Maafkan saya yang lama update. Tolong salahkan saja modem saya yang tidak ada pulsanya#ditabok. Saya tidak akan membalas review kali ini, anggap saja pertanyaan itu hutang yaa? Dan satu lagi, chapter ini (lumayan) panjang, tapi saya sangat tidak puas. Entah kenapa terasa sangat jelek. Tolong komentarnya ya nanti?

Baiklah, silakan mulai..

##########

Cinta bisa mengetuk pintu hatimu dengan perlahan.. Tapi terkadang, dia juga datang dengan dobrakan.. Yang manapun, sambutlah kehadirannya dengan senyuman..

##########

Chapter 6 : Love is Knocking

##########

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke Uchiha x Naruto Uzumaki

Genre : Romance/Humor (but for this chapter, rasanya sepi humor)

Rated : T

Warning : AU, Shounen Ai, so much Gajeness, typo, alur membingungkan, cerita ala sinetron, membosankan.

Notification :

"blablabla" = bicara

'blablabla' = bicara dalam hati

##########

Summary : Baru dua hari mereka tinggal bersama. Tapi satu sama lain sudah saling memengaruhi dengan kuat. Apa saja masalah yang akan ditanggung oleh Naruto?

##########

Don't Like, Please Don't Read!

##########

Gaara menatap ruang kosong di langit hitam. Tak dipedulikannya angin malam yang berhembus dingin. Dia dengan tenang berdiri di balkon kamarnya. Mengawasi langit luas terbentang.

Malam ini tak ada bintang. Langit hanya tampak sebatas kanvas hitam. Begito kosong dan gelap. Seolah Tuhan sedang enggan mengisinya dengan bintang. Atau mungkin awan mendung sedang berkerumun. Gaara sendiri tak tahu.

Ada yang mengusik hatinya. Malam ini tak seperti malam yang pernah dia lewati. Saat dia bisa menghabiskan waktu dengan sibuk mengerjakan tugas atau sekedar bermain game. Tanpa harus merasa gelisah seperti ini.

Malam ini berbeda. Ada rasa takut asing yang mengganggunya. Firasat akan adanya bahaya. Dan tampaknya bahaya itu bukan masalah sepele.

Dia menghela nafas. Rumahnya tetap hening. Sekalipun Nenek atau Kakaknya pulang, rumah ini akan tetap sepi. Tak akan ada bedanya. Perbedaannya mungkin hanya pada siapa yang akan ditemuinya di ruang makan atau di depan TV di ruang keluarga. Namun, betapa pun cueknya seorang Gaara, dia sesungguhnya merindukan mereka berdua. Satu-satunya keluarga yang dia punya. Satu-satunya penyokong yang tersisa.

Masih terasa perasaan takut kehilangan di hatinya. Saat tiba-tiba mendapat telepon bahwa neneknya terkena serangan jantung. Dan ironi itu semakin parah saat dia tak diizinkan menjenguknya. Keharusan berada di rumah ini menyiksanya. Memaksa Yashamaru pun sia-sia. Dia tetap berada di dalam rumah yang aman, sementara neneknya berbaring sendirian di kamar yang penuh bau obat. Gaara merasa sangat tersiksa.

Dia sungguh berharap memliki keluarga yang normal. Ada ayah dan ibu yang lengkap, menghabiskan waktu makan malam bersama, tertawa bermain dengan kakaknya. Namun sesungguhnya yang paling dia ingin adalah..

Bahagia.

Ya, bahagia.

Tak perlu keluarga lengkap juga taka pa, asal dia bisa mencicipi apa itu bahagia.

Bukan juga dia tak bersyukur dengan apa yang sudah dia miliki sekarang. Tapi melihat anak lain bisa begitu lepas tertawa menikmati hidup mereka, hidupnya terasa kurang. Karena dia belum menemukan alasan untuk tertawa. Dia belum bisa bahagia.

##########

"Aku baru tahu kalau kau suka menyakiti diri sendiri."

Suara itu membuat Gaara menoleh. Lama sudah dia berada di tempat itu. Dia terlalu asyik melamun, sampai tak mendengar langkah kaki memasuki kamarnya. "Kakak?" Katanya sedikit terkejut melihat siapa yang datang.

Pria yang lebih tua dari Gaara itu menghempaskan diri di tempat tidur Gaara. "Kita perlu bicara banyak Gaara. Sudah waktunya kau tahu." Wajahnya tampak sangat serius.

Gaara menatap langit luar lagi. Tak beranjak dari tempatnya bersandar. "Apakah ini tentang ayah?" Dia bertanya lirih tanpa menoleh. Sejenak, keheningan mengambang di kamar itu.

"Kemarilah Gaara, kau hanya membuat dirimu sakit dengan berada di luar seperti itu." Kankurou tak langsung menjawab.

Perlahan, Gaara beranjak. Menutup pintu balkon perlahan dan mengambil tempat duduk di kursi meja belajar. Tak ingin berada terlalu dekat dengan kakaknya.

Kankurou menatap Gaara sedih sebelum mulai bercerita, "Kau tahu kalau ayah mati karena kecelakaan yang disengaja?"

Gaara mengangguk.

"Tidakkah kau ingin tahu cerita lengkapnya?"

Gaara terdiam, "Kalau kau tak ingin memberitahuku, aku tak akan bertanya."

Kankurou tersenyum tipis, "Biar ku jelaskan asal mulanya."

Hening sejenak.

"Ayah mempunyai seorang teman yang sangat dia percaya. Orang itu juga pengusaha seperti ayah. Mereka sama-sama memulai usaha dari bawah. Ayah bekerja sama dengan orang itu untuk saling membantu mengembangkan usaha mereka masing-masing. Namun, pada akhirnya ayah lah yang unggul. Mungkin karena usaha ayah lebih disukai pelanggan."

"Siapa sangka jika ternyata orang itu merasa iri pada ayah dan mulai mengganggu usaha ayah? Ayah mencoba tetap bersikap baik pada orang itu. Bahkan tetap mempercayainya. Tapi rupanya dia malah menjebak ayah dalam kecelakaan yang mengakibatkan kematian ayah. Setelah ayah mati, dia malah berusaha mengambil alih perusahaan. Untunglah nenek bergerak cepat. Namun, tak akan ada yang bisa membuat ayah kembali lagi."

"Bertahun-tahun aku berkelana. Mencari kelemahan orang itu. Berusaha menjatuhkannya. Namun semua itu sia-sia. Dia sangat licin. Kini, berita terbaru yang ku dapat, dia sedang mendapat masalah besar. Perusahaannya hampir bangkrut. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini. Karena jelas dia tidak akan menyerah. Sekalipun harus mengorbankan nyawa orang lain."

"Apa hubungannya dengan kita?", Gaara bertanya pelan. Ada rasa takut di hatinya.

"Ada yang bilang bahwa dia akan menuju kota kita. Entah siapa sasarannya. Yang jelas, semua orang mulai waspada. Karena kedatangannya bagaikan badai. Kelicikannya membuatnya dengan mudah menjatuhkan orang lain. Tanpa pandang bulu. Dia akan melakukan apa pun asal itu menguntungkannya. Dia tidak akan memperdulikan kehancuran orang lain karena itu." Kankurou terdiam. Sungguh dia benci harus terikat dengan peristiwa menyakitkan itu. "Esok kau boleh ke rumah sakit. Nenek pasti ingin bertemu denganmu."

Gaara tersenyum tipis. Mengangguk diam. Kankurou bangkit. "Baiklah, kau tidurlah. Aku juga lelah." Kankurou berhenti di ambang pintu saat mendengar Gaara bertanya.

"Siapa sebenarnya orang itu?", Gaara bertanya lirh. Hatinya ingin tahu, siapa orang yang bisa begitu kejam pada orang lain?

"Orang paling kejam, tanpa belas kasih dan rasa takut. Dial ah serigala hitam dari Oto."

Ada jeda sejenak.

" Namanya, Danzo Uchiha."

##########

Di malam yang sama, Naruto sedang menerima telepon asing itu. Setelah sempat terkejut mengetahui siapa yang menelepon, Naruto segera menuju balkon. Dia tak ingin Iruka mendengar percakapannya ini. Dengan perlahan, di dekatkannya telepon genggam itu ke telinganya.

Benar saja, si penelepon itu tampaknya sudah mengomel-omel gara-gara diacuhkan.

"Ne, gomen Aniki.", kata Naruto perlahan.

Mendengar suara Naruto yang terlihat bersalah, lawan bicaranya menghela nafas. Dia tak bermaksud membuat adik kesayangannya itu sedih.

"Lalu, kau sekarang dimana Naruto?", laki-laki itu bertanya dengan lebih lunak.

"Ehm, kau berjanji tak akan memarahiku?" Naruto masih ragu-ragu.

"Tentu saja. Aku tak pernah marah padamu, kan?"

Naruto memanyunkan bibirnya. Tentu saja lawan bicaranya tak akan tahu. Sadar akan hal itu, dia pun menjawab dalam keadaan masih cemberut.

"Tak pernah apanya? Apa kau lupa saat aku tak sengaja menyenggolmu saat makan es krim. Atau saat aku kehilangan uangku gara-gara dicopet, dan jangan lupa saat aku tidak sengaja mengecat mobilmu jadi biru. Kau bilang kau tak pernah marah, Dei-chan?"

Deidara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Hey! Itu kan salahmu sendiri, dan soal yang terakhir itu, jangan mencoba protes! Mana mungkin kau bisa tidak sengaja? Mobilku yang harusnya berwarna kuning cantik, jadi warna biru suram begitu!" Deidara tak terima.

Naruto terkekeh-kekeh. Ya, dia tak akan melupakan kejadian itu. Saat itu dia berumur 10 tahun. Dia kesal sekali dengan kakaknya –yang saat sudah berumur 17 tahun- itu. Pasalnya, di hari ulang tahunnya ke 17 itu, Deidara mendapat hadiah mobil baru warna kuning pirang.

Bukannya Naruto iri dengan hadiah itu, sama sekali tidak. Dia tak butuh mobil semacam itu. Hanya saja, setelah mendapat mobil itu, Deidara tak pernah lagi bermain dengannya. Deidara terus saja keluar dengan mobilnya itu. Berangkat pagi, pulang malam. Naruto sangat kesal sekali. Sampai suatu sore dia melihat seorang pekerja sedang mengecat pagar rumahnya. Menatap pada kalencg cat itu, Naruto mendapat ide hebat. Dan benar saja, malam harinya, dia mengendap-endap masuk ke garasi setelah sebelumnya mencuri sekaleng cat dari gudang.

Bisa ditebak apa yang terjadi esok hari. Deidara yang hendak keluar, menjerit shock saat melihat warna mobilnya sudah berubah. Bukan masalah jika yang di cat Naruto hanya pintu atau kap dan bagian belakang. Masalahnya, Naruto juga mengecat kacanya! Akhirnya, setelah ditanyai berungkali, barulah Naruto mengatakan alasannya. Sedangkan Deidara, walaupun merasa marah, dia tak bisa menolak pesona manis dari Naruto.

Naruto tertawa-tawa kecil mengingat hal itu. Deidara di ujung telepon ikut tersenyum-senyum. "Kau pasti ingat kejadian itu, kan?" Naruto menjawab dengan tawa.

Deidara tersenyum usil, "Ooh, aku masih sangat ingat ekspresimu saat kau bilang kau tak suka diacuhkan. Manis sekali~", Naruto merengut. "Jangan mengingatnya!" Deidara tertawa terbahak-bahak. Dia suka sekali menggoda adiknya ini.

"Jadi Naru-chan, kembali ke pokok masalah. Kau sekarang ada dimana?"

Naruto berhenti tersenyum, dia kembali ragu-ragu. "Kau janji tak akan bilang pada siapapun?"

Deidara berpikir sejenak. "Ini pasti ada hubungannya dengan dia, ya? Kau pergi karena dia, kan?"

Naruto menelan ludah gugup. "Iya."

"Kau tahu tak ada gunanya berlari kan? Dia akan tetap menemukanmu. Kau harus menghadapinya, Naruto." Deidara menjawab pelan.

"Tidak semudah itu, kak. Kau tahu sendiri lah dia seperti apa." Deidara terdiam. Kedua kakak beradik itu tak bicara apa-apa. Sekalipun terpisah jarak yang jauh, masing-masing bisa merasakan perasaan satu sama lain.

"Kenapa dia harus datang, Dei-chan? Padahal sebelumnya hidup kita begitu normal." Naruto mendesah sedih.

Deidara menatap langit dengan pandangan kosong. "Entahlah, Naruto. Terkadang aku merasa heran dengan apa yang dibawa oleh nasib."

Mereka berdua kembali diam. Ada guratan nasib yang pahit tergantung di pundak mereka. Mereka sendiri tahu itu. Sudah banyak cobaan yang menimpa mereka. Dan sampai saat ini, mereka masih mampu bertahan. Karena itu mereka akan terus berjuang. Tak semudah ini menjatuhkan para Namikaze seperti mereka.

"Ya sudah, Naruto. Kalau kau tak mau bilang kau berada dimana, aku tak akan memaksa. Tapi ingat, kalau mendadak terjadi sesuatu, segera hubungi aku. Aku akan langsung menjemputmu." Ucapan Deidara itu membuat Naruto tersenyum.

'Ya, aku masih punya seseorang untuk bergantung.'

"Terima kasih, Aniki. Sebaiknya aniki jaga diri juga." Deidara terkekeh mendengar ucapan Naruto. "Ya, aku tahu. Tapi mereka juga pasti tahu. Tak mudah untuk mengalahkan seorang Deidara Namikaze. Baiklah, sampai jumpa lagi!"

"Klik" Telepon ditutup. Di bibir Naruto masih tersungging sebuah senyuman. Memang tak boleh meremehkan Anikinya. Sudah menguasai 3 macam beladiri jelas membuatnya tahan banting.

Naruto kembali menatap langit luas. Dia berbisik pelan, "Aku tak akan kalah pada siapapun, walaupun itu nasib."

##########

Pagi itu dimulai dengan cerah. Naruto memulai hari dengan semangat. Telepon dari kakaknya kemarin membuatnya sangat bersemangat hari ini. Hal ini jelas membuat Iruka mengerutkan kening keheranan. Setelah kemarin bertingkah layaknya mayat hidup, bersenandung lembut seperti sekarang ini jelas aneh.

Berpikiran positif, Iruka hanya menganggap Naruto berhasil mengatasi masalahnya. Sementara pikiran lain muncul di wajah Kakashi saat melihat wajah cerah Naruto pagi itu. Dengan santainya dia bertanya, "Apa Sasuke melamarmu?"

Mendengar pertanyaan Kakashi, dua pasang mata segera melotot. Kakashi hanya menggaruk-garuk kepalanya. Mengingat masalahnya pada Sasuke, membuat semangat Naruto turun lagi.

Melihat keloyoan Naruto, Iruka merasa jengkel dengan Kakashi. Dia menginjak kaki kiri Kakashi dengan keras, membuat Kakashi berteriak keras.

"Iruka-chan, kenapa kau tega sekali denganku?", Kakashi memasang tatapan sedih sambil mengusap-usap kakinya yang terinjak.

Semakin kesal, Iruka akhirnya menginjak kaki kanan Kakashi. Membuatnya berteriak keras sekali lagi. "Jangan panggil aku seperti itu!" Dan seolah tak pernah mengenal Kakashi sebelumnya, dia berjalan melewati Kakashi yang membungkuk kesakitan dan segera menyeret Naruto masuk ke mobil. Tanpa menoleh, Iruka segera tancap gas, tanpa memperdulikan panggilan Kakashi yang memelas.

Naruto tertawa terbahak-bahak di dalam mobil. Iruka menoleh padanya sedikit, "Kalau besok Sasuke bertingkah, kau boleh kok melakukan hal itu." Katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Naruto langsung memerah. Melihat itu, ganti Iruka yang tertawa terbahak-bahak.

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersama. Sungguh pagi yang ceria.

##########

Sesampainya di sekolah, Naruto berpamitan pada Iruka dan menuju kelasnya. Tapi, saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu, dia dengan cepat berbalik lari. Untunglah pria berambut raven itu tak menyadari kedatangan Naruto.

Di lorong yang sepi, Naruto berpikir dengan cemas. "Bagaimana caranya masuk tanpa berpapasan dengan Teme itu?"

Inginnya dia meminta bantuan dari Gaara dan Kiba, tapi mereka pasti sudah ada di dalam kelas. Naruto mondar-mandir di lorong itu. Belum menemukan pemecahan dari masalahnya.

Mendadak, bel masuk berbunyi. Wajahnya berubah pias. "Mati aku!"

Dengan cepat, dia berlari menuju kelas. Namun, niatannya untuk masuk kembali terhambat saat melihat Sasuke masih bertengger di depan kelasnya. Bahkan saat ini sedang mengobrol dengan gurunya

Naruto lemas. Percuma. Kalau dia masuk, Sasuke pasti akan membuat alasan untuk bisa menyeretnya. Dengan langkah gontai, dia menjauhi kelas. Tak menyadari tatapan Sasuke di belakang punggungnya.

"Dobe."

##########

Dan begitulah. Setelah bingung berputar-putar. Langkah Naruto kembali membawanya pada kebun. Ya, kebun tomat sialan tempatnya menangis.

Dia menatap tomat-tomat yang tampak ranum itu. Ingatannya membawanya pada saat dia bersama Sasuke. Saat-saat yang begitu singkat. Tapi penuh makna. Dia mendesah, "Ini bukan waktunya untuk merasa terikat dengan seseorang. Kau hanya akan menyeretnya dalam masalahmu."

Perlahan dia bangkit meninggalkan kawasan kebun. Berjalan pelan-pelan melewati lorong-lorong yang kosong. Sesosok bayangan tampak di belakangnya. Merasa terkejut, dia dengan cepat menoleh.

"Siapa di sana?" Teriaknya keras. Dia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Nihil. Seolah tadi itu hanyalah ilusinya.

Tetap waspada, dia berjalan lebih hati-hati.

Tiba-tiba..

"Awaaaaas!"

Naruto menoleh ke arah sumber suara. Seorang murid tampak tak bisa menghentikan laju larinya. Di tangannya terdapat bertumpuk-tumpuk buku.

Belum sempat menghindar, anak itupun akhirnya menabrak Naruto. Menyebabkan mereka berdua ditindih oleh buku-buku. Anak itu bangkit dengan cepat. Menunduk-nunduk meminta maaf. Kacamatanya tampak miring di wajahnya.

Meskipun sedikit kesal, Naruto kasihan juga. Membawa buku sebanyak ini jelas bukan hal yang mudah. Dia pun membantu murid itu membereskan buku-buku itu. Bahkan menawarkan bantuan untuk membawanya. Namun ditolak oleh murid itu. Tak bisa mengubah pendirian sang murid, Naruto hanya bisa menatap sosok murid itu yang berjalan terhuyung-huyung menjauh. Tak disadarinya senyuman yang tersungging di bibir murid itu.

Mengangkat bahu, dia meneruskan perjalanannya. Kejadian itu membuatnya lupa dengan bayangan hitam yang masih mengintip di belakangnya.

##########

Meneruskan perjalanan, Naruto sampai di dekat air mancur sekolah. Dia melihat-lihat desain dari potongan rumput di tempat itu. Bagus memang, tapi aneh.

Ada yang berbentuk Putri Duyung, Cinderella, Snow White, dan lain-lain. Satu hal yang sangat mencolok adalah bahwa semuanya itu wanita. Naruto teringat kepala sekolah. Teringat pertemuan pertamanya dengan beliau. Mendadak dia mengerti dan tertawa kecil. "Dasar mesum!"

Samar-samar, dia mendengar suara tangisan seseorang. Tak urung bulu romanya berdiri. Teringat bayangan yang tadi dilihatnya. "Masa iya ada hantu siang-siang begini?" Pikirnya takut-takut.

Memberanikan diri, dia mendekati asal suara. Rupanya, suara itu berasal dari balik semak-semak yang cukup tinggi. Merasa heran, pikiran negatif Naruto mulai berkembang. "Jangan-jangan ada bayi disini? Bagaimana kalau nanti aku disuruh tanggung jawab? Siapa yang jadi bapaknya? (?)" Pikirannya berlarian semakin tak jelas.

Tapi rasa penasaran mengalahkan pikiran bodohnya. Apalagi saat mendengar suara orang lain yang berbisik-bisik.

Perlahan, dia mulai menyibak semak itu. Matanya memicing mencoba mengenali siapa di sana. Belum sempat dia melihat dengan jelas teriakan keras membuatnya terjungkal ke belakang.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

##########

Iruka menatap murid-murid di depannya dengan kening berkerut. Dua orang murid di kelas itu tak terlihat. Gaara dan Naruto. Gaara sedang merawat neneknya yang terkena serangan jantung, Iruka turut prihatin tentang itu. Tapi Naruto? Baru saja tadi pagi dia melihat anak itu bersemangat berangkat ke sekolah. Sekarang anak itu sudah tidak ada di kelasnya. Memijat-mijat kepalanya yang terasa pening, Iruka mulai mengajar dengan malas.

##########

Naruto duduk bersimpuh dengan jari mengusap-usap telinganya yang berdenging karena mendengar jeritan yang beresonansi tinggi. Dua orang pelakunya tampak menatapnya penuh kecurigaan. Yang satunya bertolak pinggang kesal, sedangkan yang satunya masih menangis sesenggukan.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini?", Temari bertanya kesal. Sedikit malu karena sudah menjerit tadi.

Naruto menatapnya kesal. "Kau sendiri sedang apa di sini?"

Wanita itu melotot kesal. "Eh, ditanya malah balik nanya!"

"Tak ada larangan untuk pergi ke sini, kan?"

Temari mendecih, perhatiannya kini tertuju pada Hinata yang masih menangis. Naruto ikut memperhatikannya.

"Kenapa dia?", tanya Naruto. Temari melirik tajam, "Bukan urusanmu!"

Mengangkat bahu, Naruto pun bangkit dan membersihkan celananya. "Baiklah kalau begitu. Silakan lanjutkan kegiatan kalian." Dengan santai, dia pun berlalu. Temari mendelik kesal pada Naruto.

##########

Temari terus berusaha menenangkan Hinata. Bukan tanpa sebab mereka berada di situ. Kalau bukan karena anting-anting Hinata hilang, tentu saja mereka tidak akan sibuk mecari-cari ke dalam semak-semak seperti ini. Sakura sendiri malah menghilang.

Temari sudah berkali-kali membujuk Hinata untuk kembali ke kelas. Toh Hinata bisa mendapat anting-anting yang lebih bagus lagi nanti. Tapi Hinata tetap berkeras. Anak itu memang pendiam, tapi bisa sangat keras kepala juga.

Sudah lama mereka berkutat di sini, tapi tidak menemukan apa-apa. Maklum saja, mencari anting-anting yang kecil seperti itu jelas tidak mudah. Merasa sia-sia jika cuma berdiam diri, mereka melanjutkan mencari lagi.

15 menit berlalu…

30 menit berlalu…

Satu jam berlalu…

Temari menyerah. Dia lelah membungkuk mencari-cari. Dia menghempaskan diri di rumput. Hinata menangis semakin putus asa. Wajahnya tampak sembab. Matanya membentuk bola besar.

Temari masih berusaha menenangkan Hinata saat sebuah tangan terulur padanya. Dia menatap sang empunya tangan. "Mau apa lagi kau?", tanyanya sarkastis.

Naruto menghela nafas menghadapi respon Temari.

"Ini. Ini yang kau cari, kan?", katanya menyodorkan tangannya lagi.

Temari melihat apa yang berada di genggaman Naruto. Matanya membulat terkejut. Anting-anting Hinata! Dengan malu-malu, dia mengambil anting itu. Memberikannya pada Hinata. Dia merasa sangat bersalah pada Naruto. Dia sudah bersikap jahat, tapi Naruto justru membantunya.

Naruto tersenyum melihat Hinata mulai tenang. Dia bangkit. "Lain kali, berhati-hatilah! Itu hadiah yang berharga, kan?"

Hinata mendongak menatap Naruto tak percaya. Naruto tersenyum dan beranjak pergi. Tangannya melambai tanpa menoleh.

Temari dan Hinata menatap sosok Naruto yang menjauh dengan penuh kekaguman.

##########

Ketika waktu istirahat, Kiba termenung sendiri kantin. Dia merasa kesepian. Dua orang temannya hari ini tak masuk. Tak memiliki nafsu makan, dia hanya mengaduk-aduk mangkuk bakso di hadapannya.

"Dooooooooor!"

Suara keras itu membuat Kiba menumpahkan separuh isi mangkuknya. Murid-murid lain juga banyak yang tersedak karena suara keras itu. Menatap penuh benci pada si pelaku, si pelaku a.k.a Naruto hanya terkekeh-kekeh geli. Mendelik kesal, Kiba mengacak-acak rambut Naruto. "Kemana saja kau, anak nakal? Kau bolos, ya?"

Naruto hanya tertawa. Dia tidak berniat menceritakan hal yang terjadi. Dia justru merasa heran dengan ketidakhadiran Gaara. Dari cerita Kiba, dia akhirnya tahu bahwa nenek Gaara sedang sakit. Naruto pun berencana untuk mengunjungi Gaara sepulang sekolah bersama Kiba.

Mereka berdua terlalu asyik berbicara sampai-sampai tak menyadari tatapan buas dari Sakura di ujung kantin itu. Dia tersenyum-senyum membaca SMS yang masuk di handphone-nya. Dia melirik Temari yang tampak makan dengan santai dan Hinata yang masih sembab. "Kemana saja kalian tadi?"

"Kami? Harusnya aku yang bertanya padamu, kemana saja kau tadi? Kau yang mengajak membolos pelajaran olahraga. Tapi kau justru menghilang.", Temari menatap kesal pada Sakura.

"Tapi kalian tidak kembali ke kelas, kan?"

"Tentu saja tidak. Kami mencarimu tahu!"

Sakura tersenyum manis. "Baguslah kalau begitu. Sudah, kalian makanlah yang banyak. Aku yang traktir. Aku sedang senang hari ini."

Temari menatap penuh curiga. Dia tahu Sakura sedang berbuat sesuatu, dan dia punya perasaan buruk tentang itu.

##########

Pelajaran kembali berlangsung. Naruto menatap kosong ke arah luar jendela kelas. Hampa. Dia mengingat ekspresi Hinata saat menerima anting. 'Betapa hal kecil seperti itu bisa membuat orang bahagia, ya?'

"NARUTO!", suara Guy-sensei, guru matematikanya, membuat Naruto terlonjak. Di samping bangkunya, guru itu sudah berdiri berkacak pinggang. "Melamun saja! Kerjakan soal di papan tulis itu!"

Dengan langkah gontai, Naruto pun maju. Dia menatap soal di hadapannya dengan bingung. Menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, dia mencoba menoleh pada Kiba. Sayang sekali Gaara tak masuk hari ini, karena matematika bukanlah keahlian Kiba.

Merasa frustasi, Naruto menatap Guy-sensei sambil meringis.

"Ne, Sensei. Apa kau tak punya soal yang lain? Yang ini sepertinya terlalu banyak angka yang aneh."

Seluruh murid kelas itu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Naruto. Guy-sensei melotot kesal. Baru saja hendak memarahi Naruto, interkom sekolah berbunyi.

"Seluruh murid, diharap berkumpul di aula sekarang juga. Terima kasih."

Walaupun bingung, Guy-sensei pun mengizinkan seluruh muridnya itu berkumpul di aula. Dia sendiri segera menemui Iruka. Merasa penasaran dengan kejadian aneh ini.

##########

"Perhatian murid-muridku." Suara kepala sekolah itu menghentikan bisikan-bisikan ingin tahu dari penjuru ruangan. Kepala sekolah itu kini sudah berdiri di podium. Dengan kemeja warna mencolok yang dilipat lengannya, membuat beberapa murid terkikik meliharnya. Namun aura tegang mengambang di penjuru ruangan. Murid-murid dan juga para guru sama-sama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di samping kepala sekolah, tampak berdiri Kurenai-sensei yang berusaha menenangkan Sakura yang sedang menangis.

"Baiklah. Sebetulnya, terjadi hal yang sangat memalukan di dalam sekolah ini. Kalung emas milik Sakura-chan dicuri. Saya harap pelakunya mau mengaku, sehingga urusan ini tak perlu diperpanjang."

Mendengar ucapan Jiraiya-sama itu, seluruh murid semakin berbisik-bisik keras. Sementara para guru selain terkejut, juga sedikit jengah mendengar panggilan sang kepala sekolah bagi Sakura itu.

Tapi tak ada seorang pun yang maju. Merasa kesal, Kepsek nyentrik itu pun memutuskan. "Baiklah, kalau begitu akan diadakan pemeriksaan. Seluruh murid di aula ini akan diperiksa satu-satu. Sementara tas-tas kalian akan diperiksa oleh guru yang berbeda. Silakan para guru mulai bekerja. Terima kasih."

Kesibukan pun terjadi di seluruh penjuru sekolah. Dengan teliti, guru-guru pun memeriksa seluruh murid. Naruto dan Kiba juga ikut diperiksa. Mereka berdua juga penasaran, siapakah yang sebenarnya mencuri kalung Sakura?

Menunggu selama sejam, akhirnya guru-guru datang menggenggam kalung Sakura. Terlihat guru-guru berbisik-bisik, Iruka dan Sasuke tampak sedikit marah dan bingung. Kepala sekolah kembali menuju podium aula, "Akhirnya kalung Sakura-chan sudah ditemukan. Silakan kalian kembali ke kelas kalian. Kecuali Naruto Uzumaki."

Ucapan itu bagaikan petir di telinga Naruto. Wajahnya terkejut. Dia tak melakukan apapun, kenapa dia dipanggil? Beberapa murid tak beranjak dari tempatnya, mereka juga terkejut. Terutama Kiba tentunya.

Dengan langkah pasrah, Naruto menuju ke para guru. Dia menatap Iruka dengan sorot bingung, yang dijawab Iruka dengan gelengan kepala tak mengerti.

Naruto mendengarkan dalam diam semua ucapan para guru. Rupanya, kalung itu ditemukan di dalam tas Naruto. Berbagai pertanyaan dilontarkan bebarengan oleh para guru. Naruto hanya diam, setelah guru-guru diam, baru dia berkata pelan, "Seandainya saya menyanggah hal itu, apakah kalian akan percaya?"

Guru-guru tercenung. Benar, dalam keadaan seperti ini, sekalipun Naruto tak bersalah, tak ada bukti yang mendukungnya. Naruto tersenyum tipis. "Sudahlah, saya rasa ini memang yang terbaik. Saya ingin berbicara empat mata dengan anda, kepala sekolah, boleh?"

Kepala sekolah mengangguk paham. Naruto pun menuju ke ruang kepala sekolah. Iruka menatap Naruto sedih, dia berbisik pada Sasuke. "Sebenarnya apa yang terjadi?"

Sasuke tidak menjawabnya, tatapannya tertuju pada Sakura yang tampak puas. Puas yang terlalu berlebihan. "Tenang saja, Iruka. Aku akan mengatasinya."

Iruka menatap kaget pada Sasuke. Sasuke tersenyum sinis. Sebuah rencana, menari-nari di otaknya.

##########

Kiba, Sai, dan Kyuubi saling berpandangan bingung. Mereka yakin Naruto bukan pelakunya. Tapi bagaimnan membuktikannya? Apalagi berdasarkan perkataan Kiba, Naruto sempat membolos. Mereka mendesah bingung.

Sebuah tepukan membuat mereka terkejut. Temari dan Hinata berdiri di belakang mereka. "Ada apa?", Sai bertanya dingin.

Temari bertanya pelan, "Apa itu benar?"

Tak ada menjawab mereka juga bingung. "A-aku ti-ti-tidak percaya kalau Naruto p-pelakunya.", Hinata berkata dengan wajah sedih.

Mereka semua mendesah. Mereka sama-sama tak percaya jika Naruto pelakunya. Tapi….

"Kenapa kalian berwajah suram begini?"

Mereka terkejut melihat Naruto tampak cengar-cengir di hadapan mereka.

"NARUTO!"

Naruto menutup telinganya. Teriakan kelima orang itu jelas membuat telinganya berdenging. Dia hendak bercanda lagi, tapi urung melihat wajah prihatin teman-temannya. Dia akhirnya tersenyum tenang, menampilkan wajah gagah yang membuat teman-temannya terpana.

"Tak ada yang perlu kalian khawatirkan. Semua aman terkendali. Aku bahkan bisa sekolah seperti biasa. Aku justru takut kalau kalian tidak akan mempercayaiku."

"Tenatu saja kami percaya padamu, anak bodoh.", Kyuubi menepuk pundak Naruto. Yang lainnya mengangguk setuju. Melihat wajah Naruto, mereka yakin Naruto tak bersalah.

Wajah Naruto tampak memerah. "Terima kasih. Kalian baik sekali. Aku senang sekali." Dia langsung memeluk seluruh temanya itu. Membuat mereka tercekik saking eratnya.

"NARUTO!", mereka lagi-lagi berteriak keras. Lalu tertawa terbahak-bahak bersama.

##########

Sakura menatap murid di depannya dengan puas. "Bagus, kau sudah melakukan tugas dengan baik." Murid di depannya tersenyum senang menerima amplop yang disodorkan Sakura.

Bisnis di antara mereka sudah selesai. Namun tanpa mereka sadari, kasus ini belum selesai. Atau bagi seseorang, kasus ini belum selesai.

Sosok yang bersembunyi itu tersenyum puas.

##########

Jiraiya mengumpulkan seluruh guru di ruangannya. Sepeninggal Naruto, dia tampak berpikir keras. Seluruh guru masih terlihat tidak percaya. Karena rasanya kasus ini begitu janggal.

"Ehm, Maaf Jiraiya-sama. Jadi, apa hukuman Naruto?", Iruka tak berhasil menahan rasa ingin tahunya.

Jiraiya menghela nafas, "Aku hendak memberinya skors. Tapi, tadi dia malah mengajukan permintaan untuk pindah sekolah."

Semua guru terlihat terkejut. Iruka tampak pucat. "Pindah kemana maksud anda?"

"Dia tidak menyebutkan. Besok dia baru akan memutuskannya."

Guru-guru tampak saling berpandangan resah. Naruto memang baru beberapa hari bersekolah di situ, tapi sifatnya yang ramai itu sudah membuatnya terkenal. Peristiwa ini merupakan pukulan besar. Karena setahu mereka, sekalipun berisik, Naruto jarang mencari masalah.

"Saya harap anda tidak mengabulkan keinginannya itu, Jiraiya-sama.", suara baritone itu membuat mereka terkejut. Sasuke maju mendekati Jiraiya. "Saya lah saksi bahwa Naruto tidak mencuri. Bahkan seharian ini dia tidak bertatap muka dengan Sakura."

Semua guru menutup rapat mulut mereka. Seakan takut kehilangan satu saja kata dari kedua pihak yang saling bercakap-cakap.

"Kami pun tahu kalau Naruto tak mungkin melakukan hal itu. Tapi kau tahu sendiri, kan? Semuanya menunjukkan bahwa Naruto lah pelakunya."

"Bagaimana kalau besok saya membawa buktinya? Apa anda akan percaya?". Sasuke terlihat sangat meyakinkan.

Tak tahu harus membantah seperti apa, Jiraiya pun menyetujuinya. "Tentu. Pukul 9 pagi besok."

"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi." Dengan tenang Sasuke berbalik meninggalkan ruangan itu. Ruangan guru itu berangsur-angsur riuh kembali.

##########

Naruto menghempaskan pantatnya pada bangku taman yang lengang. Panas terik membuatnya basah kuyub oleh keringat. Lagi-lagi, dia membolos. Setelah beralasan ingin menenangkan diri di UKS pada teman-temannya, langkah kakinya justru membawanya keluar jauh dari kawasan sekolah. Menuju taman kecil di dekat rumahnya – atau rumah Sasuke.

Semakin panas, dia pun menuju ke tempat yang lebih rindang. Bersembunyi di balik semak-semak. Merasa lebih sejuk, dia mulai bisa berpikir jernih.

'Aku akan menghubungi Dei-chan saja. Lebih baik aku menjauh dari tempat ini. Mungkin aku memang tak cocok di sini.'

Merasa nyaman, rasa kantuk mulai memeluk Naruto. Membawanya tertidur dalam keheningan taman itu.

Senja semakin temaram. Warna jingga menyemburat di langit. Sesosok tubuh tampak berdiri diam di hadapan Naruto yang tertidur. Perlahan, dia merendahkan badannya. Mengusap lembut wajah Naruto yang terlelap. Membuat Naruto sedikit bergerak gelisah.

Sasuke tersenyum lembut. Betapa dia merindukan pemuda pirang ini. Merindukan keributan yang dia timbulkan, dan rasa hangat saat berada dekat dengannya.

Dengan perlahan, dia mengangkat tubuh Naruto. Merasa kasihan pada posisi tidurnya. Tanpa sadar, Naruto mendekat pada pelukan Sasuke. Sasuke sedikit terpana, lalu kembali tersenyum penuh sayang. Dia menuju bangku taman, duduk dengan Naruto dalam dekapan. Sementara yang dipeluk, semakin lelap dalam tidur. Tampaknya Naruto bermimpi indah, senyuman tersungging di bibirnya.

Sasuke mengelus-elus rambut pirang Naruto. Merasakan halusnya rambut sang pemilik hatinya. Ya, Sasuke sudah menyadari perasaannya. Dia kini sadar, bahwa dia sudah jatuh cinta pada Naruto. Dia sudah terpikat pada pesona magis seorang Naruto. Karena itulah dia tidak akan melepaskan Naruto. Tak akan pernah lagi. Dia mendekap Naruto semakin erat.

Senja ini, terasa begitu sempurna bagi Sasuke. Dengan Naruto dalam pelukannya, semua terasa pas. Rasanya dia sudah tak memerlukan hal lain. Dia benar-benar merasa bahagia.

"Dobe-ku.", bisiknya lirih dalam temaram jingga.

^)TBC(^

Nah, jelekkan? Saya tahu itu. Tapi otak saya sudah kosong. Doakan saja chapter selanjutnya bisa cepat, karena saya sedikit deg-degan dengan pengumuman kelulusan. Doakan saya juga deh kalau begitu..hehe.

Oh, ya! Saya kebingungan menentukan tokoh jahat lagi. Ada saran?

Sekian cuap-cuapnya.

Anda mau tanya?

Boleh saja.

Mau request?

Silakan.

Mau protes?

No problem.

Yang penting kalian review!^^