Melihat ke atas, terdapat banyak cahaya bersinar di balik langit yang redup.

Cahaya-cahaya itu bukanlah bintang-bintang. Melainkan untaian titisan air beku yang jumlahnya tak terhitung yang tergantung di langit-langit yang sangat luas dan memancarkan pendar redup yang dikandungnya. Dengan kata lain, ini adalah dasar sebuah gua, dan ukuran gua itulah yang menjadi masalahnya.

Jarak ke tebing yang menjulang tinggi, dalam jarak dunia nyata, mungkin 30 kilometer. Tinggi terendah sampai ke langit-langit 500 meter. Jurang dan tebing pahatan, danau beku yang putih serta gunung-gunung bersalju, dan benteng juga struktur semacam kastil yang tak terhitung jumlahnya dapat terlihat di bagian bawahnya.

Karena itu, ukuran gua ini tak bisa dipercaya. Ruang bawah tanah ini, tidak, seharusnya disebut "Dunia Bawah Tanah."

Sebenarnya, begini saja. Ini adalah medan yang memenuhi bawah tanah dari dunia peri, ALfheim, sebuah dunia es dan salju yang gelap, dikuasai oleh monster-monster kelas evil god yang mengerikan. Namanya adalah... "Jötunheimr."

.

.

.

Rabu, 26 Oktober 2016

.

.

.

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Sword Art Online © Reki Kawahara

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Asuna

Kirito x Sinon

Genre: adventure/family/romance/mysteri

Rating: T

Setting: canon (Sword Art Online)

Note: sekuel dari season pertama "My Brother, You Are The Best" request dari Firdaus Minato. Ada adegan yang diambil dari canonnya dan diubah untuk disesuaikan dengan kondisi fic ini.

.

.

.

ME, MY BROTHER AND FAIRY WORLD

By Hikasya

.

.

.

Chapter 6. Terjebak di Jötunheimr

.

.

.

"Achoo!"

Lyfa, seorang gadis swordman dari ras Sylph, dengan cepat menutupi mulutnya dengan kedua tangannya setelah mengeluarkan bersin yang bagaikan ledakan dan tidak wajar bagi seorang gadis.

Dia memandang menghadap pintu masuk kuil, takut bila dewa jahat mendengar bersinnya dan menyodok wajah besarnya masuk.

Untungnya, satu-satunya yang melayang masuk hanyalah salju. Salju yang jatuh mendekati nyala api lalu menjadi kepulan uap dan menghilang. Lyfa meringkukkan badannya di dinding belakang sambil mengelus kerah bulu tebal di mantelnya.

"Haaa..."

Sambil menghela nafas, Lyfa mulai menghangatkan dirinya di dekat nyala api. Dia merasa lebih nyaman dan dengan segera mendapati dirinya terkantuk-kantuk untuk tidur.

Di kuil batu kecil di mana mereka berada memiliki panjang, lebar dan ketinggian sekitar empat meter. Dinding dan langit-langitnya dihiasi dengan relief monster menakutkan yang seolah-olah bergerak di cahaya api. Ini bukanlah interior yang paling menyamankan. Tatapannya lalu beralih ke samping menangkapi bayangan dua temannya bersandar di dinding. Satu laki-laki dan satu perempuan.

Yang laki-laki mulai tertidur. Wajahnya yang tenang dan santai, mengangguk atas dan bawah seperti kapal yang terapung-apung di pelabuhan.

"Hei, bangun..."

Sambil berbisik, Asuna menarik telinga Naruto yang runcing dan menunjuk. Jawabannya hanyalah gumaman yang terdengar seperti "munyamunya". Di pangkuannya terdapat pendamping pixie yang tertidur pulas sambil meringkuk seperti bola.

"Hei, kalau kamu jatuh tertidur akan log out sendiri!"

Asuna menarik telinga Naruto sekali lagi. Hal ini membuat kepala Naruto berpindah ke paha Asuna. Kepalanya lalu berguling-guling seolah-olah mencari posisi yang nyaman.

Tubuh Asuna menegang sebal, tangannya mengepal sia-sia saat ia berpikir metode apa lagi yang harus dicobanya untuk membangunkan Naruto.

Tidak mengherankan kalau Naruto jatuh tertidur. Lyfa melihat adegan itu, baru sadar setelah ia melihat ke kanan bawah bidang penglihatannya. Sekarang sudah lewat jam 2:00 pagi di dunia nyata. Biasanya, Lyfa sudah log out dan tertidur nyenyak di tempat tidurnya.

Itu benar, Jötunheimr dan ALfheim adalah dunia hasil produksi dari sebuah perusahaan game. Di suatu tempat di dunia nyata, di kota metropolitan Konoha Jepang, terdapat mesin server dan di dalam mesin itulah dunia ini berada. Lyfa dan dua temannya berwujud di sini sebagai manusia yang menggunakan mesin interface FullDive bernama "AmuSphere."

Sebenarnya cukup mudah meninggalkan virtual world. Cukup dengan menjulurkan jari telunjuk dan jari tengah di tangan kirinya dan lalu melambaikannya untuk membuka menu game. Setelah itu tekanlah tombol Log out. Atau pengguna bisa berbaring dan tertidur, Amusphere akan merasakan menurunnya tingkat aktivitas gelombang otak pengguna dan secara otomatis memutuskan sambungan.

Keesokan harinya, pengguna akan bangun dengan nyaman di tempat tidur mereka sendiri.

Namun, ada alasan tertentu mengapa Lyfa dan dua temannya ini tidak boleh tertidur di sini.

Akhirnya, Asuna memutuskan tindakan nakalnya. Dia mengepalkan tangan dengan tangan kirinya dan dengan tajam mencatuk kepala Naruto yang berambut hitam.

WHOOOOSH!

Seiring dengan ledakan suara yang menyegarkan, cahaya biru yang menandai serangan peluru homing diaktifkan. Naruto lalu membuat suara kaget yang aneh dan langsung terduduk dengan tegak. Sambil memegang kepalanya yang sakit dengan kedua tangannya, ia memandang sekeliling dan melihat Asuna yang tersenyum.

"Selamat pagi, Menma-kun."

"Ah, selamat pagi."

Teman Lyfa adalah seorang pendekar Spriggan. Dia agak berkulit coklat, berambut hitam dan jika bukan untuk ekspresinya yang datar, kemungkinan bisa dikenal untuk seorang pahlawan dalam manga shounen. Lalu teman Lyfa seorang lagi adalah seorang pendekar pedang Undine. Cantik, berambut panjang biru muda yang sewarna dengan matanya, berkulit putih, dan berpakaian berwarna serba biru muda dan putih.

"...Aku, Aku tertidur ya?"

"Ya... Dan kamu bahkan mendapatkan bantal pangkuan gratis, kamu harus bersyukur dilepaskan dari ini hanya dengan satu pukulan kecil."

"Oh, maaf, aku tidak sengaja, sebagai permintaan maaf, kamu boleh menggunakan pangkuanku sebagai bantal kalau kamu ingin, Asuna..."

"Tidak perlu!"

Asuna berpaling dengan cepat, mengalihkan lirikan menyamping dari Naruto. Wajahnya memerah jika melakukan hal itu di depan Lyfa, walaupun sebenarnya dia ingin melakukan itu. Tapi, dia tahu diri bahwa situasinya tidak tepat untuk bermesraan dengan Naruto.

"Jangan bilang hal bodoh seperti itu... Apa kamu bermimpi tentang sebuah ide bagus untuk melarikan diri?"

"Berbicara soal mimpi, aku baru saja bermimpi memakan puding yang tampaknya lezat dengan sampingan seporsi besar es krim."

Berpikir dirinya bodoh untuk bertanya, bahu Asuna merosot ke bawah dan berbalik ke arah pintu masuk kuil. Salju menari di atas angin yang bertiup melalui kegelapan, tetapi tidak ada yang bergerak.

Itu dia! alasan mengapa mereka tidak log out. Naruto, Asuna, Lyfa dan Yui, yang tertidur di pangkuan Naruto, terjebak di Jötunheimr tanpa bisa kabur keluar ke permukaan.

Tentu saja, jika mereka hanya ingin meninggalkan permainan, itu dengan mudah memungkinkan. Tetapi, kuil ini bukanlah zona aman atau tempat penginapan. Jadi, jika mereka ingin kembali ke realitas sekarang, tubuh virtual mereka akan ditinggal di sini tanpa jiwa untuk jangka beberapa waktu. Tubuh virtual yang ditinggalkan cenderung menarik perhatian monster dan tubuh mereka yang tak berdaya tersebut akan dihancurkan sampai tidak tersisa apa-apa. Hal itu menyebabkan "kematian" mereka dalam waktu singkat. Mereka kemudian akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Jika itu terjadi maka apa makna perjalanan mereka ke sini dari wilayah Sylphid.

Tujuan dari perjalanan Lyfa, Asuna, dan Naruto adalah untuk mencapai pusat kota ALfheim, Aarun.

Mereka meninggalkan Slyvian sebelum hari ini - kemarin malam tepatnya. Setelah melewati kawasan hutan luas dan kemudian melalui serangkaian terowongan pertambangan, mereka disergap oleh sekelompok Salamander. Setelah mengalahkan mundur serangan musuh, mereka lalu bertemu dengan Penguasa Sylph Sakuya, yang berterima kasih dan lalu pergi. Peristiwa-peristiwa kemudian mulai menenangkan diri beberapa waktu lamanya setelah sekitar jam 1:00 pagi.

Pada waktu tersebut, Lyfa, Asuna, dan Naruto sudah FullDive selama delapan jam terus-menerus, dikurangi dengan waktu yang dibutuhkan untuk istirahat ke kamar mandi.

Dengan situasi di mana Aarun tidak terlihat dan sejujurnya masih jauh, mereka memutuskan untuk berhenti di desa pertama yang mereka temukan lalu log off.

Tepat pada saat itu, ketiganya melihat desa di tengah hutan dan sambil bersorak pada keberuntungan mereka, kemudian mendarat di dalamnya.

Pada saat itu, meskipun itu akan menjadi merepotkan, mereka seharusnya memeriksa peta untuk memastikan nama desa dan jika ada tempat penginapan.

Siapa yang bakal mengira...

"...Siapa yang bakal kira kalau desa itu adalah monster peniru..."

Naruto, yang tampaknya sedang mengingat hal yang sama, mendesah. Asuna juga mendesah dan mengangguk.

"Itu benar... Siapa yang mengatakan tidak ada monster yang muncul di Dataran Tinggi Aarun?"

"Aku yakin itu Lyfa."

"Aku tidak ingat mengatakan hal seperti itu, Menma."

"Itu benar, kamu yang bilang begitu, Lyfa."

"Asuna... Kenapa kamu juga ikut-ikutan sih?"

Dengan olok-olokan yang tidak berguna, mereka mendesah lagi pada saat bersamaan.

Setelah mendarat di desa misterius, mereka tidak melihat warga desa - para NPC - pada saat mereka melihat sekeliling desa. Masih berpikir bahwa paling tidak seharusnya ada pemilik sebuah penginapan, mereka pergi memasuki gedung terbesar di desa ketika...

Semua tiga bangunan di desa runtuh. Apa yang dulunya penginapan dengan segera mengungkapkan sebuah benjolan berdaging. Namun, mereka tidak punya waktu untuk dikejutkan ketika lantai di kaki mereka terbelah dan menjadi lubang menganga yang terbuat dari subtans berdaging yang sama. Ini adalah seekor jenis monster cacing tanah yang menunggu di bawah tanah dengan lipatan yang diproyeksikan di atas tanah untuk menarik mangsa.

Naruto, dengan Yui di sakunya, Asuna, dan Lyfa ditarik ke dalam mulut cacing tanah oleh isapan yang kuat. Saat meluncur ke bawah tenggorokan cacing, Lyfa yakin bahwa kematiannya dengan cara dilarutkan oleh pencernaan cacing tanah adalah kemungkinan kematian terburuk yang ia alami dalam pengalamannya bermain ALO selama setahun.

Keberuntungan mereka tampaknya baik karena monster cacing tanah itu sepertinya tidak memiliki perut. Tur mereka di saluran pencernaannya berlangsung selama tiga menit sebelum mereka dikeluarkan dari ujung pantat cacing tersebut. Lendir yang menutupi tubuh Lyfa memberinya rasa jijik dan membuatnya merinding. Saat Lyfa mencoba memperlambat jatuhnya dengan menggunakan sayap, ia mulai panik.

Dia tidak bisa terbang. Tidak peduli betapa banyaknya kekuatan yang ia masukkan ke tulang belikatnya, dia tidak bisa mengepakkan sayapnya. Lurus ke bawah kegelapan mereka jatuh, dengan Naruto dan Asuna di belakangnya, dan dengan keras, mereka mendarat di timbunan salju tebal.

Lyfa-lah yang pertama pulih dan berjuang keluar dari timbunan salju dan setelah melihat ke atas, dia tidak melihat bulan dan bintang, tetapi kanopi dari batu yang memanjang sejauh yang bisa ia lihat. 'Tidak heran aku tidak bisa terbang, kita berada di gua,' Lyfa berpikir sambil memeriksa sekelilingnya.

Sambil terus melihat sekelilingnya, sebuah bentuk aneh muncul di dekat timbunan salju di mana mereka pertama kali jatuh. Tidak diragukan lagi, itu adalah "monster jenis dewa jahat", yang ia pernah lihat sebelumnya di gambar.

Di samping Asuna, Naruto menjulurkan kepalanya keluar dari salju. Sebelum ia mengatakan sesuatu, Asuna dengan cepat menutupi mulut Naruto, memahami situasi mereka yang benar-benar buruk. Mereka berada di dunia bawah tanah tak berujung, "Jötunheimr", medan paling menyulitkan di ALO. Dengan kata lain, monster cacing tanah raksasa tadi bukanlah perangkap untuk menangkap mangsa untuk dimakan, tetapi untuk membawa players ke dunia es ini.

Monster Dewa Jahat berkaki banyak ini yang setinggi hampir lima lantai akhirnya berpindah. Kelompok Lyfa yang kemudian menemukan kuil ini untuk bersembunyi dan merenungkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Sayangnya, tidak ada cara mudah dan cepat untuk keluar dari sini ketika penerbangan dilarang.

Mereka telah melihat ke api unggun sambil duduk dengan punggung mereka di dinding selama sekitar satu jam, yang membawa semua hal yang terjadi hingga saat ini.

"Yah...sebelum aku membuat rencana untuk keluar dari sini, aku perlu tahu tentang Jötunheimr mengingat kembali bahwa aku memiliki pengetahuan nol tentang tempat ini..."

Naruto akhirnya berhasil mengusir kantuknya, lalu melihat keluar ke dalam kegelapan dengan mata merahnya yang tajam dan berbicara.

"Memang, sebelum ke sini, Penguasa Sylph mengatakan sesuatu ketika aku menyerahkan koin. 'Aku pikir untuk mendapatkan uang sebanyak ini, kamu perlu berburu monster dewa jahat di Jotunheimr,' atau sesuatu seperti itu."

"Ah, ya, dia mengatakan itu."

Lyfa mengangguk, mengingat kembali hal itu.

Sebelum mereka ditelan cacing, Naruto, Asuna, dan Lyfa telah bertemu dengan Penguasa Sylph dan Penguasa Cait Sith di konferensi mereka dan berjuang melawan pasukan musuh Salamander yang menyerang mereka dengan kejutan. Setelah itu, Naruto memberikan jumlah uang yang banyak kepada penguasa yang sama ketika ia mendengar bahwa mereka kekurangan dana. Saat mereka menerima dana tersebut, Penguasa Sylph Sakuya memberi beberapa pernyataan yang menyerupai itu.

"...Bicara tentang hal itu, Menma, kamu mendapatkan uang sebanyak itu darimana?"

Pertanyaan tidak terduga itu menggelincirkan kereta pikiran Naruto dan menyebabkan kata-katanya tersandung.

"Itu, ah, beberapa orang yang aku kenal memberikannya kepadaku. Mereka dulunya sering bermain game ini, tetapi sekarang mereka telah berhenti bermain..."

"Yah, kalau kamu mengatakan itu... Baiklah!"

Itu adalah cerita yang cukup umum. Seorang pemain yang mulai pensiun dari game, memberikan uang dan perlengkapannya kepada teman atau kenalannya. Lyfa memutuskan untuk mempercayai cerita itu dan kembali ke pembicaraan semula.

"Lalu apa masalahnya? Ada apa dengan pernyataan Sakuya?"

"Begini, jika seorang penguasa mengatakan hal seperti itu, jadi seharusnya ada pemain yang berburu disini, kan?"

"Harusnya ada beberapa."

"Jadi, di samping cacing tanah raksasa itu yang bertindak sebagai perjalanan satu arah, harusnya ada cara lain untuk masuk dan keluar dari sini."

Setelah akhirnya memahami apa yang Naruto maksud, Lyfa mengangguk setuju. Asuna memilih diam untuk mendengarkan mereka.

"Sepertinya ada... Tapi, seperti kamu, ini juga pertama kalinya aku pernah di sini jadi aku belum pernah ke sana. Di kota Aarun, ada ruang bawah tanah besar ke Timur, Barat, Selatan dan Utara dan masing-masing memiliki lantai terbawah yang seharusnya memiliki tangga menuju Jötunheimr. Lokasinya harus berada di..."

Lyfa mengeluarkan tampilan menu dengan tangan kirinya dan membuka peta. Dia bisa melihat Jotunheimr yang tampaknya bundar dengan segala sesuatu di sekitarnya. Yang tidak berada di peta adalah lokasi mereka saat ini yang berwarna abu-abu karena belum pernah ada sebelumnya. Lyfa menyentuh peta dengan jari telunjuk kanannya, menunjukkan titik di atas, bawah, kiri dan kanan.

"Mereka seharusnya berada di sini, sini, sini dan sini. Kita sekarang berada di kuil antara dinding pusat dan dinding barat daya sehingga tangga terdekat seharusnya berada di Selatan atau Barat. Tapi..."

Lyfa merosotkan bahunya sebelum mengatakan pernyataan berikutnya.

"Semua tangga ruang bawah tanah akan ada penjaga kelas dewa jahat menunggu di sana."

"Mereka para dewa jahat, seberapa kuatkah mereka?"

Lyfa tampak tidak percaya pada Naruto sebelum menjawab pertanyaannya.

"Tidak peduli sekuat apa dirimu, kali ini tidak akan cukup. Rumor mengatakan saat tempat ini pertama kali dibuka, Salamander mengirim pasukan besar masuk. Mereka semua dihancurkan oleh monster kelas dewa jahat pertama yang mereka hadapi. Jendral Eugene, yang bahkan kamu berjuang untuk lawan, tidak bertahan lebih dari sepuluh detik saat menantangnya."

"...Itu benar-benar sesuatu..."

"Untuk berburu di sini, kamu harus mempunyai pemain-pemain berlengkapan berat pakaian berlapis baja sebagai perisai manusia, penyerang berkekuatan tinggi, dan sedikitnya delapan pemain yang berfokus pada dukungan dan pemulihan. Kita adalah tiga pemain swordman bersenjata ringan. Sebelum kita bisa melakukan sesuatu, kita akan diinjak-injak sampai rata dan terbunuh."

"Aku ingin menghindari itu."

Naruto mengangguk, tetapi sebelum mendengar tentang tantangan seperti itu tampaknya ada sesuatu yang membuatnya bersemangat sampai bahkan lubang hidungnya buka-tutup. Lyfa yang melihat ini memastikan untuk menambahkan peringatan lainnya.

"Tetapi sebelum itu, ada kemungkinan 99% kita tidak akan mencapai tangga. Berlari sejauh itu akan menarik perhatian dewa jahat dan kita akan mati sebelum dapat menarget mereka."

"Begitu... Dan kita tidak dapat terbang di sini."

"Ya. Untuk mengembalikan kekuatan penerbangan, kita akan membutuhkan sinar matahari atau sinar bulan. Tetapi seperti yang kamu lihat, tidak ada satupun dari cahaya itu ada di sini. Satu-satunya pengecualian adalah players Imp yang dapat terbang sedikit di bawah tanah..."

Di sini, kata-katanya terputus dan mereka melihat sayap satu sama lain. Sayap hijau gelap Sylph Lyfa, sayap biru muda Undine Asuna, dan sayap abu-abu Spriggan Naruto telah kehilangan cahaya mereka dan melayu. Satu-satunya yang menandai mereka sebagai peri adalah telinga mereka yang runcing menunjuk karena mereka tidak bisa terbang.

"Jadi harapan kita yang terakhir adalah untuk bertemu dengan salah satu tim berburu dewa jahat berskala besar yang Lyfa sebutkan sebelumnya dan mencari kembali jalan keluar ke permukaan."

Asuna ikut berkomentar.

"Kedengarannya benar, Asuna."

Lyfa mengalihkan tatapannya le luar kuil kecil ini dan mengangguk. Menembusi kegelapan biru tipis, melewati hutan luas bersalju dan es, berdirilah sebuah bangunan seperti benteng. Tentu saja, tempat itu dikuasai oleh Bos Monster kelas dewa jahat terkuat dan anak buahnya, mendekati tempat itu akan berarti kematian yang tidak menyenangkan. Jadi, tidak ada pemain lain yang dapat ditemukan di daerah tersebut.

"Jötunheimr menggantikan ruang bawah tanah di permukaan sebagai tingkat level tersulit yang baru ditambahkan. Jadi, jumlah kelompok yang ke bawah sini untuk berburu kurang dari sepuluh. Kemungkinan mereka datang ke kuil ini dengan tidak sengaja lebih rendah dibandingkan kita mengalahkan monster kelas dewa jahat sendirian."

"Jadi ini kemungkinan akan menjadi uji keberuntungan kita."

Naruto berwajah datar lalu menggunakan jari telunjuk kanannya untuk menyodok kepala gadis setinggi hampir sepuluh sentimeter yang tertidur di pangkuannya.

"Hei, Yui... Bangun."

Setelah mengedipkan matanya yang disertai dengan bulu matanya yang panjang dua tiga kali, tubuh kecilnya yang ditutupi dengan gaun pink tiba-tiba melonjak. Dia meletakkan tangan kanannya ke pipinya, meregangkan lengan kirinya tinggi ke atas dan menguap lebar. Gerakan ini begitu indah sehingga Lyfa hanya bisa menatap dengan kagum.

"Fuwaaa...Selamat pagi, Papa, Mama, Lyfa-san."

Peri kecil ini menyambut mereka dengan suaranya yang indah seperti lonceng. Asuna kemudian berbicara kepadanya dengan suara yang sangat lembut.

"Selamat pagi, Yui. Sayangnya, sekarangnya masih malam dan kita masih berada di bawah tanah. Maaf, untuk menganggumu, tetapi apa kamu bisa mencari pemain lain di sekitar kita?"

"Baiklah, aku paham, mama. Tunggu sebentar..."

Yui mengangguk kepalanya dan menutup matanya.

Nama resmi dari peri kecil ini, Yui, yang dibawa oleh Naruto berkeliling adalah "Pixie navigasi". Selama pemain membayar sejumlah biaya tambahan, mereka bisa memanggil pixie dari tampilan menu. Tetapi, dari apa yang didengar oleh Lyfa, pixie navigasi seharusnya hanya bisa memberi informasi dasar yang sistem anggap relevan. Mereka juga seharusnya berbicara dengan suara sintetis dan tidak memiliki emosi. Lyfa belum pernah mendengar pixie dengan kepribadian atau bahkan dengan nama.

'Jika kamu terus-menerus memanggil pixie navigasi yang sama dalam jangka waktu yang lama, apa itu akan membuatnya ramah?' pikir Lyfa sambil menunggu balasan Yui.

Ketika Yui membuka matanya, telinganya terkulai dalam kekecewaan dan dia menggelengkan rambutnya yang berkilauan dan panjang sehitam gagak.

"Maaf, aku tidak dapat melihat respon yang menunjukkan pemain lainnya di kisaran koleksi dataku. Sebelum itu, jika aku bisa lebih cepat sadar tentang desa itu tidak terdaftar di peta..."

Melihat peri kecil itu menundukkan kepalanya dengan sedih dari tempat dia bertengger di lutut kanannya Naruto, Asuna menggunakan ujung jarinya untuk mengelus kepala Yui dengan lembut.

"Tidak, itu bukan salahmu, Yui-chan. Saat itu aku memintamu untuk memperingati kamu dari pemain terdekat sebagai prioritas utama. Jadi, janganlah bersedih."

"...Terima kasih, mama."

Melihat mata Yui yang lembab, Lyfa merasa sulit untuk percaya kalau peri kecil ini hanyalah potongan sederhana dari kode program. Dia tersenyum dari hatinya, dan melihat Asuna menyentuh wajah Yui sedikit dan mengalihkan perhatiannya kembali pada Naruto.

"Yah, karena telah terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang hanya mencoba sebaik mungkin."

"Coba... Coba apa, Lyfa?"

Naruto hanya bisa memasang wajah kebingungan ke arah Lyfa yang sedang tersenyum tanpa kenal takut.

"Aku hanya ingin mencobanya... Apakah kita bertiga bisa mencapai tangga menuju permukaan. Duduk-duduk di sini hanya akan membuang waktu."

"Tapi, tapi, kamukan yang mengatakan kalau itu mustahil..."

"Aku mengatakan bahwa itu 99% mustahil. Tapi aku ingin mengambil resiko kemungkinan 1% itu. Selama kita mengetahui gerakan dewa jahat dan menghindari pandangan mereka, gerakan maju yang hati-hati seharusnya memungkinkan."

"Lyfa-san, kamu menakjubkan!"

Yui menepuk tangannya dan Lyfa menanggapi itu dengan mengedipkan salah satu matanya sebelum berdiri.

Namun, Naruto menggenggam lengan Lyfa dan menariknya kembali.

"A-Apa?"

Lyfa jatuh kembali ke tempat duduknya. Dia mulai memprotes, tetapi mata merah Naruto yang melihat dirinya dari dekat, menenangkannya. Selagi ia membalas tatapannya, Naruto yang biasanya santai kali ini memanggilnya dengan nada tegas. "Tidak, kamu harus log out sekarang. Aku akan melindungi avatarmu sampai ia menghilang."

"Eh?! Ke-Kenapa?"

"Sekarang sudah jam setengah tiga. Bukannya kamu mengatakan kalau kamu seorang siswi? Hari ini kamu sudah berada dalam keadaan Full Dive selama delapan jam berturut-turut demi diriku. Aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini lebih dari itu."

"..."

Komentar Naruto yang tiba-tiba membuat Lyfa terdiam mencari kata-kata yang tepat, tetapi Naruto hanya melihatnya dan dengan tenang terus berbicara.

"Bahkan jika kita terus berjalan, kita tidak tahu berapa lama ini semua akan berlangsung. Jika kita menghindari jangkauan deteksi monster, itu akan menambah jarak perjalanan. Bahkan jika kita mencapai tangga, itu akan terjadi sekitar pagi hari. Aku mempunyai alasan untuk pergi ke Aarun, tetapi hari ini adalah hari kerja dan sekolah, jadi aku pikir kamu lebih baik log out."

"Tidak, aku akan baik-baik saja. Hanya satu malam begadang..."

Memaksa tersenyum, Lyfa menggelengkan kepalanya.

Naruto melepaskan genggamannya dari lengan Lyfa, menundukkan kepalanya lalu berkata untuk akhirnya.

"Terima kasih telah datang sejauh ini denganku, Lyfa. Jika bukan untukmu, aku kemungkinan akan mengambil beberapa hari untuk mengumpulkan informasi. Berkat kamu, aku dan Asuna hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk ke sini. Tidak peduli sebanyak apa aku mengucapkan terima kasih padamu, mungkin tidak akan cukup."

"..."

Lyfa tidak dapat melawan rasa sakit yang muncul di dadanya dari komentar-komentar mengejutkan ini. Dia hanya dapat mengepalkan tangannya dengan sia-sia.

Lyfa tidak yakin mengapa kata-kata ini menyakiti hatinya begitu dalam, tetapi mulutnya kemudian bergerak dengan sendiri dan dengan kasar mengatakan.

"... Aku tidak melakukan ini hanya untukmu."

"Eh?"

Naruto mengangkat wajahnya. Asuna pun agak kaget mendengar perkataan Lyfa tadi. Lalu Lyfa menghindari kontak mata dengan Naruto dan melanjutkan dengan suara keras.

"Aku... Aku ingin mengikuti kalian berdua, itulah kenapa aku sekarang berakhir di sini. Aku berharap kalian mengerti setidaknya. Apa-apaan ini tentang perjalanan paksa? Apa kalian berpikir aku benci datang sejauh ini ke sini dengan kalian?"

Emosinya yang meledak-ledak terdeteksi oleh AmuSphere, dan ia mencoba membuat air mata menutupi matanya. Lyfa terpaksa mengedipkan matanya dengan cepat untuk membersihkannya. Untuk menghindari tatapan panik dari wajah Yui di antara dia, Asuna dan Naruto, Lyfa berbalik menghadapi pintu masuk kuil dan berdiri.

"Aku... Pikir kalau petualangan hari ini adalah yang terbaik yang pernah aku alami selama aku bermain di ALO. Ada begitu banyak hal yang menarik. Akhirnya aku juga mulai berpikir kalau dunia ini adalah kenyataan lain, aku baru mulai percaya!"

Lyfa mengusap matanya dengan tangan kanannya dan baru hendak pergi keluar ketika tiba-tiba...

Sebuah suara aneh dan besar yang bukan guntur atau gempa terdengar dari jarak dekat.

"BORURURURU!"

Raungan itu, tidak salah lagi berasal dari mulut seekor monster raksasa.

Akibatnya, tanah mulai bergetar dan ada suara gemuruh langkah kaki.

'Oh tidak! Teriakanku yang sebelumnya pasti telah menarik perhatian dewa jahat! Aku sangat bodoh! Bodoh!'

Sambil menyalahkan dirinya di dalam pikiran, Lyfa dengan cepat memutuskan untuk menjadi umpan monster tersebut dengan berlari.

Naruto menginterupsinya dengan meraih pergelangan tangan kirinya Lyfa. Lyfa sendiri bahkan tidak tahu bahwa Naruto dan Asuna telah berada di belakangnya. Genggaman Naruto yang kuat mencegah Lyfa lari ke sana.

"Lepaskan aku! Aku akan menarik perhatian musuh dan kalian berdua gunakan kesempatan ini untuk keluar dari sini..."

Lyfa mendesak Naruto dan Asuna dengan suara rendah, tetapi Naruto menangkap sesuatu dan mengingatkan Lyfa.

"Tidak, tunggu. Ini agak aneh."

"Aneh apanya..."

"Bukan hanya ada satu."

Setelah mendengar ini, Lyfa mendengar dengan cermat. Memang benar, ada dua raungan dewa jahat. Satunya adalah suara mesin raksasa yang menghasilkan suara bas rendah, tetapi yang satu lagi seperti campuran suara seruling kayu. Lyfa menahan nafasnya, lalu mengibaskan tangannya dari genggaman Naruto.

"Kalau ada dua itu bahkan lebih buruk! Jika keduanya menyasarimu, semua akan terlambat! Setelah kamu mati, kamu akan mengulang dari Sylvain lagi!"

"Tidak, bukan itu maksudku, Lyfa-san!"

Teriakan kecil itu berasal dari Yui, yang terduduk di bahu Naruto.

"Kedua monster dewa jahat dekat sini... Mereka sedang bertarung antara satu sama lainnya!"

"Eh?!"

Lyfa dengan cepat menutup matanya dan berkonsentrasi mendengar. Benar, raungan gemuruh jejak kaki itu tidak terdengar seperti berpacu pada garis lurus tetapi melainkan seperti bergerak tidak beraturan.

"Te... Tetapi, monster berkelahi satu sama lain, bagaimana..."

Lyfa bergumam kagum, lupa total dengan kesedihan yang ada di hatinya. Asuna sepertinya telah memutuskan sesuatu dan berbicara.

"Mari kita pergi dan lihat. Kuil ini bukan tempat pengungsian juga apalagi."

"Benar juga."

Lyfa mengangguk dan menaruh tangannya di gagang katana di pinggangnya, lalu mengikuti Asuna dan Naruto keluar dari kegelapan yang penuh dengan tarian salju.

Setelah berlari beberapa langkah, suara berisik mengungkapkan dua monster dewa jahat. Mereka dengan pelan mendekat dari sisi timur, gerakan mereka seperti getaran gunung kecil. Hampir setinggi dua puluh meter, kedua monster itu unik dengan warna biru keabuannya.

Setelah melihat dengan dekat, kedua monster kelas dewa jahat berbeda dalam ukuran. Yang mengeluarkan suara "BORURURU!" adalah yang paling besar dari mereka, sekitar dua kali lebih tinggi dari monster lainnya yang membuat suara kicauan "Hyuruhyuru!".

Monster yang lebih besar berbentuk samar-samar seperti manusia tetapi ia mempunyai tiga wajah berjejer vertikal dan empat lengan. Kedua lengannya berada di dua sisi masing-masing - itu dapat disebut raksasa. Setiap sudut wajahnya memberi kesan dewa berhala. Setiap wajah masing-masing mengeluarkan tangisannya, ketiganya dengan bersama membuat suara "BORURURU" yang terus menerus seperti mesin. Di setiap empat tangannya, terdapat pedang yang tampaknya seperti gelagar baja yang besar, dengan bilahan berat yang diayunkan seolah-olah ringan.

Sebaliknya, lebih sulit untuk memahami monster kecil yang satunya lagi. Telinga besar, belalai panjang seperti gajah dan tubuh seperti bakpao yang didukung oleh dua puluh kaki bercakar seperti kait. Kesan keseluruhannya adalah ubur-ubur berkepala gajah.

Monster ubur-ubur berkepala gajah itu memanjangkan cakar kaitnya untuk menekan raksasa berwajah tiga, tetapi keempat pedang besi itu diayunkan secepat badai kilat dan dengan mudah menahan serangan musuhnya. Cakarnya dengan sia-sia berusaha mencapai wajah raksasa. Di sisi lain, pedang raksasa tersebut dengan mudah menyakiti tubuh monster ubur-ubur, cairan tubuh yang gelap melayang pergi seperti kabut.

"Apa...Apa yang sedang terjadi...?"

Lyfa berbisik kaget dan lupa total untuk bersembunyi karena takjub.

Di game ALO, pertempuran antara monster bisa terjadi tapi hanya untuk tiga alasan.

Yang pertama, jika salah satu monster telah dijinakkan oleh pemain Cait Sith dengan kemampuan penjinakan tingkat tinggi. Dengan kata lain, "hewan peliharaan". Kedua, jika Puca memainkan melodi yang menyebabkan status bingung atau gelisah pada monster. Dan yang ketiga adalah ketika salah satu monster dihipnotis oleh sihir ilusi dan dipaksa untuk bertempur.

Di pertempuran yang terjadi di depan mereka, tidak ada salah satupun yang memungkinkan.

Jika salah satu monster adalah hewan peliharaan, kursornya seharusnya berwarna kuning-kehijauan. Tetapi kedua monster dewa jahat mempunyai kursor kuning. Tidak ada musik yang bisa didengar dari gemuruh tanah dan teriakan yang memenuhi udara. Dan juga, tidak ada efek cahaya yang diakibatkan oleh sihir ilusi yang hadir.

Tampaknya kedua monster dewa jahat tidak mengetahui keberadaan kelompok Lyfa dan melanjutkan pertarungan intens mereka. Namun, raksasa berwajah tiga itu tampaknya memiliki keuntungan, sedangkan gerakan ubur-ubur berkepala gajah itu tampaknya melamban. Akhirnya, dengan ayunan pedangnya, raksasa itu memotong salah satu kaki bercakar ubur-ubur tersebut. Kakinya jatuh ke tanah dekat Lyfa dengan impak tanah bergetar.

"Hei, bukankah tampaknya sedikit berbahaya berada di sini...?"

Asuna berbisik di sampingnya. Lyfa mengangguk tetapi tidak bisa menggerakkan dirinya. Darah dari luka ubur-ubur tersebut terpercik ke salju putih, mewarnainya hitam, dan Lyfa tidak dapat melepaskan pandangannya dari dewa jahat berkepala gajah itu.

Luka monster ubur-ubur tersebut memaksanya berteriak nyaring selagi mencoba kabur. Raksasa itu tidak akan membiarkannya pergi, namun mengayun pedang besinya dengan lebih kuat lagi pada tubuh ubur-ubur itu. Tidak tahan dengan tekanan itu, ubur-ubur itu berteriak selagi berusaha meringkuk ke tanah, teriakannya perlahan-lahan melemah. Raksasa itu tetap mengayun pedangnya tanpa ampun, mengukir luka kejam di kulit abu-abu ubur-ubur tersebut.

"...Selamatkan dia, Menma."

Mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya, Lyfa terkejut dengan dirinya sendiri.

Ekspresi dari wajah Naruto tiga kali lebih mengejutkan darinya. Menatap Lyfa dan kedua monster dewa jahat, Naruto menanyai Lyfa dengan suara bingung.

"Yang mana?"

Memang, dibandingkan dengan raksasa berwajah tiga, ubur-ubur itu lebih aneh bentuknya. Tapi dalam situasi ini, tidak perlu ragu-ragu.

"Tentu saja monster yang sedang disakiti."

Lyfa menjawab langsung, tetapi Naruto menjawab dengan pertanyaan yang wajar.

"Gimana?"

"Uhm..."

Lyfa menjawab tanpa respon. Sebagian besar karena fakta bahwa dia tidak memiliki ide untuk melakukan itu. Selama periode keraguan Lyfa, lebih banyak luka muncul di belakang punggung biru keabuan dewa jahat berkepala gajah tersebut.

"...Menma, lakukan sesuatu!"

Lyfa menangis sambil menggenggam kedua tangannya ke dadanya. Laki-laki Spriggan itu tidak melakukan apa-apa selain menggaruk rambut hitamnya. Asuna saja ikut iba melihat Lyfa yang menangis dan memegang bahu Lyfa dengan erat.

"Meski kamu bilang itu..."

Tiba-tiba tangan Naruto berhenti bergerak dan menatap ke monster dewa jahat lagi.

Matanya menyipit sedikit, kedipan matanya mengkilap mengikuti kecepatan jalan pikiran di otaknya.

"...Bentuk seperti itu, kalau ada maknanya..."

Naruto bergumam. Kemudian ia melihat sekeliling daerah itu dan berbisik ke Yui yang sedang duduk di bahunya.

"Yui, apa ada air dekat sini? Sungai atau danau pun bisa saja!"

Mendengar itu, pixie itu menutup matanya tanpa bertanya alasan dari Naruto dan mulai menganggukkan kepalanya hampir dengan segera.

"Ada, Papa! Sekitar dua ratus meter ke utara ada sebuah danau beku!"

"Bagus... Lyfa, Asuna, larilah ke sana sepertinya nyawa kalian bergantung padanya."

"Eh... Hah?"

Sepertinya Naruto sedang membicarakan bentuk raksasa berwajah tiga dan berlengan empat tetapi apa hubungannya dengan air yang dia bicarakan? Lyfa bingung tetapi Naruto tidak berkata apa-apa sambil membungkuk dan menarik keluar paku panjang dan gemuk dari sabuknya.

'Itu pasti cungkil pelempar,' pikir Lyfa meskipun tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Karena ALO mempunyai serangan sihir jarak jauh yang sangat kuat, tidak ada gunanya melatih teknik senjata simpel jarak jauh.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Sekian sampai di sini untuk chapter 6. Terima kasih banyak buat yang sudah mereview...

Kamis, 27 Oktober 2016