RUN TO ME

A Sasusaku Fanfiction

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Sebelum semuanya terlambat, semua masih dapat berubah. Jika bukan dia, maka aku akan ada di sini. Menunggumu. Atau mengajakmu, berlari.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 6


Sasuke PoV

Aku menarik dasiku. Sekarang dasiku sudah terpasang rapi. Aku mengancingkan kancing lengan kemejaku. Menatap ke cermin sekali lagi. Bunyi 'ting' terdengar. Toaster selesai memanggang rotiku. Aku keluar kamar menuju dapur kemudian mengambil dua lembar roti dari atas toaster lalu menuang kopi ke cangkir.

Aku membaca koran pagi. Tidak ada yang menarik. Pada dasarnya aku memang tidak suka membaca koran tapi hanya ini bahan bacaan di rumahku. Aku selesai dengan sarapan dan kopi. Kunci mobil sudah di saku celana dan aku siap berangkat.

"Kaa-san?"

Ibu tersenyum padaku, ia berdiri tepat di depan pintu rumahku. Entah sudah berapa lama. Aku mempersilakannya masuk. Ibu duduk di sofa dan aku duduk di depannya. Matanya terlihat bingung. Aku belum bicara pada Ibu dan Ayah setelah pesta ulang tahun pernikahan Itachi dan Izumi minggu lalu. Aku belum bicara pada mereka setelah apa yang aku lakukan.

Yang aku lakukan. Ya. Jika aku benar, hal itulah yang membawa Ibu datang ke sini.

"Ada apa, Kaa-san? Ingin minum sesuatu?"

Ibu menggeleng cepat. Ia tersenyum tapi matanya terlihat bingung. "Tidak, Nak. Tidak usah. Maaf, Kaa-san datang terlalu pagi."

"Hn. Tidak apa. Aku masih punya 30 menit sebelum jam masuk kantor." Aku diam sejenak. Ibu menggosok punggung tangannya, ia tidak melihatku. "Jadi, ada apa, Kaa-san?"

"Ya, sebenarnya Kaa-san memang ingin bicara padamu. Tapi, Kaa-san bingung harus memulainya dari mana."

"Langsung saja ke intinya."

Dugaanku sepertinya benar. Ini pasti tentang dia. Pasti tentang...

"Sakura." Ibu menatapku, "Apa dia alasanmu menolak perjodohan dengan Shion?"

Bingo! Benar, 'kan?

"Mengapa Kaa-san berpikir begitu?" Aku balik bertanya. Ibu tidak terlihat marah, nadanya terdengar stabil.

"Kau mengajaknya berdansa. Kau memeluknya. Kau menatap matanya. Kau tidak membiarkannya keluar dari dekapanmu."

Benarkah? Ku kira, aku hanya mengajak Sakura berdansa. Aku bahkan tidak sadar apa yang sudah aku lakukan. Gaun merah berengsek.

"Ya, lalu?" Aku kembali bertanya.

"Jadi, katakan jika pikiran Kaa-san salah." Ibu menghela nafas, "Apa Sakura adalah alasanmu menolak perjodohan dengan Shion?"

Aku diam sejenak. Mencoba menemukan jawaban yang tepat. Apa dia alasanku? Awalnya tidak. Tapi sekarang, sepertinya iya. Sakura menawarkan kebahagiaan padaku. Aku sudah menetapkan pilihanku. Aku akan bersama Sakura sampai aku menemukan wanitaku.

"Kurang lebih."

"Apa hubunganmu dengannya?"

"Kami... dekat." Aku harus berhati-hati.

"Seberapa dekat?" Ternyata Ibu tidak mudah menyerah.

"Lumayan dekat."

"Sejak kapan?"

Oke. Aku seperti anak 12 tahun yang tertangkap basah berciuman di sekolah. Salah seorang guru melihatnya lalu mengadukannya pada orangtuaku. Dan disinilah aku sekarang. Di hadapan Ibuku, untuk menjelaskan masalah yang terjadi.

"Apa masalahnya, Kaa-san?" Aku bukan anak 12 tahun.

"Jawab Kaa-san, Sasuke. Sejak kapan kau dekat dengan Sakura? Sekali pun Kaa-san tidak pernah melihat atau mendengar kau dekat dengannya." Ibu mulai serius.

"Kami merahasiakannya."

"Oh. Jadi, Sakura adalah kekasihmu?"

Dadaku berdenyut. Denyutannya aneh. Perutku juga berpilin. Pertanyaan Ibu sederhana, tapi aku menjadi sulit bernafas. Aku menelan ludah. Ibu masih menatapku. Tetap bernafas, Sasuke.

"Jika aku bilang iya, apa sesuatu akan berubah?" Aku menatap Ibu dengan tatapan yang sama, "Kaa-san, aku mungkin bermain dengan banyak wanita dan membuatmu sedih dengan sikapku. Kau menjodohkanku dengan Shion karena kau berpikir dialah yang baik untukku."

"Ya, karena Kaa-san ingin kau bahagia dan―"

"Aku belum selesai, Kaa-san." Aku mengangkat tanganku, "Aku tidak akan mungkin bahagia bersama Shion. Aku sudah mengatakannya padamu berulang kali, tapi kenapa kau tidak percaya padaku? Shion bukan wanita baik, Kaa-san." Aku menghembukan nafas. Ibu masih menungguku, "Dan Sakura? Tidak. Dia berbeda. Aku mengencani banyak wanita dan tidak ada yang seperti Sakura. Dia benar-benar berbeda."

"Kau mencintainya?"

Pertanyaan ini lebih sulit dari pertanyaan sebelumnya. Tapi aku tahu apa yang aku rasakan. Aku tersenyum. Ibu penasaran.

"Dia berarti. Dia berharga. Untukku."

"Kau mencintainya?" Ibu mengulang pertanyaannya. Ia tidak puas dengan jawaban yang kuberikan.

"Kaa-san bisa mendefinisikannya."

"Sakura berarti dan berharga untukmu. Seberapa berarti dan berharga?"

Aku mendengus, "Bisa kita hentikan ini? Kau tampak seperti investigator kelas satu." Aku tertawa tapi Ibu tetap diam. Ibu ingin sebuah jawaban yang sesungguhnya. "Baiklah. Seberapa berarti dan berharga Sakura untukku? Sangat. Karena Sakura mampu membuatku bahagia. Bukankah kau hanya ingin melihatku bahagia, Kaa-san?"

Dan bibir Ibu tertutup rapat.

.

.

.

.

.

Aku masih duduk di ruanganku, jam makan siang telah 15 menit berlalu. Tapi aku lebih memilih di sini. Aku kembali teringat percakapanku dengan Ibu pagi tadi. Percakapan mengenai Sakura. Aku bicara seolah-olah aku benar-benar memiliki hubungan dengannya. Seolah-olah kami memiliki hubungan.

Apa hubunganku dengan Sakura?

Aku sendiri bingung. Kami teman? Mungkin. Meski aku dan Sakura tidak banyak bicara saat sekolah dulu. Meski aku dan Sakura jarang menyapa saat bertemu. Meski aku tidak tahu apa-apa tentang Sakura. Ya, teman. Lucu sekali.

Kami kekasih? Bukan. Tentu bukan. Kami saling membutuhkan? Hn, aku butuh Sakura? Benarkah?

Semakin dipikirkan, semakin kepalaku terasa berdenyut sakit. Yang jelas, aku menerima tawaran Sakura saat ia berkata bisa membahagiakanku. Aku tidak ingin ia pergi dari sisiku saat ini. Aku ingin bersama Sakura, saat ini. Saat ini.

Pintu ruanganku diketuk. Sekretarisku masuk setelah aku mempersilakannya.

"Hazuki-sama ingin menemui Anda, Sasuke-sama."

Mau apa lagi dia? Belum cukup Ibuku, lalu sekarang dia.

"Aku tidak ingin bertemu dengannya."

"Maaf, Sasuke-sama. Tapi Hazuki-sama bilang ini penting dan ia akan tetap masuk meski Anda melarangnya."

Aku mengusap kasar wajahku, "Terserah."

Sekretarisku membungkuk kemudian pergi. Aku harus mengontrol emosiku. Setiap kali berhadapan dengannya, tanganku gatal ingin menghapus senyum di wajahnya. Beruntung, dia wanita.

"Halo, Sasuke."

Shion masuk dan langsung duduk di depanku. Aku hanya diam dan tidak membalas sapaannya. Shion tersenyum. Ya, senyum itu yang ingin kuhapus.

"Waktuku tak banyak." Ujarku.

"Ya, aku tahu. Kau selalu sibuk." Shion menyilangkan kaki kanannya, "Kau tidak menjawab teleponku dan juga tidak membalas pesanku, sangat sibuk, ya?"

Apa itu penting? Aku hanya mendengus lalu mengangguk. Shion menatapku.

"Sibuk dengan Haruno Sakura?" tanyanya sinis.

"Apa urusannya denganmu?" Kendalikan emosimu, Sasuke. Kendalikan.

"Jadi benar? Wow." Shion terkekeh. Ia memainkan ujung rambutnya, "Seleramu turun, ya? Meski hanya untuk pelarian, tapi tidak kusangka wanita seperti itu yang kau pilih."

Aku menaikan alis. Aku tidak berminat menjawab komentar bodoh Shion. Dan apa itu, pelarian katanya?

"Kau pikir berapa lama aku mengenalmu, Sasuke? Berapa lama kita menjadi kekasih?" Shion menarik sudut bibirnya. Aku mual mendengarnya menyebut kata kekasih. "Kau selalu mendekati wanita lain saat kita bertengkar, 'kan? Kau berniat membuatku cemburu. Kau sangat manis saat itu, Sayang."

Aku mendekati wanita lain sementara kau meniduri pria lain. Ha-Ha.

"Apa maumu?" tanyaku. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan emosiku. Tanganku terkepal di bawah meja.

"Semua wanita yang kau dekati, tidak ada satu pun yang seperti... Haruno Sakura." Shion menatapku, matanya berkilat.

"Memangnya seperti apa Haruno Sakura itu? Hn, Hazuki Shion?" Aku menyeringai.

Shion kembali terkekeh, "Biasa, sederhana, dan membosankan. Sungguh, Sasuke, apa kau mencoba menghinaku?"

"Hangat, pandai memasak, dan menyenangkan. Itulah Sakura." Aku masih menatap Shion, "Dan Sakura bukan pelarian, Shion."

Shion melebarkan matanya. Ya, Sakura memang bukan pelarian. Aku sudah mengatakannya berulang kali pada diriku sendiri. Aku akan bersama Sakura sampai aku menemukan wanitaku. Kekasih sesungguhnya.

"Baiklah, terserah kau saja." Shion berdiri dan aku mulai merasa lega. "Oh ya, ngomong-ngomong aku ke sini karena aku ingin mengundangmu ke rumahku besok. Aku mengadakan acara barbeque kecil-kecilan. Aku juga mengundang teman-temanmu yang lain, jadi aku harap kau datang."

Tidak akan.

Shion langsung berbalik tanpa menunggu jawabanku. Sebelum ia membuka pintu. Shion melirikku lewat bahunya. "Aku juga mengundang Sakura."

Dan pintu ruanganku tertutup.

Shion mengadakan acara di rumahnya dan mengundang teman-temanku juga Sakura? Sial. Shion pasti merencanakan sesuatu. Kenapa Sakura tidak memberitahuku? Dia bahkan tidak menghubungiku. Oh. Sakura tidak tahu nomor ponselku. Tapi setidaknya dia bisa datang menemuiku.

Aku panik, mungkin sedikit. Aku kenal siapa Shion. Aku tahu ia merencanakan sesuatu. Apa pun itu aku harus mencegah Sakura datang. Tidak, aku harus melarangnya datang. Shion selalu berhasil menyingkirkan setiap wanita yang coba mendekatiku saat kami masih bersama dulu. Aku tidak ingin ia menyingkirkan Sakura. Tidak.

Aku harus menemui Sakura. Aku akan menunggunya pulang kantor sore ini.

Aku tidak membuang banyak waktu. Setelah jam kantor selesai, aku langsung tancap gas menuju kantor Itachi. Aku berhenti di halte biasa Sakura menunggu bus. Mesin mobil sudah kumatikan. Aku menunggu.

Aku benci menunggu.

Sudah sekitar 10 menit tapi Sakura juga tidak muncul. Apa hari ini dia tidak naik bus? Apa hari ini dia tidak masuk kerja? Apa Itachi memberinya banyak pekerjaan? Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku.

Aku turun dari mobil kemudian melirik jam di tanganku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Dimana kau Sakura? Ah, sebaiknya aku masuk saja. Itachi pasti akan curiga tapi toh dia juga melihat yang kulakukan bersama Sakura di pestanya minggu lalu.

"Sasuke-kun?"

Itu dia. Sakura. Aku menghampirinya dan dengan gerakan cepat, aku menarik tangannya masuk ke mobil. Sakura kebingungan tapi ia tidak berusaha melawan. Ia diam dan aku menatapnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.

"Hah?"

Sakura mengernyit. Aku menggaruk pelipis kiriku. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

"Mengatakan apa?"

Berengsek. Sejak kapan aku jadi orang yang bertele-tele?

"Shion mengundangmu ke rumahnya. Acara barbeque atau apalah itu. Iya, 'kan?" Aku mengembuskan nafas kasar. Sakura mengangguk. "Dan kau akan datang?" Sakura mengangguk lagi.

Astaga! Sakura itu bodoh atau naif? Aku yakin Sakura cukup pintar untuk melihat maksud lain dari undangan barbeque Shion. Tapi, kenapa ia tetap ingin datang? Shion melempar umpan dan Sakura menangkapnya. Bagus sekali.

"Aku melarangmu." Ujarku.

Sakura sedikit kaget, "Kenapa?"

"Aku yakin kau tidak akan mau ada di sana."

"Tapi Shion yang mengundangku. Kau tidak punya hak untuk melarangku, Sasuke-kun." Sakura mencoba keras kepala padaku.

Aku menggeleng, "Tidak, Sakura. Saat aku bilang tidak, itu berarti tidak." Ucapku tegas.

"Aku akan tetap datang."

Raut wajah Sakura berubah serius. Kali ini aku memijat pangkal hidungku. Emosiku perlahan naik. Tapi, ada yang berbeda. Emosi ini bukan emosi yang sama ketika aku berhadapan dengan Shion. Ini emosi karena aku... panik?

"Berhenti bersikap konyol, Sakura. Shion pasti merencanakan sesuatu. Dia melihat apa yang kita lakukan kemarin. Percayalah padaku, Shion akan berusaha melukaimu." Aku berusaha menjelaskan. Aku menempelkan keningku di kemudi mobil.

"Justru karena itu aku ingin datang." Ucapnya. Aku mengangkat kepalaku kemudian menatapnya. "Seberapa besar usahanya untuk melukaiku."

Mulutku sedikit terbuka. Aku kaget dengan jawabannya. "Kau ini sudah gila? Shion itu berbahaya, Sakura. Aku pernah mengatakan itu padamu. Dan kali ini dia akan berusaha menyingkirkanmu."

"Menurutmu Shion akan berhasil?"

"Apa?"

Sakura tersenyum. Aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Ia membiarkan Shion berusaha melukainya. Sakura memang penuh kejutan.

"Aku tidak akan lari lagi, Sasuke-kun. Aku tidak akan menyerah lagi. Sejak awal menyukaimu, hatiku memang sudah terluka. Melihatmu bersama dengan wanita lain, itu memang sangat menyakitkan. Tapi, kali ini giliranku. Ini waktunya untuk menghadapinya." Sakura menarik nafas kemudian menghembuskannya. "Lagipula, bukankah kau tidak menginginkan Shion?"

Untuk sesaat aku terdiam. Sakura dan rasa percaya dirinya. Aku berdebar. Tanpa aku sadari aku menarik sebelah sudut bibirku. Banyak wanita tapi hanya Sakura yang benar-benar berusaha berada di sisiku. Tiba-tiba aku teringat perkataan Sai tempo hari di klub.

"Cari wanita lain. Kau bilang, bukan Shion yang kau inginkan. Lalu kenapa kau tidak mencari wanita yang kau inginkan?"

"Kau pikir aku tidak pernah mencobanya? Semua wanita di luar sana mendekatiku, mengajakku naik ke ranjang, kemudian mendapat kesenangan yang mereka inginkan. Tidak pernah ada wanita yang bertahan denganku."

"Karena kau tidak membiarkannya. Kau membiarkan mereka mendekatimu hanya sebatas itu, tidak lebih."

Kali ini juga giliranku, Sakura. Giliranku untuk mencoba melepas batas yang―menurut Sai―aku buat.

Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak menginginkan Shion."

Sakura masih tersenyum. Dan kami masih bertatapan. Ada perasaan aneh yang menjalari dadaku. Sakura terlihat seperti wanita yang lemah, tapi perkataannya membuatku merasa diperjuangkan. Mungkin pada kenyataannya aku yang lemah.

"Hei, apa kau sudah membuang gaun merah sialan itu?" tanyaku.

Pipi Sakura memerah dan ia langsung membuang muka. "Gaun merah apa?"

Tadi berkata dengan lantang dan percaya diri lalu sekarang melihatku saja sulit. Aku menarik lengannya tapi Sakura menahannya. Aku menarik lebih keras. Aku tidak suka sifatnya yang ini.

"Lihat aku, Sakura."

"Tidak." Katanya. Ia masih menahan tarikanku pada lengannya, "Aku sudah mengembalikan gaun itu pada Ino. Tidak, aku tidak akan memakainya lagi." Wajahnya masih berpaling.

"Kubilang. Lihat aku, Sakura." Aku masih berusaha menarik lengannya. Apa-apaan dia itu? Kenapa merasa malu?

Sakura menggeleng, "Tidak, aku tidak mau. Hentikan, Sasuke-kun. Lenganku sakit."

"Tidak akan terasa sakit jika kau mau melihatku." Aku tidak ingin kasar padanya tapi Sakura memang wanita keras kepala.

"Tidak. Kumohon, jangan paksa aku. Aku mengerti. Aku sudah bilang, gaun itu sudah aku kembalikan pada Ino." Sakura merapatkan dirinya ke pintu mobil sementara kami masih saling menarik.

"Bukan itu maksudku. Astaga, apa sulitnya melihatku?"

Sakura menggeleng bahkan menutup matanya erat. Untuk sesaat aku berhenti menariknya. Kemudian saat Sakura tidak menahan lengannya lagi, dengan gerakan cepat aku menyentak lengannya. Sakura kaget dan kami kembali bertatapan dengan jarak yang lumayan dekat.

"Lalu, kemana kau seminggu ini? Mengapa tidak memberi kabar?" tanyaku.

Sakura mengedip beberapa kali. Mulutnya sedikit terbuka. Keadaan hening. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku masih memegang lengannya.

"Sakura, aku bertanya padamu."

"Aku tidak tahu nomor ponselmu." Jawabnya cepat. Sakura menggigit bibir bawahnya.

Aku mendengus. Aku mengeluarkan ponselku lalu menekan beberapa angka. Tak berapa lama, ponsel Sakura berdering. Ia merogoh tasnya, melihat ponselnya kemudian aku.

"Nomorku." Kataku dan Sakura mengangguk.

"Darimana kau tahu nomor ponselku?"

"Sudah kubilang, aku Uchiha Sasuke. Aku bisa mengetahui semua hal jika aku ingin." Aku menyeringai. Pipi Sakura kembali merah tapi ia tidak berpaling. "Gaun merah itu, apa benar sudah kau kembalikan pada Yamanaka?"

Sakura mengangguk, "Sudah."

"Bagus. Aku tidak suka melihatmu memakai gaun itu. Ukurannya sangat minim, roknya juga sangat pendek. Mirip seperti baju tidur wanita. Aku heran, bagaimana bisa Yamanaka―"

"Hentikan, Sasuke-kun. Aku malu." Ujar Sakura. Ia menunduk. "Sejujurnya, aku masih merasa malu. Aku memakai gaun itu karena aku ingin kau melihatku. Aku ingin tampil cantik di depanmu. Apalagi Shion ada di sana. Aku ingin terlihat... berbeda. Lalu, saat kau mengajakku berdansa dan..." Sakura berdeham, "...merabaku, aku sadar aku telah membuat keputusan yang salah. Tidak seharusnya aku memakai gaun itu. Itulah sebabnya aku langsung pergi meninggalkan pesta setelah kita selesai berdansa. Bukan aku tidak memberi kabar, tapi kau juga tidak datang lagi ke apartemenku. Aku berpikir, apakah kau mulai memandangku sama dengan wanita lainnya. Aku merasa malu."

Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat Sakura yang panjang. Sakura ingin terlihat cantik di depanku? Lihat, lagi-lagi dia berusaha untukku. Dia juga bilang aku tidak datang lagi ke apartemennya. Jadi, dia mengharapkanku datang? Dia terdengar takut aku akan memandangnya sama dengan wanita lain. Yang benar saja.

Aku meraih dagu Sakura, membuatnya mendongak. "Sekali pun aku tidak pernah berpikir kau sama dengan mereka yang lain. Kau memang berbeda, Sakura. Kau dan Shion jelas jauh berbeda. Oh, tidak perlu gaun merah yang minim untuk membuatmu terlihat cantik. Dan, bukankah aku sudah melihatmu sekarang?"

Sakura mengulum bibir tipisnya. Ia terlihat manis jika sedang malu-malu seperti sekarang.

Aku serius dengan ucapanku. Rambut merah muda sebahu, kulit putih bersih, tubuh yang ramping dan mata hijau yang berbinar. Sakura tidak perlu berusaha keras untuk cantik. Tunggu, apa aku baru saja mengamatinya?

"Boleh aku bertanya padamu?" Sakura bertanya dan aku mengangguk. "Uuumm, mengapa kau mengajakku berdansa saat itu? Mengapa kau kesal dan tidak suka jika aku memakai gaun itu?"

Tiba-tiba jantungku berdegup cepat. Aku baru sadar tanganku masih memegang lengannya. Aku melepas genggamanku dan langsung memalingkan wajah. Pipiku rasanya agak hangat.

"Kenapa masih bertanya? Aku sudah memberikan jawabannya padamu saat itu juga."

"Iya, tapi kau... kau menciumku."

Aku langsung menoleh menatapnya, "Aku tidak menciummu!"

Sakura menyentuh leher di bawah telinganya, "Kau menciumku disini."

"Mengecup. Bukan mencium." Aku berdeham, "Itu berbeda."

Jantung sialan. Berhenti berdetak. Maksudku, berdetaklah dengan normal. Berengsek, aku bukan anak SMU lagi. Kenapa aku merasa malu?

"Itu sama saja." Suara Sakura terdengar rendah.

"Tidak, Sakura. Itu jelas berbeda."

Sakura menggeleng, "Sama saja."

"Beda."

"Sama."

Astaga! Keras kepala. Sakura terlihat kesal. Bibirnya mengerucut. Aku menatapnya tajam. Sakura balik menatapku. Wanita ini senang memaksaku rupanya.

"Baik, akan kutunjukkan padamu perbedaan mengecup dan mencium."

"A-Apa?"

Aku menarik tengkuk Sakura.

GAWAT!

Bibir kami bertemu. Bibirku bertemu dengan bibir tipis Sakura yang sedikit terbuka. Aku tidak berniat menempelkannya. Aku hanya ingin menggoda Sakura tapi sepertinya aku menariknya terlalu kuat.

GAWAT!

Mata Sakura melebar. Dia tidak menarik diri begitu pula aku. Kami-sama, aku bahkan berusaha untuk tidak melumat bibir Sakura! Kami saling berpandangan saat bibir kami masih menyatu.

GAWAT!

Aku menyerah. Aku menjauhkan diriku. Terdengar bunyi 'cup' saat bibir kami terlepas. Apa yang aku lakukan? Baka.

"Itu namanya mencium. Berbeda, 'kan?" Ujarku berusaha mencairkan suasana.

Sakura memegang dadanya. Ia menelan ludah. Nafasnya terengah. Ia menunduk tidak menatapku.

"Ya." Sakura mengangguk, "Maaf, sepertinya aku harus pergi. Kita bicara lagi nanti."

Sakura membuka pintu mobil dan langsung keluar dengan cepat. Aku memejamkan mata. Tingkah kami menggelikan. Itu bukan ciuman pertamaku. Tapi, aku merasa seperti remaja yang baru berciuman. Remaja bahkan mungkin bisa melakukannya lebih baik dariku.

"Sakura..."

Bibirnya lembut dan rasanya seperti buah ceri.

.

.

.

.

.

Sakura PoV

Sasuke-kun menciumku!

Aku menutup pintu apartemen dan tubuhku langsung merosot. Nafasku masih tidak beraturan. Aku menyentuh bibirku sendiri. Jadi, begini rasanya? Dicium oleh Sasuke-kun.

Aku memejamkan mata. Aku tersenyum. Perasaan di hatiku ini sangat aneh. Aku senang, malu, berdebar. Semuanya menyatu. Jika tadi aku menggerakan bibirku, apa sesuatu akan terjadi? Apa bibir kami tidak hanya akan saling menempel?

Kami-sama! Apa yang baru saja kupikirkan? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat.

Ini kedua kalinya Sasuke-kun melakukan hal yang membuat jantungku bekerja ekstra keras. Aku masih belum melupakan kejadian di pesta minggu lalu dan sekarang aku harus menerima yang lebih parah. Ada apa dengannya?

Tidak. Kendalikan dirimu, Sakura. Itu Sasuke-kun. Ciuman seperti tadi pasti sudah biasa untuknya. Jangan berpikiran lebih. Tapi, Sasuke-kun bilang...

"Sekali pun aku tidak pernah berpikir kau sama dengan mereka yang lain. Kau memang berbeda, Sakura. Kau dan Shion jelas jauh berbeda. Oh, tidak perlu gaun merah yang minim untuk membuatmu terlihat cantik. Dan, bukankah aku sudah melihatmu sekarang?"

Benarkah? Benarkah kau berpikir begitu, Sasuke-kun?

Aku menghela nafas. Shion. Sasuke-kun melarangku datang ke rumahnya. Sebelumnya Ino juga bertanya apa aku benar-benar akan datang. Ino dan Sasuke-kun memiliki kecurigaan yang sama. Aku tidak bodoh. Aku juga bisa melihat Shion memiliki maksud lain.

Jika Shion memang ingin melukaiku, maka aku akan memberinya kesempatan untuk mencoba. Shion tidak akan bisa membuatku mundur. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan Sasuke-kun.

Aku akan membantunya berlari.

.

.

.

.

.

Ino dan Sai datang menjemputku. Kami berangkat bersama. Rumah Shion tidak terlalu besar tapi ia memiliki taman belakang yang indah. Ada kolam ikan kecil dan rumputnya bersih. Sebuah meja kayu dan beberapa kursi malas.

Naruto melambai dan menyapa kami. Tangannya memegang penjepit daging dan ia tersenyum lebar seperti biasanya. Shikamaru mengendikan dagu. Ia sedang duduk di kursi malas. Shion memintaku dan Ino untuk jangan sungkan.

Aku duduk di sebelah Ino. Sai memberi kami minuman kaleng kemudian duduk di sebelah Ino. Mataku melihat ke sekeliling tapi Sasuke-kun tidak ada. Apa dia tidak akan datang?

"Yo, teme!"

Naruto kembali mengangkat tangannya. Aku menoleh ke belakang. Itu Sasuke-kun.

"Ah, Sasuke-kun. Kau datang?" Shion menghampiri Sasuke-kun dan mengapit lengannya. Ia bergelayut manja. Sasuke-kun hanya diam.

Serangan pertama.

Ino melirikku. Aku menarik dan menghembuskan nafas sebelum meliriknya balik. Aku mengangkat ibu jariku kemudian menggeleng pelan.

"Tidak apa." Kataku tanpa bersuara.

Ino cemas. Aku bisa lihat itu.

Sasuke-kun dan Shion duduk di depanku. Shion tersenyum padaku. Aku berusaha membalas senyumnya walau aku yakin aku hanya menarik sedikit sudut bibirku. Sasuke-kun menatapku dengan tatapan yang sama saat di pesta kemarin.

"Naruto, apa dagingnya belum matang?" tanya Shion.

"Belum. Haaah, Nara yang pemalas itu malah tidur." Naruto menggaruk belakang kepalanya, "Hei, Sai. Lebih baik kau bantu aku. Aku tidak ingin memanggang daging untukmu, tahu."

"Biar aku yang membantumu, dobe."

Sasuke-kun langsung berdiri dan menghampiri Naruto.

"Eh? Tidak, tidak. Kau temani Shion saja." Ujar Naruto. "Shimura! Kenapa masih duduk? Kemari dan bantu aku."

Sai memutar mata dan menghampiri Naruto. Sasuke -kun tidak pergi meski Naruto melarangnya. Ia malah memberi tatapan tajam untuk sahabatnya itu.

"Seenaknya saja memerintah pacarku. Baka Naruto!" gumam Ino. Aku terkekeh.

"Aku senang kau datang, Sakura. Yamanaka."

Aku menoleh begitu pula Ino. Shion memandangku. Ia menopang dagu. Aku hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. Tak berapa lama, makanan sudah tersaji di meja. Shikamaru bangun dari kursi malasnya lalu duduk di sebelah Naruto yang sedang menata piring plastik.

Setelah semuanya siap, kami mulai makan. Shion mengambil satu piring. Ada dua tusuk daging, udang dan dua sosis bakar. Ia memberikan piring itu pada Sasuke-kun. Sambil tersenyum. Ya.

"Ini, Sasuke-kun."

Aku menyentuh piring itu sebelum Sasuke-kun.

"Tunggu."

Semuanya diam dan melihat ke arahku.

"Ada masalah, Sakura?" tanya Shion.

Aku menggeleng, "Tidak. Hanya saja, Sasuke-sama alergi udang. Kulit wajahnya akan memerah dan gatal jika memakannya."

Bagus. Aku bergerak dan bicara di luar kendali. Alis Shikamaru bertaut, Sai tersenyum sementara Naruto terdiam dengan mulut menganga. Ino menendang pelan kakiku di bawah meja.

"O-oh, iya. Aku tahu itu. Tentu saja. Mana mungkin aku tidak tahu?" Shion tertawa. Ia meletakan kembali udangnya. Gayanya tampak kaku. "Ini, Sasuke-kun."

Oh, tidak. Jangan lagi.

Kali ini kentang. Shion mengganti udang dengan kentang. Sasuke-kun mengernyit.

"Um... Shion."

"Ya, Sakura?" Shion menatapku malas.

"Etto, Sasuke-sama tidak bisa makan kentang. Saat kecil, Sasuke-sama pernah tersedak ketika makan kentang. Trauma."

Keadaan jauh lebih hening dari sebelumnya. Terasa canggung. Yang lain―kecuali Ino―semakin kaget menatapku. Sesaat Shion juga tampak kaget tapi kemudian ia mendengus.

Sasuke-kun tersenyum miring. Mata kami bertemu dan aku berdebar setiap kali melihat senyum itu. Sasuke-kun mengangkat piringnya kemudian memberikannya padaku.

"Ambilkan makanan untukku, Sakura."

Aku masih diam tapi Sasuke-kun mengangkat alisnya. Aku mengangguk dan mengambil piring dari tangannya. Aku mengganti kentang dengan salad sayur ekstra tomat. Sasuke-kun sangat menyukai tomat.

"Silahkan, Sasuke-sama."

Sasuke-kun mengambil piring yang kuberikan. "Bagaimana jika Sasuke-kun? Kita tidak sedang di kantor dan kau tidak perlu seformal itu, Sakura."

Aku mengangguk. Aku melirik sekitar. Naruto masih menganga. Shikamaru diam tapi ia melihat bergantian ke arahku, Sasuke-kun dan Shion. Dan Shion, tidak perlu dilihat aku pun tahu dirinya sedang dipenuhi amarah.

Ino tersenyum puas sambil memakan salad. Sai juga. Ia mengigit daging panggangnya tanpa terpengaruh dengan yang terjadi. Ini aneh. Tapi Sai memang seorang yang cuek.

"Darimana kau tahu semua itu?" Tanya Shikamaru.

Aku berusaha tersenyum dan mengendalikan diriku, "A-Apa?"

"Sasuke dan semua hal yang tidak disukainya."

Berpikir Sakura. Ayo berpikir. Sialan kau, Ino. Kenapa kau tidak membantuku? Ia bahkan hanya ikut-ikutan memandangku sekarang.

"Itu karena..." Cari alasan. Berpikir. Ayo. "...saat di SMU, Sasuke-sa maksudku Sasuke-kun sangat populer. Semua gadis menyukainya dan hampir setiap saat mereka membicarakannya. Ya, karena itu."

Syukurlah.

Aku mencoba tertawa. Entah terdengar seperti apa.

"Wow, benarkah? Wah, kau hebat sekali, Sakura-chan! Padahal kan' kau tidak termasuk ke dalam gadis-gadis yang menyukai Sasuke-kun, tapi kau bisa mengingatnya." Kali ini Naruto yang bicara. Ia tersenyum lebar.

"Aku punya ingatan yang lumayan tajam, sepertinya." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, masih disertai tawa yang memaksa.

Ino menyenggol pelan bahuku dan berbisik, "Satu sama."

Kami mulai makan. Naruto membuka topik pembicaraan. Ia menceritakan hal-hal lucu. Tawa kami terdengar. Naruto sangat menghibur. Sesekali Sai berkomentar sinis dan itu membuat Naruto tersulut emosi. Shikamaru selalu memukul kepala Naruto saat pria bermata biru itu mulai berteriak di luar kendali.

Suasana makan malam ini menyenangkan kecuali...

Shion mencoba menyuapi Sasuke-kun. Tentu Sasuke-kun menolak. Tapi siulan Naruto dan kata-kata menggoda yang keluar dari mulutnya membuat dadaku nyeri. Shion memohon pada Sasuke-kun hingga akhirnya Sasuke -kun membuka mulutnya. Shion terlihat sangat senang dan langsung memeluk Sasuke-kun.

Serangan kedua.

"Eh? Daging panggangnya sudah habis? Woah, padahal aku masih lapar." Ujar Naruto sambil mengusap-usap perutnya.

"Kau makan paling banyak diantara kami dan kau masih merasa lapar?" tanya Shikamaru.

Naruto mengangguk lalu menatap Sai, "Hei, Shimura. Panggangkan daging untukku."

Ino meletakan tangannya di pinggang, "Hei, Uzumaki-san. Berhenti memerintah kekasihku. Lakukan sendiri hal yang ingin kau lakukan."

Naruto tampak ngeri melihat tatapan Ino padanya. Sai tersenyum di sebelah Ino. Naruto mendengus kemudian berdiri.

"Baiklah-baiklah, aku akan melakukannya sendiri." Naruto menatap Sai, "Kau beruntung kali ini, Sai. Kekasihmu itu sangat menyeramkan."

"Apa kau bilang, Naruto?!"

Ino bersiap melempar Naruto dengan kaleng minuman sebelum ia tertawa dan lari menuju panggangan daging.

Aku ikut berdiri, "Biar aku membantumu, Naruto."

Naruto tersenyum lebar dan memberiku penjepit daging. Kami mulai memanggang. Naruto lagi-lagi menceritakan lelucon. Aku tertawa. Ini lebih baik daripada aku harus duduk disana. Melihat Sasuke-kun dan Shion.

Aku melirik sebentar. Sasuke-kun tidak menoleh sama sekali ke belakang―tempatku. Apa yang aku harapkan? Apakah aku tertawa karena lelucon Naruto memang benar-benar lucu atau hanya ingin membuat Sasuke-kun cemburu?

Sadari dirimu, Sakura. Untuk apa Sasuke-kun cemburu.

"Aaaawww!"

Aku melamun. Tanpa sadar tanganku menyentuh ujung penjepit daging yang panas. Teriakanku cukup keras hingga membuat semua orang menoleh.

"Sakura-chan, apa kau tidak apa-apa?" Naruto memegang tanganku. Ujung ibu jari, telunjuk dan jari tengah tangan kiriku memerah, "Astaga, jarimu. Tunggu, aku akan ambilkan es."

"Apa yang kau lakukan, bodoh?!"

Sasuke-kun menghampiriku dengan cepat, ia menarik tanganku dari genggaman Naruto. Sasuke-kun membawa kantung es. Ia meletakan tanganku di atasnya. Kantung es berada di antara kedua tangan kami.

"Go-gomen, teme. Aku tidak tahu, tiba-tiba saja Sakura-chan berteriak dan―"

"Kau memanggang daging bersamanya, kau berdiri tepat di sebelahnya. Mana mungkin kau tidak tahu apa yang terjadi?!"

Sasuke-kun berteriak. Ia terlihat sangat marah. Naruto terkesiap. Shikamaru, Sai, Ino dan Shion juga sama kagetnya.

"Sakura, kau tidak apa?" Ino menyentuh lenganku.

Aku menggeleng, "Tidak apa, Ino."

Naruto menatapku. Ia terlihat menyesal dan aku merasa sikap Sasuke-kun berlebihan. Sai dan Shikamaru berdiri di sebelah Naruto.

"Maafkan aku, Sakura-chan. Harusnya aku lebih memerhatikanmu." Ujar Naruto lirih.

"Tidak, Naruto. Akulah yang seharusnya meminta maaf, aku yang―"

"Itu karena kau terlalu banyak bicara. Kau terus bicara sepanjang waktu hingga tidak menyadari keadaan sekelilingmu." Ucap Sasuke-kun ketus. Ia menatap Naruto.

Aku tidak suka ini. Emosi Sasuke-kun membuatku kesal. Ia terus saja menyalahkan Naruto. Oh, Kami-sama. Sasuke-kun bahkan tidak ada disini saat itu.

"Aku baik-baik saja, Sasuke-kun. Kau tidak perlu menyalahkan Naruto."

Sasuke-kun memutar kepalanya. Ia melihatku dengan matanya yang serius dan tajam. Keadaan menjadi tegang. Bukan Ino yang menyeramkan tapi Sasuke-kun.

"Jarimu terluka, Sakura." Sasuke-kun bicara dengan pelan namun terdengar sangat dalam.

"Itu hanya luka bakar ringan, Sasuke." Ujar Shikamaru.

Sasuke-kun langsung menarik kerah kaus Shikamaru, "Hanya katamu?"

Shikamaru mengangguk. Aku melihat tangan Sasuke-kun terkepal. Kami agak panik. Shion mencoba menghentikan Sasuke-kun. Ia menyentuh tangannya. Naruto berdiri diantara Shikamaru dan Sasuke-kun.

"Hentikan, teme."

"Kendalikan dirimu, Sasuke."

Sai dengan santainya menepuk-nepuk bahu Sasuke-kun. Sesaat kemudian Sasuke-kun melepas kerah kaus Shikamaru kemudian mengusap kasar wajahnya.

"Maafkan aku, dobe. Shikamaru."

Tanpa menunggu jawaban, Sasuke-kun langsung berjalan kembali menuju meja. Ia tidak menatapku. Sesaat kemudian Naruto terkekeh―mencoba mencairkan suasana. Aku yang membuat ini terjadi. Aku memang bodoh. Shikamaru melihatku ketika aku berjalan menghampirinya.

"Maaf, Naara-san. Aku seharusnya tidak melamun dan membiarkan jariku terluka."

"Shikamaru." Jawabnya. Ia menggaruk belakang kepalanya, "Haaaah, tidak usah dipikirkan, Sakura. Aku tidak apa. Sasuke memang seperti itu, aku sudah terbiasa."

Shikamaru tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Naruto menghampiriku dan memeriksa jariku. Sai hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ino memelukku. Kami mengikuti Sasuke-kun yang kembali ke meja.

Sebelumnya mata kami bertemu―aku dan Shion. Dan ia terlihat kesal.

.

.

.

.

.

"Yup! Shikamaru kau duluan. Kejujuran atau tantangan?" tanya Shion.

"Kejujuran."

Shion mengangguk, "Kukira tantangan akan lebih mengasyikan. Tapi, baiklah. Nah, siapa yang ingin bertanya pada Shikamaru?"

Shikamaru menguap sambil menggaruk belakang kepalanya. Bibir botol mengarah padanya setelah Shion memutarnya. Naruto mengangkat tangan. Ia tampak antusias.

"Aku! Aku!" Naruto tersenyum lebar. "Nah, Shikamaru, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Sejak kapan kau mulai merokok?"

"Usia 15 tahun."

Shikamaru menjawab dengan cepat. Naruto terkejut. Sejujurnya aku juga. Kami semua memasang ekspresi terkejut kecuali Sai dan Sasuke-kun.

"Benarkah? Bagaimana bisa kau mendapatkan rokok di usia sekolah, eh?"

"Maaf, Naruto. Satu putaran untuk satu pertanyaan." Ujar Shion. "Shikamaru, giliranmu untuk memutar botolnya."

Naruto tampak kecewa. Shikamaru memutar botol. Aku berharap bukan aku. Kejujuran atau tantangan, dua-duanya terdengar tidak menguntungkan sama sekali. Shion yang memiliki ide untuk memainkan permainan ini.

Syukurlah. Kali ini, Sai.

"Kejujuran." Ujar Sai tanpa ditanya.

"Biar aku yang bertanya." Ino menawarkan diri.

Semua mengangguk. Naruto terkekeh menyuruh Sai untuk bersiap. Aku melihat raut wajah Ino yang berubah serius.

"Shimura Sai, pernahkah kau―bahkan sekali saja―berkencan atau mendekati wanita lain setelah kita berpisah?" tanya Ino. Nadanya mengintimidasi.

Sai menggeleng, "Tidak."

"Sungguh?"

Sai mengangguk, "Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu, Yamanaka Ino."

Aku mual. Shikamaru mendengus keras. Naruto berteriak histeris. Tapi, Sai dan Ino malah berciuman. Mereka sebaiknya segera menikah.

"Baiklah, baiklah. Ayo Sai, sekarang putar lagi botolnya." Ujar Naruto.

Sai melepaskan ciumannya dengan Ino. Botol kembali berputar dan aku masih berharap bukan aku. Bagus, giliran Naruto.

"Beri aku tantangan! Aku suka tantangan!" seru Naruto.

Tantangan. Tantangan. Aku melirik sebentar pada Sasuke-kun. Ia duduk tepat di depanku.

Apa?

Sasuke-kun sedang menatapku. Secara terang-terangan. Sejak kapan? Matanya terlihat dingin. Rahangnya mengeras. Apa Sasuke-kun marah padaku karena kejadian tadi? Tapi, aku tidak melakukan apa-apa.

"Okay, Naruto. Aku menantangmu untuk meminum 8 soda kaleng dalam waktu 1 menit." Tantang Shion.

"Hanya itu? Tidak masalah, akan kulakukan." Jawab Naruto sombong.

"Tapi, jika kau kalah, kau harus memberiku seluruh kupon ramen gratismu padaku. Sebagai gantinya jika kau menang, aku akan membelikanmu ramen selama sebulan penuh. Deal?"

"Apa?! Tidak. Itu tidak sebanding. Kupon ramen gratisku berlaku satu tahun, tahu."

Shion mengangkat bahu, "Tantangan tetap tantangan, Uzumaki -san. Bukankah, kau suka tantangan?"

Naruto mengangguk lemah. Shion tertawa dan membawa 8 soda kaleng ke atas meja. Timer mulai dinyalakan dan Naruto mulai minum. Ia berhasil menghabiskan 3 kaleng dalam waktu sangat cepat―20 atau 30 detik. Tapi, Naruto butuh nafas di kaleng ke 5.

Naruto kalah. Dengan raut sedih dan menyesal, ia memberi kupon ramennya pada Shion. Aku menepuk punggung Naruto yang duduk di sebelahku. Aku tersenyum padanya dan Naruto memutar botol dengan malas.

"Sakura-chan!"

Sial.

Naruto kembali semangat setelah botol berhenti dan mengarah padaku.

"Um, aku memilih kejujuran."

"Boleh aku yang bertanya padamu, Sakura?"

Shion menatapku dengan senyuman yang―menurutku―misterius. Firasatku mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi. Aku mengangguk.

"Adakah orang yang kau sukai?"

Nafasku tercekat. Jika aku katakan iya dan setelah apa yang terjadi di pesta Itachi, tidak perlu menjadi pintar untuk tahu siapa yang aku sukai. Jika aku katakan tidak, apa Shion akan berhenti?

Aku masih bertatapan dengan Shion. Aku berusaha tenang. Naruto tersenyum lebar menanti jawabanku. Walaupun tidak melihat, tapi aku tahu Shikamaru juga sedang menatapku. Aku memberanikan diri untuk melirik Sasuke-kun.

Sasuke-kun masih menatapku.

"Ada." Jawabku, "Ya, ada seseorang yang kusukai."

"Benarkah? Siapa?"

Sial. Berengsek.

"Tidak, Shion. Satu putaran untuk satu pertanyaan."

Naruto menggeleng. Oh, aku menyukai pria ini. Terima kasih, Naruto. Shion hanya menyeringai. Kali ini giliranku untuk memutar botol. Botol berputar.

Shion.

"Nah, giliranmu. Ayo, Hazuki-san. Tantangan atau kejujuran?" tanya Naruto.

"Tantangan, tentu saja."

Ino merapatkan diri ke arahku, "Perasaanku tidak baik." bisiknya.

Aku hanya mengulum bibir. Naruto menawarkan pada Sasuke-kun untuk memberikan tantangan pada Shion. Sepanjang permainan, Sasuke-kun tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Tidak. Kau saja." Ujar Sasuke-kun.

"Baiklah," Naruto diam sejenak dan berpikir, "Aku akan membalasmu, Shion."

"Lakukan saja, Naruto." Shion tampak percaya diri.

Firasatku jauh lebih buruk dari tadi. Diam-diam aku mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang akan terjadi. Aku tahu peringatan yang diberikan Sasuke-kun tentang Shion yang ingin melukaiku, tidaklah main-main.

"Aku menantangmu untuk melakukan hal yang kau dan Sasuke biasa lakukan saat kalian sedang berduaan."

Cabut nyawaku, Kami-sama.

Aku reflek menoleh cepat ke arah Naruto. Ia sedang melihat Shion sambil menaik-naikan alis. Tadi kau membantuku, sekarang kau mendorongku ke dasar jurang. Tidak. Aku tidak terlalu menyukai pria ini.

"Sejujurnya, tantangan yang kau berikan terlalu mudah." Ujar Shion.

Aku sulit bernafas. Ino memegang tanganku dibawah meja. Seringai Shion makin lebar saat ia melihatku. Aku tahu ini. Aku tahu.

Kemudian dengan gerakan cepat, Shion meraih pipi Sasuke-kun.

Shion mencium bibir Sasuke-kun tepat di depan mataku.

Jantungku terasa berhenti. Naruto menyoraki yang dilakukan Shion. Genggaman Ino mengerat.

Serangan ketiga.

Seberapa besar aku menyiapkan diriku. Seberapa besar aku menolak peringatan yang diberikan Sasuke-kun. Seberapa besar aku membiarkan Shion mencoba melukaiku. Pada akhirnya, aku memang tidak berdaya. Shion berhasil melukaiku.

Melihat Shion berciuman dengan Sasuke-kun.

Aku merasa dikhianati.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Minna, apa kabar? Aku tahu aku udah lama bangetnggak meneruskan fict ini. Gomen... Sebenarnya aku udahngetikchapter ini dari 2 minggu lalu, tapi karena aku flu dan batuk jadi pas ngetik bagian akhir agak lama -_-

Btw, semoga puas ya.. ^^ Terima kasih untuk semua yang masih setia membaca, mereview, memfollow, memfavouritefict aku.. Juga untuk silentreader *kalau ada* Hahaha.. Love you, minna!

Jaa~

Nb: Anime ReLife seru juga ya ;)