Section 6

Dozen of Masks

.

.

Entah keajaiban dari mana, mereka akhirnya berhasil keluar dari kerumunan massa. Toilet dekat pintu departure mereka pilih sebagai tempat persembunyian untuk sementara waktu.

Baekhyun terdiam. Netranya sesekali terpejam ketika bau amis dari kuning telur yang menempel di helai rambutnya menelisik turun; dengan perlahan jatuh ke dalam lubang wastafel menuju ke pembuangan akhir.

Chanyeol sendiri sibuk dengan sambungan teleponnya di ujung ruangan.

"Aku tidak peduli! Pokoknya aku maupun Baekhyun tidak akan mengambil penerbangan hari ini!" suara bariton itu bergema.

Tanpa perlu menaruh pandang pun, Baekhyun dapat merasakan hadirnya urat-urat nadi di pelipis Chanyeol; menonjol ke sana ke mari seiring dengan emosi si jangkung itu yang kian meletup.

Setelah itu senyap.

Dengan sedikit rasa penasaran, Baekhyun menoleh ke belakang. Kemudian si cantik itu disapa oleh sepasang netra bulat tajam khas seorang Park Chanyeol yang ternyatsa sudah terlebih dahulu menatap ke arahnya. Ekspresinya lelah. Juga kesal. Juga benar-benar frustasi dengan keadaan yang baru saja terjadi.

Apa-apaan ini—...

Ke mana perginya seluruh petugas keamanan?

Bagaimana hal sehina ini bisa terjadi?

Mereka bukan orang sembarangan.

Mereka tidak membayar untuk hal sekonyol ini.

Mata dunia hiburan tidak akan pernah puas sampai di sini.

"Siapkan dirimu. Lima menit lagi kita keluar."

Dengan ringan, Baekhyun mengangguk. Bau amis kembali datang dan itu membuatnya memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk membersihkan diri sekali lagi.

Chanyeol mendengus karenanya.

Cartè's Donuts and Grills.

Restoran modern dengan nuansa kontemporer itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Bangunan yang kental akan kesan edgy ini selalu tampak sibuk oleh waitress yang wara-wiri ke sana ke mari; juga diperparah dengan beberapa pelanggan yang masih sibuk mencari meja kosong di tengah ramainya suasana restoran.

Lu Han serta Sehun adalah salah satunya.

Setelah sekitar lima belas menit berdebat di depan resepsionis rumah sakit, akhirnya Lu Han memutuskan untuk percaya bahwa pria ini tidak memiliki niat jahat apapun terhadapnya. Sungguh sebuah keputusan yang sedikit ia sesali karena—

...—Demi Tuhan, si Sehun ini pandai sekali membuat pipinya memerah sempurna.

"Uhm—..., j-jadi kau ini fanboy-ku ketika aku masih kuliah?" cicit Lu Han malu-malu. Mata rusanya mengintip sebentar lewat bulu matanya yang lentik; kemudian mengubur diri dengan begitu hati-hati di balik kelopaknya.

Sehun mengangguk singkat. "Yeap, begitu lah. Sayangnya seonbae tidak pernah menyadari kehadiranku," pria itu berpura-pura sedih. Bibirnya yang tipis dia buat begitu melengkung ke bawah. Hal itu membuat Lu Han ingin tertawa.

"Maaf. Banyak sekali yang menyukaiku dulu," ini dia. Sisi diva-nya mulai muncul dan kali ini Sehun-lah yang tertawa.

Mereka banyak bercerita; tentang hal penting seperti di mana dia tinggal sampai bertanya-tanya dalam gelak canda tentang kabar penjaga kantin kampus mereka dulu.

Pria ini benar-benar seleranya. Batin Lu Han menjerit kegirangan.

"Ah," Sehun menatapnya. "Apa seonbae juga masih berteman dengan Byun Baekhyun seonbaenim? Kalian dulu akrab sekali,"

"Tentu saja," ucap Lu Han santai. Maniknya tidak pernah lepas dari senyum menawan si jangkung di depannya itu. "Kami bahkan masih sering berbelanja bersama."

Sehun manggut-manggut mengerti. "Begitu? Ku kira kalian sudah merenggang. Mengingat dia sekarang sudah menjadi orang nomor satu di Naver?"

(*naver: salah satu situs pencarian populer di Korea)

Lu Han menggeleng pelan. "Baekhyun orang yang baik,"

"Dan lagipula, kenapa kau tidak cerita kepadaku; kau dulu dari kelas mana?"

Sehun tersenyum cerah. "Kau tahu, aku sering berada di kelas yang sama denganmu,"

Mereka dihukum.

Atau entah bagaimana menyebutnya, tapi yang jelas mereka harus membayar atas insiden yang baru saja terjadi.

Sebagai pereda artikel serta jurnal gossip yang menggila di internet, pihak agensi akhirnya memutuskan untuk menyuruh mereka melakukan live singkat sebelum tidur. Mengatakan bahwa mereka baik-baik saja dan blablabla sesuai dengan apa yang telah diperintahkan.

Sebenarnya hal ini benar-benar menjengkelkan. Terutama bagi Chanyeol. Dia lelah harus tersenyum dan bertingkah seolah baik-baik saja. Padahal dalam hati; fisik maupun batin sudah sama-sama lelahnya.

Chanyeol kadang bertanya dalam hati, atas dasar apa dulu dia memilih dunia hiburan ini sebagai ranah pekerjaannya?

Pasangan baru itu kini sedang berada di dalam kamar hotel mewah di pusat Kota Seoul. Interiornya menunjukkan kesan merah yang menantang; diperkuat oleh beludru peredam suara yang dipasang di sana-sini.

Chanyeol duduk diam sambil men-set semuanya. Mengatur kontras, pencahayaan, dan juga...—

Baekhyun.

Matanya yang bulat sesekali melirik pada sosok mungil yang lebih banyak diam sejak insiden yang terjadi siang lalu. Tidak ada lagi suara cempreng yang menyerang gendang telinganya.

Tampak seperti ada sesuatu yang hilang. Rasanya sedikit aneh sampai-sampai Chanyeol pikir dia sudah gila. Karena for God's sake—kenapa pula hal sekecil ini bisa mengganggunya?

Ambil napas, buang.

Si jangkung itu menyenggol lengan si Byun diam Baekhyun; "Kita akan live sebentar lagi. Simpan dulu jika kau ingin memukulku," ujarnya.

Baekhyun tidak sekalipun bergeming dan Chanyeol menganggapnya sebagai kata iya. Si jangkung itu memutuskan untuk menyalakan mode live-nya dengan segera.

Wajah Chanyeol yang semula datar langsung berubah menjadi semanis madu. Dia tersenyum kecil ketika jumlah view-nya mulai meningkat dari nol menuju satu. Kemudian merangkak menjadi sepuluh, lima belas, dan terus menerus bertambah.

Cepat sekali.

"Halo, semua. Kami baru saja akan beristirahat, dan...—" Chanyeol mulai mengoceh seiring dengan komentar yang mulai deras berdatangan.

Bagaimana keadaan Baekhyun?

Chanyeol oppa, katakan hai!

Oppa, di mana Baekhyun?

Baekhyun?

Bagaimana telur itu bisa mengenai kepala Baekhyun?

Where is Baekhyun?

Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun.

Istirnya tersebut telah menjadi primadona, ternyata. Chanyeol berkedip singkat lalu mengarahkan kameranya untuk merekam Baekhyun yang entah sejak kapan sudah memejamkan mata. Bed cover putih ditarik sampai menutupi bibir merah si cantik tersebut.

"Dia sedang tidur, yeorobun." bisik Chanyeol pelan sambil mengarahkan lensanya agar terfokus pada figur kecil yang hanya mengenakan kaos putih santai di dalam selimutnya. Sementara itu, Chanyeol sendiri sibuk mematung sambil mengamati bagaimana eratnya kedua mata sipit itu terpejam.

Chanyeol bukanlah seseorang yang mengenal Baekhyun dari kecil. Dia tidak tahu apa yang si mungil itu suka. Dia tidak tahu pula tentang apa yang istrinya itu benci. Bahkan dia tidak pernah berencana untuk mencari tahu.

Tapi dia tentu paham; hati si kecil ini sedang terluka.

Mata tertutup bukan berarti tidur.

Mulut terkatup bukan berarti tidak mengeluh.

Dunia hiburan bukan lah ajang untuk bersenang-senang. Semua hal akan diatur oleh seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai staff agensi. Entah itu pakaian maupun makanan. Teman biasa atau dengan siapa mereka harus berkencan. Hal seperti ini selalu ditekankan oleh Jaehyun, manager-nya sejak dia mulai menitih karier sampai se-famous sekarang ini.

Dan untuk Byun Baekhyun; seseorang yang tidak sengaja tenggelam dalam dunia segelap itu tentu saja merupakan hal yang berat.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Seiring dengan rasa simpati yang perlahan mulai menggerogoti.

Telapak tangan Chanyeol dengan sendirinya bergerak. Permukaannya yang lebar mengusap surai kecoklatan sang istri dengan perlahan. Dia membawa jemarinya meluncur dari pucuk rambut hingga ujungnya di sebelah pelipis. Sebuah keajaiban menyadari bahwa si mungil itu tidak sekalipun menampiknya; mengingat mereka seperti kucing dan anjing di kehidupan biasanya.

Jempol si jangkung itu menyusuri alis tebal lelaki mungil tersebut. Kemudian turun untuk menangkup pipi berisi yang secara mengejutkan terasa lebih halus dan lembut dari apa yang otaknya bayangkan. Pipi-pipi itu tampak benar-benar dirawat oleh empunya.

Dengan perlahan, Chanyeol mendekatkan diri ke wajah cantik Baekhyun. Ketika jarak hanya bersisa dua sentimeter, tiba-tiba kedua mata sipit sang istri terbuka perlahan. Chanyeol diam. Dia berkedip, kemudian berbisik pelan; "kau bisa memukulku nanti."

Lalu dengan lembut, Chanyeol mengecup dahi bersih istrinya tersebut. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata; sama-sama merasa hanya ingin diam untuk sementara waktu.

Perlahan namun pasti, kedua lengan Baekhyun bergerak melingkar di tengkuk Chanyeol. Dengan perlahan, si mungil itu mengusap kulit lembut di tengkuk suaminya tersebut dan kembali membuka mata.

"Chanyeol-ssi, bisakah kau mematikan live-nya? Aku lelah," bisiknya tak kalah lembut.

Chanyeol berkedip.

Ah, benar. Ada jutaan pasang mata yang kini tengah mengawasi kegiatan yang seharusnya menjadi privasi bagi dirinya dan istrinya.

Paginya, Chanyeol terbangun ketika jam di atas nakas menunjukkan pukul sepuluh lebih lima menit. Sambil memegang kepalanya yang sedikit pening, dia menoleh untuk menemukan kekosongan.

Byun Baekhyun—ke mana?

Pria itu mendesah saat gelombang penat yang lain datang menghampiri kepalanya. Dia bangkit dari ranjang kemudian pergi ke kamar mandi. Mengambil sikat giginya dan mulai menggosok dari bagian dalam.

"Untuk apa aku menanyakan di mana si keparat itu, ngomong-ngomong?"

Lu Han datang dengan dua gelas lemonade segar. Setelah meletakkannya di atas meja, si cantik itu kemudian menaruh kepalanya di sandaran sofa; lalu menempatkan dua buah potongan tomat di bawah matanya.

Baekhyun yang sedaritadi duduk di sana hanya berkedip sambil menggeleng tidak mengerti. Dengan acuh tak acuh, dia mengangkat gelasnya kemudian minum dengan tenang.

"Aku yang dilempari telur, tapi kenapa jadi kau yang menangis semalaman, sih?" gumam Baekhyun tidak mengerti. Mulutnya meringis merasakan betapa asamnya cairan yang baru saja dia telan.

Lu Han tiba-tiba memicing ke arah Baekhyun dengan mata sembabnya. "Itu karena aku peduli! Aku tidak rela sahabatku dilukai oleh orang lain."

Baekhyun memutar mata.

Tadi malam merupakan malam yang dramatis.

Sekitar jam dua pagi, Baekhyun terbangun dari dekapan Chanyeol (yang sebenarnya dia tidak tahu sejak kapan mereka saling berpelukan begitu) dan menemukan Lu Han sedang duduk di sampingnya.

Oh, Tuhan.

Baekhyun hampir saja menendangnya keluar dari ranjang karena...—Demi Tuhan, tadi malam si diva itu benar-benar tampak seperti sesosok hantu dengan baju tidur berwarna putih. Wajahnya pucat (yang setelah dipikir-pikir mungkin karena udara malam yang terlalu dingin) dan matanya kosong.

Tanpa babibu, dia menarik Baekhyun dari atas ranjang; menyeretnya keluar hotel. Dia bahkan tidak menyia-nyiakan satu detikpun dan langsung menginjak gas mobilnya sampai mereka sampai di apartemen.

Dan sejak saat itu lah, Lu Han menangis sekencang-kencangnya dengan tangan tertumpu di atas paha. Dia meratap keras dan bergumam ngalor-ngidul tentang bagaimana sial dan kasihannya seorang Byun Baekhyun.

Oh—sudahlah.

Walaupun Baekhyun sedikit tersentuh karena hal tersebut, tapi aura menyebalkan Lu Han memang sudah mendarah daging. Dia sangat benci acapkali si rusa Cina itu berkata; "beruntungnya aku dilahirkan sebagai seorang Lu Han, bukan seorang Byun Baekhyun. Sehingga aku tidak akan mengalami nasib sial seperti ini blablabla..."

Itu lah yang Baekhyun dengar berulang kali dari dini hari sampai beberapa jam lalu.

"Kau tinggal di sini dulu saja. Biarkan Chanyeol atau agensi yang membereskan semuanya," Lu Han berujar singkat sambil menaruh kembali potongan tomat yang sempat dilepasnya.

Baekhyun menggeleng tidak setuju. "Lari dari masalah bukan gayaku, Lu." Dia berjalan ke arah pantry, berniat membuat beberapa potong sandwich untuk sarapan.

Sahabatnya merengut. "Tidak seru!"

Baekhyun mendengus. Tiba-tiba saja, sesuatu terlintas di kepalanya. Dia tersenyum kecil. Lalu di detik kemudian, dia merengut lucu. Si mungil itu menoleh kembali ke arah ruang tengah.

"Lu, hari ini kau shift siang, 'kan?"

Seperti yang telah dijadwalkan, sekitar jam satu siang Chanyeol sudah menginjakkaan kaki ke rumah produksi. Beberapa staff menyapanya dan si jangkung itu balik tersenyum hangat.

Ruangan pertama yang ia tuju adalah kantornya. Ia membuka pintu dengan pelan dan sebuah punggung gadis dengan rambut kemerahan terpampang di depannya. Seseorang itu sedang duduk di sofa bulat dengan sebuah gitar akustik di tangannya.

Melodi halus lagu this is what broken heart feels dari Marina Lin mengalun.

Chanyeol hanya diam sambil melipat tangan di depan dada. Badannya ia senderkan pada kusen pintu sambil diam-diam menerka; kunci apa yang dimainkan gadis itu.

Ketika netra mereka akhirnya bertemu, si gadis langsung berhenti dan berdiri dengan canggung.

"Uh..., m-maaf. Aku hanya tidak bisa mengendalikan diri jika ada gitar. Aku—..." gadis itu berhenti bicara lalu menunduk malu.

"...maafkan aku, Chanyeol-ssi. Aku janji tidak akan menyentuh barangmu lagi."

Chanyeol menaikkan alis lalu mengangkat bahu. "Santai saja, Chaeyoung-ssi." dia tertawa pelan. Dengan santai, dia menaruh pantatnya di atas sofa dekat spot di mana gadis itu berdiri.

Agak lucu bagaimana orang selalu menganggap dirinya ini pemarah.

Ya...walaupun kadang memang begitu.

Chaeyoung merengut. Dengan perlahan, dia kembali mendudukkan diri di seberang meja dari Chanyeol. Secara otomatis, gadis itu mulai memegang beberapa tumpuk kertas berisi schedule untuk hari ini. Matanya yang sipit diam-diam mengawasi sosok Chanyeol yang kini sibuk dengan gitar yang beberapa waktu lalu dia mainkan.

Ah, kapan kira-kira dia akan sanggup membeli gitar semahal itu? batinnya mengeluh.

Senar serta kayunya eksklusif. Sangat mudah untuk distem, dan juga...—

"Kau salah dalam satu nada."

...eh?

Chaeyoung berkedip. Secara otomatis kepalanya menegak; dan langsung menjumpai wajah Chanyeol yang tengah menekan suatu kunci di antara fret gitar.

Chanyeol berdehem kemudian memetik gitarnya dengan kalem. "Akan lebih enak didengar jika kau ambil kunci D minor, bukan F,"

Kemudian, si jangkung itu mulai berkasi. Jari-jarinya dengan lincah memainkan instrumen yang memang sudah dia kuasai sejak masa sekolah dulu.

"You gave it all away," mulainya.

Chaeyoung menggigit bibirnya. Chanyeol terkadang menatapnya; seolah mengirim kode untuk ikut bernyanyi bersama. Ia sedikit menimang, sebelum akhirnya mulai membuka suara.

Chanyeol melihatnya dan hanya membiarkannya melakukan hal tersebut. Bibirnya tersenyum puas acapkali gadis itu menekan nada dengan sempurna.

Untuk sesaat, mereka seperti terjebak di dunia yang mereka ciptakan sendiri.

"...don't leave me. These nights are getting lonely-"

Mereka saling berpandangan selama beberapa detik. Lalu entah siapa yang memulai, mereka akhirnya saling tertawa di detik kemudian.

"Suaramu lumayan," puji Chanyeol tulus.

Chaeyoung hanya tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya. Chanyeol hampir tertawa lagi karena itu jika saja—...

"MAAF AKU TERLAMBAT. AKU—..."

...—jika saja pintu tidak menjeblak terbuka dan Byun Baekhyun tidak masuk dengan begitu tergesanya. Lelaki manis itu kemudian berdiri mematung di depan pintu dengan setelan casual berwarna putih gading. Di lengan kanannya tersemat paper bag sederhana.

Mereka bertiga diam di posisi masing-masing. Baekhyun berkedip. Chanyeol ikut berkedip. Lalu disusul si gadis Chaeyoung.

Sebenarnya,...apa yang terjadi?

Baekhyun terkejut ketika satu-satunya gadis di antara mereka bertiga berteriak; dibarengi dengan aksinya yang segera berdiri tegak.

"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, Baekhyun-ssi. A-aku dan Chanyeol-ssi hanya bermain gitar, dan,...dan...—"

...dan sebenarnya Baekhyun tidak peduli.

Mau mereka berselingkuh atau apa, itu bukan urusannya.

Bagian paling menyebalkannya adalah; si Chaeyoung yang lemah lembut ini selalu mengulang kata maaf sambil memasang wajah anjing kecil yang siap untuk menangis acapkali mata mereka bertemu.

Sungguh, itu membuat Baekhyun benar-benar jengah.

Si mungil itu merengut. Dengan paksa, ia menggenggam kedua tangan Chaeyoung; memaksa gadis itu menatapnya. "Nah, dengarkan aku,..."

Gadis itu semakin merasa kecil. "M-maafkan aku, Baekhyun-ssi."

Baekhyun merotasikan bola matanya kemudian tersenyum setengah. "Okay kau ku maafkan dan berhentilah melakukan itu. Kau sudah melakukanya selama hampir satu jam."

Mereka terdiam. Baekhyun mengambil napas panjang.

"Sekarang, tolong tinggalkan kami karena aku ingin bicara dengan suamiku," Baekhyun bisa merasakan Chanyeol sedang berjengit di belakangnya.

"Hm? Sekarang pergi lah temui staff yang lain,"

Gadis itu menurut dan kemudian keluar dari ruangan.

Menyisakan Chanyeol dan Baekhyun sendirian di ruangan canggung itu.

Yang lebih pendek kemudian membalik tubuh; menatap sang pasangan sehidup semati dengan datar.

"Apa?" mulai Chanyeol.

Baekhyun dengan diam membuka isi paper bag yang dibawanya sedari tadi. Dia mengeluarkan sekotak bekal juga susu segar dari sana. Hal ini membuat alis Chanyeol berjengit, apalagi ketika kedua benda tersebut di arahkan kepadanya.

"Hadiah." ujar Baekhyun pelan dengan wajah masih sedatar papan.

Chanyeol hanya berkedip dan itu membuat Baekhyun kembali mendesah keras. "Hadiah untukmu. Sebagai tanda terina kasih,"

"Untuk apa?"

Si cantik itu membuang pandangannya. Pipinya memerah samar seiring dengan rasa malu yang mulai menggempurnya. "Untuk yang semalam. Terima kasih sudah mengakhiri live-nya. Juga,..."

Chanyeol menatapnya skeptis. "Juga?"

"...juga—untuk yang di bandara. terimakasihataskebaikanhatimu." ucap Baekhyun cepat. Bibirnya mengerecut lucu.

"Oh." Chanyeol bergumam pendek. Dia menerima bekal tersebut kemudian mengeceknya. Ada dua potong sandwich juga sedikit salad buah di sisi yang lain. "Kau tidak menaruh racun di dalamnya, 'kan?"

Baekhyun tersenyum palsu. "Tidak, Chanyeol-ssi." ujarnya.

Chanyeol menyadarinya. Si jangkung itu menyeringai. "Bagaimana bisa aku mempercayainya?"

Bermain sedikit dengan si mungil ini mungkin akan mengatasi rasa bosannya.

Baekhyun menahan amarahnya, lalu berujar ketus; "Aku membuat itu dengan tanganku sendiri dan ini buktinya! Puas?!" si cantik itu menunjukkan jemarinya yang dibalut plester. Ini semua karena Lu Han yang tiba-tiba berteriak keras ketika dia sedang memotong tomat.

Chanyeol menyeringai semakin lebar. Wajahnya dia buat semenyebalkan mungkin. "Kau bisa saja berbohong dan sengaja memasang plester itu,"

Baekhyun menatap jengah. Emosinya sudah di ambang batas normal. "Satu hal yang perlu kau tahu, Park Chanyeol yang terhormat. Aku tidak sejahat itu untuk membunuh suamiku sendiri walaupun aku membencinya setengah mati dan...—AKU TIDAK SEBODOH ITU UNTUK SENGAJA MELUKAI DIRIKU SENDIRI, OKAY?!"

Baekhyun mengatur napas sambil menetralkan adrenalinnya yang sempat memuncak. Oh, sudahlah. Dia melawan seperti ini hanya akan membuat Chanyeol makin gencar mencari masalah dengannya.

"Kalau memang tidak mau ya sudah. Kembalikan padaku!" ketika dia ingin meraihnya, tangan panjang Chanyeol sudah terlebih dahulu ditinggikan oleh si empunya.

Baekhyun mendengus. "Ku bilang kembalikan!"

"Hey, mana sopan santunmu? Bukannya ini sudah kau berikan padaku?" Chanyeol menatapnya dengan cara yang begitu menyebalkan.

"Tidak jadi!"

Baekhyun berdiri dan Chanyeol menyalinnya. "Pendek."

"KEMBALIKAN!"

Pintu depan dibuka dan mereka sama-sama tidak menyadarinya. "Baekhyunie?"

"APA?"

Secara otomatis, si cantik itu berteriak; merasa telah diganggu, tentu saja. Dia menolehkan wajahnya dan menemukan Mama Park tengah menatapnya dengan ekspresi terkaget-kaget.

Baekhyun malu bukan kepayang. Dia berhenti menggapai kotak bekalnya dan berdiri dengan benar. Bibirnya yang merah merutuk Chanyeol yang sibuk menertawakanya di belakang.

Chanyeol sendiri tersenyum puas karena itu.

Mungkin mulai saat ini, mengerjai si kecil itu akan menjadi salah satu kegiatan favoritnya.

Yixing datang ke meja resepsionis untuk visit rutin. Dia menemukan Lu Han yang dengan sigap menyapanya. Lelaki cantik itu memberinya sebuah papan dengan informasi perkembangan tiap-tiap pasien. Yixing tersenyum singkat sambil bergumam 'thank you' ditengah kegiatannya membuka tutup pulpen.

Ada satu hal yang menarik perhatiannya.

"Lu?" panggilnya.

Lu Han menoleh sambil menaruh sebungkus roti serta teh hangat di depan psikiatri tersebut. "Ya, hyung?"

"Benarkah Daniel menghabiskan makanannya?" Yixing menatap perawat itu skeptis. Lu Han mengangguk singkat.

Hal itu malah membuat kecurigaannya semakin besar. "Apa yang dia makan?"

"Dua potong sandwich dari dr. Byun juga susu segar dari dapur ahli gizi." mata Yixing memicing. "Baekhyun datang ke sini?"

Lu Han menggeleng; ekspresinya riang. "Tidak, dia menitipkannya padaku."

"Tapi kau tahu, 'kan—pasien tidak boleh memperoleh makanan dari luar. Itu tercatat di jurnal keperawatanmu, Lu."

Si cantik itu malah merengut lucu. "T—api Baekhyun bilang, peraturan itu sudah lama dicabut,"

Yixing menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Ada dua hal yang benar-benar tidak dia mengerti tentang perawat cantik di depannya ini.

Yang pertama; kedunguannya yang selalu memanggil Baekhyun dengan sebutan dokter padahal si Byun itu adalah bukanlah lulusan fakultas kedokteran dan yang kedua; bagaimana bisa dia tumbuh sebodoh ini?

Pria berdarah oriental itu mengusak wajahnya frustasi. "Jangan ulangi itu lagi."

Baekhyun menggigit bibirnya.

Cincin berlian Mama Park yang bergerak ke sana ke mari sedikit banyak mengintimidasinya. Baekhyun berkedip ketika wanita itu menatap tepat ke arahnya.

Mama Park tersenyum lebar. "Oh, lihat betapa cantiknya menantuku," wanita itu tiba-tiba menarik pinggul Baekhyun mendekat ke arahnya. "Bagaimana dengan malam pertama kalian?"

"E—eh?" Baekhyun meringis canggung. Dia berdehem. "Uh, bagus, Ma," iya, bagus sekali menemukan suamiku tengah melakukan sex dengan wanita lain di dalam rumahku.

"Lalu bagaimana dengan Park kecil?"

Baekhyun menelan ludahnya. "Y-ya?"

Park kecil—yang...mana?

"Ah, belum berhasil, 'kah?" Mama Park cemberut.

Baekhyun tertawa palsu. Mertuanya ini sedang berbicara tentang cucu, rupanya. "I—tu,... kami rasa kami membutuhkan lebih banyak usaha-"

Tuhan, tolong—

"Apa dia tidak melakukannya dengan benar?"

"A—ah, hahaha. Chanyeol selalu m...—membuatku puas, Ma. Jangan khawatir,"

...aku bahkan tidak tahu apa yang telah ku katakan.

"Tidak bisa!"

"..."

"Ayo ikut Mama!"

"K—ke mana, Ma?"

"Jika si bodoh itu tidak bisa melakukannya dengan benar, maka kita butuh bantuan."

Baekhyun diam seribu bahasa ketika mata berhiaskan eyeliner itu menatapnya girang. Entah bagaimana buku kuduknya mulai berdiri.

"Ayo beli beberapa bungkus viagra!"

"YA?!"

tobecontinued—

*viagra : sejenis obat kuat untuk meningkatkan stamina pria di ranjang.

.

.

.

Author's Note:

hello, peeps!

masih ada yang nungguin kah? '^'

its been a while since my last update! hehehehe maaf :c kehidupan kuliah itu gila, sih kalau aku boleh bilang. otakku udah kefokus di materi yang seabrek dan fanfiction ini kayak gapunya waktu gitu loh gimana sih ya hnggg.

dan aku denger, ada beberapa akun cbhs yang promosiin ff ini. oh my god thank you so so so much : " ))))) serius sih itu bener-bener berharga bangettttt. thank you so fucking much. di chapter kemarin juga review-nya bener-bener jauh melampaui ekspektasi. duh, i am getting emo rn /sighs;

anyway—aku baru aja bikin semacam akun instagram. isinya chanbaek mini fic yang aku buat kalau lagi ada waktu luang. kalau berkenan, boleh kok di follow; chanbaekau.

last but not least;

terima kasih sudah membaca. terima kasih sudah review/fav/follow. i love you guys!