Bleach © Tite Kubo
With Or Without You
Part #6
.
.
.
"Perdana Menteri… beliau sedang sakit, Rukia."
Terserah. Perdana Menteri? Huh, siapapun yang Renji maksud, aku tidak peduli. Kulihat matanya terpejam sembari menghembuskan napas. Sekarang tinggal aku dan Renji duduk di pojok beranda, menjauhi Ichigo dan Grimmjow yang tertidur di sembarang tempat. Senna dan orangtuanya sudah tertidur lebih dulu di kamarnya.
Tidak ada sisa kamar untuk Grimmjow, Ichigo dan Renji karena aku sendiri akan tidur bersama Senna di dalam kamar. Udara membuat tubuhku menggigil karena kedinginan.
Aku tidak membalas pernyataan Renji. Berlalu meninggalkannya yang tercenung sebab aku tidak mau membahas apapun mengenai ayahku yang mungkin usianya bertambah tua.
"Jika suatu saat Perdana Menteri meninggal. Apa kau masih akan bersikap dingin seperti ini?"
Serentak aku menoleh, mencoba mengintimidasi Renji agar tidak memprediksi hal yang bukan-bukan.
"Daripada kau mengurusi masalahku. Sebaiknya kau urus sendiri masalahmu, Renji."
Renji berpaling dari tatapanku. Matanya bergeser pada direksi yang searah dengan kepergianku. Ia bisa melihat jelas, kalau Senna tengah mengintip dari balik gorden. Hubungan kedua temanku itu tidak berkembang sama sekali. Baik Renji maupun Senna, mereka tidak ada yang berani memulai.
Ayah…
Percaya atau tidak, jujur saja, aku merasa tidak layak untuk menjadi puteri seorang Perdana Menteri. Biarkan aku hidup tenang tanpa bayang-bayangnya. Mengerikan, aku tidak mau hidup dalam sangkar emas seperti saat dulu ayah memproteksiku berlebihan tanpa memberi pelukan hangat.
Aku hampir berada di ambang pintu, sebelum kemudian Renji menahan langkahku.
"Bisa tolong kau panggilkan Senna," ia meminta, matanya berbinar cemas. Melengos ke kanan kiri, memastikan jika Kariya-san dan Yoshina-san sudah tertidur nyenyak. Tentu saja, akan kupanggilkan dia untukmu.
Senna berdiri di balik dinding kamar, ia mendengar perkataan Renji tadi dengan jelas. Wajahnya tersipu. Gadis berkuncir itu menggigit bibirnya. Matanya ragu-ragu menatapku. Ya ampun, beginikah reaksi seseorang yang sedang jatuh cinta? Padahal sejak kemarin ia terlihat mengincar Ichigo.
"Kau sudah mendengar, kan? Jadi pergilah dan temui dia."
Ia mengusap ujung hidungnya yang mancung. Terlihat salah tingkah, sikap periangnya mendadak tertelan oleh kegugupannya sendiri. Kurasa ini wajar. Kisah cinta kucing-kucingan ini sudah berlangsung lama dan tak ada yang memulai lebih dulu untuk menyatakan perasaan.
Renji mangakui perasaannya pada Senna terlalu dalam. Sahabat baikku itu rendah diri, karena ia merasa tidak cukup kaya untuk bersanding dengan putri konglomerat. Selain itu dia bukan golongan pria elit yang berwajah tampan. Sebaliknya Senna, ia tidak mau terburu-buru memastikan kalau Renji memang seseorang yang ia inginkan. Terburu-buru? Um, padahal ini sudah empat tahun berlalu sejak ia menceritakan perasaannya padaku.
Dari balik gorden kamar, kuperhatikan Renji dan Senna yang duduk berdampingan di tempat kami tadi berbicara. Entah apa yang sedang kedua orang itu bicarakan. Aku tidak mendengar apapun kecuali desingan angin laut yang bertiup.
Renji memperhatikan apapun yang bisa ia tangkap dari Senna. Bisa kulihat dengan jelas, ia begitu mengagumi gadis yang dua tahun lebih muda darinya tersebut. Sejak tadi yang mengambil peran moderator hanya Senna, ia seperti tengah bermonolog. Sementara Renji, hanya mendengar dan memperhatikan.
Aku memutuskan untuk tidur lebih dulu. Melepaskan penat di ranjang berseprai hijau muda, warna kesukaan Senna. Kupeluk guling yang bertengger di sisiku, mencoba rehat dan memejamkan mata. Aku sungguh mengantuk… "Rukia, kau terlihat seksi."
Suara Ichigo kembali terngiang. Membuatku kembali bangkit, terduduk di atas ranjang dengan wajahku yang pasti tampak begitu bodoh. Aku menutup wajahku yang sudah seperti buah persik, mencoba menghilangkan kata-kata Ichigo tadi siang.
"Dibandingkan matahari terbenam, aku lebih suka memandangi wajah meranamu."
Me… merana… merana bagaimana? Apa wajahku saat itu terlihat sangat menderita! Menyebalkan! Tanpa sadar aku menggaruk rambutku hingga kusut. Ichigo… aku tidak tahu apapun tentang dirinya, kecuali hari ulang tahun dan kebodohannya.
Aaaa, kenapa aku harus memikirkan orang itu! Kugelengkan kepala kuat-kuat, menjernihkan pikiranku yang sudah tercemar oleh pujian-pujian Ichigo.
Aku menghentikan gerakanku ketika Senna sudah masuk ke kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Mukanya berseri-seri saat membalas tatapan heranku.
Dia berjalan mendekat lalu, "Tadaaaa." Senna menunjukkan sesuatu. Sebuah gantungan kunci berbentuk lumba-lumba hijau terbuat dari kaca tengah ia pamerkan, "Renji memberiku ini!"
Kuputar mataku. Bosan, setelah ini pasti Senna tidak akan berhenti berceloteh. Aku menghiraukannya, ketika dengan riang Senna tidur di sampingku dan mulai bercerita. Kubiarkan ia bicara, sementara aku sendiri mencoba untuk melarutkan diri ke dalam cerita-cerita mellow Senna.
Lalu, tertidur.
.
.
.
Tiga hari sudah kami berada di Wakayama. Ini hari terakhir kami menyudahi acara petik-memetik. Kudengar dari Kariya-san, produksi jeruk Nakata untuk penen kali ini mencapai 200.000 ton. Itu artinya hasil panen meningkat dari musim sebelumnya.
Aku masih mengemasi barang-barangku untuk segera kembali ke Karakura. Ichigo sudah selesai dengan barang-barangnya, ia menungguku di ruang depan. Renji sudah kembali ke kota sejak kemarin, begitupun Grimmjow.
Grimmjow bilang tidak bisa lama-lama membantu karena ada banyak urusan yang belum ia selesaikan di kota, uh, padahal dia hanya mengekori Renji agar mendapat tiket kereta gratis. Laki-laki melarat, kalau dia terus hidup seperti itu, kurasa tidak ada gadis yang mau menikah dengannya.
Ranselku sudah terpasang di punggung. Ichigo sontak berdiri dari tempatnya saat aku sudah keluar kamar. Kami berpamitan pada Kariya dan Yoshino yang tengah mengantar kami untuk memasuki mobil yang di dalamnya sudah ada Senna yang akan menyetir.
Satu kardus jeruk diberikan Kariya-san sebagai tanda terima kasih juga oleh-oleh pulang. Selain sejumlah uang tentunya sebagai upah. Sebetulnya Yoshino-san memaksaku untuk membawa tiga kardus jeruk, tapi aku menolak. Terlalu berat membawanya, lagipula upah yang diberikan sudah sangat berlebihan.
"Ini sudah sangat cukup, Bi. Terima kasih mau mempekerjakanku di sini."
Yoshino mendesah, wajahnya sayu. Seraya menatapku, ia menarik punggungku. Memelukku erat. Sangat hangat… sama seperti pelukan ibu.
"Sering-seringlah datang kemari, Rukia. Kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri."
Mendengar kata-katanya, sontak titik air jatuh dari mataku. Aku merindukanmu, Bu. Rindu sekali… kepeluk kencang-kencang tubuh Yoshino-san, berharap yang kudekap ini adalah tubuh ibuku.
"Kau punya keluarga di sini, ingat baik-baik itu," nasihat Kariya-san kusimpan baik-baik di dalam hati. Inilah yang membuatku senang sekaligus sedih. Kenapa ayah orang lain begitu hangat padaku, sementara ayahku sendiri tidak seperti ini?
"Terima kasih, Bos."
"Aku akan menyuruh karyawanku mengantar jeruk-jeruknya ke Karakura. Besok atau lusa, kau bisa segera mengambilnya di agen."
"Um!" Aku mengangguk patuh, Kariya-san menepuk-nepuk kepalaku. Telapak tanganya yang sedikit kendur dan lebar menyentuh rambut hitamku. Aku sudah lupa, kapan terakhir kali ayah Perdana Menteri-ku melakukan hal ini untuk putrinya sendiri.
"Kami pamit ya, Bos! Yoshino-san, terima kasih atas semuanya!"
Ichigo memekik, ketika derum mobil mulai terdengar. Aku sudah duduk di belakang, melambaikan tangan pada mereka.
"Jaga Rukia baik-baik ya, Kulochaki! Kami mengandalkanmu!"
Ih, yang ada juga aku yang menjaganya.
.
"Carilah waktu yang tepat untuk berkunjung ke Karakura."
Aku dan Senna masih berpegangan di tengah pintu kereta. Kami masih menyempatkan diri untuk bercengkrama sebelum nanti kendaraan ber-masinis ini bergerak.
"Iya tentu saja. Sampaikan salamku untuk Perdana Men… eh?" Senna lekas mengerem ucapan setelah mendapati mataku memicing padanya, "Maksudku, salam untuk Ukitake-san."
Beberapa saat kemudian, pintu kereta tertutup rapat. Kami berpisah seiring roda kereta bergesekan dengan relnya.
Kuhampiri Ichigo yang duduk di pinggir jendela sambil menopang dagu. Kelopak matanya tertutup. Kereta belum berangkat, dia sudah tertidur? Ya, ampun. Orang ini! Kira-kira apa yang dimimpikannya? Aku berharap suatu saat Ichigo bertemu kembali dengan keluarganya.
Dia kelelahan.
Dengan begitu hati-hati kuperbaiki cara tidurnya. Sambil melepaskan tangannya yang bertopang, kubawa kepala Ichigo untuk bersandar di bahuku yang kecil, tapi cukup nyaman untuk dijadikan bantal. Berat sekali, aku benar-benar sudah menganggap remeh isi kepala Ichigo.
.
.
.
.
.
Istana dijaga ketat. Bukan hanya para pengawal istana berbaris di gerbang dan pintu masuk istana, namun para pengawal Perdana Menteri pun ada di sana. Mereka mengenakan setelan hitam. Beberapa diantaranya berlalu lalang, lengkap dengan earphone yang terpasang di telinga. Orang-orang itu mengawasi keadaan istana, sambil menunggu Perdana Menteri menyelesaikan pertemuannya dengan Kaizen.
Kaizen, itu sebutan populer untuk Kaisar Aizen.
"Inggris sudah menyetujui kerjasama bilateral ini, Yang Mulia. Ratu akan mengirimkan diplomat mereka untuk menilai keseriusan kita."
"Kurasa Minamata lokasi yang tepat, Byakuya."
Kaizen menatap yakin pada proposal yang diajukan Perdana Menteri. Kerjasama untuk melindungi dan melestarikan hewan laut di Minamata harus segera direalisasikan. Sikap ini tercetus, ketika video pembunuhan massal lumba-lumba yang dilakukan penduduk pribumi di sana marak beredar.
Organisasi Internasional yang tergabung dalam Penyelamatan Satwa ini berduyun-duyun mengecam pemerintahan Jepang untuk segera bertindak menghentikan pembantaian. Ada banyak alasan-alasan yang ditutupi para pribumi menyangkut masalah ini, dan pemerintah sendiri tak berdaya untuk mengatur rakyatnya sendiri.
Mereka berencana memulainya di kota Minamata, perfektur Kumamoto. Sebelum nanti mereka akan bergerak ke selat-selat yang lain. Sebetulnya Jepang bisa melakukannya sendiri, tanpa kerjasama dengan Negara lain. Namun ia berpikir untuk mencari keuntungan yang lebih banyak dalam kerjasama, termasuk menggaet kembali kepercayaan publik terhadap sistem monarki di negeri ini.
"Apa kau sudah meminta pendapat dari wakil mahasiswa?" Kaizen memastikan, ia menelisik wajah es Byakuya.
"Tentu saja."
Ho, percakapan ini sungguh mejenuhkan. Kaizen bangkit dari tempatnya, kemudian duduk di sofa yang sama dengan sang Perdana Menteri. Ia mengabaikan keberadaan Renji yang masih setia berdiri di dekat pintu demi mengawal Byakuya.
"Apa kau ingat tentang Isshin yang menculik adikku?"
Byakuya menoleh, memperhatikan keriput wajah Kaizen bertambah satu di sudut mata.
"Aku ingat. Apa sesuatu terjadi padanya?"
"Beberapa bulan lalu aku menemukan rumahnya. Tapi rumah itu sudah kosong."
"Lalu?"
"Dia pergi meninggalkan Jepang, dan ah!" Sang Kepala Negara mengingat sesuatu, ia berjalan mendekati laci meja kerjanya untuk mengambil selembar foto yang ia temukan di rumah Isshin.
"Foto keluarga."
Saat menggumamkan kalimat tersebut, mendadak Byakuya berubah muram.
"Anak laki-laki berambut jingga ini adikku, dia… Ichigo! Bukankah saat kecil dulu, dia sering bermain dengan putrimu!"
Kaizen terlampau bersemangat. Suaranya menggelegar mengusik pendengaran satu-satunya pengawal yang berada di dalam ruangan. Renji, pemuda itu terusik, apalagi ia samar-samar pernah mendengar nama yang sama saat sebulan lalu ia berlibur di Wakayama.
Topik sensitif. Kaizen menutup rapat bibirnya, sedangkan Renji melirik pada kepala sang Perdana Menteri-nya yang tertekuk.
Putrinya…
Sebentar lagi tahun akan berganti, dan dia satu kalipun belum pernah melihat wajah putrinya. Semenjak Rukia meminta izin untuk meninggalkannya sendirian. Putrinya yang penurut berubah menjadi putri yang durhaka.
Renji memberanikan diri untuk mendekati meja bundar yang berada di antara Kaisar dan Perdana Mentri itu.
"Boleh saya melihat foto adik Anda, Yang Mulia?"
Kaizen menunjukkan foto Ichigo pada Renji. Pengawal setia Byakuya itu tercenung, ia sempat membelalakan mata lantaran apa yang ia kira ternyata benar.
"Kau pernah melihatnya?" tanya Kaizen penuh selidik pada wajah kecut Renji.
"Saya tidak cukup yakin, Yang Mulia. Tapi akan saya pastikan setelah saya mencari tahu keberadaannya."
Entah alasan apa yang membuat Renji berdusta. Kenyataan yang tidak bisa ia terima adalah hubungan Ichigo dan Rukia sewaktu kecil. Teman bermain. Tidak bisa dipercaya.
Salju pertama di musim dingin ini pun mulai berguguran.
.
.
.
Nel mendengarkan musik dari headphone miliknya. Memandangi salju yang perlahan turun. Ia duduk di sebuah rumah kue sembari menunggu seseorang. Bukan Tia yang ia nanti, melainkan teman satu kampusnya yang juga menggemari makanan manis.
Pikirannya melayang hingga ke kejadian di pub beberapa waktu lalu. Pria serba biru yang meminjamkannya sebuah jaket kulit lusuh berbau tembakau. Ia tidak bisa berhenti memikirkan si pria asing, wajahnya yang tampak remang-remang tertimpa lampu disko membuat Nel tidak bisa untuk tidak mengingatnya.
Ia tersentak ketika tiba-tiba saja temannya sudah duduk di hadapannya seraya mengatupkan kedua tangan.
"Maaf ya Nel, aku terlambat lagi."
"Tidak apa-apa."
Perawakan sepasang teman itu hampir sama. Keduanya sama-sama cantik, berpakaian mewah, dan dari keluarga terpandang. Ibu dari Nel adalah seorang birokrat berpengaruh di partainya, sedangkan teman di depannya adalah keturunan dari bangsawan Belanda yang menetap di Jepang.
"Orihime."
"Ya?"
Keduanya saling menatap. Menghiraukan bisikan-bisikan dari beberapa orang yang tampak kagum pada penampilan dua wanita elit itu.
"Kau cantik, aku rasa tidak ada pria yang tidak menyukaimu. Tetapi, kenapa sampai sekarang kau tidak punya pacar?"
Orihime tersenyum manis, "Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Nona."
Setelahnya percakapan itu menguap begitu saja. Mereka sama-sama tidak bisa menjawab. Bagi mereka membicarakan pasangan ataupun pria hanya cerita basi yang tidak harus dibahas saat makan.
.
.
"Turun salju."
Rukia menutup jendela rumah. Suhu udara menurun hingga minus lima derajat. Cuaca bersalju di malam hari menambah beban di mata Rukia.
"Dingin sekali," ia memeluk tubuhnya sendiri seraya bergegas masuk ke kamar lalu tidur dengan selimut tebal. Ia melirik jam dinding yang tengah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayah, apa Ichigo tadi tidak bilang mau pergi kemana?"
"Dia tidak bilang akan pergi kemana. Anak itu cuma bilang ingin cuci mata."
Sambil berlalu dari hadapan ayahnya yang sedang menonton televisi, ia memandang pintu depan yang tertutup.
Sebelum benar-benar kembali ke kamar, Rukia berbalik ketika mendengar suara ketukan pintu.
Ukitake pun sejenak menoleh. Mencari tahu, apakah si pengetuk adalah orang yang ditunggu putrinya sejak tadi.
Cepat-cepat Rukia segera mendekati pintu kayu tersebut. Ia membuka perlahan, dan alangkah terkejutnya gadis itu ketika tiba-tiba saja di hadapannya muncul sebuah benda yang dikelilingi percikan api.
"Kejutan!"
Ichigo menyodorkan kembang api di depan wajah Rukia, membuat gadis itu syok.
"Apa yang kau lakukan? !"
Rukia histeris, ia ketakutan dan tanpa sadar menampik percikan api pada kawat dengan tangan telanjangnya. Hal itu membuat tangan mulus Rukia terbakar, ia terduduk di lantai sambil meneriaki Ichigo.
"Buang benda itu! Jauhkan itu dariku, Ichigo!"
Ichigo sendiri berubah panik, kembang api yang membawa petaka itu pun lekas ia lempar keluar hingga padam tertimbun salju.
Ukitake berhamburan mendekap tubuh kurus Rukia yang gemetar.
"Ayah, ayah, tolong jauhkan benda itu dariku!" Rukia menangis, ia dibantu Ukitake agar bisa berdiri. Sedangkan Ichigo terdiam, kepanikannya berubah menjadi sesal.
Ayah angkat Rukia itu memasang wajah cemas, "Apa-apa'an ini Kulochaki?"
"Ru…"
Belum sempat Ichigo hendak membantu, suara keras Rukia menghentikan niatnya.
"Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi! Kau menyebalkan!"
"Aku minta maaf Rukia, aku tidak sengaja…"
"Pergiiii!"
Ichigo membeku, ia mengepalkan tangannya kesal. Kenapa yang dilakukannya selalu saja salah? Dia bahkan melukai gadis itu karena ide konyol kejutan ini. Ichigo berjongkok seraya menjambak rambutnya sendiri.
.
Usai mengobati luka bakar Rukia akibat ulah Ichigo, Ukitake menemui pemuda itu. Dilihatnya Ichigo mondar-mandir di depan rumah, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rukia. Mirip seorang suami yang cemas menunggui isterinya yang tengah bersalin.
"Sepertinya luka itu akan membekas di kulit putriku."
Ichigo mendapati Ukitake berjalan menghampirinya.
"Putriku… tidak suka kembang api."
Lagi-lagi Ichigo tidak tahu. Ia tertunduk lesu, "Apalagi yang tidak kuketahui tentang Rukia, Pak. Kenapa ada banyak hal yang tidak dia sukai?"
Ukitake menatap nanar Ichigo. Guratan penuh sesal bersarang di wajah tampan pemuda itu.
"Padahal aku tadi hanya ingin membuatnya senang."
"Seharusnya tadi kau beri dia eskrim, bukan kembang api."
Ucapan itu membingungkan. Bagaimana mungkin dia memberi eskrim di saat cuaca dingin seperti sekarang? Kepalanya mendadak pusing. Ia memukul-mukul sendiri kepalanya, kemudian meninggalkan rumah sebentar. Paling tidak sampai suasana hati Rukia kembali tenang.
.
Keadaan jalan-jalan sudah dipenuhi salju. Ichigo menyeret kakinya, meninggalkan jejak-jejak pada permukaan tanah bersalju itu.
"Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi! Kau menyebalkan!"
Kata-kata yang terlontar dari spontanitas Rukia membuat Ichigo sakit hati.
"Pergiiii!"
Dia merasa Rukia memang mengingkannya pergi. Mungkin karena terlalu lama menumpang, gadis itu menjadi bosan padanya. Ichigo terbawa suasana, ia terus melangkah tanpa tahu arah.
Mungkin insiden kembang api tadi, hanya kamuflase yang dibuat-buat Rukia untuk mengusirku.
Ichigo mulai berpikir sempit. Tapi… bukankah, kejutan itu idenya sendiri? Ichigo mendesisi tajam, ia menggeram menaham marah. Kemudian ketika langkahnya terhalangi timbunan salju yang meninggi, ia menendang salju-salju tersebut hingga berhamburan kemana-kemana.
Saat Ichigo berjalan terkatung-katung tanpa tujuan. Sebuah mobil berhenti tepat di pinggir jalan, sisi yang sama dengan Ichigo. Lalu, seorang pria berpostur tubuh tinggi muncul dari kendaraan mewah tersebut.
Kaizen keluar dari mobil. Ia mengenakan setelan jas hitam, sementara kacamata minusnya yang bening memantulkan bayangan Ichigo.
Sorot mata kakak beradik itu seolah menyimpan gejolak penasaran yang sama.
.
Bersambung
.
