Without Words
Chapter 6
Author : 나무 데수
Pairing : ChanBaek (Chanyeol x Baekhyun) and KrisBaek (Kris x Baekhyun)
Summary : Bagaimana jika adik ipar Baekhyun sendiri yang membuatnya menderita? Hanya karena keterbelakangan yang dialaminya, adiknya menyiksanya secara mental, fisik dan seksual. Demi mewujudkan keinginan konyolnya. *summary gagal*#isi tidak sejelek summary(?) percayalah(?) / ChanBaek-KrisBaek love story *complicated but sweet inside* BL/YAOI, OOC, RAPE, M-PREG etc.
Rate : M
Genre : Romance
Disclaimer : every cast in this story belongs to GOD, and themselves. But this story is MINE!
Warning : BOYS LOVE. TYPO(s), OOC, RAPE SCENE, M-PREG(?), NO CHILDREN, NO PLAGIAT! and NO SIDERS PLEASE :)
NO FLAME! NO BASH! WON'T TO READ? LEAVE IT!
-o-o-o-o-o-o-o-
Preview Story:
Setelah berjabat tangan, Tuan Jung pun meninggalkan Kris yang masih berdiri mematung. Tiba-tiba senyum manisnya terukir indah. Menambah ketampananya beribu kali lipat.
"Sayang.. Aku pulang…"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 6- Without Words
Happy Reading
Sudah hampir setengah hari sejak ia pulang, Chanyeol masih mencari Baekhyun. Sejauh tempat ia menyetir tadi, tetap tidak ada tanda-tanda Baekhyun. Si bisu itu melenyap begitu saja seperti sihir.
"Ash! kenapa dia bisa lompat dari bagasi?! Ini tidak masuk akal!"
Chanyeol terus mengumpat saat mengemudi. Oh! Bahkan matanya juga tampak menghitam dan sayu karena semalam suntuk ia tidak tidur karena 'menghukum' kakak iparnya di mobil. Mungkin itulah yang membuatnya lengah hingga tidak menyadari hilangnya Baekhyun.
Sudah lama sejak ia menculik kakak iparnya. Ia terus menyetubuhinya hingga Baekhyun hamil. Ia harus hamil anaknya kalau ia ingin Baekhyun diusir oleh kakaknya. Mungkin pikirannya terlalu sempit. Ia bahkan tidak memikirkan nasibnya kedepan. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar hyungnya mau menceraikan kakak iparnya yang bisu memalukan itu.
Tapi sekarang? Kenyataannya Baekhyun menghilang entah kemana. Rencananya mungkin hancur lebur. Harapannya untuk kembali ke kehidupan mewahnya yang dulu pupus sudah. Ia hanya harus bersiap jika hyungnya pulang dan akan membunuhnya.
"BRENGSEK! BYUN BAEKHYUN!"
Drrtt… drrtt…
Chanyeol merutuki siapa pun yang meneleponnya di saat penting seperti ini. Dengan gusar, ia pun mengangkat panggilan teleponnya.
"ADA APA?!"
"…"
"M-MWO?! KRIS HYUNG PULANG?!"
Sungguh. Detik itu juga Chanyeol ingin ikut melenyap. Baekhyun menghilang dan sekarang? Kris pulang. kedatangannya seperti malaikat pencabut nyawanya. Tidak. Ia tidak siap.
Oh atau mungkin? Ini buah dari kelicikannya?
"ASH! BAGAIMANA INI?!"
"BYUN BAEKHYUN!"
Wajahnya berseri-seri sekali semenjak ia duduk di pesawat. Perjalanan panjangnya dari Jepang mungkin akan segera terbalaskan. Ia sudah bisa membayangkan pijatan lembut tangan 'isterinya'. Bahkan pikirannya sudah melayang jauh hingga berhubungan seks hebat begitu ia pulang.
….
Tapi betapa kagetnya ia ketika mobilnya berhenti di depan halaman rumahnya yang begitu luas. Sepi. Sekali. Tidak ada penjaga satu pun di sana. Harusnya rumahnya dijaga ketat. Harusnya bodyguard nya berjaga di sana. Tapi kenyataannya rumahnya sepi sekali. Tidak ada seorang pun yang menjaganya.
"Oh astaga!"
Ia pun turun dari mobil mercy nya dengan takut-takut. Memikirkan Baekhyunnya…
BRAAAK!
Digebraknya pintu rumah itu keras-keras. Tapi sama saja, hening.
"SAYANG?! BAEKHYUN?! KAU DI MANA?!"
Teriaknya dari kejauhan. Wajahnya pucat pasi berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Kosong.
Lampu kamarnya bahkan mati. Seprei kasurnya berantakan. Hatinya nyeri. Air matanya hampir tumpah.
"Baek.. Baekhyun.."
Tidak menyerah, ia terus mencari Baekhyun ke seluruh penjuru rumahnya. Panik bukan main. Tapi kenyataannya tetap tidak ada. Baekhyunnya pergi. Entah pergi atau mungkin…
"CHANYEOL!"
Kris mulai tumbang. Jadi selama ini dia ditipu? Berita bahwa Baekhyun baik-baik saja ternyata hanya rekayasa? Akal licik adiknya sendiri untuk mengelabuinya?
"TUAN LEE!" panggilnya menjerit.
Secepat kilat, Tuan Lee pengawal pribadinya, langsung datang menghampirinya.
"Astaga Tuan? Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
"Baek.. Baekhyun hilang! Isteriku hilang!"
"Ya Tuhan.."
"Mungkin Chanyeol menculiknya! Cepat! Cepat cari Baekhyun dan Chanyeol! sekarang Tuan Lee!"
"Ba-baik Tuan."
Dengan patuh, Tuan Lee pun lari terbirit-birit meninggalkan Kris yang begitu menyeramkan. Mencari Baekhyun dan Chanyeol dengan segala koneksinya.
Kris pun mulai terisak. Mengusap wajahnya frustasi.
"Ah ya Tuhan Baekhyun! maafkan aku!"
Dan berakhirlah malam itu dengan penuh penyesalan. Harusnya ia bisa menjaga Baekhyun. Harusnya ia menepati janjinya untuk melindungi Baekhyun. Harusnya ia paksa Baekhyun untuk ikut dengannya. Tapi ia begitu bodoh karena meninggalkan Baekhyun sendirian di rumahnya dengan Chanyeol yang masih berkeliaran. Sungguh! Adiknya dulu adalah anak baik-baik. Tapi sekarang? Kris bersumpah ia akan membunuh Chanyeol begitu adiknya ketemu.
O
O
O
O
O
O
Baekhyun menatap nanar jendela rumah sakit itu. Sudah sadar dari pingsannya. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya melamun meratapi nasibnya. Mungkin setelah ini Kris akan menceraikannya. Oh Tuhan! bahkan wajah Kris saja sudah samar-samar di ingatannya. Pikirannya terlalu takut untuk membayangkan wajah laki-laki yang pernah 'tidur' dengannya. Termasuk suaminya sendiri.
'Aku hamil… aku hamil..'
Bagai mantra, ia menyebutkan kalimat itu berulangkali di hatinya. Benar-benar merasa malu dan takut.
"Baekhyun-ssi… sudah jangan menangis lagi. Kesehatan Anda bisa semakin buruk nanti."
Oh bahkan Baekhyun lupa kalau di sampingnya masih duduk namja mungil yang menolongnya. Mungkin hanya laki-laki itu yang tidak ia takuti.
"Rumah Anda di mana? Saya akan mengantar Anda pulang."
Baekhyun menggeleng pasrah. Tidak! Dia tidak ingin kembali ke rumahnya. Ia takut. Terlalu takut untuk bertemu Chanyeol. Terlalu takut untuk kembali mengingat Chanyeol dan segala kekasarannya.
Tolong saya..
"Waeyo?" tanya Kyungsoo penasaran.
Aku takut… aku tidak ingin pulang ke rumah..
Kyungsoo menghembuskan nafasnya prihatin. Benar dugaannya. Namja cantik ini punya masalah.
"Hhh.. baiklah. Kebetulan saya punya tempat rehabilitasi. Mungkin kau bisa tinggal di sana. Aku lihat kau sedang trauma."
"Hiks.. hiks.."
Baekhyun menangis lagi. Ia menggenggam tangan Kyungsoo erat-erat sebagai ucapan terimakasihnya.
"Gwaenchana. Aku senang bisa membantumu. Aku juga akan melindungimu dan juga bayimu sampai ia lahir nanti."
"Hiks..hiks.."
"Jangan pernah berpikiran untuk menggugurkan kandungamu ne? sudah, jangan menangis lagi."
Baekhyun mengangguk pasrah. Mau tidak mau menuruti perkataan Kyungsoo. Bagaimana pun juga namja asing itu sudah mau menolongnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau tidak ada Kyungsoo. Mungkin sekarang ia sudah ditemukan Chanyeol lagi.
"Dua hari lagi kau boleh keluar dari rumah sakit. Aku akan membawamu ke tempatku. Sudah.. jangan takut lagi ne?"
Kyungsoo menepuk pelan bahu Baekhyun. Mencoba menenangkannya. Merasa begitu iba melihat penderitaan namja asing di depannya itu.
.
.
.
.
.
"ASH!"
Chanyeol membantingkan tubuhnya kasar di atas sofa. Mengusap wajahnya frustasi. Hari sudah sore tapi Baekhyun tetap tidak ketemu.
"Kenapa Yeol?" tanya Kai yang tiba-tiba datang dari kamarnya.
"Baekhyun.. si bisu itu menghilang!"
"MWO?! Kenapa bisa hilang?!" Kai ikut memekik kaget. Ia mengambil duduk di depan Chanyeol yang masih terbaring menutupi wajahnya.
"Semalam aku mengajaknya ke Departemen Store. Dia mencoba kabur ketika aku sibuk telepon."
"Lalu?"
"Aku mencarinya dan ketemu. Aku marah sekali saat itu. Jadi aku memperkosanya di dalam mobil hingga pagi."
"Woaah! Kau gila!"
"Lalu aku menaruhnya di bagasi mobil. Yang ternyata aku tidak menutupnya dengan benar. Pintu bagasi itu masih terbuka. Mungkin dia loncat lalu kabur. Atau mungkin dia sudah mati ditabrak? Aku tidak tau! Aku bingung Kai!"
"Kau harus menemukannya segera Yeol!"
"Aku sudah mencarinya dari pagi! Dan sialnya.. hari ini Kris hyung pulang!"
"Hah?! kau serius Yeol?!"
Chanyeol mengangguk lemas.
"Kau harus membantuku Kai! Aku tidak mau mati di tangan Kris hyung!"
"Ini salahku. Salahku lagi. Bodoh! Aku bodoh sekali! Baekhyun, sayang kau di mana? Kau sedang apa?"
Kris bergumam menatap jendela ruang kerjanya. Tampak murung. Wajahnya pucat karena sudah dua hari ia tidak cukup tidur dan makan. Seketika hidupnya berantakan. Pekerjaannya menumpuk belum diselesaikan. Penyakitnya sering kambuh karena kelelahan mencari Baekhyun. Setiap hari ia habiskan untuk mencari istrinya ke sekeliling kota. Tapi tetap saja tidak ketemu. Ia bahkan sudah mencari ke rumah mungil Baekhyun dulu, tapi tetap tidak ada. Baekhyunnya juga tidak punya teman. Karena itu ia bingung harus mencari di mana lagi.
Ia takut. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa istrinya. Ia takut adiknya memperkosa Baekhyun lebih buruk lagi. Ia tahu 'istrinya' bisa hamil. Dan ia tidak mau Baekhyun hamil anak Chanyeol. Tidak! Jika itu terjadi ia akan membunuh dirinya sendiri.
TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk. Kris langsung membalikkan badannya. Jantungnya berdebar berharap akan mendengar kabar baik.
"Bagaimana Tuan Lee?! Istriku di mana?!"
"Maafkan kami Tuan. Kami belum bisa menemukannya. Keberadaan mereka benar-benar sulit dilacak."
Rahang Kris mengeras. Langsung saja ia cengkeram kerah jas Tuan Lee kuat-kuat. Bukti kemarahannya.
"Aku menyuruhmu untuk mencarinya agar ketemu! Aku tidak mau mendengar kabar buruk apapun tentang istriku!"
"Maafkan kami tuan. Tapi kami sudah melacak tempat-tempat kemungkinan Tuan Chanyeol tinggal bersama Tuan Baekhyun. Tapi sepertinya Tuan Chanyeol lebih gesit dari kami. Beliau sudah pergi sebelum kami berhasil menemukannya."
Cengkeramannya mengendur. Tubuhnya melemah. Matanya mulai kosong. Pikirannya berkabut. Membuatnya perlahan jatuh merosot ke lantai.
"Hiks.. Baek.. Ah ya Tuhan! aku harus bagaimana?" suaranya serak ditelan tangisannya sendiri. Tubuhnya bergetar menahan isakannya.
Tuan Lee yang merasa iba mulai ikut berjongkok di samping Tuannya. Sudah lama ia mengabdi di keluarga ini. Ia juga melihat perkembangan kedua Tuannya sejak kecil. Sudah menganggap keduanya seperti anak sendiri. Tapi kenyataan sekarang membuatnya ikut sakit hati. Tuannya dulu tidak semengerikan ini. Chanyeol dulu memang anak baik-baik. Ia juga tidak percaya Chanyeol akan sejahat ini pada kakaknya sendiri.
"Tuan, Anda bersabarlah. Kami akan berusaha terus sampai Tuan Chanyeol dan Tuan Baekhyun ketemu. Tuhan pasti melindungi 'isteri' Anda tuan."
Kris tidak mengubris. Ia masih mengusap wajahnya frustasi.
"Anda tidak boleh seperti ini terus Tuan. Perusahaan membutuhkan Anda. Kalau Anda tidak segera bangkit, perusahaan bisa bangkrut. Bukankah Tuan Wu dulu berpesan pada Anda untuk menjaga perusahaan sebaik mungkin?"
"Baekhyun…"
Tuan Lee menepuk pundak Kris mencoba menenangkannya. Pria lanjut ini tampak begitu terpukul melihat Kris yang seperti kehilangan semangat hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nah, ini tempatnya."
Baekhyun melihat-lihat lingkungan barunya. Tempat ini begitu luas. Begitu sejuk dan hijau. Bisa ia lihat bayak orang-orang yang berjalan-jalan ditemani perawatnya masing-masing. Berpakaian putih-putih seperti orang sakit. Ah bukan seperti. Mereka memang 'sakit'. Sama seperti dirinya sekarang.
"Tidak apa-apa. Anggap saja rumah sendiri."
Dengan lembut Kyungsoo menggandeng lengan kurus Baekhyun untuk masuk ke 'rumahnya'. Tidak ada koper. Tidak ada barang-barang apapun yang dibawa Baekhyun selain dirinya sendiri.
Lorongnya begitu panjang. Orang-orang tampak menatapnya dengan tatapan 'baru'. Membuat Baekhyun meringsut dan berlindung di belakang Kyungsoo.
"Mereka tidak berbahaya. Kau jangan takut. Mereka di sini juga sama-sama ingin sembuh." Jawab Kyungsoo ramah seolah tahu ketakutan Baekhyun.
Ya, tempat rehabilitasi ini milik keluarga Kyungsoo. Ia sudah lama bekerja di sini untuk menyembuhkan trauma seseorang. Pekerjaan mulia yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Ya, ia menganggap tempat ini sebagai tempat rehabilitasi. Rehabilitasi atau rumah sakit jiwa? Ah Kyungsoo sendiri tidak tahu. Yang ia tahu adalah tempat ini untuk berlindung bagi 'mereka' yang memang harus dilindungi agar tidak membahayakan dirinya sendiri dan oranglain. Mengembalikan jiwa mereka yang terguncang karena rasa takutnya. Seperti Baekhyun contohnya. Namja manis di sampingnya itu tampak begitu malang dan tersiksa.
…
Kriiieet~
"Ini kamarmu."
Baekhyun melihat sekeliling kamar itu. Kamar bernuansa putih berukuran sedang. Ada satu tempat tidur mungil dan meja kecil berbunga di sampingnya. Ada juga jendela besar di samping kasurnya. Menampakkan pemandangan luar yang begitu indah dan hijau. Kamar ini tidak terlihat seperti kamar 'rumahsakit' seperti yang ia bayangkan. Jauh lebih sempurna dari yang ia kira. Tampak sederhana, tenang, dan rapi. Membuatnya nyaman.
"Maaf ya, jika Kau tidak menyukainya. Kami hanya mempunyai kamar seperti ini saja."
"….."
Dan perlahan Kyungsoo menggandeng lengan Baekhyun untuk duduk di kasurnya.
"Kau baik-baik saja?"
Baekhyun menggangguk lemah.
"Aku hannya ingin bertanya sedikit padamu." Ujar Kyungsoo lembut sekali. Berhati-hati di setiap ucapannya agar tidak membuat Baekhyun takut.
"….."
"Apa Kau mempunyai 'suami'?"
Pertanyaan Kyungsoo membuat Baekhyun kembali mengingat Kris. Membuat matanya mulai memanas dan ingin mengeluarkan air matanya. Berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa menjawabnya. Aku tidak memaksamu."
Dan tiba-tiba Baekhyun mengangguk lemah.
'Oh, jadi dia punya suami' batinnya.
"Boleh aku bertanya lagi?"
Baekhyun masih diam memandang kosong jendela besar itu.
"Apa suamimu… sering berlaku jahat padamu?"
Hening.
'Kris… sama sekali tidak jahat. Kris.. aku bahkan lupa bagaimana dia. Yang bisa aku ingat hanya …'
"Baekhyun-ssi?" Kyungsoo membuyarkan lamunan Baekhyun.
Dan Baekhyun menggeleng pasrah.
"Jadi, apa yang membuatmu begitu takut?"
Deg
Pertanyaan Kyungsoo kali ini sungguh membuatnya…
Perlahan ia menolehkan wajahnya untuk menghadap Kyungsoo. Menatapnya nanar. Dipandanginya wajah Kyungsoo lama-lama. Membuat Kyungsoo merasa sedikit takut.
Chanyeol
"Boleh aku tahu, siapa dia?"
Dan seketika air mata Baekhyun tumpah. Membasahi pipi tirusnya. Sekuat tenaga ia menahan isakannya. Ia gigit bibirnya. Ia malu akan mengatakan ini. Ia malu pada Kyungsoo yang menolongnya. Ia malu. Sungguh malu.
"Kau harus bercerita padaku. Kau harus menceritakan kesedihanmu pada oranglain. Kalau kau terus memendamnya di dirimu sendiri, kau akan semakin tersiksa Baekhyun-ssi."
"Hiks.. hiks…"
"Gwaenchana." Kyungsoo menepuk pelan bahu Baekhyun.
"Jadi.. siapa itu Chanyeol?" tanyanya pelan-pelan.
Dengan ragu ragu dan penuh rasa malu, Baekhyun mulai menjawab.
Chanyeol... ayah dari anakku. Dia.. dia yang memperkosaku hingga aku hamil. Chanyeol.. dia adik iparku.
Deg
Hati Kyungsoo seperti diremas. Baru kali ini ia mendapat kasus mengerikan seperti yang dialami Baekhyun. Dihamili oleh adik ipar?! Siapa yang tidak gila karena ini?!
"Lalu., bagaimana dengan suamimu?"
Baekhyun menggeleng.
Dia tidak tahu. Dia di Jepang dan belum pulang untuk mencariku. Aku.. aku merindukannya. Aku bahkan lupa wajahnya.
Isakannya semakin keras. Membuat Kyungsoo semakin terpukul. Baekhyun benar-benar malang.
"Segera setelah suamimu pulang, ia pasti akan mencarimu. Akan menyelamatkanmu. Sstt.. uljimayo." Hibur Kyungsoo sambil memeluk Baekhyun lembut seakan sudah mengenal sosoknya begitu lama.
"Hiks.. hikss... hikss.."
Jangan beritahu Chanyeol kalau aku di sini. Aku tidak ingin melihatnya. Menakutkan.
"Tidak akan. Tidak akan mungkin terjadi. Dia tidak akan pernah kembali ke kehidupanmu. Hanya ada aku dan perawat di sini bersamamu. Tidak ada Chanyeol atau siapapun. Kita akan melindungimu sampai suamimu berhasil menemukanmu di sini."
O
O
O
O
O
O
O
Sudah satu minggu Baekhyun menghilang. Selama itu pula hidupnya tidak tenang. Hyungnya selalu mencarinya. Membuatnya terpontang-panting seperti dikejar maut.
"Mau sampai kapan kau menghindarinya Yeol?!"
"Aku tidak tahu Kai! Aku takut mati bodoh!"
"Tapi kau harus menghadapinya! Hadapi hyungmu! Jangan mau mati di tangannya! Bilang saja kalau si bisu itu hilang dan tidak bersamamu! Kalau begitu kan hyungmu pasti akan sibuk mencari si bisu itu daripada menghadapimu!"
"Iya, tapi sebelum itu dia akan membunuhku dulu!"
"Tapi aku juga lelah ikut repot bersamamu! Aku juga ingin tenang! Ini kan masalahmu! Kenapa jadi aku yang repot begini?!"
"Apa kau bilang?! Kau tidak ingat?! Ini semua ide bodohmu yang menyuruhku menjualnya! Kau jangan munafik seperti itu! kau juga memperkosanya waktu itu! kau juga harus tanggung jawab untuk ini!"
"Sembarangan! Harusnya kau kan bisa saat itu menolak rencanaku dan tawaranku?! kaunya saja yang bodoh!"
"Apa kau bilang?!"
"Kau bodoh! Sudah dengar?!"
"Brengsek!"
BUGH
"Aww! Yeol?! Kau ini apa-apan?! Kenapa memukulku?!"
"Kau menyebalkan! Kau memojokkanku! Kurang ajar!"
BUGH
BUGH
Perkelahianpun terjadi. Keduanya saling adu pukul tidak mau kalah.
BUGH
BUGH
"Hhh.. awas kau Kai!"
"Aku akan membuatmu berlutut minta maaf padaku Yeol!"
Susah payah, dengan wajah yang bengkak dan berdarah, Kai berdiri. Menghindar dari itu semua. Meninggalkan Chanyeol yang masih terkapar di lantai. Wajahnya babak belur.
"Kurang ajar! Beraninya dia memukulku! Akan kubuat semua ini berakhir!
Ia berjalan keluar dari apartemennya. Tiba-tiba mengambil ponsel dari sakunya. Memencet tombol speed dial untuk menghubungi seseorang.
Tuuuut..
Tuuuut..
Tuuuut..
"Yeoboseyo, Kris hyung?"
"…."
"Ini aku, Kai. Teman Chanyeol."
"…."
"Bukankah sekarang kau sedang kebingungan mencari adikmu yang kurang ajar itu?"
"…."
"Aku tidak main-main hyung. Chanyeol bersamaku. Di apartemenku. Sekarang."
...
BRAAK
Kris langsung bangkit dari duduknya. Begitu kaget mendengar berita telepon di seberang sana.
"Apa kau bilang?! Di apartemenmu?!'
"…."
"Di mana apartemenmu?!"
"…."
"Aku akan ke sana! Jangan biarkan dia pergi! Aku mohon!"
"…."
Kris mengernyit.
"Uang?!"
"….."
"Itu tidak masalah! Kau sebutkan saja berapa maumu! Asal Chanyeol tidak pergi dari sana sebelum aku berhasil membunuhnya!"
PIK
Tiba-tiba Kris memutuskan sambungan teleponnya. Emosinya sudah mencapai puncak. Rasa marahnya tidak tertahankan lagi. Akhirnya!
"WU CHANYEOL!"
Dengan langkah tergesa, ia mengambil kunci mobilnya. Meninggalkan ruang kerjanya begitu saja. Yang ada dipikirannya saat ini adalah membunuh Chanyeol dengan tangan kosong!
BRUUUM
Ia jalankan gas mobilnya begitu cepat. Menembus sunyinya malam tanpa peduli dengan kecepatannya yang di luar batas. Ia sudah tidak sabar untuk membunuh adiknya. Lebih daripada itu, ia ingin bertemu Baekhyun. Ia yakin 'isteri'nya sedang sekarat di tangan Chanyeol. Ingin rasanya ia segera memeluknya. Meminta maaf sebanyak-banyaknya. Menciumnya. Menumpahkan rasa bersalahnya. Dan segalanya.
"Sayang.. bersabarlah. Aku datang."
Belum lama ia pergi meninggalkan mansionnya, tiba-tiba teleponnya berdering. Membuatnya semakin frustasi.
"ADA APALAGI?!"
"…."
"Aku akan menemui Chanyeol! dia sudah ketemu!"
"…."
Matanya membelalak. Wajahnya menjadi pucat.
"A-apa maksudmu? Baekhyun tidak bersama Chanyeol?!"
"…."
"Jadi dimana dia sekarang?!"
"…."
"Ru-Rumah sakit jiwa katamu?!" suaranya melemah.
"…."
BRUK
Kris menjatuhkan ponselnya. Wajahnya menjadi pucat pasi. Matanya berair ingin menangis. Baekhyun.. isterinya..
"Tidak! Tidak mungkin! Baekhyun… tidak mungkin dia gila! ARRGGHH!"
Tumpah sudah air matanya. Ia menangis dalam mobilnya. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Tanpa pikir panjang, ia langsung memutar kemudinya. Tidak dipedulikannya niat awal ingin membunuh Chanyeol. Baginya Baekhyun lebih penting dari apapun. Hatinya benar-benar hancur begitu mendengar Baekhyun dirawat di rumah sakit jiwa.
….
Perajalanannya cukup lama. Hingga akhirnya ia tiba di tempat yang bahkan ia tidak pernah menyangka akan datangi. Tempatnya luas dan sunyi. Jauh dari keramaian kota. Dan tiba-tiba hatinya nyeri. Membayangkan Baekhyun berada di dalam sana sendirian ketakutan, membuatnya sungguh-sungguh ingin membunuh dirinya sendiri.
"Di mana pasien bernama Baekhyun?!"
Ia langsung bertanya pada salah satu perawat yang kebetulan melintas di lorong panjang itu.
"Ah, Pasien baru itu? Anda harus bertemu dengan Dokter Kyungsoo dulu sebelum bertemu dengan Pasien. Beliau kepala penanggung jawabnya."
"Baiklah. Kalau begitu, dimana Dokter Kyungsoo?"
"Mari saya antarkan."
Dengan patuh, Kris mengikuti kemana perawat itu pergi. Lorong itu terasa begitu panjang. Sepi senyap seperti tidak ada kehidupan. Menyedihkan. Perjalanan ke ruang dokter Kyungsoo terasa amat lama baginya. Ia hanya ingin melihat 'isterinya' tapi kenapa begitu sulit?
"Ini ruangannya."
"Ah ya, terimakasih suster."
Suster itu mengangguk sopan lalu pergi. Meninggalkan Kris yang tampak ragu akan mengetuk pintu putih itu.
TOK TOK TOK
"Selamat malam dokter."
….
Kyungsoo mendongak. Didapatinya pria tinggi berwajah tampan dengan setelan jas mahal sedang berdiri gelisah menatapnya.
"Anda dokter Kyungsoo?"
"Iya. Saya Dokter Kyungsoo. Ada perlu apa Tuan?" tanyanya ramah.
"Saya.. saya ingin bertemu 'isteri' saya. Baekhyun."
DEG
Kyungsoo tampak menghembuskan nafasnya. Mungkin ini akhir dari penantian Baekhyun?
"Silahkan duduk dulu Tuan."
"Du-duduk?!" Kris mengeryit tidak suka. Ia hanya ingin bertemu Baekhyun! Oh Tuhan!
"Anda ingin bertemu istri Anda bukan?"
Kris mengangguk.
"Oleh karena itu, duduk dan dengarkan dulu penjelasan dari saya." Ujar Kyungsoo sambil tersenyum ramah. Mencoba menenangkan Kris.
Dengan menurut dan terpaksa, ia duduk di depan meja kerja Kyungsoo.
"Jadi Tuan Kris, saya sudah mendengarkan semua cerita tentang Pasien Baekhyun."
"Saya menyesal sudah meninggalkannya." Ucapnya dengan raut wajah penuh kesakitan.
Dan Kyungsoo hanya tersenyum.
"Ini bukan salah Anda."
"Tapi saya sudah membuatnya jadi seperti ini." suaranya mulai serak.
"Ini karena rasa ketakutannya yang berlebih pada seseorang yang begitu membuatnya tertekan."
"Adik saya. Pasti karenanya." Jawabnya dengan rahang mengeras.
Kyungsoo hanya mengangguk menjawab.
"Saya menemukan isteri anda di jalan."
"Di jalan?!" Kris mengernyit.
"Iya. Dia pingsan di jalan, lalu saya membawanya ke rumah sakit. Dan ternyata.." raut wajah Kyungsoo berubah.
"Ternyata apa dokter?!"
"Isteri anda sedang hamil Tuan."
Deg
Dan ternyata.. ternyata benar.. ketakutannya selama ini memang benar terjadi. Isterinya hamil.. hamil anak dari adik kandungnya sendiri?!
"Dan juga menurut analisa saya, Pasien Baekhyun menderita Androphobia."
"Androphobia?!"
"Iya. Kelainan jiwa dimana orang tersebut merasakan takut yang berlebih pada seorang laki-laki."
"Jadi maksud dokter…"
"Ya, Isteri anda takut terhadap laki-laki manapun. Untuk itu saya anjurkan agar anda tidak menemuinya untuk sementara waktu."
"Tidak! Aku ingin menemuinya sekarang! Seburuk apapun kemungkinannya! Cepat bawa saya melihatnya!"
"Tapi, nanti pasien akan semakin stress. Sangat berbahaya bagi janinnya."
Kris menatap Kyungsoo dalam-dalam. Seakan memohon agar diijinkan. Seakan memohon untuk mengurangi rasa sedihnya.
"Saya mohon dokter… saya begitu merindukannya. Saya.. saya ingin memeluknya."
Air matanya tumpah seketika. Ia tangkup wajahnya dengan telapak tangannya. Benar-benar terpukul.
Dan kyungsoo tersentuh. Mungkin mengijinkannya bukan hal yang terlalu buruk? Mungkin Kris pengecualian? Pengecualian dari laki-laki yang begitu Baekhyun takuti?
"Hhh.. baiklah. Saya akan mengantarkan Anda. Tapi begitu Pasien memberontak, terpaksa Anda harus pergi. Ini juga untuk kesembuhannya. Anda mengerti kan maksud saya Tuan?"
Kris mengangguk.
Kyungsoo pun mulai berdiri dari duduknya. Diikuti Kris di belakangnya. Menyeka air matanya dan bersiap untuk bertemu Baekhyun dengan segala resikonya.
...
Perjalanannya begitu lama dan menegangkan bagi Kris. Hingga pada suatu pintu di pojok lorong, mereka berhenti. Jantungnya semakin berpacu.
Kriieeet..
"Ini kamarnya. Silahkan masuk."
Dengan langkah perlahan, Kris memasuki kamar temaram itu.
DEG
Betapa sakit hatinya. Betapa hancur hidupnya. Ia lihat isterinya sedang duduk sendirian di jendela besar. Melamun menatap kosong keluar.
Menyedihkan.
"Baek.."
"…."
"Sayang?"
"…."
Kris pun mulai berlutut. Menyejajarkan wajahnya agar bertemu dengan wajah cantik yang disinari cahaya rembulan itu. Bahkan wajahnya masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Masih tetap cantik.
"Yeobeo? Ini aku Kris. Aku sudah kembali."
"…."
Ia gigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Baekhyun masih melamun. Tidak menyadari kehadirannya.
"Kau sama sekali tidak mengingatku?"
"…."
Kris mengelus lembut perut Baekhyun.
"Aku tidak apa-apa. Ayo kita rawat bayimu sampai besar."
"…."
"Kumohon... Tatap aku sayang. Aku merindukanmu." Suaranya mulai serak. Air matanya tidak terbendung lagi.
"…."
"Aku bukan orang yang harus kau lupakan Baek. Ayo pulang bersamaku."
Baekhyun mulai meneteskan air matanya. Meskipun masih tetap tidak bergeming sedikitpun.
"Jangan menangis." Kris mengusap lembut air mata Baekhyun.
"Ya Tuhan Baekhyun.."
Kris memeluk Baekhyun dari samping. Mendekap tubuh rapuh itu erat-erat. Mencium pucuk kepalanya sayang.
"Mianhae. Jeongmal mianhae. Ireojima."
Tanpa ia duga tiba-tiba..
"EEEHH! AAAHH! KYAAAA! HIKSS AKKHH! EEHHH! AAAA!"
"Baek?!" Kris tampak kebingungan. Baekhyun menjerit histeris menendang-nendang tak tentu arah. Menepisnya berkali-kali saat ia ingin kembali memeluknya. Membabi buta ketakutan.
"EEHHH! AHHH! KYAAA!"
Tiba-tiba dari arah belakang Kyungsoo datang. Memanggil perawat lainnya untuk menenangkan Baekhyun. Menyuntikkan obat penenang ke lengan kurus Baekhyun.
"Maaf Tuan, Anda harus segera pergi dari sini."
Kris menggeleng. Tidak mau.
"Istriku! Ya Tuhan! kenapa dia…"
"Ayo Tuan. Biarkan pasien istirahat."
Dan dengan amat terpaksa ia pergi meninggalkan ruangan itu. Wajahnya berlinang air mata. Sakit hati. Istrinya bahkan melupakan dirinya.
Dan tidak lama, Kyungsoo keluar.
"Anda sudah melihat sendiri bagaimana kondisinya Tuan?"
Kris mengangguk. Mengusap wajahnya frustasi.
Dan Kyungsoo pun menepuk pelan pundak Kris. Mencoba menenangkannya.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Pasien pasti bisa sembuh. Anda tenang saja. Ini hanya membutuhkan waktu dan kesabaran."
"Tolong sembuhkan istri saya dokter. Saya mohon jaga dia baik-baik sampai sembuh."
"Itu tugas saya."
Kris pun menyeka air matanya.
"Terimakasih karena selama ini sudah membantu istri saya."
"Bukan apa-apa. Saya senang membantu oranglain. Saya akan menghubungi Anda setiap perkembangan pasien Baekhyun."
Kris mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi."
Kris pun mulai berjalan keluar. Rahangnya mengeras. Wajahnya memerah.
"Chanyeol! Wu Chanyeol! Istriku melupakanku karenamu! Baekhyun gila karena ulahmu! Dia hamil anakmu! Sungguh! Aku akan membunuhmu!"
Ia tancapkan gas mobilnya dengan kecepatan maksimal. Sudah sangat malam. Jalanan sudah mulai sepi. Ia mengebut seperti orang kesetanan. Ingin segera melampiaskan rasa marahnya yang teramat sangat. Sepanjang perjalanan ia mulai menangis. Bayangan tentang Baekhyun yang takut terhadapnya sungguh membuatnya benar-benar sakit hati. Harusnya ia pulang agar dipeluk. Harusnya ia bisa menciumnya. Menumpahkan kerinduannya. Tapi kenyataannya.. untuk sekedar melihat wajahnya saja Baekhyun tidak mau. Dan ini semua karena adiknya!
Pikirannya kalang kabut dipenuhi emosi. Membuatnya tidak konsentrasi menyetir. Sehingga tidak menyadari bahwa ada mobil dari arah berlawanan melintas di hadapannya.
"AH YA TUHAN!"
CIIIIITT!
BRAAAAAAK!
Mobilnya yang berkecepatan tinggi itu oleng. Menabrak pembatas jalan. Membuatnya hancur lebur tidak berbentuk lagi.
BRUUK
Rasa sakitnya sungguh tidak bisa dijelaskan. Badannya terjepit dan berlumuran darah. Tidak! Ia tidak mau hidupnya berakhir sampai di sini! ia masih ingin melihat Baekhyun nya sembuh! Tuhan..
"Baek..hyun..."
Seketika matanya menggelap. Dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
.
"APA?! KRIS HYUNG KECELAKAAN?!"
"…."
"BAGAIMANA BISA?!"
"…."
"Iya! Sekarang aku akan ke rumah sakit!"
PIK
Chanyeol memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Hyungnya kecelakaan?! Tidak mungkin!
Segera ia jalankan mobilnya menuju rumah sakit. Bahkan ia tidak takut sama sekali jika harus bertemu hyungnya. Yang ia takutkan adalah jika hyungnya tidak selamat.
"Hyung kumohon jangan tinggalkan aku. Aku .. aku tidak mau kehilanganmu hyung! Ya Tuhan!"
Menyesal? Chanyeol menyesali semua perbuatannya? Entahlah. Ia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Usahanya selama ini bukan untuk membuat hyungnya celaka. Ia hanya ingin si bisu itu menghilang. Tidak! Si bisu itu yang harusnya menghilang, bukan hyungnya!
…..
"Dimana Kris hyung?!"
Chanyeol tiba di rumah sakit. melihat Tuan Lee sedang berdiri di depan ruang ICU.
"Sabar Tuan."
"Tuan Lee! Aku tanya di mana Kris hyung?!"
Hatinya berdebar. Ekspresi wajah Tuan Lee benar-benar …
"TUAN LEE!" Chanyeol menggoncang-goncangkan tubuh Tuan Lee tidak sabaran. Meminta jawaban.
"Tuan Kris tidak selamat Tuan. Beliau meninggal."
DEG
"Apa?"
Tubuh Chanyeol limbung seketika.
"Tidak! TIDAK MUNGKIN!"
Chanyeol berteriak histeris. Tidak percaya dengan kenyataan. Ia bahkan belum meminta maaf kepada hyungnya. Ia belum siap untuk ditinggalkan.
Kakaknya yang selama ini hidup bersamanya? Merawat dan meneruskan bisnis ayahnya demi dirinya? Sekarang meninggalkannya?! Oh Tuhan! ia bahkan belum bisa membuatnya bangga. Yang ia bisa hanya merusak kebahagiaan kakaknya! Betapa jahatnya ia! Kakaknya hanya ingin hidup bahagia bersama Baekhyun. Tidak lebih! Tapi ia begitu egois. Ia malu mempunyai kakak ipar bisu! Membuatnya melakukan segala cara untuk mengusir Baekhyun dari rumahnya. Tanpa ia tahu kalau itu membuat kakaknya sungguh menderita sampai seperti ini.
'Baiklah hyung. Aku akan membalas semua yang telah aku perbuat!'
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Muehehehe *nyengir kuda* maaf endingnya sedikit agak .. hnggg ya anda tau sendirilah -_- kekeke. Rencana awal sih cuma mau bikin 3 atau 4 chapter ternyata gagal -_-v kalo kayak gini ceritanya mungkin sampe 7 atau 8 chapter *bow* wkwkwk.
Well, saya minta maaf yang sebesar-besarnya waktu chapter sebelumnya yang dokternya tahu namanya Baekhyun itu darimana? Wkwkwk aku lupa xD aku lupa kalo si Dyo juga gaktau namanya Baekhyun itu siapa. *bow* (jadi maluuuu) kadang-kadang saya sering teledor emang -_-v
Oke sekian. Kritik dan saran sangat ditunggu ^^
Semoga chapter ini bisa menghibur sebagaimana mestinya ^^
Gamsahamnida! *bow*
Please Review and Leave Your Comments…
