Halooooo... ^_^
Sebelumnya saya mau minta maaf atas keterlambatan fic ini untuk diupdate. Itu semua karena saya sangat sibuk akhir-akhir ini. Pulang ke kampung yang jaringan iinternetnya sama sekali nggak mendukung, dengan kesibukan sebagai Ibu Rumah Tangga Jadi-jadian yang menemani, halaaah... saya jadi berlebay ria.

Yang jelas saya benar-benar minta maaf atas keterlambatan saya.

Dan saya juga sangat berharap kalian tidak bosan dengan cerita ini. :)


Naruto by Masashi kishimoto

The Happiness For You by Kyra De Riddick

Chapter 5

Luka Yang Terpendam


Naruto memasuki rumahnya dengan wajah lesu. Selaras dengan keadaan fisiknya yang bagai bunga kebanyakan air. Layu.

Rembesan air yang menetes ke lantai tidak ia pedulikan. Ia terus berjalan menuju tangga yang akan mengantarkannya ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Baru saja kakinya menapaki anak tangga pertama, suara dingin Kushina, ibunya, menyapa telinganya.

"Dari mana saja kau, Naruto? Pergi sejak kemarin pagi dan baru pulang malam keesokan harinya."

"Maaf." Ucap Naruto tanpa menatap ibunya. Kepalanya masih tertunduk.

Kushina menatap putrinya tanpa ekspresi berarti. Ia memang tidak lagi memiliki banyak ekspresi di wajah cantiknya sejak empat tahun yang lalu. Saat ia menerima kabar yang seolah membunuhnya.

Ditatapnya sosok putrinya yang masih setia menunduk. Tubuhnya basah karena kehujanan. Tetesan air pun terus turun membasahi lantai.

"Sampai kapan kaumau mempermalukan keluarga ini?" ucap Kushina lagi. Ia tidak menyadari tubuh Naruto yang menegang mendengar suaranya. "Entah apa yang kaulakukan semalam sampai-sampai kaupulang dengan keadaan kacau begini."

Tubuh Naruto bergetar mendengar setiap ucapan dingin ibunya yang bagaikan tombak es menancap tepat di jantungnya. Rasa sakit yang ditanggung hatinya kini semakin bertambah dengan luka yang ditorehkan ibunya padanya. Ia telah begitu sakit dengan sikap Sasuke yang memperlakukannya sebagai orang lain, dan kini ibunya sendiri menghina dirinya secara langsung. Ia menggigit bibirnya sekuat yang ia bisa, menahan emosi yang sudah siap tumpah dan membanjiri wajahnya. Namun ia tidak ingin menunjukkan air mata itu di depan ibunya. Sedikit pun ia tidak ingin terlihat lemah di depan Kushina.

"Apa kau sedikit pun tidak bisa mencontoh 'dia'?

Suara guntur yang terdengar bersama tirai hujan yang turun begitu deras menjadi pelengkap emosi yang membuat rasa sakit itu di hati Naruto tumpah. Dikepalkannya tangannya erat hingga tangannya yang sudah pucat karena dingin smakin memucat.

"Andai saja aku yang menghilang apa kau juga akan bersikap begini padanya?" tanyanya dengan intonasi datar. "Bertahun-tahun kaumengabaikan aku, lalu ketika dia hadir kauperlakukan aku sama dengannya. Saat aku berontak kauterus membandingkan aku dengannya. Sebenarnya apa arti diriku di hadapanmu?"

"…"

"Apa aku begitu tidak berarti di matamu hingga kaubisa menghinaku sepuasmu? Seperti yang baru saja kaulakukan. Katakan … apa aku begitu murahan di matamu, IBU?"

Kushina terkesiap mendengar suara Naruto yang berteriak begitu keras. "Aku juga anakmu. Tetapi kenapa kau tidak pernah menghargaiku meski hanya sedikit saja?"

Kushina terlalu terkejut untuk bisa mengucapkan sebuah kata. Mata hijaunya hanya mampu melotot tidak percaya pada sosok putrinya yang biasanya hanya akan membalas ucapannya dengan sikap cueknya atau sekedar kalimat-kalimat pendek bernada datar. Namun kini anak perempuannya malah berteriak dengan penuh emosi di depannya lalu pergi meninggalkannya dengan langkah berlari menuju pintu ruang tamu. Terdengar suara pintu dibanting keras yang menandakan Naruto lari keluar rumah.

Tes tes tes

Setetes demi setetes air mata Kushina terjatuh tanpa ia sadari. Saat wanita cantik berambut merah itu menyadarinya, ia sudah menangis terisak-isak menyebut nama anaknya.

"Maafkan ibu, Naruto."


Naruto terus berlari menyusuri jalanan di bawah hujan yang terus turun dengan derasnya diiringi gemuruh guntur yang menggelegar bak suara Susano'o yang sedang mengaum marah. Ia tidak memiliki tujuan pasti dari pelariannya, yang ia tahu ia hanya ingin terus berlari dan meninggalkan rumah yang bak neraka baginya. Gadis yang hatinya sedang terluka itu terus berlari di bawah rinai hujan yang turun bersama sejuta pasukannya. Diacuhkannya rasa dingin, sakit, dan lelah yang dirasa oleh tubuh dan kedua kakinya. Sebab hatinya berkali-kali lipat lebih terasa sakit.

Ia tidak tahu seberapa jauh ia telah berlari, atau seberapa lama ia telah menjejakkan kakinya di tanah dengan langkah cepatnya, napasnya telah tersengal-sengal ketika ia akhirnya berhenti berlari dan kini malah berjalan kaki dengan langkah seok. Pandangan matanya buram karena air mata dan hujan. Hatinya hampa.

Ckiiiit! Brak!

Ia hendak menyebrangi jalan menuju taman kota ketika sebuah mobil melaju cepat ke arahnya. Ia tidak menyadari kehadiran mobil itu hingga telinganya mendengar suara decitan ban yang direm paksa dan otaknya mengirimkan sinyal-sinyal rasa sakit di tubuhnya.

Tubuhnya yang basah melayang dan terjatuh menghantam aspal hitam yang kini dinodai oleh merahnya darah. Segalanya semakin buram dalam pandangannya, namun ia malah mengukir sebuah senyum di wajahnya.

'Inilah akhir hidupku,' batinnya bertanya ketika ia melihat seorang gadis berambut pirang panjang yang mirip dirinya sedang mengulurkan tangan padanya. Gadis yang begitu mirip dirinya itu sedang menangis menatapnya.

'Iya kan, Neesan?'

_oOoOoOo_

KyraDeRiddick

_oOoOoOo_

Gaara menekan pedal gas untuk menambah kecepatan mobil yang sedang ia kendarai. Baru saja Sakura menelepon untuk melaporkan padanya bahwa anak-anak sudah dibawa pulang oleh Sasuke dan sedang menunggu dirinya untuk makan malam. Meskipun Gaara sudah menyuruh anak-anaknya untuk makan duluan, tetap saja mereka bersikeras untuk menunggu Gaara. Mau tidak mau Gaara jadi tidak punya pilihan lain selain berusaha pulang secepat mungkin, sebab ia tidak mau anak-anak itu terbiasa makan terlambat dan akhirnya tumbuh dengan penyakit. Tidak, Gaara sudah berjanji pada mendiang isterinya untuk menjaga mereka dengan baik.

Ini memang salah Gaara karena ia keasyikan menenggelamkan diri dengan pekerjaan di kantor setelah Sasuke bilang akan menjemput Amaru dan Karura. Ia berfikir bahwa ia akan bisa menghemat pekerjaannya besok bila ia sudah mengerjakan sisanya hari ini. Ia tidak sadar waktu terus berlalu dan malam mulai menjelang. Mungkin ia akan terus seperti itu andai saja suara guntur yang paling keras tidak mengejutkannya. Dan ia lebih kaget lagi ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul enam lewat. Dengan segera ia merapikan mejanya, mengambil jas dan tas kerjanya, lalu menuju parkiran untuk mengambil mobil dan pulang.

Ia cukup beruntung mengingat hujan turun cukup lama dan (sepertinya) membuat orang-orang malas keluar rumah dan menyebabkan jalanan yang biasanya macet di saat-saat seperti ini menjadi sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang itu pun dengan kecepatan tinggi.

Tidak mau kalah, Gaara juga ikut menambah kecepatan mobilnya. Lumayan juga, pikir Gaara. Dulu, ia dan Sasuke juga sering balap-balapan di jalan saat akan ke kampus atau pulang dari kampus. Mengingat umurnya saat ini, Gaara merasa belum terlalu tua untuk ngebut sedikit di jalanan sepi seperti ini.

Tape mobilnya terus memutarkan lagu-lagu barat yang mugkin sudah dilupakan oleh anak-anak sekarang. Tak lama berselang Home To You-nya MLTR pun berakhir dan secara acak mencari lagu lain untuk diperdengarkan pada si pemilik mobil.

Alunan biola tiba-tiba menyeruak dan memenuhi ruangan di mobil itu dengan nada-nada indahnya. Gaara yang medengar Kiss The Rain-nya Yiruma yang merupakan lagu favorit almarhumah istrinya itu tanpa sadar langsung mengerem mobil.

Kepalanya ia sandarkan pada setir mobil, menikmati setiap alunan nada yang tercipta dari gesekan biola tersebut. Seulas senyum sedih terukir di bibirnya. Lagi, kerinduan itu datang dan menghantam hatinya yang telah rapuh sejak kepergian isterinya.

Lalu kenangan-kenangan masa lalu pun hadir dan memenuhi ingatannya. Saat istrinya sedang mengidam, saat istrinya menolak untuk minum susu, saat istrinya tiba-tiba saja jadi sensitif, dan saat istrinya berjuang untuk melahirkan bayi yang tidak seharusnya ia lahirkan.

Tangan Gaara mengepal erat ketika mengingat kenangan itu. Ketika Gaara melihat kedua bayi yang menangis dengan suara keras sementara Naruto tergeletak tanpa daya di atas ranjangnya. Naruto terlihat begitu pucat dan darah terus saja mengalir tanpa henti di antara kedua kakinya. Gaara masih ingat bagaimana ia berteriak dengan panik memanggil nama istrinya sementara para dokter berusaha menyelamatkannya.

Gaara juga ingat bagaimana ia, dengan enggan, menggendong bayi laki-laki yang ia beri nama Amaru sementara bayi perempuan yang ia beri nama Karura terbaring dengan nyaman di sisi Naruto yang masih pucat dan lemas setelah nyawanya hampir tidak tertolong.

Lagi, Gaara berpikir bahwa bayi-bayi itu tidak seharusnya ada di dunia ini.

_oOoOoOo_

KyraDeRiddick

_oOoOoOo_

Dengan kecepatan penuh Gaara melajukan mobilnya membelah jalanan basah yang masih dihujam hujan. Pandangan matanya tajam dan gelap. Penuh kebencian. Kebencian yang telah berkali-kali muncul dan telah berkali-kali pula dikuburkannya. Kebencian yang acap kali muncul kala dikenangnya sosok istrinya. Kebencian yang selalu bersisian dengan rasa cintanya pada istri dan anak-anaknya.

Pedal rem semakin ditekan Gaara dengan kakinya, tangannya masih bertahan mengendalikan setir dan persneling mobil. Mengabaikan jarak pandangnya yang buram karena hujan yang begitu deras ia terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh setelah sebuah mobil lain menyalipnya.

Keheningan tiba-tiba saja menguasai keadaan sekitar Gaara. Tak ada suara hujan, guntur atau mesin mobil yang terdengar di telinganya. Segalanya hening. Senyap.

Decitan ban mobil yang dipaksa berhenti perlahan menyeruak di antara keheningan. Membangunkan Gaara dari keterpukauannya pada senandung hening.

"Gaara!"

Secara otomatis Gaara menginjak rem setelah suara mendiang istrinya terdengar oleh telinganya. Bahkan matanya dengan jelas menangkap siluet tubuh mungil istrinya yang seolah berdiri di bawah hujan tepat di depan mobilnya.

"Na… ru… to…."

Brak!

Gaara hampir melompat dari kursinya mendengar suara keras yang berasal dari kaca depan mobilnya yang ditimpa oleh beban berat. Beban berat yang kemudian terlempar ke jalanan beraspal di depannya.

Setelah sadar dari keterkejutannya, Gaara segera keluar dari mobilnya untuk melihat benda apa yang baru saja menimpa mobilnya. Keterkejutan pun kembali menyapa Gaara bersama kecemasan sebagai kawan barunya ketika Gaara melihat sesosok tubuh tergeletak tanpa daya di atas aspal basah yang mengalirkan warna merah.

Ia melihat ke sekelilingnya dan mendapati sebuah mobil yang berdiri tidak begitu jauh dari tempatnya telah dibawa kabur oleh si pengemudi yang berada di dalamnya.

.

Dengan hati-hati Gaara mendekati tubuh lemas tersebut dan membaliknya, berusaha melihat keadaan korban tabrak lari yang tadi mendarat di atas mobilnya.

Iris mata Gaara yang berwarna hijau langsung membesar ketika otaknya memberikan informasi tentang sosok tersebut. Dengan kepanikan tingkat tinggi ia segera mengangkat sosok tersebut dan membawanya ke kursi penumpang di mobilnya. Lalu ia sendiri segera kembali ke kursi pengemudi dan memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

Gaara berlari panik di koridor rumah sakit memanggil perawat, dokter, dan siapa pun yang sekiranya bisa memberikan pertolongan darurat pada gadis yang ia bawa dalam gendongannya. Ia berteriak-teriak seperti orang gila. Bahkan ketika para perawat telah turun tangan ia masih belum puas. Ketika seorang dokter telah muncul di hadapannya dan berjanji akan menyelamatkan gadis yang ia bawa barulah ia bisa tenang dan berakhir dengan merosot di lantai di depan pintu ruang gawat darurat.

Wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil, napasnya pun terputus-putus karena berlari sambil membawa beban berat dan juga karena panik. Ia lelah fisik dan mental.

Tak lama berselang air matanya terjatuh tanpa ia sadari dan tanpa mampu ditahannya.

.

Gaara tidak akan pernah melupakan wajah itu. Wajah pucat yang sama dengan hari itu. Hari ketika ia harus menerima kenyataan bahwa wajah pucat istrinya tidak akan pernah kembali dipenuhi rona merah. Hari ketika ia harus menerima kenyataan bahwa tak ada lagi darah yang mengalir di wajah kekasih hatinya. Hari di mana ia harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya … telah benar-benar 'pergi'.

Isakan tertahan terdengar sayup-sayup dari tubuh Gaara yang meringkuk di dinding rumah sakit dekat ruang ICU. Kenangan-kenangan yang menyiksanya hadir satu per satu membangkitkan luka yang tidak pernah sembuh dari hatinya.

Berkali-kali, tanpa henti, bibirnya terus mengucapkan maaf sembari menyebut nama belahan jiwanya. Terus dan terus hingga pikirannya kosong dan segalanya menjadi hitam baginya.


Napasnya terengah-engah karena terus berlari, keringat pun nampak membasahi wajahnya. Sesekali ia mendengar teguran dan makian dari orang-orang yang ia tabrak, juga peringatan dari perawat yang melarangnya berlari di koridor rumah sakit, namun semua itu diabaikannya. Baginya, tidak ada peraturan yang perlu ia patuhi, sebab sosok yang sedang terbaring di salah satu ruangan rumah sakit itu jauh lebih penting dari apapun. Dari siapapun.

"Nee-san, bagaimana keadaannya?" tanyanya langsung setelah ia melihat kakak perempuannya duduk di salah satu kursi di depan ruang gawat darurat.

"Gaara-"

"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana ini bisa terjadi?" ia kembali bertanya, nadanya mendesak.

"Gaara, tenanglah. Dokter-"

"Apa Naruto baik-baik saja?" selanya lagi. Kali ini dengan nada tinggi. Ia kalut dan begitu khawatir. Bagaimana mungkin ia tidak khawatir ketika setengah jam yang lalu kakaknya itu meneleponnya dan menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit sebab Naruto mengalami pendarahan lagi.

"Gaara," sebuah suara lain menyapanya bersama satu tepukan di pundaknya. Namun hanya dengan satu kata –namanya- dan sebuah tepukan di pundaknya itu sudah cukup untuk membantunya menjernihkan sedikit pikirannya dan meniupkan angin sejuk untuk perasaannya yang kacau. "Naruto baik-baik saja".

"Nii-san," panggilnya lirih pada Kankuro yang memang selalu bisa membantunya untuk menenangkan diri. Ia lalu memilih untuk duduk di samping Temari, kakak perempuannya. Badannya terpekur lesu. Kelelahan yang amat sangat tiba-tiba saja menderanya. Ia tidak lagi mengeluarkan suara apapun. Hanya diam dan sayup-sayup mendengarkan obrolan singkat Temari dan Kankuro.

"Aku juga tidak tahu detilnya bagaimana, tapi dari cerita yang kudengar dari Shikamaru, Naruto sedang nonton ketika dia tiba-tiba saja memanggil nee-san dengan panik, saat nee-an melihatnya, Naruto sudah duduk di lantai sambil memegangi perutnya, dan darah mengalir di kakinya. Untung saja ada Shikamaru yang cepat berinisiatif membawa Naruto ke rumah sakit."

"Di mana Shikamaru-nii?"

"Dia pulang mengambilkan obat nee-san. Kautahu sendiri nee-san juga sedang kurang sehat."

Lagi, Gaara membisu. Ditatapnya Temari yang masih setia duduk menunggu dokter keluar dari ruangan berpintu putih tersebut. "Maaf, neesan." Ucapnya lirih.

Temari hanya menjawab, "tidak apa-apa", lalu mereka semua kembali terdiam. Menunggu.

_oOoOoOo_

KyraDeRiddick

_oOoOoOo_

"Bagaimana keadaan Naruto?" ketiga saudara itu kompak bertanya ketika dokter muda berambut sebahu yang memeriksa keadaan Naruto keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter muda itu tersenyum, berusaha menenangkan.

"Nona Naruto baik-baik saja," ucapnya lembut, "pendarahannya sudah berhenti, tapi dia masih belum sadarkan diri. Kalian bisa melihatnya kalau mau, tapi hanya satu orang yang boleh masuk ke dalam ruangan tersebut."

"Gaara, masuklah. Temani Naruto." Ucap Temari sambil mendorong pelan Gaara. Gaara baru hendak melangkah ketika permintaan dokter tersebut ia dengar.

"Sabaku-san, bisa saya bicara dengan anda?" pintanya pada Kankuro, "ini mengenai kondisi Naruto".

"Aku suaminya," ucap Gaara cepat. "Ada apa dengan istri saya?"

"Gaara…."

.

Sebagai dokter kandungan yang sudah beberapa tahun memeriksa ibu-ibu hamil, baru kali ini Shizune dibuat terheran-heran atau lebih tepatnya kaget dengan pasiennya. Bukan karena umur pasiennya yang terbilang muda, Shizune sudah terbiasa dengan pasien-pasien berusia dini seperti Naruto. Tidak juga karena pasangan pasiennya yang juga masih muda (walaupun ia tidak menduga mereka berstatus suami isteri). Namun lebih pada keinginan dari pasien itu sendiri.

"Saya menangani kasus nona Naruto atas rekomendasi dari senior saya, yang juga merupakan dokter keluarga anda, Yahiko Kabuto-san. Saya rasa anda pasti mengenalnya juga, Sabaku-san."

Gaara mengangguk pelan. "Ya, dia dokter keluarga saya."

Shizune lalu membuka laci mejanya dan memilah-milah file yang tersimpan khusus di laci mejanya. Setelah menemukan file yang ia cari, ia membukanya, membacanya sebentar lalu kembali menatap Gaara.

"Pada malam tahun baru kemarin, Kabuto-san mendapat panggilan darurat dari keluarga anda sebab nona Naruto ditemukan pingsan di kamarnya. Saat itu, Kabuto-san sudah menduga bila nona Naruto mungkin saja hamil, namun ia itu masih sekedar dugaan semata." Jelas Shizune pada Gaara. Ia kembali membalik halaman file pribadi Naruto milik Kabuto yang ia minta setelah seniornya itu memintanya untuk menangani kasus Naruto.

"Di pemeriksaan selanjutnya, Kabuto-san menyarankan agar nona Naruto berkonsultasi dengan salah satu psikiater sebab nona Naruto tampaknya mengalami depresi namun yang bersangkutan menolak. Sehingga saran terakhir yang diberikan oleh Kabuto-san adalah menempatkan nona Naruto dalam keadaan damai dan menjauhkannya darihalhal yang akan membuatpikirannya terbebani."

Gaara mendengar penjelasan Shizune dengan fokus yang terpecah. Sementara telinganya menangkap informasi tentang kondisi Naruto yang tidak ia ketahui, pikirannya seolah kembali pada masa lalu. Pada saat-saat gelap dalam hidupnya dan hidup Naruto. Semuanya kembali dan seolah siap untuk menyerangnya. Memberinya karma.

Shizune terus melanjutkan pejelasannya pada orang baru ini. "Di awal Februari Kabuto-san kembali mendapat panggilan dari keluarga anda. Nona Naruto kembali pingsan setelah mengalami mual akut. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan Kabuto-san, juga hasil pemeriksaan laboratorium, nona Naruto dipastikan hamil."

Sunyi sejenak sebelum Shizune melanjutkan penjelasannya. Ia tampak berat menyampaikan penjelasan berikutnya.

"Dokter?"

"Ah, maaf," ucap Shizune. Ditutupnya file Naruto, lalu kembali melanjutkan. "Jujur saja, kondisi nona Naruto saat ini sangat tidak mendukungnya untuk mengandung."

Gaara mengangkat kepalanya mendengar ucapan dokter muda di depannya. "Apa maksud anda?"

"Faktor usia, kondisi tubuh dan keadaan psikologis nona Naruto, maksud saya," ucap Shizune lagi. "Usia nona Naruto masih terlalu muda untuk mengandung. Keadaan organ-organ biologisnya masih belum matang sepenuhnya, hal ini secara otomatis akan sangat berpengaruh pada kondisi tubuh dan psikologisnya, bahkan bisa saja mengancam nyawanya."

"Salah satu contoh nyata dari penjelasan saya tadi adalah pendarahan dalam intensitas sering. Saya juga perlu menyampaikan pada anda, bahwa setiap kali pendarahan itu terjadi, nona Naruto akan mengalami kesakitan yang amat sangat."

Pikiran Gaara kembali pada hari-hari di mana Naruto sering menahan sakit ketika lagi-lagi ia mengalami pendarahan. Namun di sela-sela rasa sakitnya, ia masih bisa tersenyum untuk menenangkan Gaara yang panik.

"Mengenai faktor psikologi, hal ini lebih pada riwayat kesehatan nona Naruto yang pernah mengalami depresi. Saat hamil, perasaan seorang wanita akan sangat mudah berubah-ubah, rentan terhadap tekanan dan stress, ditambah riwayat keadaan psikologinya, hal ini sangat besar pengaruhnya pada kesehatannya."

"Saya sudah pernah menjelaskan hal ini dan menyarankan pada nona Naruto untuk menggugurkan kandungannya, tapi dia menolak dengan tegas. Dan akibat dari kenekatannya untuk mempertahankan kandungannya, adalah keselamatan jiwanya. Seperti saat ini."

"…."

"…."

"Apakah cara itu masih berlaku untuk menyelamatkan Naruto sekarang?" bisakah iblis-iblis kecil itu disingkirkan?

Shizune tertegun mendengar pertanyaan Gaara.

"Dokter?"

"A… a… eh… ah… ma… masih bisa. Te… te… tapi a… anda ha… harus meminta persetujuan dari nona Naruto. Sebab ini merupakan kontradiksi dari keinginannya." Shizune menjawab dengan tergagap.

"Aku mengerti. Anda hanya harus mempersiapkan operasinya."

Apapun. Apapun akan kulakukan untuk menyelamatkan Naruto. Meski itu berarti aku harus membunuh darah dagingku sendiri. Pikiran Gaara terus mengulang-ngulang kalimat tersebut.


Gaara membuka matanya perlahan. Bingung dengan keadaan sekitarnya. Lalu kejadian-kejadian sebelumnya melintas dengan cepat. Dengan sedikit shock dan panik Gaara melepas infus di tangan kanannya dengan paksa dan langsung lompat dari tempat tidur.

"Gaara, kaumau ke mana?"

Gaara berhenti. Terkejut dengan kehadiran Sakura. "Kenapa kau di sini?"

"Karena kau tidak juga sampai di rumah, aku mencoba untuk meneleponmu. Tapi yang menjawabnya malah salah seorang dokter di rumah sakit ini. Dia bilang kau membawa seorang gadis yang sedang terluka parah di sini, lalu kau sendiri jatuh pingsan. Sebenarnya ada apa?"

"…."

"…."

"…."

Sakura menghela napas. Pasrah dengan sikap Gaara yang tidak mau menjelaskan apapun padanya. Meskipun sebenarnya ia sudah tahu apa yang Gaara sembunyikan darinya. Ia hanya berharap Gaara mau sedikit lebih terbuka padanya. Tapi tampaknya pria di depannya masih belum mau membuka diri.

"Uzumaki Naruto sudah melewati masa kritisnya tapi ia belum sadar. Sekarang ia ditemani Amaru dan Karura… mungkin juga Sasuke."

Gaara menatap Sakura tanpa ekspresi. Membuat Sakura merasa tidak nyaman. Ia pun kembali membuka suara sebab ia jengah ditatap tanpa ekspresi seperti itu. "Aku meminta Sasuke untuk menjaga anak-anak, tapi mereka memaksa untuk ikut. Lalu dokter yang menjelaskan tentang keadaanmu juga menjelaskan keadaan Uzumaki Naruto padaku."

Gaara hanya mengucapkan "oh" dan kembali meneruskan niatnya melihat keadaan Naruto.

"Gaara…" panggil Sakura lagi. Suaranya bergetar.

Gaara berhenti. Menoleh pada Sakura yang kini menunduk.

"Jangan sakiti dia lagi."


TBC

Saya juga mau minta maaf karena saya tidak bisa membalas review dari kalian. tapi karena adanya review kalian itulah saya jadi memiliki semangat untuk melanjutkan fic ini (walaupun agak tersendat-tersendat).

Jadi saya harap kalian tidak akan bosan meninggalkan review untuk menyemangati saya. ^_^

Salam,

Kyra