DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO

Pairing : Narusaku

Rated : T

Genre : Romance , Hurt/comfort maybe

Warning : OOC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.

Story by me seriello

DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V

.

.

.

.

6. FIGHT

Kali ini Sakura diundang untuk menghadiri pesta yang rutin diadakan oleh teman-teman Naruto di fakultasnya setiap enam bulan sekali.

Tidak begitu ramai, Sepertinya banyak yang tidak datang karena urusan pribadinya.

Sedikit nya Sakura bersyukur, yang datang adalah orang-orang yang dikenalnya sehingga dia tak perlu merasa kikuk berada di sekitar kawan-kawan Naruto ini.

"Hey Guys! Kita sudah mengumpulkan semua menfes untuk para senior dari junior, sepertinya lebih baik kita baca kan sekarang." Seru Kiba, pemuda dengan tato dipipi nya yang sudah sangat Sakura kenal sejak jaman SMA itu kini berdiri diatas panggung di sebuah hall hotel yang telah mereka sewa dengan microphone Yang bertengger ditangan kanan nya.

"Yeayyy!!" Seru yang lain dengan girang begitu mendengarnya.

Ini acara yang ditungu-tunggu sebenarnya. Setiap acara kumpul-kumpul seperti ini para panitia pasti meminta untuk para junior menulis keluh kesah pesan kesan kepada sang senior.

Identitas mereka dirahasiakan jadi mereka hanya menulis untuk siapa surat itu dan apa isi pesannya yang nanti akan di baca bersama-sama.

Biasanya mahasiswa atau mahasiswi yang populer akan mendominasi menfes, mereka pasti dapat banyak pesan dari para secret admirer yang tidak lain dan tak bukan adalah para juniornya sendiri.

"Ayolah Kiba cepat baca!" Tenten, si gadis cepol dua berseru dari salah satu meja bundar dibawah panggung tak sabaran sedangkan si pemuda yang dimaksud hanya nyengir sambil merogoh kertas-kertas yang ada di dalam kantung hitam yang di pegang Ino.

Yup gadis pirang ini ikut menghadiri pesta karena pacarnya-Shikamaru ada dalam fakultas yang sama dengan Naruto.

Dia akrab dengan teman-teman Shikamaru jadilah kini ia membantu memegangi kantung yang berisi kertas-kertas menfes untuk para senior.

"Ok ok tenang dong Tenten, lagi pula tak akan ada menfes untuk mu." Canda Kiba yang disusul gelak tawa dari yang lainnya sedangkan Tenten hanya mendengus sambil bertopang dagu diatas meja.

"Ok ini yang pertama." Kiba lantas membuka kertas berwarna merah muda itu dan mulai membaca nya.

"For : senpai yang punya mata unik, Rock Lee, From : aku yang mengagumi mu. Senpai aku tau aku cuman junior yang tidak akan setara dengan mu tapi Mmm kapan kau mengajak ku kencan lagi?"

Teriakan serta suitan langsung menyambut pendengaran begitu Kiba selesai membaca pesannya membuat si empunya nama tersenyum kikuk sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

"Rock Lee ternyata kau selangkah lebih maju dari ku, eh?" Kiba menyindirnya sambil menatap sengit membuat yang lain kembali tertawa.

Kiba lantas meletakan kertas itu ke kantung plastik transparan dan kembali merogoh kantung hitam.

"Ini yang kedua, uwahh bau nya wangi sekali." Kiba menatap tak percaya kertas berwarna biru muda yang ada digenggamannya. Kertas ini wangi sekali, khas kertas khusus untuk membuat surat. Kau tau baunya? Menyengat.

"From : bukan siapa-siapa yang tak akan menjadi siapa-siapa dalam hidup mu. For : Uzumaki Naruto.

setelah lulus nanti kau akan segera menikah. Aku harap kau bahagia tapi izin kan aku menjadi pengagum rahasia mu yang abadi. Kata-kata tak akan mampu melukiskan betapa indah nya diri mu, mata mu, senyum mu, karena wujud rupa mu lebih dari kata sempurna. Aku mengagumi mu lebih dari apapun. Aku tau ini berlebihan tapi aku tak menampik kalau itu kenyataan. Hidup ku tak akan lama dan aku hanya ingin mengagumi mu selama sisa hidup ku. Maka dari itu izin kan aku untuk memandangi mu barang hanya sedetik saja, sebagai seseorang yang paling berkesan dalam hidupku maka aku ingin kau yang terakhir ku ingat, juga yang terakhir ku lihat. Aku pun tau kau adalah orang yang baik hati pada siapapun murah senyum pada siapapun tapi ternyata hati ku tak memahami itu. Aku terlalu berharap dengan senyum dan sifat baik mu pada ku, itu lah kenapa aku menaruh harapan banyak pada hati ku untuk mu. Tapi kini aku sadar tak akan bisa aku memiliki mu sedang kau telah memiliki wanita lain. Kau tau? Aku tak pernah membenci keadaan dimana aku datang setelah wanita pujaan mu meskipun aku banyak berharap waktu berputar dan aku lah yang pertama menemukan dan memenangkan hatimu. Tapi kenyataan nya begitu jadi aku tak akan menuntut banyak. Semoga kau selalu bahagia senpai."

Kiba nampak tertegun dengan apa yang dibaca nya, kata-kata ini cukup 'dalam' menurutnya, si junior ini sepertinya menaruh banyak perasaan dalam selembar surat ini untuk mengungkapkan isi hati nya. Tak terkecuali yang lainnya, nampak mematung mendengar apa yang di baca Kiba.

Sakura yang terkejut karena Nama sang tunangan di maksudkan dalam surat yang sarat dengan perasaan itu lantas hanya tersenyum tipis, beberapa dari teman-teman Naruto memandang kearahnya.

Yup semua nya tau bahwa Sakura adalah tunangan Naruto dan mereka akan sgera melangsungkan pernikahan setelah wisuda jelas pandangan mereka nampak perihatin menatap Sakura, berfikir bagaimana perasaan gadis bubble gum ini setelah mendengar isi surat untuk kekasihnya.

Sedangkan Naruto hanya menunduk mengabaikan pandangan sulit dijelaskan oleh teman-temannya.

Kiba kembali melanjutkan membaca surat yang lainnya.

"Ah sungguh anak itu! aku sudah bilang pada nya, seharusnya ia tak perlu bersikap baik sekali pada para junior, mereka jadi salah menangkap sikap baik Naruto menjadi suatu perasaan berbahaya. Tapi dia tak mau dengar." Tenten nampak mencoba mengungkapkan kata-kata yang sekiranya dapat membuat Sakura tenang meskipun gadis itu nampak biasa-biasa saja.

"Aku kasian pada Sakura, sepertinya tersiksa sekali punya pacar seperti Naruto yang suka bersikap baik kepada siapa saja, dia pasti sering makan hati." Chouji, pemuda dengan perawakan besar itu tertawa setelah melontarkan kata-kata tersebut membuat Sakura ikut tertawa juga.

"Sudah lah kawan, dari pada kasihan pada ku justru aku lebih kasihan pada gadis itu, sepertinya dia sangat berharap pada Naruto. Dia bahkan tak bisa memiliki Naruto padahal telah di buat sangat berharap sedangkan aku jelas-jelas telah memilikinya. Jadi yang lebih perlu dikasihani itu siapa?" Sakura mengatakan hal tersebut sambil tertawa bercanda, bertingkah senatural mungkin meskipun hati nya kesal bukan main.

Mendengar itu Naruto lantas bangkit dariduduk nya dan meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa, membuat semua nya tersentak tak terkecuali Kiba yang tengah membaca menfes berikutnya.

Pemuda dengan setelan jas abu-abu itu melenggang pergi tanpa pamit padahal Sakura ada disebelahnya membuat si pinky mengernyit.

Apa yang salah dengan ucapannya?

.

.

.

.

"Apa sebenarnya yang terjadi? Apa aku salah bicara?" Sakura melangkah mendekati Naruto yang kini tengah bersandar pada tiang penyangga di depan sebuah kolam renang yang tenang.

"Tidak ada." Jawab nya singkat membuat Sakura mengernyit heran. Tak biasanya Naruto secuek ini pada nya.

"Aku minta kau jelas kan, ada apa antara kau dengan gadis yang mengirim surat itu?" Gadis dengan gaun diatas lutut itu tampak bersedekap dada menunggu jawaban.

"Kau tak sepatutnya berkata seperti tadi Sakura-chan, kau tidak tau keadaan seperti apa yang dialami oleh Hanabi." Katanya yang sukses membuat Sakura terbelalak.

Oh Naruto tau ternyata siapa yang mengirim suratnya. Begitu dekatnya kah sampai-sampai bisa langsung menebak nya?

"Jadi kau tau siapa pengagum rahasia mu itu? Ah sepertinya kalian lebih dari seorang senpai dengan kouhai." Sindir Sakura keras yang membuat Naruto makin tak suka.

"Kau sudah keterlaluin Sakura-chan, kau bahkan menganggap nya menyedihkan. Kau tidak tau bahwa dia sedang sakit kanker otak yang membuat hidupnya tak akan lama." Naruto kini menghadap Sakura, jelas sekali diraut wajah nya bahwa ia tak suka.

"Hah? Apa? Kanker otak? Dan kau percaya? Ayolah Naruto berita bohong karangan seperti itu bahkan bisa dikarang oleh anak SD dan kau mempercayainya? Jaman sekarang banyak orang berusaha mencari perhatian dengan mengarang cerita sedih macam itu, dan kau tersentuh?" Sakura mencibir tak percaya, Naruto ternyata bodohnya natural.

"Iya aku memang sempat tak percaya, tapi dia telah mengirim ku hasil CT scan nya." Naruto lantas mengeluarkan handphone nya dan menunjukan sebuah gambar hasil CT scan otak yang entah milik siapa yang diyakini Naruto milik gadis bernama 'Hanabi'.

Sakura mendecih begitu melihat gambar yang sama yang ada di buku praktikum kedokterannya.

"Gambar ini pasti dari internet Naruto, kau tau? Bahkan di buku praktikum ku pun ada. Kau ingin melihatnya? Akan ku tunjukan besok." Sakura masih memasang wajar meremehkannya bahkan semakin kentara begitu melihat apa yang menurut Naruto adalah bukti akurat sedangkan tidak menurut nya.

"Oh ya? Tapi aku melihat sendiri kok surat hasil dari pemeriksaan dokter tentang penyakitnya." Jawab Naruto sambil kemudian memasukan kembali handphone nya ke dalam saku bagian dalam jas.

"Oh begitu? Jadi sebenarnya sejauh apa hubungan kalian ini?" Sindir Sakura yang kini mulai curiga, ayolah Naruto bahkan diberi tahu soal surat dari dokter dan juga foto hasil CT scan nya yang tak mungkin di sebar secara luas oleh si gadis kan? Suatu kemustahilan.

"Ck, dia adik teman ku, itu saja." Jawab Naruto kembali menyenderkan punggung pada tiang penyangga dan membuang pandangan asal. Mencoba menghindari emerald yang tengah menuntutnya meminta penjelasan lebih.

Ia tau sebenarnya ini memang salah, mengingat meskipun ia bersikeras merasa tak ada yang special tapi tetap saja tak seharusnya ia menyembunyikan ini dari Sakura kan? Sekarang dia malah terlihat seperti seorang pria yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya.

"Begitu? Adik siapa?" Kini Sakura kembali bersedekap dada memperhatikan gerak-gerik kekasihnya yamg mulai aneh baginya. Ya naruto nampak sekali gelisah antara berkata atau lebih baik memilih bungkam.

"Katakan pada ku adik siapa?!" Sakura semakin menegaskan suaranya sekarang meskipun agak sedikit bergetar akibat dari rasa sesak yang mulai hinggap, dia tak percaya seorang gadis yang bahkan entah siapa mampu membuatnya dan Naruto berada dalam pertengkaran.

"Adik.. Hinata."

"Apa? Hinata? Gadis Hyuga waktu SMA itu? Cih dulu kakak nya dan sekarang adik nya begitu? Dan kau nampak sekali menikmati ini. Kau senang dikejar-kejar Hyuga bersaudara begitu?"

Sakura nampak menganggukan kepala nya bertingkah mengerti dan memahami. Mencoba mengeraskan hatinya meskipun terlihat tidak mungkin. Bagaimana pun juga ia sakit, siapa yang rela melihat pacarnya dekat-dekat dengan keluarga seseorang yang pernah mencintai pacar nya? Aku yakin kalian semua pasti cemburu.

"Tidak seperti apa yang kau bayangkan, aku hanya mencoba membuatnya senang disaat-saat terakhirnya, dokter bilang kemampuan untuk bertahan hidupnya tak sampai sebulan. Sebelum sebulan pun kita sudah wisuda maka dari itu aku berusaha hanya ingin menyenangkan hatinya." Ucap Naruto pelan ia tau Sakura cemburu.

"Begitu ya? Dan kau merelakan aku sakit hati? Dokter itu tidak punya kemampuan untuk meramal kematian, meskipun dokter bilang kau besok mati pun kalau kami-sama berkehendak lain kau tak akan mati. Dan kau segitu percaya nya dengan dia? Sampai-sampai kau rela sembunyikan ini semua? Jadi sebenarnya kau ini pilih siapa? Aku atau dia?" Bulir air mata kini menetes meskipun Sakura berjuang keras menahan airmata nya namun ternyata tak mudah.

"Sakura-chan aku rasa kau terlalu berlebihan dan kau sudah keterlaluan tadi menanggapi penyakit seseorang, seperti kata mu. Mati itu tidak bisa di prediksi maka dari itu aku berusaha mengharga nya. Itu saja." Naruto menghela nafas menghadapi Sakura yang kini tengah berlinangan air mata.

"Kau yang keterlaluan! Benar apa kata Chouji, berpacaran dengan mu hanya buat makan hati! Kau tidak bisa menjaga hati ku, kau selalu saja berbuat baik pada banyak orang yang membuat mereka berharap banyak pada mu." Sakura menghapus airmata nya kasar, tak perduli jika riasan matanya kacau. Terserah, itu tak penting baginya.

"Kalau begitu kenapa tidak kita sudahi saja? Kau makan hati berpacaran dengan ku kan?" Naruto menaikan nada bicara nya sampai satu oktaf membuat Sakura tersentak, terlebih isi ucapan Naruto membuatnya makin tak percaya.

Sakura mengangguk sambil melepas cincin dengan permata pink shappire yang telah bertengger di jari manis nya selama 5 tahun belakangan itu dan menyerahkan nya didepan dada Naruto dengan dorongan kasar, meskipun tenaganya tak sekuat biasanya tapi itu tetap mampu membuat Naruto mundur selangkah.

"Ini, ku kembalikan cincin ini dan silahkan berikan pada yang lebih berhak, entah itu kakak nya atau adiknya. Aku tak perduli lagi." Sakura lantas berbalik dan terkejut begitu melihat teman-teman Naruto ada di pintu masuk menuju kolam beserta Ino yang berdiri disamping Shikamaru dengan tatapan khawatirnya.

Sakura hanya menunduk menerobos barisan yang menutup akses pintu masuk dan melenggang pergi sambil berlari kecil begitu mendengar banyak orang menyerukan nama nya mencoba menghalangi diri nya pergi dari hotel ini.

Sakura lantas segera memasuki taxi yang baru saja selesai menurunkan penumpang nya minta diantar kan pulang ke Mansionnya, tak perduli Kiba dan Shikamaru beserta yang lain mengejarnya sampai pintu gerbang hotel, Sakura hanya tersenyum miris ketika semua orang terlihat mengkhawatirkan nya, ternyata orang yang ia harapkan tak ada diantara mereka.

Jadi ini akhir kisah cinta mereka? Percuma saja Sakura menaruh harapan lebih pada Naruto dan meletakan seluruh hatinya untu Pria dengan iris shappire itu. Toh pada akhirnya ia dilepaskan dengan mudah dan pemuda itu lebih memilih gadis lainnya.

.

.

.

.

Naruto nampak termenung memandangi cincin perak dengan permata merah muda yang tentu lebih kecil dari pada jari tangannya itu.

Ada banyak sekali pemikiran di otaknya yang sulit diungkapkan dengan rangkaian kata.

Yang jelas adalah 'apa ini pilihan yang tepat?' Mengingat status hubungan mereka bukan lah main-main lagi.

'Tunangan' adalah suatu hubungan yang selangkah lebih dekat menuju ke sakralan yang bernama 'pernikahan' dan sebentar lagi mereka akan melakukannya.

Acara sudah ada didepan mata dan undangan siap untuk disebarkan. Apakah harus ia urungkan?

"Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan tadi Naruto?" Shikamaru nampak melangkah mendekati Naruto yang kini tengah terduduk di kursi yang ada disepanjang tepi kolam renang berwarna biru yang tenang.

"Kau telah memutuskan hubungan yang menurutku sudah tidak bisa dijadikan mainan ataupun leluconan. Ku kira kau memberikan cincin itu dulu karena memang kau yakin dengan pilihanmu. Tapi melihat sekarang kau yang memutuskan lebih dulu dengan mudah nya ku rasa pemikiran ku salah."

Shimakaru menyenderkan dirinya pada sebuah tiang ayunan besi tepat disamping kursi yang diduduki Naruto.

Shikamaru memerintahkan semua yang hadir untuk melanjutkan pesta dan membaca menfes nya sedang ia berbicara dengan sahabat pirangnya.

Pria kadang-kadang butuh waktu untuk berbicara kan?

Ya Shikamaru paham, terkadang ia pun butuh waktu untuk berdiam diri merenungi suatu masalah sendiri kemudian membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan dan memberikan saran, sepertinya Naruto pun demikian.

Sebagian besar pria kadang-kadang tak ingin mengungkapkan isi hatinya dengan terang-terangan bahkan untuk tipe pria blak-blakan seperti Naruto sekalipun.

Pria punya tempat untuk menyimpan rahasia nya sendiri rapat-rapat.

"Aku tidak bermaksud seperti itu Shika, kau tau kan? Sakura-chan selalu saja begitu. Dia slalu saja meremehkan masalah orang lain. Aku hanya ingin dia memahami dan mengharga hidup orang terlepas benar atau tidaknya berita yang dikatakan Hanabi pada ku. Itu saja, tapi sepertinya sangat sulit sekali baginya." Naruto menundukan kepala nya yang lama-lama terasa pening, menyadari kenyataan bahwa setelah ini hidup nya akan kosong tanpa gadis tercintanya.

"Harusnya kau tak mengatakan ini pada ku, katakan lah pada nya. Apa tadi kau mengatakan alasan ini pada nya atas kata-kata mu yang barusan menyakitinya? Tak ada guna nya kalau kau hanya berdiam diri termenung disini tanpa melakukan tindakan apapun."

Shikamaru memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Cuaca malam lama-lama mulai bertambah dingin ternyata.

Naruto tak bereaksi apa-apa, sedikitnya apa yang dikatakan Shikamaru memang ada benarnya.

Siapa yang bisa memperbaiki hubungan ini selain mereka berdua sendiri? Kalau bukan Sakura ya jelas harus dia.

"Ku kira hubungan selama itu tak akan bisa dilepas dengan begitu mudahnya Naruto,apa lagi kalian akan segera menikah. Konyol sekali kalau hubungan yang dibangun bertahun-tahun ini malah kandas hanya karna kesalah pahaman diantara kalian. Kau masih mencintainya kan?"

Shikamaru melirik sahabat pirangnya dari ekor matanya. Sedangkan Naruto memilih diam mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan pemuda nanas itu.

"Mana mungkin aku bisa melupakan cintaku pada nya, aku telah berjuang banyak untuk mendapatkan nya." Naruto lantas bangkit dari duduk nya kemudian mengantongi cincin yang menjadi pertanda ikatan itu ke dalam saku celana nya.

"Kau mau kemana?" Shikamaru bertanya begitu melihat Naruto melenggang pergi menginggalkannya.

"Tentu saja menemui sakura-chan." Setelah itu sosok tinggi dibalut setelah jas abu-abu dengan surai pirang itu tenggelam di belokan pintu, Shikamaru hanya tersenyum tipis menanggapi nya.

.

.

.

.

Apa kalian pikir ini kali pertama nya mereka bertengkar? Tentu saja tidak.

Suatu hubungan tak akan langgeng tanpa pertikaian.

Sepertinya mitos itu memang benar.

Tak ada hubungan yang monoton dengan rentan waktu yang lama, justru itu pertikaian bagaikan bumbu jika diibaratkan suatu masakan.

Tak ada pertikaian sama saja seperti masakan tanpa garam, hambar.

Tapi baru kali ini mereka bertengkar sehebat itu bahkan samapi-sampai kalimat perpisahan muncul dari mulut Naruto.

Sakura tak menyangka, hubungan mereka kandas begitu saja hanya karena seorang gadis.

Benar kah Naruto telah berpaling?

Jika memang begitu Sakura akan bersujud syukur pada kami-sama yang telah memisahkan mereka sebelum pernikahan menyambangi kedua nya.

"Sakura-chan."

Suara bariton itu sukses membuat Sakura terpaku, ia tengah sibuk memandangi langit malam yang suram dari balkon kamarnya sambil sesekali terisak mengingat hubungan mereka yang kandas begitu saja. Ia lantas berbalik melihat siapa yang datang menghampiri kamar besarnya ini.

"Untuk apa kau datang? Kau ingin meminta semua yang pernah kau berikan pada ku? Besok akan ku bereskan, tenang saja." Jawab Sakura angkuh meskipun diiringi dengan sesenggukan, hidungnya yang putih kini memerah dan jangan lupakan air mata yang masih menghiasi wajah cantiknya.

Ck gadis ini masih saja bertingkah kuat meskipun keadaan jelas berkata sebaliknya.

"Aku tau aku salah." Naruto lantas bergerak mendekat dan menarik tubuh ringkih itu kedalam dekapannya.

"Kenapa kaa-chan mengizin kan kau masuk sih?" Sakura memukul dada bidang Naruto yang tak berarti apa-apa bagi pemuda itu.

"Tentu saja kaa-san mengizinkan, memang nya kenapa mesti ditahan? Aku kan menantunya." Naruto nyengir tanpa dosa, ya tentu saja dia selalu bersikap seperti ini seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa membuat Sakura selalu punya maaf untuknya.

"Sakura-chan, aku hanya ingin kau memahami dan menghargai hidup orang lain. Jika kau menghargainya maka mereka pun akan menghargaimu pula itulah mengapa aku tak suka dengan sifatmu yang terkesan terlalu meremehkan masalah orang lain. Aku tau kau cemburu tapi setidaknya kan jangan bersikap seperti itu. Aku tak akan pernah berpaling dari mu, sungguh."

Naruto membelai surai merah muda kesukaan nya ini dengan penuh kasih sayang. Menghadapi Sakura yang keras kepala memang perlu kelembutan. Dipeluknya Sakura mencoba memberikan gadis itu ketenangan.

"Aku telah memilihmu, untuk apa aku berpaling demi gadis lain dan meninggalkan mu yang telah menyempurnakan hidup ku? Kau tau? Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu. Jadi mana mungkin aku melepasmu dengan mudahnya. Jangan berburuk sangka lagi pada ku ya, percaya lah tetap kau yang memiliki hati ku."

Naruto menarik tangan kiri Sakura dan meletakannya tepat didepan dada.

"Ahh jelek sekali jari ini tanpa cincin itu." Cibir Naruto bercanda yang ditimpali Sakura dengan pukulan didadanya membuat pria pirang itu tertawa.

"Jangan pernah dilepas ya, sebelum cincin lain menggantikan posisi nya saat pernikahan nanti." Naruto merogoh cincin disaku celananya dan memasangkannya pada jari manis tangan kiri Sakura membuat gadis itu tersenyum merona.

Dibalik hubungan yang langgeng, ada dua orang yang selalu bergantian mengucapkan kata maaf dan memaafkan.

Cinta yang sebenarnya tidak akan pernah memilih saling meninggalkan meskipun pertengkaran hebat mencoba menggoyahkan bukan?

.

.

.

.

END

.

.

.

.

ok janji 6 chap sehari selesai:v setelah ini satu hari satu chap di update:"v

RnR minna?

27 mei 2019 - seriello