"indah kan?" suara itu menyapa pendengarannya, ia tak menjawab saat Siwon memakaikan sebuah syal tebal. "sebentar, aku akan membawa minuman hangat di dalam mobil."
Yesung tak bergeming bahkan hingga Siwon pergi ke tempat mobil mereka terparkir. Ia hanya memandang lurus air sungai yang begitu tenang malam hari ini. Di bawah sana pasti dingin kan? Dinginnya air sungai akan membunuhnya mengingat ini masih pemusim salju. Dan entah di rasuki oleh apa, tanpa perlu berpikir menaiki pagar pembatas dan berdiri di sana. Dari posisinya sekarang ini permukaan air sungai begitu tinggi dan jauh, jika ia melompat kesana apa ia akan langsung mati?
Ia mendengar Siwon berteriak dari jauh, ia berbalik. Siwon berlari secepat mungkin yang ia bisa, tapi terlambat. Kaki Yesung seperti bergerak dengan sendirinya melangkah mundur, ia menulikan diri dari teriakkan Choi Siwon. Meskipun samar karena gelap, Siwon bisa melihat Yesung tersenyum kecil sebelum kembali melangkah mundur.
Waktu seolah berhenti berputar ketika suara air menggema menelan tubuh Yesung.
.
.
.
A YeWon Fanfiction
.
.
Spfly3024 present..
.
.
.
The Way.. To You All.
Arika Tooru
.
.
.
Maaf untuk update seterlambat ini ya.. belakangan ini saya dalam kondisi tertekan tingkat tinggi haha
Delapan bulan genap bukan waktu yang sebentar, saya tau, mohon maaf dan terima kasih jika memang masih ada yang menunggu akhir dari perjalanan kisah ini :p
Satu kesan saya selama beberapa waktu hiatus dari per-fanfic-an: semester yang melelahkan haha
Mungkin saya akan alih profesi dari Author menjadi Reader saja, he
Ga janji juga sih, saya kembali hadir di ffn ini pun karena memenuhi janji saya. Jadi intinya yaa begitulah *ditendang*
Untuk ending, jangan terlalu berharap akan memuaskan ya..
Endingnya hasil perdebatan hati nurani (?) saya loh, jika nantinya kurang dari yang di harapkan saya minta maaf. Ending udah mantap banget di set gitu sih.. hehe
Semoga suka ya..
.
.
.
Original title song by: Aluto – Michi~ To You All.
Italic for flashback.
EnJOY! ^^
Happy reading~~
.
.
.
Four years later..
Seikat Daisy dan Baby Breath yang dibungkus indah oleh ahlinya tersampir di tangan kanan Choi Siwon. Ia masih enggan keluar dari mobilnya entah karena apa. Sepulang meeting nya yang terakhir –sebelum cuti –tadi bersama para pemegang saham CHOI Group, tanpa alasan pasti ia terpaku di depan toko bunga. Jadi Siwon memutuskan membeli seikat bunga cantik pilihannya itu sebelum tujuannya berakhir disini –di depan sebuah rumah bercat putih suci –warna kesukaan Yesung.
Dulu, Yesung pernah berkata ia menyukai bunga Daisy putih. 'Daisy itu memiliki makna kesetiaan juga lambang kesederhanaan. Aku suka, itu seperti cinta yang ku rasakan untukmu –cinta sederhana.' Namun menurut Siwon daisy memiliki arti polos, murni, suci, lembut, juga tulus –percis seperti Yesung.
Ia tersenyum mengingat semua hal manis yang bisa ia ingat, kenangan dan ucapan Yesung seperti bayangan untuknya. Dimana dan kapanpun ia, segala hal yang ia lakukan bahkan sekalipun jika itu hal kecil, akan selalu ada sosok Yesung dalam ingatannya.
Setelah larut dalam nostalgia, sebelah tangan Siwon mengambil sesuatu di jok belakang. Tatapannya terpaku pada selimut bermotif maple di sana. Benda hangat itu tak pernah lupa ia bawa kemanapun dalam mobilnya. Yesung benci dingin, mengingat alergi Yesung yang sangat fatal terhadap dingin, ia tak pernah lupa mengikut sertakan semua benda hangat yang bisa ia bawa. Seperti sebuah kebiasaan, bahkan sampai saat ini ia masih melakukannya.
Siwon menggeleng kecil lalu mengambil papper bag yang berisi strawberry cake –favorit Yesung –di kursi belakang. Seseorang mengetuk kaca mobilnya dari luar jadi ia menurunkan kaca mobilnya sehingga terlihatlah wajah Kim Kibum, namja yang tiga hari ini belum lagi di temuinya.
"kenapa kau kemari? Calon mempelai mana boleh bertemu sehari sebelum pernikahannya.." Namja berdimple itu tertawa seraya keluar dari mobilnya, ia menyerahkan papper bag yang tadi ia bawa kepada Kibum sebelum memeluk namja itu sekilas.
"tentu saja menemui calon suamiku, memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan disini?"
Kim Kibum ikut tertawa kecil sebelum menangkup pipinya yang terasa panas. "kenapa aku merona begini. Baiklah.. ayo masuk."
Kim Kibum masuk ke rumah itu lebih dulu dengan Siwon yang mengekor di belakang. Siwon mencermati satu-persatu interior di dalam rumah itu, tampak berbeda dari tiga hari yang lalu. Itu pasti ulah calon suaminya lagi.
"pasti merepotkan kan mendekor lagi desain interior rumah ini? kau tidak lelah?"
Kibum mengangkat bahunya, "bagaimana ya.. sudah pasti melelahkan, tapi mau bagaimana lagi. Lagi pula aku menyukainya.." ia berjalan ke arah counter lalu meletakan papper bag tadi di atas meja. "duduklah.. kau mau kubuatkan minuman apa?"
"apapun.." jawab Siwon singkat. "boleh aku ke atas?"
Mengerti maksud Siwon, Kibum mengangguk lalu tersenyum. "jangan memasang wajah seperti kau baru jatuh cinta! Memuakkan sekali.."
Siwon tertawa, ia lalu beranjak ke lantai atas rumah itu. Ada dua kamar di sana, satu perpustakaan, dan satu set sofa di beranda. Tanpa mengetuk pintu ia masuk ke salah satu kamar paling ujung di lantai dua itu. Dominasi warna putih dan toska langsung menyapa penglihatannya ketika ia baru saja masuk. Interior kamar yang menakjubkan yang berbanding terbalik dengan keadaan kamar yang seperti kapal pecah –berantakkan. Buku-buku bertebaran di mana-mana, bantal, guling, juga boneka yang sudah tak di tempatnya lagi.
.
.
.
Four years ago..
Suasana masih terasa tegang hingga lewat dari tengah malam, ini sudah hampir dua jam tapi belum ada perawat ataupun dokter yang keluar dari ruang ICU. Empat orang terlihat kacau dengan cemas menunggu meski tak lebih kacau dari Choi Siwon yang duduk di kursi paling ujung. Pakaiannya yang tadi basah sudah hampir mengering tak ayal membuatnya menggigil. Tapi apa pedulinya? Apa itu penting sekarang?
Sang appa datang dari ujung lorong setelah sebelumnya mengambil selimut dan pakaian ganti di dalam mobil. Ia menghampiri putranya dan menyelimutinya dengan selimut yang di bawanya tadi.
"ganti bajumu, kau bisa demam jika masih menggunakan pakaian basah seperti itu." Titah Hankyung bijak, menyerahkan pakaian ganti untuk Choi Siwon. Tapi pikiran Siwon terlalu tak fokus bahkan untuk sekedar menanggapi orang-orang yang bicara padanya. Pikirannya luar biasa kalut juga takut. Belum lagi senyuman terakhir Yesung sebelum menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam air.
Oh tuhan.. dia menyesal telah mengajak Yesung keluar, tak sedikitpun terlintas pemikiran Yesung akan mencoba bunuh diri seperti itu. Suhu kota Seoul malam tadi adalah suhu yang tak bisa di katakan baik di musim dingin. Air sungai yang bercampur es yang mulai mencair itu begitu menusuk kulitnya, apa lagi untuk Yesung?
Dan wajah pucat Yesung dan bibirnya yang keunguan karena membeku masih terbayang dalam memorinya, seperti –mayat? Siwon meringis lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, membuat sang appa –juga orang-orang yang sedang menunggu itu menoleh kearahnya, menatapnya iba. Hankyung menggeser duduknya lalu merangkul Siwon –mencoba menenangkan.
Andai saja ia lebih cepat berenang dan menyelamatkan Yesung, andai saja ambulance datang lebih cepat, andai saja ia tidak mengikuti ide bodohnya untuk mengajak Yesung ke tempat itu. Bahkan ketika ia berhasil membawa Yesung ke tepi sungai, Yesung tak bergerak sama sekali ia nyaris tak merasakan Yesung bernafas. Pertolongan pertama yang dilakukannya pun tak membuat Yesung bergerak, ia yang luar biasa takut pun hanya bisa memeluk tubuh dingin Yesung, berharap tubuh beku itu sedikit menghangat karena pelukannya. Hingga ambulance datang dan para perawat itu mengambil Yesung dari pelukannya, ia ingin tetap memeluknya tapi Kyuhyun tak mengijinkan. Dongsaengnya itu justru membawanya pada mobil yang berbeda. Tidak! harusnya ia di sana, memeluk Yesung, menemaninya agar namja itu tahu, ada orang yang tidak rela, masih ada orang yang begitu mencintainya sedalam ini yang tidak mengijinkannya pergi.
"kau mau mati kedinginan?! Jangan seperti ini, kau tak kalah membuat kami khawatir!" peringatan suara cemas Heechul menggema.
"jika itu membuat Yesung tetap hidup aku tidak apa-apa" Siwon mendengar langkah kaki menghampirinya sebelum –
Plak!_
"jangan bicara seolah Yesung akan mati! Sejak kapan kau menjadi lemah begini Choi Siwon?! Jika pria yang di cintainya saja tidak percaya Yesung akan tetap hidup, bagaimana Yesungie bisa bertahan huh?"
Tatapan Siwon mulai mencari fokus mendongak menatap ke arah sang eomma dan –menangis. "Yesung tidak mempercayaiku bahwa aku akan mencintainya apapun yang terjadi, aku tidak tahu harus melakukan apa agar ia percaya. Aku sudah berjanji menikahinya tapi ia justru memintaku menikahi orang lain. Eomma.. apa Yesung berniat meninggalkanku seperti ini? dia tak mau bersamaku? Yesung benar-benar tidak bernafas saat ku peluk tadi, aku sangat takut, eomma tidak akan mengerti.."
Heechul ikut terisak, ia mengurungkan diri untuk memeluk putranya ketika pintu ruang ICU terdengar terbuka dan langkah kaki dokter dan seorang perawat menghampiri mereka. semua yang tadi terduduk ikut berdiri begitupun Siwon. Tapi melihat wajah menyesal dokter membuat tubuh Siwon kembali terduduk dan menangis –lagi.
.
.
.
Hari itu, 36 hari di hantui pengharapan akhirnya Yesung di nyatakan telah melewati masa koma. Sejak dini hari Choi Heechul, Choi Kyuhyun dan Kim Kibum sudah bercokol menunggui Yesung di rumah sakit –tanpa Hankyung yang harus kembali ke china dan juga tanpa –Siwon.
Kyuhyun yang sejak pagi tadi di sibukkan dengan ponselnya untuk menghubungi Siwon tetap tak berhasil hingga sore hari seperti ini. Seharusnya Siwon adalah orang pertama yang Yesung lihat ketika namja itu hidup kembali, tapi namja itu tidak berada di sana. Dan Yesung, meskipun tidak secara langsung menanyakan keberadaan Siwon, tapi Kyuhyun lebih dari mengerti jika namja itu kecewa.
Kim Kibum pergi menemui dokter lima menit yang lalu, jadi sisanya hanya ia dan sang eomma yang tengah menyuapi Yesung bubur dengan telaten. Tak banyak yang bisa ia lakukan di sana, semua urusan tentang mengurusi Yesung sudah lebih dari cukup di urusi oleh dua orang, jadi ia hanya menonton. Diam, di saat pikirannya di penuhi oleh sang hyung yang entah apa alasannya menolak untuk menemani Yesung di rumah sakit. Padahal ketika Yesung koma hyungnya itu tak pernah absen untuk menunggu di rumah sakit bahkan tak jarang lebih memilih menginap di sana.
Ketika otaknya berputar ke segala kemungkinan, ekor matanya menemukan sepasang mata yang terlihat mengintip dari kaca pintu. Dan tentu saja ia langsung mengenali siapa pemilik mata yang sama percis dengan miliknya. Dengan segera ia berlari keluar dari ruangan dan tepat seperti dugaannya.
Kyuhyun menutup rapat pintu setelah sepenuhnya ia sudah berada diluar berdiri di samping namja yang masih mengintip jauh kedalam ruangan.
"kenapa tidak masuk?"
"bagaimana keadaan Yesung?"
"kemana saja kau hyung?" Siwon menatap dongsaengnya sebentar sebelum memutuskan menyandari dinding di koridor itu. "kau tidak ingin menemui Yesung?"
"kehadiranku hanya akan mengingatkannya pada rasa sakit, dia mendorongku pergi karena merasa tidak cukup pantas"tiba-tiba Siwon memberi jeda ucapannya dan memalingkan wajah sebelum terdengar desahan putus asa di sana. "aku sudah tidak memiliki kepercayaan diri untuk mencintainya."
"keadaannya baik-baik saja untuk saat ini, meskipun ia belum bicara karena trauma dan berada di tingkat kejenuhan yang tinggi. tapi nanti? Tidak ada yang tahu, ku pikir hyung akan selalu di sampingnya setelah semua ini. ku pikir cintamu untuk Yesung lebih dari ini."
"syukurlah jika Yesung baik-baik saja" Siwon mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya yang besar. Kyuhyun bisa mendengar perasaan lega sekaligus takut dari suara Siwon, ia tidak mengerti jalan pikiran seperti apa yang kakak tertuanya ambil saat ini. tapi, benarkah baik-baik saja jika berjalan seperti apa yang Siwon katakan? Kesimpulan yang bisa ia tangkap adalah –Siwon sudah menyerah.
"aku tidak tahu jika hyung selemah dan sepengecut ini" Kyuhyun terdiam dengan kata-katanya sendiri. Ia melihat Siwon meliriknya sebentar lalu menegakkan tubuh untuk tepat berdiri di hadapannya.
"kau benar. Menghadapi Yesung sama saja dengan menantang hidupku sendiri, aku sudah pernah melakukannya, dan aku tahu aku belum siap. Aku butuh waktu, biarkan aku sendiri."
Siwon menepuk pundak Kyuhyun pelan, "kau hanya perlu menggantikan si pengecut ini untuk mengawasinya, sisanya sudah aku selesaikan. Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang membuat Yesung sakit hidup dengan tenang." Lalu melenggang pergi.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam ketika Kyuhyun mendapati Yesung masih terjaga terduduk di ranjang rumah sakit. Eommanya ia paksa untuk beristirahat di rumah setelah hampir 24 jam berada di rumah sakit, Kim Kibum pun sibuk mengurus sidang pertamanya sebagai penggugat untuk park joon besok pagi, jadi namja Kim itu pulang lebih dulu.
"belum tidur?" ia melihat Yesung meliriknya sebelum di jawab keheningan. Setelah menutup rapat pintu, Kyuhyun mendekat hingga ia bisa dengan jelas merasakan sorot mata Yesung yang hampa.
"bagaimana rasanya hidup kembali?" Yesung terpaksa diam mendengar nada tak bersahabat dari ucapan Kyuhyun, ini pertama kalinya magnae Choi itu menggunakan nada sedingin itu ketika berbicara padanya.
"kenapa diam?"
"bukankah seharusnya kalian membiarkan aku mati saja? aku yang seharusnya bertanya." Bisik Yesung lirih, entah ia mendapat kekuatan dari mana ia pun tidak tahu.
"sudah ku duga." Kyuhyun berdecak, ia terkekeh –mengejek. "Siwon yang menyelamatkanmu bukan aku, kau sudah pasti bisa menebak itu kan? Atau kau memang menginginkan Siwon hyung mati bersamamu di malam itu?"
Satu ekspresi yang dapat Kyuhyun lihat di wajah Yesung –terkejut, namja manis itu menatapnya dengan kecewa.
"apa?" tantang Kyuhyun. "Bagaimana seandainya jika aku berkata Siwon menyelamatkanmu karena mencintaimu? Kau tidak akan percaya kan? Bahkan kau tidak tahu definisi mencintai itu seperti apa"
"kau hanya anak-anak yang tidak tahu hal semacam itu. Kau tidak mengerti jadi kau melakukan percobaan bunuh diri bodoh mu itu kan? Seperti anak-anak yang takut seseorang mengambil mainan darimu, tapi akhirnya kau sendiri yang membuangnya." Yesung kembali menunduk, menarik lutut lalu memeluknya. "katakan saja seperti itu jadi aku lebih bisa menerima perbuatanmu."
"jika aku tahu pada akhirnya kau akan melakukan ini aku tidak akan membiarkan Siwon hyung mencintaimu sejak awal. Kau tahu seperti apa Siwon hyung saat ini?" magnae Choi itu mendesis menahan emosi. Refleks tubuhnya seperti sudah terbiasa menghadapi Yesung jadi ia masih belum bisa menunjukan emosinya. "jangan menemuinya lagi, setelah kau pulih nanti tinggalah bersama Kim Kibum. Sebelum Siwon hyung yang menginginkanmu kembali, jangan pernah muncul di hadapannya. Itu yang kau mau kan? Biarkan ia sendiri tanpa orang yang tidak menghargainya."
Kyuhyun baru saja akan beranjak dan pergi tapi Yesung menahan tangannya, ia menoleh dan melihat Yesung sudah terisak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. "Siwon baik-baik saja kan?"
"apa pedulimu? Jangan berpura-pura seperti kau peduli."
Yesung menggeleng dengan air mata yang kembali menetes. "katakan jika Siwon baik-baik saja"
"jika keadaannya yang berantakan karena selalu menunggumu di rumah sakit selama kau koma bisa di sebut baik-baik saja, ya dia baik-baik saja. hal itu juga yang membuat Siwon sakit beberapa hari belakangan ini. jika itu yang kau katakan baik-baik saja, tentu.. karena kau lebih menyakitinya dari apapun."
Perlahan Yesung melepas tangan Kyuhyun, ia mengangguk samar seraya mencoba menghapus air matanya. "pergilah.. jangan khawatir, aku janji tidak akan muncul di hadapan Siwon lagi."
.
.
.
Hidup kembali hanya untuk merasa sendiri dan mengenang luka
Halnya raga tanpa jiwa, jantung tanpa detak, hati tanpa nurani, ingatan tanpa kenangan
Aku..
Pada akhirnya aku memang harus kehilangan segalanya
.
.
.
Dua hari sudah terhitung dari Siwon yang memutuskan untuk menghindari Yesung. Ia sebisa mungkin menghilang bahkan ia tidak mengunjungi rumah sakit seperti biasanya. Dua hari ini juga Siwon tinggal di kantornya, ia belum siap jika harus bertemu dengan sang eomma lalu di tanyai ini itu tentang hubungannya dengan Yesung. Kyuhyun pun sepertinya sudah memutuskan tidak menghubunginya lagi, dan Kim Kibum yang memaklumi keadaannya.
Siwon sesungguhnya malu pada dirinya sendiri karena begitu pengecut dan merasa menjadi pria yang paling lemah di dunia. Ia menghindar tanpa sadar Yesung membutuhkannya saat ini, saat akhirnya namja manis itu hidup kembali tanpa siapapun di sampingnya seharusnya ialah yang ada di sana dan menjadi orang pertama yang yeusng lihat ketika ia akhirnya hidup kembali. Tapi apa yang ia lakukan?
Salahkah jika menghindarnya ia dari Yesung katakan saja untuk memantapkan diri? Banyak hal tak terduga yang terjadi ketika ia bersama Yesung. Siwon hanya merasa ia harus lebih siap dari sebelumnya. Tapi, entahlah..
Pikirannya yang penuh juga rasa bersalah yang menghimpitnya, jadi tadi ia memutuskan untuk sejenak keluar dari ruang petak tempat kerjanya. Siwon menepikan mobilnya dan melaju dengan kecepatan di bawah rata-rata. Mengemudi dengan pikiran penuh tentu saja berbahaya, Yesung total membuatnya tidak bisa berbuat apapun tanpa memikirkannya. Sepertinya menghindari namja itu bukanlah keputusan yang baik. itu justru membuat Siwon semakin tertekan dan rasanya seperti ingin meledak saja.
Lampu merah terakhir sebelum jalan besar menuju rumah sakit. Meskipun Siwon mengemudi tanpa tujuan, alam bawah sadarnya tetap mengantarkannya ke tempat Yesung berada. Dan rintik hujan pun mulai turun, seperti memperlengkap hal yang mengingatkannya pada Yesung. Yesung selalu benci hujan apapun jenisnya.
Matanya menyipit ketika pada radius beberapa meter dalam jangkauan pandangnya ia menemukan seseorang yang tengah berjalan dengan santainya di bawah rinai hujan yang semakin lama melebat. Siapapun itu, orang itu pasti sudah gila karena berjalan di di cuaca seperti ini tanpa sebuah payung atau mantel atau apapun sesuatu yang bisa membuat tubuh terlindung dari guyuran hujan. Tetapi tak lama sepasang obsidian itu terbuka lebar, segera ia keluar dari mobilnya tanpa memperdulikan ia pun sama gilanya karena membiarkan tubuhnya di kalahkan oleh derasnya hujan sehingga menjadi basah kuyup. Mustahil ia tak kenal orang itu –Yesung.
"Yesung, kenapa kau disini?" panggil Siwon seraya berlari. Tapi tidak ada jawaban, mungkin suaranya tertelan suara gemirik air hujan, mungkin juga namja yang berjalan di –beberapa meter di hadapannya memang tak fokus dan belum menyadari kehadirannya. Beberapa langkah lagi dan, "Yesung!" –Siwon meraih tangan kanan Yesung.
Namja yang masih mengenakan piyama rumah sakit itu perlahan mendongak menatap Siwon berusaha menguasai fokusnya. Tapi reaksi Yesung sama sekali tak terduga. Ia dengan segera melepas pegangan Siwon lalu membalik tubuhnya, dengan wajah hampir menangis ia berusaha mengindari Siwon. Tapi bukan Siwon namanya jika ia kalah, dengan sigap ia kembali menarik tubuh Yesung lalu menahannya sehingga pergerakan Yesung terhenti.
"kau gila?! sedang apa kau disini? Ayo kembali, tubuhmu dingin sekali jika kau sakit lagi bagaimana?!" di luar kendali sadarnya Siwon berteriak. Matanya hampir berair ketika ia sadar Yesung menghindari menatap matanya dan tetap berusaha melepaskan diri, tanpa suara tapi Siwon tahu Yesung sudah menangis.
"lepaskan aku"
"aku akan mengantarmu ke –yah! Kim Yesung!" Siwon mengangkat tubuh Yesung yang tiba-tiba tak sadarkan diri ke dalam mobilnya dan membawanya kembali ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari demam karena kejadian itu, esoknya Yesung bangun dengan keadaan yang sangat mengejutkan. Memorinya sebagian hilang –amnesia, dokter mengatakan itu di akibatkan karena Yesung tidak mampu menerima semua tekanan yang ia terima sekaligus. Hanya beberapa hal yang ia ingat, pertunangannya dan kematian sang appa. Selebihnya, semuanya sepakat tidak akan menceritakan apa yang terjadi sebelum Yesung kehilangan ingatannya meski tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, hari dimana ingatan Yesung akan kembali akan datang.
Choi Siwon tidak memiliki pilihan lain selain menyerah. Bukankah sedri awal hidupnya memang sudah ia serahkan untuk Kim Yesung?
.
.
.
9 April 2015
Detik-detik menjelang hari yang berbahagia
Sudah kuputuskan untuk berdosa karena melupakan masa lalu
Aku tidak peduli, aku hanya ingin bahagia dan membahagiakan seseorang yang berjanji akan membahagiakanku
Meski aku menganggap diriku yang dulu telah mati tenggelam di malam itu
Aku tetap terlahir kembali sebagai orang yang egois dan munafik
Kubilang aku tidak peduli, aku hanya berpikir sudah waktunya aku bahagia
Fajar pagi sudah menggantung kebahagiaan di sudut langit
Aku hanya perlu memetiknya, kan?
.
.
.
Seseorang tampak masih bergelung dengan selimut toskanya di tempat tidur, Siwon meletakkan bunga yang di bawanya tadi di atas nakas sebelum tanpa pikir panjang menindih gulungan selimut tadi hingga orang di dalam sana mengerang.
"hey, bangun! Ini sudah lebih dari jam sepuluh. Kenapa kau jadi pemalas seperti ini huh?" gulungan selimut itu bergerak tak nyaman di bawahnya, sebelum sebuah kepala menyembul dengan tangannya berusaha mendorong tubuh Siwon.
"jangan ganggu aku! aku butuh tidur lebih lama"
"tidak, tidak. kau harus segera bangun, sekarang."
"aku baru kembali dari Jepang kemarin sore Choi Siwon! Aku tidak bisa tidur hingga dini hari karena harus mengerjakan setidaknya satu blurptint untuk proyek besar yang ku terima!"
"lupakan soal pekerjaan. Besok adalah hari istimewa, karena itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, aku takut nanti tidak akan sempat. Jadi cepatlah bangun pemalas"
Mata mereka bertatapan cukup lama sebelum namja yang di tindih Choi Siwon itu mendesah –mengaku kalah. "baiklah kau menang! Turunlah! Kau itu berat Choi Siwon!"
Siwon terkekeh menang, turun dari tempat tidur lalu duduk di sisinya. Ia meraih kembali bucket bunga tadi lalu menyerahkannya. "bunga indah seindah calon suamiku, Choi Yesung."
"margaku masih Kim, Siwonie.." meskipun sempat mencibir, Yesung tetap menerima bunga itu dengan senyum mengembang lalu menghirup baunya berkali-kali. Tubuh Siwon menyandar kedepan lalu menangkap satu ciuman di atas bibir milik Yesung.
"cepat bersiap! Aku masih marah karena kau meninggalkanku ke jepang tanpa ijin dariku kemarin, ingat itu!"
"ck! Kenapa kau ini? aku kan pergi untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang Siwonie" Yesung mendorong pelan tubuh Siwon, ia bangkit dari tempat tidurnya. Mengganti bunga yang sudah layu di sudut ruangan dekat rak buku dengan bunga yang tadi Siwon bawa. "lagi pula aku tidak sendiri, aku bersama Kibum hyung."
"bukankah aku melarangmu bekerja? Kau tetap saja keras kepala padahal pernikahan kita sudah di depan mata. Kenapa kau sulit sekali di beri tahu huh?"
"oh ayolah Siwon.. kita sudah pernah membahas ini."
"terserah kau saja tuan keras kepala. Jika 30 menit kau belum juga turun, aku akan pergi sendiri." Putus Siwon lalu segera keluar dari kamar Yesung, meninggalkan namja manis itu yang justru terkekeh lucu melihat sikap calon suaminya.
.
.
.
"habiskan makananmu Kim Yesung!" suara bass terdengar nyaring dari arah pantri, suara milik Kim Kibum. Seseorang yang namanya di sebut hanya mendengus dan melahap sepotong roti tawar tanpa selai kedalam mulutnya. Rasanya roti tawar itu lebih bisa ia nikmati di banding apa yang Kibum masak untuknya.
"kenapa kau menaruh banyak sayur di makananku hyung~" Yesung merengek seperti anak kecil dengan mulut penuh roti. "kau tahu aku tidak suka brokoli"
"tapi kau setuju untuk tidak akan membantah ketika membujukku agar aku ikut dengan mu ke jepang tanpa memberi tahu Siwon kemarin lusa, kau harus menepati janjimu tuan!"
"sayur dan tidak-akan-membantah itu hal yang berbeda hyung"
"kenapa tidak menjadi anak baik dan makan saja? akhir-akhir ini kau seperti anak pembangkang Kim Yesung, apa itu salah satu sifat orang yang akan melepas masa lajangnya?" Siwon terdengar menyahut santai dari ruang televisi seraya membaca koran dengan secangkir kopi panas.
"tutup mulutmu!" tolak Yesung emosi, sedetik kemudian wajahnya ia ubah menjadi memelas. "kupikir kau akan mengajakku kencan lalu makan di luar, tidak peka! Calon suami macam apa kau?!"
Siwon terkekeh, ia melipat korannya dan berjalan menghampiri Yesung yang masih merajuk di ruang makan. "itu niat awalku, tapi aku tidak mau Kibum kecewa. Ia sudah membuatkan makanan untukmu kenapa tidak habiskan saja dulu? Anggap saja bayaran dari kencan kita kali ini" ia mengacak rambut Yesung pelan lalu duduk di samping Yesung.
"sejak kapan pergi kencan saja harus ada bayaran?" rutuk Yesung pelan seraya mulai menyuap suapan pertama kedalam mulutnya.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, sesekali percaya pada ramalan cuaca memang tidak ada salahnya. Buktinya hari ini cerah seperti yang sudah di perkirakan. Pasangan yang esok pagi akan menikah itu berjalan beriringan di jalanan yang sisi-sisinya di penuhi pohon sakura yang tengah mekar, suasana yang tepat untuk sebuah kencan special. Setelah sebelumnya mengunjungi makam sang appa dan rumah sakit tempat Kyuhyun bekerja.
"boleh kutanya sesuatu?" Siwon mengawali pembicaraan setelah lima belas menit berlalu tanpa suara.
"apa kau mulai meminta izin sekarang sebelum bertanya?"
Namja itu terkekeh, "tidak, hanya saja aku penasaran dengan apa yang kau bicarakan dengan Kyuhyun tadi di rumah sakit. Rasanya mencurigakan sekali sampai aku tidak boleh mendengarnya."
"kau cemburu pada dongsaengmu sendiri? Sulit di percaya!"
"bukan begitu.."
"aku tahu" Yesung tertawa lepas, ia merangkul lengan Siwon memeluknya manja. "karena memang kau tak boleh tahu"
"calon suami macam apa kau ini merahasiakan sesuatu seperti itu!"
"ah.. hentikan! tidak lucu sekali melihatmu merajuk"
"ini bukan merajuk namanya"
"jelas-jelas iya, sama sekali tidak pantas"
"kau mau cerita apa tidak?"
"wlee.."
"ya, Kim Yesung! jangan berlari seperti itu"
.
.
.
Kedua alis Kyuhyun bertaut melihat Yesung dengan paksa menyeret Siwon ke luar ruangan lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia tak berpikir waktu berharganya ketika tidak ada pasien akan terbuang percuma karena harus menyaksikan adegan tak penting hyung dan calon-kakak-iparnya.
"kalian datang kesini hanya untuk menunjukan padaku ketidak-jelasan kalian seperti tadi?"
"aku ingin meminta maaf" sebelah alis Kyuhyun terangkat, bingung. Ia melihat wajah Yesung berubah drastis menjadi lebih serius, atau memang sangat serius?
"maaf?" ulangnya tak mengerti.
"untuk tidak menepati janjiku" Yesung terlihat berpikir sebentar sebelum melanjutkan. "bukankah aku pernah berjanji untuk tidak lagi muncul di hadapan Choi Siwon empat tahun lalu?"
"ah..." respon pertama Kyuhyun. Ia menyandar di kursinya, dugaannya selama ini seratus persen benar, tentang –"sudah kuduga kau tidak sepenuhnya kehilangan ingatanmu"
"kau sudah tahu watakku, jadi tidak heran jika kau sama sekali tidak terkejut." Yesung tersenyum simpul, menunjukan sosok yang berdiri di hadapan Kyuhyun kini masih Yesung yang dulu –Yesung yang sempat berniat menghabisi hidupnya sendiri. "aku meminta maaf karena tidak bisa menepatinya, karena ku yakin tanpa ku jelaskanpun kau pasti tahu aku begitu menggilai hyung mu. Begitu gilanya hingga kematianpun tidak dapat menang dariku."
Kyuhyun itu spesial menurutnya, karena hanya pada sahabatnya itulah ia tidak bisa bersandiwara.
"aku hanya ingin kau menganggap Yesung yang dulu sudah mati dan berhenti menatapku dengan tatapan menyedihkan seperti itu. Aku yang berdiri di hadapanmu saat ini adalah Yesung yang baru, Yesung yang tidak akan menyerah lagi, Yesung yang tentu saja lebih pintar untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tuhan berikan. Jika ucapanmu empat tahun lalu itu bermaksud hanya untuk membuat Choi Siwon bahagia, percayalah.. tidak ada yang bisa lebih membahagiakan Choi Siwon daripada aku."
"baguslah jika kau sudah mengerti, sebenarnya hal ini yang ingin ku katakan dulu." Kyuhyun tertawa lega. "baiklah Kim Yesung-yang-baru, selamat berbahagia.."
.
.
.
10 April 2015
Kita pernah sama-sama percaya bahwa dunia ini kejam
Kita juga pernah sama-sama mencintai dalam kekejaman dunia dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa
Bahkan kita pernah sama-sama berusaha menjauh satu sama lain
Tapi akhir tak pernah berhianat
Kita tetap dan memang harus bersama apapun jalan yang di tempuh
Mungkin itu yang manusia sebut sebagai takdir
.
.
.
Mata yang terpejam itu perlahan mengerjap sebelum akhirnya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah warna putih dan merah muda yang mendominasi. Ia memijat kepalanya yang luar biasa pening sambil mengingat apa yang terjadi.
"kau sudah sadar? Syukurlah, ku kira kondisi mu akan memburuk lagi." Yesung menoleh, di samping tempat tidurnya Kyuhyun duduk dengan sebuah stetoskop menggantung di lehernya. Tak lama Choi Siwon muncul dengan segelas air mineral dan obat-obat yang sudah tak asing lagi untuknya.
Seingat Yesung tadi setelah ia dan Choi Siwon resmi menikah, sesaat sebelum pesta pernikahannya di mulai Yesung mengeluh sesak nafas dan akhirnya tak sadarkan diri. Yesung mengerang, mengacak rambutnya sendiri ketika ia ingat kejadian sebelumnya, "arrgh! Kenapa aku pingsan di saat-saat seperti ini, payah!"
"kau memang payah! Apa ku bilang soal jaga kesehatan dan pekerjaan?! Kau tidak pernah mendengar kata-kataku. Mau sampai kapan kau keras kepala? Kenapa tidak sekalian saja kau tidak perlu pulang dan tinggal di Jepang dengan client mu itu?!" Siwon menggerutu kesal, dari wajahnya saja sudah sangat jelas jika namja itu sangat cemas. Ia naik ke atas ranjang lalu membantu Yesung duduk bersandar. "cepat minum obatmu!"
Yesung menurut tanpa protes meskipun sedikit merutuk kecil, "sudah kubilang jangan libatkan pekerjaanku! Aku hanya terlalu gugup, pekerjaan tidak ada hubungannya."
"aku tidak percaya kau masih bisa beralasan."
"sudahlah.. kenapa jadi bertengkar huh?" Kyuhyun meraih pergelangan tangan Yesung, memeriksanya lalu beralih menggunakan stetoskopnya. "sejauh ini Yesung hanya terlalu banyak tekanan juga kelelahan, ia masih bisa melanjutkan pesta resepsinya dengan catatan tidak boleh lebih dari jam tidurnya. Aku menganggap hyung sudah hafal betul prosedur pemulihan Yesung, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Melihat hyungnya menghela nafas lega, Kyuhyun tersenyum. "setelah merasa lebih baik cepatlah keluar, semua orang pasti menunggu kalian. Aku keluar dulu."
"terima kasih Kyu.." ucapan Siwon hanya di balas lambaian tangan oleh Kyuhyun sebelum menutup pintu. Perhatian Siwon kembali pada Yesung yang seperti tengah merutuki dirinya sendiri, sedikit banyak ucapan Siwon ada benarnya juga. Ia tidak bisa mengelak dari merasa bersalah sudah membuat semuanya khawatir terlebih Siwon dan ini adalah hari bahagianya.
Belum sempat Yesung meminta maaf, Siwon sudah memeluknya. Satu hal yang selalu mengingatkannya tentang Choi Siwon adalah sebuah pelukan yang sama sekali tidak pernah berubah. Siapa sangka Siwon yang ia kagumi sejak dulu sekarang sudah resmi menjadi suami sahnya? Mungkin jika ia tidak mengenal rasa sakit dulu, nasib tidak akan mengantarkannya pada keadaan seperti sekarang ini. Ia bahkan berani mempertaruhkan segalanya hanya untuk sebuah pelukan dari Choi Siwon. Meski awalnya hidupnya ia kembali adalah sebuah kesalahan, tapi sekarang Yesung yakini itu sebagai sebuah keajaiban dan kesempatan yang di berikan tuhan, atau mungkin bayarannya?
Jika di hari itu ia tak berniat mengakhiri hidupnya, saat ini mungkin ia tidak akan berada di sini, mungkin orang yang Siwon nikahi bukanlah dirinya, mungkin ia sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa atau semacamnya. Ya.. begitulah takdirnya berputar. Selalu ada jawaban yang tak terduga atas semua doanya, tidak ada yang tahu skenario apa yang tuhan tulis untuk menentukan alur cerita hidupnya yang tak pernah bisa ia duga.
"aku serius soal pekerjaanmu, kau tidak boleh pergi kemanapun jika aku tidak mengijinkan."
"ya.. maaf sudah membuatmu khawatir."
"aku bukan ingin mengekangmu sayang.. tapi mengerti lah. Setelah semua yang terjadi, cukup sulit untukku membiarkanmu tanpa pengawasan dariku."
"aku tahu. Kau hanya terlalu mencintaiku kan?"
Siwon mendecak sebelum melepas pelukannya di hadiahi kekehan Yesung, "jika kau tahu kenapa kau tak pernah mengerti huh?"
"karena aku ingin Choi Siwon yang tampan ini merasakan bagaimana rasanya menderita karena merindukanku. Sekarang kau tahu rasanya menjadi aku yang harus kau tinggalkan selama ini Hongkong-Taiwan-China-Jepang kan? Tsk! Siapa peduli tentang perjalanan bisnis, menurutku itu alasanmu saja untuk bisa bersenang-senang tanpaku!"
"yah! Jika aku tidak melakukannya appa bisa membunuhku, kau mau hidup tanpa suami bahkan ketika kita baru saja menikah huh?"
Choi Yesung tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya seraya menggelayut manja di leher Choi Siwon. Seperti ini saja sudah cukup, ia tak perlu lagi meminta kepada tuhan sebuah kebahagiaan. Baginya, inilah kebahagiaan dan segala yang ia inginkan di dunia ini. Disini, di dalam Choi Siwon.
Sebuah kecupan ia curi tepat di bibir suaminya, "kalau begitu bawa aku kemanapun kau pergi" ucapnya serius dengan nada rendah. Choi Siwon hanya tersenyum sebelum membalas sebuah ciuman yang lebih hangat.
"tentu, aku mau. Tapi kau tahu aku tidak bisa."
"kalau begitu aku akan menggunakan kartu terakhirku. Meminta appa langsung mungkin bisa jadi jalan keluar"
Choi Siwon tertawa, "ide bagus, tapi jangan salahkan aku jika suamimu ini di pecat sebagai CEO perusahan sesaat setelah kartu terakhirmu itu di gunakan"
"tidak masalah, jika hanya untuk bertahan hidup aku bisa bekerja. Kau tahu aku arsitek berbakat."
"yah! Jangan mulai lagi! Kita baru saja membahas ini bukan?"
"yaa.. aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?" Yesung mendorong tubuh Siwon lalu turun dari ranjang. "ayo keluar"
"kau yakin?"
"tentu saja, ini pesta pernikahan kita kan? Aku tidak mau mereka memulainya tanpa kita"
Tanpa banyak bicara Siwon mengikuti Yesung yang sudah melangkah keluar, tapi langkah Yesung berhenti di depan pintu. Ia berbalik mendapati Siwon yang bingung dengan sikap Yesung yang tiba-tiba tersenyum manis padanya.
"apa?" tanya Siwon. Yesung menggeleng menghampiri tempat Siwon berdiri berhenti tepat di hadapannya tanpa jarak. Ia mendongak hingga hidung keduanya bersentuhan lalu memejamkan mata. Tahu gesture yang Yesung lakukan Siwon tertawa dan dengan senang hati mengikuti permintaan Yesung –memagut bibirnya, membawanya kedalam ciuman panjang.
Dengan ini mereka percaya tidak ada yang lebih sempurna dari saling memiliki. Apapun kekurangan yang ia miliki, Yesung yakin ia akan tetap terlihat sempurna jika Siwon bersamanya. Walaupun tidak semua orang ada di pihaknya, Siwon percaya padanya saja sudah lebih dari cukup.
.
.
.
Selalu akan ada yang jatuh tanpa di sangka-sangka
Seperti yang jatuh setelah air mata, Cinta.
Inilah aku
Dan segala yang aku inginkan di dunia ini
–Choi Siwon
.
.
.
Owari~
Taraaaaa~~
Ending maksa, alur kecepetan, typo bertebaran.. ya ya ya saya tau tapi yaa mau bagaimana lagi hihi makasih banyak buat yang masih nunggu saya #plak
Yang jelas minta review nya yaaa hoho
Readers-chan~ Daisuki anata~~ ^*^
