Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
.
Sakura mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan cahaya yang sedikit redup, suara musik yang sangat kencang dan beberapa orang sudah terlihat mabuk. Tatapan Sakura tertuju pada seorang laki-laki dengan kaos hitamnya dan celana jinsnya, dia duduk dekat bartender dan kerumuni wanita-wanita dengan pakaian seksi. Pupil Sakura melebar dan tubuhnya terasa membeku. Salah seorang wanita mencium bibir Sasuke. air mata menetes di pipi Sakura. dia berjalan menerebos orang-orang yang sibuk berjoget. Sampai ke hadapan Sasuke.
"SASUKE!" teriak Sakura sekeras mungkin.
~ my neighbor ~
.
[Chapter 6]
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Seorang gadis meneriakkan namanya, Sasuke menyuruh wanita itu untuk bergesar dan membiarkannya melihat siapa yang memanggilnya. Tatapan kelam dan tajam tertuju pada Sakura. Sakura terkejut melihat tatapan Sasuke yang sangat berubah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ucapnya cuek.
"Ayo kita pulang."
"Pulang saja sendiri."
"Pokoknya kau harus pulang sekarang."
"Berisik. Pergi dari sini!" bentak Sasuke.
Sakura terdiam, Sasuke kembali meraih wajah wanita yang tadi menciumnya dan kembali ingin menciumnya, Sakura langsung menarik tangan Sasuke dan menjauhkannya dari wanita itu. Sasuke menarik paksa kembali tangannya.
"Kau harus pulang." Nada suara Sakura meninggi.
"Kenapa? Kau tidak suka ha! apa kau juga mau diperlakukan seperti mereka?"
Sakura tidak menanggapi Sasuke dan menarik kembali tangan Sasuke namun Sasuke menepisnya.
"Bilang saja kalau kau juga mau."
Sasuke segera menarik Sakura dan mencium bibirnya dengan sangat kasar, Sakura merontah-rontah namun Sasuke lebih kuat darinya. Wanita-wanita yang bersama Sasuke hanya menertawai Sakura. Sasuke semakin ganas hingga menggigit bibir Sakura. Sakura menangis dan menahan rasa perih di bibirnya yang sudah berdarah.
Sebuah tangan dengan paksa melepaskan Sasuke dan menarik Sakura menjauh dari Sasuke, satu pukulan keras mendarat di pipi Sasuke.
"Cukup Sasuke. kau mabuk." Ucap Izuna yang dari tadi menatap tingkah Sasuke yang membuatnya sedikit kesal, Izuna tahu ini bukan masalahnya, tapi melihat Sakura di perlakukan seperti wanita-wanita yang bersama Sasuke membuatnya sangat marah.
"Ini bukan urusanmu!"
"Kita pulang Sakura."
Izuna membawa Sakura pergi namun Sakura menahan Izuna.
"Aku mohon, bawa pulang Sasuke juga." Sakura menangis.
"Biarkan saja dia."
"Tidak, pokoknya kita harus pulang bersamanya. Hiks. Aku mohon Izuna."
Izuna menutup matanya sejenak dan menghela napas, mencoba menenangkan dirinya yang ingin sekali kembali menghajar Sasuke.
Izuna memanggil tiga orang pengawal dan memaksa Sasuke pulang, Sasuke mengamuk dan salah seorang dari mereka memukul perut Sasuke hingga membuatnya pingsan dan mengangkatnya pergi dari bar itu, meskipun para pengunjung yang ada di situ sempat melihat ke arah mereka, detik berikutnya mereka kembali ke kesibukan mereka masing-masing.
.
.
.
Matahari sudah mulai tinggi, semua pelayan sibuk bersih-bersih, pelayan pribadi Sakura masuk ke kamar Sakura dan mendapati kamarnya kosong, lagi.
"Sakura sedang berada di kamar Sasuke, mungkin sebaiknya biarkan mereka sejenak." Ucap Izuna yang mendapati Pelayan Sakura.
"Baik tuan Izuna."
Di kamar Sasuke, terlihat Sakura yang tengah tertidur di sisi ranjang menunggu Sasuke sadar. Sasuke membuka matanya perlahan dan terasa nyeri pada perutnya dan kepalanya sedikit sakit. Pandangannya di arahkan ke samping dan mendapati Sakura yang tengah tertidur, Sasuke masih bisa melihat bekas air mata di wajah Sakura, dia sudah membuat Sakura menangis, Sasuke merasa bersalah atas kelakuannya semalam, tidak seharusnya dia berbuat kasar kepada Sakura, bahkan ada bekas luka di bibir Sakura yang sudah mengering.
Sasuke membelai rambut Sakura dengan lembut. Membuat Sakura terbangun dan menatap Sasuke, tatapan Sasuke kembali seperti biasanya, menatap lembut ke arahnya.
"Kau baik-baik saja Sasuke?"
"Uhm, maaf aku sepertinya mabuk berat. Kau tidak apa-apa?"
"Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku senang kau sudah sadar."
"Rasanya seperti isi perutku ingin keluar semua."
"Mereka terlalu keras memukulmu." Sakura tersenyum.
"Aku minta ma-"
"Maaf! Aku minta maaf, aku tidak bisa mengerti perasaanmu, sungguh aku dan Izuna tidak ada apa-apa, aku menyukai Izuna seperti menyukai Sasori, aku tidak ingin terjadi salah paham, ini semua salahku, aku tidak menempatkan posisiku dengan baik sebagai pacarmu, aku ingin mengucapkannya kemarin, tapi...semalam kau tidak ada di kamar dan-"
Sasuke segera memeluk Sakura dengan erat.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Kau tidak salah Sakura. maaf membuatmu menangis, maaf sudah kasar padamu, aku hanya uhm.. sedikit... itu seperti orang pada umumnya."
"Apa itu?"
"Seperti.. ya seperti itulah."
"Kau cemburu?"
"Hn, mungkin saja."
Untung saja Sasuke memeluk Sakura, jika tidak Sakura bisa melihat wajah Sasuke mulai memerah, gara-gara ucapan 'cemburu', Sakura membalas pelukan Sasuke, dia tidak ingin kehilangan Sasuke.
Sakura melonggar pelukan mereka. Dia berjalan menuju meja yang terdapat tissu, Sakura mengambil selembar tissu dan memberikannya pada Sasuke.
"Untuk apa?"
"Bersihkan bibirmu cepat. Ada bekas orang lain di situ." Ucap Sakura sedikit kesal.
Sasuke tersenyum melihat Sakura yang menyodorkan tissu ke arahnya. Seketika Sasuke menarik Sakura dan menciumnya dengan lembut.
Tissu itu tidak akan bisa menghapus apapun, hanya bibirmu yang bisa menghapusnya.
"Sakit."
Sasuke segera menjauhkan Sakura. dia lupa jika luka di bibir Sakura belum sembuh.
"Masih sakit?"
"Iya."
Sasuke kembali tersenyum melihat wajah Sakura yang seperti biasa, wajah merona Sakura terlihat sangat manis.
"Ahh~ rasanya jadi iri sekali, pagi-pagi sudah bermesraan" ucap Shisui.
Shisui dan Izuna berjalan masuk ke kamar Sasuke.
"Kau baik-baik saja?" ucap Izuna.
"Hn."
"Maaf, sudah memukulmu."
"Ah, tidak apa-apa, setidaknya pukulan itu bisa menghentikanku, terima kasih sudah melindungi Sakura."
"Aku pikir kalian akan perang dunia." Ucap Shisui.
"Jangan berharap hal yang aneh." Ucap Sasuke.
"Aku akan kembali memukulmu jika kau kasar pada Sakura." ucap Izuna.
"Hei, Sasuke, kau harus waspada, Izuna sudah mengancammu." Shisui menahan tawanya.
"Terima kasih Izuna." Ucap Sakura dan berjalan menghampiri Izuna.
"Hn."
Izuna membelai perlahan puncuk kepala Sakura. Sasuke harus menahan dirinya untuk tidak cemburu lagi. Dia harus percaya pada Sakura.
Masih ada waktu seminggu lagi sebelum liburan selesai, Sakura harus pulang lebih dulu, dia tidak bisa tinggal sampai libur selesai, Sakura biasanya akan mengerjakan apapun yang biasa dia kerja saat liburan.
Sakura sudah bersiap-siap dengan koper dan tasnya. Di teras depan gerbang Sakura berpamitan dengan semua yang ada di kediaman, bahkan Itachi datang untuk menemuai Sakura sebelum dia kembali ke Konoha, Istri-istri Madara memberikan sebuah yukata yang sangat indah kepada Sakura. Sakura sangat senang menerimanya.
Sasuke tidak bisa pulang cepat, dia harus menyelesaikan urusannya dengan Madara. Sakura berjalan menghampiri Izuna dan memberikan sebuah gantungan ponsel, dengan tali berwarna merah dan lonceng yang berwarna putih.
"Untukmu, terima kasih selama ini sudah menemaniku di sini. Lain kali kalau aku datang ke kawasan Uchiha ajak aku jalan-jalan lagi."
"Hn, kapan-kapan kita akan pergi lagi, tanpa harus berlari dan kabur."
"Hehehe, pokoknya tanpa pengawal yaa."
"Uhm."
"Izuna juga dapat benda itu, Kami juga." ucap Shisui dan Itachi sambil menunjukkan ponselnya dan mengangkat tangan Izuna untuk memperlihatkannya kepada Sasuke.
Kembali mereka mengganggu Sasuke dengan benda yang sama, benda pemberian dari Sakura.
"Aku tidak butuh benda itu, aku hanya butuh orang yang memberikannya." Ucap Sasuke dan merangkul pinggang Sakura mendekat ke arahnya.
"Co cweet...~" ucap Shisui
Sakura menjadi malu dan segera mendorong Sasuke. "Ja-jangan melakukan seperti itu tiba-tiba."
Seluruh orang yang ada di teras tertawa melihat Sakura dan Sasuke.
Sakura masuk ke dalam mobil bersama Sasuke, Sasuke yang akan mengantarnya ke bandara.
"Akhirnya tidak ada gadis cantik lagi di Kediaman."
"Dasar kau shisui, suka saja mengganggunya." Ucap Itachi.
.
.
.
Di bandara, Sakura memeluk sejenak Sasuke.
"Cepatlah kembali."
"Hn. Aku tidak akan lama."
Penumpang sudah di harap segera naik ke pesawat. Sakura berjalan pergi meninggalkan Sasuke, dia bersiap untuk menjalani seminggu tanpa Sasuke. meskipun rasanya berat, Sakura akan melakukannya. Hanya seminggu tidak ada apa-apa baginya.
Perjalanan pulang terasa cepat, Sakura sudah tiba di bandara internasional Konoha, Sakura berjalan keluar bandara dengan menarik kopernya, terasa begitu sepi, baru kemarin dia bersama-sama dengan Itachi, Shisui, dan Sasuke, kali ini Sakura sendirian. Sakura memanggil taksi dan segera meminta taksi untuk mengatar ke alamat yang di ucapkan Sakura.
Sampai di depan pagar rumah Sakura. Sakura turun dari taksi, supir taksi membantu Sakura menurunkan kopernya, setelah membayar, mobil taksi itu pergi dan kini tinggal Sakura sendirian. diliriknya ke arah rumah Sasuke, biasanya di halaman ada Itachi yang akan menyapanya. Sakura menghela napas dan berjalan masuk ke rumahnya. Memikirkan orang-orang yang mungkin akan jarang datang lagi ke Konoha membuat Sakura sedikit merindukan mereka.
Sakura sedikit bingung dengan pagar yang tidak terkunci, dia rasa sudah mengunci pagarnya sebelum pergi. Sakura segera berjalan masuk dan pintu rumahnya juga tidak di kunci, Sakura berlari ke arah dapur dan mendapati ibunya yang sedang menyiapkan makan siang.
"Ibu!"
Sakura segera berlari dan memeluk erat ibunya.
"Sakura. kau sudah pulang?"
"Aku sangat merindukan ibu."
Melihat Sakura memeluknya dengan erat, ibu Sakura hanya mengusap kepala anaknya dengan lembut, setahun sekali datang ke Konoha membuat Sakura sangat merindukan ibunya.
"Ayah dimana?"
"Katanya keluar sebentar, bertemu teman bisnisnya yang ada di Konoha."
"Ooh."
Sakura berjalan ke ruangan tamu bersama ibunya, dia melepas tas ranselnya dan merebah dirinya di sofa, perjalanan dari kawasan Uchiha lumayan melelahkan.
"Bagaimana kawasan Uchiha?"
"Seperti Konoha, cuman dia kota yang kecil, aku tinggal di kediaman kakek Madara, ibu tahu, kediamannya seperti sebuah desa, bahkan ada kebun dan kolam ikan yang luas..."
Sakura menceritakan tentang kediaman Madara, jalan-jalan bersama Izuna yang tidak ingin di panggil paman, Shisui yang jahil, Itachi yang sangat baik, istri-istri Madara yang cantik, pelayan pribadinya yang sangat baik dan dia harus berpisah dengan Sasuke.
"Sasuke?"
Sakura keceplosan dengan ucapannya.
"Heheheh, ibu juga akan tahu nanti."
"Uhmm, pokoknya kau harus kenalkan pada ibu."
Sakura tersenyum malu di hadapan ibunya. Ibunya kembali ke dapur dan menata makan siang.
Di kawasan Uchiha.
"Sasuke! aku menemukannya." Ucap Shisui menerobos masuk ke kamar Sasuke.
Sasuke segera mengikuti Shisui berjalan kembali ke kamarnya. Shisui memperlihatkan peta yang terpampang di layar laptopnya, Shisui berhasil menghack data sebuah kota kecil yang sangat jauh dari kawasan Uchiha, dia mencari data informasi penduduk yang ada di sana dan menemukan orang yang bernama Kabuto.
"Dia berada di salah satu kota terpencil, ini sangat jauh dari kawasan Uchiha, kau mau ke sana?"
"Mungkin dia bisa menjadi kunci jawabannya."
"Bagaimana caranya kita ke sana?"
"Pinjam pesawat pribadi kakek, bilang saja kalau kita akan berjalan-jalan."
"Uhm, ide yang bagus."
Sasuke dan Shisui sepakat pergi bersama tanpa di ketahui oleh Madara dan Itachi. Mereka pergi dengan alasan wisata dan hal itu di setujui Madara, Madara tidak tahu jika tujuan utama mereka menemui Kabuto.
.
.
.
Tiba di sebuah kota yang tidak terlalu ramai dan luas kotanya tidak terlalu luas, Shisui melihat sejenak secarik kertas yang bertuliskan alamat Kabuto, mereka mencari kesana kemari dan menanyakan di beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.
Mereka berhenti di sebuah apartemen lantai 9, Shisui dan Sasuke berjalan masuk dan mencari kamar nomer 304.
Tok..! tok..!
Pintu itu terbuka dan terlihat seorang pria dengan rambut silver dan kacamatanya.
"Sudah ku duga kalian akan datang."
Sasuke dan Shisui menatap bingung ke arah Kabuto, dia seperti sudah tahu jika mereka akan mendatanginya, Kabuto mengundang mereka masuk dengan ramah.
"Silahkan duduk, mau secangkir teh atau kopi?"
"Langsung saja, kami hanya ingin memastikan sesuatu."
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu, kalian sudah jauh-jauh datang kemari, tunggu sebentar akan ku ambil teh."
Kabuto berjalan masuk ke dalam dapurnya dan menyiapkan teh.
"Aah.~ aku benar-benar lelah." Ucap Shisui dan bersandar di sofa.
Tidak menunggu lama, Kabuto sudah keluar dengan tiga cangkir teh, Kabuto menarunya di meja dan duduk berhadapan dengan Sasuke dan Shisui.
"Kita bertemu lagi Sasuke, sudah lama sekali tidak bertemu."
"Uhm, kita hanya bertemu sekali."
"Jadi? Apa yang ingin kalian ketahui?"
"Semuanya yang kau ketahui."
"Sepertinya kita akan duduk lama disini."
"Tidak apa-apa, kami akan mendengarkan semuanya."
"Semua, semua kebohongan yang ada di keluarga Uchiha Madara."
"Apa maksud ucapanmu?"
"Baiklah, aku akan menceritakannya, tentang pengkhianatan ayahmu Uchiha Fugaku."
Sasuke sontak kaget dan detik berikutnya dia mencoba tenang. Shisui hanya sibuk dengan tehnya.
"Bisakah aku mendapatkan minuman soda?" ucap Shisui.
"Tentu Shisui, kau bisa ambil sendiri di belakang."
Shisui berjalan ke dapur dan mengambil beberapa minuman bersoda.
"Shisui jangan lakukan yang aneh-aneh" ucap Sasuke sedikit kesal dengan tingkah Shisui yang kekanak-kanakan hanya gara-gara ingin mengganti minumannya.
"Aku haus, lanjut saja pembicaraan kalian."
Kabuto kembali melanjutkannya, tentang Fugaku yang menjadi pengkhianat di dalam keluarga Madara, Sasuke sendiri tahu jika pengkhianat di dalam keluarga akan di hukum mati, dan itu sudah berlaku turun-temurun, walaupun begitu mereka masih di beri kesempatan untuk memperbaikinya namun jika mereka masih tetap menjadi pengkhianat mereka tidak akan hidup lama.
Fugaku melakukan kesalahan besar, dia menjual beberapa perusahaan Madara yang sangat menjanjikan jika di kelola, Fugaku ingin keuntungan yang lebih banyak dan ingin menjatuhkan Madara, dia ingin menjadi penguasan di Uchiha, Madara sangat marah dan memberi kesempatan untuk Fugaku, bukannya memperbaiki keadaan, Fugaku malah menjadi-jadi, dia menghancurkan beberapa perusahan kecil dan memberhentikan pekerjanya secara paksa tanpa di beri kompenisasi, bahkan satu pabrik yang di kelolahnya di sabote, dia sengaja menyuruh beberapa orang membuat kerusakan pada sebuah pabrik dan mengakibatkan beberapa pegawainya tewas akibat menghirup gas beracun. Jika seperti itu, Fugaku tidak akan di tuntut di karenakan murni sebuah kecelakaan dan Fugaku bisa mendapatkan ganti rugi secara cuma-cuma. Semua masalah ini bocor di telinga Madara, di satu malam, Madara menyuruh seseorang untuk meracuni Fugaku, Itachi mengetahui hal itu, dan orang yang di suruh untuk membuat racunnya adalah Kabuto, dia seorang ahli farmasi dan dia sangat handal dalam pembuatan obat yang baik maupun yang sangat berbahaya bahkan tidak bisa terdeteksi.
Itachi yang mengajukan dirinya sebagai orang yang menaruh racun di minuman Fugaku, Namun rencananya tidak berjalan mulus begitu saja, Fugaku tewas dan Mikoto mengetahuinya, hari dimana eksekusi mati Fugaku, Mikoto mengambil handgun Fugaku yang tersimpan di laci dan bunuh diri. Mikoto sangat malu mengetahui semua hal busuk yang di lakukan suaminya, dia merasa tidak punya muka lagi jika harus bertemu dengan Madara, ayahnya, Mikoto merasa sangat bersalah, saat Itachi tahu ibunya bunuh diri, Itachi sempat berbicara dengan ibunya dan ibunya hanya mengucapkan kalimat 'jaga adikmu, Sasuke'. Itachi sangat syok, ibunya juga ikut mati dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Waktu yang benar-benar tidak tepat, saat Sasuke terbangun dari tidurnya dan mendapati Itachi berlumuran darah bersama dengan senjata yang di pegangnya dan orang tua mereka yang tergeletak tak bernyawa.
Shisui sangat terkejut mendengarkan semua ucapan Kabuto, Sasuke tertunduk dan memegang dada kirinya kuat-kuat, serasa ada yang membuat dadanya begitu sesak dan sulit untuknya bernapas.
"Apa kau mengarang semua itu?" ucap Shisui masih tidak percaya.
"Untuk apa aku mengarangnya, itu adalah kebohongan terbesar yang di simpan oleh keluarga kalian."
"Se-semua keluargaku tahu?"
"Iya, kecuali kalian berdua."
"Kenapa hanya aku yang tidak di beri tahu" Protes Shisui.
"Kau terlalu dekat dengan Sasuke, bisa saja hal ini akan bocor begitu saja." ucap seseorang yang baru datang.
Shishui dan Sasuka terkejut mendengar sebuah suara dari arah pintu. Itachi datang, Kabuto hanya tersenyum menatap Itachi yang sudah datang.
"Maaf, Ini adalah masalah terbesar keluarga kita, biarkan saja aku yang menanggungnya."
"Kenapa kau tidak menyelamatkan ibu!" Teriak Sasuke dan berlari menghampiri Itachi, Satu pukulan keras mendarat di wajah Itachi.
"Jika saja, jika saja kau menjauhkan ibu dari ayah, dia akan selamat. Mati saja kau!"
Sasuke sangat emosi dan kembali ingin memukul Itachi dan Shisui sudah menahannya dari belakang.
"Tenanglah Sasuke, memukul Itachi tidak ada gunanya, ini sudah lama terjadi, kau harus tenang."
"Kenapa kau tidak ikut saja mati!"
"Sasuke tenanglah!."
Serasa ada yang sangat sakit di bagian dadanya, selama ini Sasuke menahan dirinya dan sekarang dia sudah lelah dengan semua keadaan yang di hadapinya, ternyata dia benar, Itachi yang membunuh orang tuanya. Bahkan itu adalah perintah langsung Madara, orang yang selama ini dia patuhi.
Shisui melepaskan Sasuke, Sasuke terduduk dan menyembunyikan wajahnya, dia menangis, merasa sangat sakit mendengar semua kebenarannya.
"Maaf Kabuto, aku sudah melibatkanmu." Ucap Itachi.
"Tidak apa-apa, harusnya aku yang berterima kasih sudah melindungiku, tapi aku sudah lelah untuk bersembunyi, aku rasa hari ini pasti akan datang, hari dimana Sasuke harus mengetahui semuanya."
.
.
.
Seminggu berlalu, seharusnya Sasuke sudah kembali ke Konoha, liburannya telah berakhir namun, dia hanya mengurung dirinya di kamarnya di kawasan Uchiha, dia juga tidak keluar kamar, keadaannya lebih parah dari pada Izuna yang dulunya mengurung diri, Madara pun bingung harus berbuat apa untuk mengembalikan Sasuke seperti biasanya, Sasuke juga tidak ingin bertemu siapapun.
Di samping itu, Sakura sedikit cemas, dia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun dari Sasuke, bahkan ini sudah masuk semester baru dan Sasuke belum juga kembali.
"Ternyata kita sekelas lagi." Ucap Ino bahagia.
"Uhm."
"Kenapa? Kau tidak bersemangat. Mana pacarmu? mana? Mana? Dari awal masuk kuliah aku tidak bertemu dengannya, kalian di kelas berbeda yaa?"
"Tidak Ino, dia belum kembali dari kawasan Uchiha."
"Apa! Belum pulang, ya ampun, terlalu bahagia selama liburan dia jadi tidak pulang-pulang."
"Aku tidak tahu, aku bahkan tidak mendapatkan kabarnya. Oh iya, kau punya nomernya Sasuke?"
"Ada."
"Bisa aku menghubunginya."
"Tentu."
Ino mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Sakura.
Nomer yang ada tuju sedang tidak aktif.
"Ponselnya tidak aktif."
"Aku kira kalian bersamaan pulang?"
"Tidak, dia masih ada urusan dan harus tinggal seminggu lagi, tapi sampai hari ini pun dia belum pulang, rumahnya masih kosong."
"Hmm, begitu yaa. Mungkin dia masih ada urusan, jadi belum bisa pulang, kau harus percaya padanya."
"Iya, terima kasih Ino."
"Pokoknya hari ini aku senang, kita bisa sekelas lagi."
Sakura hanya tersenyum melihat Ino yang bahagia.
Pelajaran telah usai dan Sakura bersiap-siap akan pulang. Terlihat seseorang yang menurutnya sangat mirip dengan Shisui sedang berdiri di gerbang dan beberapa gadis memandanginya.
Sakura yang penasaran mempercepat langkahnya dan memastikan jika orang itu adalah Shisui.
"Kak Shisui?"
"Yoo, Sakura. Kau merindukan ku?"
Sakura tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Shisui.
"Uhm, aku merindukan orang-orang yang membuat suara gaduh di sebelah rumahku."
"Hahahaha, malah itu yang di ingat."
"Ada apa?"
"Aku perlu bantuanmu, mungkin nanti akan ku jelaskan di perjalanan, apa kau bisa ke kawasan Uchiha sekarang?"
"Apa? sekarang?"
"Iya, kita tidak ada waktu lagi."
Shisui segera menarik Sakura dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah mobil, mobil itu jalan menuju ke bandara. Mereka pergi ke kawasan Uchiha dengan pesawat pribadi milik Madara.
Sakura terlihat lelah, setelah perkuliahannya kelar dia langsung di culik Shisui. Sakura tertidur di dalam pesawat.
.
.
.
Sasuke terlihat begitu pucat, dia tidak melakukan apapun, makanannya pun hanya sedikit di makannya, kamarnya terlihat begitu gelap, Sasuke tengah berbaring di kasur dengan tatapannya yang kosong. Dia seperti hilang semangat untuk hidup. Beberapa orang ingin bertemu dengannya namun hanya teriakkan marah dari Sasuke yang mereka dapat.
Tok.. tok..
Sasuke menatap kesal ke arah pintunya, sudah berapa kali pun dia berteriak tidak ingin menemui siapapun, masih ada saja yang keras kepala ingin masuk ke kamarnya.
Tok... tok...tok...tok...
Suara ketokan di pintu itu semakin menjadi-jadi, orang yang mengetuknya tidak berniat menghentikannya, ketukannya tidak berhenti sampai-sampai tangannya sudah memerah.
Sasuke sudah sangat kesal, dia akan keluar dan memarahi orang yang keras kepala di depan kamarnya dan terus saja mengetuk.
Pintu kamar Sasuke terbuka, seseorang tiba-tiba saja melompat dan memeluknya erat.
"Akhirnya kau keluar."
Sasuke sangat terkejut. Di alihkan pandangnya ke samping. Sakura. dia datang ke kediaman.
Sasuke membalas pelukan Sakura dengan begitu erat, Sasuke berjalan mundur perlahan, saat Sakura dan di sudah berada di dalam kamar, Sasuke langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Tubunya merosot begitu juga Sakura. mereka berdua terlihat lelah untuk lama-lama berdiri.
Sasuke masih belum berbicara apapun, dia terdiam dalam pelukkan Sakura. perlahan tangan Sakura bergerak ke punggung Sasuke, Sakura mengusap-ngusap perlahan punggung yang seperti hilang kekuatan.
"Kau baik-baik saja?"
Sasuke hanya mengangguk, tidak ingin Sakura khawatir. Melihat Sakura datang, membuatnya sedikit senang. Sakura melonggarkan pelukannya dan memperhatikan Sasuke, Sasuke terlihat seperti anak kecil yang sangat terpukul, dia terlihat syok dan sangat berantakan.
"Aku sedikit cemas, mendengar kau tidak ingin keluar dari kamar, Shisui datang menculikku dari kampus, kau tahu, aku baru selesai kuliah dan dia langsung mengajakku tiba-tiba. Dia bilang, mungkin aku bisa membujukmu. Aku sih, tidak yakin, aku pikir kau akan mengusirku juga."
"Terima kasih sudah datang."
"Aku tahu ini sangat berat, tapi cobalah untuk menerima keadaan sekarang, hal yang dulu tidak mungkin kau lalui lagi, kan."
"Hn, aku tahu, kau hanya belum terbiasa."
"Tidak apa-apa, kau harus pelan-pelan melakukannya."
Sementara itu di luar kamar Sasuke, semua menunggu Sakura dan Sasuke keluar.
"Apa yang kau dengar Shisui?" Tanya Itachi.
"Aku hanya mendengarkan Sakura mengucapkan 'kau harus pelan-pelan melakukannya',"
"Melakukan apa?" Ucap Itachi.
"Tidak tahu, tidak ada suara lagi."
"Jangan-jangan mereka melakukan itu?" ucap Madara.
"Hoaaahh...!" Itachi dan Shisui terkejut dengan ucapan Madara.
"Tu-tunggu dulu, mereka belum sah, mereka jangan sampai melakukan hal itu."
"Pintunya terkunci."
"Dobrak saja."
Itachi dan Shisui mendobrak pintu kamar Sasuke dengan paksa.
"Hentikan Sasuke!"
Pintu sukses terbuka dan mereka hanya mendapati Sasuke dan Sakura yang duduk berhadapan sambil berbicara. Mereka menatap orang-orang penasaran yang berdiri di depan pintu Sasuke, engsel pintunya sudah di rusak Shisui dan Itachi.
"Kami pikir kau melakukan hal itu dengan Sakura."
Hening melanda kamar Sasuke.
"Ka-kami tidak melakukannya! Tidak hal itu atau ini, ka-kalian salah paham" Sakura baru konek dan mengerti maksud ucapan Itachi dan Shisui.
"Memangnya kalian pikir apa?" ucap Sasuke datar campur kesal.
"Hehehe, tidak bermaksud mengganggu."
Sasuke menghela napas, dia tidak bisa mengurung diri lagi, pintu kamarnya di rusak.
Sakura yang masih sibuk besoknya harus segera kembali pulang, meskipun sangat lelah, dia harus kembali, tapi kali ini dia tidak kembali ke Konoha sendirian, Sasuke memilih untuk pulang ke Konoha, dia merasa perlu menemani Sakura. Selama ini dia tidak pulang dan dia merasa Sakura kesepian.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" ucap Sakura menatap Sasuke yang tengah menutup matanya di dalam pesawat perjalanan pulang ke Konoha.
"Aku tidak apa-apa."
"Kau terlihat begitu kurus dan mukamu sangat pucat."
"Kalau begitu saat tiba di Konoha kau harus memasak makanan setiap hari dan merawatku."
Sakura melempar koran yang ada di kantong tempat duduk. Sasuke terkejut dengan sebuah benda mendarat di wajahnya, membuatnya membuka mata dan melihat benda itu.
"Itu kesalahanmu sendiri, kau tidak mengurus dirimu, hanya mengurung diri saja."
"Iya, aku hanya tidak bisa menerimanya."
"Makanya kau harus terima."
"Kau pikir semudah yang kau ucapkan."
"Tentu."
Sasuke menatap kesal ke arah Sakura.
"Aku sudah mendengar semuanya dari kak Shisui, apa kak Itachi akan di tahan?"
"Tidak, dia tidak akan di tahan, hukuman mati bagi pengkhianat dalam keluarga adalah peraturan yang mutlak, Itachi tidak ingin orang lain terlibat, jadi dia yang menanggung semua akibatnya."
"Bagaimana dengan orang di tahan dulu?"
"Dia tidak di tahan, semua itu hanyalah sandiwara yang di buat-buat, agar tidak di permasalahan lebih lanjut, orang itu benar-benar tidak di tahan, karena sejak awal dia tidak bersalah, dia hanya sedang berperan menjadi orang yang bersalah."
"Lalu, kau bisa berbaikan dengan kak Itachi?"
"Entahlah, aku tidak memikirkannya. Aku masih benci padanya."
"Ya sudahlah, aku harap kalian bisa akur kembali."
Sasuke terdiam, dia tidak ingin membahas Itachi saat ini. Sasuke kembali menutup matanya dan menyadarkan tubuhnya di kursi.
"Sakura."
Sasuke melihat ke arah kursi di seberangnya dan mendapati Sakura tengah tertidur, dia sangat lelah harus pulang balik dari Konoha ke kawasan dan kembali lagi ke Konoha.
Sasuke menggeser kursi Sakura agar lebih panjang dan menjadi sebuah tempat tidur, Sasuke mengambil sebuah selimut yang berada di bagian atas kepala dan menyelimuti Sakura.
"Selamat malam Sakura." ucap Sasuke dan mengecup kening Sakura.
Sasuke kembali ke kursinya dan merebah diri, dia juga terlihat sangat lelah. Di dalam pesawat hanya ada mereka berdua, Madara menyuruh mereka pulang dengan pesawat pribadi yang menjemput Sakura.
Sasuke dan Sakura kembali ke rumahnya masing-masing, Sasuke masuk ke dalam rumah dan mendapati ruangan kosong, dia lupa jika sekarang dia akan sendirian lagi, tidak ada Itachi yang sangat pengatur dan Shisui yang tukang jahil, meskipun begitu, Sasuke cukup senang mereka datang ke Konoha dan membuat hari-harinya menjadi kesal tapi Sasuke tahu mereka berdua sangat menyayanginya.
Sasuke naik ke atas kamarnya dan merabah diri untuk kembali tidur, sekarang masih jam 2 pagi, dia masih sangat mengantuk, detik berikutnya dia sudah terlelap.
Tok..! tok..!
Sakura membuka pintu dan mendapati Sasuke yang datang pagi sekali ke rumahnya.
"Sasuke, ada apa?"
"Uhm, tidak, hanya ingin memastikan keadaanmu."
"Aku tidak apa-apa, kok, kau sendiri."
"Sudah tidak apa-apa."
"Sakura."
Sasuke ingin mengecup kening Sakura dan tiba-tiba Sakura mundur perlahan. Sasuke sedikit terkejut mendapati respon Sakura yang tidak biasanya.
"Ada apa?"
"Jangan lakukan itu."
"Kau tidak suka?"
"Bu-bukannya begitu, tapi.."
"Tapi apa?"
"Sakura, kau sudah bangun?"
Terdengar sebuah suara wanita yang berjalan ke ruang tamu. Sasuke melirik sejenak dan melihat seorang wanita yang mirip Sakura namun sudah tidak muda lagi. Pandangan Sasuke kembali ke Sakura yang wajahnya sudah merona.
"Dia Ibuku." Ucap Sakura sangat pelan, berharap hanya Sasuke yang mendengarnya.
Akhirnya Sasuke tahu sikap aneh Sakura tadi, dia malu jika ibunya melihatnya.
"Oh, ada tamu? Kenapa tidak kau suruh masuk, Sakura?"
"Selamat pagi, perkenalkan nama ku Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Uchiha Sasuke? oh, Sasuke yang ini yaa, ibu setuju."
Wajah Sakura seperti sudah meledak mendengar ucapan ibunya.
"A-apa maksud ibu?" Sakura gugup setengah mati.
"Ibu hanya bilang setuju, dia sangat tampan dan ramah."
"I-ibu."
"Kalian semangat sekali sampai bangun pagi." Ucap ayah Sakura yang juga baru bangun.
"Ayah, lihatlah, anak kita memperkenalkan calonnya."
"Calon! Sakura, kau sudah punya calon, kau tidak peduli pada ayah lagi sampai harus mencari pria lain."
Satu jitakan mendarat di kepala ayah Sakura.
"Maaf yaa, suamiku memang seperti ini kalau pagi, dia mungkin belum bangun sepenuhnya, kalian lanjutkan saja ngobrolnya, kami ke dapur dulu yaa." Ucap Ibu Sakura.
Ibu Sakura menarik paksa ayah Sakura yang masih belum bisa melepaskan anak gadis semata wayangnya untuk orang lain.
"Mereka memang selalu begitu."
Sakura terkejut melihat tatapan Sasuke yang membantu. Dia baru sadar, jika sudah bertemu dengan calon mertuanya dengan keadaan seperti ini, sedikit berantakan karena baru bangun dan hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana selutut.
"Sasuke. ada apa?"
"Tidak, aku sebaiknya siap-siap ke kampus dulu."
"Baiklah, dah."
"Hn."
Sasuke berlari menuju rumahnya dengan tergesa-gesa, perasaan malu tertancap di kepalanya.
Beberapa hari kemudian orang tua Sakura pamit untuk segera pergi dari Konoha, ada bisnis lagi yang membuat orang tua Sakura harus ke luar kota. Sasuke dan Sakura mengantar mereka di bandara, orang tua Sakura sangat menyukai Sasuke. Mereka merestui hubungan Sasuke dan Sakura, mereka berharap Sasuke dan Sakura nantinya akan segera menikah, membuat Sakura tidak bisa menghilangkan wajah meronanya. Sasuke berjanji akan menjaga Sakura hingga waktunya.
Terasa seperti ada yang menyebar aura suram, benar saja, Sakura terlihat suram di mejanya. Dia hanya membaringkan kepalanya di mejanya, sesekali Sakura terlihat menghela napas, seperti sedang kepikiran akan sesuatu.
"Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" tanya Ino yang sejak tadi melihat Sakura bersikap aneh.
"Aku baik-baik saja, Ino."
"Kau terlihat tidak bersemangat."
"Aku semangat kok, hanya tidak terlihat."
"Jika kau ada masalah bicarakan saja."
"Masalahnya adalah tidak ada. Jadi tidak perlu bicarakan."
"Bahkan ucapanmu sangat aneh."
"Dosen datang."
Sakura tidak ingin menceritakan masalah suram dan bodohnya, dia rindu satu kelas dengan Sasuke, gara-gara Sasuke telat pulang dan beberapa minggu yang lalu baru mengurus jadwal, akhirnya tidak ada satu pun kelas yang bersamaan dengan Sasuke.
Di pikiran Sakura 'Sasuke sedang apa yaa?', tanpa di sadari Ino memperhatikan Sakura yang terlihat melamun, memang ada yang tidak beres menurut Ino.
Pelajaran berakhir, Ino dan Sakura berpisah, Ino sudah di tunggu Sai di depan gerbang. Sakura yang ingin mencari buku sebelum pulang, berjalan menuju perpustakaan, Sakura berhenti berjalan dan melihat orang yang sangat di rindukannya, Sasuke, meskipun agak jauh, Sakura hanya ingin melihatnya di kampus, seperti biasa, tampilan Sasuke membuatnya deg-deg-an, pacarnya memang paling perfect menurut pandangannya. Namun raut wajah Sakura berubah, Sasuke terlihat tengah berjalan bersama seorang gadis berkacamata dan rambut merahnya, gadis itu terlihat begitu pintar dan lebih dewasa, tapi Sakura baru melihatnya, mungkin mahasiswi pindahan.
Sakura kembali berjalan menuju perpustakaan, mungkin Sasuke dapat teman baru, soalnya teman-teman satu gengnya terpisah-pisah, Shikamaru, Kiba, dan Chouji sekelas, hanya Naruto yang sekelas dengan Sasuke.
Hari sudah sangat sore, Sakura segera menuju pengawas perpustakaan untuk meminjam buku yang akan di gunakannya. Sakura berjalan keluar gerbang dan menuju halte bus. Bahkan sore ini pun dia tidak menemukan Sasuke, Sasuke pulang lebih awal, tapi biasanya Sasuke akan menunggu atau dia melupakan Sakura. pikiran negatif berputar-putar di kepala Sakura dan segera di hilangkannya.
Sakura berjalan menuju rumahnya. Liriknya sejenak rumah Sasuke saat melewatinya. Lampu rumahnya sudah menyala, Sasuke sudah pulang sepertinya, Sakura segera masuk ke rumah dan mulai membuat makan malam untuknya. Di liriknya lagi rumah Sasuke dari arah jendelanya, tampak sangat sepi, mungkin dia sedang istirahat, pikirnya lagi.
Setelah makan dan mandi, Sakura segera membaringkan diri di kasurnya, sedikit lelah untuk hari ini membuatnya memilih tidur meskipun belum larut, ini masih pukul 21:10.
.
.
.
Lagi-lagi Ino mendapati wajah suram.
"Sakura, jika ada masalah, kau harus menceritakannya."
"Aku tidak sedang bermasalah Ino."
"Beberapa hari ini sikap mu sangat aneh. Apa.. ada hubungannya dengan Sasuke?"
"Eh, t-tidak, tidak ada hubungannya dengan Sasuke."
"Kalian tidak sedang bertengkar kan?"
"Tidak, kami tidak pernah bertengkar."
Sakura lupa jika saat di kawasan Uchiha, mereka sedikit bertengkar.
"Kalau begitu, jangan berwajah suram setiap hari."
"Wajahku suram? Aku tidak merasakannya."
"Aku yang melihat wajahmu, Sakura. Ya sudah, jika memang tidak ada apa-apa, aku tidak akan menanyakannya lagi."
Sakura terdiam, dia tengah berpikir akan sikapnya beberapa hari ini, dia merasa baik-baik saja, mungkin karena rasa rindunya kepada Sasuke dan sedikit merasa tidak enak ketika melihat Sasuke sibuk mengobrol dengan gadis lain, tapi dia merasa tidak perlu seegois itu, Sasuke bukan orang yang harus dia kurung, Sasuke juga bebas melakukan apapun yang di sukainya, lama-lama memikirkan Sasuke membuatnya sakit kepala.
"Aku absen hari ini yaa." Sakura beranjak dari kursinya.
"Kenapa?"
"Kepalaku sakit, mungkin aku di ruang UKS saja."
"Baiklah, nanti aku akan menemuimu jika mata kuliah ini selesai."
"Iya."
Sakura berjalan perlahan menuju ruang UKS, di sana ada seorang dokter magang, namanya Shizune, dia dari fakultas kedokteran dan memilih untuk magang di UKS fakultas Sakura.
Sakura mengetuk perlahan dan di persilahkan masuk oleh Shizune.
"Kau baik-baik saja Sakura?"
Shizune yang lumayan lama magang beberapa semester, hampir mengingat siapa-siapa yang sudah pernah mendatangi UKS termasuk Sakura.
"Kepalaku sedikit sakit."
"Kemarilah, akan aku periksa."
Sakura berbaring dan di periksa oleh Shizune. Shizune pikir tekanan darah Sakura rendah, Sakura di tensi dan ternyata tekanan darahnya normal.
"Kau hanya kelelahan."
"Oh."
"Berbaringlah dulu, mungkin kau butuh istirahat."
"Kak Shizune."
"Iya?"
"Kenapa tidak magang di rumah sakit?"
"Kenapa yaa.. uhmm, mungkin karena terlalu sibuk, hehehehe di sini aku santai."
"Kau tidak apa-apa di sini sendirian?"
"Tidak apa-apa kok, beberapa temanku sering datang bahkan beberapa mahasiswa di sini suka mendatangiku, mereka sangat baik."
Yang terlintas di pikiran Sakura adalah mereka sibuk menggombail Shizune yang bisa di bilang dokter muda yang cantik, berbakat bahkan Shizune belum memutuskan untuk mencari pasangan.
"Mereka cuma menarik perhatian kak Shizune."
"Ahk, biarkah saja mereka, yang penting mereka baik kan."
Sakura berwajah datar, Shizune yang kelewatan baik, menganggap semua itu hal yang wajar yang tidak perlu di permasalahkan.
"Uhm, apa kak Shizune tahu tentang mahasiswi baru?"
"Mahasiswi baru yaa. Oh ada, dia datang waktu awal semeter baru. Dia mahasiswi pindahkan, katanya dia setara dengan Shikamaru."
Sedikit cerita tentang teman satu geng Sasuke yang sering di bawa ke UKS adalah Chouji yang suka sakit perut. Meskipun Chouji yang sakit mereka semua sibuk datang ke UKS hanya untuk menemani Chouji, hal itu membuat Shizune hapal teman satu geng Sasuke.
"Setara?"
"Iya, tapi katanya dia mengambil posisi Shikamaru dan Shikamaru berada di bawahnya."
"Dia pintar juga yaa."
"Iya-iya."
Sakura menutup matanya dan mencoba mengistirahatkan dirinya.
"Apa aku perlu minum obat?"
"Tidak perlu, kalau bisa hilang dengan istirahat, kau tidak perlu minum obat."
Seseorang mengetuk pintu UKS dan Shizune mempersilahkannya masuk.
"Apa Sakura ada disini?"
Suara yang sangat di hapal Sakura membuatnya terbangun dari kasur dan mengintip ke arah pintu. Sasuke datang ke ruang Uks.
"Ada, masuk saja ke dalam, dia sedang berbaring." Ucap Shizune.
Sakura yang melihat Sasuke mulai berjalan menuju ruangan untuk berbaring segera membaringkan dirinya dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut.
"Hei, kau baik-baik saja?"
Sakura hanya mengangguk di dalam selimut.
"Dia sakit apa Shizune?"
"Hanya kelelahan dan sakit kepala."
Sasuke menarik kursi ke sisi ranjang dan duduk. Menatap Sakura yang tidak ingin keluar dari selimutnya.
"Eh, aku mau keluar cari minum, kalian jaga UKS yaa." ucap Shizune.
"Iya."
Pintu ruangan UkS terdengar berbunyi saat Shizune sudah keluar, kini hanya Sasuke dan Sakura yang ada di ruang UkS.
Sasuke mencoba menarik selimut Sakura namun di tahannya, semakin Sasuke menariknya dengan paksa, semakin Sakura tidak ingin melepaskan selimutnya.
"Memang ada yang aneh."
"Apa maksudmu?"
"Aku dapat pesan dari Ino, kau akhir-akhir ini bersikap aneh, seperti orang yang sedang kena anemia, dan bahkan kau absen, tidak biasanya kau absen."
"Kau tidak dengar ucapan Shizune tadi."
"Aku dengar. Kelelahan dan sakit kepala."
"Nah, kan kau sudah tahu kenapa aku absen."
"Hn."
"Kembalilah ke kelasmu, aku akan baik-baik saja disini."
"Aku akan kembali jika Shizune sudah berada di ruangan ini."
"Dia akan lama, kau pikir kantin di fakultas kita dekat."
"Aku akan menunggu sambil menemanimu. Bisa kah kau membuka selimut ini."
"Tidak mau, nanti sakit kepalaku tertular."
"Kau ini."
Kesabaran Sasuke habis, dengan sedikit keras Sasuke menarik selimut Sakura dan sukses membuat selimutnya itu jatuh ke lantai. Sakura terkejut dan langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Mana ada sakit kepala akan tertular."
"Bisa saja."
"Jangan mengarang cerita tidak jelas, kau ada masalah?"
Sakura membuka kedua tangannya dan tidak ingin menatap langsung Sasuke.
"Aku tidak punya masalah."
"Kenapa tidak menatapku?"
Sakura tidak menjawab dan tetap tidak ingin menatap Sasuke.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke kelas."
"Uhm, aku akan berbaring saja sampai kak Shizune kembali."
Sasuke mengecup pipi Sakura. "Cepat sembuh, setelah pelajaranku selesai aku akan mengantarmu pulang."
Sasuke sudah berjalan keluar dan Sakura kembali berbaring, memegang pipinya bekas kecupan Sasuke, wajahnya merona, Sasuke masih peduli padanya, dia tidak ingin berpikiran aneh-aneh lagi tentang Sasuke.
.
.
.
Dosen pelajaran terakhir selesai, Sasuke berdiri dari kursi dan berjalan keluar.
"Mau ke rumah Shikamaru?" Tanya Naruto.
"Uhm, tidak, mungkin lain kali, sampai kan maafku pada Shikamaru yaa."
"Oke."
Sasuke sudah berada di koridor dan seseorang menghampiri Sasuke
"Mau langsung pulang?" ucap Karin.
Karin adalah mahasiswi pindahan yang sering di bicarakan di kampus Konoha, seorang gadis yang berhasil menggeser peringkat Shikamaru, yaa meskipun Shikamaru tidak pernah mengganggap serius tentang peringkatnya. Sampai-sampai membuat Kiba dan Naruto sedikit iri dengan sikap cuek Shikamaru namun nilainya tetap bagus.
"Aku mau ke UKS."
"Kau sakit ?"
"Tidak. Mau menemui seseorang."
"Sepertinya penting, kau sampai mengabaikanku."
"Iya, sangat penting."
"Uhm, kalau begitu sampai besok. Eh, jangan lupa tugas kelompok besok?"
"Iya."
Sasuke berjalan sedikit cepat menuju UKS, dia tidak ingin membuat Sakura menunggu lama. Dari kejauhan Karin menatap Sasuke dengan perasaan sedikit kecewa. Sasuke mengucapkan seseorang yang penting itu dengan lantang, seorang pacar, Sasuke punya pacar. Karin sedikit terkejut, dia tidak tahu kalau selama ini Sasuke mempunyai pacar, bahkan beberapa mahasiswa pun tidak ada yang membahas pacar Sasuke, apalagi yang para-para gadis di kampus, mereka masih menatap penuh harap jika suatu saat nanti mereka bisa berpacaran dengan Sasuke. Karin segera berjalan menuju gerbang kampus.
Di ruang UKS, Sasuke masuk dan mendapati tiga orang gadis yang sedang sibuk berbicara dan sempat membuat mereka tertawa bersama.
"Apa aku mengganggu?"
"Kau lama Sasuke." Ucap Ino yang sejak tadi menemani Sakura.
"Dosen terakhir sedikit lama keluar. Bagaimana keadaan mu sekarang?"
"Jauh lebih baik."
"Pastikan dia beristirahat yaa, Sasuke." ucap Shizune.
"Hn, akan aku ingatkan dia."
"Kak Shizune, kau pikir aku anak kecil yang hanya ingat bermain saja." Protes Sakura.
"Yaa, kau memang seperti itu Sakura, hahahaha" Ucap Ino.
"Apa nona Haruno sudah bisa ku bawa pulang?"
"Hahahaha, bawa saja dia, kalau perlu di gendong." Ucap Ino.
"Ino!" Ucap Sakura.
"Maaf-maaf, kalau begitu aku pulang duluan yaa, dah kak Shizune."
"Dah, aku juga sebentar lagi akan pulang."
"Terima kasih atas hari ini Kak Shizune."
"Tidak masalah, itu sudah kewajibanku merawat orang sakit."
Sakura tersenyum ke arah Shizune. Mereka segera pamit dan keluar bersama. Ino sudah sejak tadi berlarian keluar karena di tunggu Sai di depan gerbang.
Sasuke dan Sakura sudah berada di atas motor, Sakura merangkul pinggang Sasuke sedikit erat. Membuat Sasuke merasa ada yang tidak beres.
"Kau baik-baik saja? Apa masih sakit?"
"Uhm, sudah tidak sakit lagi."
"Hn."
Sasuke tidak bertanya apa-apa lagi, mungkin Sakura masih merasa ngantuk dan merangkulnya sedikit erat agar tidak jatuh. motor Sasuke keluar gerbang dan sudah melaju di jalan raya.
"Aku hanya sedikit merindukkanmu."
"Apa? Kau bilang apa tadi?"
"Tidak-tidak."
Suara angin mengalahkan suara Sakura. Sasuke tidak terlalu jelas mendengarkan ucapan Sakura.
Karin melihat mereka, melihat seorang gadis yang di bonceng Sasuke, gadis dengan rambut softpink, dia bisa menebak kalau gadis itulah pacar Sasuke, dia jadi tidak suka dengan gadis itu.
Sesampainya di depan gerbang rumah Sasuke, Sakura turun dan mendorong pagar rumah Sasuke. Motor Sasuke masuk ke dalam garasi dan Sakura menunggu Sasuke turun dari motornya.
"Terima kasih sudah mengantarku."
"Kenapa berterima kasih? Bukannya sudah biasa kita pulang bersama."
"Oh iya. Hehehe."
"Kau aneh sekali. Jika punya masalah ceritakan saja, aku tidak suka jika ada yang kau sembunyikan."
"Tidak, aku tidak punya masalah apa-apa."
"Bisa masakkan sesuatu untukku malam ini?"
"Tentu."
"Mungkin di rumahku saja biar kau tidak repot beres-beres dapur lagi."
"Aku simpan tas dan ganti baju dulu."
"Hn, aku tunggu."
Sakura bergegas ke rumahnya dan melakukan yang tadi di ucapkannya, Sasuke berjalan masuk ke rumahnya dan segera mengganti pakaiannya juga.
Setelah semua masakan selesai, Sasuke dan Sakura segera menyantap makan malamnya.
"Kemarin kau kemana?" Tanya Sasuke.
"Aku? Aku di kampus."
"Sorenya?"
"Di perpustakaan."
"Pantas saja. Aku tidak menemukanmu."
"Kau mencariku?"
"Iya, aku mencarimu untuk pulang bersama, tapi kelas mu sudah kosong, bahkan Ino pun sudah tidak ada."
"Kelas ku pulang lebih awal, tapi aku singgah di perpustakaan."
"Lain kali bisa kah kau mengunjungi kelasku dulu sebelum pergi ke tempat lain biar aku bisa menemukanmu."
"Iya."
Sasuke memperhatikan Sakura, sikapnya tidak seperti biasanya, dia terlihat melamun dan tidak tampak jika dia sedang bersamanya, Seperti Sakura berada di dunia lain, berada di alam pikirannya sendiri.
Sasuke dan Karin sering terlihat bersama, awalnya saat Shikamaru di mintai sebagai orang yang akan mengajak Karin berkeliling kampus namun di tolaknya. Shikamaru malah menunjuk Sasuke, Sasuke yang baru tiba di konoha langsung di beritahukan wakil dekan untuk menemani Karin untuk memperkenalkan kampus mereka.
Beberapa orang beranggapan mereka mungkin pacaran, Sasuke yang mendapat peringkat pertama dan Karin yang sebagai pendatang baru langsung mendapat peringkat kedua.
Tidak sedikit gadis-gadis di kampus iri kepada Karin, mereka terlihat sangat akrab, namun sedikit membuat Sakura menjadi tidak senang, beberapa kali Sakura melihat mereka jalan bersama di kampus, sebenarnya tidak ada yang perlu di permasalahan, mereka sekelas, punya posisi yang penting di kampus, mereka seperti maskot bagi kampus Konoha.
Sakura hanya menopang dagunya di dalam kelas, beberapa mahasiswa memilih untuk keluar sejenak sebelum melanjutkan pelajaran, hanya terlihat beberapa orang dan Ino sibuk memperhatikan Sakura yang entah kemana pikirannya.
"Jangan melamun." Ucap Ino dan mencubit pipi Sakura.
"Aku tidak melamun."
"Hei, mau dengar gosip terbaru."
"Gosip?"
"Iya, katanya Sasuke dan gadis pindahan itu pacaran."
"Masa! Apa itu benar?"
"Dasar bodoh, aku tidak akan percaya, jelas-jelas aku bersama pacar Sasuke yang asli."
"Tapi mereka sering terlihat bersama."
"Mereka hanya teman, Sakura."
"Iya, hanya teman akrab."
"Jangan-jangan."
"Apa?"
"Jangan-jangan kau cemburu, kau cemburu yaa."
"Ha! A-aku tidak cemburu kok."
"Tidak mungkin, pasti kau cemburu, ya ampun Sakura, baru kali ini aku melihatmu cemburu pada Sasuke."
"Kau salah paham Ino, aku tidak cemburu."
"Lalu, perubahan sikapmu beberapa hari ini, eh bukan, sudah beberapa minggu ini, ada penjelasan tersendiri?"
"Tidak ada."
"Terus?"
Sakura tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, Ino bisa membaca situasinya sekarang, Sakura terkesan panik akan masalahnya sendiri yang Ino bisa simpulkan.
"Uhm, sebaiknya tidak usah di bahas."
"Baik-baik, aku percaya dengan Sasuke mu, dia akan selalu bersamamu meskipun di kena badai sekarang, badai gosip, cieee."
.
.
.
Sakura terkesan menghindari Sasuke. bukannya pergi mencari Sasuke seperti yang Sasuke katakan padanya, dia malah pergi ke cafe dan menyendiri. Dia terlihat galau.
Sementara itu, Sasuke sibuk mencarinya lagi, dia tidak menemukan Sakura, saat bertemu dengan Ino, Ino pikir Sakura sudah pulang duluan karena pelajaran mereka sudah selesai.
Sasuke merasa sedikit kesal dengan Sakura yang selalu saja tidak mengabarinya jika ingin pergi.
"Hei, mencari seseorang?" Karin datang menghampiri Sasuke.
"Hn, aku mencari orang bodoh yang tidak mendengarkan ucapanku."
"Orang bodoh? Naruto?"
"Bukan."
"Siapa?"
"Ahk, sudahlah, aku sedang malas membahasnya. Ngomong-ngomong ada lagi yang mau kau tanya tentang tugas kemarin?"
"Uhm, mungkin beberapa hal lagi, mau mampir sebentar?"
"Boleh."
Sasuke dan Karin berjalan ke cafe yang berada dekat dengan kampus.
.
.
.
Di cafe yang tidak jauh dari jalan menuju rumah Sakura, dia sedang membaca sebuah novel, memesan minuman dan beberapa kue, mungkin dengan menyendiri sambil membaca akan membuatnya lebih tenang, dia sedang berusaha membuang pikiran jeleknya tentang Sasuke dan tentang gadis pindahan yang seakan-akan ingin merebut Sasuke darinya.
"Boleh aku duduk disini?"
Sakura tidak memperhatikan orang itu, dia tetap fokus pada novelnya.
"Silahkan saja."
Sakura tidak ambil pusing dengan orang yang akan duduk satu meja dengannya, meja ini bisa di duduki oleh empat orang, mungkin beberapa meja sudah penuh dan Sakura tidak keberatan berbagi tempat, lagi pula dia hanya sendirian.
"Bahkan orang asing pun kau ijikan untuk duduk bersamamu."
Sakura sedikit terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang sudah duduk berhadapan dengannya.
"Hoaaaaa! Sasuke!" teriak Sakura.
Seluruh orang yang di cafe sedikit terkejut mendengar suara yang keras dari meja Sakura, Sakura segera berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf sudah membuat suara ribut.
"Kenapa berteriak? Membuatku terkejut saja."
"Maaf."
"Kau ingat apa yang ku ucapkan beberapa hari yang lalu."
"Apa?"
"Bahkan hal itu kau lupa."
"Aku hanya tidak ingat."
"Kau pergi ke cafe tanpa mengabariku."
"Memangnya kalau aku pergi kemana-mana harus ijin darimu?"
"Tentu saja, biar aku bisa tahu kau ada dimana?"
"Aku tidak mau."
Sakura menaruh beberapa uangnya dan segera pergi dari cafe.
"Sakura, tunggu dulu."
Sakura tidak mendengar ucapan Sasuke dan segera menaiki bus yang pas sedang berhenti di halte, bus dengan jalur berbeda ke arah rumahnya.
Sasuke hanya mematung menatap Sakura pergi. Dia sendiri bingung harus berbuat apa dengan tingkah Sakura yang sangat-sangat berubah. Dia merasa tidak berbuat salah pada Sakura.
Sasuke pulang dan mendapati rumah Sakura masih kosong, pagarnya terbuka tapi pintunya terkunci, Sakura masih cereboh dengan lupa mengunci pagarnya.
Sudah tengah malam dan Sakura tidak juga pulang, Sasuke terlihat cemas dan mondar-mandir di teras rumahnya.
"Ahk, kenapa anak itu tidak mau pakai ponsel sih, jadi susah begini kalau mau di hubungi." Kesal Sasuke.
Sementara itu di rumah Ino.
"Tumben kau mau menginap." Ucap Ino yang sedang mengambilkan baju tidur untuk Sakura.
"Hehehe, maaf dadakan. Aku membuat kesalahan tadi siang."
"Apa?"
"Meninggalkan Sasuke tanpa ada penjelasan."
"Kalau begitu kau pulang sekarang."
"Ino, kau kejam sekali, ini kan sudah tengah malam."
"Kalau begitu aku akan menghubungi Sasuke, biar dia yang menjemputmu."
"Jangan, jangan Ino, tolong lah untuk hari ini saja biarkan aku menginap di rumahmu."
Ino menghela napas dan meng-iya-kan permintaan sahabatnya. lagi pula sudah lama sekali Sakura tidak pernah mengiinap di rumahnya, terakhir saat mereka masih sekolah.
.
.
.
Sakura pulang pagi-pagi, dia harus kembali ke rumahnya untuk mengambil buku dan berganti pakaian. Untung saja bus sudah ada di pagi hari.
Sakura berjalan menuju rumahnya, sejenak Sakura melirik ke arah rumah Sasuke. Sakura seperti melihat seseorang yang tengah tertidur di kursi teras. Mungkin perasaannya saja, Sakura kembali melihat teras rumah Sasuke, ternyata itu bukan perasaannya, ada orang yang sedang tertidur di teras dan dia adalah Sasuke. Sakura berlarian masuk dan menghampiri Sasuke.
"Sasuke, bangun."
Sasuke membuka matanya perlahan dan mendapati Sakura sedang berdiri di hadapannya.
"Kau sudah pulang?"
"Itu tidak penting, kau harus masuk ke dalam."
Sakura memaksa Sasuke bangun dan menariknya ke dalam rumah, Sasuke masih terlihat mengantuk. Sasuke yang masih setengah sadar tidak memperhatikan langkahnya dan terjatuh bersama dengan Sakura.
Sakura menutup matanya rapat-rapat, dia jatuh dengan Sasuke, namun Sakura merasa seseorang menahan kepalanya agar tidak berbenturan dengan lantai, Sakura membuka matanya dan mendapati posisinya dengan Sasuke di ruang tamu, Sasuke berada di atas Sakura, dia menopang tubuhnya dengan tangan dan lututnya agar tidak menindih Sakura.
"Dari mana saja kau?"
"Aku nginap di rumah Ino."
"Kenapa Kau tidak mengabariku?"
Sakura mengalihkan pandangannya. Posisi mereka membuat Sakura sedikit malu.
"Bisakah kau berdiri sekarang Sasuke."
"Kau tidak merespon pertanyaanku."
"Maaf."
"Kenapa kau pergi begitu saja kemarin?"
"Aku hanya, uhm, itu, aku hanya sedang ingin sendirian."
"Tanpaku?"
"Uhm, begitulah."
"Kau membuatku cemas."
"Kau tidur di teras semalaman?"
"Kau pikir apa? Semalaman aku menunggumu dan kau tidak pulang-pulang." Nada Sasuke sedikit meninggi, dia terlihat marah.
"Maaf."
"Aku bosan kau minta maaf!"
Sakura terkejut, Sasuke membentaknya. Tubuh Sasuke perlahan menurun, semakin dekat dengan Sakura.
"Sasuke."
"Jangan panggil namaku."
"Sasuke, jangan!"
Serasa ada yang aneh, Sasuke berbaring di samping leher Sakura dan tidak bergerak. Hembusan napas yang panas menjalar di sekeliling leher Sakura, tangan Sakura bergerak dan memegang kening Sasuke, dia demam. Tidur di luar membuat Sasuke masuk angin dan langsung demam.
Sakura menghela napas dan mencoba keluar dari tindihan Sasuke. kamar Sasuke berada di lantai atas, kalau saja masih ada Itachi atau Shisui akan lebih mudah, tapi Sakura hanya sendirian, Sakura menyeret Sasuke ke arah kamar tamu yang ada berada di lantai bawah, mengangkat Sasuke pun tidak mungkin, dia lebih berat dari pada Sakura.
Dengan memaksakan lebih kekuatannya, Sakura berhasil menarik Sasuke sampai ke atas ranjang. Menyelimuti Sasuke dan segera berlari ke arah dapur untuk mengambil kompresan air hangat. Setelah mengompres kening Sasuke, Sakura segera memasak bubur dan mengambil beberapa jamur kancing di dalam kulkas untuk di tambahkan ke dalam bubur. Sepertinya dia tidak akan pergi ke kampus siang ini, tidak ada yang akan menjaga Sasuke. Sambil menunggu bubur matang, Sakura segera kembali ke rumahnya, mandi dan berganti pakaian.
Beberapa menit berlalu. Sakura sudah menyiapkan bubur dan obat untuk Sasuke.
"Sasuke."
Yang di panggil membuka matanya perlahan, tubuhnya sangat panas, kepala dan tubuhnya terasa nyeri.
"Sebaiknya kau makan dulu."
Sasuke hanya mengangguk, Sakura membantu Sasuke bangun dan menempatkan sebuah bantal di punggung Sasuke untuk di sandari kemudian Sakura menyuapkan bubur untuk Sasuke.
Semangkok bubur habis, Sakura memberikan beberapa butir obat untuk Sasuke dan kembali ke dapur untuk menyimpan mangkok kotor. Sakura kembali ke kamar dan melihat Sasuke sudah kembali berbaring. Sakura mengganti kompres Sasuke.
"Aku merepotkanmu?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak merasa repot. Maaf, jika saja aku pulang dan tidak nginap di rumah Ino, kau tidak akan sakit seperti ini."
"Aku tidak sadar kalau sudah tertidur di teras."
"Maaf lagi, aku pergi dan tidak mengatakan apa-apa padamu."
"Sudahlah, hari ini kau terlalu banyak minta maaf. Mungkin sebaiknya aku yang sedikit memberimu kebebasan."
"Tidak apa-apa, aku tahu kau hanya khawatir."
"Kau selalu membuatku cemas."
"Ma-"
"Tidak ada kata 'maaf' lagi."
Sakura tersenyum dan mengusap-ngusap pipi Sasuke.
"Aku akan menemanimu."
"Terima kasih. Bisa ambilkan ponselku di ruang tamu."
"Tunggu, akan aku ambilkan."
Sakura berjalan ke ruang tamu dan mengambil ponsel hitam Sasuke.
"Tolong hubungi Naruto."
"Aku?"
"Iya."
Sakura mengusap layar ponsel Sasuke dan wallpaper yang muncul adalah fotonya yang tengah tertidur.
"Se-sejak kapan kau mengambil foto ini"
"waktu kerja kelompok di rumahmu."
"Hapus!"
"Jangan, ini foto yang langkah."
"Dasar, seenaknya menyimpan foto orang."
"Asal kau tahu saja, orang itu pacarku dan aku tidak keberatan menggunakan fotonya sebagai wallpaper."
Sasuke yang sakit namun wajah Sakura yang lebih memerah.
"Cepat hubungi Naruto, jangan permasalahkan foto pacarku lagi."
Jika saja Sasuke tidak sakit, Sakura sudah mengayungkan kepalang tangannya untuk memukul Sasuke, meskipun ucapan Sasuke terkesan lucu baginya.
"Woi teme, kau terlambat!"
Sakura segera menjauhkan ponsel Sasuke dari telinganya, Suara Naruto terdengar sangat keras dan cempreng.
"Jangan berbicara dengan keras seperti itu!" Sakura lebih menaikkan nada suaranya.
"Sakura? kau bersama Sasuke?"
"Iya, dia sedang terbaring lemah."
Sasuke langsung mencubit pipi Sakura tidak terima dengan ucapan 'lemah'nya, Sakura menepis tangan Sasuke dan melotot tidak suka ke arah Sasuke.
"Sasuke sakit?"
"Iya, dia sedang sakit, bisakah kau meminta ijin untuk Sasuke."
"Oh, baiklah, nanti kami akan menjenguknya. Sampai kan salamku padanya, katakan padanya. Ciee..ciee.. yang di rawat Sakura."
Raut wajah Sakura semakin merona dengan singgungan dari Naruto.
"Apa yang dia ucapkan?"
"Katanya dia dan yang lainnya akan menjengukmu."
"Ahk, mereka itu palingan datang hanya bikin ribut."
"Apa lagi yang di ucapkannya?"
"Ti-tidak ada."
"Wajahmu memerah."
"Jangan katakan itu!"
Sakura segera menutup wajahnya, dia sangat malu harus berwajah seperti itu di hadapan Sasuke.
"Apa kau akan di sini?"
"Uhm sepertinya, aku akan menemanimu."
"Jika kau lelah, sebaiknya kau istirahat."
"Iya."
Efek obat mulai membuat Sasuke merasa mengantuk, detik berikutnya dia sudah tertidur. Sakura memperbaiki selimut Sasuke dan kembali mengganti kompresnya.
Sasuke mendengar suara orang membangunkannya, sedikit samar-samar, seperti suara Sakura, namun tiba-tiba berubah menjadi suara Naruto, Naruto tepat berada di atas Sasuke dan ingin menciumnya.
"Bangunlah Sasuke, dengan ciuman ala pangeran ini kau akan sembuh...~"
Sasuke langsung mendorong Naruto dan menjitak keras kepala Naruto.
"Apa-apaan kau!"
"Ya ampun, padahal aku hanya bercanda kau malah memukul beneran."
Shikamaru, Kiba, chouji dan Sakura berlari ke arah kamar dan mendapati Sasuke dengan wajah kesal menatap ke arah Naruto dan menatap ke arah mereka.
"Hei Sasuke kau sudah bangun?" ucap Kiba.
"Padahal aku sudah melarangnya untuk membangunkanmu, dasar kau Naruto." Ucap Shikamaru.
"Tidak akan seru jika tuan rumahnya tidak bangun saat kita bertamu."
Satu jitak kembali mendarat di kepala Naruto.
"Maaf, Sasuke."
Sasuke kembali ke kasurnya dan bersandar. Mereka datang, padahal sedang sibuk di kelas masing-masing.
"Maaf, kami datang hanya membuat keributan." Ucap Shikamaru.
"Ahk, benar sekali, terutama Naruto."
"Aku kan sudah minta maaf Teme!"
"Sudahlah, sebaiknya kalian kembali ke ruang tamu." Ucap Sakura.
"Sasuke aku ambil cemilan keripikmu yaa." Chouji sudah kelaparan akan cemilan.
"Iya, ambi saja. Tempatnya tidak berubah kok."
Chouji masuk ke dapur dan membuka lemari yang isinya berbagai keripik dengan rasa yang beragam.
"Seperti biasanya, lemari ini tidak pernah kosong." Ucap Chouji sambil mengambil tiga bungkus.
Shikamaru, Kiba, dan Naruto kembali ke ruang. Sakura masih berada di kamar Sasuke.
"Sejak kapan mereka datang?" tanya Sasuke
"Sejam yang lalu, Naruto tidak bisa diam dan ingin sekali mengganggumu." ucap Sakura.
"Dasar anak itu."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Jauh lebih baik."
Suara bel dari arah pintu, terdengar Naruto sudah membuka pintu dan mendapati Karin yang datang.
"Karin, kau datang juga?"
"Iya, aku dengar Sasuke sakit, aku hanya ingin menjenguknya."
"Masuklah, Sasuke berada di kamar, tunggu saja di sini akan aku panggil."
"Eh, tidak apa-apa jika di panggil, aku pikir dia sedang Sakit."
"Tidak apa-apa, dia memang akan ke ruang tamu kok."
"Hei Karin salam kenal, namaku Inuzuka Kiba."
"Salam kenal."
"Wah, kau ya yang menggeser posisi Shikamaru. Kau hebat sekali."
"Terima kasih, tapi aku dan Shikamaru tidak terlalu jauh kok, dia juga sama hebatnya."
Shikamaru tidak menanggapinya, dia tidak terlalu suka membahas posisi atau peringkat atau hal-hal yang menurutnya biasa, Chouji datang dengan keripiknya dan langsung Kiba mengambil satu bungkus, membukanya dan menawarkan kepada Karin, namun Karin menolaknya, dia tidak terlalu suka dengan Keripik.
Naruto sudah kembali dan duduk di ruang tamu. Dari arah belakang. Sasuke yang di bopong Sakura berjalan perlahan ke ruang tamu dan duduk di kursi, Sakura duduk di sampingnya.
"Karin, kau datang."
"Iya, aku hanya kebetulan mampir."
Karin menatap tidak suka ke arah Sakura. dia begitu dekat dengan Sasuke.
"Kapan kalian akan menikah?" Naruto yang blak-blakan.
Suasana ruang tamu hening, tatapan mereka tertuju pada Sakura, tidak dengan Karin, seperti di sambar petir.
"Naruto! Kau mau ku bunuh." Ucap Sakura kesal.
"Hehehe, aku hanya bercanda, tapi kalian pasti akan menikah kan?"
"Aku pikir kau duluan yang akan menikah. bagaimana kabar nyonya Hyuuga mu." Ucap Sasuke.
"I-itu, ahahahahah, nantilah kalian akan segera mendapatkan undangan kami." Ucap Naruto begitu senang jika di singgung hubungannya dengan Hinata yang sekarang berstatus tunangan.
"Naruto berhasil meluluhkan hati Neji sehingga dia dapat restu." Ucap Chouji.
Kiba yang duduk dekat Naruto menyikutnya dan hanya di balas wajah malu-malu dari Naruto.
"Aku dengar Shikamaru menyukai Temari yaa, cewek dari fakultas lain." Ucap Kiba.
"Benar-benar. Dia cantik, badannya seksi tapi sedikit cerewet." Tambah Naruto.
"Apa-apa sih kalian."
"Sepertinya Shika tidak bisa mengklarifikasinya, cieeee..."
Chouji tidak banyak komentar, dia sudah terlalu bahagia dengan keripiki-keripik yang ada di tangannya. Karin hanya terdiam mendengar setiap pembicara mereka, namun tatapannya tetap pada Sasuke, meskipun sedang sakit, wajah Sasuke terlihat semakin tampan. Sasuke berdiri dari tempatnya duduk.
"Mau kemana?" tanya sakura.
"Aku mau ambil minum."
"Biar aku yang ambilkan."
"Tidak usah."
Sakura membiarkan Sasuke pergi dan kembali ke pembacaraan para lelaki namun yang mendominasi hanya Kiba dan Naruto.
"Sakura, saat liburan apa kau ke kawasan Uchiha?" ucap Naruto.
"Iya."
"Waah, bagaimana di sana? aku sudah lama tidak ke sana, apalagi ke kediaman kakek Madara, rumahnya keren abis."
"Kau pernah kesana?"
"Hanya sekali, saat itu ayahku ada bisnis dengan keluarga Uchiha. Jadi aku kesana dan bertemu dengan Teme."
"Oh, di sana sangat menyenangkan dan aku suka kediaman kakek."
"Aku tidak pernah ke sana, hanya mendengarnya saja dari Sasuke." ucap Kiba.
"Kau bertemu dengan Izuna?"
"Iya."
"Mereka sangat mirip, kan."
"benar-benar, sangat mirip."
"Aku saja sampai susah membedakan mereka."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Sasuke sudah kembali dari dapur dan duduk di tempatnya.
"Itu, aku rindu ke kediaman kakek Madara." Ucap Naruto.
"Oh, sering-seringlah ke sana."
"Iya, kalau aku ada waktu aku akan kesana."
Karin yang menjadi pendengar setia hanya mematung, bahkan Sakura sudah di pertemukan dengan keluarga besarnya Sasuke. Karin semakin membenci Sakura.
"Eh, maaf, aku ada janji, aku pulang duluan yaa. Sasuke, semoga kau cepat sembuh."
"Cepat sekali." Ucap Naruto.
"Maaf aku tidak bisa lama-lama."
"Hn, Terima kasih sudah datang."
Karin pamit dan bergegas pergi. Dia tidak bisa berlama-lama melihat Sasuke bersama Sakura.
Sejam Shikamaru dan yang lainnya berada di rumah Sasuke, sibuk bercerita, bermain game, panco sampai tangan Kiba keseleo, dan sedikit berantakan, anak laki-laki, kecuali Shikamaru dan Sasuke memang tidak bisa rapi sedikit, setelahnya mereka beres-beres dengan perintah Sakura dan pamit untuk pulang, Sasuke hanya jadi penonton melihat mereka di marahi Sakura karena sudah membongkar ruang tamunya.
"Cepat sembuh yoo."
"Ah, Terima kasih kalian sudah mau datang."
"Dah Sakura. jangan sampai Sasuke menerjangmu yaa." Ucap Naruto.
"Diam kau dobe." Ucap kesal Sasuke.
Rumah Sasuke kembali sepi, tinggal dia dan Sakura. hari sudah semakin sore, Sasuke kembali ke kamarnya untuk istirahat. Badannya kembali hangat gara-gara terlalu lama berada di ruang tamu.
"Makan malam dengan bubur lagi? Atau kau mau sesuatu yang lain."
"Mungkin sup sayuran saja."
"Uhm, baiklah."
Sakura berjalan ke dapur dan mengambil beberapa sayuran untuk membuat sup.
Setelah sup sayuran masak, mereka makan bersama. Sakura kembali ke rumahnya, dia merasa Sasuke akan sembuh besoknya. Sasuke sangat bersyukur punya Sakura saat ini, hanya dia yang bisa membantunya.
Seminggu ini kampus Konoha akan sibuk, setiap tahun akan di adakan festival, bersiapan seminggu dan hanya 2 hari acaranya, setiap kelas wajib membuat sebuah acara di kelasnya. Di kelas, Sasuke dan Karin terpilih sebagai ketua dan wakil untuk acara di kelas mereka, di kelas lain, Shikamaru dan Neji, sedangkan di kelas Sakura, dia menjadi wakil dan Rock Lee menjadi Ketua, Ino menatap kesal ke arah Rock Lee, dia ingin menjadi ketua Sakura, namun hanya laki-laki yang di wajibkan untuk menjadi Ketua.
Pertemuan untuk tiap ketua dan wakil dari setiap kelas di setiap fakultas, mereka di kumpul dan satu aula dan di beri amanah untuk menjalankan festival tahunan Konoha dengan tertib, untuk tema acara di masing-masing kelas bebas.
Setelah pertemuan kelas, mereka kembali ke kelas masing-masing, Sakura melirik sejenak ke arah lain. Sasuke, dia menjadi ketua dan lagi-lagi mereka memasangkannya dengan Karin.
"Sakura." panggil Lee.
"Iya, ada apa?"
"Ayo buat kelas senam membentuk otot!" Ide Lee yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Jangan, kau pikir mereka akan senang datang ke kelas kita dan melakukan senam seperti itu."
"Mungkin saja."
"Lupakan, Kita harus pungutan suara untuk acaranya."
"Baiklah, padahal dengan senam seperti kita bisa menjadi sehat."
"Jangan membuat ide yang hanya akan membuat mereka mengikatmu di tiang."
"Iya-iya."
Sakura dan Lee sedang berbicara dan dari kejauhan Sasuke melihat mereka. Sakura di pilih menjadi wakil. Sasuke hanya tersenyum melihat Sakura.
"Sasuke, kau mendengarkanku?" ucap Karin yang sejak tadi berbicara namun pandangan Sasuke tertuju pada Sakura.
"Tidak, bisa kau ulangi lagi."
Karin menghela napas dan melihat ke arah Sasuke lihat tadi, pantas saja dia tidak fokus, Sakura berada di sana.
Masing-masing kelas di tiap fakultas antusias membuat acara festival mereka, mengajukan beberapa ide, seperti cafe, drama, games-games unik, dan berbagai acara lainnya.
Rapat antara ke kelas selesai, Sakura dan Ino bersiap-siap untuk pulang. Ino menunggu Sai di kelasnya, mereka berbeda fakultas, Sai mengambil jurusan arsitek.
"Apa Sai masih lama?" tanya Sakura saat mereka berjalan menuju gerbang.
"Katanya 5 menit lagi, ternyata dia juga menjadi ketua. Haa~ padahal aku ingin berpartisipasi juga."
"Kau kan sudah berpartisipasi, ide mu untuk membuat rumah hantu di setujui mereka, meskipun..."
"Apa?"
"...Aku sedikit takut sih."
"Oh iya, aku lupa, kau agak serius memikirkan hal yang berbau horor."
"Tidak apa-apa, yang penting mereka semua setuju. Aku nanti jadi pemegang tiket saja."
"Iya-iya, kau yang di tempat aman saja."
Suara motor sport hitam berhenti di depan Sakura dan Ino.
"Sasuke, kau sudah selesai?" tanya Sakura.
"Hn. Sebaiknya kita cepat pulang, aku lapar."
"Ino, kau? bagaimana?"
"Pulang saja duluan, aku akan menunggu Sai."
"Sai belum pulang?" tanya Sasuke.
"Iya, dia masih rapat dengan teman-temannya. Kau sendiri? Pasti kau menjadi ketua kan."
"Iya."
"Dan wakilnya?"
"Karin."
"Kau bersama gadis itu lagi?"
"Kenapa? Kami hanya di tunjuk."
"Yang penting kalian jangan terlalu dekat, nanti Saku-"
Sakura segera menutup mulut Ino dan berbisik. "Sudah Ino, jangan di bahas lagi."
Ino segera mengangguk agar Sakura melepaskannya.
"Kalian kenapa?" Tanya Sasuke, heran dengan tingkah mereka.
"Ti-tidak apa-apa, cepat sana ambil Sakura mu. Dia lelah menjadi wakil."
Sakura pamit, mengambil helm dari tangan Sasuke dan naik ke atas motor Sasuke.
Sasuke dan Sakura sudah keluar dari gerbang, Ino masih berjalan menuju depan gerbang untuk menunggu Sai, Ino berhenti melangkahkan kakinya dan menatap seseorang seperti sedang mengintip, tidak salah lagi, seseorang itu adalah Karin, cuman dia gadis yang rambut merah, apa yang di lakukannya, Ino menjadi penasaran dan menatap ke arah yang di lihat Karin, itu seperti motor Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?"
Karin terkejut dan berbalik menatap orang yang memergokinya di depan gerbang.
"T-tidak ada."
"Tidak ada? Lalu yang kau lihat tadi apa? Motor Sasuke? Sasuke? atau orang yang di bonceng Sasuke?"
Karin terdiam dan tatapan tidak suka tertuju pada Ino. Rasanya Ino ingin menampar gadis ini, dari tatapannya saja Ino sudah tahu, dia mengincar Sasuke.
"Kenapa diam? Kau suka dengan Sasuke? jangan harap kau bisa mendapatkannya, dia dan Sakura tidak akan terpisahkan."
"Jangan ikut campur dengan urusanku, urus saja dirimu sendiri."
"Kau ini-"
"Ino!" dari arah sisi gerbang lainnya Sai meneriaki nama Ino.
"Jangan mengganggu Sakura. Ingat itu!" ucap Ino dan bergegas berlari ke arah Sai.
Ucapan Ino membuat Karin membencinya dan semakin membenci Sakura. ide jahat tersirat di pikiran Karin. Dia merasa jika ide ini akan berhasil dan menjuahkan Sakura dan Sasuke.
~TBC~
.
.
konflik lama sudah selesai dan konflik baru muncul lagi, Uhm.. sekali-kali giliran Sasuke yang direbutkan, heheheh dari beberapa chapter yang sebelumnya Sakura mulu yang di perebutkan. Bagaimana selanjutnya...? ikut penasaran juga, yey! harusnya chapter ini sudah tamat, tapi mau di lanjut dikit lagi, eheheheh.
=Balas review=
Sashicchi : ahk, sasuke mah gitu, cemburunya lebay banget, XD *di bunuh sasuke* jawabannya ada di chapter ini, eheheh, update!
mantika mochi : konflik baru hehehe.
Chichak Deth : sudah di jawab sama chapter ini, ehehe, maaf lama update, XD hooaa, makasih atas reviewnya dan sudah mau baca ffn yang lumayan banyak typo ini ehehe.
1 : update..! *semangat*
Younghee Lee : lanjut... lanjut...
dina uchiharunoo : terima kasih, update update
Dengan berat hati, next chapter.., di tunggu yoo, hohohohoh,
Review lagi yaa..
