Pairing: Sasuke x Naruto / Neji x Gaara / ShinoKiba / many others
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei.
Warnings: AU, shonen-ai, yaoi pake OOCness, bad words, di chapter ini ada OC. Don't like don't read. Pindah channel ajah yang pembenci ini! Once more, Flamers be gone. Clear enough? Good.
Summary: Naruto adalah seorang pewaris utama keluarga yang berada. Bersama dengan Neji dan Gaara, sahabatnya, Naruto menjalani kehidupan sekolah yang menurutnya membosankan. Sampai suatu hari, datanglah seorang guru yang mengubah hidupnya.
A/N: Gomen lama diupdate! Naruto di sini 17 tahun, Sasuke 23 tahun, Iruka 30 tahun. Sasuke perokok berat.
---garisgarisgarisgaris---
No Smoking, Sensei!
(c) Kionkitchee
Chapter 6
Konoha Theme Park Panic
---garisgarisgarisgaris---
Hari Minggu pun tiba. Dengan sinar matahari yang cerah dan hangat, anak-anak bermain dengan riangnya di suatu tempat bernama Taman Ria Konoha. Sebuah tempat permainan paling besar dan luas yang memiliki daftar pengunjung paling banyak--apalagi saat liburan. Namun, tidak hanya anak-anak yang bersenang-senang di dalamnya, orang dewasa pun demikian. Seperti pasangan Jiraiya-Tsunade, pemilik rumah sakit dan onsen yang terletak di Suna. Jauh-jauh mereka datang ke Konoha hanya untuk menikmati suasana taman bermain yang menyenangkan itu. Mereka tak mempedulikan umur mereka yang sudah memasuki tahun ke 50--faktanya mereka memang tetap gagah dan cantik--mereka hanya ingin menenangkan diri menikmati Bianglala.
Demikian juga dengan pasangan--atau kita sebut saja calon pasangan--yang sedang berkutat dengan pemilihan permainan yang akan mereka naiki pertama kali ini. Dua anak muda yang tampan dan unik.
"Aku bilang naik Jet Coaster dulu!" seru pemuda berambut coklat berantakan yang memiliki tanda segitiga merah terbalik pada kedua pipinya. Inuzuka Kiba.
"Ghost House. Titik." Pemuda berambut hitam yang mengenakan topi kupluk--yang juga berwarna hitam--tak mau mengalah. Aburame Shino.
"Shino jelek! Pokoknya Jet Coaster!" Kiba berseru lagi.
"Ghost House." Shino tetap tenang menghadapi seruan Kiba.
"Ghost House-nya nanti aja terakhir! Masa' baru datang udah langsung ke rumah hantu sih? Nggak seru, tahu!" kesal Kiba, kali ini melipat tangan di depan dadanya sambil membuang muka layaknya anak kecil yang merajuk.
Ekspresi itu justru membuat Shino semakin ingin membawanya masuk ke rumah hantu dan melakukan 'ini-itu' padanya. Pemuda berkacamata hitam ini memang punya niatan lain terhadap Kiba. Memang ingin bersenang-senang, juga ingin menyampaikan sesuatu kepada sang sahabat--lebih tepatnya calon kekasih. Percaya diri dan yakin? Tentu saja Shino seperti itu!
"Permainan menyenangkan dan memacu adrenalin itu seharusnya dimainkan duluan! Rumah hantu sama sekali nggak menarik minatku!" ketus Kiba.
Seringai kecil bermain di bibir Shino, "Kiba, kau takut?" sindirnya. Dan seringai itu semakin lebar ketika matanya mendapati sang pecinta anjing itu terkesiap.
"Si-siapa yang takut?! M-memangnya aku Akamaru apa?!" sangkal Kiba. 'Gomen, Akamaru! Terpaksa majikanmu ini menggunakan dirimu sebagai alasan supaya nggak masuk rumah hantu!' batinnya. Ternyata, oh, ternyata, Kiba memang takut. Tak dipungkiri, pemuda itu memang punya pengalaman buruk sewaktu kecil--berkaitan dengan rumah hantu tentunya.
Pemuda pecinta serangga yang mengajak Kiba 'kencan' itu semakin memperlebar seringainya, bahkan menahan tawa. "Ah, kenapa aku jadi ingat sewaktu kau terkurung di kelas dulu ya?" herannya dengan nada menggoda.
Kali ini Kiba terperanjat. Agaknya ketakutan itu terbaca oleh Shino. Well, teman sepermainan dari lahir tentunya mengetahui tentang dirinya--meskipun berbeda niatan.
"K-kau jangan mengungkit hal yang dulu!" protes Kiba dengan menutupi kegugupannya. "Pokoknya Jet Coaster! Kalau nggak, mendingan pulang!" serunya lagi sebelum berbalik. Ia lalu berjalan dengan kasar ke arah permainan yang diinginkannya, meninggalkan Shino yang kini menghela napas.
Calon pacar yang sulit...
Shino pun berjalan dengan tenang mengikuti Kiba.
Yah, hal itu bisa menunggu. Jika sudah tiba saatnya, kau pasti menjadi milikku.
---garisgarisgarisgaris---
"Nii-tan, naik yang itu!"
"OK!"
Kenapa aku ada di sini? Seharusnya aku menikmati kopi dan membaca buku dengan tenang sambil mendengar instrumen klasik di kamarku!
Itulah batin sang guru bahasa Inggris yang sedang berjalan di belakang bocah dan 'bocah' yang seperti sepasang monyet kembar itu. Kenapa Ia berada di sini sekarang? Pertanyaan bagus. Siapa sangka jawabannya akan seperti kejadian sehari sebelum hari H.
_Flashback_
"Ji-tan, bagusnya Chila pake baju apa pas maen?" tanya Chira saat Sabtu siang.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Siapa bilang kita akan pergi?"
Mata oniks Chira membulat, "enggak jadi pelgi? Kenapa enggak jadi?! Chila mau main!" protesnya.
"No way. I won't allow that." Memang Sasuke sangat cuek pada bocah itu. Tapi, yang belum diketahuinya adalah bahwa sang keponakan memiliki cara lain untuk membuatnya setuju pergi.
"Padahal Nalu-nii-tan pengen banget main... Masa' enggak jadi ci..." lesu Chira.
"Ha? Bukannya yang mau main itu kau? Jangan menimpalkan kesalahan pada orang lain, Bocah," ucap Sasuke dingin.
Chira menatap sang paman lalu berkata, "Nalu-nii-tan celita kalo dia mau ngenang maca kecilnya dulu... pasti cedih kalo enggak jadi..."
Strategi 1--Jadikan Naruto sebagai alasan.
Dan benar. Kalimat itu membekas dalam pikiran Sasuke. Dalam diam, guru muda itu berkutat keras dengan otaknya yang terlampau jenius. Rasanya tidak mungkin 'bocah' itu bercerita tentang masa kecilnya, terlebih pada bocah yang baru ditemuinya sekali. Pada pengasuhnya saja sang Namikaze jarang bercerita, apalagi pada seorang anak kecil! Kesimpulannya, itu mustahil!
Sasuke mendengus, "Apa ayahmu mengajarkanmu untuk menjadi seorang pembohong, Bocah? Kalau benar, biar kupotong lidahnya!" ketusnya. Tak terduga, jawaban yang diterimanya adalah anggukan polos. "He did?!" herannya tak percaya. Chira mengangguk lagi.
"Papa bilang kalo lagi dalulat bole bo'ong. Papa juga celing kok bo'ong ma mama. Apalagi kalo tentang macakan mama, enggak pellu ancang-ancang juga bo'ongnya papa bagus banget! Kayak plopecional!" jelas bocah berambut pirang shaggy itu dengan begitu semangatnya--membuat Sasuke terbengang-bengong mendengarnya.
Kuso aniki! Beraninya dia ngajarin anaknya sendiri bohong! Kasihan Dei-Nee, 'kan!
Tapi... kalau mengenai masakan Nee sih... yah, mau nggak mau harus bohong. Habisnya, Nee seram kalau lagi marah... Heeh, jadi ingat sama Sasori...
"Ji-tan, jadi pelgi yaaaa~?" rayu Chira dengan mata oniks yang berkaca-kaca, berharap sang paman luluh karenanya.
Memandang dengan sinis pada sang keponakan, akhirnya Sasuke kembali berkutat dengan buku yang sempat ditinggalkannya.
"No."
Sedikit banyak, Chira sudah menduga jawaban itu. Karenanya, Ia pun segera melaksanakan siasat kedua.
"Ji-tan, katanya di taman belmain Konoha bakal ada palade ninja loh! Naluto-nii-tan kan cuka ma ninja, jadi ini kecempatan Nii-tan buat ngeliat!" seru Chira.
Strategi 2--Jadikan kesukaan Naruto sebagai pancingan.
Lagi, fokus Sasuke beralih pada Chira. Pria muda itu menatap warna oniks yang sama dengannya seolah mencari kebohongan di dalamnya. Sayang, Ia tak kunjung menemukannya.
"Kali ini Chila enggak bo'ong loh! Nii-tan benelan celita ma Chila pas bolos!" seru bocah itu.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Lalu, apa urusannya denganku? Kalau dia ingin melihat parade ninja, lihat saja sendiri," ketusnya--kembali fokus pada buku One Night Looking At The Sky favoritnya.
"Cendilian enggak enak, Ji-tan!" kesal Chira tiba-tiba. "Cendilian itu lasanya cedih... enggak ada olang yang bica diajak belbagi..." lirihnya kemudian. Kali itu, mata malamnya sungguh terlihat mendung seakan hujan dapat turun kapan saja... membuat Sasuke menatapnya lekat.
Ya, Sasuke paham. Sendirian itu menyedihkan. Rasanya bagai tercabik sabit dalam keheningan. Tak ada seorang pun yang dapat menolong atau pun dimintai tolong. Sama dengan kondisi yang dialami mereka. Ia yang terasing dari keluarganya; Chira yang kerap ditinggal kedua orang tuanya yang selalu bepergian, dan; Naruto yang berada dalam lingkungan yang sebenarnya tak diharapkannya.
Ah, Naruto. Terkadang Sasuke tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap pemuda itu. Rahasia yang Ia miliki membuat gerakannya terbatas. Rahasia yang berhubungan dengan seorang guru bahasa Inggris yang dipujanya; seorang nona yang 'dibuang' oleh 'keluarga'nya karena mencintai seorang pengusaha ternama.
"Ji-tan," Chira kembali menarik perhatian pamannya, "jadi yaaa?" rayunya lagi--kali ini bersungguh-sungguh.
"Tidak. Aku tak suka keramaian," tolak Sasuke--kembali pada bacaannya.
Agaknya kemarahan mulai merasuki bocah Uchiha yang kerap 'ditolak' itu. Dengan segera Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Sasuke. Chira pun mengambil buku yang sedang dibaca sang paman, kemudian membuangnya ke lantai di belakang sofa.
"What the h--" protes Sasuke terhenti ketika mendapati kilat kemarahan mengarah padanya. Tak urung, pria muda itu mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Sasuke-Ji-san," panggil Chira dingin, "akan ku katakan pada Naruto-Nii-chan bahwa kau menyukainya."
Strategi 3--err... sepertinya bukan strategi, tapi ancaman. Dan ancaman itulah yang akhirnya membuat Sasuke (terpaksa) mengalah.
_End of Flashback_
Maka di sinilah Ia, Uchiha Sasuke, seorang Strict English Teacher, 'bermain' dengan duo 'monyet' yang terlampau semangat di Taman Bermain Konoha... tepatnya dalam antrian panjang permainan Boom-Boom Car.
"Chila jadi deg-degan nih!" seru bocah yang kini mengenakan kaos oranye yang dibaluti terusan celana kodok (overall) bermotif garis-garis biru-merah.
"Nii juga begitu!" sahut Naruto yang mengenakan kemeja kotak-kotak--juga berwarna oranye--dengan kaos di dalamnya berwarna hitam, serta jeans biru yang senada dengan warna matanya. "Sensei juga begitu, 'kan?" tanyanya pada Sasuke.
Guru muda yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans hitam itu berdecak kesal. "Jangan samakan aku dengan kalian, Dobe!" ketusnya. Satu tangannya merogoh sesuatu dalam sakunya lalu mengambil satu batang rokok dari bungkusan yang dimilikinya. Namun, belum sempat Ia menaikkan tangan yang berada di kantongnya, satu tangan lain menahannya.
"No smoking, Sensei," ujar Naruto sambil tersenyum lembut.
Agaknya Sasuke terkejut mendapati senyuman itu dari sang Namikaze. Terlebih lagi, senyum itu mengarah lurus padanya. Sungguh, Ia tak tahu apa gerangan yang terjadi pada pemuda itu.
"Hari ini 'kan kita mau bersenang-senang, jadi, rokoknya ditunda dulu ya?" ujar Naruto lagi. Bukan karena Ia telah menyetujui guru itu merokok, melainkan semata karena Chira ada bersama mereka. Ia tak ingin anak itu menjadi perokok pasif yang jauh lebih berbahaya akibatnya. Well, sepertinya Ia tak berpikir bahwa bocah itu tinggal dengan sang guru untuk sementara.
"Nii-tan!" Chira berseru tiba-tiba, "giliran kita nih!" infonya dengan semangat--tetap, menarik-narik lengan kemeja Naruto.
Pemuda berambut pirang itu mengangguk, "Ayo, Chira-chan! Ambil mobilmu!" serunya. Mata birunya menatap bocah itu yang sudah berlari menuju mobil nomor 7.
"Monkey..." gumam Sasuke, "I won't ever take him as my--hei! Apa yan--" gerutu Sasuke terpotong oleh perlakuan Naruto yang tiba-tiba.
"Ayo! Sensei juga!" ajak Naruto riang sembari mengamit jemari gurunya--membuat sang Uchiha terpana.
"Oi, Dob-" Lagi, protesnya terpotong oleh Naruto yang mendudukkannya di mobil nomor 10. "What the..." Mata oniksnya melihat pemuda itu berlari ke mobil nomor 2, lalu duduk di dalamnya.
"Let's get all rambo!" seru Naruto dari tempatnya.
Tak lama, tanda permainan mulai pun berbunyi. Mobil-mobil yang telah dinaiki oleh para pemain pun mulai melaju dalam satu lingkaran balapan. Ada yang melaju dengan pelan, berhati-hati agar selamat; dengan biasa, menikmati pemandangan yamg ada; dengan sangat kencang, tak peduli dengan apa pun; dan dengan ugal-ugalan, tabrak sana-sini.
Demikian pula dengan Chira dan Naruto. Mereka malah bermain dengan saling tabrak mobil mereka. Setelah benar menabrak lalu berhenti, mereka pun tertawa bersama.
"Nii-tan! Jangan tablak Chila melulu dong!" seru Chira di sela tawanya.
Naruto menyengir kuda, "Chira-chan juga dong!" balasnya yang juga tertawa.
Pemandangan langka yang seharusnya wajar. Itulah yang ada dalam pikiran Sasuke. Ia tak mengira bahwa hari ini Ia dapat melihat pewaris Namikaze itu tertawa riang yang sebenarnya. Tawa yang tak pernah Ia lihat selama di sekolah. Mungkin Ia memang baru pindah untuk mengajar di sana, tapi sebelumnya Ia memiliki seorang informan untuk mengawasi Naruto. Maka dari itu, Ia mengetahui gerak-geriknya. Dan rasanya tak pernah Ia mendapatkan informasi 'tertawa' seperti itu.
"Sensei, jangan bengong!" seruan Naruto membuyarkan lamunan Sasuke. "Nanti tertabra--" belum sempat kalimat itu selesai, mobil nomor 2nya telah menabrak mobil nomor 10 Sasuke, "--sudah tertabrak deh~"
Sasuke mendecak lagi, "Jangan main tabrak seperti itu, Dobe!" Ia menyetir mobil itu mundur, lalu segera menabrakkannya ke mobil Naruto. "Gotcha," seringainya.
Kali itu, Naruto yang sedikit terkejut. Namun, dengan cepat pulih lalu kembali menabrak mobil gurunya. "I won't lose, Teacher~" cengirnya--yang segera hilang karena ditabrak mobil lain.
"Chila mau ikutan!" ternyata yang menabrak Naruto adalah bocah Uchiha itu. Dengan cengiran lebar di bibirnya, bocah itu kembali menabrak ujung mobil 'kakak' dan pamannya.
"Chira-chan!" panggil Naruto, "kau boleh juga..." ucapnya tenang dengan seringai seraya mengambil ancang-ancang untuk kembali menabrak.
Insiden tabrak-menabrak itu terus berlangsung hingga waktu bermain telah habis. Mereka pun turun dari mobil yang mereka tumpangi lalu berjalan keluar arena.
"Menyenangkan sekali ya!" riang Naruto sambil meregangkan otot-ototnya.
"Iyah! Chila jadi pengen naik lagi!" sahut Chira--juga dengan riang. "'Cuke-Ji-tan juga, 'kan?" tanyanya pada sang paman.
Sasuke hanya mendengus, namun, tak urung Ia pun merasa senang. Bukan karena permainan tersebut, tapi karena ekspresi yang Ia dapatkan dari sang Namikaze. Ekspresi ceria yang dirindukannya.
"Lebih baik kita naik yang lainnya juga, Chira-chan. Setelah itu, kalau mau naik yang tadi lagi, Nii temani kok," saran Naruto.
"Haa~i!" Chira menjawab dengan mengangkat satu tangannya ke atas. "Sekalang mau naik apa?" tanyanya kemudian.
"Istirahat," Sasuke lah yang menjawab pertanyaan itu. Tangannya langsung mengambil rokok yang sudah sejak tadi dimainkan lalu dinyalakannya. "Kalau mau lanjut lagi, main saja berdua." Ia pun pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Ah, Ji-tan enggak selu!" protes keponakannya sambil menggembungkan pipi.
"Apa rokok sepenting itu, Sensei?" tanya Naruto pada sang guru yang Ia tahu masih dapat mendengarnya.
Sasuke menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "You're too young to know it."
Naruto mendengus, "You're too old to keep it a secret then," balasnya.
"Such unpolite of you. I'm still 23!" Sasuke tidak terima dikatai tua.
"And I AM 17! It's enough to know your reason why!" Naruto tak mau kalah.
"It's not your bussiness!"
"Well, it is since you wanna smoke when we wanna have fun!"
"Kankenai, Dobe!"
"Aru ne, Teme!"
Mereka pun terdiam dengan napas--yang entah kenapa--menderu. Tak ada dari mereka yang mau mengalah, satu sama lain tetap mempertahankan argumennya. Yang satu tidak ingin alasannya diketahui, yang satu lagi bersikeras ingin mengetahuinya.
Yare-yare... stubborn fellows.
"Ano saa, Chila mau cepet main... Belantemnya nanti aja, ya?" suara bingung bocah Uchiha itu terdengar menghentikan argumentasi yang tak berguna.
"Go alone, Brat!" ketus Sasuke tanpa mengalih pandangannya dari Naruto.
"Sebentar lagi, Chira-chan, sabar ya?" Naruto berkata lebih lembut namun tanpa melihat bocah itu juga. "Sensei, matikan rokokmu!" Kelihatannya Naruto berubah pikiran dengan cepat.
Sasuke mendengus, "Tadi siapa yang bilang menunda, hah?! Sekarang berubah pikiran... Dasar plin-plan!" ketusnya lagi.
Dahi Naruto berkedut. Rupanya api kemarahan mulai berbunga di kepalanya. Pemuda itu pun segera mengambil rokok yang baru saja hendak dihisap oleh Sasuke melalui tangan kanannya. "No smoking, Sensei!"
Sang guru bahasa Inggris tercenung melihat rokoknya diambil sang murid. Namun, setelahnya Ia merebut kembali rokok itu dari Naruto.
"It's up to me, Dobe!" balas Sasuke.
"Don't call me 'dobe', Teme!" Naruto tak mau mengalah. Ia layangkan tangannya untuk meraih rokok yang kini berada di atas kepala Sasuke karena guru itu meninggikan tangannya. Ketika itulah keseimbangannya goyah hingga akhirnya Naruto menubruk Sasuke dan mereka terjatuh ke semak-semak.
Chira berjengit, "Nii-tan, Ji-tan, daijoubu ka??" cemasnya seraya berlari menghampiri mereka. "Kenapa jadi ja--... tuh..." Mata oniks anak itu membulat mendapati pemandangan yang terpampang di hadapannya.
Naruto terjatuh di atas tubuh Sasuke dengan kedua tangannya berada di kedua sisi kepala sang guru. Sementara, Sasuke terjatuh menopang tubuh Naruto dengan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang sang murid. Dan yang paling penting dan membuat cukup syok adalah fakta bahwa bibir mereka saling menempel.
Dengan kata lain kissing... accidently?
"Puah!" Buru-buru Naruto melepaskan bibir yang bersentuhan dengannya. Ia pun segera bangkit dari posisinya lalu membalik badan--menutupi wajahnya yang memerah hebat.
Sementara itu, Sasuke tetap terpaku di tempatnya. Pria muda itu berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi.
Ia dan pemuda itu... Ia dan pewaris Namikaze itu... Ah! Kecelakaan! Bukan keinginannya! Bukan keinginan mereka!
Tapi... apa benar begitu?
Dan beralih pada Chira yang juga masih tercengang--cengok lebih tepatnya. Pamannya dan 'kakak'nya... berciuman? Well, Ia belum--tidak mengenal kata 'kecelakaan', karena itu Ia menganggap hal itu sungguhan. Dan baru saja Ia mendapati hal itu?? Hal yang menurutnya sakral itu??
"Ji-tan... Ji-tan halus tanggung jawab cama Nii-tan..." ucap Chira pelan ketika mampu mengeluarkan suaranya.
"... Ha?" Sasuke dan Naruto heran secara bersamaan akan ucapan bocah itu.
"Ji-tan udah nyium Nii-tan, belalti Ji-tan halus nikah cama Nii-tan! Papa bilang gitu!" jelas Chira.
"H-HA!?"
Kali itu Sasuke dan Naruto tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Kenapa hanya karena ciuman yang tak sengaja mereka harus menikah? Ah, tidak. Tunggu dulu. Kenapa bocah itu berpikir demikian? Tadi Ia bilang 'Papa', masa iya ayahnya mengajarkan 'hal aneh' itu?
Sepertinya Sasuke menemukan alasan untuk segera mencincang sang kakak tercinta.
---garisgarisgarisgaris---
"HATSYII!"
"Ita-kun, kau baik-baik saja?"
"Hn... mungkin aku pilek..."
"HEE! OBAAAT!!"
"Tu--Dei-chan! ... Ah, sudah pergi..."
---garisgarisgarisgaris---
"Begini ya, Chira-chan, kalau hanya seperti ini, umumnya orang tidak menikah langsung..." ucap Naruto pada anak berambut sama dengannya.
"Tapi kata papa begitu! Nanti kalo enggak ada yang mau nikah ma Nii-tan setelah dicium Ji-tan gimana??" cemas Chira.
Naruto terkesiap, "Eeto... itu... sepertinya bukan prioritas pembicaraan ini..." bingungnya sembari menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Tiba-tiba Chira mendapat satu ide cemerlang--menurutnya. "Kalo gitu, Nii-tan nikah ma Chila ajah!" serunya.
"Eh?"
"Chila enggak kebelatan kok nikah ma Nii-tan yang udah dicium Ji-tan! Chila kan cuka ma Nii-tan!" seru bocah itu berseri-seri.
Mendengar itu, kedua lelaki yang terbengang-bengong di tempatnya benar-benar memutih. Yang satu mendapat kenyataan bahwa dirinya baru saja 'dilamar' oleh bocah berumur 5 tahun, yang satu lagi karena keponakannya sendiri adalah saingan(?) terberatnya dalam mendapatkan... Naruto?
Itachi, sebaiknya kau bersiap untuk mati dalam kenistaan!
---garisgarisgarisgaris---
"Uhuk! Uhuk!"
"Ita-kun! Kau kenapa lagi?!"
"... Keselek biji Semangka."
"AIIIRR!"
---garisgarisgarisgaris---
Naruto berusaha tersenyum menghadapi omongan anak kecil-yang-seharusnya-berbicara-sebagai-anak-kecil-tapi-ini-adalah-pengecualian. Tangan kecoklatannya menepuk pelan kepala kuning shaggy itu.
"Chira-chan, sesama lelaki tidak bisa menikah. Itu akan menjadi sangat... aneh--mungkin," tolaknya dengan halus.
Bocah itu mengerutkan dahi pertanda tidak mengerti. "Kenapa emangnya?"
Anak ini... terdengar seperti sudah dewasa tapi tetap saja bocah...
Pewaris Namikaze itu menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal. "Err... gimana ya menjelaskannya? Eeto..." sepertinya Naruto tak menemukan kata yang tepat untuk menguraikan benang yang perlahan kusut itu.
Menghela napas panjang, Sasuke pun bangkit dari ranjang semak-semak yang sempat menjadi tempat 'favorit'nya. Pria itu membersihkan dirinya dari dedaunan kering yang tadi menghiasi bajunya.
"Chira..."
Terkejutlah bocah pirang itu karena sang paman memanggilnya dengan nama asli--bukan panggilan 'brat', 'bocah', atau apa pun lagi yang pernah dilontarkan untuknya. Hal itu membuat Chira terdiam dan sedikit... takut?
"H-ha'i, Ji-tan?"
Guru Uchiha itu menepuk kepala sang Uchiha junior, "Jangan menanyakan hal yang membuat orang bingung. Nanti, ada saatnya kau tahu," ucapnya dengan nada biasa. "Apa kau mau Naruto bermain dengan keegoisanmu terus? Tidak, 'kan?"
Chira terpana mendengar ucapan pamannya. Baru sekali ini Sasuke berkata tanpa nada yang berkesan kesal padanya.
Demikian juga dengan Naruto. Baru kali itu Ia mendengar sang guru berkata dengan lembut--ya, bisa dibilang begitu--pada seseorang. Dan sepertinya bukan hanya itu... Ia pun baru kali ini melihat ekspresi teduh yang menghiasi wajah yang biasanya stoic itu. Rasanya damai namun... menyakitkan.
DEG!
A-apa ini? Ke-kenapa jantungku berdegup kencang??
"Apa jawabanmu?" pertanyaan Sasuke pada Chira kembali menyadarkan Naruto, namun malah semakin memperkuat degup jantungnya.
Berhentilah berdetak kencang seperti balapan, Jantungku!
"Ha'i... Gomenne..." jawab Chira menyesal. Sekali lagi kepalanya ditepuk pelan oleh Sasuke. Ia pun mendongakkan wajah dan mendapati bahwa pria muda itu tengah tersenyum padanya. Lengkungan yang sama pun kini membentuk di bibir Chira.
Dan Naruto, tidak tahan dengan jantungnya yang benar-benar beradu cepat, membalikkan badan dan berseru, "Gomen! Aku mau ke toilet sebentar!" lalu dengan cepat menghilang dari pandangan kedua Uchiha tersebut.
"Nii-tan kenapa?" bingung Chira.
"Huh, Dobe."
---garisgarisgarisgaris---
"Shino, belikan aku minum!"
Pemuda yang di'mintai' itu mengangkat sebelah alisnya, "Beli saja sendiri," tolaknya.
"Hari ini kau yang menraktirku, 'kan! Jadi, belikan aku minum sekarang! Aku haus!" perintah Kiba lagi.
Shino menatapnya datar dari balik kacamata hitamnya, "Kenapa tiba-tiba kau jadi seperti bocah begitu?" herannya.
"Seenaknya menyebutku 'bocah'!" protes Kiba tak terima. "Sudah! Cepat belikan atau aku pulang nih!" ancamnya sambil melipat dada.
Oh, Kiba, apa namanya itu kalau bukan bocah?
Pemuda berkacamata itu pun menghela napas.
Biarlah kuturuti permintaan egoisnya. Nanti juga dia akan takluk.
"Ya ya ya... Tunggu di sini, jangan kemana-mana," ucap Shino pada akhirnya.
Kiba nyengir kuda, "Jus Alpukat ya!" serunya kepada Shino yang perlahan melangkah pergi, "jangan lupa makanan ringannya juga!" tambahnya, tak peduli apakah sang pemuda merasa kerepotan atau tidak. Pemuda bertato segitiga terbalik itu pun berjalan menuju kursi taman, hendak menunggu dengan bersiul kecil sampai akhirnya mata coklatnya menangkap satu sosok yang membuatnya terpaku.
Satu...
Dua...
Tiga!
"A-are? Ke-kenapa orang itu ada di sini?? Bisa gawat aku kalau ketahuan lagi sama Shino!" serunya pada diri sendiri dengan suara tercekat di tenggorokan karena Ia melihat pewaris Namikaze di seberang area. Jemarinya mencengkeram pegangan kursi yang terbuat dari besi tersebut dengan sedikit gemetar.
Takut kah Ia? Yah, bisa dibilang begitu. Ia takut mengetahui bahwa kemungkinan 'topeng' aslinya terkuak sangat besar sementara orang tuanya mengharuskan Kiba untuk
menjaga image di hadapan sang Namikaze. Well, you know the answer already.
Ah! Di-dia melihatku! Dia melihatku! Gawat! Jangan kemari! Kami-Sama, semoga dia nggak kemari!
---garisgarisgarisgaris---
Aku... tidak salah lihat, 'kan? Dia itu anak sekelasku, 'kan?
Naruto menangkap satu sosok ketika sedang dalam perjalanan menuju toilet. Awalnya Ia ragu apakah Ia mengenalnya atau tidak, tapi setelah diperhatikan, ternyata memang pemuda dari kelasnya. Pemuda yang sering menyapanya dalam sosok seorang penjilat yang agak... bodoh--mungkin.
'Apa aku perlu menyapanya?' pikir Naruto. Setelah berkutat dengan pikirannya sebentar, Ia pun memutuskan untuk sekedar menyapa sebentar.
"Konnichiwa, Inuzuka-kun," sapa Naruto pada pemuda yang tampak terkejut itu. "Kau sendirian?"
"A-ah, nggak! La-lagi-eh-maksudnya sedang menunggu teman!" Kiba menjawab dengan bahasa sopan. "Na-Naruto-san sendirian?" tanyanya, berusaha melengkungkan seulas senyum meski agak kaku.
Kali ini Naruto yang terkesiap. Ia belum mempersiapkan jawaban atas pertanyaan itu. Apa iya Ia harus bilang bahwa Ia kemari bersama dengan guru pengganti itu?
Okeh, sepertinya Naruto lupa bahwa Chira juga ada.
"Bersama temanku juga," jawab Naruto pada akhirnya. "Ngomong-ngomong, temanmu mana?" tanyanya.
Kiba agak bingung dengan apa yang baru Ia dengar. "Sedang membeli minuman... anoo saa, Naruto-san... bahasa--"
"Oi, Kiba. Ini minumannya," tiba-tiba Shino muncul di antara Kiba dan Naruto.
"SHINO! Jangan ngagetin gue!" seru Kiba terkejut.
"Ya ya ya... Ini," ucap Shino datar sembari menyodorkan segelas jus Alpukat pesanan 'teman'nya. "Naruto juga mau?" tawarnya pada sang Namikaze yang masih tercengang.
"Ah, nggak, makasih," tolak Naruto halus. "Err... Kalian pacaran?" pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu membuat Kiba tersedak.
"NGGAK! APAAN TUH!" protes sang Inuzuka sambil melap ujung bibirnya.
"Souka," gumam Naruto sambil tersenyum malu, "warui ne..." maafnya dengan bahasa yang bukan formal. Lagi-lagi, hal itu membuat Kiba bingung.
"Naruto-san... bahasamu kok... beda dari biasanya?" heran Kiba.
"Eh? Masa'?" ragu Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nah, 'kan! Beda lagi! Biasanya kau bakal bilang 'benarkah?' dengan senyum di wajah!" seru Kiba lagi sambil menjentikkan jari. "Agak... yah, beda gitu... Uhm, seperti bukan kau yang di sekolah..." tambahnya, melupakan bahasa formal yang seharusnya Ia gunakan saat berhadapan dengan sang Namikaze.
"Kalau kau baru sadar akan hal itu, maka kau benar-benar bodoh, Kiba," gumam Shino sambil melirik pemuda penggila anjing itu. "Sikap Naruto di kelas itu hanyalah kamuflase untuk menghindari para penjilat atau semacamnya," jelasnya.
"Aku tau itu dan jangan menyebutku bodoh!" Kiba membela diri. "Yang membuatku heran itu kenapa di luar dia bisa menggunakan bahasa yang kasual dibanding sama kita? Memangnya dia pikir orang-orang tak mengenalnya apa?"
"Itu karena--" Naruto menginterupsi, "--aku tidak mau bersandiwara di waktu luangku," jelasnya. "Memang benar di sekolah aku adalah Namikaze Naruto, tapi di luar, aku hanyalah Naruto. Bukankah itu sudah cukup?"
Pernyataan itu membuat kedua pemuda itu--lebih ke Kiba sebenarnya--melebarkan mata. Tak terduga, seorang pewaris Namikaze bisa berkata sejujur itu.
"Karena itulah, kau panggil aku Naruto saja, Kiba!" ujar Naruto sambil nyengir kuda.
Kiba masih tercenung dengan sikap sang Namikaze. Ia tak tahu kalau Naruto ternyata...
"Tentu, Naruto," yang menjawab adalah Shino yang kini mengulurkan tangan kanannya kepada pemuda berambut pirang tersebut. Dan meski terkejut, pemuda bermata biru itu menjabat tangannya.
Tak disangka, Shino malah menarik Naruto ke pelukannya.
"G-GAH! Apa yang--" reaksi terkejut Naruto terhenti oleh kalimat yang dibisikkan Shino di telinganya. "Hee... souka... Hmm~ ganbatte ne~" ucap Naruto kemudian--juga di telinga sang Aburame. Lalu, pemuda itu pun lepas dari pemuda yang satu... dan dalam diam menatap Kiba yang terlihat--amat sangat--kesal.
"Kamu ngapain sih, Shino?! Snack-nya mana?!" gusar Kiba--berusaha mengalihkan hatinya yang terbakar emosi entah kenapa.
"Itu"--tunjuk Shino pada kantung kotak berwarna krem yang tadi diletakkannya di atas kursi taman--"ada di dalamnya kok." Seringai tipis bermain di bibir yang tertutupi syal biru gelapnya.
Mengetahui bahwa snack yang dipesan tadi ada di tempat yang ditunjukkan, Kiba pun melangkah kasar--seolah marah--ke bungkusan itu lalu membukanya untuk melahap langsung kue-kue yang ada di dalamnya. Sikapnya sekarang persis seperti anak kecil yang lagi ngambek.
Naruto yang menyadari hal itu hanya tersenyum geli. Ia pun mendekatkan wajahnya untuk kembali berbisik pada Shino,
"You've got him already."
Ia tepukkan satu tangannya ke pundak sang Aburame sebelum berlalu sambil melambaikan tangan di tengah kerumunan orang.
"Orang yang... menarik," gumam Shino yang masih melihat punggung Naruto dari kejauhan.
"Hhalau mengahik, kemmahi haja hia (Kalau menarik, temani saja dia)!" ketus Kiba dengan mulut penuh kue yang kedua sisi pipinya menggembung. Kalau seperti itu, jelaslah kalau Ia memang cemburu.
Seringai semakin membentuk di bibir Shino, "Ya, mauku juga begitu," godanya. Dan kini menahan tawa karena melihat ekspresi Kiba yang tambah kesal. Oh, sungguh menyenangkan menggoda pemuda itu!
"Ya sudah! Aku mau pulang!" ketus Kiba lagi setelah selesai mengunyah. Namun, pada saat Ia hendak berdiri, Shino keburu menariknya ke tempat yang sepi--gang kecil di sela dua bangunan yang sepertinya kantor pemasaran.
"APAAN SI--"
"Kiba," potong Shino, "kau tidak punya alasan untuk cemburu karena aku dan Naruto sama sekali tidak ada hubungan apa," ucapnya. Kedua tangannya kini berada di kedua sisi di samping kepala sang Inuzuka. "Aku hanya membisikkan fakta bahwa kau dan aku bukanlah teman... Kau mengerti itu?"
Mata coklat gelap Kiba membelalak lebar. Ekspresinya bisa dikatakan syok sekarang.
"Jadi... selama ini kau nggak pernah menganggapku teman, Shino?" ragunya pada pendengarannya tadi. "Kau... membenciku?" lirihnya dengan nada terluka.
Lirihan terakhir membuat Shino menghela napas panjang. Memang sulit berhadapan dengan seseorang yang masih terbilang polos seperti Kiba. Padahal maksudnya sama sekali bukan itu.
Now or never!
Shino meraih dagu Kiba dengan lembut, membuat mata coklat gelap itu bertumbukan dengan mata hitamnya. Sejenak, mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Shino kembali berkata.
"Reaksimu setelah apa yang akan kulakukan ini adalah jawaban untukku. Kau boleh memukulku sekuat tenaga kalau kau menolaknya."
Detik setelahnya, pemuda bermarga Aburame itu mencium bibir Kiba dengan bibirnya.
---garisgarisgarisgaris---
Beralih pada sang guru dan keponakannya...
"Ne, 'Cuke-Ji-tan... kenapa tadi tiba-tiba begitu?"
"Hn?"
"Kenapa tadi Chila enggak boleh nanya alasannya ke Nii-tan? Kan Chila cuma pengen tau kenapa sesama laki-laki enggak boleh nikah..." Rupanya Chira masih penasaran dengan hal itu. "Ji-tan cuka ma Naluto-Nii-tan, 'kan?"
Ah... Itu maksudnya ternyata.
"Playing cupid, Brat? That's useless..." kata Sasuke sambil mendengus.
"Abiznya Chila gelah ngeliat Ji-tan ma Nii-tan adu mulut telus!" kesal bocah itu. "'Cuke-Ji-tan, tembak aja langsung!" serunya bersemangat.
Entah mengapa, saran seperti itu malah membuat Sasuke menggerutu kesal. "Jangan bicara seenaknya! Bocah sepertimu tidak tahu apa-apa!"
... bahkan tidak mengerti penderitaanku dan anak itu...
Chira terkejut dengan keseriusan yang terpampang di wajah pamannya. Baru sekali ini lagi bocah itu melihat wajah gelap nan terluka selain dulu sewaktu Ia pertama kali berkunjung ke Mansion utama Uchiha. Rasa-rasanya Ia melihat sosok sang paman yang lain.
"Gomen..." lirih Chira sambil menunduk, menyesali ucapannya.
"Sensei, jangan membuat Chira-chan jadi melengkungkan leher begitu!" Tiba-tiba Naruto muncul, membuat kedua Uchiha itu menolehkan kepala ke arahnya.
"Naluto-Nii-tan!" kaget Chira. "Udah di cini dali tadi?" tanyanya--cemas bahwa Naruto mendengar pembicaraannya dengan Sasuke. Wah-wah, bocah itu memang cerdas.
"Baru kok," jawab Naruto sambil tersenyum pada Chira, "Nii langsung lari pas melihat Teme itu--" menunjuk Sasuke "--memarahimu." Kini matanya melirik sang Uchiha, "Sensei yang pemarah..." ketusnya.
"Huh." Sasuke membuang muka--menghindari tatapan sang Namikaze. Ia tak ingin semakin memperkeruh keadaan... hanya bisa berharap bahwa dirinya bisa segera pulang ke apartemennya. Mood-nya rusak sudah.
"Nii-tan, enggak pa-pa kok! Mendingan kita main lagi ya!" alih Chira, berusaha mencairkan suasana kembali.
Naruto menghela napas ringan, "Baiklah. Mau naik apa lagi?" tanyanya sembari meraih tangan si bocah lalu menggandengnya.
"Naik Bianglala yuk!"
---garisgarisgarisgaris---
"Wuuiih! Keleeen!!" ceria Chira ketika melihat pemandangan dari dalam kontainer Bianglala.
"Iya ya, warnanya indah..." timpal Naruto yang juga melihat pemandangan yang sama.
Warna-warni alam berbaur menjadi satu dengan tetap menyisakan partikel keindahan. Biru cerah menjelang jingga peralihan siang ke sore, merah kekuningan menjelang maroon seakan mengubur cakrawala dalam kehangatan, serta raven yang mulai menampakkan tahtanya pada garis horizon. Emerald pelukis ketenangan memendarkan warna manis yang bertumbukan dengan berlian pemantul sinar kejinggaan terakhir, membuat dunia merasakan lembayung senja yang menentramkan hati.
"Keunggulan alam... luar biasa..." gumam Naruto lagi. Mata birunya memantulkan warna-warni yang terpampang di hadapannya dengan begitu jernih. Satu ekspresi yang jarang diperlihatkannya.
Sasuke pun melihat hal yang sama. Namun, bukan langit yang menjadi fokusnya melainkan pemuda Namikaze itu. Setelah sekian lama, akhirnya Ia bisa menikmati kembali ekspresi teduh dari pemuda itu. Ekspresi yang menjadi favoritnya semenjak dulu ketika Ia bersama dengan gurunya.
Shina-san, seandainya Anda melihat wajah itu...
"Huaahm... Chila ngantuk..." lirih Chira sambil mengucek-ucek matanya. Rupanya anak itu sudah sampai pada batasnya. Yah, namanya juga baru bocah umur 5 tahun.
Naruto tersenyum. Ia raih bocah itu ke pangkuannya lalu menyandarkannya ke dadanya agar bisa beristirahat dengan nyaman. Pemuda itu juga mengelus helaian pirang yang sama dengan miliknya.
"Chira-chan tidur saja, nanti Nii bangunkan kok," ucap Naruto lembut.
"Un..." balas Chira seraya merapatkan diri untuk mendapatkan kenyamanan sebelum akhirnya mata oniks itu menutup perlahan, "oyasumi..."
Ingin rasanya Naruto tertawa geli melihat keimutan bocah itu. Tapi, pada akhirnya Ia membalas dengan mengucapkan 'oyasumi' sekaligus mengecup puncak kepala sang Uchiha junior tersebut.
Kini tinggallah Ia dan sang Uchiha senior dalam kontainer bulat itu. Guru pengganti Kakashi itu menatap mata biru yang kini beralih ke mata oniksnya. Dalam diam yang menenangkan, dua pasang bola yang berlawanan itu saling bertautan.
Tak lama, Naruto akhirnya memecah kebisuan di antara mereka.
"Aku lupa mengucapkan sesuatu padamu," ucapnya tanpa sapaan apa pun pada sang guru. Sepertinya Ia mulai bersikap biasa pada orang yang baru dikenalnya beberapa hari itu. Well, dari awal juga sebenarnya sang Namikaze tak bersikap palsu di hadapan sang Uchiha... entah kenapa.
"... What?" tanya Sasuke dengan nada datar namun masih terdengar lembut. Pemuda berambut pirang di hadapannya kembali menyunggingkan seulas senyum kecil sebelum melanjutkan perkataannya.
"Terima kasih sudah membawaku pulang tempo hari."
Seketika, Sasuke mengingat apa yang dimaksud sang Namikaze dengan 'tempo hari': saat hari hujan di mana dirinya 'menemukan' pemuda itu tengah 'bermain' di taman. Suatu perbuatan yang konyol tapi dalam maknanya. Sasuke mendengus seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Berterimakasihlah pada kebetulan, Dobe," balasnya.
Namun, Naruto menggeleng. "Tidak. Kalau memang hanya kebetulan, kau pasti akan langsung pulang, Teme," jelasnya.
"Tapi... Kau memilih untuk menghampiriku--meski hanya untuk mengejek dan menjitakku--lalu membawaku pulang..." lirihnya dengan warna langit yang tidak pernah lepas menatap warna malam milik sang guru, "terima kasih," ucapnya kembali.
Sasuke hanya diam mendengar 'argumen' dari muridnya. Pria muda itu terlihat seperti sedang berpikir akan suatu hal... suatu hal yang harus disampaikannya pada Naruto. Suatu... sesuatu yang harus diserahkannya.
Perlahan, pria berambut raven model pantat bebek itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Masih ingat ini, Naruto?" tanya Sasuke sembari menunjukkan sesuatu yang kini bergelantung di antara jemarinya.
"Be-benda itu?!" kaget Naruto. "Kenapa benda itu bisa ada padamu, Sensei?!" tanyanya dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.
"Ini... pemberian dari seorang guru sekaligus wanita yang pernah kucintai..." gumam Sasuke menjawab pertanyaan sang murid.
"Y-yang kau cintai?? Tapi 'kan itu--"
"Ya, ini milik Uzumaki Kushina. Ibumu."
---garisgarisgarisgaris---
Seorang pemuda berkuncir tinggi seperti buah Nenas sedang berdiri di depan pintu sebuah ruangan yang besar dan mewah. Tangannya kemudian mendorong pegangan pintu tersebut untuk masuk ke dalam... dan mendapati dua sosok pria tengah menunggunya.
"Kami mengharapkan kabar baik darimu."
Pemuda yang dimaksudkan itu memberikan dua buah berkas seperti laporan kepada kedua pria yang berada di hadapannya. Matanya yang tajam memandang dingin kedua pria tersebut—berlaku layaknya profesional. Sebagai seorang mata-mata, pemuda itu dituntut untuk tidak menunjukkan perasaan seperti orang biasa. Ia harus menjaga sikap dan tidak melibatkan perasaan pribadi—mengetahui bahwa Ia sebenarnya pemalas.
"Bagus," ucap salah satu pria dengan datar. "Ada lagi yang harus kau laporkan?" tanyanya.
Mata-mata itu membungkuk kembali, "Tidak. Cukup sekian dari saya. Laporan selesai."
"Kau boleh pergi," titah pria yang satu lagi.
Pemuda itu pun mundur teratur menuju pintu lalu keluar dengan salam.
"Nara Shikamaru mohon undur diri."
_TBC_
Kankenai, Dobe!: tidak ada hubungannya denganmu, Dobe!
Aru ne, Teme!: Ada, Teme!
Warui: Maaf dalam bahasa gaul laki2.
Yep, Segitu dulu untuk chapter ini. Gomen untuk typo(s)nya ya~
Review? No flames, please?
