Chiyo: "Chiyo balik lagi mempublish fic gaje, nista dan aneh ini!"

Chiyo: "Chiyo mohon maaf kalau fic ini rada ngawur dan ooc apalagi di bagian tertentu, mungkin karakter yang harusnya keren jadi nista.."

Disclaimer: Vocaloid hanyalah milik crypton future media & Yamaha, Mekakushi Dan adalah milik Jin (shizen no Teki-p), didesain oleh Shidu & Wannyanpu, sementara kepemilikan seven deadly sins adalah MoTHY (AkunoP)

Warning: Gaje, kemungkinan OOC 90.99999%, nista, aneh, alur terlalu cepat dan berbeda dari cerita asli


~the doll has been given to the young lady…~

"Maaf, kalian siapa?" Tanya seorang wanita berambut teal didepan mereka.

"Kami adalah…. Erm… kami.. " (Seto)

"Kalian adalah…?"

"Kami.. adalah... erm…" (Seto)

Tiba-tiba, Kano membuka mulutnya dan kembali mengatakan kebohongan, kebohongan yang kebetulan menyelamatkan mereka

.

.

.

.

"Kami adalah keturunan dari keluarga Felix, kami berasal dari Lucifenia… karena pengurus kami sedang ada keperluan, kami dikirim kesini untuk tinggal bersama keluarga dari wanita yang bernama Margarita Blankenheim" Kata Kano santai, panjang, jelas dan membuat Se—bukan hanya Seto, tetapi anggota lain juga ikut ber-sweatdrop-dan-cengo-ria.

'YOU ARE DECEIVED! HAHAHA!' Batin Kano. Kenapa dia begitu? Karena aslinya dia kehabisan ide dan untungnya otaknya bisa menemukan ide yang cukup brilian dan masuk akal, apalagi sebenarnya dia sangat gugup saking gugupnya, dia sampai menggunakan eye ability-nya. Kalau tidak percaya... kini matanya berwarna merah.

.

.

.

.

.

.

.

"Ternyata kalian adalah kerabatku yang dari Lucifenia ya, aku adalah Margarita Blankenheim… lalu, kenapa pakaian kalian agak aneh?" Tanya Margarita.

"Saat perjalanan, tiba-tiba kami dikejar oleh sekawanan perampok, untungnya kami berhasil kabur dan bertemu seseorang, orang itu memberikan kami pakaian ini supaya para perampok itu tidak bisa mengenali kami" Jawab Kano bohong.

"Baiklah… silahkan masuk, aku yakin kalian kelelahan setelah perjalanan dari Lucifenia ke Elphegort" Kata Margarita sambil meletakkan penyiram tanaman (lupa namanya) didekat pot.

Margarita pun mempersilahkan mereka masuk. Mansion itu benar-benar megah, beberapa ruangan yang mereka lewati berlantai marmer mahal. Dan ruang tamunya dihias mirip dengan istana Neuschwanstein. (Silahkan cari di gugel)

"Aku akan menyiapkan teh, kalian bisa mengganti pakaian kalian dikamar mandi disebelah kanan kalian" Kata Margarita sebelum pergi membuat teh untuk mereka minum.

"Jadi rencana kita apa?" Tanya Hibiya.

"Entahlah, yang pasti, kita harus ganti pakaian dulu… agar tidak lama… bagaimana kalau dibagi menjadi 2 kelompok saja? Jadi, kita tidak perlu masuk satu per satu dan memperlambat waktu kita, masih banyak yang harus dibicarakan" Kata Kido.

"Baiklah… agar tidak rumit… kelompok yang pertama ganti baju adalah perempuan, karena jumlahnya lebih sedikit, lalu baru kelompok laki-laki… bagaimana?" Usul Momo.

"Ok" (anggota lain)

Mereka pun mengganti pakaian mereka menjadi pakaian khas keluarga Felix secara bergantian….semua berjalan normal kecuali rambut Marry yang tersangkut di beberapa hiasan gaun dan Hibiya yang tanpa sengaja menjatuhkan hanphone Shintaro kedalam air.

Didalam kamar mandi… saat handphone Shintaro jatuh…

"AAAHH! HANPHONE-KU!" (Shintaro)

"MAAF! MAAF! MAAF!" (Hibiya)

"SATU-SATUNYA HANDPHONE-KU YANG PALING BERHARGA!" (Shintaro)

"Sudahlah Shintaro-san, aku yakin Hibiya tidak sengaja menjatuhkan handphone itu" (Seto)

"Ya, Seto benar, aku yakin setelah kering nanti, handphone-mu akan kembali seperti semula~" (Kano)

"HIBIYA! GANTI HANDPHONE-KU SEKARANG!" (Shintaro)

"AKU 'KAN SUDAH MEMINTA MAAF!" (Hibiya)

"Handphone-mu… rusak….tidak bisa nyala lagi..." (Konoha)

"RUSAK!?" (Shintaro)

Sementara itu.. diluar kamar mandi….

"Kenapa mereka berisik sekali ya?" Tanya Momo.

"Tadi aku mendengar kalau handphone goshujin jatuh… untung aku sudah ada diluar handphone-nya" Kata Ene.

"Ya, semoga saja mereka tidak mengganggu penghuni rumah yang lain…" Kata Kido.

Para anggota pria pun keluar dari kamar mandi, Momo segera bertanya pada kakaknya apa yang terjadi.

"Onii-chan, handphone mu benar-benar jatuh?" Tanya Momo.

"Kedalam… air… tidak tertolong…. *hiks*" Jawab Shintaro lesu.

"Ayolah, itu 'kan hanya handphone, setelah ini, kita akan membeli yang baru!"

"Tidak.. *hiks* handphone ini sudah sangat sakral *hiks*"

'aduuh.. sejak kapan onii-chan menjadi orang yang baka? Handphone yang dipegangnya 'kan baru dibeli minggu lalu' batin Momo. Ternyata, gara-gara menjadi NEET, IQ-nya menurun drastis…

Sementara itu Kano...

"Uwwaaahh! Ternyata benar, gaun itu membuatmu lebih imut, Kido-chan!" Puji Kano.

JDUAAK

Dan kini, Kano sedang tersungkur dilantai akibat pukulan tepat diperutnya yang dilakukan oleh Kido.

"Jaga mulutmu Kano"

"Tapi, kalau kujaga mulutku, mana mungkin aku bisa mengatakan kalau kita adalah keturunan keluarga Felix, dan hampir tidak mungkin kita bisa masuk ke mansion ini"

"…."

"Benar 'kan?"

"Terserahlah"

Kido kalah dalam debat kali ini, ya sudah pasti dia kalah. 'Kan Kano itu raja-nya membuat alasan yang masuk akal bahkan yang tidak masuk akal sekalipun. Ya… namanya juga Deceiver, alasan apapun bisa ia katakan.

Margarita pun masuk sambil membawa nampan yang berisi teko, sepiring kue kering dan 10 cangkir teh.

"Maaf menunggu lama, aku tidak bisa menyuruh maid disini membuat teh, mereka sangat sibuk membereskan rumah"

"Tidak apa-apa, kami juga baru selesai mengganti pakaian kami…" Kata Ene.

"Pakaian kalian benar-benar cocok! Tapi.. kenapa pakaian kalian mirip dengan yang ada di lemariku ya?"

"Erm… pasti itu hanyalah sebuah kebetulan ya 'kan Kido? lagipula, kalau tidak salah.. desain pakaian keluarga Felix itu 'kan selalu standar " Kata Kano.

"Y-ya.." kata Kido.

"Kebetulan ya…"

"Oh iya" lanjut Margarita.

"Aku baru saja mendapat sebuah boneka baru, boneka itu sangat mirip denganku, kalian mau melihatnya?" Tanya Margarita.

"Tentu saja" Jawab Mekakushi Dan berbarengan.

'Setidaknya dengan begini, kita bisa mengetahui lokasi tempat boneka yang berisi demon berada' Batin kido.

Margarita pun menuntun Mekakushi Dan ke sebuah ruangan kecil di ujung koridor lantai dua dan membuka pintunya.

"Ini dia, meskipun ruangannya kecil, setidaknya cukup untuk menampung sebuah boneka yang ada dikotak berlapis kaca, bagaimana menurut kalian?"

"B-boneka ini benar-benar m-mirip denganmu Margarita-san" Puji Marry

"Entah bagaimana, temanku bisa mendapatkan boneka itu.."

"Oh, iya… margamu kini Blankenheim.. berarti kau sudah menikah" Kata Hibiya.

"Iya"

"Dengan siapa?" tanya Kido.

"teman masa kecilku, Caspar Blankenheim…." Jawab margarita lesu.

"Kenapa kau terlihat lesu?" Tanya Seto.

"Eh? M-mungkin kalian salah lihat.. hehe" Jawab Margarita sambil mencoba untuk tersenyum.

"Apa kau yakin? Kau juga terlihat agak khawatir…" Tanya Seto.

"Eh? Sungguh! A-aku yakin kalau aku baik-baik sa—"

TOK TOK TOK

"Nona Blankenheim… anda mendapat tamu.." Kata seorang Maid yang baruu saja memasuki ruangan.

"Ah, baiklah… aku akan pergi sebentar.. kalian tunggu disini ya" Kata Margarita sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan bersama maid.

"Sekarang… kita harus memikirkan rencana.." Kata Kido.

"Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya" Kata Kano.

.

.

.

.

.

.

Tiba-tiba…

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tahu apa yang akan terjadi… Kalian harus tetap terbangun sampai jam 1 pagi agar tahu permasalahannya…"

"K-kau… Margarita-san?" Tanya Momo.

"Ya, memangnya kalian kira aku ini siapa? Hantu yang bergentayangan dirumah ini? Tentu saja bukan, mansion ini belum lama dibangun"

"Me-memangnya apa yang terjadi pada jam 1 nanti?" Tanya Momo.

"Lihat saja nanti…"


Disisi lain…


"Maaf membuat anda menu- tunggu dulu…" Margarita terdiam.

"kalau tidak salah…. Kalian adalah anggota Pere Noel 'kan?" Tanya Margarita.

"Iya, maaf mengganggu hari anda, saya adalah No. 7 the Magician… nama saya adalah Lukana Octo" Jawab seorang wanita berambut pink.

"Saya temannya, No. 8 the Sniper…. Nama saya adalah Gumina Glassred"

"Maksud kami datang kesini hanya untuk memint izin kepada anda, No.3 Princess of Sleep untuk tinggal disini selama beberapa hari" Kata Lukana.

"Oh… tentu saja boleh, tapi untuk apa?"

"Erm… Santa-san menugaskan kami untuk tinggal dirumahmu beberapa hari, dia bilang boneka yang diberikan kepadamu itu incaran para pencuri, makanya, kami ditugaskan untuk menjaga boneka yang sangat mirip denganmu itu"

"Oh.. boleh saja… kalian juga tidak usah memanggilku dengan code name ku… kalian boleh memanggilku dengan nama Margarita Blankenheim"

"Baiklah… senang berkenalan dengan anda Margarita Blankenheim" Kata Lukana sambil menyeringai.


Sementara itu, diruangan tadi…


"J-jadi… kita harus tetap terjaga sampai jam 1 nanti?" Tanya Marry.

"Ya… bisa dibilang begitu… menurut Margarita-san, ada sesuatu yang harus kita ketahui pada jam 1 nanti…" Jawab Seto.

"Onii-chan… Sekarang jam berapa?" Tanya Momo.

"Mana kutahu! Tanya saja pada yang lain" Jawab Shintaro kesal.

"Eh?! Tidak usah membentakku juga dong!"

"Memangnya kau tahu rasanya saat handphone-mu terke- bukan… jatuh ke air?"

"Tentu saja! Saat pertama kali aku masuk kedalam Mekameka Dan, Handphone-ku terkena teh sampai tidak bisa digunakan sama sekali!"

"Eh?"

Hening…

Shintaro pun merenungkan perkataan adiknya.

'Sepertinya… keluarga Kisaragi memang dikutuk dalam hal barang elektronik… baru saja aku mendapat handphone itu seminggu yang lalu' Batin Shintaro.

Momo terdiam menatap kakaknya yang kini sedang berekspresi nista.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tiba-tiba, pintu ruangan boneka terbuka…

JEGLEK #SoundEffectPintuTerbukaGagal

Pintu pun terbuka, menunjukkan Margarita bersama dengan wanita berambut pink dan satu lagi wanita berambut hijau. Kedua wanita itu terlihat agak terkejut saat melihat Mekakushi Dan.

'I-itu 'kan… Elluka-san dan Gumillia-san , apa yang mereka lakukan disini?' Batin Mekakushi Dan.

"Nah… Lukana-san, Gumina-san…. Ini adalah saudara-saudaraku yang datang jauh dari Lucifenia, aku baru saja menunjukkan mereka boneka yang tadi kudapatkan" Kata Margarita.

"Ah… benar… boneka itu sangatlah berharga... apalagi boneka itu sangat mirip dengan dirimu" Puji Lukana, namun tetap merunduk, menutupi seringaian yang terpampang diwajahnya.

"Iya…"

"Oh iya... ada yang harus kuberitahu… dilorong ini ada 4 kamar kosong, dan setiap kamar berisi 3 ranjang, kalian bisa memilih dikamar mana kalian akan tidur, sekarang aku harus membereskan beberapa hal dengan temanku, jadi… sampai ketemu besok pagi"

Margarita pun pergi meninggalkan ruangan…

Hening sesaat…

Lukana pun memecahkan keheningan dengan…

"Kalian kenapa? Kok bengong menatap kami?"

HUWAT? APA? LHO KOK?

Mekakushi Dan beserta Gumina pun ber-sweatdrop-ria akibat perkataan Lukana yang mulai kehilangan kesan dewasa.

"T-tidak ada apa-apa… k-kalian adalah Elluka-san dan Gumillia-san 'kan?" Tanya Kido.

"Iya, dan kami berhasil masuk kedalam mansion ini… jadi, apa rencana kalian?"

"Kami tidak akan tidur sampai jam 1 nanti… ada sesuatu yang harus kami ketahui…"

"Apa yang harus kalian ketahui?" Tanya Elluka sambil memicingkan matanya.

"Entahlah… yang pasti… seseorang mengatakannya pada kami… kalau kami harus mengetahui apa yang terjadi pada jam 1..."


Di tempat lain…


"Baiklah…Princess of Sleep, aku harus memberitahu sesuatu padamu" Kata seorang wanita berambut coklat yang bernama Julia.

"Eh? Ada apa? Kenapa wajahmu begitu serius?" Tanya Margarita.

"Tidak ada hal yang sangat serius kok, aku akan memberitahumu resep sebuah obat… obat tidur yang bisa membuatmu bermimpi indah selamanya"

Margarita tertegun.

"Eh? Untuk apa? Aku 'kan tidak menderita ataupun bermimpi buruk"

"Tidak harus kau gunakan sekarang… hanya saat kau tertekan dan tidak harus kau yang minum… hanya untuk berjaga-jaga…"

"S-sungguh? Terima kasih banyak Julia Abe- maksudku Santa-chan"

"kau boleh memanggilku Julia kalau kau mau… dan ingat, kita adalah Pere Noel, jangan takut untuk membunuh siapapun jika kau tidak menyukai orang itu"

"Tentu saja!"


Skip…


00.58….


Blankenheim Mansion…


Kamar 1:

Kido, Momo, Marry

"Danchou-san… entah kenapa… tiba-tiba aku mendengar suara orang tertawa…" Kata Momo.

"A-aku juga…" Kata Marry.

"Baiklah… sepertinya… kita harus mengecek kelantai bawah…" (Kido)

"Bagaimana k-kalau itu hantu?" (Marry)

"H-hantu?" (Momo)

"Tidak mungkin… Margarita-san sudah bilang kalau mansion ini belum lama dibangun… Ayo kita turun kebawah…" (Kido)

Mereka bertiga pun keluar dari kamar

Kamar 2:

Kano, Shintaro, Seto

"K-kano… suara tawa itu kau?" Tanya Shintaro.

"T-tidak… a-aku tidak bisa memanipulasi suara" (Kano)

"Aku juga mendengar suara wanita… sebaiknya kita turun dan melihat" (Seto)

"Baiklah…" (Kano)

"Semoga bukan hantu…" (Shintaro)

Mereka pun membuka pintu kamar

Kamar 3:

Konoha, Hibiya

"Gawat… sepertinya Konoha sudah tidur…" Keluh Hibiya.

"Bagaimana ini a-aku mendengar suara t-tawa"

Tiba-tiba, muncul bayangan dibelakang Hibiya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku… belum… tidur…" Kata Konoha yang ada tepat dibelakang Hibiya.

"Syukurlah… kalau begitu, bagaimana kalau kita cek kelantai bawah?"

"Iya…"

Hibiya pun memegang gagang pintu, dan membukanya.

Kamar 4:

Elluka, Gumillia, Ene

"Aduuh… bagaimana ini… aku mendengar suara tawa dari lantai bawah… tapi Elluka-san dan Gumillia-san tidak mendengarnya dan mereka tetap tidur…"

"Baiklah! Aku akan mengeceknya sendiri! Aku yakin kalau mansion ini tidak berhantu.. dan mungkin saja itu suara suami dari Margarita-san"

"T-tunggu dulu… mengapa aku mendengar suara langkah kaki dari luar ruangan ini?... b-baiklah! Aku akan keluar! Meski aku takut…" Kata Ene sambil memelankan nada di bagian 'meski aku takut'

Ene pun membuka pintu dan keluar dari kamar dengan gagah berani…


"Ternyata langkah kaki itu kalian…"

"Jadi kalian semua juga mendengar suara tawa dari lantai bawah?" Tanya Momo.

"Iya… aku juga mendengar suara wanita.. dan suara itu sudah pasti bukan Margarita-san" Jawab Seto.

"Ayo kita cek…" Kata Kido.

Mereka bersembilan pun berjalan menuruni tangga, memelankan gerakan kaki untuk meminimalisir suara yang disebabkan oleh langkah kaki mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Siapa itu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oh, tuan Caspar, kau mendapat tambahan gaji lagi bulan ini~"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ya, promosi kali ini benar-benar menguntungkanku!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Caspar… aku…. Aku istrimu… tapi kenapa kau malah membawa mereka berdua kesini?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi… dia itu…. Se—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau pengkhianat, Caspar… kau sudah melupakan janji kita dulu… janji yang kita ucapkan dimasa lalu… aku selalu mengira kalau kau mengingatnya…."

.

.

.

.

.

.

.

.


Chiyo: "Akhirnya selesai juga chapter ini! Chiyo mohon maaf kalau ceritanya ngga nyambung… soalnya Chiyo rada bingung mau nulis apa lagi supaya chapter ini panjang... apalagi alurnya terlalu cepat..."

Voting masih dibuka!

Hasil sementara…

Kaito: 5

Gakupo: 3

Meiko: 2

Luka: 1

Bagaimana chapter ini?

I need your review!

Thank you for reading!