Author Note:
Holaaa!
Maaf ya lama uploadnya.. Hehehe *Menundukkan kepala*
Saya mau mengucapkan terima kasih buat reviewnya! ^^ Memang sebenernya itu udah rencana awal buat si Claire selalu bilang "Nenek Tolong Aku" di akhir chapter.. Karena.. jeng.. jeng.. jeng.. Nanti akan dijelaskan di dalam cerita! Hahaha! *melarikan diri*
Ya, inilah lanjutan dari kisah gaje saya.. Semoga bisa menghibur!
Mohon kritik dan sarannya jika berkenan~~ Terima kasih!
Part 6
Cooking festival
Donatku ada lima…
Donatku..
Donat..
Enak..
((Mmm.. Suara apa itu?)) batin Claire.
Claire.. Claire..
((Nenek! Itu suara nenek! Aku mimpi ya?!))
Claire.. Ini, ada snack siang untukmu..
((Nenek.. Iya ya.. Dulu nenek selalu memberikanku snack setiap harinya..))
Ayo, dimakan sebelum dingin..
((Baik nenek! Hari ini ada snack apa?))
Lihatlah, ini kesukaanmu..
((Hore! Heh.. Ini kan.. DONAT! KENAPA ADA LIMA?!))
"hoi.. HOIII! BANGUN!" suara Jack membangunkan Claire.
"Mmm.. Aku.. dimana?" Claire baru sadar dari mimpinya.
"…. Kau mimpi apa sih? Bisa sampai jatuh dari kursi.." Tanya Jack heran.
"Ee.. Itu.. Donat?" jawab Claire entah ling lung.. Atau masih ngantuk.
"… Ini efek acara gak jelas kemarin. Cuci muka dulu sana!" ujar Jack sambil berdiri dan menuju keluar rumah. Sementara Claire masih belum sadar benar dari mimpinya.
Claire pun mandi dan setelah selesai mandi ditemuinya Jack, sedang duduk di sofa sambil berpikir mengenai sesuatu.
"Ah, kau sudah selesai? Kemarilah sebentar.." Panggil Jack.
"Hmm? Ada apa? Aku harus mengurus ladangku.." jawab Claire.
"Apa kau punya ide untuk lomba memasak?" Tanya Jack.
"Mmm.." Claire terdiam. "Donat?"
"… Acara tadi malam itu benar-benar mengerikan!" jawab Jack dengan muka yang lebih mengerikan dari apa yang dia katakan.
"BUKAN! Aku bukan membuat donat karena lagu gak jelas yang jadi backsong acara itu.. Aku.. entah kenapa jadi ingat tentang nenekku.." Jawab Claire.
"Nenek? Nenekmu jualan donat?" Tanya Jack.
"BUKAN! AH! Kau ini! Nenekku sering membuatkan aku snack dulu.. Dan aku memimpikannya semalam.."
"Snacknya donat?" Tanya Jack.
"Ya.. Gak selalu donat sih.." Jawab Claire.
"Pantas mukamu kayak donat."
Claire hampir melemparkan kapaknya ke arah Jack, namun, Jack segera bersembunyi ke dalam kamarnya.
"AKU SERIUS!" teriak Claire.
Kreekk..
Jack membuka pintu kamarnya.
"Yah, boleh saja sih kalau kau mau membuat donat.." jawab Jack.
"Benarkah?!"
"Jangan senang dulu! … Kau tau cara membuat donat?"
JLEB!
Jack pun ber-sweatdrop melihat ekspresi membatu Claire.
"Ah! Aku bisa tanya Ann atau Doug!" Claire segera berlari ke pintu keluar.
"Tapi mereka kan juga ikut lomba, apa kau pikir mereka akan semudah itu membantu saingan mereka?"
"…."
Bruk!
Claire terjatuh ke lantai.
"Aku harus bagaimanaa~~" ujar Claire.
"Hmm.. Adakah seseorang disini yang bisa memasak selain mereka? Tapi tidak mengikuti lomba memasak?" Tanya Jack.
"Hmmm…" Mereka pun berpikir.
-Akhirnya-
"Donat?"
Claire menganggukkan kepalanya. Tepat di depannya saat ini adalah Ellen, nenek Elli. Hanya dialah satu-satunya orang di pikiran Claire yang bisa memasak, dan tidak akan ikut lomba memasak. Dan jujur, dia sedikit mengingatkan Claire pada neneknya.
"Hahaha, tapi kenapa kau menanyakannya padaku? Padahal kan.."
"Tidak apa-apa! Aku mohon! Walaupun hanya resep saja! Aku membutuhkannya.. Aku mohon!" ucap Claire.
"Kalau resep kau bisa mencarinya di perpusta.."
"Aku mohon! Ibu Mary, Anna, juga ingin ikut dalam festival memasak.. Pasti resep-resepnya dia sembunyikan!" pinta Claire.
"… Baiklah, tapi aku sarankan jangan berharap banyak dari nenek tua sepertiku ya.." ucapnya sambil tersenyum.
"Terimakasih, Ellen!" ucap Claire berterima kasih.
"Baiklah, pertama-tama…"
-30 menit kemudian-
"Aku pulang.. Nenek.. Ada cemilan tidak.. WUAH!"
Stu yang baru masuk pun panik melihat gumpalan asap yang memenuhi rumahnya. Dengan bingung dia pun berteriak.
"Bagaimana ini?! Aku harus keluar, atau menyelamatkan nenek?! Aku.. Aku!"
"Stu.."
"Ahhh! NENEKK!"
"Stu. Tidak apa-apa." Suara Ellen yang lembut menyadarkan Stu.
"Nenek? Dan juga.. Claire?!" teriak Stu heran.
"Ha-hai.. Maafkan aku!" ucap Claire sambil menundukkan tubuhnya ke lantai.
"Tidak apa Claire, kau kan masih belajar.. Setidaknya ini lebih baik dari saat pertama kali aku memasak." Hibur Ellen.
"Benarkah..?" ujar Claire, mulai terhibur.
"Claire ingin belajar memasak?" Tanya Stu.
"Be-begitulah.." jawab Claire.
"Lalu.. apa yang kau masak ini?" Tanya Stu sambil menunjukkan gumpalan kenyal hitam yang ada di piring.
"… Donat."
"…"
Hening.
"BWAHAHA! APA INI?! LEBIH PARAH DARI ELLI!" Stu tertawa sambil berguling-guling di lantai.
"J-jangan begitu dong!" Claire mulai menangis lagi.
"Tenanglah Claire.. Stu, kau tidak boleh berkata begitu.." ujar Ellen.
"Huuh.. Iya.. Iya.." Stu mulai cemberut.
"Nah, Claire.. bawahlah itu." Ucap Ellen sambil menunjukkan alat yang tadi digunakan Claire untuk memanggang donat.
"Ehh!? Benar boleh kubawa?" jawab Claire kaget.
"Ya, bawalah.. Untukmu latihan di rumah.. Nanti tunjukan padaku hasilnya yaa.." Ellen tersenyum.
Entah kenapa melihat senyuman Ellen, Claire menjadi rindu kepada neneknya. Alhasil, dia pun pulang dengan membawa alat masak dan sebungkus kantung penuh berisi tepung, telur, susu, dan beberapa bahan lainnya, yang membuat Jack kaget.
"Apa itu?!" Jack pun terbangun dari bawah pohon yang sebelumnya dia sandari, sambil bermain-main dengan Hoshi dan Thunder.
"Alat masak… dan beberapa bahan.." ucap Claire lesu.
"O-oh.."
Jack agak segan melihat sikap Claire yang benar-benar aneh hari ini. Claire pun masuk ke dalam rumah. Dan beberapa saat setelahnya, mulai muncul asap hitam dari dalam rumah. Jack segera mengambil air di kolam ikan dengan menggunakan ember dan berlari diikuti Hoshi menuju rumahnya, layaknya pemadam kebakaran.
"Minggirrr!" Teriak Jack.
BYUUURRR!
Claire basah kuyup.
"….." Claire terdiam.
".. Mm.. Rumahku tidak terbakar kan?" Tanya Jack dengan muka polosnya.
"Tidak, hanya ada masakan gosong saja." Ucap Claire sambil pergi mengambil handuk dan baju gantinya, lalu keluar rumah.
"Hei! Kau mau kemana?! Bereskan dulu medan bencana ini!" Jack menunjuk ke arah 'bencana' yang barusan dibuat Claire.
"Nanti dulu."
Blam!
Claire pergi keluar. Meninggalan Jack, Hoshi serta beberapa gumpalan asap yang masih tersisa di rumahnya.
"… Dia kenapa sih?"
"Guk..?"
-Pemandian Air Panas-
Claire pun memasuki pemandian air panas di samping air terjun dewi. Dia pun mulai melepaskan perasaan campur aduknya tadi. Perasaan rindu pada neneknya, dan perasaan iri pada Stu dan Elli. Karena masih memiliki Ellen di sisinya.
"Hah.. Enaknya.." ujar Claire menikmati pemandian air panas itu.
Tanpa disadari langit mulai kejinggaan. Dan Claire mulai berpikir, apa dia sanggup membuat donat itu hanya dalam waktu kurang dari 3 hari?
"Sanggup kok.."
JENG!
Tiba-tiba di sebelah Claire muncul dewi yang juga sedang menikmati air panas. Tapi bedanya, dia tetap memakai gaunnya yang sama sekali tidak basah saat terkena air panas.
"Wuah! Kaget aku!" ucap Claire sambil mundur beberapa langkah.
"Selamat sore Claire. Apa kabar?" Tanya dewi dengan ekspresi dan suara lembutnya.
"A-ah.. Baik.." entah kenapa Claire refleks menjawab.
"Tapi kau tidak terlihat baik?"
"….."
Claire pun terdiam. Dan ia akhirnya menceritakan tentang neneknya kepada sang dewi. Kalau dia hanya tinggal berdua bersama neneknya, soal snack yang setiap hari neneknya buatkan, dan soal menu untuk lomba memasak yang akan ia buat. Donat.
"Menurutku itu ide yang bagus!" jawab Dewi senang.
"Tapi.. Apa menurutmu ini sesuai dengan tema?" Tanya Claire ragu.
"Cocok kok! Kau membuatnya dengan mengekspresikan cinta nenekmu kepadamu kan? Lewat snack di sore hari."
"Be-begitu ya.." Claire termenung. Sementara dewi, di sampingnya memikirkan sesuatu.
"Ah! Itu ada lagunya kan ya? Aku tau loh! Donatku.."
"STOP!" Claire menutup mulut dewi. "Lagu itu sudah cukup membuatku tersiksa."
"Loh, kenapa? Setiap tahun juri itu selalu menyanyikannya sebelum acara dimulai." Jawab Dewi.
"Ti-tidak mungkin.." jawab Claire sambil menenggelamkan dirinya ke dalam air.
"Tapi untungnya tema kali ini cinta.. Kalau temanya seperti dulu.. Mungkin.."
"Mmm? Apa tadi kau bilang, dewi?" Tanya Claire setelah akhirnya muncul ke permukaan.
"Tidak, tidak apa." Ucap dewi tersenyum, menyembunyikan sesuatu.
"Apa menurutmu aku akan menang?"
"Hmm?"
"Aku sama sekali tidak bisa memasak.. Dan.. Aku juga teledor.." ucap Claire.
"Claire, menurutku lomba ini bukanlah soal pandai memasak atau sebagainya. Apa kau ingat tema lomba ini?"
"Cinta?"
"Ya, cinta. Karena itu Claire.. Yang kau butuhkan untuk memenangkan lomba ini, adalah perasaan sayangmu kepada nenekmu.. Yang akan kau tunjukkan di perlombaan nanti." Ujar Dewi.
".. Ya, kau benar.. mungkin.."
"Kau meragukanku?"
Seketika hawa menyeramkan mengelilingi Claire. Merasa sadar dan terancam, Claire pun buru—buru mengganti pernyataannya barusan.
"Ti-tidak! Aku percaya kok! Hehehe!" Suasana pun tenang kembali.
"Jadi.. apa yang akan kamu lakukan?" Tanya dewi.
"…. Ya!" Claire pun langsung berdiri dan segera berganti baju, lalu keluar dari pemandian air panas itu.
"Aku akan berlatih lagi membuat donat!" terangnya.
"Itu baru namanya Claire! Pergilah!" ucap sang dewi.
"Baiklah! Terima kasih, Harvest Goddess!" Claire pun melesat kembali ke Mineral Farm.
"Dapatkah kau melihatnya? Cucumu benar-benar hebat, bukan?" ucap Dewi kepada seseorang, didekatnya.
-Mineral Farm-
"Donatku ada lima~ Rupa-rupa warnanya~"
"Guk!"
"Hijau kuning kelabu~ Merah muda dan biru~~"
"Guk!"
Jack yang saat ini duduk di atas sofa, dengan sekuat tenaganya menutup kedua kupingnya agar tidak mendengar lagu kutukan itu. Sudah sejak 30 menit yang lalu ketika para kurcaci itu datang ke rumahnya, lalu menyanyikan lagu sial yang entah darimana mereka bisa tau dan hapal itu. Dan entah kenapa Hoshi juga ikut-ikutan menyanyi bersama mereka.
"Donatku meletus satu~~"
BRAAAKKKK!
Dentuman Claire saat membanting pintu membuat mereka semua terpental dari posisi mereka tadi.
"Hei! Pelan-pelan dong buka pintunya!" Jack protes karena dialah yang paling kesakitan. Jatuh dari sofa.
"Aku sudah memutuskan!" Ucap Claire gagah.
"Guk?" Hoshi bingung.
"Aku akan berlatih membuat donat sampai bisa!"
DUGEER!
Saat ini Claire dilatar belakangi oleh gunung api meletus.
"Woaahh! Keren!" ujar para kurcaci bertepuk tangan.
"Haah.. Dia mulai lagi.. Boleh saja asal kau tidak menghancurkan rumahku…"
BUUUMMMM!
Belum selesai Jack berbicara, Claire sudah menciptakan suara yang tidak kalah dasyat dari suara meletusnya donat di lagu sial itu.
"A-apa yang kau lakukan?!" Jack panik.
"Hehe.. Maaf.. Aku salah.." cengir Claire.
"Kami akan membantumu Claire!" ucap para kurcaci.
"Benarkah?" Tanya Claire senang.
"Iyaa!" Jawab mereka serentak.
"Hancurlah rumahku.." ucap Jack pasrah sambil menutup muka dengan kedua tangannya. Lalu beranjak keluar rumah, sebelum dirinya ikut dibuat hancur oleh mereka.
BUM GEDEBUM BAM BIM BUM DUGEERR!
Setelah beberapa ledakan dan letusan, akhirnya para kurcaci itu keluar dengan baju yang entah kenapa berubah menjadi baju melayat, hitam kelam. Sehingga Jack tidak bisa membedakan mereka sama sekali.
"Jack…" ujar salah satu kurcaci yang sekarang hitam seluruhnya itu.
"I-iya?" Tanya Jack.
"Mari kita bekerja keras membuat Claire bisa membuat.. donat.."
"… Baiklah.." Jack mengangguk meng-iya-kan.
Jack pun masuk ke dalam rumahnya, walau tidak sepenuhnya terlihat seperti rumahnya dengan gumpalan benda hitam dimana-mana. Di sudut pojok terdapat Claire yang sedang memegangi sebuah piring dengan suatu benda di atas piring tersebut.
"Jack! Lihat!" Claire segera berlari ke arah Jack. Menunjukkan sebuah benda kenyal berwarna abu-abu di atas piringnya.
"Lihat! Dari hitam warnanya sudah menjadi abu-abu loh! Keren kan!" Ucap Claire bangga.
"…" Jack terdiam melihat benda yang sama sekali 'TIDAK' bisa disebut donat.. bahkan makanan sekalipun.
"Ayo! Aku akan berlatih malam ini untuk bisa membuat warnanya menjadi cokelat!" Kemudian Claire berlari ke arah dapur dan mencoba membuat 'donat'nya itu.
"… Setidaknya, kalau kau mau menghancurkan rumahku, sisakanlah kamar ini." Ucap Jack sambil masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintunya rapat-rapat, dan bersiap akan pertunjukan musik yang akan menemaninya semalamam.
-20 Spring 05.00 AM-
BUUMMMM!
Akhirnya, setelah 101 ledakan yang menyumbat di kupingnya, Jack pun memutuskan untuk beranjak keluar kamarnya dan melihat, sudah menjadi manusia macam apakah Claire itu. Dan benar saja, hal pertama yang dilihat Jack saat dia keluar dari kamarnya adalah seorang gadis, yang rambutnya penuh dengan adonan kue yang bermacam-macam warnanya, yang bahkan Jack tak berani menanyakan bagaimana adonan itu bisa beraneka ragam macam warna seperti itu.
Dan wajah gadis itu tidak bisa di deksripsikan dengan berbagai macam warna di mukanya serta kantung mata yang mendukungnya menjadi artis dalam film horror terbaru.
Dan ditambah lagi.. Benda yang dipegangnya..
"JACKK!" Teriakan Claire membuat Jack mundur beberapa langkah, apalagi dengan muka Claire yang saat ini benar-benar mendukungnya menjadi salah satu monster di holywood.
"A-apaa?" Tanya Jack.
"LIHAT! WARNANYA SUDAH JADI COKELAT! Layaknya donat biasa! Lihat!" Claire menunjukkan 'donat'nya. Memang benar, donat itu sudah menyerupai donat biasa, namun kekenyalannya yang seperti agar itu masih membuat Jack takut untuk memakannya.
"Mmm.. Ya, ini hanya perlu beberapa perbaikan.. Mungkin.. Kau sudah hebat." Puji Jack yang masih agak ling lung.
"Benarkaaahhh?!" Senyum Claire kali ini benar-benar lebar, terlebih karena Jack yang memujinya. Bahkan 2 buah apel pun mampu masuk ke mulutnya. (?)
"I-i-iya.." Jack kali ini sudah memegang ganggang pintu kamarnya. Jaga-jaga kalau makhluk di depannya ini akan memakannya.
"Haah.. Syukurlah…" Claire mulai mendapatkan kenormalannya.
"Ya, sudah.. lebih baik sekarang kau mandi dulu.. Coba kau ngaca! Kau bahkan sudah meragukan untuk disebut manusia lagi!" Ujar Jack sambil menunjuk ke arah cermin.
"Apa katamu?! Huhh.. Ya.. Baiklah.. Aku mau mandi dulu.. Lalu aku langsung mengurus ladang, dan juga Thunder dan Hoshi.. SEMANGAT!"
Claire langsung melesat menuju kamar mandi. 30 detik kemudian, dia sudah keluar dan berlari keluar rumah. Meninggalkan Jack yang terpaku melihat semangatnya. Namun, rasa kagum itu langsung tandas begitu melihat dapur miliknya yang sudah tak layak pakai itu.
"… Lain kali akan kusuruh dia merenovasi rumah ini."
Setelah selesai dengan urusannya di ladang, Claire pun kembali berlatih terus menerus dengan dukungan dari para kurcaci. Hingga, saat malam hari sebelum lomba dimulai..
-21 Spring 18.30 PM-
"T…I…DAK… BI…SAAA…."
BRUUKK!
Claire pun terjatuh. Jack pun menghela napas melihat Claire. Tangannya penuh dengan perban yang entah bisa diperban karena apa. Kantung matanya.. sudah tidak pantas disebut mata panda lagi dengan warna yang bahkan lebih gelap dari pada hitam (emangnya ada?).
"Bagaimana.. Ini?" Claire pun mulai mengeluarkan air matanya, hingga tiba-tiba..
BUAK!
Jack melemparkan bantal ke arah Claire. Tetapi, mungkin saking lemasnya, Claire sampai terguling-guling hanya karena sebuah bantal.
"….." Tak sanggup protes, Claire hanya memelototi Jack.
"Tidur." Jack mengacuhkan pelototan Claire.
"Hah?" Claire plengo.
"TIDUR BODOH! Dengan mata seperti itu, kau kira kau bisa membedakan mana piring atau mangkok?! Bahkan kau sudah sampai ngiler.." Jawab Jack.
"A-apa?!" Claire otomatis meraba-raba bibirnya kemudian..
PLOK!
Jack melemparkan selimut ke arah Claire.
"Bisa gak sih gak usah dilempar?!" Claire emosi.
"Istirahat di sana." Ucap Jack sambil berjalan ke arah dapur.
"Apa yang mau kau laku.."
Ucapan Claire terhenti begitu melihat Jack memakai celemek di tubuhnya. Bahkan Claire saja tidak menggunakan celemek saat ia memasak. Dia pun terpana melihat Jack dan dia pun memutuskan untuk menanyakan hal yang ada di pikirannya. Jangan-jangan.. Jack..
"…. Jack.. kau.."
"Hmm?"
"Kau mau belajar jadi ibu rumah tangga?"
…...
"BODOH! Aku mau memasak! Sudah sana tidur! Kau itu.. pikiranmu sudah kacau semua.." ucap Jack sambil mulai mengambil mangkok dan beberapa bahan lainnya.
"Oh.. begi..tu.." Pandangan Claire mulai kabur. Dia sudah sangat mengantuk.
"5 jam lagi akan kubangunkan kau.. Aku akan mencoba resep ini, setelah aku berhasil, aku akan mengajarkannya padamu. Makanya kau itu… … … Memaksakan … …. … bodoh… … aku…"
Claire sudah tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Jack katakan. Seketika, semuanya menjadi gelap.
((Mmm.. Bau apa ini?))
((…))
((Harum ini.. Harum yang kurindukan..))
((Ini.. Ini..))
Perlahan, Claire pun membuka matanya. Seketika kedua matanya langsung melotot melihat apa yang ada di depannya. Jack, yang wajahnya hanya berjarak 10 cm darinya, sedang memandanginya.
"GYAAAAAAA!"
PLAAAKK!
Secara refleks, Claire melemparkan mangkok yang ada di dekatnya ke arah Jack.
"Aduh! Apa-apaan sih kau?!" Jawab Jack sambil mengusap-usap kepalanya.
"Maaf.. Aku refleks.. Hehe.. He.." Claire terpaku melihat apa yang ada di atas meja. Lima donat, berbentuk sempurna.
"Oh? Itu? Ya, aku sudah berhasil membuatnya. Siapa dulu yang buat? Hahaha!" Jack membanggakan dirinya.
Namun, Claire hanya terdiam melihat donat itu. Sehingga Jack pun merasa dirinya diabaikan. Lalu mendekati Claire.
"Hoi, setidaknya bilang terima ka.." Kedua mata Jack langsung melotot melihat Claire menangis.
"Hiks.. Hiks.."
"HOI! Kok nangis?! Berhenti.." Secara refleks, Jack berniat mengusap kepala Claire, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu, lalu menurunkan tangannya. Sementara Claire masih terus menangis.
"Ja…" Jack mengambil donat yang ada di depannya.
"Jangan hanya menangis! Bodoh!" Jack memasukkan donatnya ke mulut Claire.
"Upfht!" Claire tersedak.
"Ayo, mana semangatmu yang tadi? Cepat, kita perlu membuat donat! Waktu kita tinggal sedikit!" Jack melemparkan celemeknya ke arah Claire.
"…." Claire masih terdiam.
"Saat memasak pakailah celemek. Kau tidak mau nenekmu menertawakanmu karena tidak tau apa guna celemek itu kan?" Jawab Jack sambil menyiapkan bahan-bahan.
Claire terdiam melihat Jack. Dia merasa hatinya sangat hangat. Saat berada bersama Jack, dia merasa seperti sedang bersama neneknya. Bahkan kalau mau jujur, rasa donat buatan Jack persis dengan rasa donat buatan neneknya. Apa itu karena resep dari Ellen, atau karena Jack?
"Ayo, cepat! Aku tidak akan sungkan-sungkan mengajarimu loh!" Ujar Jack sambil tersenyum bangga.
"… Iya.. Terima kasih." Jawab Claire sambil membalas senyuman Jack.
-22 Spring 04.00 AM-
"Berhasil.." Mata Claire berkaca-kaca melihat donat yang ada di depannya. "BERHASIL!"
"Yah.. Akhirnya.. Setelah lima jam mengajarimu cara membedakan garam dan gula, susu dan mayonnaise, dan benda-benda lainnya.. Donat itu jadi juga.." Kali ini mata Jack tidak kalah heboh dari mata Claire.
"Jack! Terima kasih!" Spontan Claire berlari memeluk Jack, namun sebelum hal itu terjadi, Jack langsung menghindar sehingga membuat Claire terjungkal.
BRUK! KOMPYANG!
Claire menabrak panci yang ada di sampingnya.
"Jack.. Apa-apaan sih?!" Claire protes sambil mengembalikan panci yang rada peyot itu ke tempatnya semula.
"…" Jack pun terdiam sesaat, kemudian bicara lagi. "Hahaha! Bodoh.. Kau lupa aku ini hantu? Mana bisa kau menyentuhku? Atau.. Kau benar-benar ingin memelukku?" Jawab Jack dengan nada meledek.
"…" Sesaat Claire terdiam, namun perlahan mukanya memerah. "A… A… Apa…"
"…Jangan lakukan hal itu lagi ya."
"..Hah?" Claire mendengar Jack bicara sesuatu, tetapi suaranya sangat kecil.
BUKKK!
Jack melemparkan bantal ke arah Claire.
"APAAN SIH?!" Claire emosi.
"Cepat berangkat! Kita harus siap-siap. Jangan lupa, bawa donatmu itu." Jack pun masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Claire sendirian.
"Huh.. Iya.. Iya.." Jawab Claire sambil membungkus makanan yang telah ia buat itu, lalu pergi meninggalkannya ke kamar mandi.
Tanpa mereka berdua sadari, muncul seseorang dari balik pintu.
"Hmmm.. Wangi apa ini?" Ujar makhluk yang berwarna hijau itu. Tebak siapa itu?
Makhluk hijau atau yang nama kerennya *ohok!* Kappa itu, mendekati bungkusan yang baru saja dipersiapkan Claire.
"Wah.. Apa ini?" Kappa pun membuka bungkusan itu, dan dilihatnya adonan bulat berwarna-warni.
"WOW! Kelihatannya enak! Ukh.. Aku lapar nih.. Ehm.."
Kappa pun melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang, lalu mengambil makanan yang terlihat enak itu dan menggigitnya. Namun, belum selesai makan, Claire sudah keluar dari kamar mandi. Takut ketahuan, buru-buru Kappa langsung memasukkan kembali donatnya itu, lalu pergi dari rumah itu. Sementara Claire tidak menyadari apa yang terjadi pada donatnya. Sama sekali.
-Alun-alun Kota 22 Spring 10.00 AM-
[[HALO SEMUA! SELAMAT DATANG DI.. FESTIVAL MEMASAK!]]
~Jeng jeng jeng jeng jeng~
Nada musik tanda diadakannya festival mulai dibunyikan dengan beberapa sambutan kata dari sang mayor. Tampaknya mayor berbaju serba merah itu mendapatkan mikrofon barunya, semenjak mikrofon legendanya itu diprotes orang banyak. Namun, mikrofon barunya itu tampak sangat mencolok, dengan warna pink cerah ditambah bunga dan pita menghiasinya.
"Stt! Ayah, kenapa kau beli mikrofon seperti itu?!" Haris, anaknya pun ikut malu.
[[Ckckck.. Haris oh Haris.. Mikrofon ini terkenal di kalangan anak muda.. Ini sedang terkenal di kota.. Itu loh! Trent! Trent!]] ujar sang Mayor.
"Ayah.. Itu 'trend' ayah.. Bukan 'Trent'…" Jawab Haris sambil menutupi mukanya.
"Hatsyim!" Dokter yang merasa namanya yang masih belum diketahui orang-orang desa itu disebut pun, sampai bersin.
"Hah.. Entah kenapa aku jadi tidak pede.." Claire yang sudah datang sejak pukul 8 pagi itu sekarang sedang menunggu di mejanya. Dia pun melirik sekitarnya. Makanan yang mereka semua buat terlihat sangat enak. Tiba-tiba..
~JENG JENGGGGGG! HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI~
Claire mengenal nada horror itu. Dan dia juga ingat kepada orang-orang berbaju bola yang darimana datangnya sedang berputar-putar di tengah alun-alun kota. Lalu dia teringat akan perkataan sang dewi di pemandian air panas. Claire pun buru-buru menutup kupingnya sebelum…
~Donatku ada limaaa, Rupa-rupa warnanya~~
"… Oh Tuhan.." ucap Claire pasrah sambil menutup kupingnya.
Setelah lagu kenangan itu habis, munculah sang tokoh utama kita…. #eh! Bukan!#
"HOHOHOHO! APA KABAR SEMUA!" Pria montok berbaju serba ungu itu pun berjalan ke sebelah mayor.
[[YAK! Tanpa basa-basi lagi, kita langsung saja mulai lombanya! CEK IT OT!"]]
"A-ayah…" Sang petugas keamanan itu hanya bisa menunduki wajahnya, mendengar bahasa ayahnya yang sedikit melenceng dari tata bahasa itu.
"Baiklah, akan kumulai.. Apa ini?" Tanya sang juri.
"Ini adalah sup andalanku. Soup the special the Manna the Extra the Delicious the Little the Bit the Miso the.."
"Baiklah, akan kucoba." Ucap sang juri menghindari ucapan pemilik pabrik anggur yang mungkin tak aka nada habisnya itu. "Mmm.. lebih baik kalau kau tambah garamnya 1 sendok lagi." Lalu juri itu pun berjalan, meninggalkan Manna yang sedikit cemberut.
"Apa ini?" Tanya sang juri itu, tapi dengan muka yang mengerikan. Yang bahkan bila direkam masuk ke tv, mungkin muka sang juri itu akan disensor.
"Ini? Ini adalah cheese fondue!" Jawab anak perempuan pemilik supermarket itu dengan senyuman andalannya. "Mmm.. mungkin." Tambahnya.
"…" Juri itu pun mencoba mencicipinya. "&%*%# !" Saking dasyatnya, omongan sang juri pun sampai tersensor. Juri itu pun kembali berjalan menuju tempat sang ayah dan anak pemilik INN.
"Woaah! Apa ini?" Muka sang juri pun langsung cerah.
"Ini adalah andalanku! Tempura Noodles ala Ann!" Jawab Ann semangat.
"Dan ini adalah andalanku! Doug's Curry Noodles!" Doug tak kalah semangat dengan anaknya.
"Baiklah! Akan kucoba langsung keduanya!" Kemudian mata juri itu langsung berbinar-binar. "ENAK! ENAK SEKALI!" Kemudian juri itu berjalan, meninggalkan kedua ayah dan anak yang tersenyum itu.
Tibalah sang juri ke tempat Claire. Dan dilihatnya Claire yang sudah setengah sadar itu.
"Bungkusan apa ini?" Tanya nya.
"Eh-ehm! Itu.. Di dalamnya ada.. donat.. ehm.. saking .. gugupnya.. aku tidak.. berani membukanya…" Claire gugup.
Muka sang juri itu pun langsung berubah. Begitu juga orang-orang desa. Claire yang tidak mengerti apa-apa hanya diam saja.
"Do-donat? Donat katamu?" Tanya juri itu.
"Iya.. donat.." jawab Claire.
"DONATTTTTTTTTT?!" Muka juri itu pun langsung berubah menjadi merah biru hijau kuning dan jingga. (?) Claire pun mulai ketakutan melihat hidung juri yang menjadi membesar itu.
"Bukan.. bukannya anda suka pada donat?! Sampai dijadikan soundtrack lagu?!" Tanya Claire.
"Huh.. Itu.." Tiba-tiba sang juri berhenti berkata melihat isi dari bungkusan itu.
"Ehm.. Ada apa?" Claire mulai panik.
"I-ini.. Ti-Tidak mungkin…" jawab sang juri berkaca-kaca.
"Hee? Apanya yang tidak mungkin?" Tanya Claire polos.
"SUDAH KUPUTUSKAN!" Saat ini muka juri itu tinggal 5 cm lagi menyentuh wajah Claire. Dan Claire pun menyadari betapa besarnya wajah juri itu saat mendekat ke arahnya.
"Ya-yaya-yaa..?" Jawab Claire terpatah-patah.
"KAU! KAULAH PEMENANGNYA!"
"… He?"
"PEMENANGNYA ADALAH GADIS INI!" teriak sang juri.
[[Eh? EH? WOW! RUPANYA PEMENANGNYA ADALAH… CLAIRE! BERIKAN TEPUK TANGAN!]]
"Eh? Eh? Eh?" Claire masih bingung.
"Namamu.. Claire bukan?" Tanya sang juri lembut.
"Iya.. benar.."
"Terima kasih. Donatmu telah menyadarkanku. Sebelumnya aku sangat benci donat. Karena itu kunyanyikan kisahku bersama donat di setiap acaraku. Tapi.. Donatmu telah menyadarkanku.. Tentang betapa indahnya donat itu." Ucap sang juri sambil menunjukkan donat yang entah kenapa tiba-tiba berbentuk hati dengan artistik yang sangat indah sekali.
"HAA?! Itu.. Itu.. kenapa.. jadi.. begitu?!" Claire kaget.
"Donat ini.. sangat cocok dengan tema kita kali ini.. OHH! CINTA! LOVE! BEAUTIFUL!" Juri itu pun asik dengan dunianya sendiri.
"Baik..lah?" Sementara Claire masih bingung sendiri. Rasanya tadi pagi donatnya berbentuk bulat biasa. Bahkan sedikit gradakan. Apa karena dia mengantuk, jadi dia salah liat tadi pagi?
"Lain kali akan kuceritakan pengalamanku dengan donat kepadamu. Kita juga akan menyanyikan lagu donat bersama-sama nanti!" Ujar juri kepada Claire.
"Tidak, terima kasih." Jawab Claire dengan suara sekecil mungkin namun sedalam mungkin. Bisa-bisa Claire di opname hanya karena kebanyakan mendengarkan lagu itu.
[[UNTUK CLAIRE! DIBERIKAN PIALA INI!]] ucap sang mayor sambil memberikan piala kepada Claire.
"O-oh! IYA! Terima kasih!" ucap Claire senang. Entah apa yang membuat donat Claire menjadi sangat berseni begitu.
[[BAIKLAH, DENGAN INI FESTIVAL MEMASAK PUN SELESAI!]]
JENG JENGGG~~~~
Merasa bulu kuduknya mulai berdiri mendengar nada itu, Claire pun langsung berlari dari alun-alun kota itu. Dia pergi berterima kasih kepada Ellen, lalu pergi ke tempat tujuan berikutnya. Tempat sang guru yang membuatnya berhasil membuat donat di saat terakhir.
BRAK!
"JACK! Aku berhasil!" Claire membuka pintu rumah Jack dan mendapati Jack sedang tertidur di 'tempat tidur Claire.' Sofa.
"Ah… Dia tidur.." Jawab Claire sambil mendekati Jack. Dia memperhatikan Jack dengan seksama. *ehm* kan mumpung orangnya lagi tidur.
"Pulas sekali dia.. Hehehe.." Claire pun mencoba menyentuh rambutnya, namun…
Syuut!
"!"
BRUKK!
Claire pun terjatuh saking kagetnya.
"Mmm.. Loh? Kau sudah pulang?" Jack terbangun dari tidurnya. Alisnya pun terangkat melihat Claire yang saat ini sedang terduduk di lantai dengan ekspresi mulut 'o' nya.
"… Hei, kau tak apa-apa?" Tanya Jack.
"I-iyaa.." Jawab Claire.
"Ehh? Kau menang? Mustahil! Keren!" Jawab Jack sambil mengambil piala itu lalu mengambil kunci yang ada di dalamnya.
"Ya, tadi itu sebenarnya donatku berubah.. entah apa yang membuatnya menjadi sebagus itu ya?"
-Disisi lain-
"Hatsyiii!" Kappa bersin.
"Mmm? Kau kenapa?" Tanya dewi.
"Entahlah.." Jawab Kappa sambil mengucek-ngucek hidungnya.
"Hei! Kau makan ya?! Sudah kubilang saat kau pakai kawat ajaib buatanku itu, kau tidak boleh makan! Nanti bentuk makanan yang kau makan itu akan berubah!" jawab dewi marah.
"Habis aku lapar…" jawab Kappa.
"Hah.. Apa boleh buat.. Yah, sudahlah, tampaknya kawat itu telah membuat suatu keberuntungan!" jawab dewi senang.
"Lalu kapan aku bisa melepas kawat ini?" Tanya Kappa dengan muka memelas.
"Tidak bisa! Sampai gigimu benar-benar rata!" jawab dewi tegas.
"Jahatnyaaaaa~~" jawab Kappa meringgis.
-Kembali ke Mineral Farm -
"Berubah? Yah, sudahlah.. Yang penting kita menang!" jawab Jack senang sambil membuka salah satu gembok di kotak kecil itu.
"…" Tiba-tiba Claire terdiam.
"Mm? Kau kenapa?" Tanya Jack.
"Ah! Tidak! Aku mau mandi dulu!"
Claire langsung berlari keluar, menuju pemandian air panas. Meninggalkan Jack, yang terdiam, kemudian seperti berbicara sesuatu. Namun karena sudah meninggalkan rumah itu, Claire tidak dapat mendengar.. Apa yang Jack katakan barusan, sebelum ia pergi.
-Pemandian Air Panas -
Claire pun langsung menenggelamkan dirinya ke dalam pemandian itu.
"Haah… enaknya.." Ujar Claire.
Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya, dan melihat kedua telapak tangannya. Teringat kembali apa yang ia rasakan tadi.
Syuut!
"!"
BRUKK!
Telapaknya terasa dingin saat menyentuh Jack. Dan yang paling terasa sakit di hatinya adalah.. Saat tangannya.. Menembus.. Ketika menyentuh Jack.
"… Aku tau.. Dia itu hantu.. Aku harusnya tau.."
"Hahaha! Bodoh.. Kau lupa aku ini hantu? Mana bisa kau menyentuhku? Atau.. Kau benar-benar ingin memelukku?"
Claire teringat kata-kata Jack tadi. Saat ia ingin memeluknya. Sebenarnya sejak awal, Claire sudah tau. Dan Jack sudah membuktikannya berulang kali. Saat dimana dia tidak bisa menyentuh Hoshi.. Thunder.. Dan hanya bisa menyentuh benda mati.
"…"
Tiba-tiba, bunga-bunga pun bertebangan dan satu persatu, jatuh dan mengambang di pemandian air panas. Dan Claire mengambil salah satu bunga di depannya.
"Cantiknya.. Musim Spring sudah berakhir ya.."
Claire pun memutar-mutar bunga itu.
"Oh iya, bunga ini kan sudah terlepas dari tanah.. Kira-kira bunga ini masih hidup atau sudah mati ya? Kalau sudah mati.. Mungkin Jack bisa.."
"…Jangan lakukan hal itu lagi ya."
Tiba-tiba kata-kata terpahit yang diucapkan Jack terngiang di kepala Claire.
"… Kalau bunga ini sudah mati.. Jack mungkin…"
Perlahan, tetesan air mulai berjatuhan di atas bunga yang dipegang Claire itu.
"Bisa.. Menyentuhnya…"
Suara Claire mulai berputus-putus sampai akhirnya dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Air mata membasahi pipinya. Selama ini dia tidak menyadari perasaan Jack. Dia bisa melihat orang lain, tetapi tidak bagi orang lain untuk bisa melihatnya. Selain itu, Claire juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jack ketika ia ingin menyentuh sesuatu, tidak semua yang ia ingin sentuh, bisa tersentuh olehnya. Termasuk saat Claire ingin menyentuhnya. Kenapa Claire baru menyadarinya sekarang? Kenapa Claire juga ikut merasa sakit? Kenapa tiba-tiba.. Claire ingin menyentuhnya? Perasaan apa ini?
"Aku.. Tidak mengerti lagi.." ucap Claire sambil menenggelamkan dirinya sekali lagi ke dalam air panas.
Spring, musim dimana bunga-bunga tumbuh, sudah berakhir karena bunga-bunga itu sudah mulai mengering. Dan saat itu, bunga-bunga itu tenggelam di dalam pemandian air panas, bersamaan dengan perasaan Claire yang saat ini sedang bercampur aduk. Meskipun bunga itu telah mengering dan tenggelam, musim panas yang akan datang akan menghangatkan benih-benih bunga di tanah. Dapatkah musim panas yang akan datang.. juga menghangatkan bunga di hati Claire?
"Hiks…" Masih terus menangis, Claire pun berkata..
"…. Nenek.. Tolong Aku.."
-bersambung?-
