KAKASHI LOVE STORY

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : OOC, AU

.

.

Masih Newbie jadi mohon maaf kalau ceritanya abal-abal dan masih banyak typo

Just enjoy the story ^.^

.

.

.

Chapter 6 – Pertemuan Tak Terduga

"Paket Wisata Pernikahan?!" Seru Sakura. Kakashi hanya mengangguk lemah.

"Apa kita tidak bisa menolaknya sensei?" protes Sakura.

Kakashi menghela nafas berat. "Bukannya tidak bisa Sakura. Tapi kau sudah membaca sendiri kan isi suratnya? Itu hadiah pernikahan dari Mizukage, kalau kita menolaknya bisa-bisa Beliau merasa tersinggung." Kakashi berusaha menjelaskan.

Cih! Apa sensei tdak merasa risih dengan rencana bulan madu ini? Apa jangan-jangan ini bagian dari rencananya? Kelihatannya memang begitu, buktinya tidak ada usaha untuk menolaknya.

Sakura sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Lalu bagaimana dengan pekerjaan sensei? Sensei jangan lupakan kalau sekarang sensei adalah hokage. Mana bisa meninggalkan desa seenaknya?" Sakura masih belum menyerah.

"Hh...Disurat itupun juga tertulis dengan jelas kan? Kalau hanya pergi 3 hari tidak akan terjadi apa-apa, karena para Daimyo itu akan menggantikanku sementara mengurus desa."

Kakashi buru-buru menambahkan kalimat sebelum Sakura menyelanya kembali.

"Kita bisa menganggapnya pergi liburan kan? Tidak ada bedanya menurutku." ujar Kakashi dengan tampang datar.

Jelas beda sensei! Sensei no baka!

"Memangnya aku punya pilihan lain?" Sakura mendengus kesal. "Sensei sekarang suamiku, jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengikutimu." Tambahnya.

Kakashi memasang senyum terpaksa. Dia tahu Sakura masih kesal dengan keputusan sepihak ini.

Kakashi mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Sakura dengan ekspresi wajah yang masih kesal pergi keluar untuk membeli beberapa keperluan.

"Ah...kurasa sudah cukup segini saja yang kubawa. Toh...hanya 3 hari saja kami disana." Kakashi menutup kopernya. Tiba-tiba Kakashi teringat ada yang ketinggalan.

Kakashi berusaha mencarinya di meja, tidak ada. Di lemari pun juga tidak ditemukan. Kemudian Kakashi berjalan ke arah tempat tidur. Mencoba mencarinya disana.

"Dimana ya aku letakkan novelku?" Kakashi mengusap dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

Kakashi kembali berusaha mencoba mencarinya dibawah tempat tidur. Lalu terbesit dalam pikirannya untuk membuka laci meja Sakura. Sebenarnya Kakashi tidak ingin berbuat lancang mengacak-acak wilayah pribadi orang lain. Tapi dia tidak punya pilihan lain.

Dia tidak akan marah selagi dia tidak tahu kan? Lagipula aku tidak bermaksud mencuri apapun. Yah...benar aku tidak salah.

Perlahan Kakashi membuka laci meja itu. Kakashi terkejut melihat apa yang di dalamnya. Tangan kanannya mengambil benda itu.

Sasuke ya? Hm...bahkan dia masih menyimpan fotonya sampai sekarang. Pantas saja dia mati-matian menghindari rencana bulan madu ini..

Kakashi tersenyum pahit. Ia berfikir pasti akan sangat sulit membuat Sakura melupakan perasaannya pada Sasuke.

"Tadaima... sensei!" seru Sakura.

Kakashi jadi gelagapan mendengar suara Sakura. Dengan sigap Kakashi mengembalikan foto itu ke dalam laci Sakura. Lalu cepat-cepat turun kebawah menemui Sakura.

"Ah... okaeri Sakura. Sudah selesai belanjanya?" tanya Kakashi. Sakura mengangguk.

Sakura mengeluarkan sesuatu dari tas belanjaannya itu.

"Ini untuk sensei.. aku tidak tahu apa itu sudah sesuai dengan selera sensei atau tidak." Sakura menyerahkan baju hangat pada Kakashi. "Seingatku dulu kita pernah menjalankan misi di Desa Kirigakure. Itu desa kabut kan? Jadi kupikir kita perlu pakaian hangat selama disana." Tukasnya.

Kakashi membalasnya dengan senyuman hangat. "Arigatou.. Sakura. Aku menyukainya."

.

.

- oOo -

Kirigakure adalah desa kabut tersembunyi yang letaknya di Negara Air. Pemimpinnya disebut sebagai Mizukage, yang sekarang ini sedang dijabat oleh Mei Terumi. Kebanyakan dari shinobi di desa itu adalah pengguna elemen air sebagai jutsu mereka. Desa ini juga dulunya terdapat jinchuuriki biju ekor 3. Kakashi masih mengingat dimana dia dan tim 7 asuhannya, bertarung menghadapi Zabuza yang termasuk dalam kelompok 'Legenda 7 Pedang Ninja'.

Sungguh ironis memang, justru sekarang tempat ini malah menjadi tujuan bulan madunya. Karena tujuan Kakashi dan Sakura adalah berbulan madu, maka mereka berdua juga menanggalkan perlengkapan apapun sebagai seorang ninja, termasuk tidak menggunakan jutsu apapun untuk saat ini. Kakashi dan Sakurapun berpenampilan layaknya penduduk warga biasa, tentunya hanya sebagai wisatawan asing. Kakashi sendiri tidak ingin penduduk di desa ini mengetahui bahwa seorang hokage sedang berbulan madu disini, bukan karena malu tetapi karena alasan keselamatan Kakashi dan Sakura sendiri. Bisa sangat berbahaya jika musuh memanfaatkan keadaan ini.

Sakura kembali membaca secarik kertas petunjuk perjalanan bulan madu mereka. Tempat-tempat yang sudah dipilih oleh pihak pariwisata Desa Kirigakure, sesuai dengan jenis wisata yang memang sesuai dengan pasangan yang baru menikah.

"Ehm...jadi hari pertama ini kita akan naik ke Gunung Fuji ya?" tanya Sakura pada Kakashi.

"Hn" jawab Kakashi singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada novel kesayangannya.

Sakura mendengus kesal, mengambil paksa novel ditangan Kakashi. "Sensei! Aku tidak akan keberatan kalau sensei membacanya dirumah. Tapi aku akan sangat keberatan kalau sensei membacanya disini." Protes keras Sakura.

Kakashi mengangkat sebelah alisnya. "Memang apa bedanya membaca dirumah dengan disini?" tanya Kakashi polos.

"Hh...Kita sedang bulan madu kan? Jadi tolong sejenak berkosentrasilah pada 'liburan bulan madu' ini. Bukannya sensei sendiri yang memintaku menerima usulan ini, huh?" Sakura menekankan pada kata 'liburan bulan madu' sambil berkacak pinggang.

Kakashi pasrah. "Iya...iya.."

Kakashi dan Sakura telah tiba di kaki Gunung Fuji. Sakura melihat sekelilingnya, kebanyakan dari mereka sepertinya adalah pasangan. Wajah Sakura jadi memanas jika berkaitan dengan pasangan, karena dia sendiri juga kemari dengan pasangan hidupnya, Hatake Kakashi.

"Anda Tuan Hatake Kakashi dan Nyonya Hatake Sakura, benar begitu?" tanya salah satu pemandu wisata di Gunung Fuji.

Kakashi mengangguk. "Darimana Anda tahu nama kami?"

"Oh...Saya adalah salah satu pemandu wisata di Gunung Fuji ini. Saya salah satu agen wisata pernikahan Desa Kirigakure." Kata pemandu itu sambil menunjukkan kartu identitasnya.

"Saya tahu Anda wisatawan yang memakai paket wisata dari agen kami hanya dilihat dari gelang yang Anda berdua kenakan." Tambahnya sambil menyunggingkan senyum.

Kakashi dan Sakura ber o-oh ria. Kakashi melihat nama agen wisata itu digelang yang dipakainya dengan Sakura. Dan memang orang tersebut tidak berbohong mengatakan bahwa dia agen wisata yang dipilihkan Mizukage untuknya.

"Baiklah..saya akan menunjukkan jalannya. Tolong sedikit berhati-hati nanti disaat jalannya mulai menanjak, karena banyak bebatuan tajam." Ujar pemandu wisata itu.

"Baik." Jawab Kakashi dan Sakura kompak.

Setengah jam diawal jalannya masih datar, tapi saat memasuki 1 jam lebih jalannya mulai berubah makin curam. Untuk lebih amannya Kakashi berjalan di depan Sakura agar bisa membantu Sakura melalui jalan yang lumayan berbahaya itu.

Sakura melangkahkan kaki kanannya. Dan celakanya, kakinya menginjak pasir yang membuatnya jatuh terpeleset.

SRAK! BRUK!

Kakashi gagal meraih tangan Sakura. Kakashi langsung turun dengan cepat menolong Sakura. Pemandu wisata yang terkejut melihat Sakura terjatuh juga langsung ikut menolongnya.

"Arggh...Sial sepertinya kakiku terkilir." keluhnya sambil memegangi mata kakinya.

"Sakura kau terluka?" tanya Kakashi cemas.

"Nyonya Hatake Anda tidak apa-apa? Untung saja Anda tidak terperosok terlalu jauh." Tanya pemandu itu juga ikut cemas.

"Ehm...sepertinya mata kaki kananku terkilir sen... eh.. Kakashi." Jawab Sakura yang hampir saja salah memanggil Kakashi dengan panggilan sensei.

"Tapi tidak ada yang terluka kan?" tanya Kakashi sambil memastikan keadaan anggota tubuh Sakura yang lain. Sakura menggeleng.

"Tidak ada jalan lain." Kakashi berjongkong didepan Sakura.

Sakura terperangah. "Eh...mau apa?"

Kakashi menoleh ke arah Sakura. "Apalagi? Menggendongmu tentu saja."

"Ta..tapi tidak perlu begitu." Jawab Sakura gugup.

"Sudah jangan keras kepala.. kita kan bukan seorang ninja, jadi tidak perlu sok kuat, benar kan?" kakashi mengangkat kedua alisnya memberikan isyarat pada Sakura.

Ah...iya benar juga. Aku tidak mungkin menggunakan chakra medis disaat seperti ini. Ugh! Menyebalkan sekali aku jadi seperti wanita lemah.

"Hn..Baiklah." Sakura naik ke punggung Kakashi dan melingkarkan tangannya di leher Kakashi.

Pemandu wisata yang sedari tadi melihat mereka berdua tersenyum dengan rona dikedua pipinya. Mungkin yang ada dipikirannya adalah Kakashi dan Sakura adalah pasangan yang romantis.

Ketiganya kembali melakukan pendakian. Sakura menyadari beberapa pasang mata mulai memandangi mereka Kakashi dan Sakura. Dari mata mereka terpancar rasa iri dan juga mungkin kagum pada sosok Kakashi yang mau menggendong Sakura padahal jalannya cukup curam.

"Sayang, coba melihat mereka berdua, romantis sekaliiii..." kata seorang gadis pada kekasihnya.

"Menurutku kekasihnya itu gila bukan romantis. Jalannya menanjak seperti ini malah nekat menggendong kekasihnya.." Protes si Pria.

"Iya gila. Gila karena mencintai kekasihnya. Tidak sepertimu yang egois, tidak romantis sama sekali! Huh!" celetuk Si Gadis sambil mempercepat langkahnya meninggalkan si Pria.

"O..Oi sayang jangan tinggalkan aku! Ma..maaf sayang. Bukan maksudku begitu." Pinta Si Pria.

Tetapi Si Gadis tidak menggubrisnya sama sekali. Sakura menyadari kalau dirinya dan Kakashi yang sedang dibicarakan mereka berdua. Melihat itu Sakura terkikik geli.

'Iya gila. Gila karena mencintai kekasihnya.'

Kata-kata yang diucapkan gadis tadi terngiang-ngiang dipikiran Sakura.

Cinta? Hahaha...sensei tidak mencintaiku sama sekali. Bagaimana bisa gadis tadi mengira sensei mencintaiku?

Kakashi sebenarnya tahu beberapa pasang mata melihat ke arahnya, tetapi dia memang sengaja tidak mempedulikannya. Karena yang terpenting bagi Kakashi adalah keselamatan Sakura. Kakashi tidak ingin mengingkari janjinya untuk bisa terus menjaga Sakura.

"Sensei.." panggil Sakura pelan.

"Bukannya kita sudah membahas mengenai hal ini Sakura? Jangan panggil aku sensei selama disini."

"I..iya maaf aku lupa." Sakura melengos.

"Ada apa memanggilku?"

"Apa kau tidak lelah? Kau sudah menggendongku cukup lama." Tanya Sakura ragu.

Kakashi menggeleng. Lalu mereka terdiam lagi.

Sakura yang merasa kikuk karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan Kakashi memilih menelungkupkan wajahnya dipundak Kakashi. Tak sengaja aroma dari tubuh Kakashi menguar, tercium oleh hidung Sakura. Sakura menghirupnya, menikmati aroma maskulin khas Kakashi. Membuatnya merasa nyaman. Sakura menyukainya.

Tak lama kemudian akhirnya tiba juga dipuncak Gunung Fuji. Butuh waktu 3 jam kurang lebih untuk sampai kepuncaknya. Memang memakan waktu yang relatif lama dan memakan tenaga yang tidak sedikit pula, belum lagi harus ekstra hati-hati menghindari batu-batu licin dan tajam selama perjalanan.

"Sakura kita sudah sampai." Kata Kakashi.

Tak ada jawaban.

"Sakura.." panggil Kakashi sekali lagi sambil melihat kearah Sakura.

Eh...dia ketiduran ternyata?

Kakashi tersenyum melihatnya.

Seharusnya yang kelelahan kan aku bukan dia..

Kakashi terkikik. "Sakura...kita sudah sampai ini. Kau tidak mau melihat pemandangan indah ini?" kakashi mencoba membangunkannya kembali.

"Mmph...Sudah sampai ya?" sakura mencoba membuka matanya susah payah.

Kakashi mengangguk. Lalu menurunkan Sakura perlahan, tetapi tetap tidak melepas tangan Sakura karena kakinya yang terkilir bisa membuatnya kehilangan keseimbangan.

"Wuahhhh...indah sekali pemandangannya!" seru Sakura.

"Tentu saja. Kalau pemandangannya jelek tidak akan banyak orang yang mau susah payah naik kesini." Sahut Kakashi sekenanya.

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Kau menyesal menggendongku, Hatake Kakashi?" Sakura menatap tajam ke arah Kakashi.

Sepertinya disini terjadi kesalahpahaman

Kakashi menelan salivanya. "Eh..maksudku bukan begitu, Sakura. Tapi..."

"Sudahlah. Jangan dipikirkan." Potong Sakura cepat. Wajahnya masih saja cemberut.

Ah...Ya Tuhan, kenapa wanita cepat sekali salah paham?

"Eh..Ano maaf mengganggu. Ini ada teh hijau hangat untuk Anda berdua. Suhu diatas sini bisa menjadi sangat dingin." Kata pemndu tadi sambil menyerahkan 2 gelas teh hijau.

"Arigatou...uh..."

"Fujiyama. Panggil saja Fuji-san." Kata pemandu itu menyunggingkan senyum.

"Nama Anda mirip nama gunung ini ya?" tanya Kakashi.

"Oh...itu karena Ayah saya sangat menyukai gunung ini. Maka dari itu saat ibu melahirkanku, ayahku memberikanku nama itu." Jawab Fujiyama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Uh...kalau begitu silahkan menikmati pemandangannya. Nanti saya akan kembali lagi saat kita harus turun gunung. Sekitar 2 jam lagi." Tukasnya.

Kakashi mengangguk, Fujiyama pergi meninggalkan Sakura dan Kakashi berdua. Sakura sedari tadi hanya diam. Wajahnya masih terlihat kesal.

"Sakura minum tehmu dulu..."

"Hn." Sakura menerima tehnya.

"Kau masih marah padaku?" tanya Kakashi penasaran. Sakura menggeleng cepat.

"Tapi wajahmu mengatakan sebaliknya Sakura." Kakashi tidak percaya.

Sakura langsung menatap Kakashi, membuat Kakashi terkejut.

"Aku menunggu matahari terbit. Melihatnya dari sini pasti indah. Aku tidak mau melewatkannya."

Kakashi tertegun dibuatnya. Suasana hati wanita bisa berubah dalam sekejap ternyata.

.

.

- oOo -

"Argh...sial aku lupa membawa baju!" celetuk Kakashi sambil mengacak rambutnya.

Kakashi melilitkan handuk dipinggangnya lalu pelan-pelan membuka pintu kamar mandi, melihat keadaan sekitar. Tidak didapati keberadaan Sakura.

Hh...untung Sakura belum pulang belanja rupanya. Jadi aman kalau aku keluar.

Kakashi berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian.

"Tadai...ma.." seru Sakura. Sakura membelalakkan matanya.

Kakashi terperangah, tetapi berusaha bersikap cool.

"Oh...K..Kau sudah pulang Sakura?" tanya Kakashi salah tingkah.

Sakura menatap Kakashi intens. Rambutnya yang setengah basah, membuat beberapa bulir air menetes ketubuhnya yang ramping dan proporsional itu.

Sakura menelan salivanya. "Se..sensei? kenapa keluar tanpa memakai pakaian, huh?" teriak Sakura.

"Ano...aku tadi lupa membawanya ke kamar mandi Sakura. Maaf.." Kakashi berusaha menjelaskan.

"Sensei alasan! Dasar mesuuum!" balas teriak.

"Oi..oi...aku kan cuma lupa bawa pakaian. Bukan lupa bawa handuk.." Kakashi malah makin menggoda Sakura. "Atau sebenarnya kau berharap kalau aku..."

Wajah Sakura memerah bak kepiting rebus. Sakura langsung lari mengambil bantal dan melemparkannya pada Kakashi. Tapi Kakashi dengan mudah menangkisnya. Melihat ekspresi Sakura yang seperti ini malah membuat Kakashi terkikik geli.

"Kalau sensei tidak berhenti menggodaku, aku akan kembali ke konoha sekarang juga!" ancam Sakura.

Kakashi terkejut. "Hei...aku cuma bercanda. Iya iya maaf. Setelah ini tour wisatanya kemana?"

Sakura membuka kembali jadwal wisatanya. "Em...ke kuil Hijima."

Kuil Hijima adalah salah satu kuil yang terkenal di Desa Kirigakure. Terutama bagi para wisatawan asing yang telah mempunyai pasangan. Pengunjung yang datang kemari biasanya meminta agar pernikahan mereka bisa langgeng dan juga bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, akan segera dikaruniai.

"Nona.. kemarilah.." panggil salah seorang biksu di kuil Hijima.

Sakura pun mendekat. "Anda memanggil saya?"

Biksu itu mengangguk. "Saya ingin memberikan ini." Kata biksu itu seraya menyerahkan gelang jimat. "Anda datang dengan pasangan kan?" tanyanya lagi.

Sakura mengangguk. "Kakashi..kemarilah" panggil Sakura.

Kakashi yang baru selesai berdoa lalu berjalan mendekat ke arah Sakura dan biksu tadi.

"Ada apa Sakura?" tanya Kakashi penasaran, lalu melihat ke arah biksu itu. Kakashi menunduk memberi salam, bksu itu pun membalasnya dengan menunduk juga.

"Saya ingin memberikan jimat untuk pasangan ini. Biasanya pasangan yang selesai berdoa akan saya sematkan jimat ini ditangan mereka." Ujarnya.

"Saya berharap Anda berdua mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah dalam menjalani rumah tangga. Dan juga...um... maaf apa kalian sudah mempunyai anak?" tanya biksu.

Kakashi dan Sakura terkejut sekaligus malu dengan pertanyaan biksu itu.

"Be..belum.." jawab Sakura gugup. Sedangkan Kakashi mengalihkan pandangannya untuk menahan malu.

"Hm...kalau begitu semoga dengan ini Anda bisa segera mendapatkan keturunan." Kata biksu itu sambil menyematkan gelang jimat itu ke pergelangan Sakura.

"Ka...kashi. Ulurkan juga tanganmu." Pinta Sakura. Kakashi mengulurkan tangannya tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu saya permisi." Pamit biksu itu seraya membungkukkan badan. Sakura dan Kakashi membalasnya dengan membungkuk juga.

Setelah biksu itu pergi, suasana berubah menjadi canggung. Terkadang saat Sakura dan Kakashi tidak sengaja bertemu pandang, keduanya malah tersipu malu dan kembali mengalihkan pandangan. Kakashi sama sekali tidak menyukai hal ini.

"Sakura"

"Kakashi"

Mereka berdua saling memanggil bersamaan. Rona merah lagi-lagi muncul di pipi mereka.

"Kau duluan saja Sakura. Ada apa memanggilku?" tanya Kakashi memberanikan diri.

"Eh...Ano kita ini langsung kembali ke hotel kan?"

"Aku mau membeli sesuatu. Kau duluan saja ya? Sebentar lagi aku menyusul."

Kakashi menyadari hotel mereka tempat menginap sudah dekat. Jadi Kakashi tidak perlu khawatir terjadi sesuatu pada Sakura.

"Baiklah kalau begitu." Jawab Sakura.

Sebenarnya Kakashi merasa lelah karena seharian jalan terus. Tapi tidak ada cara lain selain jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan kecanggungannya dengan Sakura. Ini semua berawal dari doa biksu dari kuil Hijima tadi.

Kakashi memandangi gelang jimat yang diberikan biksu tadi.

Anak ya? Rasanya tidak mungkin kalau aku dan Sakura bisa punya anak. Bahkan pernikahan ini terjadi bukan karena saling mencintai

Kakashi menghela nafas berat. Terus berjalan sambil memandangi langit malam. Tapi tiba-tiba saja perasaan Kakashi berubah jadi tidak enak. Kakashi merasa ada orang yang berusaha mengikutinya. Mungkin tidak terlihat secara terang-terangan karena dia bersembunyi diantara pengunjung didaerah pertokoan sekitar.

Kakashi tidak mau mengambil resiko terlibat perkelahian kalau memang orang yang mengikutinya ini berniat jahat. Kakashi lebih memilih berjalan menjauh dari keramaian menuju dekat hutan.

"Keluarlah. Katakan padaku apa mau kalian?"

Ternyata benar dugaan Kakashi kalau ada beberapa orang yang mengikutinya. Ada tiga orang pria, mereka memakai ikat kepala dengan lambang Desa Kirigakure. Ketiganya turun dari pohon.

"Ternyata instingmu kuat juga ya? Hatake Kakashi.." sapa salah seorang pria dengan senyum sinis.

Dia tahu namaku?

"Kau tak perlu terkejut karena aku tahu namamu. Ah tidak.. aku tahu hampir segalanya tentangmu. Bukankah kau adalah hokage keenam? Apa yang dilakukan seorang hokage di desa lain tanpa menggunakan pakaian ninja? Kau pergi kemari untuk bersenang-senang? Huh?" pria itu terus mengoceh sembari tertawa keras.

"Apa mau kalian?" tanya Kakashi geram.

"Haha...langsung pada intinya ya? Mau kami sederhana saja. Dimana Uchiha Sasuke berada sekarang?" tanyanya dengan menyeringai.

"Sasuke? Ada urusan apa ninja macam kalian dengan Sasuke?" tanya Kakashi memancing.

"Bukan Kami. Tapi pemimpin Kami."

Kukira yang banyak bicara ini pemimpin mereka... ternyata mereka masih punya pemimpin lain?

"Sudahlah Kakashi. Cepat beritahukan saja dimana keberadaan Uchiha Sasuke itu! Lalu aku akan melepaskanmu."

"Kalau aku bilang tidak tahu. Bagaimana?" jawab Kakashi seenaknya.

Si pemimpin tadi marah mendengar jawaban Kakashi, lalu memerintahkan kedua anak buahnya menyerang Kakashi.

"Cih! Sudah kuduga akan begini. Rou! Kou! Kalian serang dia!" teriak si pria itu.

Rou dan Kou kompak melemparkan kunai pada Kakashi. Tentu saja serangan sederhana seperti itu dapat dihindarinya dengan mudah. Lalu Rou melemparkan kembali dua kunai, kembali Kakashi menghindarinya. Sebelum mereka menyerang kembali, Kakashi berinisiatif menyerang dulu.

Aku akan menyerang si rambut hijau itu dulu

Kakashi maju dengan cepat mendekati Rou, melayangkan pukulan dengan tangan kanannya. Tetapi dengan cepat juga Rou menepisnya. Lalu menarik tangan kanan Kakashi, berniat menusukkan kunai padanya. Untungnya Kakashi menyadarinya, lalu tangan kirinya menahan kunai itu agar tidak sampai melukai perutnya.

Kakashi merebut kunai itu lalu menendang perut Rou hingga ia jatuh tersungkur. Rou pun merintih kesakita. Tendangan Kakashi tadi cukup keras. Tak butuh waktu lama, teman Rou ikut membantu. Dia menyerang Kakashi dari belakang, melayangkan pukulan, tetapi Kakashi merunduk menghindarinya, lalu mengambil kesempatan dalam jeda waktu itu menusukkan kunai diperut Kou. Kou pun berhasil dikalahkan.

Kakashi terseyum penuh kemenangan, lalu menatap tajam ke arah pemimpin kawanan ini.

"Hm...sekarang tinggal kau saja." Kakashi memasang kuda-kuda.

"Cih! Sial! Ayo majulah!" Pria itu mengumpat.

Pria itu menatap lekat Kakashi tak mau jika sampai menjadi korban berikutnya. Pria itu mengeluarkan pedang dari selongsongnya. Dia berlari kencang ke arah Kakashi, lalu berkali-kali mengayunkan pedang ke arah Kakashi. Kakashi melihat kunai tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat Kakashi mengambil kunai itu, lalau menahan ayunan pedangn yang hampir saja menerjangnya tepat diwajah.

"Haha...mau sampai kapan kau bertahan tanpa senjata Kakashi? Padahal tinggal kau beritahu aku dimana Sasuke nyawamu sudah pasti selamat." Kata si Pria sambil terus meneken pedang itu ke arah Kakashi.

"Jangan bicara omong kosong!" teriak Kakashi. Kakashi mendorongnya sekuat tenaga, sampai tak sengaja kunainya terlepas dari tangannya.

Si pria itu hanya terhempas sedikit, tetapi masih belum kehilangan keseimbangannya. Ia kembali menyeringai. Kembali ia menyerang Kakashi menghunuskan pedangnya. Dengan cepat pula Kakashi membuat segel ditangannya.

"Doton: Doryuheki" pekik Kakashi.

Dinding lumpur pun muncul dari tanah, membuat pedang yang tadinya dihunuskan pria itu terpental jauh. Pria itu perperangah. Tapi dia belum menyerah, ia membuat segel ditangannya.

"Suiton: Suiryudan no jutsu"

Naga air mendekati Kakashi dengan cepat. Kakashi kembali membuat segel ditangannya.

"Katon: Gokakyu no jutsu"

Karena jurus air melawan api. Maka efeknya timbul kepulan asap. Kakashi tidak menunggu asap itu menghilang kemudian berlari ke arah pemuda tadi untuk menyerangnya kembali. Tetapi Kakashi terkejut karena pria tadi ternyata sudah menghilang.

"Apa? Dia menghilang? Hm...jurus perpindahan rupanya." Gumam Kakashi.

Sesampainya di hotel..

"Tadaima." Seru Kakashi.

"Okaeri..A..apa yang terjadi sensei?" Sakura terkejut melihat keadaan Kakashi yang sedikit berantakan.

"Tadi ada sekelompok ninja Kirigakure berusaha menyerangku. Kita harus segera pergi dari sini Sakura."

"Ha?! Tapi bukankah kita sudah menyamar? Lalu kenapa mereka menyerang sensei? Se..sensei tidak terluka kan?" Sakura memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

Kakashi menggeleng. "Aku tidak apa-apa Sakura jangan khawatir. Yang jelas kita tidak bisa lebih lama disini. Untungnya hari ini hari terakhir kita disini. Besok pagi-pagi sekali kita harus kembali ke konoha." Ujar Kakashi panjang lebar. Sakura mengangguk tanda mengerti.

"Tapi apa alasan mereka menyerangmu sensei?" tanya Sakura masih merasa cemas.

"Mereka mencari Sasuke."

Sakura membelalakkan matanya. "Sa-suke? Tapi untuk apa?"

Kakashi menggeleng. "Aku juga masih belum tahu Sakura. Yang jelas mereka pasti akan datang untuk menyerang lagi. Aku punya firasat buruk tentang hal ini."

"Ta..tapi bagaimana jika mereka menemukan Sasuke sebelum kita sempat memberitahunya bahwa dia sedang dalam bahaya?" tanya Sakura gusar.

Kakashi mengelus rambut Sakura. "Jangan khawatir Sakura. Sasuke bukan ninja yang lemah. Mereka tidak akan dengan mudah mendapatkan Sasuke begitu saja." Kata Kakashi mencoba menenangkan Sakura.

Wajah Sakura masih terlihat cemas. Kakashi sendiri juga punya firasat buruk mengenai hal ini, ia takut kalau masalah ini akan melibatkan keselamatan Sakura juga. Mengingat sepertinya mereka tidak main-main dengan tindakan mereka. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan informasi yang mereka cari.

Aku tidak peduli apapun yang harus kuhadapi nantinya. Aku akan melindungimu Sakura..

.

.

- oOo -

1 bulan hampir berlalu sejak kejadian itu. Memang Kakashi dan Sakura sudah kembali ke Konoha dengan selamat. Dan juga tidak ada penyerangan yang ditujukan pada desa. Tapi Kakashi masih merasa tidak tenang. Karena Kakashi yakin mereka pasti menyiapkan rencana licik untuk mendapatkan yang mereka inginkan.

Kakashi membolak-balik kertas yang ada dihadapannya. Sekalipun dia dirudung masalah, dia tidak bisa mengabaikan begitu saja tugasnya sebagai seorang hokage. Masalah penyerangan yang terjadi di Kirigakure itu masih menjadi rahasia Kakashi sendiri. Sementara ini dia tidak ingin melibatkan Daimyo untuk jajak pendapat, karena hal ini mengenai Uchiha Sasuke. Kakashi khawatir justru Daimyo itu mencurigai Sasuke sebenarnya adalah dalang sebenarnya dibalik penyerangan itu. Dan dia berniat untuk menyerang Konoha kembali.

Kakashi sama sekali tidak ingin hal itu terjadi, Naruto sudah susah payah membawa Sasuke kembali ke jalan yang benar dan juga sudah mau membuatnya kembali ke desa. Kakashi tidak mau usaha Naruto itu jadi sia-sia. Hanya karena kecurigaan Daimyo yang sama sekali tidak beralasan.

Tiba-tiba saja Kakashi tersentak dalam lamunannya.

Ah iya kenapa aku tidak temui dia saja ya?

"Hah? Sasuke?!" Pekik Naruto.

Naruto tidak menyangka kalau Kakashi akan mendapatkan serangan saat menjalani bulan madu. Apalagi alasan mereka menyerang bukan ingin membunuh Kakashi tapi mencari keberadaan Sasuke.

Kakashi mengangguk.

"Tapi apa yang mereka mau Kakashi-sensei?" tanya Naruto bingung.

"Entahlah...yang jelas bukan sesuatu yang baik."

"Jadi sebaiknya apa yang harus kita lakukan, sensei?"

"Mengintai. Aku ingin kau cari tahu siapa pemimpin mereka yang sebenarnya. Aku akan mengirimmu untuk misi khusus ini, Naruto. Aku minta kau selidiki mereka dari informasi yang sudah berhasil aku kumpulkan beberapa hari ini. Bagaimana? Kau mau Naruto?"

Naruto terkekeh. "Haha...Kakashi-sensei sekarang adalah hokage kan? Kenapa harus meminta pendapatku dulu? Sensei kan bisa memilih siapa saja yang memang sesuai dengan tingkatan misi."

"Arigatou Naruto." Kakashi menyunggingkan senyum dibalik maskernya.

"Jadi, besok aku akan pergi dengan siapa kesana?"

"Aku akan memberitahumu besok. Datanglah ke kantor pukul 8 pagi, kau akan tahu siapa saja tim-mu."

"Ha'i Kakashi-sensei"

.

.

- oOo -

Seorang shinobi tidak akan membiarkan emosi menguasai dirinya. Hal itu pernah diucapkan Kakashi dulu. Diposisinya saat ini Kakashi dituntut untuk bersikap layaknya seorang hokage dalam menghadapi masalah apapun. Desa adalah yang paling utama. Hokage pertama, Hashirama Senju juga rela membunuh Uchiha Madara sahabatnya sendiri kalau memang hal itu bisa membuat desa terhindar dari ancaman.

Kakashi menyusuri jalan di Konoha. Sesekali menengadahkan wajahnya pada langit malam. Memikirkan kembali semua tindakan yang dia ambil. Kakashi mencoba mengingat kembali alasannya menerima posisi sebagai hokage. Permintaan sahabatnya Obito memang adalah alasan kuat Kakashi menerima posisi itu. Mungkin juga perjuangan para shinobi dan kunoichi Konoha yang bertarung mati-matian di perang dunia ninja keempat. Kakashi masih mengingat dengan jelas saat Guy menggunakan jurus Hachimon Tonko melawan Madara, yang membuatnya kehilangan fungsi dari salah satu kakinya. Tetapi Guy sama sekali tidak menyesalinya, karena sekalipun dia gugur dalam peperangan, dia tidak akan mati sia-sia. Akan ada tunas hijau yang akan segera tumbuh lalu menggantikannya.

Sekali lagi Kakashi memantapkan hatinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Yang tahu bagaimana harus bertindak. Meletakkan keselmatan desa diatas segalanya. Melindungi desa berarti melindungi masa depan shinobi. Yah begitulah kira-kira kesimpulan yang bisa Kakashi ambil dari semua kemelut pikirannya.

"Tadaima.." seru Kakashi.

Hening. Tidak ada jawaban dari Sakura.

Apa dia belum pulang dari rumah sakit ya? Tapi ini sudah larut malam

"Sakura..." Kakashi berusaha mencari keberadaan Sakura.

PRANGG!

Suara kaca pecah membuat Kakashi terkejut. Kakashi dengan cepat berlari menuju kearah suara itu. Dan...

"Cih! Ketahuan!"

Kakashi membelalakkan matanya. Sakura dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pria yang dilihat Kakashi membopong Sakura dibahu kanannya.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada Sakura?" teriak Kakashi sambil berlari kencang menghampiri pria tadi.

Pria itu langsung kabur meloncat melewati atap rumah-rumah penduduk. Kakashi pun tak mau sampai kehilangan Sakura berusaha mengejarnya sekuat tenaga. Tiba-tiba saja Kakashi dihalangi ninja lain, yang memakai ikat kepala yang sama dengan pria tadi.

"Kau cepat bawa gadis itu pergi dari sini! Dia biar aku yang menghadapi!" seru wanita bertopeng itu.

Kakashi berusaha mengejar Sakura dari arah lain. Tapi lagi-lagi wanita bertopeng itu menghalanginya.

"Hei..hei..lawanmu adalah aku Kakashi!" seru wanitu itu memperingati.

Kakashi mengumpat. Sial!

"Tujuan kalian sama dengan ninja yang aku kalahkan di Kirigakure kan?"

Wanita itu tertawa sinis. "Kau sudah sangat jelas tahu Kakashi. Kenapa kau tidak langsung saja memberitahu kami keberadaannya? Jadi kami tak perlu harus menculik istrimu."

"Kalian tidak akan mendapat apa-apa dengan membawanya."

"Siapa yang tahu Kakashi? Keputusan itu ada ditangan pemimpin kami."

Tanpa aba-aba Kakashi langsung menyerang wanita itu dengan kunai. Dengan cepat wanita bertopeng itu menahannya dengan kunainya juga. Kakashi mendorong kunainya lebih kuat sehingga membuat wanita itu sedikit terlempar kebelakang. Lalu mengayunkan kunainya lagi dengan cepat.

KRAK!

Serangan Kakashi tadi mengenai topeng wanita itu hingga membuatnya pecah. Samar-samar mulai terlihat wajahnya. Dengan bantuan sinar bulan malam itu, Kakashi dapat melihat dengan jelas wajah sosok wanita yang ada didepannya ini.

Rambut hijau kusamnya tertiup angin. Wanita itu menyibakkan rambutnya lalu tersenyum sinis ke arah Kakashi.

Kakashi tercekat."K..Kau? A..apa yang kau lakukan? Hanare..." gumam Kakashi.

Wanita itu melemparkan bom asap lalu menghilang. Kakashi masih membeku ditempat, ia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.

To Be Continued

.

.

Author's Note:

Flafloflifle : Eh Ano pho itu apa ya? Hehehe maaf masih newbie jadi kurang banyak tahu istilah fanfic. Sama kurang rapinya dibagian mananya ya? Nanti saya coba perbaiki kedepannya. Thanks for reviewing.

: Boleh... silahkan dengan senang hati

Ein Mikara: thanks

020599 : Nah ini sudah update. Silahkan dibaca :D hehehehe

Menca : Akay siap! Review kalian adalah semangatku :D *ceileeehh...*

Lingling dan Aumu aida : hehe mohon maaf, soalnya mag saya kambuh jadi ngga bisa update. (curhat :D) Sekarang sudah bisa dinikmati fic-nya

Yah in the end, thanks so much for reading until now. And if u like this fic, just keep waiting the next chapt hehehe...

Yang mau review, fav, follow... dipersilahkan dengan senang hati :D hehehe...

Unni_hikari ^.^