung poni didepan keningnya.

Ia tidak lagi menggunakan celana training kebesaran ataupun t-shirt berukuran extra-large yang selama ini ia kagumi layaknya pakaian mahal sejak hamil, tapi hari ini Luhan memadu padankan celana ketat hitam panjang khusus untuk hamil dengan kemeja berwarna baby blue yang menutupi setengah paha dan ditambah dengan sepatu angkle boot hitam miliknya. Ia tampak begitu luar biasa untuk ukuran seseorang yang tengah mengandung seorang bayi tujuh bulan didalam perutnya.

"Kau tampak luar biasa." Baekhyun ternganga saat pertama kali melihat penampilan Luhan.

Luhan mendekap kedua tangannya didepan dada, merasa kesal karena Baekhyun justru tidak mendengarkannya dan sibuk mengomentari penampilannya. "Aku sedang serius Baekhyun, sepertinya aku jatuh cinta pada Dokter Jung."

"Dokter Jung ? Jung Yunho ? Dokter pribadi keluarga Oh ?"

Luhan tersipu saat mendengar Baekhyun menyebutkan dengan terang-terangan nama sosok pria yang menganggu pikirannya akhir-akhir ini.

Sebenarnya Luhan sudah terlihat terlalu antusias sejak pemeriksaan pertama kandungannya kerumah sakit saat mengetahui dokter pribadi keluarga Oh yang juga merangkap menjadi dokter kandungan dirumah sakit yang akan ia temui adalah seorang dokter muda yang sangat tampan.

Sehun yang sejak awal selalu menemani Luhan untuk check-up kandungan kerumah sakit tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Luhan, walaupun ia tahu kalau Luhan sebenarnya tertarik dengan sosok dokter kepercayaan keluarga Oh tersebut, terbukti dari sikap malu-malu yang Luhan tunjukkan setiap kali sang dokter melakukan pemeriksaan pada bayi yang ada didalam perutnya.

Sehun menebak kalau keantusiasan yang Luhan tunjukkan saat ini hanyalah karena pengaruh dari efek hormon hamil yang ada pada tubuhnya.

Toh, lagipula Sehun sudah terlalu percaya pada Luhan yang ia yakin tidak akan pernah meninggalkannya.

Satu lagi keberuntungan yang Luhan miliki dan selalu membuat Baekhyun iri selain karena Luhan sedang mengandung seorang bayi yang sangat diimpikan Baekhyun yaitu pada sosok suami Luhan yang begitu perhatian.

"Aku rasa kau masih ditahap yang wajar untuk jatuh cinta pada dokter kandunganmu sendiri, Luhan." kata Baekhyun ringan sambil memesan vanilla latte untuknya dan secangkir teh chamomile untuk Luhan pada pelayan yang melewati mejanya. "Aku juga mengenal beberapa orang yang sepertimu. Jangan khawatir, hal itu akan cepat berlalu."

Luhan menegakkan tubuhnya dengan susah payah dari sandaran kursi yang ia duduki karna terhalang oleh perut besarnya. "Tapi kurasa yang ini berbeda, Baek."

Baekhyun tertawa. "Apanya yang berbeda ? Apa maksudmu, seharusnya ayah dari anak yang ada didalam perutmu saat ini adalah anak dari Dokter Jung dan bukan Sehun, begitu ?"

Luhan terlihat gelisah, wajahnya memerah untuk beberapa saat. Entah merasa kesal atau malu dengan perkataan Baekhyun.

Baekhyun kembali tertawa semakin keras saat menemukan wajah Luhan yang memerah. "Kau tidak sungguh-sungguh berfikir seperti itu, kan ?"

"Tentu saja tidak, bayi ini tetaplah milik Sehun." jawabnya dengan cepat.

"Tapi... " Luhan tersipu malu, sebelum kemudian mengakui bahwa sebelum jadwal check-up rutin dengan Dokter Jung pagi ini, ia sempat bermimpi erotis yang melibatkan Dokter Jung dan dirinya pada malam sebelumnya.

Dan itulah mengapa selama pemeriksaan tadi Luhan tidak berani untuk menatap tepat didepan kedua mata Dokter Jung karena ia terus menerus tersipu malu mengingat mimpinya semalam. Untung saja hari ini ia datang kerumah sakit tidak ditemani oleh Sehun melainkan diantar oleh supir pribadi keluarga Oh, karena suaminya itu sedang dalam perjalanan bisnis ke Hongkong, kalau tidak habislah Luhan dihadapan suaminya karena tertangkap basah tengah tersipu malu dihadapan pria lain.

"Apa ? Bagaimana ceritanya ?" Baekhyun terlihat terkejut sekaligus tertarik dengan cerita Luhan walaupun ia nyaris tersedak nafasnya sendiri karena berusaha menghentikan tawanya mendengar pengakuan polos dari Luhan.

"Aku tidak ingat." jawab Luhan dengan wajah yang merona merah seperti remaja. "Aku sudah tidak ingin lagi menginggatnya, karena aku sudah nyaris kehilangan nafas sejak saat masuk kedalam ruangannya tadi sampai dengan saat ini karena tiba-tiba saja mimpi semalam kembali berputar dalam kepalaku."

"Apa kau membuka bajumu seperti biasa saat pemeriksaan ?"

Luhan kembali duduk bersandar, lalu menghela nafas pelan merasa kecewa untuk beberapa alasan. "Hari ini tidak. Ia hanya memeriksa tensi darah dan cek kesehatan untuk mempersiapkan persalinanku nanti karena menurut perhitungan sebentar lagi aku akan siap melahirkan."

"Untung saja kalau begitu." Baekhyun tidak kuasa untuk kembali tertawa setelah mendengar nada kekecewaan yang Luhan buat saat mengatakannya.

"Oh ya, dan satu hal lagi." ucap Luhan dengan kembali semangat. "Hari ini Dokter Jung memuji penampilanku, katanya aku terlihat menawan."

"Hah!" Baekhyun terkejut. "Ia merayumu ?"

"Tidak, bukan seperti itu juga, sih." Luhan menggelengkan kepalanya kemudian berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Sebenarnya ia hanya bilang kalau aku terlihat berbeda hari ini, tapi bukankah maksudnya ia ingin mengatakan kalau aku terlihat menawan hari ini ?"

"Berhenti berkhayal, Luhan. Ia mengatakan itu karena ia binggung dengan penampilanmu saat ini yang tidak seperti biasanya, karna kau terlihat seperti ingin pergi ke clubbing lebih tepatnya, daripada untuk periksa kehamilan dirumah sakit." ucap Baekhyun setengah bercanda.

"Ya, aku tahu." Luhan menghela nafas kecewa. "Ayo bicarakan hal yang lain saja."

Luhan meminum secangkir teh chamomile yang dihidangkan seorang pelayan diatas meja. "Aku bertanya-tanya bagaimana kabar Yixing sekarang, ia tidak benar-benar melupakan kita kan ?"

Baekhyun terdiam, menyeruput lagi cangkir berisi vanilla latte-nya yang nyaris dingin.

Ingatannya kembali pada saat empat tahun yang lalu. Saat Yixing masih tinggal di Korea, dan tidak satupun diantara ketiganya menjalin hubungan dengan seseorang.

Mereka bertiga memang secara rutin berkumpul setiap diakhir minggu, memilih satu restoran dan menikmati makan malam dengan sebotol anggur bersama, lalu dilanjutkan dengan mengunjungi klub malam, melepas stress setelah lelah seminggu bekerja dengan musik keras dilantai dansa dan bermacam-macam minuman ber-alkohol di bar, lalu pulang ke apartemen Baekhyun yang memang paling besar diantara milik ketiganya dengan nyaris setengah sadar hingga akhirnya tertidur dengan sendirinya.

Tidak ada aturan, larangan dan batasan dalam pertemanan ketiganya. Ketiganya memiliki prinsip tentang kebebasan yang sama, mengerti satu sama lain layaknya keluarga.

Tapi sekarang masa itu telah berubah, barangkali hanya Baekhyun yang paling merasa kehilangan dengan masa-masa itu.

Karena Luhan sudah cukup bahagia dengan kehidupannya, setelah melepaskan kebebasannya dengan menikahi Sehun hingga sampai saat ini ia tengah mengandung anak pertama mereka.

Sedangkan Yixing, ia telah memasuki kehidupannya yang baru di luar negeri, berpindah dari satu negara ke negara lainnya, menikmati hidup. Ia mempunyai banyak teman-teman baru yang pasti akan lebih sering menemaninya untuk pergi ke bar dan menikmati kehidupan lajangnya yang bebas disana.

Sedangkan Baekhyun ?

Baekhyun masih sedang berusaha menyesuaikan dirinya dengan Chanyeol, walaupun ia telah sepenuhnya melepaskan gaya hidupnya yang lama.

Ia tidak lagi menemui teman-temannya yang tidak disukai Chanyeol dan ia juga tidak berusaha mencari teman baru karena yang sudah ia yakini sejak awal, ia hanya akan memfokuskan dirinya pada Chanyeol.

Baekhyun sudah meyakinkan dirinya bahwa ia sudah siap melakukan komitmen dalam hubungannya dengan Chanyeol, setelah ia memutuskan untuk mempunyai seorang anak.

Selama tiga tahun, hidupnya telah berporos pada Chanyeol, ketergantungan yang ia rasa semakin dalam hingga Baekhyun tidak yakin akan bisa menjalani hidupnya apabila Chanyeol meninggalkannya.

Hingga setelah sekian lama baru sekarang Baekhyun merasakan sedikit perasaan rindu dengan kehidupannya dulu, saat berkumpul dengan sahabat-sahabatnya bisa menjadi sangat menyenangkan. Walaupun tanpa Yixing yang seharusnya menjadi pelengkap persahabatan mereka, tapi sedikit banyak Baekhyun menyadari bahwa ia pernah merasa sebebas itu dulu.

Walaupun ia dan Luhan masih bersama-sama dan sesekali sering keluar untuk makan siang saat Luhan pulang dari jadwal check-up nya tanpa ditemani Sehun seperti hari ini atau saat Luhan merengek untuk dibelikan sesuatu dengan alasan keinginan bayi diperutnya pada Baekhyun, entah Luhan atau Baekhyun pasti akan selalu menyempatkan dirinya untuk saling mengunjungi dan mengabari satu sama lain.

Tapi tetap saja Baekhyun merasa ada yang berbeda, seperti sesuatu yang hilang dari hidupnya, tidak sama dan tidak lengkap lagi seperti dulu.

.

.

.

tok.. tok.. tok..

Luhan mengetuk meja dihadapan Baekhyun. "Baekhyun ? Kau tidak mendengarkanku ?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, segera tersadar dari lamunannya sendiri. "Ya ampun, maaf aku melamun."

Luhan mengerutkan keningnya. "Memang apa yang kau pikirkan, sih ? Sampai-sampai tidak mendengarkan ku ?"

"Maaf, aku hanya sedang mengenang saat dulu."

"Saat dulu ?"

"Iya saat dulu. Saat kita semua masih lajang, kau, aku dan juga Yixing. Aku rasa kehidupan lajang kita dulu sangat menyenangkan, bukan ?"

"Apa ?"

Baekhyun mengangkat bahu. "Jangan kau katakan, aku tahu kau pasti berpikir kalau aku gila." lalu memandangi wajah Luhan dengan serius. "Aku tidak bermaksud untuk ingin lajang lagi, tapi aku hanya merindukannya. Saat dimana aku merasa... baik-baik saja ?"

"Maksudmu sekarang kau tidak baik-baik saja ?" Luhan melirik Baekhyun, seketika ia merasa cemas karena Baekhyun mulai membahasnya.

Baekhyun kembali mengangkat bahunya seolah tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Luhan, dan Luhan hanya bisa mengangguk seolah mengerti seakan tanpa diberi tahu pun Luhan yakin tidak mudah untuk Baekhyun mengatakannya.

"Menurutmu." kata Luhan mulai berhati-hati. "Mungkinkah dengan adanya bayi akan membuatmu bahagia dan hubungan kalian akan baik-baik saja ? Atau mungkin saja kau merasa seperti ini karena kau terlalu memikirkan soal bayi tapi tidak dengan kebahagiaan kalian ?"

"Apa maksudmu ?"

Luhan bersandar dikursinya, lalu menghela nafas pelan. "Kau tahu, selama kau mencari sesuatu dari orang lain untuk membuatmu merasa bahagia tanpa memikirkan apa orang itu pun akan merasa bahagia, kau tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang kau cari."

"Maksudmu saat ini aku dan Chanyeol tidak bahagia ?" protes Baekhyun.

"Kau yakin ini cerminan kebahagiaan yang kau inginkan sejak dulu ? Hingga kau rela melepaskan kebebasanmu ?" Luhan meneliti raut wajah Baekhyun untuk memastikan kalau ia tidak mengucapkan hal yang salah sebelum melanjutkan. "Aku mengerti kau hanya ingin membuat Chanyeol tetap disisimu tapi apa kau sudah benar-benar yakin kalau bayi adalah sebuah keputusan yang tepat ?"

Luhan tidak lagi memperdulikan kepedihan yang terpancar di mata Baekhyun saat ia menyinggung soal bayi dan Chanyeol, karena Luhan sudah tidak sanggup lagi melihat Baekhyun yang terus menerus merasa tertekan dengan kehidupannya saat ini.

"Aku sangat menyayangimu, Baekhyun. Kau tahu aku adalah orang yang selalu mendukung apapun keinginanmu selama ini, tapi percayalah kalau ternyata punya bayi bukanlah keputusan yang tepat, maka kau harus rela kehilangan banyak hal, seperti perasaan Chanyeol padamu misalnya."

Beberapa saat keduanya terdiam, Baekhyun tidak menemukan kata-kata untuk ia katakan dan Luhan tidak lagi menemui celah untuk kembali berbicara karena Baekhyun hanya terdiam.

Hingga suara dering ponsel milik Baekhyun yang bergetar diatas meja memecah keheningan diantara dua sahabat itu.

Baekhyun meraih ponselnya lalu memberi isyarat pada Luhan kalau ia akan menerima teleponnya diluar ruangan setelah melihat nama dari si penelepon.

Setelah keluar dari dalam restoran, Baekhyun menarik nafas dalam-dalam mencoba mengatur suaranya sebelum akhirnya menjawab panggilan.

"Ya, Jongin."

"Hai, Baekhyun. Kau sedang sibuk ?"

"Tidak, tidak juga. Hanya sedang makan siang diluar. Ada apa ?"

"Bisa bertemu ? Aku sudah menyelesaikan kontrak kerja sama-nya dan juga beberapa dokumen pelengkap lainnya yang harus aku perlihatkan padamu."

Baekhyun menolehkan kepalanya kearah dalam restoran melalui dinding kaca dibelakangnya, tepatnya di meja dekat jendela dimana Luhan masih disana, ikut memperhatikannya. "Apa harus sekarang ?"

"Kenapa ? Kau tidak bisa ?"

"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Baiklah, beri aku waktu setengah jam lagi."

"Baiklah, setengah jam lagi aku akan datang ke kantormu dan... "

"Jangan..." potong Baekhyun cepat, lalu setelahnya baru menyadari kalau ia sudah bertingkah berlebihan. "Ah, maksudku kau tidak perlu ke kantorku, aku saja yang akan kekantormu."

Hari ini Baekhyun memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor, karena setelah kejadian kemarin saat di pantry, ia tidak yakin akan berani menunjukkan wajahnya dikantor apalagi sampai bertemu dengan Taeyeon, Jessica dan Jongdae. Hal yang sungguh memalukan menurut Baekhyun kalau ia sampai menunjukkan wajahnya setelah kejadian itu.

"Ah, tapi... " ucap Jongin ragu-ragu. "Aku sedang tidak berada dikantor. Bagaimana kalau di apartemenku ?"

Baekhyun membulatkan matanya, ia merasa terjebak dengan keadaan yang tidak bisa ia temukan cara lain untuk menghindar, hingga akhirnya ia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.

"Baiklah, biar aku yang kesana. Kau bisa kirim alamatnya padaku. Aku akan berangkat tiga puluh menit lagi."

"Oh, baiklah kalau kau tidak keberatan. Sampai jumpa, Baekhyun."

"Ya, tentu sampai jumpa."

Baekhyun kembali ke mejanya dengan pandangan penuh selidik dari Luhan yang memang sedari tadi telah memperhatikannya.

"Dari siapa ?" tanyanya penasaran, bahkan sebelum Baekhyun sempat duduk dikursinya.

"Hanya seorang rekan kerja."

"Kalau hanya rekan kerja kenapa kau harus menjauh saat menerima teleponnya ?" sahutnya kembali dengan tidak sabar.

"Luhan, dia hanya seorang rekan kerja, aku harus keluar karena didalam sini sangat berisik. Aku tidak bisa mengangkat telepon tentang pekerjaan dengan suara yang berisik disekitarku, bisa-bisa aku dinilai tidak sopan."

Luhan akhirnya mengangguk karena memahami alasan masuk akal yang diberikan Baekhyun dan ia juga tidak berniat untuk bertanya lebih jauh lagi hingga membuat Baekhyun lega karenanya.

"Aku harus segera pergi, sebentar lagi jam makan siang sudah habis."

Luhan memang tidak tahu menahu kalau sekarang Baekhyun sedang cuti kerja, yang Luhan tahu saat ini Baekhyun hanya sedang izin keluar kantor untuk makan siang. Sebenarnya Baekhyun tidak ingin berbohong apalagi dengan Luhan, tapi ia tidak ingin membuat Luhan mengkhawatirkannya kalau sampai sahabatnya ini tahu apa yang telah ia alami kemarin.

"Baiklah." Luhan ikut berdiri dari kursinya walaupun dengan susah payah. "Aku juga harus segera pulang dan meminum obatku."

Luhan meraih Baekhyun kedalam dekapannya mengusap punggung sahabatnya yang semakin terasa rapuh dengan lembut. "Kau tahu harus menghubungi siapa saat membutuhkan, kan ?"

Baekhyun tersenyum. Ia tahu saat ini pasti Luhan tengah mengkhawatirkannya, sahabatnya yang satu ini tidak akan pernah membiarkan Baekhyun bersedih seorang diri, Baekhyun tahu perasaan tulus yang ingin Luhan tunjukkan padanya, bahwa ia ingin Baekhyun agar berbahagia.

Baekhyun balas memeluk Luhan, dengan sebuah perut pesar yang menghalangi keduanya untuk lebih erat. "Bukankah kata itu seharusnya aku yang mengatakannya padamu ? Seperti saat kau butuh tteokbokki dari Hongdae atau patbingsu yang ada di Gwangju ?" balas Baekhyun yang akhirnya membuat keduanya tertawa.


Pukul dua siang Baekhyun telah sampai didepan pintu besi apartemen Jongin. Setelah sekali lagi mengecek alamat yang dikirim Jongin kalau ia telah sampai di unit apartemen yang tepat, Baekhyun memberanikan diri menekan bel disebelah pintu.

Tak berapa lama kemudian pintu besi dihadapan Baekhyun terbuka. Seorang wanita berdiri dibalik pintu dihadapan Baekhyun menatapnya dengan penuh tanda tanya. Mata Baekhyun tanpa disengaja meneliti penampilan wanita dihadapannya dengan cepat, melihat dari bathrobe kebesaran yang ia kenakan saat ini, Baekhyun tidak yakin ia ada dalam posisi yang benar untuk menyimpulkan sesuatu.

"Maaf, apa ini apartemen milik Kim Jongin ?"

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali dan membuka pintu besi tersebut agar lebih luas terbuka dan mempersilakan Baekhyun masuk.

Baekhyun melangkahkan kakinya melewati wanita tadi, matanya menyapu sekeliling ruang tengah dengan penuh rasa ingin tahu sedangkan wanita tadi sudah menghilang dibalik salah satu pintu dibelakangnya.

Baekhyun menghampiri sebuah sofa besar dan menghentakkan tubuhnya begitu saja. Apartemen Jongin terasa sangat luas, ia memiliki sebuah ruang tengah yang besar dan didesain dengan gaya minimalis dan sangat terkesan maskulin. Sofa kulit berwarna hitam yang saat ini Baekhyun duduki, sebuah meja bar yang menyatu dengan dapur disudut ruangan dan beberapa buah lukisan artistik tergantung di dindingnya menunjukkan kalau ruangan ini memang di desain sesuai dengan kepribadian dari pemiliknya.

"Kau sudah sampai ?"

Baekhyun tersentak kaget, dengan cepat ia menoleh pada Jongin yang telah melangkah dari arah dapur dan kemudian menempatkan dirinya diseberang sofa dihadapan Baekhyun dengan membawa dua kaleng bir dan menyerahkan salah satunya pada Baekhyun.

Jongin mengenakan t-shirt hitam dan celana ripped-jeans berwarna senada membuatnya terlihat kasual dan... semakin tampan. Rambut coklatnya yang masih basah ia biarkan berantakan tanpa disisir, menimbulkan kesan manly yang memikat.

"Baekhyun ?"

Baekhyun tersadar dari keterpanaannya dan segera menundukkan kepalanya, merasa malu karena terlalu berlebihan saat memperhatikan Jongin.

"Maaf, aku... "

Suara Baekhyun terpotong oleh suara langkah ketukan sepatu wanita yang mendekat, membuat Baekhyun terhenti saat akan meneruskan ucapannya.

Wanita yang membukakan pintu untuk Baekhyun tadi melangkah kearah kedua orang yang sedang duduk disofa. Ia sudah tidak lagi memakai bathrobe kebesaran seperti saat 'menyambut' kedatangan Baekhyun tadi, melainkan ia telah mengenakan sebuah dress one-piece selutut dengan sepatu high-heels pada kaki rampingnya.

"Kau sudah ingin pergi ?" tanya Jongin.

"Ya, aku rasa kau sibuk karena memiliki tamu." ucap wanita itu dingin dan tanpa ekspresi.

Jongin tertawa pelan, lalu menghampiri wanita tersebut dan meraih pinggang rampingnya, ia mendaratkan satu kecupan dipipi wanita tersebut sambil berbisik. "Aku akan menghubungimu, sampai jumpa."

Setelah melepaskan rengkuhan tangan Jongin pada pinggangnya, wanita itu menghilang dibalik pintu depan, menyisakan Baekhyun yang menjadi salah tingkah karena tanpa diinginkan melihat adegan kedua orang tadi dihadapannya.

"Maafkan soal itu, tadi kau ingin bilang apa ?"

"Apa dia kekasihmu ?" tanya Baekhyun tanpa dapat dicegah, dan ia menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya tersebut.

Jongin pun ikut terkesiap dengan pertanyaan tiba-tiba dari Baekhyun, lalu tertawa pelan. "Bukan, hanya seorang kenalan. Kau tahu... one-night-stand."

Baekhyun membelalakkan matanya karena terkejut, ia tidak menyangka kalau Jongin akan dengan terang-terangan mengakui rekan one-night-standnya pada Baekhyun yang jelas-jelas adalah orang asing, atau lebih tepatnya saat ini berstatus sebagai rekan kerjanya. Untuk beberapa saat Baekhyun dapat merasakan tengkuknya yang merinding karena suasanya yang berubah dingin dan tegang, ia membuka kaleng bir yang tadi diberikan Jongin dan meneguk beberapa kali cairan itu hingga membasahi bibirnya yang tiba-tiba mendadak kering.

Jongin tertawa melihat wajah panik Baekhyun dan ia malah berniat untuk memancing Baekhyun lebih jauh lagi. "Kenapa kau begitu terkejut ? Apa kau tidak pernah melakukannya ?"

"Ya! Tentu saja tidak." pekik Baekhyun tiba-tiba, ia merasa telah diremehkan tanpa alasan. "Maksudku, aku sudah tidak lagi melakukannya."

"Kenapa ?"

"Karena... " Baekhyun menelan ludah, lalu kembali membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja terasa kering dengan cairan bir.

"Kau sudah memiliki anak ?"

"Tidak."

"Kau sudah menikah ?"

"Tidak!"

"Lalu apa alasannya ?" ucap Jongin seraya menatap tajam pada Baekhyun.

Baekhyun membalas tatapan Jongin, dan untuk beberapa saat ia tertegun dan berpikir. Namun ia tidak memiliki alasan apapun untuk membalas perkataan Jongin karena jelas saja ia tidak memiliki alasan.

"Hentikan!" pekik Baekhyun sambil membanting kaleng bir yang telah kosong diatas meja. "Kenapa kita membicarakan hal ini. Kau memangilku kesini kan untuk membicarakan soal kontrak kerja sama, dan sekarang dimana kontraknya ?" ucap Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan.

Ia juga berusaha mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca besar diapartemen Jongin yang tidak tertutup oleh tirai, berusaha memusatkan diri untuk menatap puncak gedung-gedung pencakar langit diluar jendela, demi untuk menghindari tatapan tajam dan senyum menyeringai dari Jongin.

"Lupakan soal kontrak itu." ucap Jongin lalu berdiri dari sofa dan kembali duduk tepat disamping kiri Baekhyun. "Karena kita sudah membahasnya, aku lebih tertarik untuk mengetahui tentang dirimu lebih jauh daripada membahas soal pekerjaan, jadi bagaimana dengan dirimu, Baekhyun ?"

"Apa yang kau inginkan ?"

"Apa dia orangnya ?"

"Dia, siapa ?"

"Pria yang mengajakmu berdansa saat pernikahan Kris dan Tao, apa dia kekasihmu ?"

"Kau melihatnya ?"

"Katakan saja, iya atau tidak ?" Jongin memberikan tatapan mendominasi seperti yang ia berikan saat terakhir kali Baekhyun mengantarnya ke lift setelah pertemuan dengan Junmyeon di kantornya.

Meskipun sofa besar yang ia duduki harusnya terasa empuk dan nyaman, tapi rasa gelisah dan gugup yang mengusai keadaan membuat Baekhyun tidak dapat duduk dengan tenang.

"Aku rasa kita tidak sedang dalam hubungan yang pantas untuk saling menceritakan tentang kehidupan pribadi, Kim Jongin." Baekhyun kembali menelan ludah semakin gugup. "Aku tidak tahu alasan mengapa kau seperti ini, tapi aku tidak... "

"Karna aku tertarik padamu." ucap Jongin santai. "Apa itu bisa menjadi alasan ?"

Baekhyun terpana untuk beberapa saat, otaknya terasa kosong dan pandangannya terasa memudar mendengar pengakuan dari Jongin. Belum sempat Baekhyun mencerna ucapan apa yang ia katakan, tiba-tiba saja Jongin memajukan tubuhnya semakin mendekat kearah Baekhyun.

Mata Baekhyun semakin membesar, nafasnya tertahan ditenggorokan saat bibir Jongin dengan cepat menyentuh bibirnya dan dengan perlahan mulai melumatnya.

Baekhyun berusaha mendorong tubuh Jongin yang semakin memojokkannya kearah sudut sofa yang menempel pada dinding, hingga akhirnya Baekhyun menyadari kalau ia sudah benar-benar terkurung oleh tubuh Jongin yang saat ini telah berpindah berada diatas tubuhnya.

Hingga Baekhyun pun tanpa sadar mulai terhanyut oleh permainan bibir Jongin pada bibirnya. Ia mulai memejamkan matanya menikmati ciuman lembut yang Jongin berikan padanya.

Baekhyun tidak lagi mengingat kapan terakhir kali ia merasakan ciuman yang lembut seperti saat ini, karna akhir-akhir ini yang ia rasakan hanyalah ciuman atas dasar sebuah pelengkap saat ia melakukan hubungan intim dengan Chanyeol.

Sesuatu yang selama ini tersembunyi didalam dirinya tiba-tiba bergolak hebat saat ciuman Jongin semakin bergairah dan berpindah pada tengkuknya yang mulai basah karena lidah Jongin yang terus bermain disana. Sesuatu yang telah lama sekali Baekhyun rasa telah hilang dari dalam dirinya semenjak berhubungan intim dengan Chanyeol menjadi sebuah kegiatan wajib hanya untuk membuat anak, bukan lagi sebagai sarana menyalurkan kasih sayang dalam hubungan keduanya.

Tanpa ragu, Baekhyun melingkarkan lengannya di pundak Jongin, pundak yang terasa tegap dan kokoh untuk menopang tubuh kecilnya. Baekhyun tidak dapat lagi menahan sisi liarnya untuk mencengkeram pundak Jongin menikmati dan ikut membalas ciumannya dengan gairah yang sama.

Saat tiba-tiba tangan Jongin membelai tubuhnya, Baekhyun hanya bisa mendesah. Ia bahkan sudah tidak memperdulikan lagi saat tangan Jongin mulai melepas satu per satu pakaian yang melekat ditubuhnya.

Baekhyun sudah tidak lagi dapat berpikir jernih, saat kabut kenikmatan yang terlalu pekat telah menguasai dirinya.

Baekhyun mendesah hebat saat Jongin mulai menelusuri setiap senti tubuhnya, dengan menggunakan tangan besarnya dan juga bibir tebalnya.

Kerinduan akan suatu hal yang telah lama tidak ia rasakan dan tersimpan terlalu dalam di dirinya mendesak keluar dan bergejolak hebat menuntut untuk segera dipuaskan.

Dan Jongin dengan senang hati memberikannya, hingga membuat Baekhyun semakin dalam terhanyut, dan semakin lupa akan segalanya.

Lupa tentang bayi.

Dan juga lupa tentang Chanyeol.

-To Be Continued-


Jangan komplain kalo ff ini akan terus berlarut-larut dan semakin banyak konfliknya karena ff ini masih panjaaaaannnggg jalan ceritanya /hehe/

Jadi jangan menuntut buat karakter baekhyun harus begini, atau karakter chanyeol harus begitu ya, kalo enggak sabar jangan coba-coba baca ff ini karena ff ini memang rencananya belum akan aku bikin tamat dalam waktu dekat :)

Ask me for questions by PM or Line ID chococone53 /bye/