Fanfiction

Cast : Jongin, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin tidak pernah menyangka suatu hari ia terbangun dengan status baru yaitu sebagai tunangan seorang anak milioner bernama Oh Sehun. Seharusnya dia bisa saja kan membeberkan kebenaran dan kembali pada hidup tenangnya? Tapi…Jongin memilih berperan menjadi tunangan Sehun. Hanya peran, tidak sungguhan. Benarkah hanya peran? HunKai/SeKai/SeJong. Yaoi.

Chapter Six

"Selamat sore Tuan dan Nyonya sekalian!" Seorang pria yang sudah berambut penuh uban berdiri diatas panggung dalam hall berukuran lumayan. Dalam hall itu orang-orang berpenampilan mahal dan berkelas berdiri memperhatikan si pria beruban.

"Terima kasih sudah menyempatkan waktu Anda semua dalam acara sederhana sore ini." Si pria tua tersenyum lebar. "Dalam kesempatan yang berbahagia kali ini, saya ingin memperkenalkan seseorang pada kalian semua."

Gumaman tiba-tiba memenuhi ruangan itu.

Gumaman penasaran.

"Seperti yang sudah Anda dengar sebelumnya, putra bungsu saya sudah kembali dari Eropa dengan status baru." Gumaman menjadi semakin keras, menunjukkan jika mereka semua penuh semangat dengan arah pembicaraan si pria tua.

"Dalam kesempatan kali ini, saya ingin memperkenalkan tunangan dari putra bungsu saya." Hall itu mulai riuh, ada yang bertepuk tangan dan juga ada yang mengeluarkan pekik penuh semangat.

"Oh Sehun dan tunangannya, Kim Jongin."

Para tamu berkerumun semakin dekat menuju panggung, ingin melihat bagaimana wajah tunangan putra bungsu keluarga Oh. Diatas panggung, Jongin menautkan lengannya dengan lengan kekar Sehun.

Jongin terlihat tegang namun masih tersenyum. Wajah manisnya berusaha untuk tidak fokus pada mata-mata yang memandanginya atau sorot kamera yang mengambil foto wajahnya.

Sehun sama gugupnya seperti Jongin namun ia lebih bisa mengontrol ekspresinya. Wajah dingin andalan Sehun bisa menipu banyak orang. Seumur hidupnya, baru kali ini mengumumkan kehidupan cintanya dan itu sangat membuat Sehun takut.

Takut jika Jongin akan tersakiti karena masuk kedalam kejamnya dunia yang ia tinggali. Takut jika suatu saat dia akan ditinggalkan seperti dulu. Takut jika ia tidak bisa melindungi Jongin karena pemuda disisinya ini memiliki hati yang sangat lembut.

Acara pengenalan Jongin pada dunia terjadi begitu cepat. Jongin bahkan tidak ingat sama sekali apa yang ia lakukan diatas panggung, hanya hangat tangan Sehun yang ia ingat. Isi kepalanya seolah tidak ada disana namun tertinggal pada ruang kerja Sehun.

Jongin ingin sekali menghilang sebenarnya namun dengan banyaknya orang yang memperhatikan dan dia tidak ingin Sehun dimarahi karena menghilang begitu saja. Ah, kadang menjadi orang berhati baik itu susah ya.

"Jongin, apa kau tak apa? Tanganmu berkeringat dingin." Sehun meremas kedua tangan Jongin yang dingin dan lembab ketika keduanya sudah turun panggung dan berbaur dengan kerumunan.

"A-aku.." Jongin tidak mau dan tidak bisa menatap Sehun. Pria dua puluh delapan tahun itu menunggu Jongin berkata-kata.

"Hyung, siapa itu Luhan?" Jongin bertanya dengan suara bergetar.

"Lu-luhan?" Suara Sehun menunjukkan dengan jelas jika Sehun terkejut. "Dari mana kau tahu tentang Luhan? Mommy bercerita padamu? Noona bercerita padamu?"

Jongin rasanya ingin menangis sekarang.

Jadi Luhan memang orang yang berarti ya untuk Sehun. Mungkin itu penyebab kenapa tadi Sehun terlihat begitu terkejut saat keluarga Oh memintanya untuk mempublikasikan pertunangan mereka. Mungkin Luhan adalah orang pertama yang pernah memiliki hubungan serius dengan Sehun, Jongin ingat betul dulu Sehun pernah berkata jika ia hanya pernah berhubungan serius dengan satu orang sebelum dirinya.

Jongin tidak menjawab pertanyaan Sehun dan mulai menangis.

Sehun pun bingung.

Mereka sedang ditengah-tengah keramaian dan akan sangat menarik perhatian sekali jika Jongin menangis. Sehun dengan lembut menarik Jongin kedalam pelukannya dan membawa pemuda itu menuju tempat yang lebih sepi.

"Hiks..aku mau pulaaaaang.." Jongin merengek.

"Hey, hey, kenapa kau malah menangis? Apa ini karena Luhan? Dia mengatakan apa padamu? Apa dia menyakitimu?" Sehun mengusap pipi Jongin lembut.

"Di-dia tunangan Hyung kan?" Jongin berkata susah payah disela-sela tangisannya.

"Iya, dia memang tunangan Hyung." Tangis Jongin berhenti sejenak kemudian berlanjut lagi, jauh lebih keras. "Dulu."

"Oh astaga My Nini.." Sehun tidak tahu bagaimana akan menjelaskan jika Jongin terus menangis seperti ini. Sehun meraih Jongin kedalam pelukannya dan mengelus-elus punggung sempit milik kekasihnya.

"Jongin, kalau aku tidak sungguh-sungguh menyukaimu, untuk apa aku setuju mengenalkanmu ke publik? Aku sungguh-sungguh menyukaimu Jongin, aku mencintaimu. Luhan hanyalah masa laluku.."

Jongin perlahan mulai berhenti menangis.

"Ta-tapi..hiks..kenapa dia masih bilang kalau dia..hiks..tunangan Hyung? Hiks..berarti semuanya belum jadi masa lalu..hiks.." Jongin berkata dengan suara teredam oleh dada Sehun.

"Hah, akan aku jelaskan. Tapi berhenti menangis, oke? Aku tidak ingin mata cantikmu bengkak." Sehun melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya yang sudah bengkak. Kadang Sehun ingin menertawakan dirinya yang kini berpacaran dengan remaja belia seperti Jongin. Dulu saja dia menolak kalau ditawari adik karena dia benci anak kecil. Bahkan awalnya, Sehun kesal kalau keponakannya mulai bermanja-manja padanya. Tapi sekarang? Pacarnya sangat muda! Membuat ia harus bersikap luar biasa dewasa. Padahal Sehun kan sebenarnya ingin dimanja-manja…

"Tuh lihat, hidungmu sampai seperti badut." Sehun mengusap sisa-sisa air mata diwajah Jongin.

"Se-sekarang Hyung jelaskan!" Jongin berkata dengan bibir maju hingga beberapa senti. "Hyung bilang tidak akan pernah meninggalkan aku! Aku menyesal menerima Hyung begitu saja!"

"Hei hei hei, jangan bicara begitu. Luhan sungguhan hanya masa laluku." Sehun menggenggam tangan Jongin dan membawa Jongin menuju sofa panjang nan empuk diruangan itu, ruangan yang sering digunakan untuk menunggu para tamu jika ingin bertemu dengan bos-bos besar diperusahaan.

"Jadi…dulu aku dan Luhan memang pernah bertunangan." Sehun mulai menjelaskan.

"Dari awal!" Jongin berkata galak.

"Baiklah.." Sehun mendadak jadi was-was, ia lupa kalau Jongin bisa sangat galak. Aduh, semoga sesudah ia memberi penjelasan Jongin akan kembali menjadi pemuda menggemaskan ya! "Aku dan Luhan adalah teman satu sekolah waktu SMU, kami mulai berpacaran saat kelas dua dan hubungan kami berlanjut sampai kuliah."

"Lama sekali.." Jongin berkata dengan wajah cemberut.

"Memang lama tapi bukan berarti indah." Sehun berkata dengan senyuman kecut. "Mommy dan anggota keluargaku yang lain tidak begitu suka pada Luhan karena dia uhm, arogan. Tapi kami tetap bersikeras untuk bersama. Retaknya hubungan kami dimulai saat Luhan selingkuh."

Jongin menaikkan satu alisnya, terkejut.

"Aku ingin membalasnya dan berselingkuh juga. Setiap Luhan berselingkuh maka aku akan berselingkuh juga dan Luhan tidak hanya sekali atau dua kali melakukan hal tersebut. Tapi aku sendiri sampai sekarang juga tidak paham kenapa dulu aku bersikukuh mempertahankan Luhan."

Wajah Jongin sudah tidak segalak tadi, malah ada sedikit rasa iba pada mata Jongin. Ternyata pria sekeren Sehun pernah diselingkuhi juga ya.

"Sampai setelah aku mendapatkan gelar diplome, kami memutuskan untuk bertunangan. Keluargaku sangat marah dan mereka mengirimku ke Eropa. Katanya untuk belajar walaupun aku tahu itu cara mereka untuk memisahkanku dengan Luhan." Sehun berhenti sejenak. "Aku senang aku berangkat ke Eropa karena setelah disana aku baru melihat bagaimana Luhan sebenarnya."

Jongin mengernyitkan dahinya.

"Dia sering menggunakan statusnya sebagai tunangan Oh Sehun untuk kepentingan pribadinya. Menggunakan kartu kredit yang aku berikan padanya dan tentu saja ia berselingkuh lagi."

Jongin merasa hatinya diremas mendengar ucapan Sehun. Sisi galak Jongin sudah terganti oleh sisi lembutnya. Hati Jongin yang selalu mudah tersentuh dan tidak tegaan memang kadang menjadi kelemahannya.

"Aku berusaha meninggalkannya tapi kami pasti bersama lagi. Selalu seperti itu hingga akhirnya aku benar-benar memutuskannya beberapa minggu sebelum kita bertemu. Aku merasa jika hubungan itu dilanjutkan, aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan apapun."

Jongin dan Sehun terdiam.

"Apa Hyung masih menyukainya?" Jongin bertanya dengan suara hati-hati.

"Tentu saja tidak. Aku menyukaimu." Sehun menjawab dengan senyuman diwajahnya.

"Tapi Hyung, aku rasa tidak mudah menghapus seseorang yang sudah berada dalam hidup kita selama bertahun-tahun. Apalagi Hyung baru saja putus selama sebulanan." Jongin berkata dengan suara lirih.

"Aku menyukaimu Jongin. Mungkin kita baru sebentar saling mengenal tapi setiap bersamamu, aku merasa…ringan. Aku tidak pernah mengintai seseorang yang aku sukai seperti aku mengintaimu dulu, aku tidak pernah melakukan tindakan memalukan seperti dikafe itu."

"Tapi Hyung, apa Hyung yakin jika bertemu dengannya lagi Hyung tidak akan kembali padanya? Dia sangat sangat cantik!"

"Kau sudah bertemu dengan Luhan?" Sehun terkejut.

"Dia ada dikantor Hyung tadi." Mendengar jawaban Jongin, wajah Sehun berubah jadi lebih tegang dan kaku. "Tuh kan Hyung akan kembali bersamanya! Hyung baru mendengar namanya saja sudah berbeda!"

"Jongin, aku tidak akan kembali bersamanya!" Sehun mengacak rambutnya frustasi. Sesungguhnya ia tidak yakin akan hal itu. Memang Sehun menyukai Jongin namun Luhan adalah hal berbeda. Mereka sudah bersama bertahun-tahun dan Sehun sendiri mengakui jika berapa kalipun ia mencoba berhubungan serius dengan orang lain pasti akan gagal. Dirinya selalu berakhir dengan Luhan lagi.

"Dari pada Hyung meninggalkanku lebih baik kita putus sekarang!" Jongin berdiri sambil menghentakkan kakinya. "Aku mau pulang! Sana umumkan kalau hubungan kita sudah berakhir!"

"Jongin! Jongin!" Sehun berlari menyusul Jongin yang sudah membaur pada kerumunan dipesta. Sehun tersenyum meminta maaf pada para tamu dan berjalan secepat mungkin menuju pintu keluar.

Baru saja ia mencapai lobi gedung, sebuah taksi dengan Jongin didalamnya berjalan meninggalkan lokasi. Sehun menggeram frustasi. Bagaimana ini? Kenapa Jongin minta putus begitu saja? Bagaimana dengan status pertunangan mereka? Bagaimana jika nanti ia dihajar oleh ayahnya? Bagaimana nama baik keluarganya? Tapi yang paling penting, bagaimana Sehun akan menghadapi sakit hati untuk kedua kalinya?

Sehun mencoba menenangkan dirinya. Jongin masih muda, wajar saja jika emosinya masih meledak-ledak. Sekarang biarkan Jongin sendiri dulu nanti malam ia akan menemui bocah itu dan memperbaiki hubungan mereka. Toh dari awal Sehun memang sungguhan tertarik pada Jongin, tidak ada niat untuk mempermainkan Jongin sama sekali.

Sehun berjalan masuk kedalam gedung.

Dalam hatinya ia berjanji, apapun yang akan terjadi nanti ia tidak boleh dan tidak mau kembali pada Luhan. Sekarang hanya ada Jongin. Pemuda yang sudah menyerahkan begitu banyak pada dirinya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan pemuda seperti Jongin.

"Astaga berhenti menangis Kim!"

"Dia jahat padaku Chaaaan!"

"Kau tidak mendengarkan kata-katanya?" Pria jangkung yang sedang sibuk bermain game itu mendesah frustasi, gara-gara tangisan sahabatnya, permainan yang ia mainkan jadi selesai alias game over.

"Tapi…tapi…bagaimana kalau dia berbohong?"

"Jongin, kalau dia berbohong kenapa dia mau mengumumkan pada dunia kalau kau tunangannya? Dia serius padamu Kim, kalian hanya butuh waktu agar saling yakin satu sama lain."

"Tapi..tapi.."

"Jongin kau kesini curhat dan minta pendapatku." Park Chanyeol meletakkan konsol gamenya dan menatap Jongin yang wajahnya jelek sekali karena kebanyakan menangis. "Aku memberimu saran dan nasehat tapi kau masih saja tapi tapi."

"Maaf.." Jongin berkata lirih sambil mengambil selembar tisu didepannya.

"Dia serius padamu, itu jawabanku. Dia sudah tua, wajar saja dia sudah banyak pengalaman dalam dunia percintaan. Wajar saja kalau dia punya masa lalu tapi kini yang penting bukan masa lalu tapi masa depan. Dia memilihmu sebagai pasangannya jadi percaya padanya karena jika aku dia aku tidak akan dengan mudah mengumumkan pada dunia jika manusia cengeng dan menyebalkan sepertimu adalah tunanganku!"

"YA PARK CHANYEOL!" Jongin melempar kotak tisu pada sahabat masa kecilnya.

"Sakit bodoh! Sana basuh wajahmu! Kau sudah makan belum?" Chanyeol mengusap kepalanya dan bertanya galak.

"Sudah sih tapi karena kebanyakan menangis aku jadi lapar."

"Didapur ada makan." Chanyeol mengambil lagi konsol game-nya. "Tapi mandi dulu, bajumu yang ketinggalan waktu itu ada dilemariku."

Jongin membuang ingusnya sekali lagi dan beranjak menuju kamar Chanyeol. Telinga Jongin bisa menangkap kata-kata Chanyeol tentang betapa konyolnya Sehun yang mau menjadikan pemuda ceroboh, cengeng dan manja seperti Jongin menjadi tunangannya. Jongin inginnya sih menjitak kepala sahabatnya itu tapi nanti saja setelah makan jadi lebih mantap.

Chanyeol adalah sahabat Jongin sejak entah kapan. Chanyeol setahun lebih tua dari Jongin jadi pemuda itu selalu melindungi Jongin yang cengeng. Jongin selalu menceritakan semua permasalahannya pada Chanyeol termasuk masalah Sehun. Walaupun tidak keseluruhan Jongin ceritakan—Jongin tidak menceritakan kejadian di gym dan kegiatan panasnya diapartemen Sehun.

"Chanyeooool!" Jongin yang sudah mandi berteriak dari dapur. "Temani aku makaaan!"

"Makan disini saja, aku sedang asik!"

"TEMANI. AKU. MAKAN!" Jongin berteriak kencang dan Chanyeol tahu kalau ia tidak segera ke dapur Jongin akan mulai menangis.

"Fine princess!" Chanyeol dengan berat hati meletakkan konsolnya.

"Aku bukan princess!"

Berjam-jam sudah berlalu.

Jongin sudah tertidur pulas diatas kasur Chanyeol dengan Chanyeol disebelahnya. Tidur berdempetan seperti ini memang sudah menjadi hal biasa bagi mereka bahkan kadang mereka masih mandi bersama. Beruntung Chanyeol adalah seorang pemuda straight yang sudah punya kekasih sangat cantik jadi persahabatan mereka tidak pernah kemana-mana. Jongin juga tidak pernah menganggap Chanyeol lebih dari sekedar teman baik dan seorang kakak.

Di nakas samping tempat tidur milik Chanyeol tergeletak ponsel milik Jongin. Layarnya berkelap-kelip hampir setengah jam dan nama Sehun tertera disana. Tidak jauh dari rumah Chanyeol, Sehun berdiri didepan rumah Kim dengan wajah cemas.

"Jongin, angkat teleponku please." Sehun mengetuk-etukkan kakinya pada aspal. Sehun sudah berusaha menghubungi Jongin sejak satu jam yang lalu. Setelah dua belas panggilannya tidak dijawab, Sehun memilih untuk mengunjungi rumah Kim meskipun waktu sudah lebih dari jam sembilan.

Jongin belum tidur kan? Masa sudah tidur jam segini. Apa dia sangat marah padaku? Apa dia sangat serius meminta putus darinya? Sehun berdiri sambil memandangi rumah kekasihnya dengan hati gundah.

"Sehun?" Sebuah suara wanita mengejutkan Sehun. Sehun menoleh dan menemukan kakak Jongin berdiri dengan wajah lelah tidak jauh darinya. "Kau mencari Jongin?"

"Selamat malam." Sehun tersenyum ramah. "Iya aku mencari Jongin tapi aku telepon tidak diangkat."

"Kau bertengkar dengan Jongin?" Suara kakak perempuan Jongin sedikit mengintimidasi.

"Uh, dia salah paham tentang sesuatu dan..yah begitulah.." Sehun sedikit takut melihat sikap kakak perempuan Jongin. Biarpun Sehun lebih tua dari Hyorin, Sehun tetap menghormati wanita itu karena bagaimanapun juga Hyorin adalah calon kakak iparnya—Sehun serius bukan dengan Jongin? Bahkan sudah menganggap Hyorin sebagai kakak ipar.

"Sehun, umurmu dan Jongin kan berbeda jauh. Aku harap kau bisa menangani sikap Jongin yang kekanakan tapi jangan terlalu dimanja juga. Dia kalau dimanja bisa besar kepala." Hyorin berkata sambil membuka pintu gerbang rumahnya. "Lampu kamarnya tidak menyala, berarti dia tidak dikamar."

Sehun merasa hatinya mencelos.

Kemana kekasihnya semalam ini belum ada dirumah. Walaupun biasa jika seorang pria muda belum dirumah pukul sekian tapi Jongin adalah pengecualian. Jongin tidak bisa dibilang pria hanya karena memiliki penis. Jongin adalah wanita yang terperangkap dalam tubuh pria, paling tidak itu menurut Sehun.

"Coba kau kerumah itu. Biasanya Jongin kesana." Hyorin menunjuk rumah yang tidak jauh dari rumah keluarga Kim. "Ketuk saja pintunya dan bilang jika kau dikirim Hyorin untuk membawa Jongin pulang."

Sehun sedikit terkejut dengan ucapan Hyorin.

Membawa pulang Jongin? Rasanya seolah Jongin adalah bocah lima tahun yang tidak mau pulang bermain dari rumah temannya. Hyorin tersenyum kecil dan masuk kedalam rumah, meninggalkan Sehun yang masih bingung.

Karena Sehun tidak memiliki banyak pilihan, Sehun memutuskan untuk menuju rumah yang ditunjuk Hyorin. Sehun memencet bel rumah mungil yang bentuknya tidak jauh berbeda dengan rumah Jongin.

"Selamat malam. Cari siapa ya?" Seorang wanita setengah baya membukakan pintu dalam dua menit.

"Uh, saya mencari Kim Jongin. Hyorin menyuruh saya membawanya pulang." Sehun berkata kikuk.

"Oh, dia ada dikamar paling ujung. Masuk saja." Ibu itu dengan ramah mempersilahkan Sehun masuk sampai Sehun heran sendiri. Kenapa ibu ini mudah sekali percaya pada orang asing ya?

Bentuk rumah yang ia masuki juga tidak jauh berbeda dengan rumah Jongin. Sehun langsung tahu jika kamar paling ujung adalah kamar yang sama seperti kamar yang Jongin tempati dirumahnya.

"Jongin?" Sehun mengetuk pintu kamar itu sekali.

Sepi.

"Jongin?"

Masih sepi.

Sehun memutar kenop pintu kamar didepannya. Sehun nyaris terkena serangan jantung dengan pemandangan yang menyambutnya. Kekasihnya! Kim Jongin! Tidur berdempetan dengan pria lain!

"Jongin!" Sehun memanggil Jongin dengan suara keras.

"Hmmhh.." Jongin hanya menggumam pelan namun Chanyeol yang tidur disebelahnya bergerak tidak nyaman. Sehun ingin sekali menyeret Jongin dari atas kasur itu kalau ia tidak ingat jika Jongin sedang marah padanya. Bisa-bisa Jongin minta putus sungguhan kalau ia melakukan hal itu.

"Jongin! Ayo pulang!" Sehun mendekati kasur itu dan mengguncangkan tubuh Jongin.

"Hmmhh, jangan ganggu Nini." Jongin menepis tangan Sehun dan bergumam manja. Jika Jongin tidak terbangun sama sekali dengan suara keras Sehun maka Chanyeol lah yang terusik tidurnya. Matanya terbuka perlahan dan melihat wajah masam Sehun menyambutnya.

"Jo-jongin.." Chanyeol ikut mengguncangkan tubuh Jongin sambil berusaha tidak menatap Sehun yang seolah bisa membunuhnya saat itu juga.

"Channie jangan ganggu Niniiii.." Jongin merengek dan memukul tangan Chanyeol yang mengguncangkan lengannya.

"Jongin! Bangun! Ayo pulang!" Sehun berkata dengan suara yang lebih keras sekali lagi. Chanyeol sampai terlonjak dan merinding sendiri. Seram sekali kekasih Jongin dan sebagai pemuda yang peka. Chanyeol bisa membaca jika Sehun kesal dengannya karena yah siapa yang tidak kesal jika menemukan kekasihmu tidur dengan orang lain.

Jongin membuka matanya dan siap mengomel pada siapapun yang sudah mengganggu tidurnya namun begitu melihat Sehun yang mengganggunya Jongin malah menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

"Jongin, ayo pulang." Sehun berkata dengan suara lebih lembut dan mengelus kepala Jongin dari luar selimut.

"Chan suruh dia pergi!" Jongin berkata sok memerintah.

"Jongin.." Chanyeol ragu-ragu menatap Sehun. "Le-lebih baik kau pulang saja."

"Tidak mau!" Jongin mengeratkan selimut yang menutupi kepalanya. Sehun dan Chanyeol sama-sama menghela nafas. Begini deh kalau Jongin kebanyakan dimanja.

"Jongin ayo pulang sekarang." Sehun membuka selimut yang menutupi kepala Jongin dan wajah cemberut pemuda itu menyapanya. "Ayo pulang ya.."

"Jongin pulanglah. Aku ingin tidur tanpa badanku pegal-pegal besok." Chanyeol ikut membujuk Jongin.

"Dasar teman macam apa kau ini?!" Jongin membuka selimutnya dengan wajah galak. Tanpa melihat dua orang yang sedari tadi berusaha membangunkannya, Jongin berjalan keluar kamar dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan.

"Aku tidak peduli kau straight, gay atau bi. Jangan sampai aku melihatmu dekat-dekat dengan Jongin lagi!" Sehun menatap Chanyeol dengan tatapannya yang paling galak dan berlari menyusul Jongin.

"Jongin, jangan marah lagi ya? Ya? Ya?" Sehun duduk merapat pada Jongin.

"Kita sudah putus! Jangan dekat-dekat!" Jongin mendorong Sehun agar tidak deka-dekat dengannya. Beruntunglah taman didekat rumah Jongin sudah sepi, kalau tidak malu ketahuan tetangga mereka sedang bertengkar.

"Jangan begitu dong. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Luhan, kau lihat sendiri tadi sore kita mengumumkan pertunangan kita. Luhan pasti juga sudah tahu kalau kita bertunangan."

"Nanti kalau Hyung bertemu dengan Luhan lagi paling aku juga ditinggalkan."

"Tidak! Aku berjanji! Aku bersumpah!" Sehun masih saja terus memasang wajah merengeknya yang bagi beberapa orang terlihat menjijikkan karena, well, Sehun adalah pria dewasa yang sangat maskulin. Tidak cocok merengek seperti itu tapi demi mendapatkan kekasihnya kembali Sehun tidak masalah melakukan hal konyol apapun.

"Jongin, coba pikirkan baik-baik. Kalau aku tidak sungguh-sungguh denganmu, mana mungkin aku setuju untuk mengumumkan hubungan kita. Mungkin awalnya aku sedikit ragu dan takut tapi aku rasa itu hal yang wajar karena kita baru saling mengenal selama dua minggu." Sehun menarik bahu Jongin agar Jongin menatap dirinya.

"Aku tidak pernah memikirkan Luhan sama sekali. Aku pun meragu bukan karena aku masih memiliki perasaan pada Luhan. Kita berdua masih sama-sama ragu karena hubungan kita baru sangat sebentar. Ratusan pasangan juga masih akan meragu setelah berpacaran bertahun-tahun."

Jongin mendengarkan ucapan Sehun dengan bibir mengerucut, bukan karena sebal pada Sehun tapi sebal karena ia setuju dengan ucapan Sehun. Banyak pasangan yang putus ketika mereka akan maju kejenjang yang lebih tinggi.

"Walaupun aku masih sedikit takut dan ragu, tapi jauh dalam lubuk hatiku, hatimu. Kita sama-sama tahu kalau kita tercipta untuk satu sama lain." Sehun memuji dirinya sendiri dalam hati karena bisa menemukan kata-kata seromantis itu.

"Kau percaya padaku kan?" Sehun mengusap pipi Jongin lembut.

"Hyung sungguhan tidak menyukai Luhan lagi kan?" Jongin sudah luluh, tentu saja.

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Bahkan jika Hyung bertemu Luhan lagi dan dia mengajak Hyung kembali bersama lagi atau dia berusaha merayu Hyung lagi. Hyung tidak akan tergoda kan?" Jongin bertanya sekali lagi dengan mata besarnya yang kini seperti anak anjing.

"God, tentu saja tidak. Satu-satunya yang bisa menggodaku cuma kau sayang." Sehun tersenyum kecil dan mengecup hidung Jongin gemas.

"Ih, nanti tetanggaku ada yang lihat!" Jongin mendorong wajah Sehun menjauh. Matanya menatap gugup sekeliling taman, takut jika ada tetangganya yang melihat kelakuan Sehun barusan. Kalau sampai mengadu ke ibunya kan bisa panjang ceritanya.

"Berarti kalau tidak ada yang lihat, tidak apa kan?" Sehun tersenyum mesum dan Jongin memutar bola matanya kesal. Baru juga mereka baikan, sudah aneh-aneh kelakuan Sehun.

"Hyung, otakmu perlu dicuci."

"Ck, jangan begitu. Aku tahu kau suka sisi kotorku." Sehun duduk semakin merapat pada Jongin. Tangan besarnya merangkul pinggang langsing Jongin.

"Hyung.." Jongin menoleh ke kanan dan ke kiri lagi, takut jika seseorang tiba-tiba datang.

"Malam ini menginap diapartemenku bagaimana?" Sehun berbisik dengan suara yang sudah serak.

"Ti-tidak mau.." Jongin menolak sambil mendorong dada Sehun menjauh.

"Jadi kau lebih suka dengan temanmu itu? Hm? Dari pada kekasihmu sendiri? Dari pada kekasihmu yang bisa memberikan kenikmatan tiada tara?" Sehun menatap Jongin dengan mata berkilat oleh rasa cemburu dan juga nafsu.

"Hyung dia temanku.."

"Banyak temanku yang menikah dengan teman masa kecilnya." Sehun berdiri dan meraih tangan Jongin agar ikut berdiri bersamanya.

"Dia straight Hyung!" Jongin nyaris terjatuh saat Sehun menariknya kasar dan berjalan meninggalkan taman.

"Banyak pria yang akan jadi gay saat melihatmu. Kau kelewat seksi baby." Jongin tertawa kecil mendengar pujian Sehun.

"Fine, fine. Malam ini aku akan menginap ditempat Hyung." Jongin yang memang pada dasarnya lemah iman jika sudah bersangkutan dengan Sehun langsung setuju setelah Sehun memujinya begitu. Lagi pula…sudah lama juga mereka tidak begadang dan bercinta semalaman.

"J-jongin hentikanhh..akhh.." Sehun mencengkram setir mobilnya erat-erat.

"Hngghh..mpphhmm…" Jongin tidak peduli dan tetap melanjutkan kegiatannya. Sehun sebenarnya bisa saja menarik kepala Jongin agar menjauh dari penisnya tapi kuluman Jongin sangatlah sayang untuk dilewatkan.

"Ssshh..kita bisa dalam masalah kalau sampai aku menabrak." Sehun berusaha fokus pada jalanan didepannya namun sangat sulit karena kelakuan nakal kekasihnya. Tadi saja sok tidak mau diajak menginap, sekarang lihatlah! Baru lima menit didalam mobil Jongin sudah meremasi penis Sehun dan kini penis besar itu sudah ada didalam mulutnya.

"Shithh..dasar pelacur.." Sehun mengerang lirih saat lidah Jongin dengan ahlinya menjilat seluruh bagian kepalanya. "Such a cockslut.."

Gairah Jongin semakin terbakar mendengar panggilan Sehun padanya. Oh, betapa Jongin menyukai panggilan-panggilan kasar dan nakal Sehun padanya saat mereka bercinta.

"Hyunghh.." Jongin melepaskan kulumannya pada penis Sehun dan memandang wajah tampan kekasihnya dengan nafas terengah-engah. "Hyunghh…lubangku sudah tidak tahan lagi.."

"Jongin jangan berani-berani.." Sehun tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Jongin dengan lincahnya melepas celana panjangnya dan melempar ke kursi penumpang bagian belakang.

"Jongin aku sedang menyetir—"

"Hanghh..akhhh..nikmatnyahh…" Jongin mulai mengocok penisnya sendiri dan menaikkan kedua kakinya agar terbuka lebar. "Hyung yakin tidak mau?" Jongin bertanya menggoda sambil terus mengocok penisnya perlahan.

"Lubangku sudah berkedut-kedut, dia lapar Hyunghh.." Jongin meraih penis Sehun dan mengocoknya dengan kecepatan yang sama seperti ia mengocok penisnya. Sehun menelan ludahnya kasar, pemandangan kaki Jongin yang terbuka lebar sangat mengganggu konsentrasi menyetirnya.

"Diam berarti mau!" Jongin berkata riang dan pindah keatas pangkuan Sehun. Pria dua puluh delapan tahun itu mengerang tidak percaya dengan apa yang akan kekasihnya lakukan selanjutnya.

Nafas Jongin yang hangat pada lehernya membuat Sehun nyaris kehilangan kendali. Sial, sial, sial. Bocah tujuh belas tahun bisa membuatnya gila seperti ini.

"Akhh…hnnghhhhh…ahhhh…." Jongin meremas bahu Sehun saat ia mulai menurunkan pinggulnya. Anusnya mulai menelan penis Sehun yang basah oleh salivanya.

"Shh..damn…kau ketat sekali.." Sehun meremas setir mobilnya lebih erat lagi. Kakinya berusaha terus menginjak gas dengan kekuatan yang cukup. Sementara yang tersulit adalah untuk fokus pada jalanan dan membawa kekasih binalnya ini dengan selamat sampai apartemennya.

"Ohhh…Hyunghhh…be-besarnyahhh…" Jongin memeluk leher Sehun erat-erat saat penis Sehun sudah sepenuhnya mengisi bagian bawah tubuhnya. "Hyung, jika Hyung bisa membuatku orgasme sebelum sampai apartemen, aku akan melakukan apa saja yang Hyung inginkan."

"Sungguh?" Sehun bertanya dengan suara serak.

"Hm, apapun." Jongin mengangguk kecil dan mengecup rahang kokoh Sehun mesra. Sehun menyeringai lebar dan mengeratkan pegangannya pada setir. Lihat saja Kim Jongin, kau benar-benar harus menepati janjimu.

To Be Continueeeee

Cepet kaaaan?

Cepet kaaan?

Cepet kaaaan?

Wkwkwk maafkan kesombongan Author yang bangga banget bisa update cepet padahal masih banyak ff yang terlantar :"

Chapter ini engga ada prahara..eh belum heuheu…

Tungguin Luhan beraksi yaa hahaha

Makasih banyak review-reviewnyaaa^^

Bikin semangat banget ngelanjutin seri ini hihi

Terima kasih juga masih mau menunggu!

Jangan lupa review, kritik dan saran yaaa!

Gomawooooo!