PinkupinkuHunnie first Fanfiction

.

.

.

"BETWEEN TWO HEARTS AND TWO LIPS"

.

.

.

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Oh Sehun

Luhan

Kris Wu

Other Cast :

Other EXO's member

SM Ent artist

.

Gender Switch for all 'uke' Character

.

.

WARNING!:

RATE M! NC

Maybe full of Dirty Talk and Sorry for Typo(s), OOC, abal abal story and other

.

.

.

.

.

.

Oke biarkan aku bercuap cuap diawal Chapter.

Saya sangat mawanti wanti agar para readers membaca ff ini saat sahur dan setelah berbuka. :'D

Saya cuma ngga mau dosa :'( jadi karena saya sudah memperingati. Sisanya tergantung anda anda sekalian :''D

Dan aku kayaknya nggak akan hiatus di bulan ramadhan deh :''D cuma ya aku gaakan update yang Ncnya bejibun :''D .

Eh tapu gatau juga sih kkkk. :''D

.

.

Yap! Maaf atas keterlambatan ff ini :''D

Dan aku ganti namaaaaa ! hahaha

Entahlah rasanya ini lebih lucu, kkkkk.

Oh iya aku juga ngeupdate profil, boleh dbaca dulu. Jadi jangan manggil aku thor lagi ya. Kesannya kaku gitu :'(.

.

.

.

Oke mulai aja lah

.

Jangan lupa review! Silent reader? Gue doain jadi selirnya sooman :'v canda :(

.

.

.

.

.

Please Enjoy, my lovely dovey Readers~

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 6

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun terduduk disofa ruang tamu, dengan setelan hitam berkabungnya. Matanya terus menatap lantai, ia hilang fokus. Kris tidak ada dirumah, dia harus menjalani rawat inap selama waktu yang tak bisa ditentukan.

Baekhyun baru saja selesai dengan upacara sakral kematian kedua orangtuanya tadi pagi. Pikirannya berantakan rasanya, ia akan menangis setiap saat. Ia memeluk lagi lututnya, menangis lagi. Ia menyesal tidak ikut dengan Kris saat itu. Dengan alasan dia tidak ingin meninggalkan jadwal kuliahnya. Tapi nyatanya? Dia malah bercinta dengan pria yang tidak punya hubungan apapun dengannya? Rasanya Baekhyun ingin mengutuk dirinya sendri. Terlebih pria yang notabenenya adalah atasan Kris itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya diacara pemakaman tadi. Kemana dia? Kenapa dia tidak datang?

Seseorang membuka pintu rumahnya dengan perlahan dan lembut. "Baekhyunnie?"

Baekhyun mendongakkan kepalanya. "Eonnie.."

"Aku datang ke pemakaman agak telat, dan kau sudah tidak disana. gwaenchana?" Nada khawatir yang begitu lembut ditelinga Baekhyun, mirip seperti Ibunya.

Baekhyun mengangguk, dia memeluk Luhan saat gadis itu duduk disebelahnya. "Eonnie.. Eonnie... hiks.. aku.. hiks.. appa.. eomma.."

Luhan mengusap punggung Baekhyun. "Aku tahu perasaanmu Baekhyun. menangis saja. Tidak apa apa."

"Eonnie.. aku bodoh.."

Baekhyun menangis sejadinya dipelukan Luhan. Ia larut dalam sebuah penyesalan yang tak pernah ia duga.

"Aku..seharusnya aku ada bersama mereka disaat saat terakhirnya.."

"..bukan malah.." Baekhyun terhenti dari perkataannya. Dia spontan melepas pelukannya pada Luhan. "Lupakan saja yang tadi eonnie.."

Baekhyun menyeka air matanya. Luhan dengan tidak mengerti hanya mengangguk saja.

"Eonnie kemarin kemana?"

"Aku pulang. Sebenarnya aku ingin bertemu Kris oppa. Tapi.. aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Jadi aku pulang."

"Pulang?! Ke Seoul?! Tengah malam?!" Baekhyun meninggikan suaranya

"Ya." Luhan mengangguk.

"Dengan Sehun oppa?"

Luhan mengangguk lagi. Dan Baekhyun mulai teringat perkaataan Kris soal Sehun malam kemarin. "Apa Eonnie baik baik saja?"

"Aku baik baik saja Baekhyun."

"Tidak ada yang sakit? Atau perih di bagian tertentu?" Arah bicaranya mulai bisa ditebak, namun Luhan dengan polosnya menggeleng. Kelihatannya Luhan tidak tahu arah biacara Baekhyun menuju kemana.

"Jinjja?"

"Tentu saja. Lagipula aku tidak tidur diperjalanan. Aku tidak berani tidur dimobil seorang laki laki, apalagi tengah malam."

Baguslah, Baekhyun tahu Luhan berkata jujur dan apa adanya. "Kau baik Baekhyun?"

"Aku.. entahlah.. eonnie.. aku merasa sangat bodoh sekarang."

"wae?"

"Eonnie, berjanjilah tidak mengatakan apapun pada Kris oppa soal hal ini. Dia pasti akan kecewa sekali padaku."

"Jika kau menginginkanku untuk tidak bicara. Maka aku takkan bicara."

"Dimalam sebelum kecelakaan Appa dan Eomma.. aku.. aku.. aku malah... bercinta dengannya."

Mata Luhan terbuka kaget. "Ma—maksudmu?"

"Aku melakukannya dengan Chanyeol oppa."

"Astaga...apa dia memaksamu?" Luhan menutup mulutnya dan membulatkan matanya.

"Kami saling menginginkan."

"Kau menyesal?"

"Tidak juga."

"Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?"

"Belum. Oh iya, dia..."

"Tidak datang." Baekhyun kembali menundukkan kepalanya.

"Mungkin dia sibuk Baekhyun.."

"Kurasa Eonnie benar." Atau mungkin dia tidak peduli?

"Baekhyun. sebenarnya Jongin ingin bertemu denganmu hari ini, tapi aku sudah memberi tahu keadaanmu. Dan kurasa kau tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini. Iya kan?"

"Ah.. iya. Akan kuhubungi dia nanti."

"Apa kau sudah makan?"

"Sudah. Aku akan pergi kerumah sakit. Mungkin aku akan tidur disana."

"Apa kau tidak apa apa?"

"Aku baik baik saja. Aku tidak mau sendirian dirumah Eonnie.."

"Kalau Kris oppa tidak mengizinkanmu untuk menginap disana. biar aku yang menemanimu disini. hubungi saja aku. ya?"

Baekhyun tersenyum kecil dan mengangguk. "Gomawo Eonnie."

"Tidak masalah." Luhan mengambil sebuah kotak bekal dari tasnya. "Ini kubuatkan untukmu. Aku tahu kau suka pudding strawberry. Makanlah." Luhan tersenyum sembari mengusap punca kepala Baekhyun. "Aku pamit ya. Ah, Kau mau pergi sekarang?"

"Tidak. Aku mau disini dulu sebentar."

"Apa tidak masalah? Bagaimana kalau kuantar ke rumah sakit."

"Tidak Eonnie. Aku baik baik saja."

"Kalau begitu kutinggal ya. Jangan terlalu terpuruk Baekhyun. Arraseo?"

"Arraseo Eonnie."

Luhan berdiri untuk pamit dan melangkah menuju pintu. Luhan dengan wajah khawatirnya keluar dari sana.

...

"Aku sudah bertemu Luhan Eonnie. Dia baik baik saja."

"Syukurlah. Mm Baekhyun..?"

"Ya?"

"Apa ini di Seoul?"

"Iya oppa. Apa oppa tidak ingat kalau tadi pagi dipindahkan ke rumah sakit Seoul?"

"Hahaha Begitukah?"

"Iya oppa."

Kris diam sejenak dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Setelah aku keluar dari rumah sakit aku akan mempertemukan Luhan dengan Tao."

"Kurasa benar. Tapi oppa, apa itu tidak masalah? Maksudku, Luhan Eonnie kelihatan nyaman berada bersama Sehun oppa."

"Dia berengsek Baekhyun. Luhan sudah cukup menderita, aku tidak mau dia sampai terjerumus lebih dalam lagi."

Baekhyun mengangguk masih dengan mata kosongnya. "Oppa.."

"Apa sayang?" Kris terduduk diranjangnya sembari mengelus surai Baekhyun.

"Boleh aku menunggu oppa disini? aku.. hanya tidak mau sendirian dirumah."

"Tidak. Kau harus pulang. Biar Luhan yang menemanimu. Kau bisa sakit badan tidur disini Baek."

"Tapi—"

"Ingat kata kataku semalam? Jangan membantah."

Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu oppa harus makan dulu. Sini kusuapi." Baekhyun mulai tersenyum meski Kris tahu, itu senyum terpaksa.

"Aku seperti raja. Hahaha." Kris tertawa dan senyum diwajah Baekhyun berubah menjadi sedikit tawa.

Baekhyun menyuapi Kris makanan yang sudah disediakan oleh Suster. "Oppa tahu? Yixing jie ada diruangan sebelah!"

"Jinjja?" Kris mengunyah suapan pertamanya.

"Um." Baekhyun mengangguk."Junmyeon ajusshi yang akan mengatasi oppa."

"dia belum setua itu Baekhyun."

"Maksudku Junmyeon oppa. Hehehe."

...

Setelah keluar dari ruangan Kris, Baekhyun kembali pada kesedihannya. Dia masih mengenakan pakaian yang sebelumnya. Setelan Hitam-hitam. Ia menuruni tangga dengan sangat perlahan. Ia sengaja tidak memakai Lift. Ia hanya ingin menikmati waktu kesendiriannya lebih lama. Beruntung Kris ada di lantai lima. Jadi perjalanannya menuruni tangga sangat jauh. Belum lagi jarang ada yang menggunakan Tangga. Jadi ia bisa dengan leluasa meneteskan air matanya. Kesedihannya memuncak lagi. Ditangga menuju lantai dua ia terduduk dan menangis cukup keras. entah kenapa ini semua terasa begitu berat. Rasanya sakit sekali mengetahui kedua orangtuamu tak ada lagi. Baekhyun terisak sambil terus menutup wajahnya. Sampai..

"Baekhyun!"

Wajahnya terangkat, dan sesosok pria tingi yang sedari tadi ia harapkan kedatangannya menuruni tangga mendekat kearahnya. Baekhyun jatuh kedalam pelukkannya, ia menangis seraya memeluk erat lelaki itu.

...

Chanyeol menerima sebuah pesan tadi pagi. Bahwa kedua orangtua Kris meninggal dunia. Dan Kris dirawat di rumah sakit Seoul, dirumah sakit yang sama dengan Kyungsoo. ia sudah bersiap untuk pergi ke pemakaman kedua orangtua Kris. Namun Kyungsoo tidak mengizinkannya pergi. Kyungsoo ingin Chanyeol menemanimnya hari ini saja. Karena Kyungsoo tahu Chanyeol akan sangat sibuk esok hari.

"Aku tidak ingat kau mengganti frame kacamata mu."

"Jongin oppa yang membelikannya padaku."

"Kau senang?" Chanyeol tersenyum sambil menatap jahil pada Kyungsoo.

"Tentu saja. Ini seperti.. oppa yang membelikannya padaku." Kyungsoo tersenyum dengan kacamata baru yang bertengger dihidungnya.

"Jika aku membelikan yang sama persis dengan itu. Kau akan memilih yang mana?"

"aku akan memilih pemberian Jongin oppa." Kyungsoo tertawa kecil.

"Kenapa? Kau tidak mencintaiku lagi?" Chanyeol menyipitkan matanya

"Kita akan menikah. Oppa bisa memberiku apapun setelah menikah nanti. Dan aku akan memakainya dengan senang hati."

Chanyeol merasa seperti baru saja ditembak shoot gun. Dia jadi teringat perkataan ayahnya. "Kyngsoo-ya.."

"hmm?" Kyungsoo menatap tunangannya dengan senyum cerahnya.

"Kau dihubungi sesuatu oleh ayahmu?"

"Bagaimana oppa bisa tahu?"

"Apa yang ia katakan?"

"Appa bilang aku harus cepat menyelesaikan kuliahku. Dan kita akan menikah sebelum musim dingin."

Chanyeol mengangguk dan bergumam, pandangannya tak tentu arah. Ia gelisah dan kebingungan. "Oppa.."

"Ya?" Chanyeol mengarahkan pandangannya pada Kyungsoo.

"Bisa kita sudahi saja?"

"Apa Maksudmu... Pernikahan ini?"

"Bukan. Tapi.. komitmen kita. Soal berhubungan dengan orang lain sebelum menikah? Aku ingin kita fokus pada hubungan satu sama lain."

Tanpa sadar Chanyeol menatap Kyungsoo penuh amarah. Tentu saja! Itu berarti ia harus benar benar berpisah dengan Baekhyun! Chanyeol tidak menginginkannya!

"Bagaimana?"

"Apa kau juga akan mengakhiri hubunganmu dengan Jongin?"

"Aku bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kami hanya sering jalan jalan berdua. Itu saja."

Chanyeol merasa dirinya yang paling jahat saat ini. Dia menghembuskan nafas panjang dan menurunkan kakinya yang sedari tadi disilangkan. "Akan kupikirkan." Ia mengambil iphone hitamnya dan menyimpannya di saku bagian dalam Coat yang ia pakai. Kemudian ia melangkah keluar dari kamar dimana Kyungsoo dirawat. Dengan langah secepat mungkin, hingga mungkin Kyungsoo tak bisa menyusulnya.

"Oppa tunggu!" Kyungsoo dengan perlahan dan susah payah turun dari kasurnya sambil mencabut alat infusnya. Dia berjalan pelan menyusul Chanyeol.

Meski cukup jauh tertinggal Kyungsoo masih bisa mengikutinya. Chanyeol menuju tangga dan seakan akan kedua telinganya ditutup oleh musik keras. dia tidak mendengar panggilan Kyungsoo sama sekali. Sedikit lagi menuju tangga, Kyungsoo mendengar suara orang lain. Sedang menangis. Siapa itu?

"Baekhyun!" Chanyeol memanggil nama itu dan suara tangisan terhenti.

"Oppa.." suara itu terdengar begitu lirih.

Kyungsoo bisa mendengar suara mereka dengan jelas dan ia tidak tahan lagi. Kyungsoo melihat kebawah tangga. Ia mengintip sedikit demi sedikit sehingga mereka berdua tidak mungkin tahu keberadaannya.

Tunggu apa itu?! Baekhyun memeluk Chanyeol? Seerat itu? Bagaimana bisa? Satahu Kyungsoo Baekhyun hanya pernah bertemu satu kali dengan Chanyeol. Tapi..

"Aku sudah dengar. Tentang orangtuamu.." Chanyeol mengusap punggung Baekhyun dengan lembut.

"Aku.. aku...hiks.. aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal.."

Chanyeol mencium puncak kepala Baekhyun. ia masih terus mengelus punggung Baekhyun, dan puncak kepalanya. "Tenangkan dirimu sayang. Dan menangislah."

Kyungsoo nyaris tidak berkedip. Sayang katanya? Chanyeol memanggil sahabatnya dengan sebutan seperti itu? Astaga Kyungsoo mulai menyadari ada yang aneh disini.

Beruntung ini dilantai yang cukup tinggi. Jadi tidak banyak orang mau menggunakan tangga. Kecuali satu cleaning service yang lewat sambil menatap aneh pada Kyungsoo. mungkin karena ia mengintip. Tapi sudahlah! Kyungsoo tidak peduli dengan tatapan si tukang bersih bersih itu!

Kyungsoo melihat Baekhyun melepaskan pelukan pada Chanyeol. Dan sahabatnya itu menyeka air matanya.

"Sudah baikan?" Chanyeol mengusap pipi Baekhyun.

Baekhyun menggeleng dengan air mata yang masih setia menetes dipipinya. Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun yang memerah dan mencium bibir tipis Baekhyun. Baekhyun yang sedikit kaget mulai memejamkan matanya dan menenangkan dirinya dalam ciuman itu.

"Kalau sekarang? Pasti sudah lebih baik. Iya kan?" Chanyeol tersenyum lembut pada gadis dihadapannya.

"Gomawo oppa." Baekhyun mengangguk dan tersenyum singkat.

"Sedang apa kau disini?"

"Menangis."

"Maksudku dirumah sakit ini Baek." Chanyeol mengelus tangan kanan Baekhyun.

"Kris oppa dirawat disini."

"Jinjja?! Aku harus menjenguknya!"

"Besok saja!" Baekhyun menarik lengan Coat tebal Chanyeol.

"Wae?"

"Jam besuk sudah habis. Lagipula sudah terlalu sore."

"Ah kau benar juga. Lalu kau? Akan pulang?"

"Oppa tidak mengizinkanku menginap disini. padahal aku ingin menemaninya. Lagipula aku tidak ingin sendirian dirumah."

Chanyeol berfikir sambil mengelus dagunya. "Malam ini kutemani. Bagaimana?"

"Ha—hah?! Lagi?"

"Kau tidak mau?"

"Bu—bukan. Tapi apa oppa tidak bekerja besok?"

"Aku bisa berangkat dari rumahmu sayang."

"Mm.. begitu.." Baekhyun menundukkan pandangannya.

"Jadi?" Chanyeol mencondongkan wajahnya.

"ter—serah saja."

"Oke. Lagipula aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian."

Baekhyun terkekeh Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan sedikit malu malu.."Gomawo oppa...Saranghae.."

"Nado." Chanyeol mencubit hidung Baekhyun.

"Aw! Sakit!" Baekhyun memukul pundak Chanyeol pelan.

"Mian.." Chanyeol tertawa. Dan Baekhyun memeluk pria tinggi itu lagi. "Aku tidak yakin hanya tidur dirumahmu."

"Memang mau apa lagi?"

"Hmm pura pura tidak mengerti."

"Aku memang tidak mengerti." Baekhyun mendongakkan wajahnya.

"Mungkin seperti minggu malam kemarin."

"B—bunny girl lagi?!"

"Bukan Bunny Girlnya Baekhyun!" Chanyeol menghembuskan nafas berat. "Tapi sexnya!"

"ASTAGA OPPA! INI RUMAH SAKIT!" Baekhyun membekap mulut mesum Chanyeol. "Sudahlah ayo pergi!" Baekhyun berjalan turun mendahului Chanyeol. Tak lama keduanya menghilang dari pandangan Kyungsoo.

Biar Kyungsoo menyusun semua yang ia dengar. Pertama, Mereka berciuman dan mereka saling mencintai. Kedua, Chanyeol akan menginap dirumah Baekhyun lagi. Lagi? Itu berarti mereka pernah tidur bersama sebelumnya. Atau pernah tidur berdua dikediaman Baekhyun. dan yang terahir.. sex. Mereka melakukan sex sebelumnya. Di minggu malam. Kyungsoo memutar otaknya. Minggu malam. Itu berarti hari dimana Chanyeol pulang dari beijing. Oh tidak! Firasat Jongin benar. Ada perempuan lain. Dan itu Baekhyun. sahabatnya sendiri. Kepalanya sakit sekali. Terlebih dengan keadaannya yang sedang Tifus. Kyungsoo terus memegangi kepalanya sambil meneteskan air matanya, dan ia tumbang. Lagi.

...

Setelah makan malam disebuah restoran Jepang. Kini keduanya sudah ada dikediaman Baekhyun. mereka duduk disofa sambil menikmati beberapa cemilan yang ditawarkan direstoran Jepang tadi. Dango dan satu lagi merupakan versi lain dari bungeoppang, namanya taiyaki.

"Whoa daebak. Kupikir ini sama dengan bungeoppang. Ternyata tidak." Baekhyun menggigit taiyaki keduanya.

"Memang berbeda. taiyaki memiliki rasa yang lebih variatif."

"Hmm.." Baekhyun hanya bergumam ia terlalu fokus pada makanannya.

"Ayahku tinggal dijepang. Mungkin kita bisa kesana kapan kapan."

Baekhyun terbatuk disela sela kunyahannya. "Ji—jinjja?!"

"Yep." Chanyeol memberi Baekhyun sebotol air mineral.

"Kuharap itu bukan janji kosong."

"Apa aku sudah berjanji? Kurasa aku hanya bilang 'mungkin'."

"Yeah. Mungkin." Baekhyun cemberut sambil menekankan kata 'mungkin'.

"Berharap aku mewujudkannya?"

"Tidak juga." Baekhyun melipat kedua tangannya di dada setelah menghabiskan Taiyakinya.

Chanyeol tertawa dan mencubit pipi Baekhyun dengan keras dan ia meringis. "Musim panas."

Baekhyun memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri sambil mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengerti."

Lelaki itu tertawa lagi. "Lupakan."

"Mana bisa aku melupakannya begitu saja?"

"Akan kuberitahu nanti."

"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak beritahu sekarang saja?"

"Sebegitu ingin tahunya ya?" Chanyeol menatap gadis dengan pakaian hitam itu.

"Tentu saja. Oppa tiba tiba mengatakan 'musim panas'. Mana bisa aku mengerti?" Baekhyun cemberut lagi.

"Habiskan dulu makananmu."

"Lalu oppa akan memberitahu apa arti musim panas ?"

"Dan mandilah." Chanyeol melanjutkan.

"Lalu oppa akan memberitahu apa arti musim panas?" Ulang Baekhyun sambil tersenyum sumringah.

"Yeah, Baekkie."

...

Baekhyun menaruh gelasnya dimeja makan. Tak lama kemudian Chanyeol datang menghampirinya.

"Aku mau mandi. Oppa bisa menunggu di ruang tv." Ucapnya singkat.

"Aku juga butuh mandi sayang."

"Kalau begitu mandilah duluan." Baekhyun menatap dengan tatapan polos pada Chanyeol.

"Kau memang polos? Atau berpura pura polos?" Chanyeol tersenyum miring dan mendekatkan dirinya pada Baekhyun.

"Aku memang polos."

"Kita mandi bersama." Chanyeol berbisik dan meniup telinga Baekhyun, sampai si gadis bergidik geli karenanya.

"Aku mutlak dan tidak suka ditolak. Kuharap kau mengerti Bunny."

"Pemaksa." Baekhyun mengumpat.

"Apa?! coba katakan sekali lagi?"

Baekhyun tersenyum dan menunjukkan aegyo nya. "Saranghae oppa~"

"Kurasa bukan itu yang tadi kau katakan." Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

"Ah sudah lupakan saja. Ayo mandi~." Baekhyun menarik tangan Chanyeol menuju kamar mandi. Dia hanya tidak ingin Chanyeol beraksi karena umpatannya tadi.

...

Baekhyun membuka pintu kamar mandinya. Beruntung ruangan itu cukup luas. Baekhyu mengisi Bathtub dengan air panas.

"Bukakan bajuku." Ucap Chanyeol spontan dan tiba tiba.

"Ha-h?" Baekhyun mematung disebelah Chanyeol.

"Kau yang menarikku kemari. Kau harus memanjakannku."

"Oppa bukan raja!"

"Aku tamu. Dan tamu adalah raja."

"Ini bukan restoran!"

"Apa itu motto restoran? Kurasa kalau restoran, seharusnya pelanggan. Bukan tamu."

"Baik aku kalah." Baekhyun menepuk jidatnya. "Baik tuan Park. Akan aku ikuti apapun kemauanmu." Baekhyun tersenyum pasrah.

Baekhyun membuka Coat Chanyeol yang berbahan sedikit kasar itu dan menggantungnya. Baekhyun dengan tangannya yang gemetar naik ke kerah kemeja Chanyeol. Dengan jari jari lentiknya ia membuka kancing kemeja itu satu persatu, dengan tempo sangat lamban. Tentu saja, dia terlalu gugup melakukannya. Suasananya terlalu intim dan Wajah Baekhyun terlalu merah.

Membuka kancing kedua, ketiga dan keempat. Oh tuhan! Bunuh saja aku! begitu pikir Baekhyun.

Sadar si gadis tidak bergerak, Chanyeol menjentikkan jarinya tepat di wajah si gadis. Baekhyun mengerjap dan nafasnya sedikit memburu.

"Lanjutkan pekerjaanmu sayang." Chanyeol masih tak lepas memandang Baekhyun.

Baekhyun mengangguk dan menarik kemeja Chanyeol keluar dari celananya pelan pelan. Setelah bagian bawah kemeja itu terbebas dari kurungan celana panjang Chanyeol, Baekhyun membuka kancing kelima dan kancing terakhir. Baekhyun menarik nafas panjang lalu melepas kemeja Chanyeol dari tubuhnya. Baekhyun berhadapan dengan tubuh indah lelaki ini, astaga! Rasanya Baekhyun ingin langsung memeluknya dan menciumi setiap inchi tubuhnya! Tapi dia tidak punya keberanian untuk hal segila itu.

"Apa aku terlalu menggairahkan?" Chanyeol tersenyum seduktif. Dan jangan lupakan suara beratnya yang seksi itu.

Baekhyun tidak menjawab. Dia hanya mundur dua langkah dengan sebelah tangan dipunggungnya, mencari dan melepas resleting baju hitamnya.

Baekhyun berhasil menarik releting itu sampai ke ujungnya. Dan dressnya itu melorot. Menmpilkan dua bongkahan indah dan besar miliknya. Baekhyun tanpa kata kata menurunkan dressnya hingga kelantai dan dia maju tiga langkah. Kakinya berada diantara kedua kaki Chanyeol, dadanya menempel di perut Chanyeol, dan wajahnya ia benamkan di dada bidang lelaki itu.

"Kau sangat pendek." Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun yang nyaris telanjang itu. Dia mencium puncak kepala Baekhyun.

"Oppa.." Baekhyun memanggil dengan suara lirihnya yang terdengar sangat seksi. Ditelinga Chanyeol itu terdengar seperti 'desahan'.

"Wae Bunny?"

"Jantungku rasanya berdegup terlalu kencang. Dan aku benar benar tidak bisa berfikiran jernih lagi. Oppa ottokae?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan lirih.

"Apa ini gairah?" sambungnya.

"Ya. Itu gairah." Chanyeol membungkuk pada Baekhyun. "Kau Horny, sayang. Kau tahu itu apa artinya?"

"Bercinta?" Baekhyun terbelenggu dalam gairahnya yang semakin naik keubun ubun.

"Ya." Ucap Chanyeol dengan tegas, seraya menutup mata. Dan memulai pagutan panas dengan Baekhyun.

...

Sunday 2nd March / 09:00 AM / Seoul, South Korea

Baekhyun berjalan dengan sepatu converse pinknya. Setelah acara intimnya dengan Chanyeol tempo lalu. Esoknya, ia tidak melihat lelaki itu di kediamannya. Ia malah melihat Luhan dirumahnya. Eonnie nya bilang bahwa si tinggi itu harus pergi pagi pagi sekali. Chanyeol terlalu terburu buru saat itu hingga ia meninggalkan coat dan jas nya di kamar Baekhyun. makin menumpuk saja pakaian Chanyeol dirumahnya. Dan pria itu menghilang ditelan bumi hingga saat ini.

Baekhyun membawa sebuah keranjang buah buahan dan sekotak macaron untuk Kyungsoo. sekaligus menengok Kris yang masih harus bergelut di ranjang rumah sakit. Luhan tidak bisa menemannya. Ia ada janji. Meskipun sempat merengek, Baekhyun akhirnya pergi sendirian. Ia menjenguk Kris terlebih dahulu. Setelah cukup lama berada didalam sana Baekhyun pamit pada kakaknya dan pergi menemui Kyungsoo. entah kenapa Kyungsoo tidak membalas semua pesan dan teleponnya. Jadi Baekhyun terpaksa harus turun agar mendapat informasi, dimana sahabatnya itu dirawat.

Baekhyun bergumam pelan sambil memandangi pintu pintu yang berjajar rapi. Dia sedang mengingat ngingat nomer kamar Kyungsoo.

"Ah ini dia!" Baekhyun mendekat dan mengetuk pintunya pelan.

Seorang gadis belia keluar dan menyambutnya dengan senyum. "Annyeonghaseo.." Ucap si gadis.

"Ah Annyeong. Apa ini kamar Kyungsoo?"

"Nde. Nuguseyo?"

"Baekhyun. Byun Baekhyun."

"Ah tunggu sebentar." Gadis itu menutup pintu dan berbalik pada Kyungsoo yang sedang memeluk lututnya frustasi.

"Eonnie. Ada yang menjengukmu. Baekhyun." ucap si gadis tinggi itu. Ya itu Joy.

"Baekhyun? katakan aku tidak mau bertemu dengannya." Ucap Kyungsoo.

"Nde Eonnie."

Gadis itu kembali membuka pintunya dan bertatap mata dengan Baekhyun. kali ini wajah Joy berubah serius dan kesal. "Kyungsoo Eonnie tidak mau bertemu denganmu dulu. Jadi silahkan pergi."

...

Luhan menatap jam tangan putih di pergelangannya. Ia terlambat satu menit dari janjinya semula. Entah mengapa ia tidak enak hati. Sepanjang jalan ia hanya memandang kosong pada semua hal yang ia lihat. Entahlah, ia takut.

"Eonnie?" Luhan masuk kedalam sebuah ruangan karaoke yang dipesan Irene.

"Masuklah Lu." Irene tersenyum singkat. Luhan tidak buta dan ia bisa melihat dengan jelas mata sembab Irene.

Luhan menurut dan duduk disamping Irene. "Eonnie Gwaenchana?"

"Gwaenchana Luhan. Maaf mengatur pertemuan di tempat seperti ini. Aku hanya tidak terlalu tahu dimana tempat kedap suara yang menjamin ke privasian pelanggannya."

"Kau mau makan sesuatu? Atau minum?"

Luhan menggeleng dengan senyum. Irene membalas senyuman Luhan dengan sedikit tidak berdaya. "Kalau begitu kita langsung saja." Irene diam sejenak, menetralkan pikirannya.

"Aku ingin mempercayakan Sehun padamu. Aku tidak kuat lagi menahannya seorang diri." Irene mulai meneteskan air matanya.

Luhan mengusap lengan Irene. "Kalau begtu bagilah itu padaku Eonnie.."

"Aku berani mengatakan ini karena aku tahu, Sehun mencintaimu. Dan kau juga begitu."

Luhan tidak ingin mmbantah kali ini.

"Aku ingin bertanya satu hal sebelum memulai cerita panjang ini."

"Tanyakan apapun yang ingin Eonnie ketahui."

"Apa kau pernah menjadi korban pembullyan ?"

Luhan hanya mengangguk. Dan Irene tersenyum "Aku juga." Sambungnya.

"Tapi cerita ini bukan tentangku. Tapi tentang Sehun." Mata Irene memandang tak tentu arah.

"Dulu Aku dan Sehun tinggal berdua. Kami berpisah dengan kedua orang tua kami. karena mereka terlalu sibuk sebagai entertainer."

Irene memainkan jarinya abstrak. "Sehun anak laki laki normal pada awalnya. Meskipun dia dingin dan tidak banyak bicara, pikirannya jauh dari kelihatannya...Tapi itu berubah semenjak kejadian itu.."

"itu?" ulang Luhan.

"Semenjak aku diperkosa didepan matanya." Air mata itu menetes perlahan lahan ke pipi Irene.

"Dia merasa bersalah padaku karena tak bisa menyelamatkanku. Dan semenjak dia menemukan dalang dari perlakuan jahanam itu, dia berubah total. Dia menjadi pendendam dan keji.."

"..Sehun mengetahui bahwa pelaku pemerkosaanku itu adalah sekelompok preman yang tidak lulus sekolah, dan beberapa diantaranya adalah teman sekolahku dulu. Sehun berniat membalaskan dendamku pada mereka, namun karena ia sendirian jelas ia kalah telak."

"Sehun bukan anak dengan pikiran sempit. aku tidak mengingatnya dengan jelas. Namun satu hal yang selalu menempel diingatanku adalah ketika Sehun menabrakan mobil yang dikendarainya dengan tubuh si dalang bejat itu. Dia menggeleng tubuh nya hingga tidak berbentuk. Dan semenjak itu ia tidak pernah segan bahkan untuk membunuh siapaun."

Luhan meneteskan air keringatnya yang bersuhu dingin itu dari pelipisnya.

"Tapi Setelah kejadian itu, aku melakukan kesalahan lagi dan merusak pikirannya. Aku bercinta dengan dua teman kuliahku dirumah. Saat kufikir Sehun sedang tidak dirumah. aku melakukannya sebanyak tiga kali dengan satu orangnya. Dan dua kali dengan yang lain. Jujur saja saat itu aku menikmatinya. tapi naas, Sehun ternyata mengetahui dan melihat perbuatan bejatku itu. Dan saat itu ia mulai berfikir bahwa semua wanita di dunia ini sama saja, penuh nafsu dan bejat sepertiku."

"Belum selesai sampai disana, aku tidak tahu bahwa salah satu dari mereka merekam adegan tidak senonoh itu. Dan video itu tersebar di seluruh kampus. Aku dan si lelaki itu di drop out. Aku nyaris gila saat itu."

"Kurasa aku terlalu memperlihatkan ketidakberdayaanku, sampai Sehun kembali membalaskan dendamku. Si Kameramen Junmyeon yang tidak mendapat drop out, punya seorang adik perempuan. Namanya Kim Yerim, dan ia jatuh hati pada Sehun. Dan kau tahu? Sehun merasa punya peluang dari sana. ia dan temannya mempermainkan Yerim. Sama seperti Junmyeon mempermainkanku. Ia memperbudak Yerim. Ia menyakitinya. Yerim menjadi barang bergilir untuknya dan teman temannya. Sampai akhirnya Yerim sakit dan meninggal dunia di tangan Sehun. Setelah Yerim meninggal Sehun membuang mayatnya. Dan saat itu aku seseorang menjadi saksi pembuangan mayat Yerim. Kang Seulgi yang menjadi saksi pembuangan mayat itu akhirnya diperlakukan sama seperti Yerim. Malah, Seulgi dibawa ke klub malam dan disetubuhi oleh pria pria hidung belang disana. dan Sehun hanya menyaksikannya dengan tawa keji. Seulgi gila dan dirawat sekarang."

"Aku tahu semua hal itu dari sahabatnya, dan beberapa dari mataku sendiri. Sehun tidak pernah menganggap wanita itu makhluk berharga, selain aku dan ibu. Aku ingin dia sadar dari otaknya yaang keji, dan sadis itu. Akhirnya aku mencarikannya seorang kekasih agar ia mau merubah pandangannya pada wanita lain. Namun itu sia sia saja. Wanita itu hamil dan kabur menjauh dari Sehun. Semuanya tidak pernah berakhir bahagia. Semuanya berakhir sama. Baginya seluruh wanita di dunia sama saja, jalang, bejat dan harus diperlakukan tidak senonoh. "

Luhan tidak mampu lagi menggerakkan rahangnya. Ia tertegun mendengar semua itu. Tapi ada perasaan yang lbih besar di dalam hatinya, ia takut. Ya, takut.

"Setelah ini jangan beritahu Sehun. Dan jangan pernah ungkit permasalahan ini Lu."

"Aku mengerti Eonnie. Itu bisa membuatnya kembali menjadi seperti dulu."

"Yeah. Tapi ia mulai berubah. Semenjak Junmyeon datang pada kami dan meminta maaf."

"Junmyeon?"

"Ya. Teman kuliahku yang menyebarluaskan video itu. Sekarang Dia bahkan akrab dengan Sehun."

"Syukurlah.." Luhan tersenyum lega.

"Dan dia mulai merubah pendangannya terhadap wanita.."

"...semenjak ia mengenalmu."

"Wae?"

"Aku tidak tahu. Mungkin karena suara dan sikapmu. Kau tahu? Hanya satu dari seribu wanita masa kini yang masih punya sikap lemah lembut, pemalu dan baik hati."

"Luhan.." Irene mengenggam tangan Luhan erat. "Aku ingin kau disampingnya. Aku tidak mau lagi melihat sosok adikku yang dulu."

"Aku tidak bisa melakukan apapun Eonnie.."

"Kau bisa Lu!" Irene memegang pundak Luhan. "Cukup Cintai Sehun. Berikan ia semua kasih sayangmu. Dan setelah itu.."

"Menikahlah dengannya.."

Luhan terdiam dan tenggelam dalam pikirannya. Dia bingung, dia takut dan dia bimbang.

"Lu..?"

Luhan menggeleng dan berdiri dari sofa empuk itu. "maaf Eonnie. Aku harus pergi." Luhan membungkuk dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Ia berlari saat Irene menyusulnya.

Pikirannya terlalu berantakan dan ia mulai pusing mengetahui kebenarannya. Tapi ia tahu, ia tidak seharusnya pergi menjauh dari Sehun. Keaadaan psikologinya akan memburuk, terlebih lagi dari penjelasan Irene, dia punya sifat pemarah, keji, pendendam dan sadis.

Entah apa yang merasuki dirinya. Luhan datang ke kantor Sehun. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Sehun memang benar benar sudah berubah.

"Luhannie!" Amber si penerima tamu melambai, tetap dengan setelan maskulinnya.

Luhan mendekat sambil tersenyum. "Apa Sehun ada di ruangannya?"

"Dia diluar Lu. Meeting dengan pebisnis-pebisnis tua dengan perut perut buncitnya."

Luhan tertawa lagi. "Apa dia lama?"

"kurasa, ya. Kau bisa menunggu di ruangannya."

"Ah tidak tidak tidak. kurasa aku lebih baik pulang."

"Wae?"

"Tidak apa apa. Katakan padanya kalau aku datang kemari. Mencarinya."

...

Baekhyun berjalan masuk kedalam rumah. Ia kecewa sekali pada Kyungsoo. Ada apa dengan Kyungsoo? dia menolak untuk bertemu dengan Baekhyun. bukankah ini aneh? Belum lagi gadis yang tadi menatapnya sengit, seolah Baekhyun adalah musuh bebuyutannya. Entahlah, Baekhyun tidak mengerti lagi.

Begitu masuk ke kamarnya Baekhyun melempar kasar tas kecilnya dan menghempaskan diri ke ranjangnya. Dia mulai berfikir apa yang terjadi pada Kyungsoo. Tapi disela sela pikirannya

Drrrrt- drrt-

getar handphonenya berbunyi, ia bangkit dan mencari tas kecilnya yang sebelumnya ia lempar entah kemana. Ia tengkurap di lantai berkarpet itu, mencari handphonenya. Dan untung saja dapat ia temukan tak lama kemudian.

Ia membuka handphonenya dan membalas pesan dari Luhan dengan cepat. Di lantai karpet itu dia mulai merasa ngantuk, dan mulai membalikkan badan kekiri dan ke kanan. Saat ia membalikan badannya ke arah kasur, ia bisa melihat dengan jelas sebuah kotak di bawah kasur.

Apa itu?

Baekhyun berhasil mengambil kotak itu. Dan ternyata bukan hanya kotak itu saja yang ada si bawah kasurnya. Tapi sebuah i phone silver yang entah milik siapa. Baekhyun mengisi baterai i phone itu kemudian duduk di kasurnya. Membuka kotak itu pelan pelan.

Dia begitu terkejut saat membuka isi kotak itu. Sebuah yukata hitam dengan motif bunga sakura dipinggirannya. Juga obi dengan warna merah muda. dan beberapa buah kanzaki (hiasan rambut yang biasa dipakai ketika mengenakan yukata). dan sepucuk tulisan manis dari si pemberi.

'Musim panas nanti kita habiskan dengan festival di jepang. Kau mau? Aku menunggu jawabanmu'.

Baekhyun tahu, ini Chanyeol. Ini dari Chanyeol. Astaga, Baekhyun sampai tidak bisa berkata kata dan tak henti tersenyum. Baekhyun meraih handphonenya dan dengan segera menghubungi lelaki itu. Tapi tetap seperti kemarin. Tidak diangkat.

Pandangannya beralih pada i phone silver di meja belajarnya. 'apa itu handphone Chanyeol?'. Seingat Baekhyun setelah mereka berdua keluar dari kamar mandi, mereka memang bercinta. Dan seingatnya, mereka menjatuhkan semuanya kelantai, Baekhyun ingat benar ia menendang beberapa pakaian malam itu.

...

Chanyeol mengusap wajahnya kasar saat keluar dari mobil audi yang ia beli beberapa hari lalu. Matanya merah. ia tidak tidur hampir dua hari. Jika bukan karena Jongdae yang menyalurkan rengekan adik manjanya, ia tidak mau datang ke rumah sakit. Ia terlalu lelah. Adiknya itu tidak berhenti menghubungi kantor Chanyeol dan rekan rekan terdekat Chanyeol.

Ia benar benar tidak peduli lagi dengan jam besuk dan tatapan para perawat padanya. Ia hanya ingin mengetahui maksud adiknya itu kemudian pulang. Dengan tidak sabaran Chanyeol membuka pintu rang rawat Kyungsoo. disana ada Joy yang langsung menatapnya sinis. Sedangkan Kyungsoo sendiri tertidur.

"Apa maumu?"

Joy masih menatap kakak laki lakinya dengan sesinis mungkin, sambil menempelkan Handphone ketelinganya. "Oppa, kita bicara diluar."

Chanyeol hanya mengikuti perkataan adiknya. Mereka berbicara di Tangga. Karena Joy tidak bisa menahan lagi emosinya.

"Bicara sekarang juga atau aku pulang."

"Kemana saja Oppa ?"

"Aku lembur. Dan meeting di berbagai tempat. Hanphoneku entah dimana."

"Maksudnya entah dimana?"

"Aku meninggalkannya. Entah dimana. Aku terlalu sibuk dan tidak memikirkan benda itu."

"Lembur? Di Kantor?"

"Kau pikir dimana lagi?! Jangan bertanya hal hal tolol Joy!"

"Dan bisakah kau mengobrol denganku tanpa menelepon seseorang?! Kau ingin bicara dengan siapa sebenarnya!"

Joy menatap Chanyeol dengan matanya yang memanas. "Oppa yakin tidak meeting dirumah seorang gadis?"

"Maksudmu?!" Chanyeol geram.

Joy menunjukan telepon genggamnya. Sehingga Chanyeol bisa melihat siapa yang tengah ia hubungi. "Aku terus menghubungi nomor ponsel oppa. Dan ini hasilnya. Seorang gadis yang mengangkatnya."

Telepon itu masih tersambung. "Yang mengangkatnya seorang gadis bernama Byun Baekhyun."

Chanyeol dengan cepat menarik handphone itu dari tangan Joy. Chanyeol mematikan sambungan telepon itu dan membanting handphone adiknya kelantai keras keras.

"Yak! Apa yang oppa lakukan!"

"Apa yang kau katakan pada Gadis itu! Jawab!"

"Aku hanya mengatakan bahwa aku adik oppa!"

"Lalu?!" Chanyeol menarik kerah baju adiknya.

"Dia tidak percaya dan bersikukuh bahwa Kyungsoo Eonnie adalah adik oppa." Chanyeol melepaskan kerah baju Joy.

"..Dan aku meyakinkan dia.."

"...kubilang.."

"...bahwa Kyungsoo Eonnie adalah tunangan oppa..."

Chanyeol dengan secepat kilat menuruni tangga dan berlari kearah Lift. Dia tidak bisa diam saja setelah mendengar ucapan Joy.

...

Luhan terjatuh saat ia akan keluar dari Lift. Dia ditubruk dengan keras dan si penubruk tampaknya ingin memnta maaf dengan mengulurkan tangannya.

"Kau baik?"

"Aku baik." Luhan meraih tangan besar itu.

"Kau, Luhan?"

"Chanyeol-sshi?"

"Apa kau pulang kerumah Baekhyun?"

"Ya."

"Bagus. Ikut aku." Chanyeol menarik tangan Luhan dan menyeret gadis itu kedalam mobilnya.

Pikiran Chanyeol benar benar berantakan saat ini. Ia mengendarai mobil ugal ugalan dan nyaris bertabrakan dengan mobil lainnya. Namun itu tidak berjalan lama. Melihat gadis disampingnya kelihatan takut, ia memelankan lajunya.

"Kau takut?"

"Ya." Luhan menjawab cepat.

"Oh astaga! Maafkan aku!"

"Tidak masalah Chanyeol-sshi.."

Chanyeol tersenyum tipis. "Kau kekasih Sehun kan?"

"Bukan. Aku hanya temannya."

"Teman?"

Luhan menutup wajahnya. Dan dia mulai tenggelam dalam pikirannya, lagi.

Chanyeol mengusap pundak Luhan sembari terus melaju dalam jalannya. "Kau baik?"

"Tidak." Luhan mulai terisak.

"Kau sangat jujur. Katakanlah kegundahanmu."

Baru kali ini Luhan mendengar kata kata seperti itu dari orang lain selain Hyoyeon, Baekhyun dan Kris.

"Aku hanya ingin mengikuti apa yang hatiku katakan, untuk satu kali saja, Chanyeol-sshi.."

"Apa ini soal Sehun? Kau bisa leluasa denganku. aku tidak terlalu dekat dengannya."

"Aku hanya ingin merasakan apa yang orang lain rasakan. Kau tahu, Cinta. Tapi kenapa orang orang terdekatku justru membentengiku?"

"Mereka menahanmu supaya tidak mencintainya? Aku benar kan?" Chanyeol mulai menatap Luhan prihatin.

Ya Luhan menjenguk Kris di rumah sakit. dan mereka membicarakan soal Sehun, dan Kris melarang Luhan dekat dengan Sehun lebih jauh lagi.

Luhan mengangguk. "Aku tidak ingin sendirian lagi. Aku terlalu lemah dan penakut."

"Aku percaya kau bisa melewatinya. Kau hanya perlu meyakinkan mereka Lu. Aku tahu kau bisa."

Luhan menegok kearah kursi pengemudi, dan Chanyeol tersenyum membuat Luhan kembali pada pikiran positifnya. "Terima kasih Chanyeol-sshi."

"Tidak masalah Lu."

"Kau kelihatan berantakan. Gwaenchana?"

"Entahlah Lu. Aku kacau."

"Apa ini semua karena Baekhyun?"

"Bukan. Baekhyun tidak pernah membuatku se berantakan ini."

Chanyeol melirik Luhan sekali dan setelah itu kembali terfokus pada stir mobilnya.

"..Bagaimana kau tahu kalau aku dan Baekhyun..?"

"Baekhyun menceritakan semua hal tentangmu." Luhan tersenyum.

"Sungguh?"

"Ya. Baru kali ini kulihat dia sampai seperti itu. Dia kelihatan benar benar.. mencintaimu."

Cinta. Baekhyun begitu mencintai Chanyeol. Chanyeol tahu, dan dia sadar akan hal itu. Tapi akankah Chanyeol juga bisa membalasnya? Apa Chanyeol bisa memberi kepastian tentang perasaannya sendiri? Entahlah.

...

Baekhyun selesai dari acara mandinya dan tengah memeriksa Handphone silver itu. Ia menjatuhkan Handphone itu saat bunyi telepon masuk. Dia menolak panggilan itu berkali kali. Tetapi berkali kali pula si penelepon bernama 'Sooyongie' itu bersikukuh menghubungi nomer ini. Baekhyun geram dan akhirnya mengangkat telepon itu.

"Oppa! Kemana saja! Kenapa tidak bisa dihubungi terus!"

"Yeoboseyo?" ucapnya

"Siapa kau?! Kemana Chanyeol Oppa?!"

"Handphonenya tertinggal di kediamanku. Dan bisakah kau tidak membentakku?" Baekhyun naik pitam.

"Siapa kau?!"

"Kau yang siapa!"

"Aku adiknya sialan! Dan kau?!"

Adiknya? Tunggu dulu. "Adik kau bilang? Maaf aku tidak bodoh! Jelas jelas adiknya adalah Kyungsoo!"

"hah? Kyungsoo Eonnie?! Jangan bercanda! Sejak kapan dia adik Chanyeol oppa! Kau bergurau!"

"Kau yang bergurau!"

"Aku adiknya! Park Sooyoung! dan Kyungsoo Eonnie bukan adiknya!"

"Lalu?!"

"Kyungsoo eonnie adalah tunangan kakakku! Park Chanyeol! Dan katakan siapa kau?! Berani sekali mengganggu hubungan orang lain?!"

"Mengganggu katamu?!"

"Ya! Bagaimana bisa handphone oppa ada padamu kalaau kau tidak merayunya!"

Hati Baekhyun terasa seperti teriris mendengar kata kata menyakitkan dari orang ini. "Byun Baekhyun." lalu ia menutup teleponnya. Ia kesal mendengar anak gadis itu membentaknya. Ia yakin sekali, ia adalah anak gadis yang sama dengan anak gadis di ruangan Kyungsoo tadi.

Tak lama setelah itu Baekhyun kembali mengangkat telepon dari orang yang sebelumnya, tetapi ia tidak mengatakan apapun. Dan disebrang sanapun begitu. Diam.

Baekhyun bingung awalnya. Kenapa harus menelepon kalau ujungnya hanya berdiam diri. Baekhyun berniat menutup telepon itu, namun ia mengurungkan niatnya setelah mendengar si penelepon, Joy. Alias adik Chanyeol sedang berbicara dengan seseorang. Baekhyun menyimaknya baik baik. Joy sedang berbicara dengan Chanyeol. Mereka kedengaran seperti, perang dingin. Belum lama Baekhyun mendengar percakapan mereka, secara tiba tiba sambungan terputus.

Baekhyun tidak tahan lagi, dia merasa bahwa perkataan si penelepon –Joy- benar. Baekhyun membuka galeri foto handphone Chanyeol. Ia mengabsen nya satu persatu. Dia menemukan petunjuk setelah menscroll isi galeri itu. Banyak sekali foto Chanyeol dan Kyungsoo. dan mereka terlihat benar benar mesra. Apa ini?! Belum selesai sampai disana, Baekhyun mencoba mencari bukti lainnya. Ia mebuka kotak pesan di handphone itu. Ia tidak peduli lagi dengan privasi! Ia merasa sudah benar benar ditipu sekarang.

Baekhyun benar benar meneteskan air matanya setelah membaca obrolan antara Kyungsoo dan Chanyeol berminggu-minggu lalu. Astaga. Kenapa ia sebodoh ini? Kenapa ia mudah sekali jatuh dalam pelukan orang yang bahkan ia tidak tahu seluk beluknya? Mereka benar benar bukan adik kakak. Dan satu hal yang membuatnya benar benar merasa sakit. Pesan 'nakal' antara keduanya. Meski itu sudah berlalu. Tapi setidaknya Baekhyun tahu, bahwa bukan dia satu satunya wanita yang bercinta dengan Chanyeol.

Dengan isakan Baekhyun masih terus menemukan bukti bukti lainnya. Seperti pesan dari desainer gaun pengantin yang baru saja diterima olehnya. Lalu pesan dari seseorang dengan nama 'keparat' di handphone Chanyeol. Si 'keparat' itu menelepon setelah merasa pesannya telah terbaca. Baekhyun lagi lagi, dengan sengaja mengangkatnya. Si penelepon kali ini laki-laki, terdengar agak serak meski tetap maskulin.

"Chanyeol. Kenapa hanya membaca pesanku hah?! aku mendengarnya dari Sooyoung. Kyungsoo pingsan didekat tangga rumah sakit beberapa hari lalu. apa yang kau lakukan hah?!"

"..." baekhyun hanya terdiam. Entah kenapa, ia berfikir bahwa orang ini adalah ayah Chanyeol, atau ayah Kyungsoo.

"Karena kau melakukan kesalahan lagi, maka pernikahanmu akan dipercepat! Awal Musim panas ini. Pikirkan tanggalnya dengan Kyungsoo."

"Kenapa kau hanya diam saja!"

"Nuguseyo?" Baekhyun mengumpulkan semua keberaniannya, menjawab si penelepon.

"Siapa kau?!"

"Apa Chanyeol oppa dan Kyungsoo benar benar akan menikah?"

"Ah aku tahu. Kau pasti Byun Baekhyun bukan? Jalang yang terus menggoda anakku sehingga menjauh dari calon istrinya. Biar kujawab pertanyaanmu. Ya. Mereka akan menikah. Chanyeol mencintai Kyungsoo dan begitu sebaliknya."

"..jadi jauhi anakku dan berhenti meracuni pikirannya dengan dirimu gadis murahan. Sebelum aku benar benar menhancurkan hidupmu."

Baekhyun tidak kuat lagi, dia menutup sambungan telepon itu dan menangis sejadi jadinya. Selama ini Baekhyun hanya menjadi selirnya saja. Selama ini perasaaannya memang salah. Selama ini kata kata manis Chanyeol hanya sebuah omong kosong belaka. Selama ini hanya ia yang benar benar merasakan Cinta diantara keduanya. Selama ini.. selama ini.. Baekhyun tidak lebih dari wanita murahan yang merayu Chanyeol agar tidak menikah dengan Kyungsoo. astaga. Sungguh, Baekhyun bukan wanita seperti itu.

Suara Luhan dari pintu masuk terdengar disela sela tangisannya. Dia dengan cepat berdiri dari kursinya. Ia ingin menumpahkan semuanya pada Luhan. Satu satunya orang yang ia percayai soal Chanyeol. Baekhyun memakai daster tanpa lengannya dengan asal dan berlari keluar kamarnya. Namun ia tak bisa berkutik saat mendapati Chanyeol berdiri dibelakang Luhan.

...

Luhan membalikkan badannya dan melihat kearah Baekhyun. ia terkejut, tapi mencoba tenang dan memahami situasi ini.

"Ah Chanyeol bilang dia ingin menemuimu." Luhan memulai pembicaraan.

"Kurasa kalian butuh ruang. Jadi kutinggal ya."

Luhan baru saja akan melangkah melewati Baekhyun, namun Baekhyun menggenggam tangan Luhan. "Eonnie disini saja."

Luhan hanya mengerjapkan matanya, sementara Baekhyun mendekat pada Chanyeol. Dan lelaki itu terdiam, hatinya sakit. gadis yang selama ini selalu terlihat ceria dan dengan sepenuh hati mencintainya kini terlihat hancur, kacau, dan tidak berdaya.

"Ini.." Baekhyun menaruh handphone itu di genggaman Chanyeol. Dia masih meneteskan air matanya meskipun ia tersnyum sakit. senyum paksa yang benar benar membuat Chanyeol nyaris gila.

"Maaf selama ini aku tidak tahu kalau Kyungsoo.."

"Cukup Baekhyun!"

"Maafkan aku.. aku tidak tahu kalau selama ini hanya aku yang benar benar mencintaimu.."

"Baekhyun.."

"Maaf aku tidak tahu kalau kau akan menikah dengannya.."

"Baekhyun hentikan!"

"Aku tahu, kalau aku hanya perempuan nakal yang mencoba merebutmu. Aku hanya gadis jalang. iya bukan? Itu yang oppa inginkan dariku? Hanya tubuhku. Tidak lebih. Terima kasih. Akhirnya aku tahu semuanya."

Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang gemetar dan membawanya kedalam pelukannya. "Tidak Baekhyun! Kumohon dengarkan semua penjelasanku!"

"Lepaskan aku, aku terlalu kotor untuk diperlakukan seperti ini." Baekhyun menarik diri dari pelukan Chanyeol.

Baekhyun melangkah mundur. "Pulanglah, oppa tidak seharusnya ada ditempat gadis murahan seperti aku."

Baekhyun membalikkan badannya, dan disinilah ia tak bisa menahan semuanya. Semua tangisnya tumpah.

"Katakan siapa yang membuatmu berkata seperti ini Baekhyun!" Chanyeol kembali menarik lengannya.

"Pergi! Aku tidak mau bertemu dengan oppa lagi!" Baekhyun setengah berteriak seraya menepis tangan Chanyeol.

Baekhyun berjalan melewati Luhan dan ia jatuh. Terduduk sambil terus menangis. Chanyeol mendekat namun Luhan menahannya. "Kumohon pulanglah." Ucap Luhan sambil menatap Chanyeol intens.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Oke , sekarang cuap cuap sesi 2. Kkkkk mau balesin review

Clarissa Afternoon : Makasih yah semangatnya kkkk XD . iya irene emang dipihak sehun.

whey.K : kkkk trio bangsat emang seharusnya bangsat

dyobaekcy2711 : kkkkk permntaan mu akan kupertimbangkan kkkkk

Selenia Oh : Karena Kris belum tau kalau ceye deket sama baekii kkkkkk

CussonsBaekby : kkkkk selanjutnya akan lebih banyak. Insyaallah :'''D

Azurradeva : iyaa. Sekarang semangat aku udah balik kok XD

Jumarohfauziyah : iya penderitaan baek masih panjang. Nih aku kasih tisu buat kamu baca chapter ini

Chenma : kamu bebas mau marah sama siapa pun di ff ini. Asaal jgn marah sama authornya :'')

Devrina : kkkkk kita lihat saja nanti

BabyByunie : kkkkkk ga diapa apain kok kkkk chanbaek mah kalo soal enaena emang paling jjang

whenKmeetK ; Sidah di next

Rly. : Aku tidak yakin sehun sadar :'(

msluhan87 : aku tidak yakin chanbaek bersatu /digorok

InteunMSR : kkkk konfliknya receh ga sih ? :'''' btw makasih semangatnya

ChanBMine : bukan kok bukan karena Zhoumi. Zhoumi blm ngapa ngapain kok tenang aja kkkk

ChanAra12 : Salam kenal jugaaa hihihii kkkkk jadi ff ini sama aja kaya pilem horor gitu ye :'''

Imbaek : begitulah kkkk

Kimmuth : iya mereka tobat. Soalnya udah masuk romadon :''D

Guest: sudah dilanjutt yaa

.

.

.

.

.

.

Kkkk makasih mau nungguin yaa :****

Btw kalian mabok ga sama teaser comebacknya EXO? Lebih prefer ke Lucky One apa Monster? Kalau aku sih monster :***

Btw MV rilis HARI INI COYYYY! 9 JUNI JAM 00:00 KST ALIAS 8 JUNI 22:00 WIB CANT WAITTT AING GABISA BOBOK :'''( biarin lah ya udah mau saur juga :''(