Tayuya menikmati kesendirian mencekam di dalam kamarnya. Wajahnya memucat, tangannya perlahan membuka amplop berwarna cokelat. Dia hanya ingin sekali lagi memastikan isinya. Berharap ada kesalahan yang sudah ia lewatkan.
'Di luar perkiraan, kondisinya semakin memburuk. Kita harus segera melakukan operasi kedua. Kita akan melakukannya satu bulan lagi. Persiapkan itu.'
Wanita itu meremas kuat ujung amplop, yang isinya masih tetap sama seperti pertama kali ia lihat.
Seniornya di rumah sakit adalah salah satu dokter terbaik di Jepang, siapapun bisa mengandalkannya. Tayuya percaya itu.
Tok tok tok ...
Sekuat apapun menghindari kenyataan, pilihan terakhir tetap harus menghadapinya.
Tok tok ...
Amplop itu kembali masuk ke dalam laci. Ia melompat bangkit dari kursinya. Membuka pintu dan menampakan wajah cerah ceria.
"Sudah siap?"
Karin mengangguk. "Memangnya kita akan liburan kemana?"
Tayuya memeluk lengan Karin, lalu menggoyang-goyangkan bahunya sendiri dengan girang.
"Fukuoka!"
.
.
.
Disclamer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, typo(s)
SASUKARIN
SAKON
DON'T LIKE, DON'T READ .
.
PUTIH
Chapter 6
.
Kebenaran.
.
.
.
00OO00
.
.
.
"Lalu kemana lagi?"
Sakon masih menjaga intonasi suaranya tetap tenang, meski sepatunya sudah menendangi kerikil setengah kesal. Ia melewatkan makan siangnya demi mengikuti petunjuk jalan yang Tayuya arahkan, namun kenyataannya ia hanya berputar-putar di tempat yang tidak dikenalnya selama berjam-jam.
"Apa sekarang kau melihat sebuah rumah dengan pagar berwarna hijau?"
Pandangan sakon berpendar dan ia menemukan rumah berpagar hijau di kiri jalan.
"Aa. Jadi itu rumahmu?"
"Bukan."
Dia hampir melempar ponselnya saat tawa Tayuya menyembur dari dalamnya.
"Kau mengerjaiku?"
"Rumahku tepat di belakang rumah itu. Berputarlah," jelas Tayuya di sisa-sisa tawanya.
Sakon langsung memutus sambungan teleponnya, tanpa berpikir panjang dia memutar arah, ingin segera meluapkan kekesalannya langsung di hadapan dokter itu.
Akhirnya ia melihat Karin yang berdiri di depan sebuah gerbang rumah. Pemuda itu mempercepat langkahnya dengan bahagia, mengakhiri rasa cemasnya setelah beberapa hari tak melihat Karin, dan gadis itu nampaknya baik-baik saja.
"Uchiha-san ... ke-kenapa kau-"
Karin tak sepenuhnya baik-baik saja. Arah mata gadis itu menatap cemas pada sosok lain di seberang jalan. Sulit dipercaya, Uchiha Sasuke sudah ada di tempat ini lebih dulu darinya.
Sakon hanya mendengar samar-samar kalimat Sasuke, lalu dia mencoba mempertajam indera pendengarnya untuk menguping perbincangan apa yang dilakukan melalui ponsel oleh dua orang yang sebenarnya sudah berada dalam jarak dekat.
"Jawaban yang kutemukan adalah ... aku menyukaimu, Karin."
Tangan Sakon mengepal kuat, emosinya bergejolak. Baginya, pernyataan cinta Sasuke pada Karin sama saja seperti menyerukan peperangan padanya. Namun, sedetik kemudian ia melihat linangan bening meluncur dari mata Karin, yang nampak jelas kebahagiaan dari dalamnya.
Dia tak bisa lagi melangkah lebih dekat.
00OO00
Kaki telanjang Karin menyusuri tepian pantai, sesekali air laut menghempasnya. Matahari nyaris kembali keperaduan membawa nuansa oranye yang indah, dan kehadiran Sasuke di sisinya semakin menyempurnakan. Mereka berjalan beriringan menikmati ketenangan. Lalu langkah Sasuke terhenti saat Karin tiba-tiba mematung di tempat.
"Kenapa?"
Sasuke mengerutkan keningnya mendapati wajah dengan semburat merah muda tipis yang diterpa senja. Belum lagi permainan angin pada helaian merah yang sesekali harus menghalangi pandangannya pada senyum manis itu. Sepersekian detik Sasuke lupa caranya bernapas, dia tidak pernah tahu jika gadisnya bisa secantik ini.
"Terlalu membahagiakan sampai aku sulit percaya, ini nyata?"
Sasuke menampakan senyum tipisnya. "Aku juga, tidak pernah terbayangkan sedikitpun sebelumnya akan berakhir seperti ini denganmu," tukasnya.
"Kau bahagia?" Sasuke memberi jeda, sengaja membuat Karin menunggu. Selanjutnya ia tersenyum jail melihat raut Karin yang menunjukan tanda-tanda hampir kecewa.
"Tentu," sergahnya cepat.
Kebahagiaan Karin semakin meluap-luap. "Boleh aku menggandeng tanganmu?"
Tanpa ragu Sasuke menjulurkan tangannya. Menampakan jari jemarinya yang panjang dan indah. Karin menyukai bagian itu.
"Sepenuhnya milikmu."
Gadis itu menyambut ulurannya. Sesuai ekspetasinya, bahwa genggaman tangan seseorang yang mencintaimu akan terasa sangat nyaman. Setidaknya seperti itulah yang dikatakan novel-novel romantis yang pernah dibacanya sepanjang ia menghabiskan waktu di rumah sakit. Dan sekarang dia bisa merasakannya sendiri. Rupanya mereka tak sepenuhnya membual.
.
.
.
00OO00
.
.
.
Konoha High School.
"Shikamaru, dimana buku tugas milikku?" Kiba bertanya pada pria berambut nanas yang duduk di belakangnya.
Shikamaru nampak berpikir. Kemudian menatap ragu."Aku belum menyerahkannya?"
"Hanya punyaku yang belum kau bagikan."
"Sepertinya tertinggal di ruang guru. Tapi aku malas mengambilnya, kau ambil saja sendiri."
Kiba sama sekali tidak terkejut dengan kemalasan yang sudah mendarah daging pada ketua kelas itu. Dia hanya berdecak sebal sembari membayangkan tengah menjambaki kuncir nanasnya. Sebelum sempat beranjak dari tempat duduknya, Kiba melihat Karin memasuki kelas dengan menenteng buku tugas miliknya.
"Wow, keberuntunganku."
Lalu pemuda itu menyerngit ketika melihat Karin menuju meja di belakangnya dan menyerahkan buku itu pada Shikamaru.
"Milikmu," ujar Karin.
Mata Shikamaru menyipit, memandang bergantian pada buku di mejanya, lalu pada gadis berkacamata yang sepertinya masih menunggu responsnya. Kemudian gadis itu terlihat tersenyum canggung dan berniat kembali ke mejanya di sudut belakang.
"Tunggu," ucapan Shikamaru menghentikan Karin. "Ini dari Kakashi-sensei?"
Kiba tak terlalu peduli dengan kesalahan kecil Karin, namun tak ada yang bisa lolos dari insting cerdas Shikamaru.
Karin mengangguk. "Iya, dia bilang tertinggal di mejanya ... Kiba-san."
Kiba dan Shikamaru saling melempar pandang, bingung.
"Hei, Karin Kiba itu ak-" ucapan Kiba terpotong saat Shikamaru menyikutnya, memberinya isyarat untuk diam.
Shikamaru menggeser mudur kursinya keras hingga menimbulkan suara yang membuat seisi kelas mengalihkan perhatian padanya. Ia bangkit berdiri.
"Hei, Karin. Kau tahu siapa namaku?" Tanpa basa-basi dia bertanya penuh selidik dan anak-anak lain mulai mempertanyakan maksud dari pertanyaan konyol ketua kelas itu.
"Tentu saja, Kiba-sa-" suara Karin tercekat. "Shi-Shikamaru?" Dia melihat name tag di dada Shikamaru, kemudian pada buku tugas di atas meja yang jelas sekali tertera nama Inuzuka Kiba. Dalam hati Karin mengutuki dirinya sendiri, dengan bodohnya dia kembali melupakan nama mereka.
Mungkin karena jarangnya intensitas perbincangan yang dilakukannya dengan orang-orang di sekolah membuatnya tak perlu memusingkan itu. Ia tak perlu bertegur sapa, jadi ia tak perlu mengingat nama mereka. Begitu pikirnya. Atau mungkin ini akibat dari pikirannya yang sedang kurang fokus sehingga satu atau dua nama tertukar. Itu wajar, bukan? Tapi rupanya hal itu cukup mengejutkan bagi mereka.
"Jadi, siapa yang bernama Inuzuka Kiba?" lanjutnya yang kemudian disambut keriuhan dan tatapan menyudutkan.
Mereka paling tidak suka jika Karin mulai memerankan karakter bodohnya. Seolah belum cukup tentang kepribadian barunya yang bahkan masih sulit dipercaya.
"Ada apa dengannya?" Tenten bergumam, Sakura meresponsnya dengan gelengan kepala.
"Entahlah," Ino menyahut.
"Apa kau amnesia?" seru Lee yang langsung mendapat jitakan dari Chouji.
Namun mereka sama sekali tidak menyangka jika pertanyaan gurauan Lee itu mendapat anggukan dari yang bersangkutan.
00OO00
Sasuke tertegun di pintu kelas. Melalui matanya ia bertanya saat pandangannya bertemu dengan manik ruby Karin. Gadis itu tak mengisyaratkan apapun, ia hanya kembali tertunduk, menarik napas kemudian menatap orang-orang di hadapannya satu persatu.
"Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal."
"Maksudmu kau benar-benar kehilangan ingatanmu? Tidak mengingat kami semua?" tanya Tenten masih belum percaya. "Hei, Karin. Jangan bercanda."
"Aku mengalami kecelakaan."
"Ya Tuhan," gumam Sakura dari tempatnya. Ekspresi yang sama juga tebaca di wajah teman-temannya.
Karin melanjutkan, "aku sudah mendengar beberapa hal tentang diriku. Mungkin beberapa dari kalian pernah mendapatkan perlakuan burukku, atau aku dengan sengaja melukai kalian. Aku benar-benar minta maaf."
Semua tahu arah pandang gadis itu saat kalimat terakhirnya terucap, tertuju tepat pada Ino dan Tenten.
"Hei, Karin. Bagaimana itu terjadi? ... Maksudku, kecelakaan yang menimpamu?" Ino nampak sulit mengeluarkan kata-katanya. Ia terlalu syok, lebih tepatnya ia takut jika hal itu terjadi saat terakhir kali mereka bertemu.
"Satu tahun yang lalu, sepulang dari pesta Uchiha-san." Karin menjawab singkat, tanpa perlu harus menjelaskannya. Dia yakin mereka lebih tahu apa yang terjadi saat itu di sana.
Ino langsung duduk lemas di kursinya. Penyesalan mulai merayapi dadanya. Seharusnya ia tak meninggalkan Karin malam itu. Dan hal yang sama juga terjadi pada orang-orang di kelas itu, mereka kembali ke kursi masing-masing dengan perasaan tidak enak yang menyelimuti benak mereka.
00OO00
Dia melihat gadis itu menunggunya di bawah pohon maple dengan tatapan kosong.
"Masih memikirkan?" Sasuke bertanya setelah ia mensejajarkan diri di sampingnya.
Karin menatapnya paham, bahwa pemuda itu tahu jika reaksi teman-temannya akan cukup mengganggu pikirannya.
"Sedikit," jawabnya ringan. "Suasana kelas jadi tidak nyaman."
"Mereka hanya terkejut, besok semuanya akan baik-baik saja."
Karin menghembuskan napasnya. "Akhir-akhir ini aku sering menggemparkan sekolah ini."
"Hn. Kau terkenal," sindir Sasuke.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Harusnya kau menghiburku."
"Itu bukan keahlianku."
"Payah."
Karin mulai mendengus, membalikan tubuh kemudian berjalan keluar gerbang sekolah. Ia pura-pura merajuk dan rupanya cukup sukses untuk membuat Sasuke kebingugan.
"Baiklah ... Baiklah. Aku harus bagaimana?" Seru Sasuke dan bergegas menyusulnya.
Karin berbalik dengan mata berbinar. "Ice Cream."
"Berapa umurmu?" Sasuke mendesis. "Cocholate? Strawberry?"
"Kita pikirkan nanti." Karin mendekat. "Di mana motormu?"
"Aku sedang ingin naik kereta."
Sedetik kemudian ia menggandeng lengan Sasuke. "Apa ini modusmu untuk mengajakku berkencan?"
"Sial, apa begitu terlihat?"
"Sangat." Karin mengedipkan matanya lalu terkekeh geli.
.
.
.
00OO00
.
.
.
Semuanya memang membaik keesokan harinya. Rutinitas seperti biasa di sekolah dan beberapa orang mulai tidak mengabaikan keberadaan Karin. Bahkan yang mengejutkan, siang ini Ino menyeretnya ke Kantin bersama anak-anak 3-1 yang lain. Dengan alasan bahwa gadis pirang itu ingin berinteraksi langsung dengan orang amnesia yang baru pertama kali ini dia temui seumur hidupnya.
Karin tertawa dalam hati melihat tiga gadis terperangkap dalam kecanggungan yang mereka ciptakan sendiri. Makanan di meja sudah habis bermenit-menit yang lalu, tapi tak ada satupun dari mereka yang sepertinya berniat membuka perbincangan.
Ino, Tenten dan Sakura saling melempar pandang ketika para pria di meja sebelah mulai tertawa.
"Indahnya dunia jika para gadis berhenti bergosip saat makan siang," Shikamaru yang pertama kali meledek, Kiba dan Lee mengangguk-angguk setuju. Sedang ketiga gadis itu ingin sekali mencekik mereka satu persatu.
"Semakin tenang suasananya, semakin aku bisa makan lebih banyak," ujar Chouji kemudian.
Ino makin geram, terlebih lagi saat tatapan memohon pembelaan dari Sai diabaikan oleh kekasihnya itu yang hanya bisa menenggak minumannya sembari menahan diri agar tidak terkekeh.
"Sudahlah, abaikan mereka," Sakura memberi saran. "Ngomong-ngomong Karin, kau pergi ke mana saat tidak masuk kemarin?" akhirnya gadis itu yang pertama memberanikan diri untuk bertanya.
"Berlibur, di fukuoka," Karin menjawab.
"Bagaimana kau bisa liburan disaat seharusnya kau masuk sekolah? Apa liburanmu selama satu tahun belum cukup?" Ino bertanya sinis, namun tak sepenuhnya bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya masih belum bisa menanggalkan gengsinya ketika mencoba mengakrabkan diri dengan Karin.
"Lain kali aku bisa mengajakmu kesana," Karin berkata dengan ringan.
Ino hanya menelan ludahnya, tidak tahu harus merespons seperti apa. Karin yang terlalu baik dan tak henti-hentinya mengembangkan senyum masih saja membuatnya begidik ngeri. Dan gelagatnya itu langsung disambut gelak tawa teman-temannya.
"Sial, kalian." Ino menyungut, kemudian ia menyerah. "Ok ... Ok. Aku memang masih perlu beradaptasi dengan Karin yang ini," tukasnya.
Sasuke masih menjadi pendengar setia diantara mereka sampai ia merasakan seseorang menepuk bahunya. Hal yang sama juga terjadi pada Karin, sepupunya itu sudah berdiri diantara kursinya dan kursi Sasuke yang saling membelakangi.
"Apa yang sedang kalian tertawakan?" Naruto bertanya pada mereka. Kemudian ia menarik kursi kosong di samping Karin dan menempatkan diri disana.
"Setelah sekian lama akhirnya ketua klub sepak bola yang sibuk ini bisa bergabung kembali dengan kita," Shikamaru menyambutnya.
"Ada pertandingan dan aku harus mengusrus adik-adik kelas yang merepotkan," jelas Naruto, sengaja membumbui jargon milik Shikamaru-yang kemudian membalas dengan cengiran seperti biasa.
"Yo! Kalian berdua. Kenapa sama sekali tidak menghubungiku setelah kembali dari fukuoka?" Imbuh Naruto, kali ini pertanyaannya khusus ditujukan pada Karin dan Sasuke."Sepertinya aku mencium kabar bahagia," ia mulai meledek.
"Kalian berdua?" Sakura terdengar curiga.
Sementara Tenten menambahi, "kabar bahagia?"
Bibir Naruto langsung mengatup kembali, mendapati mata teman-temannya yang bertanya, kemudian ia mengerti jika dua orang yang dimaksud rupanya memilih untuk bermain kucing-kucingan saja. Lalu ia kembali menampakaan cengirannya, sekaligus dalam hati mengaku takjub dengan cara keduanya mengacuhkan reaksi yang lain. Karin hanya menyereput juice melonnya santai, Sasuke sendiri memilih fokus dengan smartphone-nya.
"Tunggu," Ino yang kemudian merasakan sinyal-sinyal adanya topik menarik langsung bereaksi. Dia menatap lekat Sasuke dan Karin. "Apa ada sesuatu yang kami lewatkan, Naruto?"
"Tidak, lupakan," Naruto menampiknya dengan ekspresi sok polos sembari tangannya mencomot sisa kentang goreng Sakura dan melahapnya kemudian.
"Pasti ada sesuat-"
GRAK.
Ino masih memaksa, tapi tertahan karena suara gesekan sisa kursi di sampingnya yang kini telah ditempati. Sakon bergabung dan membuat orang-orang di sekitarnya memandang tak percaya, termasuk Karin yang berada tepat di hadapannya. Sedang Sasuke dan para pria sudah lebih dulu melirik waspada.
"Apa-apaan ini? "
"Sepertinya, kami sedang tidak dalam mood mencari masalah."
Suara Ino dan Tenten bersahutan saat Sakon baru meletakan nampan makanannya di meja. Dan dia hanya mencoba mengabaikan cibiran mereka.
"Hanya kursi ini yang tersisa," pemuda itu menjawab dengan tatapan sepenuhnya pada Karin, seolah ia hanya perlu menjelaskannya pada gadis itu. "Dan aku sudah terlanjur memesan makanannya."
"Kenapa tidak mengusir salah satu meja seperti biasanya?" Imbuh Ino.
Sejenak hening, selanjutnya Karin hanya melihat mulut Sakon mulai melahap makananya dan tetap mengabaikan ketidaknyamanan orang-orang. Begitu awalnya, sampai Sasuke menyeret kursinya, memaksa menempatkan diri di sebelah Karin hingga gadis itu terdesak ke sisi Naruto.
Gerakan sumpit Sakon terhenti, kedua mata pemuda itu saling menyalak. Meneriakan permusuhan.
"Makanlah," seru Sasuke. Dan Sakon amat sangat tahu Uchiha bungsu itu sedang mencoba menghalangi interaksinya dengan Karin.
Sesuatu membakar Sakon dari dalam. Tatapan-tatapan yang semakin tidak bersahabat membuatnya hilang selera. Pemuda itu melempar sumpitnya pada nampan sebelum benar-benar beranjak, dan Karin nampak tidak enak melihat Sakon yang berjalan menjauhi mereka.
"Maaf, aku duluan." Gadis itu bangkit dari kursinya. Mengacuhkan pertanyaan 'kemana' dari Ino. Dan Sasuke tak bisa menampik keterjutannya melihat gadis itu mengikuti Sakon dari belakang.
00OO00
"APA?"
Karin tersentak saat Sakon tiba-tiba berbalik dan membentaknya. Gadis itu sejak tadi memang hanya mengekor di belakangnya tanpa memanggil atau memintanya untuk berhenti. "Kau ingin menertawakanku seperti teman-temanmu itu?"
Karin menggeleng tanpa dosa. "Tidak."
"Pergilah, mood-ku sedang jelek."
Pemuda itu mulai menjauh, tapi baru lima langkah terdengar suara menggerutu darinya. Dan ia membalikan punggung, kemudian kembali menghampiri Karin yang masing berdiri di tempatnya.
"Menyebalkan! Baiklah, aku tidak bisa menahan ini." Sakon mulai mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Merasa frustasi. "Kemarin aku menyusulmu ke Fukuoka, dan ... aku melihatmu bersama Sasuke."
Karin tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, lalu ia menunduk. Menghindari mata Sakon yang mulai menunjukan luka.
"Sakon-san." Gadis itu kembali menaikkan pandangannya. "Aku dan Uchiha-san-"
"Jangan katakan!" Sakon memotong. Dia tahu apa yang ingin Karin katakan, terlalu menakutkan untuk mendengar kelanjutannya.
Pemuda itu beringsut, semakin mendekatkan tubuhnya pada Karin. Lalu mulai membisikan sesuatu ke telinga gadis itu, waktu yang tepat karena Sasuke mulai terlihat di ujung lorong. Ia kembali meloloskan tatapan menyalak padanya, "tidak akan semudah itu membuatku menyerah."
Karin membeku, sedetik kemudian ia merasa bahunya di balik paksa oleh Sasuke yang kini menatap geram pada punggung Sakon yang berjalan menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke pada Karin, masih terlihat sisa-sisa kekesalan dari matanya.
Karin tidak goyah, ia balas menatapnya lekat. "Sikapmu tadi kekanak-kanakan."
"Apa?" Sasuke mendengus. "Dia mendekatimu di depanku, dan aku harus diam saja?"
"Dia tidak menggangguku."
"Tapi itu menggangguku," Sasuke memberi jeda."Apa sekarang kau membelanya?"
"Tidak." Mata Karin meredup. "Aku hanya tahu tidak menyenangkannya makan sendirian."
Sasuke bungkam, gadis itu berhasil membuatnya merasa bersalah. Kemudian ia hanya bisa menghembuskan napasnya.
"Aku hanya khawatir, ada pria lain yang terang-terangan menyukaimu."
Karin tidak tahan untuk menyemburkan senyumnya.
"Merasa lucu, nona?" Sasuke mencibir.
"Apa yang kau khawatirkan? Hati ini tidak akan berpaling darimu. Aku bisa menjaminnya."
Sempat merasakan debaran jantung yang tidak beraturan dengan kata-kata romantis itu, Sasuke lalu tertawa sinis. Sepertinya gadis itu mulai ketagihan menggodanya. Kemudian ia mengacak rambut Karin gemas.
"Kau menyebalkan."
"Berikan aku waktu untuk menghilangkan kekhawatiranmu," ucap Karin pelan. Dia menghembuskan napas, lalu menatap Sasuke yang hanya mengerutkan dahinya. Karin mulai membayangkan apa yang akan dia lakukan. Sesuatu yang paling tidak ia sukai.
Memberikan seseorang luka.
.
.
.
00OO00
.
.
.
Karin melangkah ragu ketika dua buah daun pintu yang lebarnya sama dengan gerbang pagar sekolahnya dibuka sempurna. Ia hampir saja kehilangan kesadarannya saat akhirnya menemukan hal luar biasa melebihi apa yang bisa ia bayangkan ketika pintu itu masih tertutup. Mengamati dengan seksama ruangan utama yang kini ia pijaki, sangat luas dan tampak mewah sampai ke sudut-sudutnya. Lantainya terbuat dari marmer, dengan pilar-pilar dan ornamen bergaya klasik yang memukau. Perabotan yang tersusun sedemikian apiknya, ditambah lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah melengkapi kemewahan rumah ... mungkin ini istana?
Seorang pelayan yang mengantarkannya, mengatakan jika dia bisa menunggu sang tuan rumah di ruangan itu. Karin mengangguk, membalas dengan senyuman yang sama ramahnya sebelum pelayan itu berlalu. Dia meletakan paper bag yang dia bawa pada sebuah meja bundar di mana sebuah vas antik terpajang, yang Karin yakini jika vas itu tersenggol dan jatuh, itu artinya dia akan menguras habis isi rekening Tayuya. Secara kebetulan Sakon muncul, menuruni tangga berkelok yang dibawahnya pelayan tadi sudah menunggu, kemudian memberi tahu tentang kedatangan Karin sebagai tamunya. Disaat yang sama, dalam hati Karin bergumam jika Sakon dan rumahnya adalah dua hal yang benar-benar bertolak belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Suara pemuda itu memecah pikiran konyol Karin. Dia mematung, menunggu Sakon menghampirinya. Sempat seorang pelayan lain mencegat tuan muda itu, menawarinya hidangan makan malam yang serta merta ditolak. Karin melirik pada ruangan sebelah yang tak kalah mewah, di mana sudah tersedia berbagai menu dalam satu meja. Dan dari bentuknya, ia yakin itu sangat lezat.
"Selamat malam, Sakon-san," untuk pertama kalinya Karin menyapanya lebih dulu. Dan ia selalu kesulitan jika harus berbasa-basi dengan berandal itu.
"Selama sepuluh tahun kita berteman, ini pertama kalinya kau bertandang kerumahku," tandas pemuda itu santai.
"Benarkah?"
"Ya, kau selalu bilang takut jatuh hati padaku jika melihat secara langsung kekayaan keluargaku."
"Astaga, apa aku seperti itu?" gumam gadis itu, seperti ia sedang bertanya pada dirinya sendiri.
"Astaga, kau percaya? aku hanya bercanda," Sakon mendengus. "Apa itu?" tanyanya setelah melihat paper bag di atas meja.
"Jaketmu, aku mau mengembalikannya. Dan ...," Karin nampak ragu.
Sakon menunggunya, lalu ia berpikir sejenak sebelum tangannya meraih paper bag itu, mengeluarkan jaketnya dan mengenakan ke tubuhnya sendiri. Setelahnya ia menggapai pergelangan tangan Karin, lalu membawa gadis itu keluar. Dengan paksaan seperti biasa.
"Kau mau membawaku kemana?" Karin berontak, sedikit menolak.
"Ikut saja."
00OO00
Sebuah kedai ramen di mana kini Karin menemani Sakon yang sedang menyantap semangkok ramennya, setelah pemuda itu mengacuhkan hidangan makan malam mewah di rumahnya, benar-benar karakter yang sulit ditebak. Dan tak hanya sampai di situ pemaksaan yang Karin alami. Selanjutnya Sakon mengajaknya menikmati pemandangan malam kota Tokyo, melihat kembang api musim panas, hingga hanya menyusuri emperan toko-toko dan kafe-kafe yang berjejer.
Sepanjang jalan dirinyalah yang terus berceloteh, berpikir untuk membuat gadis itu setidaknya menertawakannya karena menceritakan hal-hal konyol dan tidak penting, tapi Karin hanya mengabaikannya. Sakon tahu, hanya dirinya sendiri yang menikmati malam ini.
Mereka berakhir di sebuah kafe dengan dua gelas cokelat dingin. Sakon memperhatikan Karin yang masih membisu bersama boneka panda, dua buah permen kapas dan sekantong lollipop pemberiannya, dalam hati pemuda itu mulai mengutuki ketidakahliannya dalam hal menyenangkan seorang gadis. Ya, seorang gadis, bukan seorang anak kecil.
"Setelah ini kita menonton."
Karin menggigit bibirnya kuat-kuat. Melemparkan tatapannya pada mata pemuda di hadapannya.
"Kumohon hentikan."
"Kau suka genre apa?" ucapnya tak acuh. "Horror? fantasy? Yang aku tahu dulu kau suka thriller."
"Atau kau akan semakin terluka," Karin melanjutkan kata-katanya seolah pertanyaan Sakon hanya angin lalu.
"Karin, kau ngomong apaan sih?"
"Aku menolakmu," Karin nyaris meneriakan kalimatnya. Sedangkan bagi Sakon kalimat itu seperti bola api yang menghantam dadanya keras. "Aku menyukai Uchiha Sasuke dan itu tidak akan berubah. Maafkan aku."
Karin perlahan-lahan bangkit dari kursinya, wajahnya tegasnya berubah gusar. Dan matanya beralih, kemanapun asalkan jangan ke arah pemuda itu.
"Uzumaki Karin," suara Sakon menghentikan pergerakan Karin. Gadis itu memberanikan diri menatapnya kembali. "Ada sisa cokelat di bibirmu."
"Eh?" Karin mengerjap, tangannya terangkat menyenentuh sekitar bibirnya yang masih bersih. Lalu terkesiap mendapati Sakon yang mengembangkan senyum … masam.
"Aku bohong," Sakon menukas. Hanya sebuah kalimat pengalihan yang sangat konyol. Tepatnya, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini.
Kepedihan jelas terlihat di mata pemuda itu, ia menurunkan pandangannya lalu berdiri dan berderap menuju pintu keluar.
00OO00
Uchiha Fugaku, pebisnis sukses yang pernah berjaya belasan tahun silam dan namanya sempat menghilang dari dunia bisnis, kini telah kembali ke Jepang. Terakhir dikabarkan menetap di London dan tanpa bisa dilacak keberadaannya sedikitpun oleh media. Diketahui jika selama ini diam-diam telah memperluas jaringannya di daratan Eropa. Setelah secara mengejutkan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tampuk kekuasaan Uchiha Group sepenuhnya pada putra sulungnya, Uchiha Itachi. Ia juga mengabarkan telah mempersiapkan putra bungsunya, Uchiha Sasuke, untuk semakin menjayakan Uchiha Group di masa depan.
Karin masih diselimuti rasa bersalahnya pada Sakon ketika suara pembaca berita dari TV LCD di sudut kafe mengisi keheningan pikirannya. Dia tidak pernah tertarik dengan acara news apapun, apalagi tentang bisnis, namun kali ini keningnya mulai berkerut saat nama-nama yang tak asing tertangkap di telinganya.
Karin mulai meremasi jemarinya setelah terlihat TV itu menayangkan sosok pria paruh baya berwajah tegas. Sosok itu yang mereka sebut Uchiha Fugaku, yang ternyata adalah ayah dari kekasihnya, dan gadis itu mulai kesulitan bernapas saat gambaran-gambaran ingatan mulai bermain-main lagi di kepalanya.
00OO00
Bayangan gadis kecil itu muncul kembali. Dia berlari panik setelah menjatuhkan boneka beruangnya, lalu menjatuhkan diri ke lantai, menggoyang-goyangkan tubuh tak berdaya yang tarikan napasnya mulai menghilang.
"Ayah!"
Seorang pria lain muncul, awalnya nampak samar karena terhalang sorot lampu yang menggantung tepat di atasnya. Sebelum gadis kecil itu kehilangan kesadarannya, wajah pria itu sempat terekam oleh matanya. Wajah Uchiha Fugaku.
Tangan Karin berusaha menggapai sandaran kursi, mencoba perpegang di sana saat merasa kakinya melemas. Ingatan lain mulai menyusul.
Karin yang berwajah dingin tengah berjalan pada lorong-orong sekolah. Gambaran selanjutnya terpecah-pecah seperti cuplikan-cuplikan film, ada wajah Ino dan Tenten, juga orang-orang yang ketakutan sekaligus membencinya, kemudian beberapa wajah Sakura dengan sorot mata terluka, wajah dingin Sasuke dan Naruto, lalu dirinya yang tanpa belas kasih membiarkan Sakon dan gerombolannya memukuli siswa lain.
Tubuh Karin merosot begitu saja ke lantai, membuat beberapa pengunjung kafe lain menghampirinya, menanyakan keadaannya, namun suara-suara mereka seolah hanya dengungan tak jelas di telinga gadis itu. Tubuhnya semakin menggigil, kepalanya mulai sakit dan berat. Dan entah sejak kapan wajahnya telah di banjiri keringat dan air mata.
Gadis itu berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, hampir oleng disaat orang-orang juga menangkapnya, lalu menuntunnya keluar. Seorang pelayan kafe membantunya memanggilkan taxi. Selanjutnya deru mesin mobil yang berlalu lalang di jalanan seolah lenyap, ia tak bisa mendengar suara apapun sampai ingatan terakhir sebelum tubuhnya benar-benar ambruk muncul.
'Karin menambah kecepatan mobilnya semakin tinggi, mengejar motor Sasuke di depannya dengan tatapan berkilat penuh kebencian.'
00OO00
Trotoar yang Sakon tapaki seperti tak berujung. Kehancuran hatinya membuat separuh nyawanya menguap. Ia telah di tolak, dan sekeras apapun pemuda itu menguatkan hatinya, rasanya masih tidak berubah, tetap sakit. Langkahnya terhenti, menikmati kesesakan. Indahnya gemerlap kota Tokyo tak berpengaruh lagi padanya. Seolah malam kini hanya akan membagi pemandangan pekat untuknya.
"Ada seorang gadis berambut merah yang tiba-tiba pingsan di depan kafe di ujung jalan itu."
"Kasihan, semoga dia baik-baik saja."
Obrolan dari dua orang yang melewati Sakon berdengung di telinga pemuda itu, seketika mengembalikannya ke kenyataan. Ia mulai merasakan firasat kurang baik terjadi pada gadis itu, dan semakin memburuk saat sebuah ambulance datang dari arah berlawanan. Kemudian tanpa berpikir panjang lagi, Sakon memutar balik dan berlari sekencang mungkin ke kafe, tempat dimana ia meninggalkan Karin beberapa menit yang lalu.
.
.
.
00OO00
.
.
.
Flashback.
Satu tahun yang lalu ...
Di sebuah taman villa keluarga Uchiha, Karin sedang menikmati kesendiriannya bersama segelas minuman yang berwarna sama dengan helaian rambutnya. Matanya menyalang pada perapian seadanya yang terletak tepat di tengah-tengan taman itu, kemudian mengutuki siapapun yang mencetuskan ide untuk mengadakan pesta di ruangan terbuka, di saat musim dingin belum berakhir. Pesta yang sudah gagal duapuluh menit yang lalu.
Gadis itu meletakan gelasnya kembali pada meja, mengeratkan coat-nya, dan punggung yang tadinya masih bersandar nyaman di kursi, kini mulai meringkuk. Udara dingin semakin menusuki tiap inci tubuhnya, membuat ia kembali merasakan nyeri di bagian pipi, tempat dimana Sasuke melepaskan tamparannya.
"Kau benar-benar rendahan!"
Kata-kata Sasuke berkali-kali terngiang seolah tengah menancapi persendiannya. Rasa takutnya tentang Sasuke yang akan benar-benar membencinya, kini benar-benar terjadi.
Keadaan seperti ini memang bukan hal baru baginya, dimana orang-orang pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Sasuke muak, semua orang muak padanya, itu jelas, tapi Karin tak pernah punya cara untuk menghentikan sikap buruknya yang terkadang di luar kendali. Dan sungguh, kemuakan mereka tak lebih besar dari rasa muak gadis itu pada dirinya sendiri.
Baginya menjadi keras adalah caranya untuk bertahan. Semenjak ayahnya meninggal dan beberapa kerabatnya yang selama ini selalu mendapat bantuan dari ayahnya mengirimnya ke panti asuhan, sejak saat itu ia tak pernah bisa percaya lagi dengan siapapun.
Gadis itu kembali mengangkat dagunnya, melompat bangkit dari kursi tepat saat seseorang lelaki paruh baya muncul dari salah satu pintu villa, menghampirinya. Di dalam sana pesta Uchiha Group memang masih berlangsung, hanya untuk kalangan pebisnis. Sedang untuk Sasuke dan teman-temannya disediakan tempat di taman ini. Harusnya seperti itu sebelum ia sendiri mengacaukannya.
"Apa kau teman Sasuke? Dimana puteraku? Bukankah seharusnya mereka berpesta di sini?" lelaki itu bertanya pada Karin, ketika hanya menemukan gadis itu seorang diri di sana.
Karin mengerjap, untuk pertama kalinya ia bertemu secara langsung dengan ayah Sasuke, selain hanya mendengar nama besarnya. Dan selanjutnya gadis itu membeku ketika memorinya di masa lalu tiba-tiba merangsek masuk ke kepala.
Ia mengenal siapa orang dihadapannya, ia mengenal bagaimana cara memandangnya yang dingin dan ... menakutkan, dia adalah orang yang terakhir kali terlihat bersama ayahnya saat meninggal.
Kaki Karin perlahan mundur, lalu berbalik membelakangi lelaki itu, menyembunyikan tubuhnya yang menggigil saat mengingat kenangan terburuknya.
.
.
Karin masih ingat saat bagaimana ayahnya memohon-mohon bantuan utuk menyelamatkan perusahaannya dan Uchiha Fugaku menolaknya mentah-mentah. Hingga akhirnya ayahnya terkena serangan jantung, kemudian meninggal di depan mata kepalanya sendiri. Sejak saat itu Karin tak pernah melupakan wajah menakutkan itu.
Ternyata kehidupan tak begitu saja membiarkannya lepas dari permainannya. Kini kenyataan mengatakan bahwa Uchiha Sasuke adalah putera dari seseorang yang paling ia inginkan kehancurannya.
.
.
'Dalam sesaknya kegelapan kau adalah cahaya yang begitu saja menerangiku, pria yang aku harapkan melebihi harapan dan kekecewaanku pada apapun.'
.
.
Sasuke tengah memarkirkan motornya di bahu jalan, menuju mesin penjual minuman, memasukan koin di sana dan mendapatkan sekaleng soda. Tangan yang akan dia gunakan untuk membuka kaleng itu terhenti di udara. Penyesalan mulai merayapi dadanya, mengingat tindakan kasar yang ia lakukan pada Karin menggunakan tangan itu beberapa saat yang lalu.
Apa ia sudah berlebihan?
.
.
Kedua tangan Karin mencengkeram kuat kemudinya. Mata tajamnya mengamati tiap pergerakan pemuda itu. Bersamaan dengan Sasuke yang mulai melajukan motonya kembali, gadis itu mulai memasukan gigi, kemudian menancapkan gas. Mobil dan motor itu semakin melaju cepat menerobos jalanan lenggang bersalju.
Tumpukan-tumpukan kebencian semakin terlihat di mata Karin. Cinta telah berganti kemasan, dan gadis itu memilih menghadapi kehancurannya dengan cara … mati bersama.
Flashback end.
.
.
.
00OO00
.
.
.
Hospital.
Sakon masih setengah mengantuk, tiba-tiba ia terlonjak melihat tangan Karin bergerak-gerak.
"Karin, kau sudah sadar?"
Karin perlahan membuka matanya, mengerjap sesaat kemudian mendapati ruangan serba putih di sekitarnya. Sakon masih terus manggilnya dengan kecemasan yang tersirat di wajah. Terlebih saat ia mulai melihat gadis itu menangis tanpa isakan.
"Apa ada yang sakit? Karin, kumohon bicaralah."
Karin masih tergugu. Tanpa sadar Sakon sudah mengalungkan tangannya di leher Karin. Menangkup kepalanya yang masih lemah ke dalam pelukan.
"Jangan seperti ini. Kau membuatku takut," ujarnya.
Gadis itu menyahut, melalui bisikan serak dan lemah yang mengarah ke telinga pemuda itu, "singkirkan tanganmu, brengsek!"
Sakon langsung menjauhkan tubuhnya. Memandang mata gadis itu lekat. Masih terlihat sisa-sisa air mata disana, lalu ada tatapan tajam yang selama ini menghilang dari gadis itu. Dan yang barusan di dengarnya adalah ... umpatan?
Pemuda itu semakin memundurkan tubuhnya hingga nyaris kehilangan keseimbangan, menyadari bahwa itu artinya ingatan gadis itu telah kembali.
To be continued …
Thanks to:
MiyuAplus
Intanmalusen
SylverQueen
chika
ino kitty
zielavienaz96
hikarisyifaa
Mell Hinaga Kuran
Guest
Terimakasih untuk review kalian, ditunggu review selanjutnya. ^^
