Nami terbangun saat merasakan cahaya masuk ke matanya. "Apa ini?" batinnya setengah sadar. Dia merasa begitu nyaman tertidur di atas benda yang begitu empuk.

"Tunggu," pekik Nami terlonjak kaget. "Dimana aku?"

Disapunya seluruh ruangan itu dengan pandangannya. Sebuah kamar yang begitu besar dengan fasilitas mewah. Dia belum pernah tidur di tempat semewah ini sebelumnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pakaiannya kini sudah berganti menjadi pakaian sehari-hari yang terbuat dari sutra. Nyaman sekali saat dipakai. Bukan pakaian pelayan seperti di restoran tempatnya bekerja.

"Apa yang sudah dilakukannya padaku?" gumam Nami seraya memeluk lutut. "Seingatku, aku tertidur di ruang VIP restoran kemarin. Dia memelukku." Nami mencoba mengingat.

"Tunggu sebentar. Restoran? Jam berapa sekarang?" pekiknya tiba-tiba tersadar. Dia ada shift pagi hari ini. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di atas lemari putih yang cukup besar sudah menunjukkan pukul 10:17.

"Mati aku. Dia benar-benar akan memecatku kali ini," Nami membulatkan matanya.

Dia segera berlari menuju pintu dan membukanya. Lalu sedikit terkejut dengan kemunculan seorang wanita berambut hitam panjang di depan pintu.

"Ara... Kau sudah bangun? Sepertinya tidurmu sangat nyenyak," ucap wanita itu tersenyum. Manis sekali.

"Siapa kau?" tanya Nami sedikit panik.

"Nico Robin. Kau boleh memanggilku Robin," jawabnya ramah.

"Dan... Dimana aku? Kenapa bajuku sudah berganti? Apa yang terjadi padaku kemarin malam?" tanya Nami bertubi-tubi.

"Nami, tenanglah. Luffy yang membawamu kemari. Dan ini rumahku. Lalu yang mengganti bajumu itu aku. Jadi kau tidak perlu panik begitu."

"Tunggu. Luffy?"

"Ya. Aku temannnya Luffy. Dia bilang mungkin lebih baik kau menginap di sini daripada di rumahnya," jelas Robin.

"Begitu ya?" Nami mulai tenang. "Oh ya. Aku harus pergi. Aku masuk kerja pagi ini."

"Sebaiknya jangan memaksakan dirimu. Kemarin malam kau sedikit demam. Tidak baik jika memaksakan diri begitu. Kalau kau mau, aku akan mengizinkanmu ke tempat kerjamu."

"Kau tidak mengerti. Manajerku itu bukan orang yang bisa diajak kompromi."

"Tapi setidaknya_"

"Aku harus pergi. Terima kasih atas tumpangannya," potong Nami dan berlalu dengan tergesa-gesa.

Robin menghela nafas. "Dia keras kepala juga."

*

"Robin bilang, dia pergi sekitar pukul 10 tadi," ucap Zoro melalui ponselnya.

"Kemana?" tanya Luffy dari seberang sana.

"Ke restoran tempatnya bekerja. Tapi aku baru saja dari restoran. Dia tidak ada di sana."

"Sokka?"

"Sepertinya dia pulang ke rumahnya. Kenapa kau tidak langsung menemuinya saja ke sana?" usul Zoro.

"Baiklah. Aku ke sana sekarang," ucap Luffy.

*

"Pasti yang ini," terka Luffy saat sudah sampai di depan rumah mungil dengan tanaman jeruk di sekitarnya.

Dia kemudian berjalan mendekati pintu. Lalu mengetuknya tiga kali.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Luffy sempat terkejut dengan seseorang yang membukanya. Tampak seorang wanita berambut oranye pendek dikepang dua berada di depannya saat ini. Dia yang membuka pintu barusan.

"Nami?" ucap Luffy. "Kau memotong rambutmu? Kenapa? Bukan masalah 'sih. Kau tetap saja cantik seperti biasa. Tapi aku lebih menyukai rambut panjangmu," lanjutnya tersenyum.

"Nami? Ano... Anda siapa?" tanya wanita itu.

"Eh? Kau tidak mengenalku? Ini aku. Luffy," ucap Luffy sedikit heran.

"Luffy? Oh ya, Luffy," ucapnya.

"Hah... Kupikir kau melupakanku," Luffy menghela nafas lega.

"PERGI DARI SINI," teriaknya tiba-tiba dengan wajah garang.

"Ehh... Kenapa? Kenapa tiba-tiba marah?" kaget Luffy. Ternyata wanita ini bisa berubah garang juga, walaupun cantik.

"JANGAN DATANG KEMARI LAGI. AKU TIDAK SUDI MELIHAT WAJAHMU," lanjutnya lagi dengan wajah lebih garang.

"Apa kau marah karena kejadian kemarin malam? Kalau karena itu, aku minta maaf," ucap Luffy merinding.

BLAM...

Tanpa mendapat jawaban, Luffy menyaksikan pintu itu tertutup dengan bantingan keras. Dia sampai kaget dibuatnya.

"Ada apa dengannya? Apa dia memotong rambut untuk membuang sial? Sepertinya aku memang keterlaluan kemarin malam," gumam Luffy. Dia kemudian memutuskan untuk pulang. Mungkin bertanya pada teman-temannya tentang cara untuk meredakan amukan singa tidak ada salahnya.

*

Zoro, Sanji dan Usopp tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan Luffy.

"Dia sampai memotong rambutnya karena menganggapmu sebagai pembawa sial?" Usopp tertawa sampai memegangi perutnya.

"Tentu saja dia marah kau perlakukan begitu. Kau harus bisa menahan diri dan tidak terlalu terburu-buru. Wanita tidak suka itu," ucap Sanji.

"Kupikir kau harus belajar lebih banyak lagi," ujar Zoro.

"Zoro, karena Robin tidak ada di sini, aku tidak bisa bertanya padanya mengenai kesukaan wanita. Mungkin aku bertanya padamu saja. Bagaimana caramu meluluhkan hari Robin dulunya?" tanya Luffy.

"Mudah saja. Karena aku sudah dekat dengannya sejak kuliah, kupikir hal itu bukan sesuatu yang sulit. Kebetulan dia juga tertarik padaku," jelas Zoro.

"Hmph... Robin-Chan tidak mungkin memiliki ketertarikan pada Marimo sepertimu," ledek Sanji.

"Diam kau, Koki Mesum. Memangnya kau pernah menemukan wanita yang benar-benar menyukaimu? Kupikir hanya di mimpi Akainu saja ada wanita yang menyukaimu," balas Zoro.

"Oi, bukan waktunya membahas itu," kesal Luffy.

"Luffy, mungkin karena Nami memiliki sifat yang berbeda dengan Robin. Seperti yang kau katakan, Nami akan berubah menjadi seekor singa pada saat marah. Aku tidak pernah membayangkan Robin bisa begitu. Terkadang sifat juga bisa menjadi alasan kenapa seseorang tidak menyukai tindakan nekat dari orang lain," jelas Usopp.

"Jadi... Apa yang harus kulakukan?" tanya Luffy.

"Kau bilang hari ini dia marah-marah tidak jelas sampai dia memotong rambutnya. Dia juga tidak bekerja hari ini. Menurut kesimpulanku, Hancock sudah memecatnya. Kau tau 'kan, wanita itu seperti apa? Itu sebabnya dia sangat marah padamu," jelas Usopp.

"Tapi, ada yang aneh. Dia sempat tidak mengenaliku. Tapi hanya sebentar saja. Lalu dia mulai marah-marah," ucap Luffy.

"Dia hanya syok. Siapapun bisa begitu. Kau tau kalau sekarang ini dia sangat sulit mencari pekerjaan. Menurutmu apa seseorang tidak syok saat dia dipecat dari pekerjaan yang hanya dengan itu dia mampu menghidupi keluarganya?" Zoro angkat bicara.

"Dia memiliki keluarga? Apa dia yang membiayai semuanya?" tanya Luffy lagi.

"Menurut informasi yang aku dapat, dia memiliki dua orang keluarga. Salah satunya adalah wanita bertato penjual ramen yang pernah kubeli untukmu. Itu adalah kakaknya. Tapi dia tidak bisa bekerja terlalu lelah karena berpengaruh pada kesehatannya. Dan yang satunya lagi... Aku kurang tau. Aku belum pernah lihat. Mungkin saja sudah..." Usopp menghentikan ucapannya. "Ah, tidak, tidak. Aku tidak bisa menyimpulkan seenaknya."

"Tapi, aku pernah mendengarnya menyebut nama Bellmere," ujar Sanji.

"Siapa itu?" Luffy kembali bertanya.

"Entahlah. Sepertinya itu adalah orang yang sangat berharga baginya," ucap Sanji.

Luffy menghela nafas panjang. "Aku harus bisa meyakinkannya dalam waktu dekat ini. Aku tidak mau menikah dengan orang lain selain dia," tekadnya.

"Mungkin kami juga harus berperan banyak dalam mencari informasi tentangnya," ujar Usopp.

*

To Be Continued...

Hmm... Aku hanya bisa menunggu RnR dari kalian. See you...

Terima kasih banyak buat RnR'nya Edogawa Luffy. Baca review dari kamu langsung membuat diriku semangat 45 buat lanjut :)