Disclaimer : Meskipun saya udah sujud-sujud memohon, Bleach tetap milik Tite Kubo

Genre : Friendship/Romance/Hurt/Comfort

Rate : T

Warning : AU, Typo, OOC, Gaje, Ide pasaran

Ctt : tulisan miring merupakan flashback

.

Love to My Childhood Friend

.

Cerita sebelumnya

"Nah, kau mau bicara apa?" tanya Ichigo langsung saat mereka sudah berada di atap.

"Ehm, begini, aku tau kalau kita baru sebentar bertemu dan ya-yah aku tau kita juga belum begitu dekat,-" ucap Orihime sambil menundukkan kepalanya. Ichigo hanya menaikkan sebelah alisnya karena merasa agak aneh dengan omongan dan sikap Orihime, entah kenapa seperti orang malu-malu.

"Ta-tapi aku sangat yakin dengan perasaan ini." lanjut Orihime bertele-tele sambil melirik pintu atap. Begitu ia melihat Rukia sedikit membuka pintu atap, dengan seringai yang tentu saja tidak terlihat oleh Ichigo, ia langsung mengatakan maksudnya.

"Aku sangat menyukaimu Ichigo-kun. Maukah kau menjadi pacarku?" Ucap Orihime dengan suara yang cukup keras agar Rukia dapat mendengarnya.

.

.

Chapter 6 : Move On?

"Aku sangat menyukaimu Ichigo-kun. Maukah kau menjadi pacarku?" Itulah yang dikatakan oleh Orihime. Tubuhku langsung kaku. Tak dapat kupungkiri bahwa pernyataan cintanya membuat hatiku sedikit senang dan kaget tentunya. Tunggu, kenapa hanya sedikit? Bukankah aku memang sudah menyukainya dari awal, lalu kenapa aku tidak segembira yang kupikirkan?

"Ehm, Ichigo-kun?" Aku tersentak, kupandangi Orihime yang terlihat malu di dapanku. Apalagi yang kau tunggu Ichigo, bukankah ini yang kau inginkan, kau bahkan tidak perlu menembaknya karena ia yang duluan bertindak. Tapi kenapa aku jadi ragu begini?

.

*~* LtMCf *~*

.

Langit tak berhias matahari, biru laut tergantikan oleh kapas abu-abu dengan tarian angin yang tidak sehalus biasanya. Pagi nan mendung mengiringi perjalanan seseorang. Rukia, gadis mungil itu bejalan dengan malas bahkan tidak peduli jika hujan akan turun sebentar lagi. Demi menghindari pergi dengan Ichi dan Orihime, ia pergi lebih pagi. Beberapa kali ia menghela napas. Kalau bisa ia tidak ingin pergi ke sekolah hari ini, namun ia harus bilang apa ke Byakuya. Tidak mungkin kan ia bilang sedang patah hati, kakaknya pasti akan langsung memenggal kepala Ichigo dengan pedang kesayangannya.

Begitu sampai di kelas ia langsung membenamkan kepalanya pada lipatan tangan yang ia tempatkan di atas meja. Teman-temannya pun hanya bisa terheran-heran melihat Rukia berbeda dari biasanya, maklumlah biasanyakan ia selalu telat dan selalu ribut dengan Ichigo tapi kali ini ia datang pagi dan tanpa Ichigo. Garis bawahi itu, tanpa Ichigo.

"Wah, Kurosaki gandengan dengan Orihime," teriak Keigo di depan jendela kelas. Rukia langsung tersentak mendengarnya. Dilihatnya teman-temannya sedang berkerubung di jendela untuk melihat Ichigo dan Orihime. 'Jadi, mereka benar-benar sudah pacaran.' Batin Rukia.

Saat Ichigo sudah berada di kelas, semua teman-teman heboh mengintrogasi, menggoda dan memberi selamat pada kedua pasangan baru itu. Orihime hanya tersenyum malu-malu sedangkan Ichigo jadi salah tingkah, namun ada perasaan risih yang menggangunya. Tanpa sengaja violet Rukia bertemu pandang dengan iris madu Ichigo. Rukia langsung membuang muka dan itu sukses membuat kerutan dahi Ichigo semakin berkerut.

Bel istirahat berbunyi, Rukia langsung keluar kelas untuk mencari tempat yang sepi. "Rukia, tunggu aku," teriak Rangiku saat melihat Rukia melewati kelasnya dengan terburu-buru. Ia langsung menarik Rukia ke UKS. Beruntung sekali guru UKS sedang tidak ada.

"Kau tidak apa-apa Rukia? Kudengar Ichi pacaran dengan Orihime," tanya Rangiku khawatir.

"Ak-aku, rasanya sakit Ran-chan," ucap Rukia sambil meremas bajunya. Lelehan air mata sudah tak dapat ia bendung lagi. Rangiku langsung memeluknya dan membiarkan Rukia menangis. Rangiku tau bagaimana perasaan Rukia, karena itu ia hanya diam mendengarkan semua kesedihan yang ditumpahkan Rukia.

.

Rukia's POV

Selesai memenuhi panggilan alam (?), aku langsung berlari menuju atap, bahkan saking semangatnya aku hampir menabrak beberapa orang, maklumlah lagi lapar hehe. Saat aku sudah sampai di atap, aku mendengar suara orang yang sedang berbicara. Ck, siapa sih yang lagi di atap, itukan tempat makan favoritku dan Ichi, menggangu saja. Kubuka pintu atap sedikit, namun cepat-cepat kuurungkan niatku. Apa yang sedang mereka lakukan? Kufokuskan pendengaranku agar bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

"Ta-tapi aku sangat yakin dengan perasaan ini." Kudengar suara Orihime yang terdengar bergetar dan malu-malu. Mau ngapain tuh? Tunggu, dilihat dari gelagat dan situasinya, jangan-jangan, "Aku sangat menyukaimu Ichigo-kun. Maukah kau menjadi pacarku?"

JLEB!?

Aku tau suara itu, aku tau rasa sakit ini, ribuan pisau itu kembali menusuk hatiku. Ichii, kumohon jangan terima, mataku sudah mulai basah, nafasku juga sudah mulai terasa sesak, aku meremas seragamku setidaknya untuk membuatku tetap kuat berdiri. Apakah ini sudah berakhir?

"Aku juga menyukaimu Hime."

Hiks, aku membekap mulutku sendiri agar isakanku tidak terdengar oleh mereka.

End of Rukia's POV

.

Setelah beberapa saat tangis Rukiapun berhenti. "Rukia, apa kau sudah makan?" tanya Rangiku yang hanya dijawab dengan gelengan Rukia.

"Kalau gitu ayo kita makan, kau bawa bekal? Atau kita ke kantin saja?"

"Aku tidak ingin ke kantin, tidak dengan wajah seperti ini."

"Kalau begitu aku akan membeli makanan dan membawanya kesini, tunggu sebentar ya," ucap Rangiku sambil berjalan ke luar. Tak lama kemudian ia sudah kembali sambil membawa makanan dan jus untuk Rukia. Disodorkannya makanan itu, namun Rukia tidak memakannya, ia hanya menatap kosong makanan yang diberikan Rangiku.

"Rukia, kau harus makan," ucap Rangiku khawatir.

"Aku tidak lapar Ran-chan."

"Owh, ayolah, paling tidak temani aku makan, tidak enak tau makan sendirian," bujuk Rangiku. Namun Rukia masih belum juga memakannya.

"Baiklah, kalau kau tidak makan, aku juga tidak akan makan," bujuk Rangiku lagi. Akhirnya bujukan itu berhasil juga. Selesai makan Rangiku kembali ke kelasnya sedangkan Rukia masih di ruang kesehatan. Awalnya Rangiku memaksa ingin menemaninya tapi langsung ditolak oleh Rukia. Ia butuh sendirian. Ia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya.

.

*~* LtMCf *~*

.

GREK. Ichigo membuka pintu ruang kesehatan dan melihat Rukia sedang tidur. Ia mendekati Rukia dan duduk di samping tempat tidur. Terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya. "Kau kenapa Rukia?" tanya Ichigo sambil membelai lembut rambut Rukia. Ia tau Rukia tidak akan mungkin mendengar pertanyaannya. Tak lama kemudian, handphone Ichigo bergetar. Ia langsung bangkit untuk menemui Orihime begitu membaca pesan darinya. Sekali lagi ia memendang Rukia yang masih tertidur sebelum pintu benar-benar ia tutup.

Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Rukia segera membuka matanya. Sebenarnya Rukia tidak tertidur. Ia hanya tidak tau bagaimana harus bersikap di depan Ichigo. Ia bisa mendengar pertanyaan khawatir dari Ichigo, ia tau ia tidak bersikap wajar, tapi bagaimana mungkin ia bisa bersikap wajar jika mengetahui orang yang ia sayangi telah menjadi pacar orang lain.

"Hhh, kenapa kau membuatku begini Ichigo, kenapa kau masih perhatian padaku, kenapa kau membuatku jatuh cinta tapi berpacaran dengan orang lain. Kau benar-benar curang," gumam Rukia.

Rangiku datang ke ruang kesehatan untuk mengajak Rukia pulang bersama. "Ran-chan, aku akan melupakan Ichigo." Rangiku membulatkan matanya.

"Kau yakin?" tanya Rangiku.

"Yah, hanya itu yang bisa kulakukan kan?" Rangiku tersenyum getir, ia tau ini adalah keputusan sulit untuk Rukia. Ia hanya bisa mendukung sahabatnya itu.

"Aku akan mendukungmu Rukia," ucap Rangiku.

"Nah, ayo kita pulang." Lanjut Rangiku dengan riang, ia berusaha terlihat semangat agar Rukia juga ikut bersemangat.

.

*~* LtMCf *~*

.

"Yoo, pagi Jeruk," sapa Rukia saat melihat Ichigo keluar dari rumahnya.

"Ehm, pagi juga midget. Sepertinya kau sudah sehat," balas Ichigo. Ia tersenyum lega melihat Rukia yang sudah seperti biasanya.

"Tentu saja. Baiklah, aku pergi dulu ya."

"Eh, kita tidak pergi bersama? Sebentar lagi Orihime keluar."

"Dan mengganggu waktu bermesraan kalian, yang benar saja Ichigo. Mulai sekarang kau tidak usah menjemputku lagi, Ok."

"Kau sama sekali tidak mengganggu midget, Orihime juga pasti merasa begitu."

"Dengar ya jeruk baka kalau kubilang tak usah menjemputku ya lakukan saja, lagian aku bukan lagi anak kecil yang harus selalu ditemani. Sudahlah aku pergi ya. Ah, jangan lupa kau harus mentraktirku," ucap Rukia sambil menyikut lengan Ichigo kemudian berlari meninggalkannya. Ichigo hanya memandang punggung Rukia, entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganggunya.

'Dasar jeruk baka, seenaknya saja mengajakku pergi bareng, kau pikir aku mau melihat kebersamaan kalian.' Batin Rukia. Tiba-tiba ia merasa lemas dan bersandar pada tiang listrik. 'Cukup Rukia, kau kuat, kau harus merelakannya.' Setelah dirasa cukup kuat ia kembali melanjutkan perjalanannya.

.

*~* LtMCf *~*

.

"Rukia-chan~ bagaimana kalau kita makan berdua, kau pasti sendirian, Ichigo kan akan makan bareng Orihime," ajak Keigo.

"Jangan berharap Keigo," jawab Ichigo.

"Yang kutanya itu Rukia-chan, bukan kepala jeruk," balas Keigo dan tentu saja dihadiahi tatapan tajam Ichigo.

"Hahaha, sudahlah kalian, maaf Keigo, aku sudah janji akan makan bareng Rangiku," ucap Rukia sebelum terjadi pertengkaran konyol antara Ichigo dan Keigo.

"Ahhhh~ lain kali kau harus makan denganku ya~" ucap Keigo memelas yang langsung membuat Ichigo jijik.

"Kau tidak makan denganku, bukankah kau minta ditraktir?" tanya Ichigo.

"Hehehe lain kali saja deh, aku lagi bawa bekal," jawab Rukia sambil memperlihatkan bekalnya.

"Huh, dasar aneh, tadi minta ditraktir."

Di taman belakang Rukia melamun di bawah pohon. Ia terdiam melihat makanannya tanpa ada niat untuk memakannya. Ia berbohong soal makan dengan Rangiku, yang ia butuhkan saat ini adalah kesendirian. Ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan Ichigo, namun kembali murung saat sedang sendirian.

"Hm, seperti biasa, sosis gurita ini enak sekali." Rukia tersentak dari lamunannya, kepalanya refleks menoleh dan dilihatnya Ashido dengan cengiran di wajahnya.

"A-ashido? Sejak kapan kau disini?"

"Dari tadi. Kau pasti tidak sadar ya? Melamun terus sih, tapi gak papa sih kalau yang kau pikirkan itu aku."

Rukia tertawa kecil mendengar ucapan narsis Ashido. "Kau terlalu pede," cibir Rukia.

"Terima kasih atas pujiannya," balas Ashido sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Hahaha, sepertinya kau mengidap penyakit yang parah."

"Benarkah? Mungkin karena aku belum makan."

"Huh, bilang saja kau mau aku tawarin."

"Itu kau tau, ayo bagi bekalmu, kau kan tidak memakannya," ujar Ashido yang hendak mengambil bekal Rukia. Mengetahui niat Ashido, Rukia langsung menjauhkan bekalnya dari Ashido.

"Siapa bilang aku tidak memakannya, aku hanya sedang berpikir mana yang mau kuhabiskan duluan."

"Ternyata kau pelit. Sini, berikan bekalmu itu!"

"Tidak mau. Weekkk!" Ashido langsung pura-pura ngambek karena tidak diberi makan oleh Rukia. Melihat wajah itu, Rukia langsung tertawa terbahak-bahak.

"Akhirnya kau tersenyum juga. Kau manis tau kalau tersenyum." Rukia langsung berhenti tertawa dan menjadi salah tingkah.

"Ck, rayuanmu berhasil, nih bekalnya." Disodorkannya bekal makanannya. Merekapun akhirnya makan siang bersama.

.

*~* LtMCf *~*

.

"Hmmm, pakai rumus yang ini atau ini ya?" tampang kusut terlihat di wajah Rukia, ia terus membolak balik halaman pada buku catatannya, sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Arrgghh, menyebalkan! Kenapa matematika sesusah ini sih dan kenapa juga yang mengajar harus Kenpachi-sensei aku kan jadi takut kalau tidak mengerjakannya," teriaknya sambil mengacak-ngacak rambutnya seperti orang stress.

"Apa minta tolong Ichi aja ya. Tapikan aku ingin menjauh darinya." Akhirnya Rukia kembali mencoba berkutat dengan PRnya lagi. Namun, setelah beberapa menit mencoba, ia membenturkan kepalanya kemeja. Ah, sepertinya ia sudah menyerah.

"Baiklah, aku menyerah, aku harus meminta pertolongan Ichigo, persetan dengan menghindarinya yang penting aku tidak dibunuh oleh si guru yakuza itu." Dibukanya pintu yang menhubungkan ke balkon kamarnya.

"Nee, Ichiiii, kau sedang apa?"

SREK

"Ada apa Rukia, kau menganggu tidur siangku," jawab Ichigo sambil pura-pura mengucek matanya. Bohong sekali ia sedang tidur siang, mana mungkin dia langsung menjawab panggilan Rukia kalau sedang tidur. Ck ck ck benar-benar pembohong yang payah.

"Enak sekali kau tidur disaat aku sedang frustasi karena PR Kenpachi-sensei."

"Hahaha, sudah kuduga kau tidak akan mampu mengerjakannya."

"Huh, dasar sombong!"

"Hahaha, kau mau kuajarin tidak, cepat kemari."

"Mauuu." Rukia langsung mengambil bukunya dan melemparkannya ke Ichigo kemudian menyebrang dari balkon kamarnya ke balkon kamar Ichigo. Saat itu, Orihime yang baru saja menyelesaikan PRnya melihat kejadian tersebut dari jendela kamarnya.

"Ngapain tuh Rukia masuk-masuk ke kamar Ichi," geram Orihime sambil mengepalkan tangannya.

.

*~* LtMCf *~*

.

Rukia's POV

Setelah di kamar Ichigo aku langsung merebahkan diriku di kasur empuk Ichigo. Aku memandang sekeliling kamar Ichigo, mengamati setiap inchi ruangan ini. Sama sekali tak ada yang berubah, jelaslah kan terakhir kali aku kesini seminggu yang lalu. Perabotannya tidak terlalu banyak, hanya ada tempat tidur dengan seprai berwarna biru langit, meja belajar serta kursinya dan rak buku mini yang berisi komik menempel pada dinding. Kamar Ichi lumayan nyaman karena tidak seperti kamar cowok pada umumnya, bersyukurlah Ichi karena ia mempunyai Ibu nan cantik serta Yuzu yang selalu bersedia membereskan kamarnya, kalau tidak, mungkin kamarnya akan seperti kapal pecah.

Ah, lemari itu, kalian tau, lemari itu bukan lemari biasa, banyak kenanganku dan Ichi disitu. Waktu kecil dulu aku pernah bertengkar sama kakakku dan untuk menghindar darinya aku sembunyi di lemari Ichigo. Aku masih ingat bagaimana wajah Ichigo yang kaget begitu menemukan aku yang sedang menangis di dalam lemarinya. Dia membujukku agar mau keluar dari lemari tapi karena aku keras kepala aku tetap disana dan terus menangis sampai akhirnya aku tertidur. Sejak itu, saat aku sedang ingin menyendiri aku akan menyelinap ke lemari Ichigo dan ia akan menungguku tertidur untuk dipindahkan kekasurnya. Ia sendiri yang menggendongku walaupun ketika kecil ia melakukannya dengan susah payah. Dan Ichigo sampai menyebut lemarinya itu kamarku karena aku sering tertidur disana setelah menangis.

Saat orangtuaku meninggal juga aku bersembunyi di lemari itu. Kakakku, Oji-san juga Masaki kaa-san tidak bisa membujukku keluar dari sana. Dan Ichigolah yang setia menungguku sampai tenang. Waktu itu dia berjanji akan selalu disisiku dalam keadaan apapun. Tapi mungkin dia tidak akan menepati janjinya, sekarang sudah ada Orihime disisinya.

End of Rukia's POV

.

"Hei! Kenapa kau malah tiduran disana, cepat kemari!" seru Ichigo.

"Ck, iya iya," balas Rukia malas sambil duduk disamping Ichigo.

"Bagian mana yang gak ngerti?" tanya Ichigo sambil memperhatikan Rukia.

"Yang ini, ini, dan ini," jawab Rukia sumringah sambil menunjuk soal-soal yang tidak ia mengerti.

"Hah? Itu sih semuanya."

"Hehehe, aku kan memang lemah di matematika."

"Dasar kau ini," ucap Ichigo sambil mengacak rambut Rukia.

"Ih, hentikan! Rambutku jadi berantakan Tawake."

"Eh, apa kau bilang, dasar midget, kemari kau." Rukia langsung menghindar dari kejaran Ichi namun apa daya kaki Ichi jauh lebih panjang dari Rukia, alhasil begitu tertangkap Ichi langsung memiting kepala Rukia. Alih-alih kesakitan yang ada Rukia malah tertawa.

'Udah lama gak bercanda gini, kangen juga.' batin Ichi.

'Andai aku bisa selalu seperti ini bareng Ichi.' Harap Rukia dalam hati.

Sayang sekali, harapan mereka tidak terkabul. Kecerian tersebut segera berakhir begitu ketukan dan suara lembut Masaki terdengar dari luar kamar Ichigo. Setelah melepaskan Rukia, Ichigo segera membuka pintu.

"Ada apa Kaa-san?"

"Orihime datang nih. Eh, Rukia juga disini?"

"Hehehe iya Okaa-san. Mau minta diajarin matematika nih."

"Sudah lama kau tidak kesini, biasanya kan tiap hari kau main sama Ichi. Kaa-san kangen~"

"Ya ampun Kaa-san lebay, Rukiakan disebelah rumah, kangen tinggal samperin. Lagian minggu lalu juga dia kesini."

"Ih, suka-suka Kaa-san dong, lagian biasanyakan Rukia makan malam bareng kita, sekarang sudah jarang, ini pasti karena kau sering menjahilinya."

"Kok aku yang disalahin?" ujar Ichigo sambil memasang tampang ngambek.

"Gak usah sok ngambek, ingat umurmu. Rukia, hari ini kau makan malam disini ya, Yuzu dan Karin pasti senang."

"Baiklah Kaa-san, aku juga kangen masakan kalian."

"Ya sudah, selamat belajar ya." Setelah Ibunya pergi, Ichigo mengalihkan pandangannya pada Orihime.

"Ehm, ayo masuk," ajak Ichigo. Orihime hanya tersenyum sambil mengikuti Ichigo dan duduk disebelahnya.

"Hai Rukia," sapa Orihime pada Rukia.

"Hai," balas Rukai sambil tersenyum kecut.

"Nee, Ichigo-kun, kau sudah mengerjakan PR Kenpachi-sensei belum? Ada yang aku gak ngerti nih."

"Hm, sudah. Ini juga aku mau ngajarin Rukia sekalian saja."

"Wah, arigatou." Tanpa diduga Orihime langsung mencium pipi kiri Ichigo. Ichigopun langsung salah tingkah karena sikap mendadak Orihime. Sedangkan Rukia hanya bisa melongo melihat kejadian itu. Setelah beberapa detik barulah Rukia sadar yang terjadi dan perlahan rasa panas itu kembali ke hatinya. Sambil mengerjapkan matanya, Rukia kembali mengingatkan dirinya bahwa ia tidak berhak untuk marah pada Ichigo.

"E-Err, ka-kalian mau minum tidak, sebentar aku ambilkan." Ichigo langsung ngacir karena tidak tau harus bersikap bagaimana di depan Rukia dan Orihime.

"Kau juga mau minta diajarin?" tanya Orihime.

"Hm." gumam Rukia.

"Kau benar-benar akrab ya sama keluarga Ichigo-kun? Tadi saja kau memanggil Oba-san dengan sebutan Okaa-san." Rukia hanya diam mendengarkan ocehan Orihime.

"Kelihatannya kau juga cukup sering main ke sini, kau tidak punya kerjaan lain ya. Bahkan makan malam juga di sini."

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku. Langsung saja katakan tidak usah berbasa-basi."

"Hm, baiklah kalau begitu, sepertinya aku tidak perlu berpura-pura lagi padamu. Aku cuma mau bilang bisakah kau menjauh dari Ichigo-kun." Kening Rukia berkerut mendengar perkataan Orihime.

"Apa maksudmu? Aku ini sahabatnya Ichi jadi wajar saja kalau-"

"Tapi aku tidak suka melihatnya," potong Orihime.

"Kau kan tau sekarang aku dan Ichigo-kun sudah pacaran, aku butuh waktu lebih banyak berdua bersamanya, tapi setiap kali kami bersama dia cuma memikirkanmu."

'Be-benarkah? Jadi selama ini Ichi memikirkanku' batin Rukia bersorak mendengar itu.

"Dan lagi tadi aku melihatmu masuk ke kamar Ichigo-kun lewat balkon. Kalau itu juga kebiasaanmu aku minta kau hentikan. Harusnya kau tau diri, aku sekarang pacarnya dan kau cuma sahabatnya," lanjut Orihime sambil menekan kata sahabat. Rukia jengkel mendengarnya, namun bisa apa ia.

"Aku tau aku cuma sahabatnya, kau tidak perlu takut, aku akan menjauhi Ichigo."

"Baguslah kalau kau sadar diri."

"Yo, ini minumannya." Ichigo datang sambil membawa nampan yang berisi minuman dan makanan ringan. Rukia dan Orihime langsung tersentak kaget. Suasana jadi hening mendadak.

"Kalian kenapa?" tanya Ichigo.

"Em, Ichi aku pulang saja," ucap Rukia sambil membereskan bukunya.

"Apa? Bagaimana dengan PRmu?" ucap Ichigo dengan keherenan dalam hati.

"Umm, setelah diperhatikan sepertinya aku bisa mengerjakannya hehe, aku pulang ya? " Rukia beranjak pergi, namun Ichigo mencekal lengannya.

"Setidaknya minumlah dulu."

"Ehm, lain kali saja Ichi. Bye," tolaknya sambil melepaskan cekalan tangan Ichigo.

"Kenapa akhir-akhir ini dia aneh sih?" tanya Ichigo pada dirinya sendiri. Sedangkan Orihime tersenyum penuh kemenangan. Rukia pamit pada Masaki serta membatalkan janji makan malamnya dan langsung berlari ke rumahnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.

"Arrrggghhh, apa dia harus mengatakan semua kata-kata menyakitkan itu. Aku tau aku cuma sahabatnya, tapi apakah salah kalau aku menyukainya. Kalau boleh memilih aku juga tidak ingin punya perasaan ini," teriaknya pada langit-langit kamar. Ia berjalan ke arah jendela kamarnya dan mengintip ke kamar Ichi. Terlihat mereka sedang berbincang, sesekali diiringi tawa keduanya.

"Kau harus move on Rukia. Harus."

.

T.B.C


Hai hai semua! Akhirnya saya bisa update lagi hehehe. Maaf ya kemaren-kemaren tuh saya mau fokus dulu ke kuliah soalnya banyak tugas gitu. Terus pas mau update ternyata lagi gak bisa karena fanfictionnya kena blokir, sekarang baru bisa buka fanfictionnya. Chapter ini sudah saya panjangin, semoga bisa membayar ketelatan update saya.

Untuk AzuraLunatique yang selalu mengingatkanku untuk update: Ini udah ku update! Hahaha, maaf membuatmu menunggu.

Ichi0ri : Pairnya belum saya tentukan karena saya membuat banyak perubahan dalam cerita saya. Tapi akan saya usahakan endingnya akan baik untuk semua karakter.

Jessi : Hehehe, ini udah lanjut, semoga makin menarik ceritanya.

Chelsea : haha, chapter 5 memang sengaja saya potong disitu biar penasaran :p Di chapter ini sudah saya usahakan biar panjang semoga bisa bikin kamu guling-guling di lantai ya. Ganbatte! #teriakuntukdirisendiri

Darries : Huaa, jangan di lempar, entar saya susah nyari peran penggantinya :p Wah nyindir Ichi nih, saya bisikin loh ntar ke Ichinya, tapi gak bakal marah deng si Ichi, kan situ udah siap sama golok :D Apakah chapter ini memuaskan?

Balasan untuk yang login sudah saya selipkan di inbox masing-masing. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih buat semua yang udah mau baca apalagi mereview fic ini. Dan untuk silent reader ditunggu review perdananya. Untuk chapter selanjutnya, masih dalam tahap merapihkan, akan segera saya update.

Nah minna, selamat membaca ya! Semoga tidak mengecewakan dan jangan lupa. . .

.

R.E.V.I.E.W P.L.E.A.S.E