One More Chance To Love You
Disclaimer: Don't own Naruto
Warning : Yaoi, Rated M,M-PREG, don't like, don't read!
Pairing: SasuNaru, SaiNaru, SasuIno
.
.
.
CHAPTER 6
Sai POV
"Terima kasih atas kehadiran Saudara sekalian. Karena semua sudah hadir maka Acara pertunangan antara Uchiha Sasuke dan Yamanaka Ino akan segera dimulai."
Suara dari ayah Ino itu menyadarkanku dari lamunanku. Kulihat Sasuke dan Ino sekarang berdiri berhadapan. Dengan senyum mengembang di bibirnya, Ino telah memegang cincin dan mulai bersiap menyematkannya ke jari manis Sasuke.
"Ya, Silahkan sematkan cincin ini ke jari pasangan Anda, Nona Yamanaka Ino"
Tepuk tangan riuh pun terdengar saat Ino telah menyematkan cincin itu ke jari Sasuke. Aku mengalihkan pandangan ke samping. Kulihat Naruto yang sejak tadi hanya diam dan terus menunduk menatap lantai. Kenapa… Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu Naruto?
"Silahkan Tuan Uchiha Sasuke, sekarang sematkan cincin ini di jari pasangan Anda"
Aku tersentak karena kali ini Naruto menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya erat saat kata-kata itu terdengar. Wajahnya masih menunduk. Badannya gemetar, seakan mencoba untuk menahan air mata yang hendak keluar dari mata birunya.
Aku menggeram. Cukup! Aku tidak kuat lagi melihat dirinya seperti ini. Aku pun meraih tangan kiri Naruto dan menggengamnya kuat. Naruto yang terkejut sontak mengangkat wajahnya dan melihatku.
"Jangan tundukkan wajahmu. Angkat wajahmu, dan lihatlah mereka, Naruto. Jangan melarikan diri…"
Naruto POV
"Jangan tundukkan wajahmu. Angkat wajahmu, dan lihatlah mereka, Naruto. Jangan melarikan diri…"
Aku terdiam mendengar kata-kata Sai yang nyaris seperti bisikan itu. Ya, dia benar. Tidak seharusnya aku seperti ini. Bukankah aku sudah memutuskan untuk melepaskannya? Aku harus mampu melihat saat-saat dimana mereka saling mengikatkan diri. Perlahan aku memandang ke depan dan melihat Sasuke yang menyematkan cincin ke jari manis Ino dan disusul dengan tepuk tangan yang meriah. Kemudian aku melihat Sasuke mengecup kening Ino dan mereka tersenyum bersama.
Berakhir… Akhirnya kisah kami sebagai kekasih sudah benar-benar selesai. Mulai sekarang kami akan menjalani kehidupan kami masing-masing. Tanpa aku sadari aku mengeratkan genggamanku pada tangan Sai dan bergumam pelan…
"Sayonara… Anata…
.
.
.
One Month Later
Normal POV
"Kerja bagus, bocah. Sekarang kau boleh kembali. Beristirahatlah, tapi besok kau harus selesai membuat laporan misimu." ucap Tsunade, sang Hokage kelima pada pemuda pirang di hadapannya.
"Haahhh, tidak bisakah aku menyerahkannya dua hari lagi saja baa-chan?" pinta Naruto dengan wajah yang dibuat memelas. Sudah merupakan sifat Naruto kalau dia paling malas untuk membuat laporan selesai menjalankan misi. Jika saja dia tidak sendiri saat menjalankan misi, sudah tentu partnernya itu yang menjadi korban untuk membuat laporan. Namun karena kali ini Naruto menjalankan misi seorang sendiri, mau tidak mau dia harus membuat laporan itu sendiri.
"Jangan banyak membantah Naruto! Besok laporanmu harus sudah ada di mejaku! Aku tidak mau mendengar alasan apapun!"
Mendengar jawaban -yang sudah pasti- dari sang hokage, Naruto hanya merengut kesal. Akhirnya dia pun keluar dari gedung hokage dan menuju apartemennya. Rasanya dia ingin segera beristirahat dan segera menyelesaikan laporan yang menyusahkan itu.
"Hai, Naruto-kun. Kau baru kembali dari misi?" Sai tiba-tiba muncul dari belakang Naruto, membuat Naruto hampir menabrak pohon yang ada di depannya .
"SAAIII! JANGAN MUNCUL TIBA-TIBA BEGITU!" protes Naruto yang hanya ditanggapi tawa kecil dari Sai.
"Iya, iya. Maafkan aku. Bagaimana misimu? Kau tidak mendapat luka serius kan?"
Naruto menggeleng. Terkadang dia tidak mengerti dengan sifat Sai yang terkadang terkesan… sedikit posesif padanya.
"Tenang saja. Kau lihat sendiri, aku tidak mendapat luka sedikitpun."
Sai hanya mengangguk. Tapi tak lama tiba-tiba Naruto menutup mulutnya, kemudian berhenti dan mendarat turun ke bawah. Sai yang bingung kenapa tiba-tiba Naruto berhenti, akhirnya mengikuti Naruto.
"Naruto-kun, ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?"
Naruto hanya menggeleng sambil menutup mulutnya. Dia berlari menuju pinggir hutan dan memuntahkan isi perutnya.
"Astaga! Kau tidak apa-apa Naruto-kun?"
"Tidak.. HOOEEKKK… Aku…. baik-baik saja kok… HOEEKKK!"
Sai segera mengambil air minum dan memberikannya pada Naruto. Naruto menerimanya dan meminumnya sedikit-sedikit.
"Terima kasih Sai. Aku sudah tidak apa-apa kok." kata Naruto sambil menunjukkan cengirannya seperti biasa.
"Kau benar tidak apa-apa?" ,Sai masih bertanya dengan raut wajah cemas sambil menempelkan tangannya ke kening Naruto, "Syukurlah badanmu tidak panas."
Naruto hanya tersenyum tipis "Aku kan sudah bilang aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat saja."
Sai hanya diam, tidak bisa membantah perkataan Naruto.
.
.
.
Naruto POV
Akhirnya aku selesai membuat laporan misi milikku. Aku pun bergegas menuju kantor Hokage untuk menemui baa-chan dan menyerahkan laporanku padanya. Semoga saja baa-chan tidak akan menyuruhku membuat ulang laporan itu.
Sesampainya di kantor hokage, aku pun segera masuk ke ruangan baa-chan. Tapi baa-chan tidak ada, aku hanya melihat Sakura-chan yang sepertinya sedang membereskan dokumen di meja baa-chan.
"OHAYOU, SAKURA-CHAN!~" sapaku sambil menepuk pundaknya.
"Naruto! Aku sudah berapa kali katakan , JANGAN TERIAK-TERIAK SEPERTI ITU! TELINGAKU SAKIT TAHU!"
Aku hanya menyengir. Untung saja kali ini dia tidak memukul kepalaku, "Oh, ya mana Nenek Tsunade?"
"Nona Tsunade sedang rapat dengan petinggi desa. Memangnya kenapa Naruto?"
"Aku mau menyerahkan laporan misiku semalam" kataku sambil menunjukkan laporan yang ada di tanganku pada Sakura-chan.
"Oh, letakkan saja di atas dokumen itu Naruto, nanti aku yang akan bereskan. Nona Tsunade sudah menyuruhku membereskan laporan-laporan yang masuk hari ini.
Aku mengangguk dan meletakkan laporanku di atas meja baa-chan.
"Lho, ada Sakura dan Naruto-kun?" Sai datang dari depan pintu sambil membawa beberapa dokumen. Sepertinya dia juga mau memberikan laporan ANBU pada baa-chan.
"Hai, Sai! Kau mau menyerahkan laporan juga?" tanyaku sambil tersenyum. Lagi-lagi aku melihat wajahnya yang menjadi sedikit memerah.
"Ah, iya." dia hanya tersenyum tipis membalas pertanyaanku.
"Letakkan saja di meja, Sai. Nanti aku yang akan membereskan." kata Sakura sambil kembali membereskan dokumen-dokumen.
Tiba-tiba aku merasa perutku mual, sangat mual. Ugghh! Ada apa lagi denganku? Aku bergegas menuju kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutku.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura yang sudah berdiri di belakangku, disusul Sai. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, Sakura-chan-"
"Tapi Naruto-kun, kemarin kau juga seperti ini kan? Lebih baik Sakura memeriksa keadaanmu." Sai memotong ucapanku. Aku hanya diam, memang selama satu minggu ini entah kenapa aku selalu muntah lebih dari tiga kali. Tadi pagi juga saat aku sarapan, aku langsung memuntahkan isi perutku. Tapi aku merasa tubuhku baik-baik saja.
"Kurasa tidak perlu. Aku baik-baik sa-"
"Sudah! Jangan membantah Naruto-kun! Sakura, tolong periksa keadaan Naruto."
Aku terdiam dan akhirnya menurut saja saat Sakura memeriksa keadaanku.
.
.
.
"Bagaimana Sakura-chan? Aku baik-baik saja kan?" tanyaku setelah Sakura memeriksa keadaanku.
Sakura hanya diam, entah kenapa dia terlihat bingung. Tidak lama Sakura kembali memeriksaku, tapi kali ini dia hanya memeriksa bagian perutku. Setelah itu dia kembali diam. Aku jadi tidak mengerti melihat Sakura yang belum juga menjawab pertanyaanku.
"Sakura-chan? Heiii, Sakura-chan. Kenapa kau tidak menjawab-"
"Sai, tolong kau bawa Neji atau Hinata kesini sekarang. Aku butuh byakugan mereka."
Aku melongo mendengar kata-kata Sakura. Untuk apa membawa Neji atau Hinata kesini?
"Ano, Sakura-chan, kenapa harus membawa Neji atau Hinata kesini?"
"Nanti akan aku jelaskan. Sai, tolong ya!"
Sai mengangguk lalu pergi meninggalkan kami. Aku masih tidak mengerti maksud semua ini. Dua puluh menit kemudian Sai kembali bersama dengan Hinata.
"Hinata, maaf merepotkanmu. Bisakah kau memeriksa bagian dalam tubuh Naruto dengan byakuganmu?"
"Iy-Iya… Tidak masalah… Tapi memangnya kenapa Sakura-san?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Tolong ya, Hinata."
Hinata kemudian mengaktifkan byakugannya dan memeriksa tubuhku. Aku melihat wajah Hinata terkejut saat memeriksaku. Hey, sebenarnya ada apa dengan tubuhku?
"Bagaimana Hinata?" tanya Sakura setelah Hinata mengnonaktifkean byakugannya.
"It-Itu… Aku tidak mengerti… Tapi… Aku melihat… Ada makhluk yang hidup di dalam tubuh Naruto-kun…"
Aku semakin tidak mengerti maksud kata-kata Hinata, makhluk yang hidup dalam tubuhku? Apa maksudnya?
"Maksudmu apa Hinata? Aku tidak mengerti." tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aku juga… tidak tahu… tapi itu seperti-" Hinata diam sesaat, aku memicingkan mata, menunggu kelanjutan kata-kata Hinata.
"Seperti… janin yang hidup dalam tubuh Naruto-kun."
Kali ini aku melongo, mencoba mencerna maksud kata-kata Hinata. Janin? Bayi?
Tunggu dulu! Apa ini artinya…
"Maksudmu… Naruto-kun… Hamil?"
Kata-kata Sai membuatku terbelalak, lelucon apa ini? Mana mungkin aku yang seorang laki-laki ini bisa hamil.
"Hahaha, Jangan bercanda. Aku ini laki-laki, LAKI-LAKI, Mana mungkin aku hamil. Kalian ini ada-ada saja, Hahaha." aku mencoba tertawa, menghilangkan rasa shock yang tiba-tiba datang. Yah, tidak mungkin. Tidak mungkin aku hamil. Pasti ada yang salah dengan semua ini.
Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya diam, tidak mendengarkan aku sama sekali.
"Hinata, kau pasti salah lihat! Tidak mungkin kan aku hamil! Iya kan! iya kan Hinata!" Aku mengguncang-guncang bahu Hinata dengan keras. Kali ini aku benar-benar habis kesabaran.
"Na.. Naruto-kun…"
"JAWAB HINATA!" teriakku sambil mengguncang bahu Hinata semakin kencang. Emosiku sudah memuncak. Baru kali ini aku benar-benar frustasi seperti ini.
"Hentikan, Naruto! Tenangkan dirimu!" Sakura menahan kedua lenganku, mencoba untuk melepaskan Hinata. Aku akhirnya terduduk lemas di lantai. Sakura menepuk pundakku pelan.
"Naruto… Aku juga tidak percaya. Tapi tadi saat aku memeriksamu, aku merasakan ada aliran cakra lain dalam tubuhmu. Dan itu bukan berasal dari Kyuubi. Aliran cakra itu berkumpul di satu titik dan… membentuk kehidupan lain dalam tubuhmu. Karena itu aku menyuruh Hinata memeriksanya, dan ternyata memang benar Naruto... Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi… tapi memang itulah kenyataannya…"
Rasanya badanku benar-benar lemas sekarang. Kata-kata Sakura seperti berputar-putar di kepalaku.
"Sakura-chan, jadi aku benar-benar…"
"Iya, Naruto… Kau hamil…"
Aku tertunduk lemas. Kami-sama, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa aku bisa hamil seperti ini?
Tiba-tiba memori satu bulan lalu terbayang di otakku. Memori kejadian sebelum hari pertunangan Sasuke, malam dimana dia mengambil milikku yang paling berharga…
'Jadi... bayi di tubuhku ini…adalah anak Sasuke?'
.
.
.
Sasuke POV
Aku baru saja hendak masuk ke ruang hokage tepat ketika aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku…
"JAWAB HINATA!"
Itu… Suara Naruto. Tidak salah lagi. Perlahan aku membuka pintu dan melihat Naruto, Sakura, Sai, dan Hinata.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Naruto berteriak-teriak seperti itu?
Aku mengurungkan niat untuk masuk dan berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku melihat Sakura berusaha menenangkan Naruto dan sayup-sayup aku mendengar suara Sakura, meskipun kecil, tapi cukup untukku untuk dapat mendengarnya.
Aku terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sakura. Aku tidak tahu apakah aku harus mempercayai pendengaranku. Aku benar-benar shock. Satu kalimat terakhir yang terucap membuat jantungku seperti hendak berhenti berdetak.
"Naruto… Kau hamil…"
Detik itu juga, ingatanku tentang kejadian malam itu muncul dalam otakku. Semua seperti benang merah yang terhubung dalam otakku. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung membuka pintu di depanku dengan keras, membuat empat pasang mata di ruangan itu terkejut melihat kedatanganku. Tanpa memperdulikan tatapan mereka, aku langsung berjalan ke arah Naruto dan menariknya dengan kuat.
"Sa… Sasuke… Apa-apaan ini! Lepaskan aku!" dia berusaha melepaskan tanganku yang sekarang mencengkram kuat lengannya.
"Ikut aku Naruto! Kita perlu bicara!" desisku sambil terus menyeret Naruto untuk ikut bersamaku.
"A.. Apa maksudmu Sasuke? Tidak ada yang perlu kita bicarakan! Sekarang cepat lepaskan tanganku!" Naruto menepis dengan kasar tanganku, membuat tanganku terlepas dari lengannya.
Aku menggeram. Tanpa basa basi aku mencengkram kedua bahunya dan mendorongnya ke dinding.
"Jangan berpura-pura Naruto! Aku sudah dengar semuanya! Kau hamil kan!"
Naruto hanya diam dan memalingkan wajahnya ke samping. Emosiku semakin memuncak. Aku memegang wajahnya dan memaksanya untuk menatapku.
"Katakan Naruto! DIA ANAKKU KAN! KATAKAN!"
"It.. Itu.."
"JAWAB NARUTO!"
"Sudah cukup Uchiha! Lepaskan Naruto!"
Aku berdecih melihat Sai sekarang yang ada di sebelah Naruto dan memandangku dengan tatapan tajam.
"Cih, minggir Sai! Aku tidak ada urusan denganmu!" aku berusaha menyeret Naruto untuk menjauh darinya dan pergi dari ruangan ini. Namun tiba-tiba tangan Sai menahan Naruto.
"Jangan berbuat seenaknya Uchiha! Sekarang lepaskan Naruto. Dia tidak ada urusan denganmu!"
" Kau bilang apa? Tidak ada urusan? KAU BILANG AKU TIDAK ADA URUSAN DENGAN NARUTO YANG SEDANG MENGANDUNG ANAKKU?" bentakku sambil terus menarik Naruto.
"Anak itu bukan anakmu, Uchiha!"
Aku berhenti menarik Naruto dan menatap Sai, "Apa maksudmu?"
"Anak yang dikandung Naruto… adalah anakku, Uchiha!"
.
.
.
To Be Continued
A/N: Terima kasih buat yang masih setia dengan fict ini, untuk semua review, fav dan follow ^_^
See u in next chap!
Mind to review?
