6

It's A Cheesy Love Story

.

.

"Anggota Baru"

.

.

Kyungsoo Pov

Perih tak henti-hentinya menjalar dari seluruh tubuhku. Seragam yang kukenakan terasa sesak di banding biasanya karena perban yang membungkus badan dan lengaku. Lukaku tak bisa dibiarkan bergesekan langsung dengan kain seragam. Ngomong-ngomong eommaku tidak tau tentang ini, ia hanya menanyakan pipiku yang di plester. Tentu akan mudah menjawabnya dengan mengarang cerita tergores sudut pintu loker yang tajam. Mungkin kalian akan bertanya siapa yang melilitkan perban keparat ini, jawabannya hanya satu. Kim Jongin.

Malu? Kurasa maluku sudah hilang setelah beberapa kali ia melihat bagian tubuhku bahkan eomma ku saja tidak pernah melihatnya lagi setelah aku beranjak remaja.

Ketika kumasuki gerbang sekolah, semua murid terlihat bergerombol di depan papan pengumuman.

Tes Ujian Tengah Semester akan di laksanakan 2 minggu lagi. Harap segera menyelesaikan administrasi.

Ah, tanpa perlu di umumkan pun kurasa para siswa sudah tahu. Aku melirik blangko yang tertempel disampingnya.

Sekolah mengadakan Pentas Seni untuk merayakan ulang tahun sekolah. Siswa di perbolehkan menunjukan minat dan bakatnya pada malam puncak acara. Siswa yang ingin berpartisipasi dapat mendaftarkan diri ke panitia.

"Lampaui aku, Kyung!" bisik Suho yang entah sejak kapan berdiri di sampingku. Aku sungguh bahagia Suho masih mau mengajakku bicara. "Wajahmu!" serunya berubah menjadi nada kekhawatiran menatap plester yang menempel di pipiku.

"Ahh tidak apa-apa ini hanya luka kecil". Suho mengeryitkan alisnya, kurasa ia tak akan semudah itu percaya.

"Jaga dirimu baik-baik, Kyung...dan tes tengah semester 2 minggu lagi. Aku yakin dirimu sebenarnya pintar, buktikan itu pada sahabat-sahabatku. Masuklah peringkat 5 besar, akan ku beri satu permintaan"

Aku menduduk bingung. 5 besar, bukankah itu terlalu sulit? Tapi satu permintaan cukup menggiurkan.

"Bagaimana jika aku minta semua penindasan di sekolah ini di tindak tegas. Aku tidak mau ada siswa lain yang menanggung penderitaan seperti sahabatku minseok."

"Tentu, Kyung. Aku akan mengabulkannya" balas Suho dengan senyum angelic-nya.

"dan ku harap kau akan mengikuti pentas seni. Tao akan disana, dia akan memamerkan bakat dance-nya. Tolong ambil hati adikku, kau juga mampu dan cukup pantas jadi kakaknya. Jika kau berhasil aku akan kembali padamu...bukan sebagai kekasih lagi tapi lebih dari itu..."

"Benarkah?" cicitku terhipnotis.

Ia mengambil rambutku yang menjuntai dan menyelipkan ke belakang telinga. "Ya, aku tidak pernah berbohong padamu bukan? Aku tidak main-main dengan kata-kataku, Kyung"

"Eemm..Suho, soal jongin..." ucapku hati-hati.

"Aku tak mau dengar apa pun tentangnya" suara Suho berubah menjadi sangat tegas. Seketika ketakutanku kembali muncul. Tanganku bergetar hebat di samping tubuhku.

"Hanya aku yang mencintaimu, Kyung. Hanya aku." Ucap suho dengan nada posesifnya. "Aku akan ke keluar kota 2 minggu, aku akan kembali saat ujian tiba. Belajarlah dengan giat. Penuhi semua tantanganku, buktikan kau masih mencintaiku. Jika kau butuh seseuatu, mintalah bantuan Tao untuk sementara waktu."

Aku hanya mengangguk mengiayakan. Mana sudi aku minta bantuan adik kecilmu yang jelmaan iblis itu.

.

.

.

Normal Pov

Kantin sekolah di padati oleh siswa-siswa yang berbaris membawa nampannya masing-masing. Begitu juga gadis mungil berpipi tembam yang belakangan ini memenuhi pikiran Jongin, ia sedang membawa nampannya mencari tempat duduk. Seperti anak kecil tersesat di tengah kerumunan.

BRUKKKK! PRANGG! Nampan besi jatuh di lantai dengan suara nyaringnya. Semua makanan di dalamnya tumpah ruah tercecer ke lantai dan mengenai seorang gadis. Semua perhatian mengarah ke sang pelaku keributan yang juga hampir limbung ikut terjatuh dengan nampannya namun beruntung ia masih bisa menahan tubuhnya sendiri.

"Mian...Mian..Aku tidak sengaja!" suara Kyungsoo yang dapat Jongin kenali. Jongin dapat melihat Kyungsoo membungkuk meminta maaf berkali-kali.

"Yakkk! Apa kau buta eohhh?" pekik Baekhyung nyaring. Semua orang sampai menutup kupingnya mendengar teriakannya.

"Biar aku bersihkan" ucap Kyungsoo takut-takut sambil mencoba mengelap seragam Baekhyun yang kotor dengan tisu. Baekhyun langsung mencegahnya.

"Tck...dasar anak jalang. Pasti eommamu tidak pernah mengajarimu tata krama. Melempar makanannya ke baju orang lain...hahahaha..bodoh sekali" cuitan Tao yang duduk tepat di samping Kyungsoo berdiri, tentu ia duduk bersama geng Einstein minus Suho.

Jungkook berniat menolong tapi ia juga takut dengan unnie-unnie nya yang lain. Sungguh ia tidak tega. Sedangkan Jongin hanya memperhatikan dari kejauhan. Namun ia tak bisa menutupi wajahnya yang terlihat resah.

"Kuperingatkan jangan ikut campur, Jongin! Sudah cukup dengan nenek lampirmu Krystal dan Suho. Aku tidak mau kau membuat masalah antar geng lagi. Bagaimana pun Kyungsoo masih milik Suho, kau tentu sangat paham itu, Jongin" Yifan mencoba memperingatkan sebelum anggotanya ini bertindak gegabah lagi seperti kemarin.

"Anak jalang ya.." ulang Baekhyun mendengar cibiran Tao menghina Kyungsoo. Lalu ia tersenyum penuh arti ke arah Kyungsoo. Luhan yang ada belakangnya harap-harap cemas. Dalam hati ia berdoa demi keselamatan Kyungsoo.

"Ya, dia tak punya ayah. Ayahnya mana mau mengakui anak jalang sepertinya" timpal Tao mencoba mengompori Baekhyun. Tangan Baekhyun langsung dengan sigap meraih botol air minum terdekat tanpa ada protesan dari sang pemilik. Meraka lebih memilih merelakan botol mereka daripada berurusan dengan si cabe Baekhyun.

BYUUURRR! Moment yang di tunggu-tunggu para penonton datang juga. Bukan hal baru jika seorang Byun Baekhyun menyiram bahkan menindas seseorang. Tapi lain hal nya dengan ini.

"Wuaahhh hari ini panas sekali ya, kurasa ini cukup mendinginkanmu sayang..." ucap Baekhyun dengan nada centilnya.

BRAKKK! Gebrakan meja mengawali perang panas di kantin hari ini. Tao yang wajahnya basah kuyup memandang sengit Baekhyun. "Apa masalahmu, Byun?"

"Masalahku ya...xixixixi" Baekhyun terkikik sendiri. Luhan sampai mengira temannya ini kesurupan kuntilanak. "Hey panda, kau pikir aku tidak tau kakimu yang nakal ini menjegal kakiknya" ucapnya sambil menendang kaki Tao sampai meringis kesakitan.

"Awalnya aku memang tidak peduli, tapi setelah kau menghina eommanya yang belum tentu jalang seperti yang kau bilang...maaf saja aku tidak akan mengampunimu. For your information, Nona Tao anak pemilik sekolah ini...aku Byun Baekhyun aku juga tak punya appa, hanya eomma saja yang ku punya" ucap Baekhyun terang-terangan.

Membuat Chanyeol yang duduk disamping Yifan berdecak kagum. "Ahh..kurasa aku harus memasukannya ke daftar incaranku." Yifan berdehem keras lalu berkata dengan tidak santainya, "Baru saja aku memperingatkan Jongin sekarang kau. Ya Tuhan lama-lama aku pindah ke China saja."

"Jadi jangan sekali-kali menghina eomma mana pun yang membesarkan anaknya seorang diri. Atau jangan- jangan eommamu yang jalang, Tao-ya... wajahmu tidak mirip dengan Siwon Ahjussi ngomong-ngomong" mulut pedas Baekhyun mulai beraksi. Tao ingin sekali memukul wajah cantik Baekhyun tapi di tahan teman-temannya.

"dan kau..." Baekhyun menatap Kyungsoo lembut.

"Kyungsoo. Dia namanya Kyungsoo, dia kawan kecilku. Aku hampir menamparmu kemarin, baek...gara-gara kau berniat menindasnya" celetuk Luhan setelah tau Baekhyun memberi lampu hijau untuk Kyungsoo.

Baekhyun tertawa kecil. "Maafkan aku, hannie...salah sendiri dirimu tidak pernah memberitauku. Kyungsoo-ssi kau tidak perlu khawatir dengan baju seragamku"

Luhan berbisik ke telinga Baekhyun. Baekhyun terlihat mempertimbangkan sesuatu.

"Kyungsoo-ssi tolong dengarkan aku baik-baik, aku hanya bertanya sekali. Mau kah kau bergabung di geng Venus?"

Penawaran tersebut di saksikan seluruh siswa yang duduk disana termasuk kedua geng lainnya. Akhirnya geng Venus merekrut anggota baru setelah sekian lama bertiga tanpa ada niatan menambah siswi manapun.

Kyungsoo sekarang masih dalam keadaan membulatkan matanya lebar-lebar mendengar penawaran fantastis abad ini.

"Dia mana mau. Suho akan benar-benar memutuskanmu jika tau kekasihnya masuk geng cabe" ujar Irene yang sedang membantu Tao mengelap wajahnya dengan tisu.

"Ck..pantas saja Suho tidak memilihmu, Irene-ssi. Suho tidak sepicik itu. Aku cukup kenal dengan Suho, appa-nya rekan bisnis eommaku. Aku tidak masalah jika kau menjalin hubungan dengannya dan kurasa begitu sebaliknya, " jelas Baekhyun membuat Irene tak bersuara lagi.

"Aku akan keberatan jika kau menjalanin hubungan dengan namja-namja yang duduk di belakang sana. Begitu juga dengan gengmu kan, Yifan-ssi?" pekik Baekhyun sengaja agar geng Black Pearl mampu mendengarnya dengan jelas.

"That's right, Nona Byun. Aku memberlakukan hal yang sama dengan kawan-kawanku disini." Yifan melirik Jongin dan Chanyeol.

Kyungsoo semakin bingung untuk menjawab setelah tanpa sengaja berkontak mata langsung dengan Jongin. Mereka berdua saling mentap mencoba membaca pikiran satu sama lain.

Kyungsoo merasa jika Jongin akan turut andil dalam hidupnya setelah ini, tentu hal itu berkemungkinan besar dirinya menjalin hubungan entah pertemanan maupun lainnya dengan namja tersebut. Begitu juga dengan Jongin, sadar tak sadar dirinya merasa terikat dengan Kyungsoo, seperti benang merah yang tak mau putus sekuat apa pun dirinya menariknya.

"Jadii apa jawabanmu, Kyung?" kali ini suara Luhan yang bertanya.

"Ak-akkuuu..." Kyungsoo menjadi tergagap sendiri. Semua orang menunggu jawabannya.

Tiba-tiba Jongin berdiri dari tempat duduknya berjalan meninggalkan kawan-kawannya menuju ke pintu keluar. Namun ketika melewati gerombolan 'pemain drama' hari ini, ia berhenti beberapa detik untuk membisikan sesuatu ke Kyungsoo. "Terimalah, aku tak mau kau disakiti lagi. Mereka akan melindungimu"

Hanya Kyungsoo yang dapat mendengarnya, namun Baekhyun menatap curiga ke Jongin yang tiba-tiba keluar padahal jam istirahat masih panjang.

"Baikalah, aku terima Baekhyun-ssi!" ucap Kyungsoo final.

"Selamat bergabung, Kyung! Panggil aku Baek saja" Baekhyun tersenyum hingga membuat matanya membentuk bulan sabit.

.

.

.

Sepulang sekolah Kyungsoo langsung pulang kerumahnya dan berpamitan dengan sang eomma lalu menaiki bus menuju studio Jongin. Eommanya berpesan jika pulang naik taksi saja karena sudah malam. Kyungsoo hanya mengangguk dan langsung ngeloyor pergi.

Dirinya mengetuk pintu pelan. Suara musik dance dengan hentakan keras samar-samar dapat Kyungsoo dengar dari luar. Kyungsoo memutuskan mengetuk lebih keras.

Pintu itu pun terbuka menampilkan seorang pemuda hampir mirip dengan Jongin hanya lebih putih dan mancung. "Apa kau mencari Jongin?"

Kyungsoo mengangguk. "Ahh aku Lee Taemin, aku satu club dance dengan Jongin. Masuklah! Dia sedang keluar, mungkin sebentar lagi dia akan pulang"

"Aku Kyungsoo. Salam kenal" Kyungsoo membalas memperkenalkan diri.

"Kau kekasihnya?" tanya Taemin sedikit penasaran. Bukankah Jongin masih dengan Krystal, pikirnya. Kyungsoo menggeleng.

"Ah kau temannya kan?" tebak Taemin lagi. Kyungsoo menggeleng lagi.

"Lalu?" Taemin semakin bingung. Apa mungkin saudaranya? Tapi sejak kapan saudara Jongin ada yang putih dan matanya bulat seperti gadis ini?

"Hanya kenal" ujar Kyungsoo sekenanya. Taemin akhirnya hanya mengiyakan namun ia tidak yakin jika hanya kenal sampai menyambangi kediaman Jongin.

"Kau tau Jongin kemana?" tanya Kyungsoo.

Taemin mengindikan bahunya. "Aku tidak tau, dia memang sering kluyuran begitu tanpa memberi tau kemana. Maklum saja dia tak punya orang tua yang cerewet yang mengharuskan pulang dan lapor tiap hari"

Mata Kyungsoo membulat lucu. "Orangtuanya kemana?" tanyanya bingung.

"Aigooo..kau menggemaskan sekali," Taemin terpesona dengan mata bulat Kyungsoo langsung mencubit pipinya. Kyungsoo menatap garang membuat sadar Taemin akan kelakuannya, "Hehehe maaf...Jongin tidak pernah menceritakan keluarganya. Kau bisa tanya Taehyung sepupu Jongin jika ingin tau."

"Ngomong-ngomong kau lucu sekali, kau mau jadi adik oppa, hmm?" pinta Taemin namun langsung kena jitak Jongin yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Aiiishhh...sejak kapan kau datang? Kenapa aku tak mendengar langkah kakimu?" protes Taemin.

"Kupingmu saja yang tuli!" balas Jongin menaiki tangga membawa kantung plastik supermarket dan tas bekal menuju balkon studio-nya yang biasa untuk menjemur pakaian. Melihat Kyungsoo masih berdiam diri di samping Taemin, Jongin memberika isyarat untuk mengikutinya. Kyungsoo langsung mengekor menaiki tangga.

Mereka berdua duduk lesehan di tempat duduk berbahan kayu yang sengaja di buat untuk bersantai di malam hari. "Ada apa?" tanya Jongin tanpa basa basi.

"Kau dari mana?" Kyungsoo tak menghiraukan pertanyaan Jongin, ia malah terfokus pada tas bekal yang dibawa Jongin.

Dengan banyak pertimbangan akhirnya Jongin memilih jujur, dia sedang sangat lelah untuk hanya sekedar berkelit. "Aku mengunjungi eommaku. Dia tidak menghabiskan makanannya, kau mau?" Jongin membuka tas bekalnya. Kimbap yang tertata rapi hanya berkurang sedikit menyapa pengelihatan Kyungsoo.

"Kenapa masih banyak?"

"Eommaku hanya memakan dua saja" ujar Jongin dengan nada sedikit kecewa. "Kau mau?" tawar Jongin sekali lagi.

Kyungsoo tak memberikan respon apa pun, ia ragu rasanya lebih tepatnya. Jongin berinisiatif mengambil mengambil satu gulungan kimbap dengan sumpit dan mengarahkanya ke mulut Kyungsoo.

Dengan ragu-ragu dan atas dasar kesopanan ia melahapnya. "Nyamm..nyammm..Ini enakk.." Kyungsoo berucap sumringah sambil mengunyah makanannya.

"Telan dulu baru bicara.." tegur Jongin takut Kyungsoo tersedak makanannya.

Kyungsoo menelan kunyahannya yang terakhir. "Apakah eomamu sakit?"

"iya, sakit secara mental lebih tepatnya. Eommaku di rawat di rumah sakit jiwa" jawab Jongin sambil membuka kantung plastik nya mencari botol air mineral dan menyerahkannya kepada Kyungsoo. Kyungsoo menjadi tidak enak mendengarnya.

"Thanks." Kyung langsung menagak isi botol tersebut. "Sebenarnya ..emmmm aku tidak tau harus minta bantuan siapa.."

Jongin mengakat alisnya tanda bingung bantuan apa yang dipintanya. Kyungsoo akhirnya mau tidak mau meceritakan tantangan Suho agar bisa kembali padanya. Jongin agak tidak rela sebenarnya.

"Aku sudah meminta Luhan untuk mengajariku dance, tapi mereka tidak cukup pintar dalam mata pelajaran. Well, aku sebenarnya agak terkejut dan baru sadar jika kau peringkat 3 di sekolah mengingat kau sering bolos dann..." Kyungsoo tidak melanjutkan perkataannya melihat pandangan Jongin sudah tidak enak. "Miannn..." cicit Kyungsoo.

"Jika teman-temanmu tau kau tau akibatnya bukan? Kau sudah bagian dari Venus, aku bagian dari Black Pearl, Kyung!" Jongin menekan kata-katanya.

"Ya, aku tau" ujar Kyungsoo lemah.

Jongin mengadahkan wajahnya ke langit yang mulai gelap. "Berapa peringkatmu?" ujar Jongin.

Kyungsoo tidak ingat betul. "Aku lupa, yang pasti aku di urutan tengah-tengah. Tidak terlalu buruk bukan?"

Jongin tertawa tipis. "Aku tidak tau harus mengatakan apa. Dua minggu adalah waktu yang singkat. Aku memang merasa bersalah padamu, tapi – "

Jongin menengok ke arah Kyungsoo yang memperhatikan kata-katanya dengan seksama. "... Yifan tidak ingin aku dan yang lain berurusan dengan geng lainya."

Kyungsoo tau jika Jongin berkemungkinan besar menolak tapi apa salahnya mencoba bukan. Walaupun jika geng Venus mengetahui dirinya masih saja berhubungan dengan Jongin akan segera mendepaknya dan menjadi sekutu Tao, tapi tujuannya hanya Suho. Ia akan melakukan apa pun. Kyungsoo hanya ingin jika ia masuk peringkat 5 besar, Suho akan menepati janjinya. Tapi jika sudah begini, sepertinya dirinya tak akan berhasil.

"Kyungsoo-ya ~... apa kau sudah mengganti perbanmu hari ini?" tanya Jongin mengambil kaleng bir dari kantong plastik yang ia bawa lalu menegaknya.

"Belum. Aku akan menggantinya nanti. Ini sedikit membuatku gerah dan sesak," keluh Kyungsoo.

Jongin merogok saku celananya mengeluarkan wadah berbentuk jar bewarna putih dengan bau aneh. "Ini krim untuk membuat lukamu cepat kering dan agar tidak berbekas. Tidak baik seorang gadis mempunyai bekas luka."

Kyungsoo mengamati krim tersebut, membolak-baliknya berkali-kali. Lalu mencoba mencium baunya. "Apa ini akan lengket ditangan? Baunya tidak enak" komentar Kyungsoo tanpa rasa bersalah menghina pemberian orang.

"Akan ku bantu memencet hidungmu agar tak bisa mencium bau apa pun" balas Jongin sarkastik. "Jika kau bertanya lengket, ya itu sedikit lengket. Apa kau perlu tangan untuk membantumu mengoleskannya?"

Kyungsoo reflek memeluk dirinya sendiri. Cukup sudah berkali-kali telanjang di depan bocah ini. Melihat reaksi Kyungsoo, Jongin tertawa pelan. Jongin merasa bersyukur setidaknya Kyungsoo tidak telihat depresi seperti sebelumnya, ketika ia tak henti-hentinya berguman nama Suho.

Dirinya mulai berpikir permintaan bantuan yang Kyungsoo ajukan. Ia benar-benar tidak rela jika ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Kyungsoo. Tapi mengiyakan permintaan Kyungsoo akan sangat beresiko. Sebenarnya bisa saja mereka berdua mengajari Kyungsoo tanpa sepengetahuan geng masing-masing. Tapi pertanyaannya kapan? Yifan cs akan sering mampir di studionya atau menghabiskan waktu bersama sampai hampir pagi.

"Kau memikirkan apa?" ujar Kyungsoo membuyarkan lamunan Jongin. "Kau berpikiran mesum dengan mengoles krim ini ke tubuhku kan?" tuduh Kyungsoo yang parno sering di apa-apa kan Jongin. Baginya Jongin tetap saja si hitam mesum.

Jongin memutar bola matanya malas. "Ya Tuhan...demi susu kesukaan Sehun, aku tidak semesum itu. Jika aku semesum itu, kau sudah hamil sekarang, kyung!"

"Lalu? Kau memikirkan apa?" tanya Kyungsoo penuh selidik.

"Aku berpikir semisal..ini hanya semisal okey! Semisal aku mau membantumu, kita harus menyembunyikan ini semua dari geng masing-masing bukan. Dan aku hanya bisa 'free' dari mereka ketika sudah dini hari. Kau beruntung hari ini mereka ada kesibukan masing-masing, biasanya mereka akan mengoceh tidak jelas disini" jelas Jongin.

"Aku tidak keberatan jam berapa pun itu," ucap Kyungsoo sungguh-sungguh.

Jongin menghela nafas sebentar, menimbang-nimbang baik buruknya. "Baiklah, aku akan mengajarimu mulai jam 3 dini hari. Dan aku punya satu permintaan..."

TBC