"Terlihat pria itu akan pergi clubbing," kata Kwon Yuri saat ia duduk kembali ke mobilnya. Sebuah mobil yang tidak dikenali -biasa-, kendaraan itu bercampur cukup baik dijalan yang sibuk.

Jumat malam di Seoul. Tentu saja, ini sudah lebih dari jam 2 pagi,tapi kota selalu baru hidup saat seperti ini. Yuri mengencangkan pegangannya ke telepon. "Dia pergi ke dalam

klub sendirian."

Apa nama tempat itu? Huruf neon berkedip. Extreme. "Nama tempatnya Extreme."

Yuri yakin, berharap dia tidak diperintahkan masuk ke dalam klub itu.

Bukan tempatku.

Dentuman musiknya sudah membuatnya sakit kepala. Yuri lebih memilih tugas lalu lintas dari pada hal seperti ini lain hari. Tapi jika dia harus mengikuti perintah…

Yuri mendesah kesal saat melakukan pekerjaannya.

~oOOo~

"Detektifmu membuat kesalahan serius kapten!" sentak pengacara Chanyeol saat ia meraih tasnya. "Dia sengaja memprovokasi klien saya dan-"

"Tuduhan telah ditarik Tuan, apa lagi yang kau inginkan?" Sang kaptennya, yang lebih tua, dengan tunas rambut abu-abu di rambut hitamnya, mendesah. "Tuan Park bebas untuk pergi."

Kim Jongin berdiri di samping kapten. Chanyeol tidak ragu karena Jongin sudah mendapat kemarahan/kritik tajam dari kapten.

Kau tidak seharusnya menyelidikiku.

Tuduhan mungkin telah ditarik, tapi keadaan antara Jongin dan Chanyeol jauh dari berakhir.

"Dimana Sehun?" Tanya Chanyeol dengan tenang.

Wajah Jongin mengeras. "Dia pulang ke rumah."

"Sendirian?" Chanyeol menyumpah. "Sialan, aku bukan ancaman baginya. Orang lain di luar sana, dan kamu dengan mudahnya membiarkan dia pergi-"

"Petugas Kwon Yuri tetap mengawasinya." Kapten berbicara.

"Yuri membawanya pulang, dan kemudian kita memerintahkan Yuri untuk tinggal dan berjaga-jaga di tempat Tuan Oh."

Debar jantung Chanyeol sedikit tenang. Polisi tidak benar-benar

mengacaukan seluruhnya.

Belum mengacaukan seluruhnya.

"Itu berita bagus." Chanyeol menyentakkan kepalanya ke pengacaranya.

"Mari kita pergi. Aku sudah cukup melihat markas ini untuk terakhir kalinya."

Pengacaranya mengangguk. Chanyeol itu punya pengacara -yang dibayar berkala. 5 menit setelah Chanyeol menelponnya, pengacaranya bergegas ke markas. Pengacara itu sudah mengancam gugatan hukum bahkan waktu pintu tertutup di belakangnya. Tapi, saat itu, tuduhan sudah ditarik.

Jongin benar-benar membuang waktuku.

Detektif itu seharusnya tahu lebih baik daripada dia mencoba sesuatu yang tidak ada kesempatan berhasil. Tangan Chanyeol membanting pintu utama dan membuatnya terbuka saat ia bergegas ke luar. Dia harus menemui ke Sehun dan-

"Aku tidak tahu siapa pria ini," kata si pengacara saat ia mencengkram tangan Chanyeol. "Tapi dengan polisi masuk ke dalamnya, mungkin bijaksana untuk sedikit mundur."

Chanyeol terhenti melirik sekilas bahunya, melihat kembali pintu masuk markas. Jongin mengikutinya keluar. Tidak mengejutkan.

"Mundur bukanlah pilihan," kata Jongin dan ia menepis pegangan Pengacara Chanyeol. Tatapan Chanyeol bertemu tatapan Jongin.

"Tidak mungkin terjadi."

~oOOo~

Klub itu penuh sesak. Lampu melambung di atas kerumunan seperti musik dikeluarkan dari panggung. Pada awalnya, Sehun tidak bergerak. Tatapannya menyapu klub. Beberapa wanita mengenakan gaun pendek dan berpotongan rendah. Mereka menggeliat di lantai dansa. Yang lainnya berpakaian seperti Sehun-jeans nyaman, atasan longgar.

Musik terus menggelegar. Dentumannya hard, mengendalikan. Pria berambut hitam mendekati Sehun. "Mau berdansa?" dia perlu berteriak agar terdengar diantara ketukan musik.

Dansa. Menari.

Itu yang Sehun perlukan. Hanya itu yang Sehun perlukan.

Chanyeol berbohong. Dia berbohong.

Sehun menerima tangan si rambut hitam. Lalu ia pergi ke lantai dansa. Dia berhenti berpikir. Mulai merasakan irama musiknya.

Dan, akhirnya, akhirnya, sakitnya terhenti.

~oOOo~

Bajingan sialan itu meletakkan tangannya di tubuh Sehun. Chanyeol berdiri beberapa kaki dari lantai dansa. Matanya menemukan Sehun segera setelah dirinya melangkah ke dalam klub. Chanyeol selalu bisa menemukan Sehun.

Seorang bajingan berambut hitam menempatkan tangannya di pinggul Sehun. Sehun meliukkan tubuhnya dan bergerak mengalir sesuai irama musik. Mengoda secara sensual. Sehun meninggalkan pria itu. Berdansa ke tengah lantai dansa. Berputar. Menggulung tubuhnya. Pasangan dansa yang lain menangkapnya. Sehun bertemu dengan gerakan pria itu. Berdansa. Berdansa. Bergerak meninggalkannya. Pergi ke pasangan sialan lainnya. Tempo musik meningkat. Sehun dengan mudah menyesuaikan iramanya.

Tidak ada ada tersandung. Cuma keanggunan. Hasrat. Tidak ada orang lain yang bisa berdansa seperti Sehun. Tubuhnya melengkung dan berputar. Naik turun. Terbelit.

Hasrat.

Pasangan lain lagi. Pasangan. Sialan. Lainnya. Chanyeol mengintai ke depan. Mendorong jalannya, melewati kerumunan. Saat Sehun berputar lagi, Chanyeol menangkapnya dan menariknya mendekat. Sehun bahkan tidak melihat siapa dia. Tubuhnya bergoyang sesuai irama. Bergerak, bergerak…

"Apa kau mabuk?" Chanyeol mengeluarkan kata-kata.

Kepala Sehun tersentak pada Chanyeol. Sehun berhenti berdansa dan melihat, akhirnya melihat-Chanyeol. Ketakutan tiba-tiba muncul dimata Sehun. Band mengeraskan lagunya bahkan lebih lantang. Sehun mencoba bergerak menjauh dari Chanyeol. Menemukan pasangan yang lain.

Chanyeol mengikuti Sehun. "Ambil," Chanyeol menyentak si pirang. Dengan bijaksana si pirang melangkah mundur.

"Tidak," Sehun melepas kembali Chanyeol. "Aku tidak mau. Tinggalkan aku sendirian, Chanyeol. Keluar dari sini."

Sehun tidak terdengar mabuk. Dia terdengar marah dan takut, tapi kata-katanya tidak bergumam.

Chanyeol memberengut pada Sehun. "Apa yang kau lakukan?"

Sehun tertawa. "Berdansa. Itu yang aku lakukan kan? Satu-satunya hal…" Sehun mencoba melepaskan diri lagi.

Jangan terjadi.

"Seseorang mengincarmu!" Chanyeol menariknya mendekat. Sehun tetap bergerak. Pinggulnya bergerak-gerak."Kau seharusnya dirumah."

Bulu mata Sehun turun, matanya terpejam. "Apa kau, adalah orang yang mengincarku?"

"Sehun..."

"Kau satu-satunya yang aku percaya. Jangan lakukan ini padaku,Chanyeol." Bulu mata Sehun terangkat. Ada air mata sialan di matanya. "Jangan menjadi orang yang menyakitiku."

Disana, di lantai dansa itu, dengan musik yang terlalu keras dan hawa panas yang menekan tubuh, Sehun membuat sedih Chanyeol.

Tangan Chanyeol mengusap rambut Sehun,menyentuh belakang kepala Sehun. "Aku tidak akan menyakitimu,sayang. Tidak akan."

Chanyeol mencium Sehun. Keras, mendalam, dan putus asa. Sehun membuat Chanyeol menjadi orang yang waras selama bertahun-tahun, dan bahkan Sehun tidak tahu itu. Sehun telah membuat hidup Chanyeol layak untuk dijalani. Sehun pikir Chanyeol akan menyakitinya? Menerornya?

Tidak. Sial, tidak akan.

"Percaya padaku," Chanyeol menghembuskan kata-kata pada bibir Sehun.

"Bukan aku."

Chanyeol harus mengeluarkan Sehun dari klub. Pergi ke tempat yang tenang sehingga mereka bisa bicara. Lalu kemudian dia bisa menjelaskannya.

Sehun menatap Chanyeol. "Aku mencintaimu."

Kata-kata itu seperti meninju Chanyeol di dadanya.

"Tidak pernah bisa berhenti," kata Sehun, bibirnya bergetar. "Tidak bisa."

Bagi Sehun cinta adalah kepercayaan. Chanyeol tahu itu. Karena Chanyeol mengerti dia. Chanyeol menariknya mendekat – dan dia mengeluarkan Sehun dari klub itu.

~oOOo~

"Dia pergi," kata Yuri ke telepon saat dia melihat Sehun tergesa keluar dari klub. "Dan dia tidak sendiri."

Yuri berdiri di kursinya. "Wow, tunggu – bukankah seharusnya dia di penjara?" karena pria yang memegang tangan Oh Sehun terlihat seperti Park Chanyeol baginya.

Laki-laki itu, tidak salah lagi, dia adalah Park Chanyeol.

Yuri kira pasangan itu akan kembali ke apartemen Sehun. Mereka

tidak ke sana. Chanyeol memayungi Sehun dengan bajunya berjalan ke dalam jaguar hitam dan memacunya sesaat kemudian. Pria itu tidak pernah menyadari kehadiran Yuri. Dia hanya fokus

pada Sehun.

Yuri mendengarkan apa yang diperintahkan kepadanya saat dia menggenggam erat teleponnya. "Siap pak."

Yuri melemparkan telponnya ke samping dan memutar kendaraannya. Dia diperintahkan untuk mengawasi Oh Sehun. Tepat seperti apa yang dia sudah lakukan.

~oOOo~

Pintu lift meluncur tertutup dibelakang Chanyeol, dan dia akhirnya mampu untuk menarik nafas panjang (lega) saat mereka mendapat tanda naik ke penthousenya.

Vanilla. Aroma Sehun membungkus di sekitarnya. Chanyeol melihat sekilas padanya. Sehun mundur ke pojok belakang lift. Dindingnya memantulkan bayangannya, dan bayangan Chanyeol yang kejam menatapnya kembali. Dia terlihat sangat berbahaya. Sangat liar. Dan dia juga sebagian kisah dari hidupnya.

"Kenapa kau ada di Jepang waktu itu?" Sehun bertanya pada Chanyeol. Lift dengan tenang naik.

Chanyeol mendekat, tidak membuat jarak diantara mereka. Tidak menyentuhnya. Malah meletakkan tangannya pada cermin, disamping bahu Sehun.

"Karena aku harus melihatmu."

"Ka-kau bisa mengatakannya padaku. Menemuiku –"

"Pernahkah kau menginginkan sesuatu sampai sebegitu buruknya…" Chanyeol berbisik saat Sehun menundukkan kepalanya, "Sampai kau tidak bisa memikirkan lainnya? Semua yang kau rasakan adalah kebutuhan. Hasrat yang tak pernah berakhir yang terus membuatmu bergolak."

Sehun memberikan anggukan kecil. "Itu yang aku rasakan…untukmu."

Sehun menunjukkan perasaannya pada Chanyeol. Chanyeol tidak bisa lebih terkejut lagi padanya.

"Dan itu juga perasaanku untukmu," Chanyeol memberitahu Sehun. "Tidak ada hal yang lainnya. Cuma kamu." #nyanyi,Cuma kamu~~, yang ada di dunia ini~~#

Lift tetap bergerak ke atas.

"Saat kau berumur 18, kau memiliki mimpi. Menari."

Sehun ingin tampil dipertunjukkannya sendiri, sangat, teramat sangat.

"Hanya sekali, satu kali, aku melakukan hal yang benar."

Bau Sehun membuat kepala Chanyeol terasa berputar.

"Aku membiarkanmu pergi," suara Chanyeol parau. "Hal itu merobek hatiku, tapi aku membiarkanmu pergi karena aku ingin kau bahagia."

Sehun menggelengkan kepalanya. "Chanyeol -"

"Aku tidak punya apapun yang bisa aku tawarkan untukmu. Aku miskin. Dan kau mengagumkan. Sangat mengagumkan. Aku melihatmu berdansa, sangat sering. Aku tahu kau bersinar dipanggung itu." Chanyeol ingin bibir Sehun ada dibawahnya sekarang. "Tapi aku juga tahu… kau akan meninggalkan semua itu, untukku, dalam sekejap."

Karena, saat umurnya 18, Sehun mencintainya. Cintanya sangat nyata dan indah dan murni. Tanpa keraguan. Tanpa batas. Cintanya adalah hal yang paling berharga dalam hidup Chanyeol. Sehun sudah menjadi hal yang paling berharga dalam hidupnya. Dan karena Chanyeol mencintai Sehun, dia mencoba, untuk sekali – tidak menjadi bajingan yang egois.

"Aku tidak ingin kau meninggalkan semuanya untukku. Jadi aku mengatakan padamu hubungan kita sudah selesai. Bahwa aku ingin pergi." Ketika Chanyeol hanya menginginkan Sehun. "Aku menyakitimu."

Sial, pemahaman itu tetap menghancurkan Chanyeol.

"Dan bahkan saat itu, aku berjanji pada diriku, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."

Lift berhenti.

"Aku ingin kau memiliki mimpimu. Aku melangkah mundur. Dan mendorongmu menjauh." Lalu Chanyeol pergi dan naik ke tingkat paling atas dengan perjuangan keras. Menyelesaikan semua hal penting untuk membuat hidupnya sukses.

Untuk Sehun.

Jika suatu saat Sehun kembali padanya. Jika suatu saat Sehun memberinya kesempatan kedua.

"Aku tetap berpikir kau telah menemukan orang lain. Seorang pria yang baik, yang mencintaimu. Mempunyai keluarga."

Tapi Sehun tidak melakukannya.

"Tahun berlalu, dan aku… aku harus melihatmu. Hanya memastikan kau baik-baik saja. Hanya untuk…mengisi lubang sialan di dadaku, dimana hatiku seharusnya berada."

Pintu lift terbuka.

"Aku melihatmu menari," Chanyeol berkata, menatap ke dalam mata Sehun, "Dan aku ingat seperti apa dicintai olehmu. Seperti apa menjadi bahagia."

Bibir Sehun terbuka. "Malam itu…"

"Aku tidak menyebabkan kecelakaan itu. Aku sedang…sialan, aku menunggumu di apartemenmu. Aku memutuskan berbicara padamu malam itu. Untuk melihat apa kau masih merasakan sesuatu padaku."

Tapi jam berlalu, dan Sehun tidak muncul. Chanyeol pergi mencari Sehun. Dan mendapati kecelakaan itu.

"Kamu terbangun saat aku menemukanmu," kata Chanyeol.

Sadar namun… Takut. Padaku. Tidak perduli apa yang Chanyeol katakan, Sehun berteriak dan bergerak menjauh. Chanyeol pikir… Sehun tidak menginginkannya lagi.

Sehun tidak bisa mengatasi kegelapan dalam diriku lebih lama lagi.

Chanyeol memastikan Sehun pergi ke rumah sakit. Chanyeol memaksa dirinya untuk tidak melihat Sehun, lagi, dan lagi. Lalu Chanyeol mencoba untuk memberikan waktu untuk Sehun, untuk pulih.

"Saat kau berjalan ke dalam kantorku beberapa hari yang lalu…" Chanyeol melangkah mundur dan meletakkan tangannya agar pintu lift tidak tertutup. "Aku sangat, sangat terkejut. Membutuhkan semua kemampuanku agar tidak berlari dan menangkapmu, untuk memelukmu erat."

Dan tidak pernah membiarkanmu pergi.

Sehun tetap berada di pojok.

"Aku tidak membakar studiomu, Sehun. Aku selalu menginginkan kau mendapatkan impianmu. Aku tidak akan menghancurkannya."

Pandangan Sehun menahannya. Chanyeol mengulurkan tangannya pada Sehun."Jika kau mencintaiku, percayalah padaku."

Karena itu adalah Sehun yang sebenarnya. Sehun menunduk, melihat dengan cepat tangan Chanyeol. Chanyeol tidak bergerak. Sekarang adalah saatnya menunggu keputusan Sehun.

"Aku tidak ingin ada rahasia antara kita," Sehun berkata pada Chanyeol,suaranya lembut. "Jangan pernah ada lagi."

Chanyeol berusaha tidak mengubah ekspresinya. "Sayang, kau tidak perlu tahu apa yang sudah aku alami." Kadang, Chanyeol ingin melupakannya, tapi mimpi buruk tetap menghantuinya.

Sehun melangkah dari pojok. Bergerak ke arah Chanyeol. "Kau keliru. Aku ingin tahu semua tentangmu." Sehun menegakkan bahunya. "Dan aku ingin kau tahu semua tentangku." Sehun mengambil tangan Chanyeol.

Hell, yes.

Chanyeol menarik Sehun ke dalam pelukannya. Menciumnya,lalu mengangkat tubuh Sehun, menahannya dengan mudah. Chanyeol hampir merusak pintu ke penthouse sebelum mereka mereka masuk ke dalam. Chanyeol tidak menahannya, melewati serambi. Terlalu gila, terlalu gelisah. Terlalu putus asa.

Chanyeol membutuhkan Sehun.

Bajunya masih tercium bau rokok. Tergesa seperti malaikat kematian yang tengah mengambang terlalu dekat. Chanyeol menelanjangi Sehun disini. Melepaskan bajunya sendiri dalam sekejap.

Chanyeol menempatkan Sehun melawan dinding. Bercinta dengan dalam dan kasar dan tenggelam ke dalam surga yang hanya dia tahu.

Ke dalam surga, dengan Sehun.

Chanyeol tidak pernah cukup menempatkan diri ke dalam Sehun. Tidak pernah cukup menyentuhnya. Tidak pernah cukup menciumnya. Dengan Sehun, Chanyeol tahu dia tidak pernah puas dengan Sehun. Selalu ingin lebih. Chanyeol menginginkan semuanya yang ada pada Sehun.

Sehun mencapai kepuasannya, dengan lembut otot pusatnya meremas kuat. Pelepasan Sehun membawa Chanyeol pada kepuasannya sendiri, dan tubuhnya menggigil saat kenikmatan menyerbu ke intinya.

Tapi Chanyeol tidak membiarkannya pergi.

Tidak berhenti mendorong.

Chanyeol tidak bisa. Chanyeol kelaparan, gila dengan kebutuhan – akan diri Sehun. Chanyeol menginginkan Sehun, dalam 10 tahun yang lama. Sehun kembali. Tidak ada seorang pun dan apapun untuk membuat Sehun menjauh darinya lagi.

~oOOo~

Telepon berdering sesaat sebelum fajar. Chanyeol melemparkan tangannya, mengambil teleponnya. Pikiran pertamanya…Minseok. Chanyeol telah diberitahu temannya itu sudah dalam keadaan stabil. Sudah baik-baik saja, sudah

"Park," sentaknya dalam telepon. Jika ini dari rumah sakit… "Ada seorang laki-laki di lobi, Pak," Chanyeol mengenali suara Jhonny, manajer gedungnya. "Dia memaksa untuk bertemu anda."

"Aku tidak menerima pengunjung," kata Chanyeol, berputar dari tempat tidur. "Terutama tidak sepagi ini."

Jhonny seharusnya tahu ini lebih baik. Sehun masih tidur,dia sedang ingin diganggu. "Katakan padanya untuk enyah–"

"Dia sangat keras kepala," suara Jhonny tenang. "Dia bilang untuk memberitahumu…namanya Huang Zitao, dan dia punya berita yang mendesak."

Zitao.

"Minta dia untuk menunggu disana," perintah Chanyeol saat pandangannya mengarah pada Sehun sekali lagi.

Orang sialan itu ada di kota? Disini? Tepat setelah kebakaran?

"Aku sedang perjalanan turun."

Selimut terbungkus di tubuh Sehun. Chanyeol terlihat santai, di kedamaian. Seharusnya dari dulu dia tetap seperti itu. Chanyeol mengambil bajunya. 3 menit kemudian, dia sudah berpakaian

dan ada di lobi.

Jhonny berbalik ke arahnya. Huang Zitao ada disamping Jhonny. Zitao terlihat pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Apa yang dia inginkan?

"Terima kasih, mau menemuiku," Zitao mulai berbicara saat dia

melarikan tanganya kesekitar wajahnya. "Aku tidak jujur padamu di Jepang. Ada…ada sesuatu yang harus kau tahu."

~oOOo~

"Chanyeol?" Sehun mencari Chanyeol saat dia bangun.

Tapi tempat tidur kosong. Selimut di sampingnya terasa dingin. Sehun mencari ke penthouse. Chanyeol tidak ada di sini. Kegelisahan menempati di dalam dirinya saat Sehun berpakaian. Lalu dia meluncur dari penthouse dan menuju ke lantai bawah.

~oOOo~

Pandangan Chanyeol terpotong pada Jhonny. "Kami membutuhkan kantormu." Karena Chanyeol tidak ingin laki-laki ini berada dimanapun di dekat Sehun.

Serta merta Jhonny mengangguk. "Tentu saja! Sebelah sini."

Chanyeol tidak berkata lagi, tidak sampai dia dan Zitao berada dalam kantor Jhonny. Manajer gedung itu dengan cepat keluar ruangan, lalu menutup pintu, memastikan memberi mereka privasi.

Chanyeol menyilangkan tangannya di depan dadanya dan membelalak pada sang dokter itu. "Waktumu tidak tepat, dok." Terutama tepat setelah kebakaran. Untuk berada dalam kota yang sama…

"Aku harus datang." Zitao mondar-mandir di sekitar pembatas kecil di ruangan. "Aku butuh memberitahumu – ah, sial, kau harus tahu kebenaran tentang Sehun."

"Aku cukup tahu tentang Sehun." Chanyeol tidak butuh laki-laki ini memberi pentunjuk padanya dalam hal apapun.

"Sungguh?" Zitao memutar punggungnya untuk berhadapan dengan Chanyeol. "Lalu aku kira kau mengetahui semua hal tentang ibunya? Kamu tahu bahwa ibu Sehun gila? Mengidap delusi? Tabrakan mobil yang membunuh orang tuanya…ibunya yang menyebabkan tabrakan itu. Dia sengaja membunuh dirinya dan suaminya."

Chanyeol tidak membiarkan ekspresinya berubah. " Bagaimana kau tahu tentang hal itu?"

Chanyeol sudah tahu, sudah lama dia mengetahui kebenaran itu, tapi kenapa laki-laki ini menggali masa lalu Sehun?

"Aku tahu karena aku mengkhawatirkannya." Zitao menghembuskan nafas berat. "Sehun…dia terlalu lemah. Terlalu rapuh, sangat terlalu rapuh."

"Karena itu kau menidurinya?" tuntut Chanyeol, meningkat tajam. "Karena dia rapuh?"

Wajah Zitao memerah. "Aku kira dia membutuhkanku. Sehun melakukan sesuatu pada laki-laki. Dia membuatmu berpikir – kau ingin melindunginya."

Chanyeol selalu ingin menjaga Sehun tetap aman. Tanpa pengaruh apapun.

"Tapi… ada sesuatu yang salah dengannya."

Ok, Chanyeol membutuhkan semua kekuatannya agar tidak menyerang dokter itu.

"Aku mulai menduga kebenarannya, setelah beberapa minggu. Hal-hal yang Sehun katakan, yang Sehun lakukan…" Tangan Zitao bergerak ke dalam saku di jasnya. "Aku berbicara pada detektif Jepang. Yunho. Tidak seorang pun yang menabrak mobil Sehun di jalanan. Aku pikir dia menabrakannya sendiri."

Omong kosong.

"Sehun mengatakan padaku tentang seseorang yang membobol ke dalam apartemennya sekembalinya di Jepang, dia mengatakan padaku bahwa dia merasa seperti dia diawasi – dia mengatakan semua hal…" kata-kata Zitao terseret menjauh.

"Tapi kau tidak mempercayainya," Chanyeol menyelesaikan, merasa muak.

"Karena itu tidak terjadi. Aku ada di jalan dengannya, saat dia sangat yakin ada seseorang di belakangnya. Tidak ada seorang pun disana. Tidak ada seorang pun yang pernah masuk dalam apartemennya. Tidak ada yang terjadi."

Otot Chanyeol menegang sepanjang rahangnya.

"Ibunya berusia awal 20-an tahun saat schizophrenia pertamanya menampakkan diri."

Sial! "Kau melihat catatan medis ibunya?!"

"Delusi," gumam Zitao. "Paranoid. Itulah bagaimana penyakit ibunya bermula – dan bagaimana itu mengawali lusinan kegilaan yang lainnya. Dan itu juga bagaimana penyakit Skye bermula."

Tidak, itu bukan penyakit. "Kau keliru. Seseorang mengintai Sehun. Dia diserang di studio. Dia mendapat luka di kepalanya–"

"Apa ada yang melihat serangannya?"

Tidak, agennya tidak menemukan seseorang di tempat kejadian.

Zitao menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kau tahu dia tidak melakukan sendiri hal itu?"

Karena aku tahu Sehun. Kau yang benar-benar tidak tahu Sehun.

"Kebakaran hampir membunuhnya semalam. Apa kau serius berdiri disini, mencoba memberitahuku bahwa dia mungkin melakukan hal itu juga? Bahwa dia menyulut api di tempatnya sendiri?"

"Apa seseorang melihat penyerangnya disana?"

Chanyeol tidak menjawab.

"Aku kira begitu." Nafas Zitao berhembus keluar. "Kau pikir aku ingin ini terjadi? Pada-nya? Tentu saja tidak. Aku perduli pada Sehun. Tapi perilakunya meningkat menjadi tak menentu sekembalinya dari Jepang. Ketika aku memberitahunya bahwa dia membutuhkan bantuan…saat itu dia menghilang."

Chanyeol mempelajari Zitao itu untuk sesaat dalam kesunyian, lalu menuntut. "Kenapa tidak kau mengatakan sesuatu saat aku bertanya padamu di rumah sakit?"

"Karena aku ingin penilaianku salah! Aku ingin, tapi naluriku memberitahuku, aku tidak bisa seperti itu. Aku datang ke sini,

mendengar tentang kebakaran sesaat lalu dari berita – dan tahu

bahwa aku harus bertemu denganmu. Aku harus memperingatkanmu." Zitao berputar menjauh dan menuju tepat ke arah jendela. "Mempercayaiku atau tidak, tapi kau harus diperingatkan. Aku kira – aku kira Sehun bisa jadi berbahaya. Se berbahaya ibunya."

Chanyeol tetap menjaga matanya pada punggung Zitao. "Sehun tidak akan pergi begitu saja hanya karena kau mencoba memberinya 'bantuan'." Chanyeol tidak bisa menerima penjalasan Zitao begitu saja.

"Saat kami ada di Jepang…" dan ini sejujurnya telah mengganggu pikiran Chanyeol… "Kau menyebutkan sesuatu tentang 'malam itu' – bagaimana itu semua berubah setelahnya." Chanyeol menunggu sesaat dan berkata, "Apa kau benar-benar berpikir Sehun tidak memberitahuku tentang apa yang telah terjadi?"

Berbohong mudah bagi Chanyeol. Terutama saat dia berhadapan dengan seseorang seperti Huang Zitao.

Bahu Zitao mengeras. "Ya." Zitao mendesahkan kata-kata. "Aku

kira Sehun punya hal yang tidak diberitahukan padamu."

Zitao kembali menghadap wajah Chanyeol sekali lagi. "Tapi tidak itu hanya membuktikan kebenaran pendapatku? Sehun binggung diantara kita berdua. Dia memanggilku dengan namamu. Dia pikir aku adalah kamu. Dalam sekejap, Sehun tidak tahu siapa aku – atau bahkan dimana dia."

Sehun memanggilku dengan namamu.

"Tidak ada seorangpun yang menguntit Sehun," Zitao melanjutkan, suaranya menguat. "Dia jelas pria yang bermasalah. Seperti ibunya. Dia butuh evaluasi, pengobatan medis–"

"Aku tidak gila."

Jhonny tidak mengunci pintunya. Sial. Sehun pasti sudah diam-diam mendengar di luar. Sehun hanya mendorong untuk membuka pintu. Sehun berdiri pada pintu masuk sekarang, dadanya naik turun, pipinya merah. "Aku tidak membayangkan apa yang terjadi padaku!"

Seluruh tubuh Zitao tersentak, seperti seekor peliharaan yang di ikat kuat. "A-aku tidak bermaksud kau mendengar ini-"

"Tentu saja, tapi aku telah mendengarnya." Sehun menjilat bibirnya dan dagunya terangkat di udara. "Seseorang menguntitku, dan itu bukan gambaran imajinasiku. Apa yang terjadi padaku itu nyata."

Zitao bergerak perlahan ke arah Sehun. Suara Zitao berubah rendah dan menenangkan saat dia berkata, "Aku tahu kau pikir ini…"

"Ya, aku pikir ini nyata! Karena ini memang terjadi!" Sehun menatap tajam Zitao. "Kau ingin bicara tentang malam itu? Baiklah. Mari bicara. Aku memanggilmu dengan namanya Chanyeol karena aku memikirkannya. Aku menginginkannya, oke? Aku selalu memikirkan Chanyeol. Setiap kekasihku - adalah Chanyeol. Itu salah dan membinggungkan, dan, mungkin bahkan sedikit gila, tapi aku tahu apa yang aku lakukan. Aku menginginkan Chanyeol malam itu, jadi aku memanggilnya." Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melakukannya karena aku gila! Aku melakukannya karena aku menginginkan-nya."

Wajah Zitao berubah menjadi keras. "Tidak seorangpun yang bisa menemukan bukti apapun dari penguntitmu. Polisi di Jepang tidak bisa menemukannya. Apa ada yang bisa menemukan bukti disini? Aku bertaruh mereka tidak bisa menemukannya juga. Meskipun keamanan Park Chanyeol memeriksa, mereka tidak menemukan apapun karena dia tidak nyata. Hanya seperti ibumu, kau –"

"Jangan bicara tentang ibuku." Suara Sehun bergetar dalam kesakitan.

Sudah habis kesabaran Chanyeol. Dia melompat ke depan. Menangkap tangan Zitao dan menyentakkan pria itu ke arah pintu.

"Tunggu!" Zitao memekik. "Apa yang kau lakukan? Berhenti-"

"Taruh pantat sialmu di atas pesawat, dan keluar dari Seoul. Jika kau tidak pergi sore ini, aku akan tahu. Lalu aku akan mendatangimu." Chanyeol menatap ke dalam mata Zitao itu. "Kau tidak ingin itu terjadikan, mengerti?"

Zitao menelan ludah. "Aku – aku hanya ingin dia mendapat pengobatan." Zitao melemparkan pandangan cemas ke arah Sehun.

Sehun mundur dari pintu.

"Aku perduli padamu. Aku ingin membantu-mu."

"Membantu bagaimana? Dengan merawatku di rumah sakit?" pipi Sehun masih merah dan matanya berkilat dalam kemarahan. "Penguntit itu ada. Dia itu nyata."

"Tidak." Zitao terdengar sedih dan yakin. "Dia tidak nyata."

Dengan kegembiraan yang besar Chanyeol mengusir dokter itu keluar dari gedung.

"Uh, Pak…" Jhonny mulai saat dia melihat Zitao dengan marah meninggalkan gedung turun ke jalan.

"Jangan biarkan dia melewati pintu," perintah Chanyeol. "Jangan pernah lagi, mengerti?"

Dengan cepat Jhonny mengangguk. "Tentu. Aku… mengerti."

"Bagus." Chanyeol melangkah kembali ke kantor – dan menemukan Sehun belum bergerak. Tatapannya ke arah jendela.

"Sehun…"

Pandangan Sehun kembali pada Chanyeol. "Pergi bicaralah pada Minseok. Dia bisa mengatakan padamu ada orang lain di dalam studio. Aku tidak gila."

"Aku tidak pernah bilang begitu."

Senyum Sehun tertahan di ambang kesedihan. "Tapi kau berpikir seperti itu bukan?"

Chanyeol menggenggam tangan Sehun ke dalam tangannya. "Tidak, aku tidak berpikir seperti itu."

Sehun menyentak tangan Chanyeol. "Aku kira kau lebih baik dalam berbohong." Lalu Sehun mundur dari Chanyeol. "Aku kira kau jauh lebih baik…"

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Syalalalala~ aku update nya kecepetan apa kelamaan nih? Haha btw aku lagi happy gegara charger laptopnya udah balik,berasa kek separuh jiwanya balik lagi. Wkwkwk

Kan juga katanya kemaren ada readers yang bilang update nya sabtu aja,biar barokah. Nah ini update malam sabtu kan? Sebenernya jadwal jalan. Tapi demi kalian yang udah koar-koar frustasi sama cerita ini katanya hahaha gpp deh, biar barokah katanya. Hahahaha.

Jadi yang nebak Chanyeol pelakunya selamat, kalian salahh~ hihihi

Dan, sempet ada yang nebak Sehun delusi? Gila? Noh tebakan kalian sama kaya Zitao. Wkwk

Sehun berantem lagi kan sama Chanyeol,huhu

Jadi sekarang pertanyaannya, Sehun gila atau tidak? Jika tidak, siapa pelaku sebenarnya? Yok tebak lagi~ haha

Sampai ketemu dichapter selanjutnya yaa~ mumpung malam minggu ada yang ngebooking ngajakin jalan juga, udah nungguin pula anaknya. Hihi

Buat ff Fifty Shades Darker, besok pagi aku post.

Happy Satnight ya guys~

Pai~ Pai~

Ps: Review again for update asap please~ ^^;

.

.

Thanks for review CH 5 :

Halona Jill , siensien , cloudspolaroid , KrisYeolGalaxySHHRN , yellowfishh14 , egatoti , Yessi94esy , hanhyewon357 , kim sehyun96 , WuSehunLu , sita2312 , exolweareone9400 , bottomsehunnie , fitrysukma39 , izzsweetcity , rytyatriaa , Sekar Amalia , Ihfaherdiati892 , levy95 , exobabyyhun , Zelobysehuna , bibblebubblebloop.