Truth? This is it!

Sori kalau tertunda agak lama! Soalnya Ketrin sibuk banget sih. Hampir gak ada waktu luang T_T

Henna: Okay. Skip the talking and let's enjoy the fic ^^

Ketrin: Sejak kapan kedemenan pakai inggris?

Henna: Since you make me do this. You're the one who make the story, not me.

Ketrin: #sweatdrop

.

.

.

Derap-derap langkah menyertai para pemuda-pemudi yang berlari secepat mungkin menuju kuil Capricorn. Apalagi ketika cosmo dari orang yang mereka kenal sudah sepenuhnya pudar, mereka makin mempercepat langkahnya.

Apalagi Ikki yang sudah benar-benar panik tak karuan. Saat mereka melewati kuil Sagitarius, Aiolos berniat menyapa sekaligus menanyakan ada apa dengan mereka yang berlari-lari. Tapi mereka malah tak menggubris Aiolos dan melanjutkan langkah mereka.

Melihat raut wajah mereka, Aiolos sudah curiga sendiri kemudian ikut berlari bersama mereka. Akhirnya mereka sampai di kuil Capricorn. Merek tak melihat siapapun didalam, tetapi Ikki tetap mencoba mencari-cari dimana mereka.

"Hey, ada apa sih?" Tanya Aiolos. "Dan kenapa sekilas aku merasakan ada cosmo seseorang mulai pudar drastis?"

"Itu cosmo Henna-chan." Sahut Mitsuki. "Tadi dia bilang mau ke kuil ini.."

"Tapi.. Dimana dia?" tanya Hyoga.

Ikki makin masuk kedalam kuil. Lama kelamaan dia mulai mencium bau anyir. Perasaan yang SANGAT buruk kini menghantuinya. Sampai akhirnya dia melihat sosok yang tergeletak di lantai itu, Ikki hanya bisa terbelalak dan mematung didepan tubuh itu.

Tubuh Henna sudah tak bergerak lagi, bahkan nafasnya tak terlihat. Rambutnya yang pirang itu bercampur warna dengan merah darah. Ikki masih tak bisa berhenti melotot padanya.

"H..Henna..."

Perlahan dia berjalan mendekati gadis pirang itu. Kemudian dia berlutut didepannya meski kaki dan lututnya sudah menginjak darah Henna yang mengalir keluar sampai habis. Ikki menyentuh pelan wajah pacarnya, tapi yang dirasakan bukan hangat seperti biasanya. kulitnya terasa beku.

Perlahan Ikki menggendongnya dan memeluknya dengan tangan yang bergetar. Ikki kini juga terkena bekas cairan merah itu disekitar tangan, tubuh dan wajahnya karena memeluk Henna. Perlahan bulir-bulir air mata keluar dari matanya dan bergabung dengan bekas darah di wajahnya.

"Doushite? Apakah kematian Esmeralda tak cukup? Apakah kau juga harus direngut dari aku.." lirih Ikki dengan bibir yang agak bergetar.

Dekapannya pada Henna makin erat. Tapi itu tak mengubah fakta kalau dia memeluk gadis yang kini tak bernyawa sama sekali.

Sementara itu, karena Seiya dkk curiga mengapa Ikki tak keluar-keluar dari tadi akhirnya mereka langsung masuk dan memeriksa. Setelah berjalan, mereka langsung menemukan kedua pasangan itu. Ekspresi mereka berubah total.

"B..Bohong.. Ini bohongan..." Mitsuki tak dapat menahan air matanya. "H..Henna-chan.. Bangun.." lirihnya.

"Henna-chan... Ini.. Gak lucu..." Sophie sepertinya juga tak bisa menerima fakta.

Keduanya berjalan mendekati Henna. Keduanya juga mengguncang pelan lengan Henna. Tapi tetap saja gadis yang didekap Ikki itu tetap tak bergerak.

"Henna! Kau dengar kami kan?! Kau pasti bohong!"

"Astaga! Henna-chan! Katakan satu kata saja! kumohon!"

Tetap. Respon tak terlihat. Sophie menutup mulutnya, bersamaan dengan Mitsuki. Bola mata mereka mengecil, kesedihan dan kekagetan mereka tak bisa dijelaskan.

"Baru tadi pagi kita bercanda ria di café... Kenapa sekarang?" lirih Ringo, menangis.

Nitsuki, Reon dan Larrisa tetap diam mematung namun air mata mereka juga meluap dan menelusuri pipi mereka.

"Henna-chan.. Bangun..."

Entah apa yang terjadi pada Mitsuki, dia merasa seperti pemandangan didepannya benar-benar tak nyata. Rasanya hanya permainan usil yang sering dilakukan Henna. Teru dengan berat hati langsung menahan adiknya dan memeluk Mitsuki.

"Mitsuki.. Henna.. sudah..." Teru tak mampu melanjutkan kalimatnya dan ikut hanyut dalam tangisannya.

"H-Henna..-chan.." Sophie juga sama seperti Mitsuki dan dia langsung didekap Shun.

"Sophie.. Maaf.. Tapi Henna takkan bisa merespon lagi.." ujar Shun dengan berat hati.

"L-Lie! LIE! KALIAN TAK BISA LIHAT KALAU DIA MASIH HIDUP! HENNA-CHAN JAWAB KAMI!" jerit Sophie.

"Sophie.." lirih Shun. "Tolonglah.. Pemandangan didepanmu tak berbohong.."

Sophie dan Mitsuki langsung menangis sejadi-jadinya. Bahkan yang lain kewalahan menahan keduanya. Ikki sedari tadi tetap diam dan membiarkan air matanya tetap mengalir diiringi isakan pelan.

"Oh? Kalian sudah menemukan mayatnya?"

Suara Shura membuat semuanya menoleh ke arahnya. Tangan kanan Shura masih memiliki bekas darah Henna. Hal itu sontak mengundang emosi yang lainnya.

"Shura?! Kau yang melakukan ini?!" tanya Aiolos tak percaya, disambut tatapan datar Shura yang seakan mengatakan 'Ya'.

"Dasar... BEDEBAH SIALAN!" Bentak Hyoga.

Shura merespon bentakan itu dengan wajah datar. "Kalian terlalu naif sampai tak sadar. Yang kalian tangisi saat ini tak lebih dari seorang pengkhianat."

Semuanya menoleh dengan tatapan tak percaya. "Pengkhianat? Apa-apaan?" desis Seiya. "Apa kau sudah gila, Shura?!"

"Zeus mengunjungi Pope tadi. Kudengar jelas Zeus mengatakan kalau Henna yang bersama kita saat ini bukanlah gadis yang seperti kita pikirkan." Ujar Shura dengan nada dingin. "Jelas bukan? Dewa itu tak mungkin bohong."

"Tu-Tunggu dulu! Zeus?!" tanya Hyoga tak percaya.

"KAU BENAR-BENAR PERCAYA PERKATAAN DEWA SIALAN ITU?!" jerit Sophie.

Shura tetap memasang wajah datar. "Aku tak terlalu tahu arti dibaliknya tapi yang kutahu kalau gadis itu mungkin punya sesuatu yang bisa mengancam Athena. Aku tentu harus bertindak."

Ikki mendengar jelas perkataan Shura. Tapi dia tak bergeming dari posisinya sambil mendekap Henna. Kepala Ikki tertunduk dengan rambutnya menutupi wajahnya. Perlahan diletakkan Henna kembali kemudian dia langsung bangkit berdiri.

"Aku.. Akan membunuhmu.. Sialan.." desisnya sambil menatap Shura tajam.

Shura tersenyum sinis kearah sang Phoenix. "Mau mencobanya?" tantang Shura.

Ikki langsung menghilang dari hadapan mereka dalam sedetik, kemudian muncul dibelakang Shura. Shura menyadari hal ini dengan cepat dan langsung menepis tinju Ikki. Ikki belum menyerah dan masih mencoba melancarkan serangan serta jurusnya. Tapi tetap saja masih seimbang dengan Shura.

Shura langsung menemukan titik terbuka dan langsung melancarkan pukulan. Ikki dengan suksesnya terbanting ke dinding kuil.

"Nii-san!" jerit Shun. "Shura! Cukup!"

Shura menatap yang lainnya dengan dingin. "Itu saja kemampuan kalian? Terlalu rendahan.."

"Shura! Cukup! Kau sudah kelewatan!" Shiryu mencoba menahan Rozan Sho Ryu Ha miliknya.

"Sudahi pertarungan ini dan jelaskan maksudmu, Shura!" seru Ringo.

Baru saja Shura mau membuka mulutnya, tiba-tiba Ikki sudah didepannya dan langsung meninju saint Capricorn itu sampai ikut terbanting.

Ikki langsung menarik kerah pemuda itu. "Kau benar-benar sudah membuat keputusan yang salah.." desis Ikki. "Mata dibalas mata. Kau melukainya dengan tangan kananmu, maka aku akan mengakhirimu dengan tangan kananku."

Tangan kanan Ikki diselimuti oleh cosmonya yang penuh dengan kemarahan. Baru saja Ikki mau menanamkan tangannya, ketika seseorang muncul tiba-tiba diantara mereka.

Seorang bocah perempuan berambut hitam pendek, menahan tangan Ikki yang masih diselimuti cosmo. Ikki dan yang lain agak terkejut. Dengan cosmo seperti itu, harusnya tangan bocah itu terluka. Tapi bocah itu bahkan tak memasang raut kesakitan dan sebagainya.

"Mohon hentikan. Meskipun dia sudah tiada, Henna-sama takkan senang kalau melihat kalian beradu cosmo agresif seperti ini." Akhirnya bocah itu bersuara.

"T-Tunggu! Kau.. Barusan memanggil Henna dengan panggilan'-sama'?" tanya Shiryu heran.

"Akan saya jelaskan."

Kali ini seorang pemuda bersurai perak dan iris hitam mengeluarkan suaranya tepat dibelakang yang lainnya. "Tapi sebelum itu, tolong redakan cosmo anda serta letakkan pria itu." Pinta pemuda misterius itu dengan sopan tapi tegas.

Ikki awalnya merasa tak senang diperintah, tapi karena diminta oleh Shun akhirnya dia melepaskan Shura.

"Sebelum itu, izinkan saya memperkenalkan diri kami. Nama saya Niel. Gadis kecil yang bersama saya ini adalah Aoi. Kami pelayan pribadi Henna-sama sewaktu dia masih di Pure Island." Jelas Niel.

Semuanya memandang agak heran. "Untuk apa pelayan Henna kemari?" tanya Larissa heran.

"Kami merasakan cosmo Henna-sama sepenuhnya menghilang. Tapi.. Kami sudah terlambat." Aoi menatap miris ke arah gadis yang berbaring di lantai. "Saya juga kesal, tapi.. Henna-sama takkan senang kalau kami membunuh salah satu temannya."

"M-Membunuh?" gumam Seiya heran.

"Aoi." Panggil Niel. "Kalau perlu, kamu tunggu saja diluar. Tak perlu memaksakan diri. Apalagi kamu itu susah kalau sudah terlanjur." Tawar Niel.

"Tak perlu, Niel. Aku masih bisa tahan emosi." Ujar Aoi datar. "Jelaskan saja alasan kedatangan kita pada mereka."

Niel mengangguk. "Henna-sama memang sudah tak bernyawa saat ini. Tapi tubuhnya mengatakan yang sebaliknya."

"Maksudmu apa?" tanya Nitsuki.

Niel tak menjawab Nitsuki dan berjalan ke arah tubuh Henna. Tanpa ada rasa ragu, Niel membuka kancing baju Henna dan itu tentu membuat Ikki merasa tersinggung.

"Tenang, saya tak macam-macam. Saya hanya ingin kalian melihat ini."

Niel menunjuk simbol pentagram dan salib terbalik yang terukir di atas dada kiri Henna. Yang lain menatapnya agak heran.

"Simbol setan ini adalah segel jiwa." Gumam Aoi.

"Segel?" gumam Mitsuki.

"Tapi kenapa ada simbol setan di tubuh Henna." Tanya Aiolos.

"Tapi Henna sendiri titisan malaikat suci bukan?" tanya Reon heran.

Aoi mengangguk. "Tapi apakah kalian tahu apa yang dibalik sisi ganda Henna-sama?"

Semuanya langsung termakan suasana hening. Mereka tahu betul kalau Henna punya sisi ganda. Hanya saja mereka tak menyangka kalau akan ada alasan dibalik itu.

Aoi menghela nafas pelan. "Satu tubuh, dua jiwa."

"Satu tubuh, dua jiwa?" gumam Sophie.

"Jadi.. Itu artinya.." gumam Ringo.

"Begitu malaikat Gabriel akan diturunkan kedunia bersama seorang bayi kecil, saudaranya mencoba menggagalkan reikarnasi itu." Sahut Aoi. "Tapi rencana itu tak sepenuhnya gagal. Beberapa kepingan jiwa saudaranya berhasil ikut dilahirkan."

"Saudara? Tunggu dulu? Saudara siapa?" tanya Seiya.

"Saudara yang sudah menghasut setengah dari malaikat Surga dan menyebabkan perang antara mereka dengan bala tentara suci." Sahut Niel.

Yang lainnya masih memasang raut tak mengerti, tapi kecuali untuk Hyoga yang tampaknya tahu siapa 'saudara' yang dibicarakan.

"Hmm? Tampaknya ada seorang kristen disini." Ujar Niel sambil memandang Hyoga.

"Anda tahu siapa dia kan?" tanya Aoi sambil menoleh pada Hyoga.

Hyoga menelan ludahnya kemudian mengangguk pelan. "K-Kalau begitu, itu siapa?!" tanya Seiya tak sabaran.

"Malaikat kegelapan yang pernah kita kalahkan." Ujar Hyoga pelan. Seiya dan lain langsung mengerti siapa sosok yang dimaksudkan.

"Jadi maksud kalian.. Henna itu.." Ikki tak melanjutkan kalimatnya.

Niel mengangguk. "Dibalik Archangel suci yang bersemayam dalam dirinya, ada malaikat lain yang mencoba mengambil alih tubuh Henna-sama. Lucifer, si pembawa kegelapan."

Yang lain menatap Niel tak percaya. Apakah mungkin Henna memang memiliki jiwa pembawa kegelapan itu.

"Tapi kalau jiwa Henna-sama saat ini tak berada dalam tubuhnya, ada kemungkinan Lucifer akan bangkit." Ujar Aoi.

"Tapi kami bisa mengalahkannya! bahkan hanya dengan kami berlima, dia kalah! apalagi kini semua saint sudah dibangkitkan!" seru Seiya.

"Ya pantas saja bisa kalian kalahkan." Aoi mendengus geli sekaligus sinis. "Malaikat yang kalian lawan itu adalah malaikat yang hanya memiliki setengah dari jiwanya. setengah jiwa berarti setengah kekuatan."

Para bronzies terbelalak mendengar itu. Darah mereka tumpah cukup banyak saat itu, dan itu hanya setengah kekuatan dari Lucifer.

"Kali ini, dia kemungkinan kembali dengan kekuatan penuh. kalau kalian melawannya meski ditambah para strata emas, setidaknya lebih dari setengah akan menghampiri kematian." ujar Niel datar tapi yakin.

"Kalau begitu.. bagaimana kita akan menghentikannya?" tanya Mitsuki agak panik.

"Satu-satunya cara.. Adalah mengembalikan jiwa Henna-sama." Balas Niel. "Pertarungan ini akan impas jikalau malaikat melawan malaikat. Meskipun ada ikut campur dari dewi, itu takkan mengubah kenyataan bahwa 50% kemungkinan setengah dari kalian akan tewas kalau nekat."

Semuanya langsung mendesah bingung. Bagaimana caranya mengembalikan jiwa Henna. Bahkan ketika jiwa para gold saint dibangkitkan, itu perlu campur tangan dewa. Belum tentu apa Henna bisa kembali atau tidak.

"S-Sepertinya kita tak punya pilihan lain.. Kita hanya bisa menunggu kedatangan Lucifer dan bertarung dengannya." lirih Shiryu.

.

.

"Kalian tak mengerti ya?" tanya Aoi tiba-tiba. Bocah itu sukses mendapat perhatian oleh semuanya.

"Kalau Henna-sama benar-benar meninggal, Lucifer akan langsung bangkit di detik itu juga. Tapi segel itu masih tetap berada di dan tak berubah." Ujar Niel.

"Jadi maksudmu.. Henna belum sepenuhnya meninggal?" tanya Nitsuki agak antusias.

.

.

Sementara itu..

Gadis pirang itu menatap miris kepada pemuda beriris merah darah didepannya. "Aku.. Meninggal.." lirihnya. "Apa itu berarti aku tak bisa kembali lagi?"

Pemuda itu tersenyum penuh arti. "Hmm.. Jawabnya adalah ya dan tidak." Jawab pemuda itu. "Menurutmu bagaimana, Henna?"

Henna menatap pemuda itu agak terkejut. "Darimana kau tahu namaku?"

Pemuda itu terkekeh pelan. "Sumimasen.. Saya hampir lupa mengenalkan diri. Namaku Arthur Keehling."

"Arthur Keehling? Apakah anda penghuni surga ini?" tanya Henna.

Arthur tak langsung menjawab, tapi kembali terkekeh pelan. "Penghuni? Malahan aku yang menciptakan taman ini." Henna menatap pemuda itu dengan ekspresi kagum. Arthur juga merasa puas melihat Henna yang kagum akan hasil kreasinya.

"Cukup indah untuk menyaingi taman pertama." Sahut Arthur bangga.

Henna terdiam. "Taman pertama? Mungkinkah maksud anda itu Taman Eden?" tanya Henna.

Arthur mengangguk. "Lihatlah. Bunga-bunga indah membentang, makhluk hidup hidup harmonis di taman ini, banyak pohon dengan buah dan untuk bagian yang terbaiknya.. Tak ada buah terlarang. Sehingga taman ini sempur-"

"Kau salah.."

Henna menatap Arthur yang agak terdiam mendengar selaan Henna. "Ya, mungkin Taman Eden adalah tempat pertama kalinya dosa terukir di dunia. Tapi menurutku itulah taman yang jauh lebih indah dari taman ini." Ujar Henna sambil tersenyum.

"Ya, itu benar kalau warna cerah memang indah. Namun apa indahnya warna-warna itu jikalau tak ada warna hitam dan warna gelap lain yang melengkapi warna-warna itu?" sahut Henna.

Arthur terdiam lalu tersenyum. "Menarik.. Aku suka pemikiranmu.." gumamnya.

"Omong-omong, aku masih tak tahu darimana kau tahu namaku." Ujar Henna.

"Yah, bisa dibilang.. Akulah yang bertanggung jawab atas masa lalumu."

Henna menaikkan sebelah alisnya. "Masa laluku?" tanyanya. "Apa maksudnya?"

"Ah! maafkan aku." Arthur langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya. "Aku memang memperkenalkan diriku, namun aku hanya memperkenalkan nama dari wadah ini."

"Wadah?" gumam Henna. "Jadi.. Kau ini?!"

"Kamu tentu mengenalku bukan? Penguasa petir, pemimpin Olympus, Ayah dari Athena, Artemis, Apollo.."

"KAU ZEUS!"

Arthur tak melanjutkan kalimatnya dan hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Tadi sebelum Shura-san membunuhku, dia menuduhku kalau aku ini pengkhianat. Dia juga berkata kalau informasi didapatnya dari kau. Jelaskan ini Zeus!" seru Henna.

Pemuda bersurai perak itu tersenyum. "Tentu saja."

Arthur melambaikan tangannya di udara, dan kemudian didepan mereka berdua terbentuklah portal. "Ayo, kau ingin melihat kenyataannya bukan?" ajaknya sambil mengulurkan tangannya.

Henna merasa ragu, namun akhirnya dia menerima uluran tangan itu. Perlahan dia dan Arthur melangkah kedalam portal itu. Kedua orang itu langsung lenyap bersamaan dengan tertutupnya portal itu.

.

.

TBC

Ketrin: Jeeleek! #pundung

Shiden: *sweatdrop* Ah, Minna! Saat ini, Henna masih gak dibolehkan lihat fic ini. Bisa pundung dianya. Jadi saya yang gantiin dia! salam! saya OC Naruto Ketrin, Uchiha Shiden!

Ketrin: #pundung

Shiden: Err.. Karena Ketrin pundung, panggil OC lain deh buat gantiin dia deh.

Gina: K-Konichiwa! Son Gina desu! OC fandom Dragon Ball!

Shiden: Nah, balas review yuk!


#Matsushima Maiko

Ketrin: #masih_pundung

Shiden: A-Aduuh, udahin dong pundungnya!

Gina: Shura-san, semangat hadapin Nitsuki-san ya.

Shiden: Mengingat dia itu ganas. Hahahaha.

Gina: Huss, tak sopan tau!

Shiden: Wkwkwk, gomen!


#TsukiRin Matsushima29

Shiden: Yah, seperti yang kami bilang tadi...

Gina: Ganbatte, Shura-san #senyum

Shura: ITU GAK MEMBANTU SAMA SEKALII!

Shiden: Yah, siapa suruh melukai Henna?

Gina: Malahan aku dari tadi nahan amukan lho. *berubah menjadi Super Saiyan 2*

Shiden: Aku juga. *Sharingan dan Byakugan mode on*

Shura: 'T-Tolong..!'


#Gianti-Faith

Shiden: Wah! Sophie-san mau beraksi!

Gina: Mau ikutan gak, Shiden-san?

Shiden: Mau banget malahan! *ngeluarin Shuriken raksasa*

Gina: Hehe! Incar mananya duluan?

Shiden: Kita bantuin Sophie-san matahin tangan sama kakinya aja!

Gina: Okay, sip!

Goku (?): Astaga, Gina.. Masa kamu jadi sadis sih?

Gina: Lho? Papa ngapain kemari? #sweatdrop


#AmuletWin777

Gina: Ah, salam kenal Carrie-san! Kalau gini aku manggil Ciara lagi deh. CIARAA!

Ciara: Berisik Gina! Sarah, kamu juga kemari! Bawakan juga snackku!

Sarah: Yes, my Lady.

Shiden: W-Waduh *sweatdrop* Pada heboh semua ya?

Gina: Siapa juga gak heboh? Henna masa sampai segituannya juga?

Shiden: Iya juga.

Ciara: Itu saja kenapa ditangisi? #dingin

Gina,Shiden: D-Dasar sadis. (=_=)""

Sarah: 'Khukhukhu.. Menarik sekali manusia-manusia ini..'


Shiden: Minna! Sekian dulu dari kami!

Gina: Harap nantikan ya chap selanjutnya!

Aphrodite: Dadaah! *wink*

Shiden,Gina *sweatdrop*: A-Anda siapa ya?

Mind to Review? :D