Disclaimer : I do not own anything. Fans obsession, not for commercial. Copyright=Masashi Kishimoto-sensei, absolutely.

Warning : Alternative Universe, SasuFem!Naru, possible!OOC, confusing!EYD, weird!fluff-stuffs, possible!brain-crack, freak-time!life-basis, possible!over-imagination, and other standard warnings

Ada sebuah pm yang nyasar di facebook saya kemarin. Sepertinya dia stalking kronologi dan menemukan identitas makhluk penyebab saya jumpalitan yang disebutkan di inter-notes kemarin. Katanya—"Chic-sama, kalau makhluk itu menghilangkan keabsurdan Anda, izinkan fansmu ini membunuhnyaaa…!"

Tenang saja, saya masih tetap absurd kok. Kemarin mungkin saya sedikit distracted. Atau mungkin, sekali lagi, saya hanya ingin sedikit menyembuhkan kekonsletan otak dan melakukan pencitraan. Terserah kalian mau menilainya seperti apa. Absurd saya sudah kronis. Tidak mungkin menghilang sepertinya. Bffft.

Ah, btw, fan-san… Apa dirimu masih berniat untuk membunuh si Kutukupret yang satu itu?

Bisa kita bertemu? Saya sudah mengasah golok—sekadar informasi.

Enjoy, please~!

.

.

.

Sarapan pagi di Mansion Uchiha dihias suara alat makan yang saling berbenturan. Beraturan, namun terdengar lebih kuat—diakibatkan semangat menggebu-gebu yang sulit diredam oleh si Kembar. Para pelayan meneguk ludah gugup. Mereka tidak tahu apa yang membuat si Kembar tersenyum begitu lucu dengan tanduk iblis imajiner mulai tumbuh di kepala keduanya.

—Oh, tunggu. Sebenarnya pelayan tahu, hanya berlagak tidak tahu demi keselamatan mental mereka.

Hari ini, hari pertama si Kembar duduk di bangku kelas 4. Dengar-dengar, guru yang amat diidolakan oleh keduanya karena sikapnya yang cenderung pasrahan setiap menjadi target keusilan—Takeda, kalau tidak salah?—kembali mendapat surat tugas untuk menjadi wali kelas mereka.

Ada orang tua—bodo amat orang tua siapa, di mana rumahnya, semalam berbuat apa—berkata, doa orang teraniaya itu pasti dikabulkan. Pelayan merasa, dengan melihat dua perwujudan malaikat berhati iblis berdarah Uchiha-Namikaze itu saja, mereka sudah sangat teraniaya. Jadi, mereka berlomba-lomba mendoakan keselamatan pria malang bernama Takeda itu agar diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Tidak tahu apakah doa mereka dikabulkan atau sejak awal ini sudah suratan takdir, telepon rumah berbunyi. Kepala pelayan buru-buru mengangkatnya, dari Konoha Elementary. Berhubung Nyonya Uchiha ada jadwal Meet&Greet di luar kota—langsung berangkat setelah membangunkan si Kembar dan memasak untuk mereka—dan Tuan Uchiha kembali menjadi Ayam Toyib, pelayan yang menerima pesan si penelepon. Usut punya usut, seluruh jajaran guru keracunan dengan kompaknya sehingga sekolah diliburkan untuk satu minggu ke depan. Hore.

Para pelayan menangis bahagia. Ternyata, Takeda masih disayang Tuhan. Meski keracunan, setidaknya pria malang itu terhindar dari gangguan mental berkepanjangan yang sangat mungkin terjadi.

…Well, shit. Sekarang pelayan yang kena getahnya, harus merasakan aura suram nan menyeramkan yang diberikan oleh Eiji maupun Chiharu begitu dikabarkan jadwal libur mereka ditambah satu minggu.

"EIJI! HARU!"

Pelayan semakin was-was, ketika mendengar suara khas Namikaze Kenji dari pintu masuk. Kalau remaja kamvret itu berulah dan memulai arena perang seperti biasanya—pelayan tidak siap. Kalau dia bisa mengembalikan matahari di hati si Kembar—mereka bisa jadi luapan 'kebahagiaan' Eiji dan Chiharu saat itu juga.

Intinya, izinkan jajaran pelayan mengucapkan selamat tinggal dunia.

"Lho, Kak Kenji tidak sekolah?" Chiharu yang pertama merespon. Kepalanya agak dimiringkan dengan mimik wajah bingung terpasang dengan spontan—ugh. Untuk sesaat, dia terlihat seperti malaikat betulan—batin para Pelayan yang masih sibuk memanjatkan doa keselamatan hingga doa minta hujan.

Ah, untuk doa yang terakhir itu dipanjatkan oleh pelayan yang berstatus jomblo. Maklum, sudah terlalu sering memanjatkannya setiap sabtu malam—ingat! SABTU MALAM! Bukan MALAM MINGGU! Camkan!—sehingga doa itu yang mereka hapal di luar kepala.

Dengan seringai khasnya, Kenji bersidekap santai. "Gurunya keracunan—dan—AH! Kalian tidak perlu berterima kasih. Aku ikhlas melakukannya pada guru kalian juga." Jelasnya.

Oh. Ternyata ini dia biang kerok gagalnya Chiharu dan Eiji dalam memberi kejutan untuk Takeda-sensei.

"WHAT?!" Chiharu dan Eiji menggebrak meja makan secara bersamaan. Sebuah gelas nyaris tewas kalau saja pelayan terdekat tidak cekatan dan menyelamatkan nyawanya. "KAK KENJI BIKIN GURU KERACUNAN?!"

"Ya!"—Dengan santainya, Kenji mengangguk-angguk. That little devil!

Para pelayan saling mendahului untuk bersembunyi—di belakang vas, di bawah meja, di balik piring, di ketek teman, di lubuk hati yang terdalam, atau di mana saja—dan mulai merapal doa pengusir setan. Chiharu di sana, menggertakkan giginya. Tampang sangar muncul, gadis cilik yang masih saja terlihat seperti boneka hidup itu menerjang Kenji dan mencekiknya dengan brutal.

"AKU GAGAL BERTEMU TAKEDA-SENSEI GARA-GARA KAU, KAK! DASAR PERUSAK RENCANAAAAA!"

Logikanya, Kenji bisa memutar balik keadaan dan melepas cekikan Chiharu. Dari segi umur, mereka beda enam tahun. Kenji juga anak laki-laki yang dipastikan punya kapasitas kekuatan lebih besar dibandingkan dengan anak bawang seperti Chiharu. Anak perempuan bertampang imut pula.

Tapi, sejak kapan sih—Namikaze berbanding lurus dengan logika?

Tangan Kenji meraih-raih—minta tolong pada Eiji, tidak berhasil melepas cengkraman luar biasa kuat dari Chiharu. Tapi, anak berambut hitam itu malah menatap Kenji datar—seolah tidak peduli apa yang akan terjadi padanya. Lalu, Eiji inisyatif membereskan alat makan bekas sarapan dan membawanya ke dapur, mengingat para pelayan terlalu sibuk dengan ketakutan mereka untuk sekadar ingat akan tanggung jawab.

Tn. Muda Kenji, bertahanlah lebih lama! Tahan Nn. Muda, biarkan kami menghirup udara lebih lama!—batin para pelayan penuh harap.

Ah, gimana sih Mansion Uchiha ini. Bangunan saja megah dan mewah. Isinya orang sinting semua.

"—Uhuk!—Ha—Mhan—Huk!—I-chi—da—misi—HARU—UHUK!" Kenji berusaha mengeluarkan suara emasnya, berharap Chiharu akan melepaskan cengkraman tangan mungil nan mematikannya itu dan mau mendengar apa yang akan dirinya sampaikan.

Eiji yang sudah kembali dari dapur mengernyitkan alisnya. "Misi? Paman Itachi?" gumamnya, berusaha menangkap perkataan terputus dari Kak Kenji. Tentu saja gumaman ini membuat Chiharu melepaskan cengkramannya dan menatap sepupunya penasaran.

"…What the fu—pps!" Kenji menutup mulutnya. Nyaris saja ia mengumpat kasar di depan si Kembar dan menggali liang kuburnya sendiri. Selama beberapa saat, kepalanya dihantui tampang mengerikan dari Bibi Naru yang mengamuk. Menghela napas, memilah-milah kata, barulah Kenji melepaskan suaranya yang membahana. "SEPUPU MENYEBALKAN! KAU MAU AKU MATI, YA?!"

Eiji dan Chiharu kembali menyipit tajam. "IYA!" jawab mereka serempak.

Kenji nyaris mewek nelangsa. NYARIS.

"…Sigh…Kalian ingat isi buku harian Ayahku?"

Binar dua samudera kembar tampak lebih menyala.

"Tidak mungkin kami lupa kalau Paman Kurama yang Luar Biasa menulis buku harian. Kami ingat tiap fakta keren yang Kakak ucapkan setelah kami bangun."

Di mana keberadaan golok saat dibutuhkan?

Kenji menahan diri untuk tidak meminta pelayan mengambilkan golok agar dirinya bisa memutilasi dua sepupunya itu. Lalu, dia berkata,"Aku punya misi untuk membuat Paman Itachi bahagia. Setidaknya, kita tidak perlu malu lagi karena punya Paman berlabel Jomblo Purbakala."

Chiharu dan Eiji saling memandang—seolah berdiskusi lewat tatapan. Sepakat, keduanya mengangguk pada Kenji.

"Count us in!"

"Kakak butuh bantuan apa?"

Kenji berjongkok, meminta kedua sepupunya mendekat. "Chiharu, aku butuh kau untuk melacak keberadaan seorang Intel Kepolisian bernama Konan. Ketika sudah ditemukan—Eiji, kau mata-matai gerak-geriknya selama dua hari. Setelah itu, kita bertiga akan menculiknya di waktu yang tepat."

"Akan kusiapkan apa yang harus disiapkan!"—Eiji bangkit dan langsung berlari entah ke mana.

"Intel Kepolisian?" Chiharu bergumam. Anak itu mengerucutkan bibirnya, tampak kecewa. "Alat yang kupunya tidak bisa menembus zona demiliterisasi mereka! Kita butuh PC yang lebih dewa!"

Kenji berkedip. "Zona apa?"

"Demiliterisasi, payah! Artinya zona di mana hacker tidak bisa sembarangan meretas data yang terproteksi! Gimana, sih? Sepertinya ada brainware yang masih di bawah standar!" Chiharu menarik Kenji berdiri, lalu berteriak memanggil Mr. Morino. "Kita harus pinjam perangkat punya Kakek Minato!"

Oh, kalian tidak tahu bagaimana besarnya keinginan Kenji untuk balas mencekik Chiharu. Ini bocah mulai berani congkak, eh? Hello~! Tidak semua orang itu Komputer Berjalan sepertinya!

Kenji tidak mengerti bagaimana Chiharu bisa menelan istilah-istilah membingungkan itu selama empat tahun terakhir.

.

Satu jam kemudian, Kenji melongo. Chiharu berhasil mendapatkan laptop dan beberapa perangkat lain yang merupakan peninggalan Kakek Minato—entah bagaimana anak itu bisa menggunakannya. Tak lupa Chiharu memakai kostum idolanya sepanjang masa—Kaitou KID. Eiji menyusul, memakai pakaian serba hitam ala ninja dengan dua samurai mini nemplok di punggungnya. Dua kompi bodyguard dengan pakaian tak jauh beda dengan si Sulung Uchiha mengekorinya.

Mereka ini mau nyulik orang atau menyerbu markas Yakuza?

"Ayo kita jemput Julietnya Paman Itameo!"

"HEYAAA!"

Semoga saja Kakek Minato tidak mengutuk Kenji karena telah menyalahkan leluhur mereka yang bisa-bisanya menurunkan genetik unik, sehingga otak generasi Namikaze punya daya imajinasi luar biasa.

Juliet?

Itameo?

What the fu*k is going here?

.

.

.

A sequel to "Yang Benar Saja"

Twin Trouble

Chic Proudly Present

.

.

.

Diary 2/3 : Berburu Gagak Biru

Chiharu menekan panel keyboard dengan tidak sabar. Keringat turun perlahan dari pelipisnya. Anak itu menggeram kesal ketika peretasan yang ia lakukan dibalikkan kembali ke awal. Zona demiliterisasi yang mereka korek tidak sepayah itu. Ia berkali-kali nyaris ketahuan oleh server tersembunyi. Kalau bukan karena sistem back-up dan back-around yang ada di perangkat Kakek Minato setiap jaringan nyaris tertangkap basah, habis sudah.

Kenji berusaha menahan agar napasnya yang sempat tersendat tetap tenang. Tanpa sadar, siswa baru Izanami itu menggigit bibirnya. Kenji dapat merasakan dengan jelas bagaimana menipisnya tempo detak jantungnya. Berbahaya. Kenji sudah tersudutkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membela diri. Semuanya sudah terlambat.

Sedangkan Eiji…seringai perlahan tampak di wajahnya. Dengan kilau merendahkan di matanya, Eiji meleletkan lidah pada sepupunya yang tampak tegang. "FULL HOUSE! AKU MENANG LAGI!" Jeritnya penuh euforia seraya melempar sisa kartu poker yang ada di tangannya.

"Heh, bocah! Kau pasti curang, kan?!" Kenji menendang kartu-kartu itu dengan penuh emosi.

Eiji merengut tidak terima. "Aku tidak curang! Kau saja yang terlalu payah, Kak! Dan—hey!— SIAPA YANG KAU PANGGIL BOCAH?!"

"YA, KAU CURANG, BOCAH!"

"Hanya pecundang yang menuduh seorang pemenang melakukan kecurangan."

"What…? Berantem yuk!"

Chiharu yang terlampau kesal karena waktu berpikirnya terganggu oleh pertengkaran konyol Eiji dan Kenji meraih dua susu kalengan masih bersegel, lalu melempar dua kaleng itu dengan niat melakukan headsot. Eiji berhasil menghindar di detik-detik terakhir, sedangkan Kenji sukses memiliki benjolan di kepalanya.

"BISAKAH KALIAN DIAM? HARU JADI SUSAH MELAKUKAN KOMPUTASI!"

Kenji dan Eiji melongo. "Amputasi?" beo keduanya ngaco.

"Komputasi, boys! KOM-PUTASI! Algoritma, tahu?" Kenji dan Eiji mengangguk kompak. "Biarkan aku tenang!"

Apalah maksud dari komputasi, Eiji dan Kenji tidak terlalu paham. Yang penting mereka tahu, Chiharu bukan berniat mengamputasi salah satu bagian tubuh mereka—seperti yang sempat terbayangkan.

.

Tengah malam di kediaman Uchiha. Di saat untaian doa terus dipanjatkan oleh pelayan yang masih gemetar atas entah-apa-yang-si Kembar+Kenji-rencanakan, Kenji dan Eiji sudah ngorok dan saling memeluk satu-sama lain bagai Mami Koala dan buah hatinya, Chiharu tiba-tiba terkikik menyeramkan.

Para pelayan di lantai bawah menjerit ketakutan dengan mata jelalatan mencari sosok makhluk halus yang mereka pikir menjadi sumber kikikan itu. Bulu kuduk mereka berdiri.

Kenji dan Eiji terlonjak bangun, mengusap iler satu sama lain, lalu menghampiri Chiharu yang mulai tertawa keedanan. Dua saudara sepupu yang masih setengah sadar itu mengangguk sepaham, lalu mengunci pergerakan badan Chiharu.

"Siapa kamu, arwah kampret? Jangan ganggu adikku!"

"Ya, keluar kamu! Sini, satu lawan satu!"

Chiharu yang menyadari dirinya disangka kerasukan hanya bisa menangis nelangsa.

"Ih! Masa Haru yang imut ini disangka kerasukaaaaaan?! JAHAT!"

Eiji menyipit berbahaya—masih curiga. "Ini beneran Haru?"

"Iya!"

"Ohh…."

Kenji yang pertama melepaskan Haru. Pemuda itu merengut kesal. Didorong rasa kantuk yang masih setia menggantung, Kenji kembali ke kasur—tidur menungging. Eiji celingak-celinguk, berjongkok—mengusap permukaan lantai berlapis karpet beludru selama beberapa detik. Setelah itu, si Sulung Uchiha-Namikaze menyusul Kenji untuk ngorok lagi.

"Kalian jangan tidur dulu!" Chiharu menendang pantat dua kakaknya itu dengan kesal. "Aku berhasil menembus base Intel Kepolisian dan mendapatkan letak pasti wanita yang bernama Konan! Dia sedang ada misi dan menyusup di barat Konoha!"

Dua pasang kelopak mata membelalak.

"Tunjukkan tempatnya!"

.

.

.

"Ini kamar Anda sekalian. Jika butuh sesuatu, silakan gunakan telepon untuk layanan hotel. Saya permisi."

Kenji menatap pelayan itu tanpa berkedip. Suaranya, gerakan tubuhnya, bahkan deru napasnya begitu teratur—terlalu teratur. Seolah-olah pria itu adalah boneka hidup, sebelas dua belas dengan jajaran bodyguard yang Mansion Uchiha tampung. Kesopanannya terlalu sopan, sampai-sampai Kenji bergidik dibuatnya.

Beralih pada si Kembar, Kenji hanya bisa tertawa garing. Dua bocah itu sudah masuk duluan, melompat-lompat di atas kasur ekstra king-sized dengan kikikan bahagia. Barang-barang bawaan dibiarkan tergeletak di atas lantai, sementara sang empunya asyik bersenang-senang.

"Dasar bocah," komentar Kenji pelan, hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Setelah itu, Kenji mengernyit. "Kalian yakin tidak akan apa-apa? Meskipun kolega, tetap saja ini bukan hotel Uchiha."

Eiji melakukan dua lompatan dan satu kali salto di udara, sebelum akhirnya mendarat kembali di lantai. Wajah cerianya kembali digantikan oleh papan penggilesan. Anak itu menghampiri tas bawaannya, lalu mengeluarkan sebuah teropong. Balkon kamar dibuka, teropong diarahkan pada sebuah kafe Dessert Corner di bawah sana. Bibirnya terangkat sedikit begitu melihat siluet kebiruan yang tertangkap lensa teropong.

"Apa yang Kakak khawatirkan? Biaya? Aku bawa ATM, tenang saja. Kalau kurang, tinggal ngutang. Kalau pemilik hotelnya tidak mau diutangi, langsung telepon Papa saja. Menyingkirkan satu hotel dari daftar kolega tidak akan berpengaruh pada kekayaan Uchiha," tutur Eiji dengan kalemnya. Anak itu terdiam, tampak berpikir. "Tapi kasihan juga karyawannya. Mungkin aku akan minta Papa untuk mengambil alih hotel ini saja." Lanjutnya tak kalah kalem.

Inikah Uchiha yang didewakan dunia?—Kenji membatin, tertawa. Baru juga beberapa menit mereka menginjak hotel mewah ini, Eiji sudah terpikirkan untuk mengambil alih? Ingin sekali ia bertepuk tangan. Dari pertama kepribadian Eiji mengalami revolusi total hingga saat ini, anak itu tidak berhenti membuat Kenji berdecak takjub. Rasanya sosok Eiji si Sepupu nggemesin yang pernah minta ganti Papa—hanya karena alasan cetek tidak mau dipanggil imut—itu hanya ada dalam imajinasi saja.

"Hey, Kak!—Mau pesan apa?" Chiharu yang juga menyudahi acara lompat-lompatnya kini tengkurap di atas kasur dengan gagang telepon di tangannya. Memesan layanan kamar.

"Aku ingin apa saja yang mereka jadikan menu spesial hari ini," Eiji bergumam, kembali menekuni teropongnya.

Setelah berbincang sejenak dengan siapapun yang ada di seberang sambungan, Chiharu beralih pada Kenji.

"Kau, Kak?"

Kenji menyeringai kecil. Sejak kecil, teman-temannya selalu iri. Mereka bilang, Kenji sangat beruntung karena bisa bersaudara dengan Uchiha.

Ayo kita buktikan, seberapa beruntungnya aku!

"Aku mau…"

.

.

.

Yang namanya guru itu selalu menyiapkan barangkali satu atau dua pertanyaan yang bisa membuat murid-muridnya mingkem tak bergerak. Bahkan terkadang, ketika seorang murid dilontarkan pertanyaan oleh guru, diam-diam dia berharap untuk mati ditelan bumi saat itu juga. Apalagi kalau pertanyaan yang diajukan berupa soal tertulis dan harus diselesaikan, mengandung unsur huruf konsonan kampret disebut variabel yang sukses membuat otak hanging dan badan ingin melemparkan sesuatu hingga papan tulis itu hancur berantakan.

Tapi, guru-guru Konoha Elementary pasti tahu, kasus berbeda akan dialami jika murid yang diajar itu semacam Uchiha Eiji. Dunia adalah pertanyaan di mata Eiji. Bukannya memberi pertanyaan, mereka justru digelontor pertanyaan. Jangankan teori pelajaran, hal kecil dari sepatu, seragam, keras tidaknya membuka pintu, langkah kaki, sampai lebar mulut ketika berbicara pun dipermasalahkan. Guru mana yang tidak mingkem jika menghadapi murid unik sepertinya?

Kalau ada satu hal yang tidak Eiji pertanyakan, maka itu adalah kewarasan keluarga besarnya. Dengan melihat ulah Nenek Mikoto—yang sampai sekarang masih keras kepala beranggapan bahwa Eiji cocok pakai baju peri—saja Eiji sudah menepuk jidat. Belum lagi ditambah kelakukan Paman Kurama yang paling abnormal(fakta bahwa pria itu pernah menulis buku harian masih sanggup membuat Eiji tertawa hingga perutnya keram), ulah Mama yang diam-diam menghanyutkan, juga sedikit kisah yang Papa bagi setiap perjalanan bisnis mereka seputar Kakek-Nenek Namikaze.

Saat Eiji mendapati kamar hotel yang mereka tempati dengan kapal pecah tidak bisa dibedakan—Eiji hanya bisa tersenyum manis.

Sebelumnya—saat layanan kamar yang dipesan sudah datang—mereka bertiga makan dengan tenang. Eiji yang sengaja menyisakan tempat untuk dessert di perutnya—sebagai modus mengamati target mereka lebih dekat—selesai makan terlebih dahulu. Eiji sempat curiga dengan beberapa benda asing yang ada di troli layanan kamar mereka, tidak terlalu mengindahkannya. Dengan pakaian kasual, Eiji pergi ke kafe Dessert Corner.

Targetnya, Konan, sudah seminggu bekerja di kafe tersebut dengan nama samaran Aomori Kami. Eiji terus mengekori diam-diam, berhasil mendapat alamat tempat tinggal sementara dari wanita berambut biru itu. Menyusupkan penyadap suara, Eiji berhasil mendapat kesempatan untuk 'menculik'nya. Besok, di taman hutan Konoha bagian barat. Ada beberapa bagian yang cukup terpencil dan strategis untuk melakukan aksi. Eiji sudah menghubungi bodyguard yang ia bawa untuk bersiap. Tersisa melapor pada Kenji dan Chiharu.

Malam hari Eiji kembali ke hotel, untuk mendapati bahwa dua orang yang bersangkutan tengah duduk berhadapan di lantai dan terkikik seperti orang gila. Keadaan di sekitar mereka benar-benar kacau.

Mungkinkah kegilaan reader sudah merajalela?

Eh. Abaikan.

"Eiji-cyaaaan! Sin-hik-sini! Bermainlah bersama kami~!"

Eiji bergidik ngeri. Itu seriusan Kak Kenji?

"Khukhuk—hik! Kak Ei~ Mama benar~ Kau semakin tampan~!"

Apa. Yang. Sebenarnya. Terjadi. Di. Sini?

Eiji beringsut menjauh saat Kenji dan Chiharu bangun. Dengan langkah terseok-seok seperti zombie, keduanya mendekati Eiji. Wajah Eiji merona malu saat keduanya memeluk Eiji dengan manja.

"Eiji-cyaaaan!"

"Kak Ei~!"

Sudah. Cukup.

Eiji melepaskan diri, buru-buru mencari benda mencurigakan yang sempat ia lihat tadi siang. Saat menemukannya dalam keadaan kosong, Eiji mengumpat pelan. Ragu-ragu, Eiji mendekatkan ujung kepala benda itu dan mengendusnya. Aroma menyengat namun tak asing tercium oleh Eiji. Aroma yang paling sering Eiji hirup di meja jamuan kolega-party. Aroma yang paling sering membuat Papa mengeluarkan isi perutnya jika terlalu lama tercium.

Aroma anggur.

"Siapa yang pesan ini?" Eiji memicing tajam.

Chiharu merangkak ke atas kasur, berguling di atasnya hingga terjatuh ke bagian sisi yang lain. Eiji meringis kecil—seharusnya itu sakit. Lalu, Chiharu kembali bangkit dan melompat di atas kasur dengan badan letoy. Tangannya menunjuk ke arah Kenji.

Kenji sendiri malah tertawa. Meraih bantal yang jatuh di lantai dan memasukannya ke dalam kaos yang dipakai—hingga perutnya tampak membuncit. Setelah itu, Kenji kembali menghadap Eiji dengan mata berkaca-kaca.

"Eiji-cyaaaan jahat! Kau harus bertanggung jawab! Bagaimana nasib anak kita? Huweee~!"

"Mati saja sana!" Eiji melotot horror. Sebelum Kenji tambah ngawur, Eiji buru-buru menyambung. "Kalian masih di bawah umur, darn it! Kenapa kalian memesan anggur?!"

"Kami ingin sepertimu juga, Tuan Muda Uchiha! Kau pasti sering menyentuh minuman mewah ini, kan?" Kenji dan Chiharu manyun secara bersamaan.

"Aku bersumpah tidak pernah minum! Meski dipaksa, aku tidak akan melanggar hukum! Papa dan Mama memang memperbolehkanku jika umurku sudah—ah. Lupakan saja." Eiji tertawa hambar saat Kenji dan Chiharu jadi asyik dengan dunia masing-masing. Mereka tidak menghiraukannya.

Setelah mengunci kamar dari luar, Eiji langsung mendatangi resepsionis yang bertugas. Wanita berambut ikat kuda itu menatap Eiji heran. "Anda belum tidur, Tuan Muda? Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya was-was.

"Pagi-pagi sekali, kirimkan pelayan ke kamarku untuk membereskan tempat itu. Jangan lupa sediakan susu coklat hangat. Satu galon kalau perlu," Eiji meletakkan kunci kamarnya, disertai dua gepok uang tips. Anak itu sempat diam, menimang-nimang apa lagi yang ia perlukan. Merasa tidak ada, ia berujar, "Sampaikan salamku pada Mr. Kouhei. Beri tahu beliau aku siap mengirimkan tuntutan karena hotel ini telah memberikan anggur pada dua saudaraku yang masih di bawah umur. Selamat malam, semoga harimu menyenangkan."

Setelah itu, Eiji meninggalkan resepsionis yang masih berusaha meredakan tekanan yang ia rasakan dari tatapan datar anak itu.

Pada akhirnya, Eiji lebih memilih tidur di tempat bodyguardnya menginap, sekaligus mendiskusikan rencana penculikan yang akan dilaksanakan besok. Tak lupa dengan tempat strategis untuk penyekapan.

.

.

.

Itachi meringis pelan ketika berhasil meraih kembali kesadarannya. Hal yang terakhir ia ingat adalah kepulangannya ke rumah sehabis dari bengkel cabang. Ia baru saja selesai mandi dan memakai piyama. Lalu, tiba-tiba saja tengkuknya terasa sakit—dan semuanya jadi gelap. Sekarang, ia duduk terikat di garasi ruang bawah tanahnya.

Siapa gerangan yang melakukan semua ini?

Mata tajam Itachi menelisik sekitar, memastikan tidak ada barangnya yang hilang atau bahkan pindah tempat. Lalu, pandangannya terfokus pada satu sosok lain yang sama-sama terikat sepertinya. Matanya tertutup kain. Entah bagaimana, tapi rambut biru sebahunya tetap tertata rapi.

Itachi mengerjap tidak percaya. "K-Konan?!" sahutnya ragu.

Sosok yang dimaksud berjengit dalam duduknya. Sekilas Itachi lihat, wanita itu menggigit bibir bawahnya.

"Suara itu…Itachi? Kau Uchiha Itachi?"

Itachi meneguk ludah. Tidak sekali pun ia membayangkan, akan bertemu teman lamanya di sini, dalam keadaan terikat. Ah, bahkan membayangkan akan bertemu lagi pun tidak pernah. Apalagi…setelah kata-kata kasarnya pada Konan di masa lalu.

"Kau—" Perkataan Itachi terputus oleh suara klik yang menandai dinyalakannya lampu terang ruangan itu. Seorang pemuda masuk, Itachi menganga. Pemuda itu…benar-benar mirip Kurama beberapa tahun ke belakang!

"Sepertinya… Kalian sudah bangun, eh?"

Itachi tersedak ludahnya sendiri. Bahkan suaranya pun sama!

"Selamat pagi, semuanya!" Dua sosok serupa robot muncul. Rambut spike mereka berwarna hitam. Mereka memakai kacamata aneh dan pakaian mengkilap seperti alumunium. "Ms. Konan dan Mr. Uchiha. Perkenalkan, kami adalah cucu dari cucunya cucu buyut cucunya kakek dari bibi dari paman yang merupakan anaknya cucu buyut dari Namikaze Kurama. Kami dari masa depan."

Kedua sosok terikat berjengit tanpa sadar begitu mendengar satu nama disebutkan. Konan menunduk, bahkan ketika satu dari dua sosok serupa robot itu melepaskan ikatan yang menutup matanya.

Itachi menyipit. "Kau siapa?" tanyanya pada yang pertama masuk.

"Aku?" Sosok itu menyeringai. "Aku Namikaze Kurama, tentu saja. Dua anak ini membawaku dari masa lalu. Kau lupa padaku? Hmm… Mungkin tanggal 9 September akan mengembalikan ingatan kalian terhadap sesuatu?"

"Aku tidak mengerti apa maksudmu," Konan dan Itachi menjawab bersamaan. Keduanya mengangkat kepala, menatap tajam pada sosok itu. "Lepaskan kami!"

Sosok itu menggertakkan giginya. "Tidak ingat?" ulangnya, tertawa hambar. "Kalian membuatnya menderita! Seharusnya kalian terus mengingatnya sampai ingin bersujud memohon ampunan dari Ayah!"

"…Ayah?" Itachi tersenyum dongkol. Oh, Itachi mengerti, sekarang. "Kenji, ini tidak lucu. Dan…oh, itu kalian, kan. Eiji-Haru?"

Dua sosok serupa robot reflek mencubit keras rekan mereka.

"DASAR PAYAH!" suara macam robot menghilang, Itachi bisa mendengar jeritan khas dari keponakannya. Rekan mereka—Kenji, ya, merengut protes, membalas dengan menjitak keduanya.

Konan menatap empat orang di dekatnya bergantian—bingung. Masih belum paham maksud dari semua ini. Penyamaran ditanggalkan, Konan semakin tidak mengerti.

"…Itachi? Kau mengenal mereka?"

Itachi tersenyum kering. Ingin sekali ia jawab bahwa ia tidak mengenali bocah kurang ajar ini. Mereka ini mau apa, coba? Bisa-bisanya menyekap Itachi dan Konan di garasi milik Itachi seperti ini! Tapi…darah lebih kental dari air. Itachi tak bisa membohongi pohon keluarga yang ada.

"Mereka keponakanku," aku Itachi setengah hati. Ia abaikan pelototan tidak terima dari tiga bocah yang dimaksud. "Harap maklum. Mereka ini agak gila dan…sedikit eksentrik."

"Terus saja jelek-jelekkan kami dan kau diam di sini selamanya, Paman!" Chiharu yang pertama bersungut. Eiji hanya menatapnya datar. Sedangkan Kenji, maju untuk melepaskan ikatan Konan.

"Aku mengemukakan fakta, hey!" Itachi bersidekap begitu tali yang mengikatnya ikut terlepas. "Sekarang, jelaskan! Apa yang kalian lakukan?!"

Konan terkikik kecil melihat Itachi berlaku sok galak. Jadi teringat masa-masa sekolah ketika Itachi memarahi Kurama yang dihukum guru, tapi tetap ikut membantunya menyelesaikan hukuman.

"Justru kami ingin menanyakan apa yang terjadi pada tanggal 9 September!" Kenji mendengus keras, melemparkan buku harian Ayahnya ke pangkuan Itachi. Konan reflek mendekat.

Untuk beberapa saat, keduanya bertahan dalam posisi duduk—membaca buku harian yang Kenji lemparkan. Kenji, Eiji, dan Chiharu menunggu. Memperhatikan tiap emosi yang bergantian muncul di wajah dua orang dewasa itu. Sedih, haru, tawa, sebal, dan yang terakhir…penyesalan.

"Ini bukan urusan kalian," Itachi menghela napas, mengembalikan buku itu. "Pulanglah!"

Kenji berlutut di depan Itachi, mencengkram kerahnya. "Selama Ayahku masih merasa bersalah, hal ini adalah urusanku! Dia tidak bersalah!"

Itachi tidak menanggapi. Tapi, ia tetap balas menatap Kenji—melembut. Konan melepaskan cengkraman Kenji dengan ragu-ragu, lalu menghadapkan pemuda itu padanya.

"Kenji…ya? Kau…anak Kurama?"

Kenji bersidekap. "Kau menyuka—hmm…Mungkin tepatnya—mencintai Paman Itachi. Seperti gadis bodoh yang terpedaya cinta pada umumnya, demi bisa mendapat Paman Itachi, kau mendekati Ayahku—sahabatnya. Kau menggunakan Ayahku sebagai umpan untuk membuat Paman Itachi cemburu dengan menjadi kekasih Ayah. Apa aku salah?"

Konan tertawa kecil. Tawa tertahan, dipaksakan. "Kau pintar. Benar sekali. Karena kebodohannya juga, ia—aku, dibenci oleh orang yang dicintainya, sekaligus menyakiti seseorang yang tulus dan berhati baik. Aku malah merasa tidak pantas untuk bertemu denganmu. Setelah semua yang kulakukan…" Konan mengernyit heran saat Kenji tiba-tiba tertawa.

"Ulah kalian menjauhinya justru lebih menyiksa Ayah! Aku yakin kalian juga mengerti dari cara dia menulis buku harian itu. Grow up! Ini sudah berapa tahun? Satu? Dua? Lebih!" Kali ini, Kenji tersenyum usil. "Sudah cukup dramanya. Aku Cuma ingin memastikan saja. Karena, dengan sikapnya selama ini… Agak sulit untuk mempercayai isi buku harian itu,"

Di belakangnya, Eiji dan Chiharu mulai tertawa ngakak.

"Sekarang, bukankah kalian punya sesuatu untuk disampaikan?" Kenji memancing.

Konan menggeleng kecil dan tersenyum. Ada kilatan keyakinan dalam mata madunya. "Aku sudah lama tidak mengusik hidup mereka. Aku akan bertahan."

Kenji mendengus jengah, beralih pada Itachi. "Paman? Kau tidak akan memberitahu Konan-san tentang perasaan yang kau tutupi waktu itu? Bukankah sampai sekarang kau masih mencintainya?"

"Apa yang kau lakukan, bocah?" Itachi salah tingkah.

"Aku? Bosan mungkin?" Kenji mengangkat bahu.

"Bosan kenapa?"

"Statusmu bertahan terus di Jomblo Purbakala. Aku kan bosan!"

Konan dan si Kembar Uchiha tertawa.

"…Sialan…"

Kenji nyengir.

.

.

.

Diary 2/3 : Berburu Gagak Biru—END

Omake…

Sasuke mendengus puas setelah kakinya menginjak lintasan terbang Bandara Konoha. Kalau tidak ada apa-apa, ia bisa semingguan bermalas-malasan di rumah—atau barangkali mengajak si Kembar jalan-jalan?

Koper beralih di tangan pelayannya, Sasuke mulai melangkah sembari mengeluarkan ponselnya—mematikan mode pesawat. Mendapat akses telekomunikasi, benda itu mulai bergetar—dimasuki banyak pesan yang rata-rata bersumber dari rekan bisnisnya. Sasuke sempat terdiam, begitu satu panggilan masuk dengan nama yang tidak Sasuke duga sebelumnya.

Incoming Call…Kouhei Teren—Teren Hotel

Answer?

Yes!

"Moshi-mosh—"

"SAYA MOHON MAAF, TUAN UCHIHA!"

Sasuke menjauhkan ponselnya, mengernyit heran. Maaf kenapa?

"SAYA AKAN MELAKUKAN APAPUN! TOLONG JANGAN AMBIL ALIH HOTEL SAYA! SAYA MOHON MAAF PADA ANAK AN—"

Masuk ke gerbang kedatangan luar negeri, sambungan terputus. Sasuke yakin, Mr. Kouhei di seberang sedang panik saat ini. Mengira dirinya sengaja memutus sambungan, mungkin? Lagipula…ada apa antara Mr. Kouhei dan putranya sampai-sampai pemilik Hotel Teren itu terdengar seperti narapidana yang dijatuhi hukuman mati begitu? Siapa juga yang mau mengambil alih hotel?

Tidak mau termakan rasa penasaran, Sasuke mengirimkan pesan. Jam segini Eiji pastinya sedang sekolah.

To : Eiji

Mr. Kouhei meminta maaf. Ada apa?

Tak disangka, jawaban yang datang cukup cepat.

From : Eiji

Dia membiarkan Kenji dan Chiharu memesan anggur. Aku tidak akan memaafkannya.

Ponsel teranyar Sasuke nyaris saja tewas menghantam pijakan. CEO Uchiha Group itu mengusap matanya—tidak percaya dengan kata-kata yang berhasil dibacanya. Lalu, ia dikejutkan oleh pesan lain yang masuk.

From : Eiji

Aku tahu uang dan nama kita dipandang menyeramkan oleh banyak orang, Pa. Tapi yang mereka lakukan itu konyol. Anggur untuk anak di bawah umur? Mereka tolol ya? Bagaimana kalau badan Kak Kenji maupun Chiharu jadi tidak sehat?

.

Write new message?

Yes!

To : Kouhei Teren—Teren Hotel

Saya tunggu di D'licious C&Fancy dalam dua jam. Ada banyak yang harus kita bicarakan, Mr. Kouhei.

.

To : Eiji

Satu cabang Izanagi Hotel atas namamu, mau?

.

From : Eiji

Why not?

End of Omake…

.

.

.

A/N

Err? Apakah sudah cukup absurd? *garukpantat*

Hell yeah… Tempo hari baru saja memergoki seorang makhluk yang berani-beraninya mengopas sebagian dari ff Uzumaki's Prodigy. Karena setting ceritanya beda, bahkan yang setia membaca UP pun tidak sadar, huhu. Seriously, kenapa tidak copas ff ini saja biar lebih ketahuan apa yang telah kau lakukan, wahai makhluk yang tidak menotice terror saya? t('-'t)

Saya sampaikan terima kasih untuk dirimu yang tidak mau disebut, karena telah melapor pada saya huhu…*mewek* Tanpamu saya tidak akan tahu, mengingat belakangan ini saya nongkrongnya di fandom sebelah.

Re-review

Byakuren Hikaru 83

Wah, kebetulan yang sangat luar biasa haha! Sama-sama. Senang bisa menambah kestressanmu sebelum ujian. Jhahaha

Terima kasih~ Semangat juga untukmu! Bagaimana ujiannya? Lancar jaya?

Choikim 1310

*smirkback* Menurutmu sendiri, apakah chap ini banyak kegilaannya? :v

Ayanara 47

Yang penting ada kan. *enteng

Nah, Itachi sudah keluar, dan ya, diintrogasi oleh Kenji. Bagaimana menurutmu?

Da Discabil Worm N. A

.

(Udah dijawab ya om :v)

Dewi 15

Sudah dilanjut~

Aiko Vallery

Thanks~ Ini sudah dilanjut~

InmaGination

Yap. Dia menjomblong. Hahaha.

Udah muncul nih si abang. Semoga memuaskan~

L. casei shirota strain

Thanks!

Askasufa

Hahaha butuh belaian dong .

Iya dong, Kurama manis….kayak yang buat. Hahaha

Guest

Kau ini *toyor

Sebagai anak, seharusnya menerima emakmu ini apa adanya, ndoro. *ngaistanahnangisbombay

Emak rada normal bukannya bersyukur malah protes, lu mah! *jewer #modeemakgarang

Coccoon

…Hati-hati. Siapa tahu Kurama mendengar perkataanmu dan sedang merencanakan sesuatu. Hahaha.

Aamiin. Siap~

Anyavsyh

Saya panik baca review-mu. Dicek ulang, ternyata memang tidak ada. Mungkin tidak terkirim? Belakangan ada masalah dengan pengiriman review di ffn. 'v Maaf sebelumnya *bow*

Eiji matanya biru. (: Rambutnya yang item.

Setelah mencoba untuk normal kemarin, ternyata mayoritas menyukai saya yang absurd. Kalau begitu, okelah. Saya kembali absurd. Hahaha.

See ya, muahh juga hahaha

Cheonsa 19

Hahaha… Penyakit narsis memang tidak ada obatnya (:

Noe Hiru

Saya dan segenap chara sinting dari ff ini mengucapkan bela sungkawa pada sisi kewarasan Anda yang mungkin sekali tergerus oleh ff absurd ini. But, well yeah. Yang penting absurdnya bareng-bareng, haha~ Selamat datang~ Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung. *bow*

Ini sudah dilanjut vroh~

Okiniiri – Hime

Yes he do. Jagoannya pun—Kenji—tidak percaya. Haha. Terima kasih sudah mau menunggu~

Eti. Nexapel

Lah. MinaKushi kan memang udah mokad dari chap terakhir Yang Benar Saja? :v

Hahaha. Kenapa gak sekalian bunuh diri dengan robek arteri aja macem di sinetron yak? Kan lebih tidak elit huaahaha

AySNfc 3

Terjawab di chap depan~

Jasmine DaisynoYuki

Sudah terjawab belum? Kalau belum, kotak review selalu tersedia~ Terima kasih~

Narudobetetsuyapolepel

T-TETSU-NYAN! AKUPADAMU #PLAK #fokuswoiii

Hehehe… Terima kasih~ Semua chara kebagian dinistain kok *ehh hahaha…

Yap. Konan itu cinta pandangan pertamanya Kurama.

Namikaze Otorie

Kebingungannya sudah dibahas di pm yak~ Kurama dan Sara menikah menelurkan(?) Kenji. Konan tidak ada sangkut pautnya dengan kelahiran anak unyu yang satu ntu. Maaf kalau saya agak judes atau dingin di pm. Saya sedikit sensi dan posesif pada OC yang saya buat. Hahaha.

Dyah 302

Jiahaha… Lain kali Chic pastikan lebih nista. *ehh

MDTK SSNR ITKY

MidoTaka SasuNaru ItaKyuu? #FOKUSWOII

Apapun yang terjadi, meskipun saya ingin, kemungkinan kedua tidak akan terjadi. :v

Tidak apa-apa. Kau bisa menangkap maksud diary itu dengan baik. Dan seperti yang Chic bilang di chap kemarin, kau…TIDAK DAPAT APA-APA HUAHAHAHA *joss

Semoga ini termasuk cepat~

Ada dua review baru yang tersembunyi. Damn bug. Mengapa ffn harus mengalaminya *snort

Well… Maaf bagi yang ada kesalahan penulisan nama, atau terlewat. Kesempurnaan tidak ada pada manusia, apalagi ayam seperti Chic. :v

Again…THANKS FOR ALL ATTENTION and SUPPORTS! I LOVE THEM ALL! NYIAHAHA!

Sekian terimacinta,-cough—

Chic White

(Your Possible!Chic-ken *roosting*)