Disclaimer : I DO NOT OWN NARUTO.. Kishimoto owns Naruto..(T_T)

Don't like don't read!

Warning: Perhatian cerita ini mengandung unsur seksualitas, umpatan, dan kekerasan. Untuk pembaca usia 18+.

.

.

SPECIAL THANKS TO:

Mizzy - Tempat Author mengadu dan memohon. Ide dan Saranmu Berarti Banget. Semoga tidak capek dengan gangguan Author.. Hehehe

Rierye, Ruki Matsumoto, Rukia, clary008, yuki, reinnne,V3Yagami, Valkyria Sapphire, Cutie white, mayu akira, Sky pea-chan, vvvv, j, Himeka Uchiha, Josephine Lancastrian, Anka-chan, Bella UchiHaruno, FujinSan, Mysunshine-hatake, Umu Humairo Cho, .crane: Ini update chapter terbaru. Mudah2an semakin suka!

Mona Rukisa-chan, kyu's neli-chan, Yue Heartphilia, lawliet cute, Sagaarayuki, Kikyo Fujikazu Suzuna nuttycookie, Yunna-chan, Rizuka Hanayuuki: Makasih ya. Jawabannya bisa dibaca di chapter ini.

Pink Uchiha, Riku Aida : Gpp koq! Hmm. Nanti Sasu marah kalo ada GaaSaku Lemon. Hehehhehe.

Sumbu Kompor : Makasih ya. Author seneng banget kamu menunggu cerita ini. Ini updatenya udah ada.

Garoo: Tinggal sedikit lagi. Chapter depan Sasu udah melunak. Ini updatenya.

Iya risaskey: Gaara partnernya Shinobi. Jadi partner Sasu juga. Ya, kita lihat perkembangannya.

Zoroutecchi : Iya Gaara udah ada. Hmm.. Kita lihat perkembangannya. Nanti Orochimaru bakal ngelakuin sesuatu ke Sasu lewat Saku.

Tabita Pinkybunny: Iya itu pil KB. Sakura belum mau hamil. Kasihan juga nanti makin stress Saku-nya. Suatu saat mungkin Author mempertimbangkan Saku hamil. Tapi itu terserah Sasu. Kan sumbernya Sasu. Hehehe!

Yoyoi: Lemonnya mungkin di chapter selanjutnya. Pairing Naruhina belum kelihatan disini. Tunggu chapter selanjutnya ya.

Choco-momo : Hmm.. kurang Hot ya. Author akan coba menulis lebih hot lagi * blush. Di chapter ini Sasu kejam loh!

Kenshin: Hehehehe. Kiba usaha juga. Iya itu pil KB. Mudah2an chapter ini bisa sedikit menjawab pertanyaanmu.

Dark Angel: Makasih ya! Author terharu banget! Hubungan Sasuke ama pacarnya ada di chapter ini. Kalo dia suka ama siapa duluan bisa dibaca di sini. Kalo suka mungkin Gaara kali ya. Tapi kalo cinta itu si devil Sasuke. Untuk Inoshika di chapter ini gak ada. Kasih kesempatan pairing lain.

...

Slave of Your Love

AU, OOC, Miss Typo, Gaje

Rate : M

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance

...

Summary:

Aku tidak pernah bermimpi untuk menjalani hidup seperti ini. Menjadi jaminan atas hutang ayahku dan hidup layaknya seperti seorang wanita penghibur. Bahkan hidup seorang wanita penghibur lebih baik dari apa yang kurasakan. Aku hanyalah seorang budak dan aku tidak bisa lari dari nasib hina yang mengikat hidupku ini. Bisakah aku keluar dari kehinaan ini? Ataukah takdirku yang sudah harus begini?

.

.

Recap:

"Baik. Kau sendiri bagaimana kabarmu, Gaara?"

"Sama denganmu," balas pria berambut merah itu.

"Jadi, kau berniat menginap di sini selama berada di Konoha?"

"Ya. Kau tahu sendiri, aku tidak suka dengan hotel. Kuharap tidak merepotkanmu,"

"Tentu saja, tidak. Kau selalu diterima disini." balas Sasuke dengan seringai dibibirnya. "Gaara, bagaimana dengan diskusi terakhir kita?"

"Tidak masalah. Kita bisa lakukan secepatnya,"

.

.

Chapter 6. Red-haired Knight in the Shining Armor

.

.

NORMAL POV

Pintu lift terbuka di lantai teratas gedung Hyuuga-Mart Stores Corporation. Sasuke, Gaara dan Tenten keluar dari lift, lalu berjalan menyusuri koridor yang mengarah ke ruang kantor Presiden Direktur. Mereka bertiga berhenti di depan meja sekretaris yang di tempati Yugao Uzuki.

"Selamat siang, Uchiha-san, Sabaku-san, dan Tenten-san," sapa Yugao ketika ketiga orang itu berhenti di depan mejanya. "Silahkan masuk. Neji-san telah menunggu kedatangan Anda."

"Hn," jawab Sasuke segera memasuki ruangan Neji diikuti oleh Gaara dan Tenten.

Neji menyambut kedatangan tiga orang tersebut. Di dalam, para Anbu lainnya, Rock Lee, dan Jiraiya telah duduk menunggu di sofa cokelat tua yang terletak di depan jendela kaca besar. Gaara memilih duduk di sebelah Shikamaru. Keduanya kemudian terlibat dalam pembicaraan ringan. Sasuke dan Tenten mengambil tempat di samping Neji dan Naruto. Selang beberapa menit, Tsunade, Shizune, Kakashi, Anko dan Gai tiba di ruangan itu. Kaca dan jendela lalu ditutup rapat untuk menjaga kerahasiaan pembicaraan (seperti pada saat di kantor Sasuke).

"Terima kasih sudah datang ke Konoha, Gaara. Kuharap, Sasuke sudah menyampaikan kepadamu alasan kami memanggilmu ke sini," kata Tsunade kepada Gaara.

"Ya, Tsunade-sama. Saya sudah selesai menyelesaikan sistem keamanan berlapis tinggi yang kalian pesan sebelumnya. Saya hanya butuh satu hari untuk meng-upgrade sistem lama kalian." jawab Gaara.

"Bagus. Kurasa itu cukup. Aku yakin selama ini ada yang mencuri informasi Shinobi dari luar sehingga pergerakan kita diketahui oleh Oto."

"Untuk sistem baru kali ini, Saya sudah mengembangkannya lebih canggih dari sebelumnya. Jadi, tidak akan mungkin ada lagi kebocoran informasi dari pihak-pihak yang tidak memiliki akses khusus."

Tsunade kemudian mengangguk. "Terima kasih, Gaara."

"Gaara, kami masih butuh bantuanmu," kata Kakashi kemudian. "Kau hacker yang hebat. Kami sangat membutuhkan kemampuanmu untuk mencuri informasi dari datebase Oto."

"Aku bersedia," Gaara mengangguk setuju. "Tapi, aku perlu Shikamaru untuk membantu pekerjaanku."

"Tak masalah," Shikamaru menyetujui.

Anko kemudian menatap Tsunade. "Tsunade-sama, bagaimana dengan misi Shinobi selanjutnya?" tanya Anko.

"Misi kita kali ini mengawasi Oto dan Akatsuki di Amegakure. Aku sudah menentukan siapa yang akan berangkat ke sana," Tsunade menatap pada anggota Shinobi yang akan ditugaskannya. "Rock Lee, Tenten, Gai, dan Naruto, kalian kutugaskan mengumpulkan informasi Akatsuki dan Oto. Misi ini cukup berbahaya. Aku ingin kalian berhati-hati. Jangan sampai kalian mati terbunuh."

"Baik, Tsunade-sama," jawab keempat orang tersebut.

"Ada lagi yang perlu kusampaikan pada kalian. Sepertinya ada mata-mata Oto yang menjadi anggota Shinobi. Aku belum bisa memastikan siapa orang itu." Tsunade menoleh ke arah Kakashi dan Anko. "Kakashi, Anko. Aku ingin kalian memantau gerak-gerik anggota Shinobi lainnya. Waspadai jika ada gerakan mencurigakan."

"Baik, Tsunade-sama," jawab Kakashi dan Anko serempak.

"Jiraiya, kau cari informasi dari anggota parlemen. Siapa tahu ada informasi yang berguna bagi Shinobi."

"Tenang saja," jawab Jiraiya menatap Tsunade dengan seringai mesum tersungging di bibirnya.

"SERIUS SEDIKIT! DAN JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU, TUA BANGKA!" bentak Tsunade kesal.

Jiraiya hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sambil memasang cengiran di wajahnya. Tapi Tsunade yakin, Jiraiya telah memahami betul tugasnya.

"Terakhir. Aku peringatkan pada kalian semua, jangan sampai membocorkan informasi ini pada anggota Shinobi yang lain. Kalian yang ada di sini adalah anggota terpercayaku. Dan ingat, jangan bertindak gegabah tanpa ada perintah apa pun dariku." Tsunade menatap Sasuke tajam. "Terutama kau, Sasuke."

"Hn," jawab Sasuke cuek.

Jawaban Sasuke cukup menimbulkan kerutan-kerutan kecil di dahi Tsunade. Namun, Tsunade mengacuhkannya, sebelum ia kalap dan menghajar bocah -Sasuke- yang tidak tahu hormat itu. 'Bocah jaman sekarang tidak tahu sopan santun,' gerutu Tsunade dalam hati.

"Hari ini cukup sampai sini. Jika ada masalah, hubungi aku secepatnya," Tsunade menutup pertemuan.

.

.

=/=

.

.

"YUHU! Akhirnya aku dapat misi," sorak Naruto girang seraya menari-nari aneh.

"Berisik. Tidak usah senang begitu, Dobe," tegur Sasuke kesal. Sasuke merasa iri, tapi tidak diperlihatkannya.

"Hee! Bilang saja kau cemburu karena kau tidak mendapat misi dari Tsunade-Baachan, Temee!" ejek Naruto sambil menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke.

"Cih! jangan harap, Baka." Sasuke semakin jengkel. Sasuke menahan emosinya untuk tidak menghajar Naruto.

Naruto mengabaikan Sasuke dan terus melanjutkan tarian anehnya, sambil menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

"Neji, aku pergi dulu. Kau bisa titipkan dokumen-dokumen untukku ke Tenten," ujar Sasuke seraya berjalan keluar, tidak tahan dengan kelakuan Naruto yang membuatnya sebal, sebelum ia tergoda membunuh Naruto di tempat.

"Woi, Temee! Jangan pergi, dulu!" panggil Naruto. Namun Sasuke sudah menghilang dari pandangan.

"Diam, Naruto. Kau berisik sekali," tegur Neji.

Naruto berjalan ke arah pintu. "Lebih baik aku mengunjungi Hinata di ruangannya. Daaghh Neji, Tenten!" Naruto pergi meninggalkan Neji dan Tenten berdua di ruangan Neji.

Tenten tersenyum kecil melihat kelakuan Naruto, sedangkan Neji mengutuk Naruto pelan. Keduanya kemudian terdiam ketika menyadari bahwa di ruangan itu tinggal mereka berdua. Keduanya saling menatap satu sama lain.

"Neji, dokumen untuk Sasuke-san, mana?" tanya Tenten memecahkan keheningan. Neji berjalan menuju mejanya, mengambil dokumen yang dimaksud, dan menyerahkannya kepada Tenten. Tangan mereka berdua tanpa sengaja saling bersentuhan.

"Aku pergi dulu. Sasuke-san sudah menunggu di mobil," ujar Tenten gugup.

Belum sempat Tenten berjalan pergi, tangan Neji dengan cepat memegang leher Tenten, memajukan wajah Tenten ke wajahnya, dan menyatukan kedua bibir mereka dalam ciuman yang lembut dan hangat. Bibir dan lidah mereka saling beradu, melepas segala kerinduan yang dirasakan keduanya seraya mengeratkan pelukan ke tubuh yang ada di hadapan mereka. Sayangnya, ciuman itu tidak berlangsung lama. Dengan berat, keduanya melepaskan ciuman mereka untuk menghirup oksigen yang habis akibat ciuman tadi.

"Hati-hati selama di Amegakure. Aku tidak ingin kau terluka," ekspresi Neji tetap dingin. Namun, ada kelembutan dan kekhawatiran yang tersirat di matanya. Tatapan yang hanya ia tunjukan pada Tenten seorang. Kedua tangannya mengusap lembut pipi Tenten.

"Ya, tenang saja, Neji. Aku bisa menjaga diri. Lagipula ada Naruto, Rock Lee, dan Gai-sensei," jawab Tenten menenangkan. "Aku harus pergi. Sasuke-san tidak akan mau menunggu lama."

"Hn. Aku akan mengunjungimu sebelum kau berangkat ke Amegakure," Neji mencium pelan kening Tenten lalu melepaskan pelukannya.

Tenten beranjak menghampiri pintu. Saat Tenten membuka pintu, ia bertemu dengan Hiashi Hyuuga, ayah Hinata, sekaligus salah satu pemilik perusahaan itu, kelihatannya akan menemui Neji. Tenten membungkuk untuk memberi hormat kemudian berjalan meninggalkan kantor itu.

Melihat Hiashi akan masuk, Neji buru-buru kembali duduk ke mejanya, mengelap cepat bekas ciuman di bibirnya dengan telapak tangan, dan menyibukkan dirinya dengan tumpukan dokumen dihadapannya.

"Neji, kau sedang sibuk?" tanya Hiashi ketika ia datang dan duduk di hadapan Neji. "Tidak, Paman. Apa kabar? Ada apa ke sini?" Neji menatap Pamannya.

"Baik. Sudah lama aku tidak datang ke sini. Aku hanya ingin memonitor perkembangan perusahaan dan juga ingin mengunjungimu dan Hinata." jawab Hiashi. "Bagaimana kondisi perusahaan sekarang?"

"Tidak ada masalah, Paman. Perusahaan kita berjalan baik dan terus bertumbuh dengan pesat. Aku berencana akan mengirimkan secepatnya laporan kinerja dan rencana jangka panjang perusahaan untuk Paman pelajari."

"Baguslah," Hiashi menatap mata Neji dalam-dalam. "Neji, kau masih berhubungan dengan sekretaris Sasuke, tadi? Ada perlu apa dia ke sini?" tanya Hiashi tajam.

"Tidak, Paman. Tenten-san kesini untuk mengambil dokumen kerja sama yang harus kuserahkan pada Sasuke," jawab Neji dingin.

"Kuharap kau mendengar peringatanku, Neji. Aku tidak mau kau diam-diam memiliki hubungan dengannya."

"Apa salahnya aku berhubungan dengan Tenten? Apa karena dia bukan dari kalangan kita, Paman?" Neji balas menatap Hiashi tajam.

"Kau pemimpin perusahaan kita. Utamakan tanggung jawabmu. Lupakan wanita itu. Atau aku yang akan bertindak," Hiashi bangkit berdiri. "Aku tak ingin membahas berulang kali persoalan yang sama. Ingat, Neji. Ini kulakukan untuk kebaikanmu," ujar Hiashi dingin kemudian meninggalkan ruang kantor Neji.

Neji menyandarkan tubuhnya kasar di kursinya. Ia memukul keras meja di depannya, menyalurkan seluruh kemarahannya di meja yang tak bersalah itu.


.

.

Sakura duduk sendirian di perpustakaan sambil membaca novel romantis yang ia ambil dari rak buku, sembari mengisi waktu luangnya. Di sinilah pelariannya untuk menghibur dirinya ketika ia merasa kesepian. Sebagai pelayan pribadi Sasuke, Sakura memiliki waktu luang yang lebih banyak dibandingkan para pelayan lainnya. Pekerjaan utamanya hanyalah mengurusi segala kebutuhan sang tuan rumah ketika ia berada di rumah. Sakura benar-benar menyukai cerita romantis. Kisah cinta sepasang anak manusia yang saling mencintai, menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Sakura tanpa sadar mulai berkhayal. Ia bertemu dengan belahan jiwanya, saling mencintai, dan hidup berbahagia. Sakura terlihat sangat serius ketika sedang membaca novel itu. Beberapa bab kemudian, ia sampai pada adegan 'percintaan' kedua tokoh utama. Hal itu membuat Sakura teringat dengan adegan persetubuhannya dengan Sasuke. Perbedaannya adalah pada novel, kedua tokoh utama melakukannya atas dasar cinta, sedangkan sakura dan sasuke melakukannya untuk kepuasan semata.

Sasuke telah mengubah hidupnya menjadi pemuas kebutuhan biologisnya tanpa mempedulikan perasaan Sakura. Kapan pun dia membutuhkan sex, Sakura harus melayaninya. Tak terhitung banyaknya waktu yang mereka habiskan hanya untuk bercumbu. Sasuke seolah tak pernah puas. Namun, yang tidak Sakura mengerti, tubuhnya seolah-olah terhipnotis dengan pesona Sasuke. Tubuhnya bergerak mengikuti naluri jasmani ketika ia bersama Sasuke. Sakura tak bisa mengelak bahwa ia juga merasakan kenikmatan yang hebat, pada persetubuhan itu. Sasuke benar-benar tahu bagaimana cara memuaskan seorang wanita. Sakura masih dapat merasakan bagaimana rasanya bibir, lidah dan tangan Sasuke yang menyentuh bagian-bagian sensitifnya dengan lihai. Belaiannya mampu membangkitkan gairahnya, yang selama ini terkubur dalam-dalam di tubuhnya. Ditambah lagi, wajah kepuasan Sasuke ketika ia mencapai klimaksnya, entah mengapa memberikan rasa bangga tersendiri pada Sakura.

Hawa panas tiba-tiba menyeruak dari pangkal paha Sakura dan menjalar ke seluruh tubuhnya, ketika ingatan itu berputar kembali berputar dibenaknya. Tubuh Sakura bergetar, seperti pada saat Sasuke memanjakan tubuhnya. Sakura lalu mengutuk tubuhnya yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan fisik pada majikannya. Tubuhnya bergerak melawan perintah otaknya pada saat bersama Sasuke. Otaknya berusaha menolak seluruh sentuhan lembut Sasuke di tubuhnya, namun tubuhnya malah dengan senang hati menerima, bahkan meminta lebih.

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengenyahkan seluruh ingatan dan pikiran kotor yang berkaitan dengan majikannya. Sakura telah berjanji pada dirinya bahwa dia tidak akan jatuh hati pada pria itu. Sasuke bisa saja memiliki tubuhnya, tapi tidak dengan hatinya. Rasa benci terhadap pria itu berulang-ulang dia perintahkan ke otaknya. Ia akan terus membenci Sasuke Uchiha, pria pemerkosa, pembunuh, dan penyiksa itu.

Sakura kemudian mengalihkan seluruh perhatiannya dari Sasuke ke novel yang sedang ia baca.

'Seandainya ada seseorang yang menolongku dari kehidupanku yang seperti ini,' Sakura berkhayal. 'Ah. Tidak mungkin. Mana ada orang yang akan menerimaku yang telah ternoda seperti ini,' pikir Sakura sedih dalam hati.

"Apa yang kau lakukan?" suara berat terdengar tidak jauh dari tempat Sakura duduk.

Sakura sontak kaget dan menolehkan wajahnya ke arah pemilik suara itu. Sakura mendapati seorang pria berambut merah yang duduk di hadapannya, dengan sebuah White Macbook Air Apple terletak di pahanya. Pria itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya dari laptop di depannya.

Sakura hanya terdiam. Semburat merah segera memenuhi wajah Sakura ketika mengetahui dirinya tertangkap basah sedang melamun.

"Apa yang kau lamunkan? Raut wajahmu terlihat aneh ketika kau sedang melamun," ucap pria itu dingin.

"Sa-saya ti-tidak melamun. Sa-saya sedang membaca, Sabaku-sama." sanggah Sakura gugup.

"Hmm. Benarkah? Kau hebat sekali bisa membaca tanpa melihat buku yang ada di hadapanmu," sindir Gaara.

Sakura terdiam malu mengetahui ia tidak bisa lagi mengelak dari pria itu. Semburat merah di wajahnya semakin lama meluas hingga ke telinga Sakura.

"Aku penasaran dengan buku yang kau baca. Seberapa menariknya buku itu sehingga membuatmu melamun? Raut wajahmu berubah-ubah seperti orang aneh."

"Maaf," gumam Sakura pelan.

'Wanita aneh,' pikir Gaara dalam hati.

"Siapa namamu?"tanya Gaara lagi.

"Nama Saya Sakura Haruno, Sabaku-sama."

"Kau tidak bekerja?"

"Saya sedang tidak ada pekerjaan. Tugas Saya hanya melayani kebutuhan Sasuke-sama selama dia di rumah," jawab Sakura malu-malu. Sakura menutup novel yang ia pegang. Ia tidak mungkin lagi bisa melanjutkan kegiatan membacanya.

"Oh. Jadi kau adalah 'pelayan' pribadi Sasuke, ya. Kau tidak malu menjual tubuhmu demi memperoleh uang?" ejek Gaara.

Perkataan Gaara itu memukul telak Sakura. Gaara telah menghinanya dan memandang rendah martabatnya. Air mata kemarahan merebak di pelupuk matanya.

"Anda tidak berhak menilai saya seenaknya. Orang kaya seperti Anda tidak akan mungkin mengetahui kehidupan orang miskin seperti saya," Sakura tidak bisa menahan luapan emosinya. Bulir-bulir air mata jatuh di kedua pipinya.

"Permisi, Sabaku-sama," Sakura bangkit berdiri, mengembalikan novel yang ia baca di rak buku, dan keluar dari perpustakaan, meninggalkan Gaara yang kini diliputi rasa kaget dan penyesalan.

.

.

=/=

.

.

Musim telah berganti menjadi musim dingin. Sebagian besar orang akan memutuskan untuk tidak berlama-lama di luar dan memilih menghabiskan waktu di dalam rumah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi wanita berambut pink, bernama Sakura. Emosi yang melanda wanita itu menyebabkan ia menjadi kurang waras. Di saat orang memilih berada di dekat perapian dan menyesap secangkir minuman panas untuk menghangatkan tubuh mereka, wanita berambut pink itu malah berada di luar, di tengah tumpukan salju sembari meluapkan emosinya.

Sakura membersihkan dengan kasar timbunan salju yang menumpuk di halaman belakang dekat gudang. Ia masih kesal atas hinaan Gaara yang seenaknya menilai dirinya tanpa mengetahui apa-apa. Sakura merasa pria itu benar-benar dingin dan tidak berhati.

'SEMUA ORANG KAYA BENAR-BENAR MENYEBALKAN!' teriaknya dalam hati. Ia menggembungkan kedua pipinya dan membuang nafasnya kasar dari mulut, menandakan ia sedang marah.

Sakura memeluk erat-erat badannya untuk menambahkan rasa hangat di tubuhnya yang mulai menggigil, akibat suhu udara yang sangat dingin. Jaket dan sarung tangan tebal yang sekarang ini dipakainya belum cukup menghangatkan tubuhnya. Wajahnya telah memerah karena kedinginan.

Bunyi langkah kaki terdengar dari belakang punggungnya. Sakura menoleh ke belakang dan melihat Gaara sedang menuju ke arahnya. Wajah Sakura semakin mengerut kesal dan memilih mengabaikan pria itu.

"Kau memang wanita aneh. Manusia normal tidak akan mungkin berada di tengah salju begini," ejek Gaara ketika ia berdiri di samping Sakura. Ada nada geli tersirat di suaranya.

"Jangan mengganggu, Sabaku -sama. Saya sedang bekerja," balas Sakura kesal. Sakura terus melanjutkan kegiatannya tanpa memperhatikan pria di sampingnya

"Maaf. Tidak seharusnya aku berkata seperti tadi," kata Gaara dingin, namun terdengar tulus.

Sakura diam dan menatap mata Gaara dalam-dalam, mencari tahu apakah ada kebohongan yang tersirat di matanya. Tapi sorot mata Gaara mengatakan penyesalan yang dalam. Sakura akhirnya memutuskan untuk meredakan emosinya dan memaafkan pria itu.

"Ya. Saya memaafkan Anda. Saya yakin semua orang pasti akan berpikiran seperti Anda, Sabaku-sama," Sakura berusaha menghibur dirinya.

"Kau benar. Aku tidak berhak menilai dirimu buruk. Apa yang kau lakukan dengan hidupmu, itu urusanmu,"

Sakura hanya tersenyum miris dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tanpa Sakura sadari, Gaara diam-diam mempelajari ekspresi wajahnya.

"Kau yakin akan bekerja di tengah salju seperti ini?" tanya Gaara kemudian.

"Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa," jawab Sakura berbohong. Ia hanya ingin mendinginkan pikirannya di tengah salju yang berjatuhan.

"Terserah," jawab Gaara kemudian membuka syal tebal merah yang terlingkar di lehernya dan topi rajutan hitam di kepalanya, kemudian memakaikannya pada Sakura. "Pakailah. Ini akan menghangatkanmu."

"Te-terima kasih, Sabaku-sama," wajah Sakura semakin merona merah ketika Gaara memakaikan syal dan topinya kepada Sakura. Jarak tubuh mereka sangat dekat sehingga Sakura dapat merasakan kehangatan yang berasal dari tubuh Gaara,

"Tidak usah terlalu formal. Panggil namaku saja."

"I-iya Sa- Eh, Ga-Gaara-san," jawab Sakura agak kikuk.

Gaara memasukkan tangannya ke saku dalam jaketnya, mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya kepada Sakura. "Kau sepertinya suka membaca novel. Ini, bacalah. Novel ini sangat bagus."

"Ya, te-terima kasih, Gaara-san. Saya akan segera mengembalikan pada Anda setelah saya selesai membacanya," jawab Sakura sambil menerima novel misteri romantis yang diserahkan Gaara.

"Kau bisa mengembalikannya kapan pun kamu mau," Gaara mundur selangkah, membalikkan badannya, dan berjalan meninggalkan Sakura. Ditengah jalan, Gaara berbalik ke arah Sakura sejenak. "Sering-seringlah ke perpustakaan. Rasanya aneh kalau terlalu sepi," ujar Gaara. Tanpa menunggu jawaban Sakura. Gaara kembali berjalan dan masuk ke dalam rumah.

Seulas senyum kecil terbentuk di bibir Sakura sembari melihat punggung Gaara yang menghilang di dalam rumah. Dalam hati, ia bersyukur karena pria berambut merah itu tidak sedingin dari yang ia bayangkan sebelumnya.


.

.

"Shiho, apa masih ada yang perlu aku bantu?" tanya Sakura setelah selesai membantu Shiho membereskan seluruh belanjaan bulanan yang baru Shiho beli dari kota.

"Tidak perlu. Kau istirahat saja." jawab Shiho.

"Kau yakin?" tanya Sakura lagi.

"Iya, Sakura. Tidak ada lagi," Shiho meyakinkannya. "Sakura, Aku harus ke ruang makan memeriksa pekerjaan Kin. Pekerjaannya selalu tidak beres," keluh Shiho.

"Baiklah, kalau begitu. Aku akan membaca di perpustakaan," ujar Sakura.

Sakura lalu mengambil sebuah cangkir, menaruh beberapa sendok bubuk cokelat, dan menuangkan air panas. Setelah selesai, Sakura menaruhnya di nampan dan bergegas keluar dapur.

"Cokelat itu untuk siapa, Sakura?" tanya Shiho yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Sakura sebelum Sakura keluar dapur.

"Oh, ini untuk Gaara-sama, Shiho," jawab Sakura canggung.

"Ternyata yang membuatmu akhir-akhir ini rajin ke perpustakaan karena Gaara-sama, ya?" goda Shiho.

"Aku tidak ada apa-apa dengan Gaara-sama, Shiho" Sakura memerah malu.

"Oh ya. Hampir setiap hari kalian berduaan di perpustakaan. Kalian tidak melakukan sesuatu, kan?" Shiho menggoda lagi.

"Tidak, Shiho! Aku dan Gaara-sama hanya mengobrol tentang buku. Gaara-sama sangat baik mau membagi info tentang buku-buku yang menarik," jawab Sakura dengan binar senang.

"Ya, sudah. Hati-hati membawa cokelatnya."

"Iya," ucap Sakura seraya meninggalkan dapur.

Shiho memandang punggung Sakura dengan gelisah. Perasaannya tidak tenang dengan kedekatan Sakura dan Gaara. Shiho merasa Sasuke tidak akan menyukainya. Shiho benar-benar tidak menyetujui cara Sasuke yang memperlakukan Sakura selama ini. Apa daya, dia tidak mungkin bisa melarang dan melawan majikannya yang mempekerjakannya.

'Kuharap, Sakura akan baik-baik saja,' pikirnya kasihan.

.

.

=/=

.

.

Sakura memasuki ruang perpustakaan. Perpustakaan itu cukup besar dan suasananya sangat nyaman. Ruangan itu ditata sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna perpustakaan. Deretan lemari buku diatur mengelilingi ruangan itu. Di tengah-tengahnya terdapat satu meja panjang dan sofa putih besar yang melingkari meja itu. Buku-buku yang ada sangat beragam dan lengkap. Dari buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sampai dengan novel-novel fiksi tersimpan di situ. Buku tua maupun buku baru, tersimpan rapi di rak-rak buku. Pemilik perpustakaan ini bisa dikatakan pecinta dan pengoleksi berbagai buku.

Sakura mendapati Gaara sedang sibuk dengan laptopnya. Sakura mendekati Gaara dan meletakkan cangkir berisi minuman cokelat itu di samping laptopnya, di atas meja. "Gaara-san, ini untukmu."

"Terima kasih. Kau tidak perlu repot membuatnya untukku, Sakura," Gaara mengangkat wajahnya memandang Sakura.

"Tidak apa-apa. Ini ucapan terima kasihku karena kau sudah meminjamkan novel padaku minggu lalu. Maaf baru sekarang membalasnya, Gaara-san," kata Sakura menunduk malu.

"Sama-sama," Gaara kembali berkutat dengan laptopnya.

Sakura menuju ke deretan rak buku dan mencari novel berjudul Alice in Wonderland karangan Charles Lutwidge Dodgson, yang belum selesai ia baca. Setelah menemukan buku yang dicari, Sakura duduk di samping Gaara dan mulai larut dalam buku bacaan yang diambilnya.

"Sakura?" panggil Gaara setelah beberapa saat yang lalu keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.

"Huh!" Sakura memalingkan kepalanya menatap Gaara.

"Apa buku itu bagus, Sakura?" tanya Gaara dengan suara yang terdengar lelah.

"Aku belum selesai membacanya. Tapi sejauh ini, alur ceritanya cukup simpel dan menurutku sangat inspiratif," jawab Sakura.

"Oh ya. Bagaimana ceritanya?" tanya Gaara cukup penasaran.

"Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Alice yang masuk ke dalam lubang kelinci dan terperangkap di sebuah negeri yang bernama Wonderland. Alice harus menghadapi berbagai tantangan yang terjadi di Negeri itu untuk bisa kembali ke dunianya semula."

"Oh ya. Cukup menarik."

"Bagiku cerita ini sangat bagus. Alice memberikan inspirasi bagiku untuk tidak menyerah dengan segala tantangan yang muncul," kata Sakura berbinar-binar.

Bibir Gaara tertarik membentuk seringai kecil ketika melihat ekspresi Sakura. Gaara cukup kagum dengan kegigihan Sakura. Mereka berdua memiliki kesukaan yang sama terhadap buku, sehingga membuat Gaara dan Sakura menjadi dekat. Hanya butuh beberapa hari saja, mereka sudah berteman dekat. Mereka berdua cukup sering menghabiskan waktu mengobrol dan membaca di perpustakaan rumah Sasuke ketika Sasuke berada di kantor. Setelah cukup lama mengenal Sakura, Gaara menyimpulkan bahwa Sakura adalah wanita yang mandiri dan pintar. Gaara sering memperhatikan Sakura ketika wanita itu tidak mengetahuinya. Gaara kagum dengan pendapat yang Sakura lontarkan saat mereka berdiskusi. Sakura akan menyerukan sesuatu yang menurutnya benar dan gigih dalam mempertahankan pendapatnya.

Walaupun Gaara tahu bahwa Sakura merupakan wanita simpanan (merangkap pelayan) Sasuke, tapi hal itu tidak membuat Gaara meremehkan dan memandang rendah Sakura. Sakura berbeda dengan wanita-wanita lainnya, yang bersedia menjadi wanita simpanan hanya untuk hidup senang dan mewah. Gaara bisa membaca raut wajah Sakura yang telihat tidak bahagia. Gaara tahu bahwa Sakura sepertinya terpaksa menjalani hidup seperti itu. Mata emerald-nya yang indah tidak memancarkan kebahagian. Kadang kala, senyum wanita itu sekilas seperti dipaksakan. Gaara bisa menebak bahwa penyebabnya tidak lain adalah Sasuke. Sikap Sasuke yang dingin dan seolah tak peduli bila berhadapan dengan Sakura, jelas-jelas menyakiti wanita itu. Hal itu menggerakkan hati Gaara untuk mendekati Sakura dan menjadi temannya, untuk membuat Sakura bisa kembali tersenyum dengan tulus. Setidaknya, membuat Sakura tersenyum mampu memberikan kebahagiaan tersendiri di hatinya.

Gaara bersandar dengan malas di kursinya sambil tetap mendegar ocehan Sakura mengenai novel yang sedang ia baca.

"Maaf, Gaara-san. Kamu pasti bosan dengan ocehanku," kata Sakura saat melihat ekspresi Gaara yang terlihat lelah.

"Tidak. Aku hanya lelah karena terus bekerja," jawab Gaara sambil memijat pelan dahinya.

"Eh! Jadi, kau terus bekerja dari tadi?" tanya Sakura khawatir. "Sebaiknya kau istirahat dulu. Tidak baik untuk kesehatan jika terus memaksakan diri."

"Ya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini untuk Sasuke sebelum kembali ke Sunagakure."

"Hahh! Kapan kau akan kembali ke Sunagakure?" tanya Sakura kembali dengan sedikit nada kekecewaan yang tersirat di dalamnya.

Sakura kecewa mendengar keberangkatan Gaara yang akan membuatnya kesepian. Bagaimanapun juga, Sakura telah menganggap Gaara teman baiknya dalam waktu yang singkat, setelah pertemuan mereka.

"Lusa. Aku sudah cukup lama meninggalkan pekerjaanku di sana. Aku tak bisa menelantarkan pekerjaanku begitu saja."

"Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Tak terasa kau sudah dua minggu berada di Konoha," ucap Sakura. "Kau akan datang mengunjungi Konoha lagi?" Sakura terlihat berharap.

"Ya. Aku masih ada pekerjaan penting di Konoha. Aku akan kembali lagi ke sini," jawab Gaara. "Kenapa, kau akan kesepian selama aku tak ada?"

"Ya. Aku akan kesepian kalau kau pergi. Tidak akan ada lagi orang yang akan menemaniku membaca," kata Sakura jujur.

"Tenang saja. Aku hanya beberapa hari di Suna. Jangan terlalu merindukanku," ejek Gaara.

"Tak mungkin," Sakura mengelak sambil tersenyum.

Sakura merasa akan ada suatu perasaan yang hilang dengan ketidakhadiran Gaara. Walaupun kepergiannya hanya sebentar, Sakura yakin akan ada perasaan hampa di hatinya. Namun, ia masih tidak paham perasaan apakah itu.

'Apa aku menyukai Gaara?" tanya Sakura dalam hati.


.

.

Sasuke menghampiri meja di ruang kerjanya (di rumah) dan menjatuhkan tubuhnya malas di kursi. Ia melonggarkan dasi di lehernya dan memijat pelan dahinya yang terasa agak pening. Pekerjaannya benar-benar tidak ada habisnya. Pertemuan dengan klien, rapat dengan pemegang saham, rapat internal manajemen, dan tinjauan lapangan proyek-proyek yang sedang dibangun, semuanya cukup menguras energinya. Apalagi, ada beberapa masalah kecil yang terkait dengan salah satu perusahaannya, membuat Sasuke harus turun tangan menyelesaikannya sendiri karena kurang tanggapnya pengurus perusahaan dalam mengambil keputusan. Tidak mengherankan bagi seorang Sasuke Uchiha, pemimpin dan pemilik perusahaan besar Uchiha International Corporation (peninggalan orangtuanya), memiliki jadwal yang sangat padat. Perusahaannya memiliki banyak anak perusahaan, yang tersebar di Konohagakure dan di beberapa negara lainnya, yang mau tak mau harus diawasi perkembangannya.

Sasuke adalah orang yang sangat mendedikasikan dirinya demi kemajuan perusahanya. Kepintaran dan keahlian bisnis yang dimilikinya, mampu membawa dirinya yang masih berusia 22 tahun, sebagai salah satu pengusaha muda tersukses dan orang terkaya nomor dua di Konohagakure. Ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan dirinya sebagai salah satu "The Most Wanted Bachelor" incaran seluruh gadis maupun wanita (termasuk ketiga sahabatnya). Tapi, hal itu tidak mendorongnya menjadi seorang playboy yang gemar gonta-ganti pasangan.

Kesibukannya membuat dirinya tidak terlalu mementingkan yang namanya relationship dengan lawan jenisnya. Sasuke hanya pernah berpacaran dengan beberapa wanita (termasuk saat ini), yang menurutnya dianggap tidak masuk dalam kategori fangirl dan memiliki latar belakang sama dengannya. Hubungan yang dibina pun hanya karena untuk memenuhi kebutuhan biologisnya sebagai seorang pria normal. Sasuke sering menyembunyikan hubungan dekatnya dengan seorang wanita pada masyarakat. Ia lebih suka hubungan pribadinya tidak dikonsumsi publik.

Hubungan yang dimiliki Sasuke memang hanya dilandaskan pada sex semata, dikarenakan sampai saat ini, belum ada satu wanita pun yang mampu membuat Sasuke Uchiha jatuh cinta. Sasuke belum berpikir untuk menikah dan membentuk keluarga. Masih ada hal lain yang perlu dia capai. Ia masih punya ambisi lain. Kekasih Sasuke pun sama sekali tak keberatan. Selama mereka memperoleh yang diinginkannya, mereka tidak pernah mengeluh. Bisa ditebak, sebagian besar wanita yang mendekati Sasuke, hanya mencari kekayaan, ketampanan dan ketenaran yang dimilikinya saja. Tentu saja, sulit mencari seseorang yang tulus menerima Sasuke apa adanya di jaman sekarang ini, tanpa diikuti embel-embel dibelakangnya.

Sasuke menyandarkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya mencari ketenangan. Selain pekerjaan dan jadwal padat yang memenuhi pikirannya, ada 'sesuatu' yang akhir-akhir ini mengganggu otaknya. 'Sesuatu' itu, tidak lain merupakan budak wanita yang sudah memasuki kehidupannya. Entah mengapa, wajah wanita itu selalu menghantui benaknya. Sasuke tidak tahu apa sebabnya, wanita berambut pink itu tidak bisa hilang dari pikirannya. Hal itu, sangat mengganggu bagi sang Uchiha bungsu. Bagaimana tidak. Hampir setiap saat, pikirannya kembali pada ingatan saat-saat mereka berdua bercumbu. Lebih parahnya lagi, hal itu terjadi pada saat ia sedang berada dalam rapat internal perusahaan, tadi siang.

Rapat tersebut, Sasuke akui, cukup membosankan baginya. Ia harus mendengarkan penjelasan panjang lebar–membosankan- para bawahannya yang notabene sudah diketahui Sasuke. Tanpa sadar, pikiran Sasuke melayang pada ingatan erotis yang terjadi pada malam sebelumnya, melibatkan pergumulan antara dirinya dan Sakura. Tentu saja, lamunan tersebut sukses membuat Sasuke terangsang di tengah rapat, yang dihadiri beberapa pengurus perusahaannya. Untungnya, Sasuke masih bisa menjaga image-nya dan berusaha menutupinya agar tidak dicurigai karyawannya. Namun, hal itu sangat memalukan bagi seorang Sasuke Uchiha, yang seharusnya fokus pada pekerjaannya dan bukan memikirkan wanita itu. Gila bukan. Sasuke tidak tahu harus menyalahkan siapa. Wanita berambut pink itu atau dirinya sendiri.

'Benarkah keputusanku menjadikan dia budak?' Sasuke bertanya kembali pada dirinya sendiri.

Suara tawa yang berasal dari halaman belakang menyadarkan Sasuke dari pikirannya. Sasuke menoleh ke arah jendela, mencari tahu apa yang terjadi di luar. Suara tawa itu berasal dari seorang anak kecil yang sedang membuat boneka salju bersama seorang wanita. Anak kecil itu bernama Inari, putra salah satu pelayannya, Tsunami. Sedangkan wanita yang menemani Inari, tidak lain adalah wanita yang telah menghantui pikirannya, Sakura. Mereka terlihat asyik dengan membuat orang-orangan salju.

Sasuke dengan seksama memperhatikan Sakura. Rambutnya yang tergerai indah di punggungnya, mata emerald-nya yang berbinar senang ketika membentuk bulatan salju, dan senyum kecil yang terbentuk di bibirnya ketika membantu Inari. Tanpa sadar, ada perasaan tenang yang meliputi hati sang Sasuke Uchiha ketika melihat ekspresi Sakura. Sayangnya, ekspresi Sakura tersebut tidak pernah Sakura perlihatkan di depan Sasuke. Selama ini, Sakura hanya memandangnya dingin dan ada sebersit kebencian di mata hijau emerald-nya saat sedang berhadapan dengan dirinya. Sebuah senyum kecil terbentuk di bibir Sasuke ketika ia terus memperhatikan wanita itu.

Perasaan tenang yang dirasakan Sasuke tidak berlangsung lama. Perasaan itu hilang ketika seorang pria berambut merah, bernama Gaara, mendatangi dua orang yang sedang membuat boneka salju itu. Gaara menghampiri Sakura dan duduk di samping Sakura, yang sedang berlutut sambil membentuk boneka salju itu. Mereka berdua terlihat mengobrol santai dan sesekali Sakura tersenyum mendengar apa yang dikatakan Gaara. Emosi mulai memenuhi Sasuke. Mata Sasuke menatap marah pada pria yang sedang bersama dengan budaknya. Ditambah lagi, senyum Sakura yang ditujukan pada Gaara semakin memperbesar api kemarahan Sasuke. Sakura seharusnya tidak boleh akrab dengan pria lain. Senyum itu seharusnya hanya ditujukan pada dirinya. Sasukelah pemiliknya, bukan Gaara.

Suara ketukan tiba-tiba terdengar di balik pintu.

"Masuk," panggil Sasuke.

"Permisi, Sasuke -sama. Saya membawakan kopi hitam pesanan Anda," kata Genma masuk dan meletakkan kopi itu di meja.

"Hn," balas Sasuke.

"Apa Anda membutuhkan yang lain?" tanya Genma setelah ia meletakkan cangkir kopi itu.

"Genma, apa yang Sakura lakukan di rumah?" tanya Sasuke balik. Ada nada menginterogasi di suaranya.

"Sakura sering membantu Shiho, Haku dan Tsunami setelah ia membersihkan kamar Anda. Kadang-kadang ia membantu Jirobou di halaman belakang. Setelah itu, Sakura akan berada di perpustakaan," jawab Genma.

"Apa yang dilakukannya di perpustakaan?"

"Sakura membersihkannya. Kemudian, ia akan membaca sebentar. Saya sudah mengijinkannya, Sasuke-sama. Selain itu, Gaara-sama juga tidak keberatan dengan kehadiran Sakura di perpustakaan."

"Gaara sering berada di perpustakaan?" tanya Sasuke tajam. Suaranya terdengar tidak senang.

"Ya. Gaara-sama sering berada di perpustakaan, sibuk mengerjakan sesuatu," jawab Genma. "Apa ada masalah, Sasuke-sama?" Genma merasa was-was. Majikannya terlihat marah.

"Tidak ada. Kau boleh pergi, Genma," perintah Sasuke.

"Permisi, Sasuke-sama," Genma membungkuk hormat kemudian meninggalkan ruangan itu.

Sasuke terlihat tidak tenang. Ia tidak suka mendengar Sakura bersama-sama dengan Gaara. Ia memainkan sebuah pensil di jari-jari tangan kanannya, menandakan ia sedang panik. Wajah Sasuke terlihat sangat marah. Urat-urat menonjol di dahinya. Matanya berubah menjadi merah. Sasuke mencengkram erat pensil yang ada ditangannya, mematahkan pensil itu dengan tekanan kuat dari telapak tangannya.


.

.

Esok harinya, ketika waktu menunjukkan pukul 02.00 siang, kediaman keluarga Uchiha terlihat sangat sepi. Para pelayan sedang beristirahat sejenak. Dari balik pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, sepasang mata onyx diam-diam memperhatikan interaksi yang terjadi di antara dua manusia yang berada di dalam perpustakaan. Pria itu menatap tajam dua orang lawan jenis yang terlihat sangat akrab satu sama lain. Sang wanita –berambut pink- berjalan mendekati deretan rak buku dan melihat-lihat, seolah sedang mencari buku yang akan dibaca. Tak lama, pria berambut merah mengikuti wanita itu. Pria itu menghampiri sang wanita. Pria itu kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke hadapan wajahnya, menyandarkan punggung wanita itu di rak buku belakangnya, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu, hingga berjarak beberapa sentimeter.

Tatapan mata onyx itu tiba-tiba membesar kaget, tidak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Matanya berubah menjadi merah. Api kemarahan memancar dari sorot mata pemuda itu. Tanpa sadar, pemilik mata onyx itu telah mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat. Tidak tahan dengan pemandangan di hadapannya, pria itu mundur, menutup pintu perpustakaan perlahan-lahan, dan meninggalkan kedua insan itu dalam kesenangan.

.

.

=/=

.

.

"Matamu sudah tidak apa-apa?" tanya Gaara sambil meniup mata kanan Sakura yang perih karena debu yang masuk ke dalam matanya.

"Masih sedikit perih," kata Sakura sambil membuka-menutup kelopak matanya yang terasa pedih.

Gaara kembali meniup mata Sakura bermaksud mengeluarkan debu yang masuk ke mata Sakura.

"Sudah tidak apa-apa," kata Sakura kemudian.

"Kau yakin?" Gaara menjauhkan badannya sedikit.

"Ya," jawab Sakura memerah karena mengetahui kedekatan wajah mereka sebelumnya. "Di rak sini ternyata banyak debunya. Aku harus segera membersihkannya."

Sakura mulai menurunkan buku-buku yang ada di rak yang berdebu untuk dibersihkan.

"Hati-hati," Gaara kembali duduk, mengambil laptopnya dan meneruskan pekerjaannya.


.

.

Sakura duduk dengan santai di perpustakaan dengan sebuah buku di tangannya. Sakura sedang menunggu Gaara untuk mengucapkan salam perpisahan, sebelum Gaara berangkat ke Suna. Suara langkah kaki terdengar memasuki perpustakaan. Langkah sepasang kaki itu sedang menuju ke arah Sakura. Sakura menghentikan kegiatan membacanya untuk menyambut kedatangan orang yang ditunggunya.

"Kau sudah datang, Gaa-" kata-kata Sakura terhenti ketika melihat siapa yang sedang berjalan menghampirinya. Kedua matanya terbelalak lebar mendapati seseorang yang datang itu, bukanlah pria berambut merah yang sedang ia tunggu, melainkan majikannya.

"Sedang menunggu seseorang, Sakura?" tanya Sasuke tajam. Mata onyx-nya memerah, memacarkan kebencian. Sorot mata Sasuke saat ini sama seperti pada saat Sasuke merampas keperawanannya pertama kali.

"Ti-tidak, Sa-Sa-suke-sama," jawab Sakura ketakutan. Sakura sontak berdiri dan mundur beberapa langkah menjauhi Sasuke.

"Jangan berani berbohong padaku, Sakura. Aku tahu kau menunggu Gaara," ucap Sasuke marah terus bergerak mendekati Sakura.

Sakura diam membisu. Dia sangat ketakutan dengan kemarahan yang ditunjukan Sasuke. Langkah Sakura terhenti dengan sofa di belakangnya yang menghalangi jalannya. Sasuke segera mencengkram tangan kanan Sakura dan menarik tubuh Sakura ke badannya.

"Jadi, kau selalu bertemu dengannya di sini. Kau diam-diam melayani Gaara tanpa sepengetahuanku, bukan!" tuduh Sasuke.

"Ti-tidak. Anda salah paham. Saya tidak melakukan apa-apa dengan Gaara-sama," Sakura mencoba membela diri.

Sasuke semakin emosi ketika mendengar Sakura menyebut nama Gaara. Sasuke tidak lagi berpikir rasional. Sasuke mendorong tubuh Sakura sehingga terlentang di sofa, lalu menindihnya dengan tubuhnya.

"JANGAN MEMBANTAHKU!" bentak Sasuke. "Kau tidak puas denganku, HA! Lalu memberikan tubuh kotormu untuk melayani dia. Kau benar-benar pelacur!"

"Kumohon. Hentikan, Sasuke-sama!" Sakura memohon seraya menahan yukatanya yang sedang dibuka paksa oleh Sasuke.

"DIAM!" teriak Sasuke. Sasuke menahan kedua tangan Sakura di atas kepalanya dan membuka paksa yukata bagian atasnya sehingga menampakkan kedua buah dada polos Sakura. Udara dingin menyapu kedua buah dadanya, membuat puncaknya menegang.

"LEPASKAN AKU, SASUKE-SAMA!" teriak Sakura sambil memberontak. Butir-butir airmata telah jatuh di kedua pipinya.

"Sudah berapa kali kukatakan kalau kau hanya budakku. Kau tidak boleh berhubungan dengan orang lain tanpa sepengetahuanku," kata Sasuke penuh kebencian. "TAPI KAU MELAWANKU! KAU BAHKAN TIDUR DENGANNYA KAN, SIALAN!" teriak Sasuke menuduh.

"Ti-tidak!" isak Sakura memberontak berusaha melepaskan cengkraman Sasuke di kedua tangannya, tapi cengkraman Sasuke semakin kuat.

"Akan kuingatkan sekali lagi di otakmu, Siapa pemilikmu!"

Sasuke menggigit leher Sakura kuat sehingga berdarah, kemudian menjilat luka itu meninggalkan bekas merah kissmark, menandakan kepemilikan. Dari leher, mulut Sasuke kemudian bergerak menuju buah dada Sakura yang terpampang jelas di hadapannya.

"LEPASKAN AKU, SASUKE-SAMA!" teriak Sakura menahan sakit akibat gigitan keras Sasuke. Sakura menggerakkan badannya memberontak dan menendang kaki Sasuke yang menahan kakinya.

"Ahhkk! Ti-dak! LEPA- AHH!" rintihan Sakura terdengar ketika Sasuke mengulum puncak dada kanannya. Sasuke dengan rakus menggigit dan menjilat puncaknya kasar, membuat wanita di bawahnya bergetar hebat dan merintih kesakitan. Tidak puas dengan satunya, Sasuke berpindah ke puncak yang satunya dan memberikan perhatian yang sama.

"HAAH! BERHENTI. AAHH!" Tubuh Sakura menggelinjang hebat. Darah berdesir di pangkal pahanya.

Sasuke makin beringas. Seringai sinisnya mengembang, mengetahui reaksi yang diberikan tubuh Sakura karena sentuhannya. "Apa Gaara membuatmu seperti ini?" sindir Sasuke ketika Sasuke melepaskan puncak dada kirinya. Sakura tidak menggubris. Ia sekuat tenaga melawan Sasuke.

Sasuke melanjutkan penjelajahannya. Ia menyentuhkan lidahnya ke puncak dada kiri Sakura, memanjakan dan menghukumnya, membangkitkan gairah wanita itu, yang dibalas dengan erangan nikmat oleh Sakura.

Sakura tidak ingin tubuhnya mengikuti kehendak Sasuke. Sakura terus meronta, berusaha menjauhkan tubuhnya dari Sasuke, menghindari ciuman yang bertubi-tubi Sasuke berikan di sekujur tubuhnya, walaupun ia tahu usahanya itu sia-sia.

Sasuke tidak mampu lagi menahan gejolak nafsunya yang dibangkitkan wanita itu, ia mengangkat tubuhnya sedikit, memberi ruang baginya untuk menyingkirkan seluruh pakaian Sakura.

"JAAANGAAAN! KUMOHOON! HENTIIIKAAAAN!" teriak Sakura sekencang mungkin saat Sasuke mulai melepaskan dengan paksa yukata yang melekat di tubuhnya. Sakura berharap ada yang mendengarnya dan datang menolongnya.

"Lepaskan dia, Sasuke!" suara bariton terdengar dari belakang punggung Sasuke.

.

.

-TBC-

.

.


Holaaaa! Minna-san. Auhor kembali lagi. Makasih buat para readers yang udah review di chapter kemarin. Chapter baru ini author persembahkan buat seluruh Readers yang Review, Fav, Alerts, dan yang selalu setia menunggu update dari Author ini.

Chapter ini ada beberapa pairing yaitu NejiTen. GaaSaku, dan SasuSaku.
Lemon lagi gak ada. Gomen, karena ada orang gak diundang yang datang memotong adegan itu. Hahahahahahha!

Readers: Siapa sih tu orang? Gangguin aja?

Mohon maaf jika ada beberapa karakter yang terlihat OOC. Sangat sulit ternyata mempertahankan karakter masing-masing chara di fic ini.

Gomen sekali lagi karena di chapter ini, Sasuke masih kejam. GOMEN !
(Readers: Perasaan dari tadi ni author minta maaf mulu.. ckckckckckck)

Mudah2an chapter ini bisa sedikit memuaskan permintaan sebagian readers.

Hint sedikit: chapter depan, benih-benih cinta akan mulai bermekaran dan Sasuke mulai melunak. So keep reading!

Readers, bisakah menebak siapa 'Mata Mata Oto' di Shinobi?

Sedikit curhat, Author sepertinya kena Flu. Hiks1000x.. Gak enak ngetik dengan hidung mampet.. Huhuhu..

Author masih mengharapkan review dari para readers sekalian. Review anda sangat berarti untuk kelangsungan dan kelanjutan cerita ini. Juga PENYEMANGAT bagi author mengupdate cerita ini *Memohon sambil berlutut. Readers: Lebay Ah!

Please Don't Flame!

Akhir kata : "Semakin banyak Review Semakin Cepat Chapter Terbaru Update" BAHAHAHAHAHAHA

SASUSAKU: Author Stress -o.O

*Niwa Sakura

R&R (^-^)

Notes: Untuk Readers yang menunggu Fic True Love Never Dies, maaf belum sempet di update. Author lagi fokus di cerita ini. Tapi Author pasti mengupdate dalam waktu yang dekat. GOMEN!