TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

6

"FIRST TIME YOU GOT DRUNK?"

"Thirteen. Tepat sebelum pesta dansa sekolah. Orangtuaku berada di luar kota, dan kencanku, Kwon Yuri, berpikir akan terlihat dewasa untuk meminum vodka dan jus jeruk. Tapi yang bisa dapatkan adalah rum. Jadi kami minum rum dan jus jeruk. Kami akhirnya muntah-muntah di belakang gym. Dan sampai hari ini, aku tidak tahan mencium aroma rum tanpa merasa ingin muntah. First kiss?"

"Shim Changmin. Kelas enam, di bioskop. Dia memelukku dan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku. I had no idea what was happening."

Mereka sedang bermain First and Ten. Bagi kalian yang asing dengan game minuman ini, akan aku jelaskan. Satu orang menanyakan tentang segala hal yang pertama kepada orang lain, seperti pertama kalian ke Disneyland, pertama kali kalian bercinta, tak ada bedanya. Dan orang lain harus memberikan jawabannya terlebih dulu. Jika mereka belum melakukan itu untuk pertama kalinya, atau tidak mau menjawab, mereka harus menenggak minuman mereka. Kemudian mereka harus memberitahu kalian sesuatu yang telah mereka lakukan setidaknya sebanyak sepuluh kali. Siapa salah satu dari mereka yang menyarankan permainan ini? YiFan sendiri sudah melewatkan lima pengalaman pertamanya. Dan YiFan tidak tahu.

"First time you fell in love?"

Hitung jadi enam. YiFan mengambil vodka-nya dan menenggaknya.

Mereka berada di sudut gelap dari sebuah bar lokal kecil bernama Howie. Ini adalah tempat yang tidak banyak menarik perhatian, mirip seperti bar kecil pada umumnya. Para pengunjungnya santai, gampang bergaul. Bukan orang yang mengenakan setelan licin karya perancang mode Paris seperti halnya wanita yang biasanya YiFan ajak untuk menghabiskan malam akhir pekannya. Tapi YiFan suka di sini. Kecuali untuk karaokenya. Siapapun yang menemukan karaoke itu pasti orang jahat. Mereka harus ditembak di antara matanya dengan peluru tumpul.

Junmyeon memiringkan kepalanya ke samping, menilai YiFan. "Kau belum pernah jatuh cinta?"

Pemuda itu menggeleng. "Cinta hanya untuk orang yang lemah, sweetheart."

Junmyeon tersenyum. "Lumayan sinis, ya? So, you don't believe love is real?"

"I didn't say that. Orangtuaku telah menikah selama tiga puluh enam tahun. Kakak perempuanku mencintai suaminya, dan suaminya memujanya." YiFan berkata sambil memainkan jarinya di mulut gelas.

"Tapi kau belum pernah jatuh cinta?"

YiFan mengangkat bahu, "Aku hanya tidak melihat apa gunanya. Kau tahu, aku mengibaratkan jatuh cinta seperti usaha yang sangat besar dan tidak banyak hasilnya. Peluangmu untuk berhasil melewati beberapa tahun pertama paling tinggi hanyalah setengah-setengah. Terlalu rumit untuk seleraku."

Ya, YiFan lebih suka yang sederhana dan gampang. Setiap harinya, dia bekerja, dia bercinta, dia makan, dan tidur. Pada hari Minggu YiFan harus makan menjelang siang dengan ibunya dan bermain basket dengan teman-temannya. Mudah. Gampang.

Junmyeon duduk tegak di kursinya. "My mother used to say, 'If it's not difficult, it's not worth it.' Disamping itu, apa kau tidak merasa...kesepian?"

Seperti sudah direncanakan, seorang gadis pengantar minuman berpayudara besar datang ke meja mereka. Gadis itu membungkuk dengan tangan di bahu YiFan dan belahan dadanya di wajah pemuda itu. "Kau perlu apa lagi, sweety?"

Well, secara tidak langsung itu sudah cukup menjawab pertanyaan Junmyeon, bukan?

"Tentu, sayang. Bisakah kau membawakan kami minuman lagi?"

Ketika pelayan bergerak menjauh, mata Junmyeon bertemu dengan mata YiFan sebelum berputar ke langit-langit. "Anyway. Katakan padaku sepuluh pengalamanmu."

"Aku sudah pernah berhubungan seks dengan lebih dari sepuluh wanita dalam satu minggu." Ucap YiFan santai.

Cancun. Liburan musim semi tahun 2010. Meksiko adalah tempat yang menakjubkan.

Junmyeon mengangkat sebelah alisnya, "Uhh. Apa itu seharusnya membuatku terkesan?"

YiFan menyeringai dengan bangga. "Ini mengesankan sebagian besar wanita." Pemuda itu membungkuk dan merendahkan suara saat menggosokkan ibu jarinya perlahan ke ibu jari Junmyeon. "Dan lagi, kau bukan wanita kebanyakan, kan?"

Junmyeon menjilat bibirnya, matanya tertuju kearah YiFan. "Apa kau sedang merayuku?"

"Tentu saja."

Tak berapa lama gadis pengantar minuman membawa pesanan mereka. YiFan menampilkan senyuman andalannya saat gadis itu meletakkan minuman di meja. "Thanks, baby."

"Anything for you, babe." Gadis itu berkata sambil mengerling nakal pada YiFan. Junmyeon melihat itu dan dia hanya menghela nafas bosan.

Setelah gadis pengantar minuman itu menjauh, YiFan membunyikan buku-buku jarinya. Dia siap. Saatnya untuk...lebih intim.

"Blowjob pertama?" tanya YiFan. Demi Tuhan dia sudah berusaha menahan untuk tidak bertanya tentang itu. Dia bersumpah sudah mengulur waktu selama yang ia bisa. Tapi dia tak bisa menahannya lagi. YiFan sangat ingin tahu kehidupan seks seorang Kim Junmyeon, lebih tepatnya sangat penasaran.

Senyuman menghilang dari wajah gadis itu. "Kau punya masalah serius. Kau tahu itu, kan?"

Mengutip satu kalimat tentang tekanan teman sebaya dari film The Breakfast Club, YiFan mendesaknya, "Oh come on, Jun, just answer a simple question."

Junmyeon mengambil minumannya dan menenggaknya secara mengesankan.

YiFan terkejut sekaligus tercengang. "Kau tidak pernah memberikan blowjob?"

Demi Tuhan, jangan biarkan Junmyeon menjadi salah satu dari wanita itu. Kalian tahu apa yang YiFan maksud—dingin, tidak suka berpetualang, tipe orang-orang yang tidak akan melakukan 'itu'. Orang yang bersikeras untuk bercinta, yang berarti bersetubuh dalam posisi misionaris saja. Mereka adalah penyebab kenapa orang-orang seperti Elliot Spitzer dan Bill Clinton mempertaruhkan karir politik mereka, karena mereka sangat ingin mendapatkan akhir yang nikmat.

Dia mengernyit saat panasnya vodka membakar tenggorokannya. "Jonghyun doesn't like...oral seks. I mean, he doesn't like to give it."

Dia pasti sudah mabuk. Tidak mungkin Junmyeon akan mengatakan ini jika dia tidak benar-benar dan sepenuhnya mabuk. Dia menyembunyikan dengan baik, bukan? Tapi dia masih belum menjawab pertanyaan YiFan.

Adapun mengenai tunangan Junmyeon, YiFan yakin jika laki-laki itu adalah seorang banci. Hei, YiFan mengatakannya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya permainan kata-kata. Ibunya selalu bilang, "Siapapun yang mau melakukannya, lakukanlah sebaik mungkin." Oke, ibunya tidak sepenuhnya mengucapkan kalimatnya persis seperti itu, tapi kalian bisa mendapat gambarannya. Jika YiFan tidak ingin melakukan oral kepada seorang gadis, maka dia juga tidak akan menidurinya. Maaf jika ini terdengar kasar, tapi begitulah seharusnya.

Dan ini adalah Junmyeon yang sedang kita bicarakan di sini. YiFan akan 'memakannya' untuk sarapan setiap hari dalam seminggu dan dua kali pada hari Minggu. Dan YiFan tidak bisa membiarkan satu pria pun yang akan membantah pendapatnya.

Menurut YiFan, Jonghyun adalah orang yang sunguh idiot.

"Jadi, karena Jonghyun tidak pernah...ya kau tahu maksudku. Dia pikir itu tidak adil jika aku harus melakukan itu padanya. Jadi, tidak...Aku belum pernah..." ucap Junmyeon.

Lihat, gadis itu bahkan tidak bisa mengatakannya. Jadi dengan senang hati YiFan harus membantunya. "Oral seks? Mengisap miliknya? Menyedot bolanya? Meledakkan bola dan pikirannya?"

Junmyeon menutupi wajahnya dan cekikikan. YiFan cukup yakin ini adalah hal yang paling menggemaskan yang pernah dia lihat. Junmyeon melepaskan tangan dari wajahnya dan menghembuskan napas.

"Lanjutkan. Sepuluhku. Aku sudah bersama Jonghyun selama lebih dari sepuluh tahun."

YiFan tersedak oleh birnya. "Ten years?"

Junmyeon mengangguk. "Almost eleven."

YiFan membelalakan matanya, tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. "Jadi kau mulai pacaran dengannya ketika kau..."

"Fifteen. Yeah." Junmyeon berkata sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Jadi, jika YiFan mendengarnya dengan benar, apa yang Junmyeon katakan adalah bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melakukan oral seks padanya? Tidak bermaksud untuk membuang waktu sia-sia, tapi YiFan tidak bisa memahami kenyataan ini. Itulah apa yang dia katakan, bukan?

YiFan bisa menangis. Sungguh berdosa. Kesampingkan orang yang menemukan karaoke, sisakan pelurunya untuk pacar Junmyeon.

"Berapa lama kau sudah bertunangan?" YiFan bertanya dengan rasa penasaran.

Junmyeon tampak sedikit berfikir, "Emm...Sekitar tujuh tahun. Dia melamarku seminggu sebelum aku meninggalkan rumah untuk kuliah."

Kedua kalimat itu menceritakan padanya dengan tepat jenis manusia bedebah macam apa Jonghyun sebenarnya. Tidak percaya diri, pencemburu, selalu menempel. Jonghyun tahu pacarnya tidak pantas untuknya, dia tahu bahwa Junmyeon akan menjadi orang sukses dan kemungkinan besar akan segera meninggalkannya. Jadi apa yang dia lakukan? Dia melamar Junmyeon untuk menikah dengannya, sepenuhnya menjebak Junmyeon sebelum dia mengenal pria lain yang lebih baik.

"Itulah mengapa cincinnya begitu...kau tahu...kecil. Tapi itu tidak masalah bagiku. Jonghyun bekerja selama enam bulan untuk membelikan aku cincin ini. Membersihkan meja bar, memotong rumput, kerja mati-matian. Batu kecil ini lebih berarti bagiku daripada permata terbesar yang ada di Tiffany Jewelry." Junmyeon berkata sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.

Dan beberapa kalimat itu cukup menceritakan pada YiFan tipe wanita macam apa Kim Junmyeon sebenarnya. Banyak wanita Seoul suka kemewahan, merek dari mobilnya, tulisan pada tasnya, ukuran cincinnya. Dangkal. Kosong. YiFan sangat tahu dengan pasti, karena dia pernah tidur dengan sebagian besar dari mereka. Tapi Junmyeon bukan orang palsu. Dia asli. Junmyeon segalanya tentang kualitas, bukan kuantitas.

Junmyeon mengingatkan YiFan pada kakak perempuannya, sebenarnya. Bahkan dengan segala uang yang mereka miliki saat tumbuh dewasa, Luhan tidak benar-benar peduli sedikitpun tentang label atau apa yang orang lain pikirkan. Itulah kenapa akhirnya dia bersama pria seperti Xiumin. Xiumin dan Luhan mulai berpacaran saat SMA, ketika Xiumin masih mahasiswa tingkat kedua dan Luhan kelas tiga SMA. Manuver itu membuat Xiumin menjadi legenda di St. Mary's Prep school. Sampai hari ini, namanya disebut di lorong suci sekolah Luhan dengan penuh hormat.

Apa? Ya, YiFan sekolah di sekolah Khatolik. Kalian terkejut? Seharusnya tidak. Omong-omong sampai di mana kita? Oh ya benar, Xiumin dan Luhan.

Xiumin bukan pria paling tampan, atau pria yang paling lembut. Dia bukan seorang playboy, dia tidak pernah bisa. Lalu bagaimana dia berhasil mendapatkan tangkapan besar seperti Luhan, jika kalian bertanya?

Kepercayaan diri.

Xiumin tidak pernah ragu pada diri sendirinya. Tidak pernah sedetik pun berpikir bahwa dia tidak cukup pantas untuk Si Menyebalkan. Ia menolak untuk diintimidasi. Dia selalu memancarkan keyakinan diri yang membuat wanita tertarik padanya. Karena dia tahu bahwa tidak seorang pun bisa mencintai Luhan seperti dirinya. Jadi, ketika Luhan masuk kuliah bertahun-tahun sebelum Xiumin bisa bergabung dengan YiFan di perusahaan, apa dia khawatir? Tentu saja tidak. Dia tidak takut untuk membiarkan Luhan pergi. Karena dia tahu dengan kepastian yang mutlak bahwa suatu hari Luhan akan kembali. Padanya.

Tak pelak lagi Lee 'Tolol' Jonghyun itu tidak begitu percaya diri. Setidaknya itu menurut pandangan YiFan.


...


Dua jam kemudian, Junmyeon dan YiFan bisa dipastikan mabuk. Lihat mereka di sana? Menatap panggung, menyesap bir dengan ekspresi sayu di wajah mereka. Kalian dapat belajar banyak tentang seseorang ketika mereka sedang mabuk, dan YiFan telah belajar banyak hal tentang Junmyeon. Ketika gadis itu minum, dia suka mengoceh.

Apa dia suka menjerit juga? Never mind, bagian itu akan datang nantinya.

Dan selama waktu kebersamaan mereka itu sedikitnya YiFan tahu tentang kehidupan Kim Junmyeon. Dia berasal dari Kangwondo Yanggu. Ibunya masih tinggal di sana, bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah. Dan selama masa SMA Junmyeon menjadi pelayan di salah satu restoran milik teman ibunya. Dia tidak menyebutkan ayahnya sekalipun, dan YiFan juga tidak bertanya. Dan meskipun menjadi Valedictorian (lulusan terbaik), Junmyeon dulunya gadis yang cukup liar. Itu menjelaskan mengapa dia begitu kuat minum. Rupanya, dia dan si bedebah itu menghabiskan masa remaja mereka menyelinap masuk arena roller skate setelah tutup, mengutil, dan bernyanyi di sebuah band bersama.

Oh yeah, itulah yang si keledai lakukan untuk mencari nafkah. Dia seorang musisi. Kalian tahu apa artinya, bukan?

Ya, seorang pengangguran.

Jika kalian bertanya mengapa Junmyeon masih bersama dengan pecundang ini? Itulah pertanyaan yang sangat penting, nak. YiFan bukan orang yang tidak mau bergaul dengan orang kecil. YiFan tak peduli jika kalian bekerja di pom bensin atau menjadi kasir di McDonalds. Jika kalian seorang laki-laki sejati, kalian harus bekerja, kalian tidak bisa menjadi parasit bagi pacarmu.

"Karaoke memuakkan," YiFan mendengus ketika seorang waria berambut pirang di depan mikrofon selesai menyanyikan lagu 'I Will Survive.'

Junmyeon memiringkan kepalanya. "Suara gadis...oh tidak pria itu...lumayan juga."

"Kurasa telingaku berdarah. Lihatlah mereka sekarat dan mati pelan-pelan." YiFan menunjuk ke wajah-wajah yang seakan koma di dalam bar.

Junmyeon menyesap birnya. "Ini karena lagunya salah untuk tempat semacam ini. Lagu yang tepat akan membangunkan mereka."

YiFan melirik Junmyeon sekilas lalu tersenyum sinis, "Kau sinting."

Junmyeon bicara kurang jelas, "Ya. Aku bisa melakukannya."

Pemuda itu mengayun-ayunkan telunjuknya di depan gadis itu, "Tidak mungkin. Tidak, kecuali kau berencana untuk menyanyi sambil menari striptis."

Dan, hadirin sekalian, ini adalah pertunjukan yang YiFan rela memberikan testis kirinya untuk menontonnya.

Junmyeon mengambil ponsel YiFan dari meja dan menggoyangkan jarinya kearah pemuda itu. "Tidak boleh memotret. Tidak boleh ada bukti apapun."

Lalu dia bangkit dan berjalan ke atas panggung. Apa kalian mendengar erangan menderita dari pengunjung bar saat musik mulai terdengar?

Tapi kemudian dia mulai bernyanyi:

I don't stand a chance when you look at me that way

I'll do anything you want me to anything for you

And I'll shout it for the whole world to know

Oh, honey, that's what you do to me

And I don't mind at all

Astaga.

Suaranya dalam, sempurna, dan merangsang. Seperti seorang pekerja telepon seks di salah satu nomor yang memakai angka sembilan ratus. Mengapung di sekitar ruangan dan membasuh YiFan seperti...seperti cumbuan secara lisan. Tubuh YiFan bereaksi seketika pada suaranya. Kejantanannya sekeras batu.

You know I'm not a girl who cares to see

Or gives a damn what anyone thinks of me

I go down hard, I stand my ground

But whenever you come around

I'm helpless

Baby, I don't stand a chance

Every time you look at me that way

It brings me to my knees

Junmyeon mulai bergoyang pinggul selaras dengan musiknya, dan YiFan membayangkan betapa sempurnanya Junmyeon akan terlihat saat berlutut di depannya. YiFan tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Junmyeon begitu memukau...menghipnotis.

And I'm changing, never thought I'd be like this

But you showed me a better way

I'll do anything for your kiss

In all my days I've never seen

A man who means everything to me

I can leave everything else in the dust

But it's you I just can't give up

Junmyeon mendapatkan perhatian penuh dari setiap pria di tempat ini. Tapi matanya...mata onyx menakjubkannya...menatap tepat ke arah YiFan. Dan ini membuat pemuda itu merasa seperti dewa.

I've never let anyone get this close to me before

Distance keeps me safe and keeps me sane

But now you've got my heart twisted with yours

Better than it's ever been, there's a lot to lose

But even so much more to win

Oh, baby…

Junmyeon menyibakkan rambutnya, dan YiFan membayangkan Junmyeon melakukan hal itu saat menungganginya dengan goyangan panjang dan keras. Ya Tuhan. YiFan pernah mendapatkan lap dance dari beberapa penari telanjang terbaik di kota ini, dan YiFan belum pernah ejakulasi di celana, tidak sekalipun. Tapi itulah yang akan terjadi padanya jika lagu ini tidak segera berakhir.

I feel so helpless when you look at me that way

I'll do anything for you only for you

Bar meledak oleh sorak, siulan dan tepuk tangan saat Junmyeon turun dari panggung. Terdengar seperti rodeo terkutuk. Junmyeon tersenyum bangga saat berjalan ke arah YiFan. Pemuda itu berdiri, dan Junmyeon berhenti hanya beberapa inci darinya.

Junmyeon menatap ke arah pemuda itu dan menaikkan satu alisnya. "Sudah kubilang aku bisa membangunkan mereka."

YiFan dengan pelan berkata, "That was…you…are amazing."

Demi Tuhan YiFan ingin mencium Junmyeon saat ini, lebih dari keinginannya untuk bernapas. Kejadian kemarin malam melintas dalam pikirannya. Bagaimana nikmatnya Junmyeon saat berada dalam pelukannya. Bagaimana lembutnya bibir itu ketika ia melumatnya. Dan bagaimana memabukkannya ciuman itu ketika lidah mereka bertaut. Tak pelak lagi YiFan harus menciumnya. Senyum perlahan mengembang dari wajah Junmyeon, dan YiFan tahu gadis itu juga menginginkannya. Perlahan Yifan menyibak sehelai rambut gadis itu ke belakang telinganya kemudian YiFan mulai mencondongkan tubuhnya...

Dan jeritan nyaring dari ponselnya mengganggu mereka.

Junmyeon berkedip seakan terbangun dari kesurupan dan mengangkat ponselnya. "Y-yoboseo?" Dia tersentak dan menjauhkan ponsel dari telinganya untuk menghindari suara teriakan di ujung yang lain.

"Tidak...Jonghyun, aku tidak lupa. Aku hanya mengalami malam yang berat. Tidak...ya...aku di sebuah bar yang bernama Howie's. Letaknya di..." Sesaat Junmyeon menatap ponselnya, dan YiFan menebak bahwa si brengsek baru saja menutup telponnya. Junmyeon menatap YiFan, matanya benar-benar sadar sekarang.

"Aku harus ke luar. Jonghyun datang menjemputku."

Bukankah ini kejutan yang menyenangkan? YiFan bisa bertemu dengan bajingan hidup ini. Ini akan menjadi semacam Freak Night di karnaval.


...


Ketika mereka menunggu di trotoar, Junmyeon menoleh kearah YiFan. "Apa yang akan kita katakan pada ayahmu?"

YiFan tertegun. Dan inilah pertanyaan yang telah ia hindari untuk ditanyakan pada diri sendiri sepanjang malam. Ayahnya adalah pria setia dan dapat diandalkan, bisa dikatakan jika ayahnya adalah seorang ksatria. Tradisional. YiFan percaya ayahnya akan bangga karena dia telah membela kehormatan Junmyeon. Tapi ayahnya juga seorang pengusaha. Dan kenyataannya adalah, YiFan bisa saja membela Junmyeon dan masih mendapatkan kontrak dari Anderson. Itu yang seharusnya YiFan lakukan. Itu yang akan pemuda itu lakukan seandainya terjadi pada orang lain selain Junmyeon di meja perundingan.

"Aku akan menangani urusan dengan ayahku." Ucap YiFan akhirnya.

Junmyeon menatap YiFan cepat, "Apa? Tidak, kita satu tim, ingat? Kita berdua kehilangan klien ini."

"Aku yang marah pada Anderson."

"Dan aku juga tidak mencegahmu. Sekarang, aku menghargai apa yang telah kau lakukan untukku, Kris, sungguh. Kau luar biasa, sebenarnya." Mungkin itu hanya karena pengaruh vodka, tapi kata-kata Junmyeon membuat YiFan merasa bahagia dan terhibur.

"Aku tidak butuh seorang penyelamat," Junmyeon melanjutkan. "Aku wanita dewasa, dan aku pasti bisa menangani apa pun yang mungkin ayahmu berikan. Kita akan bicara padanya bersama-sama pada Senin pagi. Setuju?"

Ini mengkonfirmasi bahwa: Kim Junmyeon adalah seorang wanita yang luar biasa.

YiFan tersenyum, "Setuju."

Kemudian sebuah mobil Ford Thunderbird warna hitam menderu di jalan dan berhenti di depan Junmyeon dan YiFan. Ya, Thunderbird. Dapatkah kalian katakan bahwa ini benar-benar akhir pekan tahun 80an? Seorang pria dengan bentuk tubuh rata-rata dan rambut cokelat muda keluar dari dalam mobil.

Apakah hanya YiFan, atau memang pria itu terlihat seperti orang brengsek menurut kalian juga? Jenis orang yang ketinggalan jaman. Jenis semprotan cuka dan air milik nenek kalian.

Dengan kening berkerut, Jonghyun memusatkan perhatian pada Junmyeon sebelum menatap kearah YiFan. Dan kemudian pria itu bahkan terlihat lebih marah lagi. Mungkin Jonghyun tidak sebodoh seperti yang YiFan kira, karena sepertinya dia menyadari kehadiran seorang pesaing ketika melihat YiFan.

Jonghyun berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang untuk Junmyeon. Gadis itu mendesah dan memberi YiFan senyum terpaksa. Lalu ia berjalan dua langkah kearah mobil dan tersandung pada lubang di trotoar. YiFan bergerak untuk menangkapnya, tapi si brengsek lebih dekat dan mendahuluinya. Jonghyun memegang Junmyeon dalam jarak yang agak jauh, kemarahan di wajahnya berubah menjadi rasa jijik.

"Apa kau mabuk berat?"

Oh God. YiFan benar-benar tidak suka nada bicara pria itu. Seseorang perlu mengajari dia sedikit sopan santun.

"Jangan mulai, Jonghyun. I've had a bad night," Junmyeon memberitahunya.

"A bad night? Really? Apakah ini seperti mempunyai pertunjukan terbesar dalam hidupmu dan pacarmu tidak muncul? Apakah seburuk itu, Junmyeon?" ucap Jonghyun sedikit keras.

Pertunjukan? Apakah dia benar-benar baru saja mengatakan pertunjukan? Apakah Junmyeon sungguh-sungguh tidur dengan si tolol ini? Kalian pasti bercanda.

Junmyeon melepaskan diri dari pegangannya. "You know what..." Dia mulai kata-katanya dengan tajam dan kemudian melemah. "Just..let's go home."

Lalu Junmyeon masuk ke dalam mobil dan si brengsek itu membanting pintu di belakangnya. Jonghyun menatap tajam kearah YiFan saat berjalan memutar menuju ke kursi pengemudi.

Junmyeon menurunkan kaca jendelanya. "Good night, Kris. And thanks...for everything"

YiFan memberi Junmyeon senyuman meskipun hasratnya untuk menghancurkan wajah tunangan gadis itu sangat besar. "Anytime."

Dan Thunderbird menderu pergi. Meninggalkan YiFan, seseorang yang untuk dua malam berturut-turut, mendambakan Kim Junmyeon. YiFan mengusap tangan kewajahnya ketika sebuah suara muncul di belakangnya.

"Hei, sweety. Aku baru saja selesai bekerja. Ingin pergi keluar denganku?"

Ini gadis pengantar minuman. Dia berwajah biasa saja, tidak ada yang spesial, tapi dia ada di sini. Dan setelah melihat Junmyeon pergi dengan bajingan pengecut yang akan menikahinya, YiFan menolak untuk melewatkan malam sendirian.

"Tentu, sayang. Aku akan panggilkan taksi."


...


Ini adalah seks yang buruk. Sekedar saran: Tidak bergerak seperti mayat ketika seorang pria bercinta dengan kalian tidak akan diingat sebagai pengalaman seksual yang hebat.

Alasan lain kenapa hal ini menyebalkan karena YiFan tidak bisa menyingkirkan Junmyeon dari pikirannya. YiFan terus membandingkan Junmyeon dengan gadis pengantar minuman itu, dan yang terakhir disebut, tentu saja tidak bisa mengimbanginya.

Kalian pikir YiFan seorang bajingan karena mengatakan ini? Ayolah, apa kalian akan bilang belum pernah membayangkan Brad Pitt bercinta denganmu, bukannya suami kalian yang berperut gendut? Itulah yang YiFan pikirkan.

Masih berpikir jika YiFan pria brengsek? Kalau begitu kalian beruntung. Pemuda ini akan segera memperoleh apa yang kalian pikir pantas dia terima.


... TBC ...


Sesuatu yang pantas YiFan terima? Hmm...apa ya?

Sebelumnya saya minta maaf karena terlambat update ff ini, karena minggu-minggu kemaren saya lagi sibuk banget. Maaf..

Oke, emmm... apa kalian udah liat kyuline yang bertransformasi jadi girl's day? Saya baru tahu tadi pagi (ketinggalan jaman). Itu... emmm... sumpah bikin saya speechless bener. Kyuhyun, Chwang, Minho, Junmyeon, oh my God, cantik-cantik banget. Kkkk~ langsung heboh saya ngliatnya.

Apalagi Kyu sama Jun, dua bias saya, kkk~persis cewek banget, cantik gila. Oh my, YiFan apakah kau juga melihat ini? Junmyeon-mu sangat cantik kalo pake gaun. Arrggghh... menggila karena Junmyeona. XD

Sekarang saya tahu kenapa Kai pengen kalo Junmyeon jadi female lead di MV remake'nya dia. Hahaha...jangan2 karena Kai yang udah liat Lady Suho yang cetar membahana itu. Oke, cukup heboh karena Kyumyeon-nya.

Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada Joonmily yang sudah meng-inbox saya untuk segera update, saya langsung penuhi permintaan kamu, dear.

Tanda terima kasih saya ucapkan juga kepada: XG-Lay 34 Army, honeykkamjong, alexandra n xing, akiko ichie, Emmasuho, Krisho wonkyu, guest, dhearagil, hasari28, tieny thunder, anon, siapa ya, joonmily, hae15, puputri, aquaryoung21, PikaaChuu, nam mingyu, LiezxoticVIP, doremifaseul, Oh Se Naa, Guest, j12.

Yang selalu men-support saya dalam mengembangkan ff ini. I love u, guys.

Bagi silent reader yang masih malu-malu kucing untuk me-review, tenang aja saya masih setiap menunggu kehadiran kalian. Dan bagi yang sudah mem-follow atau menjadikan ff ini favorite kalian, terima kasih. ^^

Yeah...tebar virus cinta Krisho.

Kamshahamnida