Review Reply :

Dei-kun 123 : Huweeee !! ^o^ Aq seneng banget bisa kenal sama Dei-kun (san), makasih atas keterangannya !! Aq sangat tertolong !!

Angga Uchiha Haruno : Yang ngerusak camp bukan Pain, kan dy ketuanya. Penjelasannya ada disini !! Arigatooooooo !! ^o^

Nakamura Kumiko-chan : Ok !! Inih apdated !!! Arigatoooooo !!

Uchiha Ry-chan : Iya iya... Makasih Ry-chan !! Mmuaacchh !! -Rychan muntah"-

Haruchi Nigiyama : Saku gag akan sama Sasu !! -tereak gaje-

First luphnya Saku emang Nagato, py Saku gag tau kalau Nagato itu Pain dan Pain itu Nagato. Makasih repiewnyuaaaa !!

Intan : Wokeh !! Inih apDated !!

Fusae Deguchi : Naru kan anak presiden, Gaara & Shika ?? Sabarlahhhh... hehehe -dilempar panci-

Yap ! Kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya !!

- - -

- - -

WARNING !! (Warning penting untuk menjelaskan apa saja yang terkandung didalam fict/chapter ini) : Battle Scene (KakaAnko vs Suigetsu), Romance scene (lemon dikit antara DeiSaku), 2 pair (DeiSaku dan KakaAnko), Humor ? and many more...

- - -

- - -

Summary : Deidara dan Sakura menuju Osaka dengan segera. Dilain sisi Suigetsu datang menyerang Kakashi dan Anko yang tengah menuju stasiun. Mau tau ? Silahkan scroll ke bawah untuk informasi lebih lanjut.

- - -

- - -

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

My Beautiful Guardian © Ryuku Zhank

My Beautiful Guardian, Chapter 6 : Closer

- - -

- - -

"Terima kasih Pak !"

Deidara mengambil karcis kereta api dan menghampiri Sakura dengan menyenggolnya.

"Jangan melamun." Tegur Deidara.

"Kapan keretanya ?"

Deidara melihat arloji dan karcisnya secara bersamaan.

"2 menit lagi. Bersabarlah Saku-koi..."

Sambil menyelam minum air, sambil menunggu kereta mereka saling mengejek dan menyindir satu sama lain.

'Ciiiittt !'

"Itu keretanya !"

Deidara menarik tangan Sakura dan memasuki kereta tersebut. Awalnya mereka berdua duduk disebelah pintu tapi Deidara yang belum medudukkan diri segera menarik tangan Sakura lagi dan membawanya duduk dipojokkan.

"Kenapa di pojok ?" Tanya Sakura sambil duduk.

Deidara menatap Sakura dengan serius hingga membuat gadis pink itu menelan ludah.

"Aku kedinginan." Ucap Deidara sambil menggelayuti lengan kanan Sakura.

"Jangan mulai !" Sakura dengan kasarnya mendorong Deidara hingga terjedut badan kereta.

Di kereta tersebut keadaannya cukup sepi. Karena selama sehari kereta menuju Osaka bisa 2-3 kali mundar-mandir dari Osaka-Tokyo ataupun sebaliknya. Makanya keadaan kereta sepi, kira-kira hanya 5-6 orang yang ada saat itu.

Sakura merasa matanya mulai berat. Rasa nyeri dan sakit masih terasa dibadannya akibat pertarungan singkat tadi. Secara otomatis kepala Sakura jatuh tepat dipundak Deidara. Melihat mata gadisnya tertutup, Deidara hanya tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian kondektur mendatanginya untuk menagih karcis.

"Nikmati perjalanan anda." Ucap kondektur tersebut ketika Deidara menyerahkan karcisnya.

Tak lama kemudian, Deidara juga ikut merasakan berat pada mata dan kepalanya. Lagi-lagi secara otomatis kepala pemuda itu jatuh menindih kepala Sakura. Posisi mereka menjadi tontonan menarik bagi para penumpang lain yang dilihat dari fisik sekitar 35 tahun diatas mereka berdua, sekaligus menjadikan mereka pasangan serasi di kereta.

Tidak lama bagi mereka menempuh jarak antara Osaka dan Tokyo. Kereta buatan Jepang ini memang dikatakan sebagai kereta tercepat didunia (ngarang ato asli ?) serta yang tercepat yang dimiliki Jepang.

'Ciittt !'

"Dei-dei bangun !"

Deidara membuka matanya yang masih berat. Sejenak dia menatap Sakura kemudian tersenyum manis pada gadis itu, alhasil wajah Sakura langsung memerah.

"Osaka sebelah mana ?" Tanya Sakura setelah mereka berdua keluar dari kereta.

"Ngg... Sebentar..."

Deidara mengutak-atik hanpdphone-nya mencari nama 'Kisame'.

"Kisame, disebelah mana ?"

Sambil menunggui Deidara, Sakura melihat-lihat sekitar stasiun. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang sepertinya sengaja menabraknya.

"Maaf." Ucap Sakura.

Pemuda bertopi itu menatap Sakura tajam. Hingga Sakura terperanjat. Terlihat jelas mata onyx-nya menatap Sakura penuh dendam.

"Aneh..." Gumam Sakura.

"Ayo !"

Deidara kembali menarik tangan Sakura setelah dia tahu lokasi camp barunya.

-

-

"Kau perayu kelas rendahan."

"Tapi kau selalu kemakan rayuanku."

Kakashi dan Anko tidak henti-hentinya saling mengejek satu sama lain. Selama perjalanan mereka menuju stasiun, mereka saling bercanda, menggelitik, ataupun candaan anak kecil lainnya. Langkah kaki mereka terhenti saat seseprang menghalangi mereka.

"Siapa kau ?" Tanya Anko ketus.

Orang itu tersenyum dan menunjukkan taring-taringnya. Rambutnya perak kebiru-biruan dengan mata ungu.

"Watakushi no namae wa Suigetsu Hozuki. Doozo yoroshiku." Kata Suigetsu.

"Hieeeee !! Dia mirip Kisame !!" Jerit Anko saat melihat gigi taring Suigetsu yang tajam.

"Cih !"

Tiba-tiba saja Suigetsu mengambil pedang yang cukup besar dari belakang badannya. Dengan penuh percaya diri, ia todongkan pedang besar itu kepada Kakashi dan Anko. Beberapa warga yang melihat pedang besar milik Suigetsu, segera berteriak histeris dan berlarian kesana kemari.

'Itu milik Zabuza' batin Kakashi.

"Dia benar-benar mirip Kisame !!" Jerit Anko sambil menunjuk-nunjuk Suigetsu dengan brutal.

"Kisame ? Setelah membunuh kalian, aku akan membunuhnya juga."

"Sombong... Lalu apa kau yang menghancur-leburkan markas kami ?"

"Oh... Itu benar sekali !"

Suigetsu menyerang Kakashi dan Anko dengan sekali tebas, namun Anko berhasil menghindar sementara Kakashi hanya melompati tebasan tersebut. Dengan cepat Kakashi meraih tangan kanan Suigetsu dan melintirnya, sehingga pedangnya terjatuh. Anko yang melihat perkerjaan Kakashi segera menendang pedang yang jatuh tersebut sehingga jauh dari jangkauan Suigetsu.

"Dasar payah !"

Suigetsu memutar tangan kanannya. Ketika pelintiran Kakashi lepas, suigetsu segera menendang perut Kakashi hingga terbentur ke kardus-kardus yang berada dibelakangnya.

"Kakashi !!"

Anko segera berlari menuju Suigetsu sambil mengambil dua pistolnya di kedua kaki bagian belakang.

'Doooorr-dooorrr-dorrr'

Dengan lincah bak penari balet, Suigetsu menghindari tembakkan Anko dan mendarat tepat disamping pedangnya. Dia ambil pedang tersebut untuk menghindari peluru-peluru Anko.

"Percuma." Ejek Suigetsu.

Suigetsu berlari kearah Anko untuk menebasnya. Anko menelan ludah dan mengumpat mengutuki Suigetsu.

'Terpaksa'

Anko menjatuhkan salah satu pistolnya kebawah. Dengan cepat dia menangkap dan menembakkannya pada Suigetsu. Suigetsu sempat terkejut, secara reflek dia melompat, Anko menelentangkan tubuhnya serta mengarahkan kedua pistolnya kearah Suigetsu di atas.

'Doooorrr-dooorrr-dorrrr !!'

Suigetsu melindungi diri dengan pedangnya. Pemuda itu mendarat membelakangi Anko, Anko reflek berdiri tetapi Suigetsu juga mengibaskan pedangnya kebelakang membuat Anko menghindar dengan membungkuk kebelakang. Rambutnya sedikit terpotong.

"Heeeehhh !! Dasar sial !!" Omelnya.

Dia melirik Kakashi yang duduk dengan tenang diatas tumpukkan kardus-kardus bekas.

"Kakashi !! Sampai kapan mau duduk disitu ?!!"

Anko hampir saja terbelah kalau dia tidak cepat menyadari serangan mendadak Suigetsu. Kakashi bangkit dan mengambil sesuatu dari kantung jasnya. Pistol jenis Butterfly.

"Kau lawan saja aku." Tantang Kakashi sambil mengacungkan pistolnya.

"Baiklah. Wanita itu lemah sekali."

Kedutan muncul di kepala Anko. Dia menggapai batu kerikil dan melemparnya ke kepala Suigetsu.

"Dasar jelek !!"

Suigetsu tidak mengindahkan kelakuan Anko. Dia segera menerjang Kakashi dengan liar. Tebasan-tebasan ia lancarkan walaupun tidak menimbulkan luka, tapi beberapa bagian dari jas hitam Kakashi tersobek akibat serangan Suigetsu.

"Kakashi Hatake. Agen yang tidak pernah lulus ujian tertulis, tapi mempunyai IQ yang cukup tinggi. Aku pernah dengar tentang ayahmu..."

Sambil menyerang dan menghindar, Suigetsu mencoba dengan memasak emosi Kakashi.

"Ayahmu bunuh diri karena gagal menyelamatkan targetnya."

Kakashi menggeram. Saat Suigetsu melancarkan tebasannya, Kakashi menepis pedang tersebut kemudian menembak kaki kiri Suigetsu. Karena efek dari Butterfly seperti shotgun dengan efek angin, Suigetsu terpental 3 meter.

Kakashi menghampiri Suigetsu yang tidak bisa berdiri. Lelaki perak itu dipenuhi dengan emosi yang tinggi. Selama ini tidak ada yang berani mengungkit-ungkit masalah ayahnya. Tanpa berdosa, dia menodongkan pistolnya kearah dada kiri Suigetsu.

'Doooooorrrrr !'

"Ugh ! Ka-kau ?"

Kakashi berusaha menenangkan diri. Dia tidak bisa membunuh orang yang ada dihadapannya. Peluru tadi juga hanya menyerempet bahu kiri Suigetsu yang sekarang mulai mengeluarkan darah.

"Kita lanjutkan pertarungan ini kapan-kapan."

Kakashi berjalan melewati Suigetsu. Anko menatap Kakashi dengan sendu. Betapa ia tahu kalau Kakashi selama ini selalu tersenyum palsu pada setiap orang.

"Kakashi ?"

Kakashi terdiam. Dia tidak menyaut ataupun melirik Anko. Kakashi berjalan tenang menuju arah stasiun. Anko menunduk sedih. Walaupun sudah 13 tahun berlalu, Kakashi tetap saja sensitif bila ada yang menyebut nama ayahnya terutama bila tujuannya hanya menjelek-jelekkan. Yah... seperti yang dilakukan Suigetsu tadi.

Dia menatap punggung Kakashi yang semakin menjauh. Dia berlari menuju pria perak itu, saat sejajar Anko menarik tangan kiri Kakashi dan mengajak pria tersebut berlari bersamanya.

'Dia masih seperti dulu' batin Anko.

-

-

"Haah...Hosh...Hosh..."

Sakura menyeka keringatnya yang mengalir deras. Sudah beberapa menit mereka menanjaki bukit yang tinggi dimana lokasi camp mereka berada. Tetapi yang Sakura dapatkan hanyalah kelelahan, pemandangan yang jelek (kiri-kanan hanya tebing), jalanan yang menukik tinggi.

"Kalau seperti itu terus kita tidak akan sampai." Ucap Deidara sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.

"Aku lelah." Balas Sakura sambil bertumpu pada kedua lututnya.

Deidara menghela nafas dan menghampiri Sakura yang berada dibelakangnya. Deidara berjongkok dihadapan Sakura. Nafasnya memburu pertanda kelelahan.

"Payah nih, un !" Sindir Deidara.

"Gemblok aku..." Rengek Sakura.

Deidara sweatdrop.

Dengan terpaksa Deidara membalikkan badannya tetap dengan keadaan berjongkok.

"Ayo !"

Sakura melingkarkan tangannya pada leher Deidara. Dengan berat hati dan berat beban, Deidara berdiri perlahan sambil menopang kedua kaki Sakura.

'Berhasil !' batin Sakura girang.

'Ugh... Dia tidak terlalu berat. Tapi jalan ini sangat berat !' batin Deidara sambil sesekali mengutuki ketuanya.

Sakura memeluk erat Deidara dengan tangannya. Sementara Deidara... dia masih memasang muka masam selama perjalanan.

"Ganbatte dayoo !!" Sorak Sakura sambil berjingkrak-jingkrak dipunggung Deidara.

"Hmmp !!!"

"Nanti kalau kita sudah sampai, Dei-dei boleh meminta apapun dariku." Tawar Sakura.

Dengan wajah penasaran, akhirnya Deidara mau tidak mau menanggapi perkataan Sakura.

"Bagaimana ?" Tanya Sakura.

"Bolehlah." Jawab Deidara.

"Kalau begitu lari !"

"Haaaahh... Capek !"

'Aduh ! Susah sekali ! Sudah dirayu juga !' batin Sakura kesal.

"Kau tahu apa yang kumau." Ujar Deidara.

Sakura memutar otak juga matanya. Berusaha berfikir sama dengan apa yang difikirkan Deidara.

Deidara menyampingkan kepalanya melirik Sakura.

"Ayo ! Katanya mau cepat sampai."

Sakura kembali berfikir. Deidara mendengus dan mengembalikan posisi kepalanya ke posisi awal.

'Mungkin..."

"Dei-dei !"

Deidara menoleh dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak ada yang tahu apa yang lelaki pirang ini inginkan, kecuali Sakura. Dengan satu ciuman hangat, Deidara segera menaikkan kecepatannya berlari menuju tempat tujuan.

'Ya ampun, sesuai dengan perkiraanku.' Batin Sakura.

Gadis pink itu memajukan kepalanya untuk memberikan Deidara satu ciuman dipipi kirinya. Yang dicium tersenyum senang dan menambah kecepatan berlarinya.

-

-

"Sudahlah Kakashi tidak usah difikirkan." Ucap Anko.

Mereka berdua kini sudah berada di dalam kereta menuju Osaka. Kakashi semenjak tadi sama sekali tidak berniat untuk bicara. Dia hanya diam dan terus menunjukkan tatapan sedih. Anko tidak tahu harus melakukan apa untuk teman sejak kecilnya.

Anko mendekati Kakashi dan menatapnya dalam. Karena keadaan kereta yang sepi, Anko meberanikan diri untuk memeluk Kakashi walau hanya dari samping. Kakashi terperanjat dan bangun dari lamunannya. Kakashi menggenggam lengan kiri Anko.

"Arigatoo..."

"Hebat juga dia bisa meledakkan markas kita dengan cepat."

"Aku rasa begitu. Sepertinya dia memang mempunyai kemampuan tersebut."

"Kakashi ?"

"Ya ?"

"Tidak jadi..."

-

-

"Yay ! Sampai juga !" Sorak Sakura senang.

'Pinggang dan punggungku sakit...' Batin Deidara meratapi nasibnya.

"Ayo Dei-kun !"

Sakura menarik sebelah tangan Deidara. Wew... camp mereka sekarang terlihat lebih besar walaupun tidak bertingkat tetapi dilihat dari samping cukup besar. Bisa dikategorikan seperti villa.

Sakura membuka pintu putih yang besar. Ruangannya cukup luas. Disebelah kiri ada beberapa sofa lengkap dengan mejanya, lalu disebelah kanan ada lorong dengan empat pintu berhadapan. Disebelah sofa ada lorong juga dengan empat pintu berhadapan. Sedangkan lurus ada lorong dengan dua pintu berhadapan serta dapur pada bagian paling belakang. Sama halnya seperti apartemen mini mereka dahulu. Ruangan yang didominasi warna putih pada tembok, dan coklat dengan garis hijau tebal pada lantainya.

"Sudah sampai ?" Tegur Kisame yang muncul dari lorong kiri.

"Yo ! Yang lain ?"

"Hidan, Genma, Ibiki sedang istirahat. Oh iya, sepertinya kalian harus satu kamar lagi." Jelas Kisame.

'Asik !' (Deidara)

'Malangnya nasibku' (Sakura)

"Ya sudah, aku mau kekamarnya Hidan dulu. Ja !"

Manusia setengah ikan -ditebas- itu kembali ke lorong tempat dia muncul, diselingi dengan bunyi pintu tertutup.

"Sepertinya pojok masih kosong. Kita disana saja." Kata Deidara.

Dengan santainya dia berjalan lurus menuju pintu disebelah kiri. Sakura hanya pasrah atas perlakuan Deidara. Dengan berat hati dia mengikuti Deidara dari belakang.

"Kau mandi kemudian tidur. Aku mau melakukan sesuatu."

Deidara mendorong Sakura masuk kekamar. Sesekali Sakura memberontak dan berulang kali mengatakan 'tapi' pada Deidara.

Deidara kembali keruang tengah kemudian berbelok ke kamar Hidan. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Terlihat jelas Hidan sedang menggerayangi laptop dan Kisame sedang mengutak-atik pistol milik Hidan.

"Kau tidak sopan." Cibir Hidan begitu ia tahu Deidara masuk tanpa mengetuk pintu.

"Aku hanya mau tanya tentang Suigetsu Hozuki pada Kisame." Kata Deidara.

Kisame menajamkan pandangannya.

"Suigetsu ?"

"Iya, mungkin kau kenal dengannya. Karena ketua mengatakan hal itu tadi."

"Memang. Suigetsu adalah adik dari Mangetsu Hozuki, mafia yang tewas 3 tahun yang lalu. Hanya itu saja, dulu dia cukup dekat denganku. Tapi semenjak aku berselisih dengan kakaknya, kami tidak lagi bertemu." Jelas Kisame.

"Begitu. Kalau Ka-karin ?"

"Tidak kenal." Jawab Kisame sambil mengangkat bahunya.

"Ada." Seru Hidan tiba-tiba.

"...?"

Hidan menatap informasi yang tertera di laptopnya.

"Karin itu hanya wanita dengan kemampuan menganalisa situasi dengan baik, membuat rencana yang tidak terduga, dan siasat licik lainnya. Dia juga yang menggagalkan penyelidikkan Ibiki beberapa bulan yang lalu." Jelas Hidan.

"Sasuke benar-benar punya kurcaci yang bisa diandalkan." Timpal Kisame.

"Tak mau dengar tentang Jugo ?" Selidik Hidan.

"Tidak perlu."

Deidara meninggalkan ruangan tersebut kembali menuju kamarnya.

Deidara membuka pintu kamar perlahan. Mata safirnya menemukan Sakura tengah terbaring berselimut diatas tempat tidur. Dia tersenyum dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

-

-

Night...

-

-

Sakura bangun dari tidurnya dengan menguap lebar. Dia menoleh kearah kiri, menemukan Deidara tanpa busana atas atau tepatnya bertelanjang dada. Sakura menarik selimutnya yang cukup tebal. Dengan hati-hati Sakura menyelimuti Deidara. Maklum saja, Deidara cukup gila untuk bertelanjang dada dikeadaan dingin. Apalagi kini mereka semua berada di pegunungan yang mempunyai tipe udara yang dingin.

"Dingin..." Gumam Sakura ditengah aksinya.

Sakura meninggalkan Deidara sendirian didalam kamar. Dia keluar dengan hati-hati dan...

"Oi Sakura !"

"Kya !"

"Maaf ya."

"Tak apa Kisame-san."

"Deidara tidur ?"

"Iya."

"Hmm... Kalau begitu aku juga. Ja Sakura ! Jangan keluyuran jauh-jauh ya !"

Kisame memasuki kamarnya yang berhadapan dengan kamar Sakura dan Deidara. sakura melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Disana dia menemui anjing peliharaan Kiba, Akamaru sedang tiduran. Sakura melongo kearah kiri dan kanan lorong tapi sepi walaupun secara samar terdengar suara orang berbicara.

Karena didorong rasa penasaran dan bosan, Sakura keluar dari villa. Tiba-tiba saja Akamaru mengikutinya.

"Jadi bangun."

"Arf!"

Sakura dan Akamaru berjalan kesebelah villa. Disana ada jalan setapak yang terbuat dari susunan kayu menuju atas bukit. Keadaan yang gelap gulita sama sekali tidak menciutkan nyali Sakura. bersama dengan Akamaru, dia tetap menyusuri jalan setapak tersebut.

"Rumah ?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.

Sesampainya diatas dia menemukan rumah kecil. Dia berjalan menuju rumah itu. Pintunya terbuka dan terdengar suara dari dalam.

"Permisi ?"

Tak ada yang menjawab. Sakura melangkahkan kakinya kedalam dan menemukan sosok yang membuatnya berteriak kencang.

"KYAAAAAAAAAAA !!"

"Hei tenang !!"

Lelaki jabrik berambut oranye berusaha meredakan teriakkan Sakura yang membahana.

"Ka-kamu !!"

"Aku ?"

"Kamu yang kutabrak tadi kan ??!!"

"Hah ? Masa sih ?"

"Apa ?"

"Sedang apa gadis manis berkeliaran disini sendirian ?"

"Aku bosan, ja-jadi a-aku kelua-ar."

"Ohh... Siapa namamu ?"

"Sa-saku-ra..."

Lelaki itu tersenyum pada Sakura dengan manisnya.

"Kau tidak ingat padaku ?"

"Seingatku, aku menabrakmu tadi." Jawab Sakura polos.

"Benar ?"

"Eh ? Maksudnya ?"

"Ini Nagato, ingat ?"

"Naga-to ?"

Sakura memutar kotak ingatannya dengan cepat. Menggali daftar nama dari huruf A sampai Z.

"Nagato ? Nagato !"

"Kau ingat ?"

"Err... kau yang waktu itu datang kerumah saat aku masih kecil ya ?"

"Hahaha, kau ingat ternyata."

"Nagato-san, sedang apa disini ?"

"Aku hanya sedang bersantai."

"Ohh... sendirian saja ?"

Nagato mengangguk dan mengajak Sakura ke luar.

"Apa tidak masalah kau disini ?"

Mendengar Nagato berkata seperti itu, Sakura jadi membayangkan reaksi Deidara saat dia tahu kalau dirinya tidak ada dimanapun.

"Hmm ?"

"Ah ! Tidak apa-apa !"

Tiba-tiba saja Akamaru menarik celana pendek Sakura dengan tangannya (?).

"Sepertinya dia mau pulang." Ucap Nagato.

"Yah, Akamaru... Kalau begitu aku akan kembali. Aku harap bisa bertemu dengan Nagato-san lagi." Pamitnya.

"Yah, aku juga Sakura !"

Sakura meninggalkan pondok mini Nagato dan kembali ke villanya.

'Hanya dia yang tahu identitasku'

-

-

At Villa...

-

-

Sakura menutup pintu dengan pelan. Matanya tertuju pada bawah dimana dia menemukan kaki seseorang masih lengkap dengan sepatu. Matanya menyusuri dari bawah sampai atas. Bulu kuduknya berdiri saat penyusurannya sampai pada wajah orang tersebut. Akamaru juga langsung membungkuk seperti merasa bersalah.

"Kemana Saku-koi ?"

"A-aku jalan-jalan..."

Deidara menghela nafas. Dalam hatinya dia khawatir sekali kalau Sakura kenapa-kenapa.

"Tidur saja sana." Perintah Deidara.

"Huh cerewet !"

Sakura berjalan menyenggol tubuh Deidara menuju kamar yang sekarang ia tempati. Dia membanting pintu kamar hingga membuat Deidara terkejut.

'Seram juga'

Beberapa saat kemudian pintu utama kembali terbuka, memunculkan Kakashi dan Anko.

"Hallo Dei-kun." Sapa Anko lemas.

"Ada apa ?"

Anko mengangkat bahu dan Kakashi tidak mengindahkan pertanyaan Deidara. Pria perak itu tetap berjalan tanpa memperdulikan kedua temannya.

-

Sakura mengurung diri didalam selimut. Matanya masih menolak untuk menutup.

'Nagato ?'

Nama itu bagaikan mantra pengantar tidur yang selalu membayangi Sakura setelah ia bertemu dengan pemilik nama tersebut. Wajahnya merah padam saat mengingat wajah penuh senyum milik Nagato.

'Suaranya pernah kudengar... Tapi dimana ?'

Gadis muda itu tetap menyebutkan 'Nagato' berulang kali didalam hatinya. Sampai-sampai dia tidak mendengar suara pintu kamar terbuka.

Deidara menatap bingung benda terkurung dibalik selimut. Bentuknya tidak elit dan terkesan aneh.

Dirinya menarik selimut tersebut dan melihat Sakura tiduran dengan tengkurap.

"Lho belum tidur ?" tanyanya.

Sakura tidak merespon ataupun sekedar mengucapkan kalimat singkat lainnya.

"Sakura ?"

Masih tak ada respon.

"Saku-koi ?"

"Oi !!"

Deidara duduk disebelah Sakura, menatapi gadis itu dengan penasaran.

'Dia melamun ?'

"Sakura ?" bisik Deidara.

"Sakura !! Kau tuli ya ??!!"

Walaupun sudah cukup keras, Sakura tetap saja tidak mersepon. Tiba-tiba saja Sakura membalikkan kepalanya.

"Apa kau kenal Nagato ?"

"Hah ? Apa ?"

"Jawab !"

"Tidak. Tu-tunggu, siapa Nagato itu ?"

Sakura menarik selimut dan mengurung dirinya kembali. Dia menyeringai jahil pada Deidara.

"Simpananku..."

...Hening...

...Hening...

...Hening...

'TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK !!' jerit Deidara dalam hatinya.

Sakura heran dengan mimik wajah Deidara. Sakura berfikir kalau Deidara telah kemakan perkataannya.

"Ahahaha... ! Aku bercanda." Ucapnya.

"Ti-tidak." Balas Deidara tegas.

"Oi ! Kau sudah janji padaku lho."

Sakura berusaha tidur sambil terus menutupi dirinya dengan selimut. (Maklum dipegunungankan dingin)

"Janji ? Katakan apa maumu ?"

"Aku mau..."

"Hn ?"

"Err..."

"Bicara !"

"Itu..."

"Ayolah, aku mau tidur."

"Aku mau..."

"A-n-a-k..."

1...

2...

3...

'DUBRAAAAKKK !!'

"PERGI KAU DARI HADAPANKU !!!!!!!"

"Tapi Sakura aku kan..."

"KAU TIDUR DILUAR !!!"

"Mereka berdua ributnya seperti pasangan suami istri saja." Tanggap Kisame yang bangkit secara tidak layak akibat teriakkan Sakura.

-

-

01.00, Midnight...

-

-

Deidara sangat merana. Badannya sakit akibat pukulan Sakura bertubi-tubi ditambah dengan keadaan tidurnya yang tidak nyaman. Itulah akibatnya kalau dia sebagai laki-laki terlalu jujur juga terlalu bodoh. Lagipula dia itu sudah tahu kalau Sakura bisa beladiri tetap saja ceplas-ceplos.

'Aduh... Badanku. Sofanya juga tidak empuk, mana dingin lagi' Batinnya sambil berulang kali merubah posisi tidur.

Deidara bangkit dari sofa ruang tengah menuju kamarnya. Sakura juga pasti sudah tidur maka dari itu Deidara memilih pindah daripada harus menderita, walaupun nantinya Sakura pasti akan menghadiahkannya pukulan maut.

Deidara membuka pintu pelan agar Sakura tidak terbangun. Tapi yang ia temukan adalah tempat tidur kosong dengan selimut yang berantakkan. Deidara berdiri tepat didepan pintu kamar mandi dan sebelah kiri tempat tidur (dari pintu kamar sebelah kiri ada kamar mandi, kanan ada tempat tidur).

Anehnya Deidara merasa sesuatu menabrak dirinya dari belakang.

'Nani ?'

Deidara membalikkan badannya dan menemukan Sakura dengan mata setengah terbuka alias mengantuk.

"Sakura ?"

Sakura mendongakkan kepalanya. Matanya belum bisa meneliti dengan baik, lagipula rasa kantuk menguasai dirinya.

'BRUK'

Sakura jatuh di dada bidang Deidara. Lelaki pirang itu berinisiatif mengangkatnya secara perlahan kemudian merebahkan Sakura dan menyelimutinya. Deidara juga masih normal, walaupun secara terang-terangan dia berkata hal yang tidak menyenangkan pada Sakura tadi, sangat tidak mungkin kalau dia ingin melakukan 'itu' pada Sakura.

Setelah menyelimuti Sakura, Deidara mengambil posisi dibawah kaki Sakura dan tidur dengan tanpa berbantal serta kepalanya tepat berada disamping Sakura (Kalau dilihat dari atas seperti sudut siku-siku)bukan hal yang mustahil bila nanti Sakura menendang kepalanya.

-

-

Morning...

-

-

Sakura membuka selimutnya dan menguap selebar terowongan (-diinjek-). Dia meregangkan otot-ototnya yang masih kaku. Matanya yang masih belum normal sulit untuk memproses bentuk yang ada dibawah kakinya. Dia mengucek-ngucek matanya dan shock dengan bentuk manusia tersebut.

'Deidara ?'

Wajah Deidara tenang bagaikan lautan. Untungnya Sakura tidak melihat gaya tidur Deidara yang biasanya. Dia menarik tangan kanan Deidara pelan dan melirik arlojinya.

'Masih jam 5 pagi ?'

Dengan hati-hati, Sakura turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

A few minutes later...

Sakura menghela nafas begitu ia keluar dari kamar mandi, matanya masih menemukan Deidara tertidur. Yang terpenting Sakura sudah rapih dan bersih. Dia melangkahkan kakinya menuju keluar. Sakura yang kakinya selalu tidak bisa diam, berniat untuk keluar dari villa yang masih sepi.

'Hah ?'

Sakura bingung saat menemukan amplop tepat dibawah pintu. Dia membuka amplop tersebut dan mengambil surat yang ada didalamnya.

- - -

Untuk semuanya...

Datanglah ketempat terakhir kalian menangkapku. Kita akan bermain-main dengan nyawa sebagai taruhannya. Apakah kalian berani ?

Aku tunggu kapanpun kalian siap.

Kita akan melanjutkan apa yang tertunda.

Sasuke Uchiha

- - -

'Sa-su-ke ?'

-

-

T.B.C

-

-

Yap ! Proses yang melelahkan !! Hanya tinggal beberapa chappie lagi...

Hiks...hiks...aku jadi terharu -author lebay ditimpuk pake tomat busuk-

Hari ini juga aku baru ngepublish fict baru judulnya 'Blacklist' -promosi euy !!-

Ada PeinSakuDei disitu o.O !!

Sekedar info aja, aku update fict tiap hari minggu. Jadi dimohon kesabarannya !!

Ok ! Aligatoooooooo !! Review pliiiiiiiiiisssss !!