Look at..

Main Pair : Yunjae and Yoosu

Rate : M

Genre : Romance, Drama, and Hurt

Warning : Boy x Boy / BL / OOC

Summary : Perasaan yang tidak bisa diutarakan berdampak pada menghilangnya Jaejoong. Yunho tidak mengerti apa yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, semua terungkap

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Hai kau yang di sana

Ku akui jika ini semua kesalahanku

Kebodohan yang kumiliki

Berdampak pada hubungan kita

Hubungan yang dulu seperti jalan lurus

Kini harus dilalui seperti jalan terjal

Mempertaruhkan nyawa, mempertaruhkan cinta

Kau mencintaiku, kau tidak mencintaiku

Hanya itu jawaban yang akan kudengar

Tersakiti

Disakiti

Dan kita kini berada di antara dua kata itu

Maaf,

Karena aku yang tidak mengerti dirimu

Kita harus seperti orang asing

Di mana masing-masing memendam perasaan diri sendiri

Mata doe itu terlihat bengkak dan sembab. Diakui jika semalam pemilik mata tersebut mengeluarkan air bening dari matanya selama berjam-jam. Hanya karena kejadian malam itu. Oh, bukan masalah sepele yang dapat dilupakan begitu saja, bahkan kejadian tersebut membuat hatinya sakit bagai terhunus mata pedang yang tajam. Jaejoong enggan untuk bangkit dari tempat perisitirahatannya. Dia benar-benar tidak ada tenaga hari ini.

TOK.. TOK..TOK..

Jaejoong berjengit kaget saat pintu kamarnya diketuk tiga kali.

"Jae! Kau sudah bangun?"

Tidak! Jaejoong tidak mau mendengar suara itu kali ini. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya dan menutup telinganya rapat-rapat.

"Jaejoong, kau tidak akan masuk kerja?"

"..."

"Baiklah, aku akan berangkat kerja sendiri. Aku pergi."

Suara itu tak ada lagi hingga terdengar suara pintu tertutup dan deru mobil dari garasi. Jaejoong menyibakkan selimutnya dan merangkak ke arah jendela. Tirai yang menutupi jendela terbuka sedikit dan Jaejoong melihat mobil –punya Yoochun– keluar dari garasi. Helaan napas keluar seiring perasaan lega di hati pria tersebut. Setidaknya, lebih baik seperti ini- batin Jaejoong.

_0_

"Eung? Di mana Jaejoong oppa?" Arial melihat meja kerja Jaejoong kosong dan tidak ada tas atau barang Jaejoong yang biasa tergeletak saat Jaejoong sudah sampai kantor. Yunho berjalan melewati Arial tanpa ada percakapan basa-basi. "Eh, manajer tunggu!" Arial mengikuti Yunho yang berjalan cepat ke ruangannya. "Manajer, tunggu sebentar." Panggil Arial, tapi tetap saja nihil. Oke! Cara terakhir, "MANAJER JUNG!"

Seketika Yunho berhenti dan..

BRUKK!

"Aw! Arghh hidungku."

Kejadian yang tergambar adalah tubuh Arial yang sejajar dengan bahu Yunho menabrak punggung kekar Yunho yang berhenti tiba-tiba saat mendengar teriakan Arial. Yunho memutar badan dan melihat Arial sedang meringis kesakitan sambil memegang hidungnya.

"Arial?"

"Kau mencederai hidungku, Manajer."

"Maaf! Aku berhenti saat mendengar ada yang memanggilku. Kau memanggilku?"

"Tidak, aku meneriakimu. Aku hanya ingin bertanya kau tidak berangkat bersama Jaejoong oppa?"

"Tidak. Dia tidak masuk kerja hari ini."

"Kenapa?"

"Eung, dia sedang tidak enak badan. Tapi kenapa kau bertanya kepadaku?"

"Bukankah kalian satu rumah? Jaejoong oppa mengatakan seperti itu."

"Oh, itu. Iya memang– Bisa kau panggil Changmin? Aku ingin meminta berkas yang akan ditandatangani."

"Baik, Manajer."

"Satu lagi, jika tidak ada karyawan lain kau bisa memanggilku Yunho. Jangan ada tambahan kata 'Manajer' seperti itu."

Arial menghela napas,"Baik Yunho– oppa."

_0_

"Shim Changmin! Kau dipanggil Manajer Jung. Dia meminta berkas yang ingin ditandatangani."

"Bisa kau antarkan? Aku sedang sibuk dengan tugas yang lain."

Arial yang baru saja mengistirahatkan badannya di kursi kerja hanya memutar bola matanya malas mendengar permintaan Changmin,"Tidak mau! Aku sedang sibuk." Changmin melihat ke arah Arial,"Ck! Apa yang membuatmu sibuk? Kau hanya mengelus hidungmu yang tidak bagus itu."

"Ya! Tidak perlu mengurusi diriku. Lebih baik kau serahkan saja berkas itu sendiri."

Changmin menghampiri meja kerja Arial,"Aku kan meminta baik-baik, tidak perlu membentak." Changmin menarik hidung Arial yang sedang diperlakukan baik pemiliknya.

"Argh! Ya! Shim Changmin Hidungku sakit." Arial ingin membalas perbuatan Changmin terhadapnya, namun Changmin sudah menghilang dari pandangannya,"YA! Kenapa kau selalu membuat masalah denganku, Bodoh! Huh~ Hidungku"

"Haha! Rasakan!" Ujar pria yang sedang diteriaki namanya oleh Arial. Maaf, cantik Batin Changmin.

_0_

TOK! TOK!

"Masuk!"

Seseorang dengan tinggi di atas standar memasuki ruangan Yunho,"Ini berkas yang Anda minta." Yunho menerima berkas yang diserahkan Changmin dengan tersenyum manis,"Terimakasih. Oh, apa Arial baik-baik saja?"

Changmin mengernyit, "Dia sepertinya baik-baik saja, sedang memegang hidungnya saat aku meninggalkannya."

"Benarkah? Tadi saat dia memanggil dan mengejarku dia menabrak punggungku sangat keras dan berkata hidungnya sakit. Bis–" Changmin menghilang dari pandangan Yunho sebelum dirinya melanjutkan kata-kata. "Dia sudah pergi?" tanyanya pada dirinya sendiri yang terlihat bodoh.

_0_

From : Jaejoong Hyung

Aku tidak masuk kerja. Badanku terasa menempel di kasur kkk~.

Junsu melihat layar ponselnya yang tertera pesan dari Jaejoong hanya mengernyitkan dahi, "Tidak biasanya seperti itu. Biasanya dia tahan banting untuk pekerjaan seberat apapun. Ada apa dengannya?"

"Junsu- ya. Kau di mana?" suara wanita tua terdengar jelas dari luar kamar Junsu.

"Aku di kamar, Bibi."

Pintu kamar terbuka dan muncul wanita tua, Ibu Yunho. Junsu memasukkan ponselnya dan segera menghampiri Ibu Yunho.

"Aku mencarimu dan ternyata kau di kamar. Bisa kau antarkan aku belanja kebutuhan sehari-hari?"

"Baik, bibi."

Ibu Yunho memanyunkan bibirnya,"Kau selalu saja memanggilku Bibi. Bukankah Yoochun sudah mengajarimu untuk memanggilku Ibu?"

Suara lumba-lumba Junsu pecah saat mendengar Ibu Yunho yang sedang merajuk. Junsu hanya menggangguk dan tersenyum menampilkan deretan giginya.

"Lalu?"

"Ya?"

"Cepat panggil aku Ibu."

"Hahaha, baiklah. Ayo kita berangkat, Ibu."

Ibu yunho mengapit tangannya ke lengan Junsu dan mereka berjalan keluar dari kamar bersama. Everything will be okay, right

_0_

Yunho keluar dari mobil yang sudah terparkir manis di garasi rumah. Ia terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon.

"Semua baik-baik saja. Ya sedikit kesulitan karena yang membantuku tidak masuk kerja."

"..."

"Iya, kau tenang saja. Katakan pada ibu aku baik-baik saja di sini. Oke, Yoochun. Sampai jumpa."

Yunho menutup ponsel dan bergegas ke dalam rumah. Rumahnya terlihat sepi dan beberapa ruangan terlihat gelap, terutama kamar Jaejoong. Hatinya mantap untuk melangkahkan kakinya ke kamar Jaejoong. Di dengarnya keadaan di dalam kamar, hening.

TOK..TOK

"Jaejoong! Kau di dalam?"

Tetap Hening. "Keluarlah, aku membawa makanan untuk makan malam." Yunho terus mengetuk pintu kamar Jaejoong dan mencoba memutar knop, tapi terkunci hingga ia benar-benar ingin mendobraknya. Yunho khawatir terjadi apa-apa terhadap Jaejoong di dalam sana. "Jae! Jangan membuatku khawatir. Aku dobrak, oke?" Yunho menaruh tas dan bungkusan makanannya di sofa dan bersiap untuk mendobrak.

"Satu"

"Dua"

"Tig-"

"Mau kau apakan pintu kamarku?"

Yunho hampir terjungkal saat menghentikan aksinya untuk mendobrak kamar Jaejoong, terdengar suara Jaejoong di belakangnya. "Oh! Kenapa kau di belakangku?" suatu pertanyaan konyol yang hanya dibalas dengan wajah malas Jaejoong,"Bukan urusanmu. Pergilah, aku ingin masuk ke kamar."

"Tapi aku sudah membelikan makan untuk kita."

"Aku sudah makan."

Kriukkk!

Jaejoong membelalakkan matanya dan memegang perutnya. Damn it! Terkutuklah perutnya yang berbunyi di depan Yunho saat mencium aroma makanan yang dibawa Yunho. "Haha! Mengaku saja. kau belum makan, bukan?" Yunho menarik tangan Jaejoong dan membawanya ke ruang makan. "Siapkan ini semua. Ayo!"

Jaejoong mengambil makanan Yunho dengan malas dan mempersiapkan makan untuk makan malam mereka. Saat membuka bungkusan makanan satu persatu, tangannya tiba-tiba bergetar saat membawa makanan ke meja makan dan kepalanya terasa pusing. Jaejoong menggelengkan kepalanya dan menormalkan penglihatannya, ia perlahan berjalan ke meja makan.

Yunho melihat wajah Jaejoong sangat pucat,"Kau sakit?" Jaejoong menggeleng dan berbalik untuk mengambil makanan selanjutnya. Tapi kepalanya kembali terasa sangat pusing dan berputar cepat, hingga ia tidak bisa berdiri seimbang.

"Jae!" Yunho bangkit dan memegang badan Jaejoong agar tidak jatuh, "Kuantar kau ke kamar."

_0_

Yunho melihat dokter yang sedang memeriksa badan Jaejoong dengan wajah cemas. Dokter melepaskan stetoskop dari telinganya,"Dia hanya kurang asupan makanan dan sedikit stress. Tolong dijaga makannya dengan teratur dan biarkan dia istirahat sampai besok."

Dokter bangkit dan memberikan secarik kertas kepada Yunho," Ini obat yang harus diminum olehnya. Habiskan dan harus tepat waktu."

Yunho mengangguk,"Terimakasih dokter. Mari saya antar."

Mata Jaejoong masih tertutup rapat dengan wajah sedikit pucat. Yunho kembali masuk ke kamar Jaejoong dan duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya refleks bergerak menyentuh surai rambut Jaejoong yang menutupi sebagian keningnya. "Kau sangat lucu kalau terlihat gemuk. Apa yang kau makan sampai membuatmu seperti batang korek api?"

"Ah! Sepertinya pekerjaanku bertambah dengan merawat pria gemas ini. Haha!" Yunho berjalan dengan perlahan agar tak mengganggu seorang pangeran yang sedang tertidur pulas dan menutup pintu rapat.

Namun hanya sebuah kegiatan yang sia-sia, melihat seseorang yang dianggap tidur oleh Yunho ternyata mengetahui semua yang dilakukan oleh Yunho bahkan apa yang dia ucapkan. Diam dan berpura-pura tidurlah! Dan kau akan mengetahuinya secara perlahan.

_0_

"Kenapa meneleponku? Ada masalah di sana?"

"..."

"Junsu? Dia di sampingku. Ada apa?"

"..."

"Oh! Sebentar. Junsu-" Yoochun menyerahkan ponselnya ke depan wajah Junsu. Junsu yang sedang sibuk mengunyah makanan hanya berkerut kening dan membentuk mulutnya seperti mengucap kata 'mwo'

"Yunho. Dia ingin bertanya padamu." Junsu meraih ponseldan mencoba mengosongkan mulutnya dari makanan."Ehm! Ada apa Yunho?" Junsu mendengar apa yang diucapakan oleh Yunho dan seketika matanya terbuka lebar," Sakit? Kenapa dia bisa sakit?" Yoochun yang penasaran mendekatkan telinganya ke ponsel yang dipegang oleh Junsu, tapi Junsu menjauhkan wajah Yoochun karena merasa risih dan memberikan pandangan mati kepada Yoochun.

"Baiklah! Akan aku kirimkan apa saja yang dibutuhkan."

"..."

"Iya! Tolong jaga dia baik-baik. Aku percaya padamu. Sampai nanti"

Junsu memutuskan panggilan dan meletakkan ponsel Yoochun di meja. "Ada apa?" tanya Yoochun. Junsu menghela napas, "Jaejoong Hyung sakit dan dia memintaku untuk mengirimkan cara membuat bubur untuk orang sakit." Yoochun hanya ber-oh ria dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Junsu masih berkutat dalam pikirannya dan menatap kosong ke depan.

"Yoochun-ah!"

"Apa?"

"Aku kembali ke Busan saja."

"Apa? Lalu aku bagaimana?"

Junsu memutar bola matanya," Jaejoong hyung sedang sakit. Aku ingin merawatnya."

"Sudah ada Yunho hyung. Untuk apa ada dirimu? Kenapa kau tidak merawatku saja?"

"Ya! Memang kau sakit? Aku mengkhawatirkan Jaejoong hyung."

"Aku juga sakit. Lihat!" Yoochun memegang dadanya dan berpura-pura seperti orang sesak napas,"Asmaku kambuh. Junsu tolong aku."

Junsu yang melihatnya hanya menatap malas dan memukul belakang kepala Yoochun sekencang-kencang. "Kau asma bukan karena kelelahan, tapi karena kegiatan merokokmu yang tidak kau kurangi. Dasar!"

"Ya! Sebenarnya siapa kekasihmu? Aku atau Jaejoong hyung?" Yoochun meninggalkan Junsu sambil mengusap kepalanya yang terkena pukulan Junsu.

Junsu terheran melihat tingkah yoochun, "Ada apa dengannya? Ya! Park Yoochun, kau mau ke mana?"

_0_

Yunho masuk ke kamar Jaejoong dengan membawa nampan makanan berisi bubur. "Dia masih tertidur." Yunho meletakkan nampan di nakas dan perlahan duduk di tepi ranjang. Jaejoong menggerakkan tubuhnya ketika merasakan sesuatu mengusik tidur lelapnya.

"Jae! Ayo bangun. Aku sudah buatkan makanan untukmu."

Jaejoong membuka matanya perlahan dan sontak kaget dengan keberadaan Yunho di kamar,"Kau! Kenapa di kamarku?"

"Sudah cepat makan buburnya. Kau sedang sakit harus butuh asupan makanan yang banyak."

"Tidak mau. Aku tidak nafsu makan."

"Kau harus tetap makan supaya cepat sembuh dan membantuku di kantor. Kau harus tahu tadi di kantor aku pusing menghadapi klien dan para karyawan. Ck!"

Jaejoong memandang malas bubur yang disediakan Yunho di hadapannya. Terlihat guratan ragu dalam paras Jaejoong saat melihat bubur pucat tersebut.

"Ayo cepat makan!"

Jaejoong menyendok bubur dan berdoa terlebih dahulu sebelum memasukkan makanan pucat itu ke mulutnya. Perlahan dikunyahnya makanan itu dan tiba-tiba matanya terbuka lebar dilanjutkan dengan wajah yang terlihat menahan sesuatu.

"Bagaimana? Aku meminta resep bubur itu dari Junsu, jadi kurasa rasanya bisa sama seperti masakan Junsu."

Ditelannya dengan terpaksa dan memasang wajah tidak puas kepada Yunho, "Tidak enak. Sekalipun itu resep Junsu kalau bukan Junsu yang memasaknya akan beda. Bodoh sekali."

"Oh, Begitu–" Yunho mengambil bubur tersebut, "tidak perlu dimakan lagi. Biar kupesankan makanan saja."

Jaejoong merasa tidak enak hati saat melihat Yunho mengambil makanan tersebut dengan wajah sendu. "Tidak perlu! Biar aku makan saja bubur ini," Jaejoong kembali meraih nampan tersebut menyendokkna bubur ke mulutnya.

"Tapi buburnya tidak enak."

"Aku lapar."

"Bukankah kau tadi bilang tidak nafsu makan?"

Jaejoong memasang pandangan mati terhadap Yunho, "Bukankah tadi kau bilang kalau aku butuh asupan makanan? Sudah jangan banyak bertanya. Aku ingin makan."

Yunho tersenyum mengembang dan menemani Jaejoong yang berusaha melahap habis bubur tersebut. "Jangan memandangku seperti itu," ujar jaejoong yang risih dilihat Yunho dengan pandangan aneh.

Yunho hanya tertawa dan tetap melihat Jaejoong tanpa henti. Bahkan Yunho memajukan wajahnya saat ada Jaejoong sedang fokus dengan buburnya. Jaejoong menahan napas saat jarak wajah mereka berdekatan. "Ada bubur di dagumu. Hati-hati kalau makan. Tidak perlu seperti dikejar setan," ucap Yunho sambil menghapus bubur di dagu Jaejoong perlahan. Yunho perlahan menjauh dan mendapati Jaejoong yang tidak berkedip sedikitpun menatap wajahnya.

"Kau kenapa Jae?"

"Ah! Tidak. Terima kasih."

Hanya orang bodoh yang merasa akan terjadi sesuatu. Jaejoong! Kenapa kau benar-benar bodoh– batin Jaejoong.

_0_

Tbc~

Hai! Aku kembali. Maaf aku vacum sebulan tanpa ada kabar. aku tahu kalau kalian tidak menungguku. Hiks baiklah. Haha. Setelah ujian aku ada operasi kecil dan harus istirahat lama. Jadi maaf kalau cerita ini sangat sangat membosankan dan tidak menarik minat kalian. Aku berterimakasih kepada kalian yang sudah membaca tulisan ini meskipun hanya untuk selingan saja. Hahaha. Tapi aku tetap bersyukur aku masih bisa menulis. Aku benar-benar butuh penyemangat agar terus bisa berkarya. Terimakasih untuk pembaca, pemberi komentar, penunggu ff ini, dan pemberi semangatku. See you~